cover
Contact Name
Nyoman Angga Krishna Pramana
Contact Email
anggakrishna@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
anggakrishna.dr@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Callosum Neurology Journal : Jurnal Berkala Neurologi Bali
ISSN : 26140276     EISSN : 26140284     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Callosum Neurology Journal is an official journal managed by The Indonesia Neurological Association XXV Branch of Denpasar. This journal is open access to the rules of peer-reviewed journaling which aims as scientific publications and sources of actual information in the field of neurology and neuroscience. Callosum Neurology Journal is published three times a year in January, May, and September and contains original articles of research, case reports, case series reports, literature reviews, and communications from and to editors.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2019): Callosum Neurology Journal" : 7 Documents clear
PENGEMBANGAN DAN VALIDASI SKOR PREDIKSI MORTALITAS PASIEN PERDARAHAN SUBARAKNOID Jesi Prilly Hana; Rizaldy Taslim Pinzon; Esdras Ardi Pramudita
Callosum Neurology Vol 2 No 2 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.362 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i2.18

Abstract

Latar Belakang: Terdapat beberapa faktor resiko yang telah diidentifikasi memepengaruhi mortalitas pasien Perdarahan Subaraknoid. Salah satu cara untuk mengetahui prognosis pasien perdarahan subaraknoid ialah dengan menggunakan sistem skoring. Skor dapat membantu para klinisi untuk menilai kondisi pasien, prognosis, serta menentukan penatalaksanaan yang terbaik bagi pasien. Tujuan Penelitian: Mengukur faktor prediktor yang mempengaruhi mortalitas pada pasien perdarahan subaraknoid dan meramalkan prognosis pasien perdarahan subaraknoid menggunakan skor prediktor mortalitas. Metode: Pelaksanaan penelitian ini menggunakan metode kohort retrospektif. Data penelitian ini diperoleh dari data sekunder register stroke dan rekam medik pasien perdarahan subaraknoid di RS Bethesda Yogyakarta. Uji validitas menggunakan kurva receiver-operating characteristic (ROC) dan untuk cut off point  menggunakan area under the curve  (AUC). Hasil: Hasil analisis multivariate menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara mortalitas pasien perdarahan subaraknoid dengan kesadaran (RO: 19.722, 95% IK: 1.788- 217.521, p: 0.015), tekanan darah sistolik (RO: 157.4, 95%IK: 2.068- 11990.9, p: 0.022), gula darah sewaktu (RO:12.457, 95%IK:   2.305- 67.322, p: 0.03) dan komplikasi (RO: 30.539, 95%IK: 2.685- 347.377, p: 0.006). Masing-masing variabel memiliki skor untuk menentukan prognosis pasien perdarahan subaraknoid. Skor memiliki kemampuan yang baik dalam memperediksi mortalitas pasien perdarahan subaraknoid (AUC) ROC 0.946 (95% IK: 0.896- 0.995; p: <0.001). Kesimpulan: Skor prediktor mortalitas valid digunakan untuk meramalkan mortalitas pada pasien perdarahan subaraknoid. Kata Kunci: Perdarahan Subaraknoid, Skor Prediktor, Mortalitas
TINJAUAN ASPEK RADIOLOGIS FAHR'S DISEASE Jimmy Indarto Gunawan; Rizaldy Taslim Pinzon
Callosum Neurology Vol 2 No 2 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.397 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i2.19

Abstract

Latar Belakang: Fahr’s disease merupakan penyakit langka saat deposit kalsium abnormal berada di area otak yang mengontrol pergerakan. Kasus: Wanita 54 tahun datang ke mengeluh badan lemah, sulit menelan, demam, dan sulit berbicara. Pasien memiliki riwayat diabetes melitus, hipertensi dan stroke. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah tinggi dan tonus otot meningkat. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kondisi hiperglikemia. Pemeriksaan computed tomography (CT)-scan pasien menunjukkan gambaran kalsifikasi di ganglia basalis dan kedua hemisfer serebelum. Diskusi: Fahr’s disease merupakan penyakit yang memiliki satu atau lebih gejala gangguan neurologis, kognitif, dan psikiatri secara progresif atau dengan adanya kombinasi dari kalsifikasi ganglia basalis yang simeteris. Pasien pada kasus ini tergolong sebagai Fahr’s disease idiopatik. Penyakit ini bersifat progresif dan memerlukan CT-scan serial untuk mengevaluasi keberhasilan pengobatan. Saat ini belum ada terapi definitif Fahr’s disease, dan terapi masih simptomatik. Simpulan: Penemuan kasus Fahr’s disease memerlukan pemeriksaan yang runtut dan evaluasi CT-scan berkala sembari mencari faktor risiko pasien. Kata Kunci: Fahr’s disease, CT scan, Radiologis, Gambaran Radiologis
PERANAN INTENSITAS NYERI TERHADAP ASPEK PSIKOLOGIS PENDERITA NYERI NEUROMUSKULOSKELETAL KRONIS NON KANKER RUMAH SAKIT ATMA JAYA Hendro Saulata; Jimmy Barus; Surilena Surilena
Callosum Neurology Vol 2 No 2 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.797 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i2.23

Abstract

Latar Belakang: Nyeri kronis dapat menimbulkan dampak psikologis (depresi, cemas, dan stres) yang memengaruhi kualitas hidup. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan hubungan antara intensitas nyeri dengan depresi, cemas, dan stres pada penderita nyeri neuromuskuloskeletal kronis di Rumah Sakit Atma Jaya Jakarta. Metode: Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan data sekunder dari Pain Registry, Departemen. Neurologi FKUAJ. Instrumen penelitian adalah kuesioner demografi, intensitas nyeri, dan DASS (Depression Anxiety Stress Scale). Intensitas nyeri dibagi dalam 2 kategori, yaitu nyeri saat ini (IN1), dan rata – rata nyeri dalam seminggu (IN2). Hasil: Hasil penelitian terhadap 85 penderita nyeri neuromuskuloskeletal kronis didapatkan 63,5% depresi, 78,8% cemas, dan 70,6% stres. Analisis bivariat menunjukan adanya hubungan bermakna antara usia dengan depresi dan cemas (OR=3,67; 95% CI 1,39-9,64; OR=2,94; 95% CI 1,00-8,62). Penelitian ini juga menunjukan adanya hubungan bermakna antara IN1 dengan depresi (OR=15,4; 95% CI 1,80-132,72), antara IN1 dan IN2 dengan cemas (OR=42; 95% CI 4,699-375,413; OR=3,69; 95% CI 1,25-10,90), dan antara IN1 dengan stres (OR=4,75; 95% CI 1,04-21,70). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara berbagai kategori intensitas nyeri dengan depresi, cemas, dan stres pada pasien nyeri neuromuskuloskeletal kronis di Rumah Sakit Atma Jaya. Kata Kunci: Intensitas Nyeri, Aspek Psikologis, Nyeri Neuromuskuloskeletal
KARAKTERISTIK MIGREN TANPA AURA PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER ANGKATAN 2015 DAN 2016 DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR Made Aniendya Putri Wijaya; Anak Agung Ayu Meidiary; Ida Bagus Kusuma Putra
Callosum Neurology Vol 2 No 2 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.829 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i2.40

Abstract

Latar Belakang: Migren Tanpa Aura adalah salah satu jenis migren, yang merupakan nyeri kepala kronis yang dapat mempengaruhi kualitas hidup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi migren tanpa aura dan faktor pencetusnya pada mahasiswa kedokteran. Metode: Desain peneltian ini adalah deskriptif cross-sectional dengan menggunakan data primer yaitu data yang diperoleh dari isian formulir kuesioner yang diberikan kepada responden dan dianalalisis menggunakan SPSS. Hasil: Pada penelitian ini, 69 subjek mengalami migren yang terdiri dari migren tanpa aura (4,6 %), dan Probable migren tanpa aura (9,6%). Rerata usia pada subjek adalah 21 tahun. Jenis kelamin perempuan (73,9%) dan laki- laki (26,1%). Faktor pencetus migren tanpa aura antara lain obesitas (14,5%), merokok (7,2%), migren dikala menstruasi teridiri dari saat menstruasi (17,4%) dan sebelum menstruasi (5,8%), kebiasaan tidur terdiri dari baik (37,7%) dan buruk (62,3%), depresi (2,9%), stress (40,6%), cemas (15,9%). Simpulan: Prevalensi migren tanpa aura adalah 4.6%, sebagian besar perempuan (73,9%). Migren lebih sering muncul ketika mengalami menstruasi (saat menstruasi dan sebelum menstruasi), lebih banyak yang mengalami kualitas tidur kurang. Responden dominan tidak obesitas, tidak merokok, tidak depresi, tidak stress, tidak cemas.                      Kata kunci: Migren Tanpa Aura, Karakteristik, Mahasiswa Kedokteran
LAPORAN KASUS SERI: INFEKSI STREPTOCOCCUS SUIS PADA MANUSIA DENGAN PRESENTASI KLINIS MENINGITIS BAKTERI DAN ARTRITIS I Gede Made Ardika Aryasa; Anak Agung Ayu Suryapraba; Ni Putu Witari; Ni Made Susilawathi
Callosum Neurology Vol 2 No 2 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2504.411 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i2.44

Abstract

Latar belakang: Infeksi Streptoccocus suis merupakan zoonosis yang terdistribusi global terutama di Asia. Infeksi yang berhubungan dengan babi ini menyebabkan meningitis dan berbagai gejala klinis. Kasus: Tercatat dua kasus infeksi S.suis dengan manifestasi meningitis bakteri akut dan artritis. Kedua pasien mengalami demam, nyeri kepala, dan kaku kuduk. Diagnosis definitif infeksi S. suis tegak berdasarkan kultur cairan serebrospinalis (CSS). Kultur cairan sendi negatif. Pasien diterapi dengan seftriakson sesuai uji kultur sensitivitas CSS dan deksametason sebagai adjuvan. Satu pasien sembuh sempurna sedangkan yang lainnya mengalami komplikasi tuli sensorineural bilateral. Diskusi: Manifestasi klinis dan penunjang pada kedua pasien mendukung infeksi S.suis sebagai etiologi meningitis dan artritis. Tidak adanya perkembangan bakteri S.suis pada kultur cairan sendi kedua pasien dapat disebabkan oleh pemberian antibiotik sebelum dilakukan kultur. Oleh karena itu, infeksi S.suis sebagai etiologi artritis septik pada pasien belum dapat disingkirkan. Simpulan: Infeksi S.suis merupakan infeksi hematogen sistemik yang menimbulkan berbagai gejala klinis. Kata Kunci: Infeksi S.suis, Meningitis Bakteri Akut, Artritis Septik
CASE REPORT: STROKE PREDICTION MODELS AFTER TRANSIENT ISCHEMIC ATTACK WITH ATRIAL FIBRILLATION Mason Rubianto; Samudra Andi Yusuf; Stefano Giovani
Callosum Neurology Vol 2 No 2 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1820.902 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i2.71

Abstract

Background : Atrial fibrillation (AF) is an independent risk factor for stroke. The role of AF in transient ischemic attack (TIA) is less common. Thus, this situation cannot be underestimated because both TIA and AF are increasing the risk of a patient to get stroke. Case : An 80 years old woman presented with speech disturbance and disorientation which lasted for 2 hours. Patients look confused with glasgow coma scale total 13 (E4V3M6), blood pressure was 150/80 and heart rate 147 beats/min irregular. From neurological examination, there was paresis nervus facialis central and nervus hypoglossus but completely resolved under 24 hours. Her electrocardiogram showed an AF. Working diagnosis for this patient were TIA with AF and hypertension stage 1. Discussion : The early risk of stroke seems to be best predicted with ABCD2 score, which is calculated by summing up points for five independent factors: (1) age, (2) blood pressure, (3) clinical features of TIA, (4) duration of TIA and (5) diabetes. The ABCD2 score of this patient is 5 which classified as moderate risk. Conclusion : These patients require a comprehensive approach and additional an imaging consideration because there are a moderate to higher chance of stroke recurrence. Keywords : Atrial Fibrillation, ABCD2 Score, Stroke, Transient Ischemic Attack
CASE REPORT: HEMICHOREA-HEMIBALLISMUS IN NON-KETOTIC HYPERGLYCEMIA AND NON-HEMORRHAGIC STROKE PATIENT WITH BASAL GANGLIA HYPERDENSITY Regina Caecilia Setiawan; William Septian Sonyo; Luh Kadek Trisna Lestari
Callosum Neurology Vol 2 No 2 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.273 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i2.78

Abstract

Background : Hemichorea-hemiballismus (HC-HB) is a hyperkinetic disorder characterized by uncontrolled movements, non patterned, occurring mostly in the proximal extremity on one side of the body. The etiology that most often causes HC-HB is acute cerebrovascular disorder. Non-ketotic hyperglycemia is another etiology that is very important because it is the second most common cause of HC-HB and can be manifested as an initial symptom or complication of diabetes mellitus. This case is rare and the prevalence is unknown. Case : A diabetic patient with non-ketotic hyperglycemia reported  with hemiballismus syndrome. A 60-year-old woman experiences involuntary, repetitive, and non-rhythmic movements in the left arm and leg. These patients have a history of uncontrolled diabetes mellitus and hypertension. Head CT scan images in patients showed hyperdensity lesions in the right basal ganglia which were thought to be caused by non-ketotic hyperglycemia and infarction in the right temporal lobe. Involuntary movements improve after blood glucose targets are achieved by administering basal and prandial insulin.  Clinical response in the case of hemiballismus above is reversible even though the appearance of hyperdensityt lesions can last for several months. Discussion : Hemichorea-Hemiballismus (HC-HB) is a rare disorder of involuntary movement, most often caused by focal lesions in the basal ganglia and the contralateral subthalamic nucleus. HC-HB is mainly caused by systemic processes both focal and diffuse. Nonketotic hyperglycemia is known to be a metabolic cause of HC-HB, especially in elderly patients with uncontrolled diabetes mellitus. Clinical manifestations and supporting patients support hyperglycemia and basal ganglia hyperdensity to be the etiology of hemiballismus experienced by patients. Conclusion : Many etiologies can cause this disorder, but vascular disorders and non-ketotic hyperglycemia are the most common etiologies. HC-HB in non-ketotic hyperglycemic is manifestation which is very rare in diabetes mellitus. The prognosis is quite good in most patients with or without treatment. This case report describes a successful treatment approach with positive results and a fairly short duration. Keywords: Hemichorea, Hemiballismus, Hyperglycemia, Basal Ganglia Hyperdensity

Page 1 of 1 | Total Record : 7