cover
Contact Name
Rizky Mulya Sampurno
Contact Email
rizky.mulya@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
j.teknotan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
ISSN : 19781067     EISSN : 25286285     DOI : -
Core Subject : Education,
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian, merupakan publikasi ilmiah kerjasama antara Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran (FTIP UNPAD) dengan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA) Cabang Bandung. Jurnal ini diterbitkan 2 kali setahun (1 Volume, 2 Nomor penerbitan) dalam upaya menyebarluaskan ide-ide konseptual dan/atau hasil-hasil penelitian dan penerapan serta pengembangannya dalam bidang ilmu keteknikan dan teknologi pertanian dalam arti luas (pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kehutanan), khususnya pertanian tropika dan ilmu hayati. Penulis naskah/artikel jurnal adalah civitas academika, peneliti dan praktisi serta anggota perhimpunan/organisasi professional dari semua disiplin dan terbuka bagi umum yang menaruh minat dalam bidang ilmu terkait.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3 (2007)" : 8 Documents clear
PENGARUH IMBANGAN TEPUNG SORGUM DENGAN TEPUNG MASA JAGUNG (MASA FLOUR) TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK TORTILLA CHIPS Ike Dewi Suntari; Saripah Hudaya; Mira Miranti
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 1, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besar imbangan yang tepat antara tepung sorgum dengan tepung masa jagung sehingga dihasilkan tortilla chips dengan karakteristik inderawi yang disukai. Metode penelitian yang digunakan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan yang diulang 6 kali.Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan sorgum dengan tepung masa jagung memberikan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap kadar air, kadar protein, daya serap minyak, warna, kerenyahan, kenampakan dan kekerasan tetapi tidak memberikan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap rasa dan aroma tortilla chips. Perlakuan terbaik adalah imbangan tepung sorgum dengan masa jagung 40%:60% dengan karakteristik kadar air 3,60%, kadar protein 8,64%, daya serap minyak 12,14%, kadar pati 69,43%, skor kesukaan terhadap warna 3,27 (biasa), aroma 3,33 (biasa), kerenyahan 3,70 (biasa), kenampakan 3,13 (biasa), serta  kekerasan 1050,83 gf. Kata kunci: Tepung sorgum, Tepung masa jagung, Tortilla chips
PENINGKATAN KUALITAS DAGING DAUN LIDAH BUAYA (Aloe vera Linn.) SEBAGAI BAHAN BAKU OLAHAN DENGAN PERENDAMAN DALAM LARUTAN KALSIUM HIDROKSIDA Mohamad Djali; Tati Sukart
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 1, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengolahan daun lidah buaya menjadi berbagai produk olahan menghadapi beberapa kendala antara lain sulitnya menghilangkan lendir, rasa pahit dan bau langu yang menempel pada daging daunnya. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan perendaman dalam larutan kalsium-hidroksida (Ca(OH)2). Efektivitas kapur dalam mengatasi permasalahan di atas bergantung pada konsentrasi dan lama perendaman.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi larutan kalsium-hidroksida dan lama perendaman yang tepat agar dihasilkan daging daun lidah buaya dengan karakteristik organoleptik yang disukai.Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial, terdiri dari 2 faktor yaitu konsentrasi larutan kapur 2,5% dan 3% dan lama perendaman 2,5 jam, 3 jam, 3,5 jam, 4 jam, dan diulang 4 kali. Pengamatan meliputi kekerasan daging daun dengan menggunakan Fruit Hardness Tester, dan skor organoleptik untuk warna, intensitas bau langu, kekerasan, intensitas rasa pahit dan adanya lendir.Hasil penelitian menunjukan terdapat interaksi antara konsentrasi larutan kalsium hidroksida dengan lama perendaman terhadap skor adanya lendir daging daun lidah buaya . Konsentrasi larutan kalsium-hidroksida 3% dan lama perendaman 4 jam menghasilkan daging daun lidah buaya dengan skor kesukaan organoleptik yang disukai.Kata kunci: Aloe vera, Kalsium-hidroksida, Perendaman, Skor kesukaan
UJI KINERJA ZAT ADITIF HIDROGEL DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENAHAN AIR (WATER HOLDING CAPACITY) PADA TANAH ANDISOL LEMBANG YANG DITANAMI BABY KAILAN Bambang Aris Sistanto; Nurpilihan Bafdal; Edy Suryadi
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 1, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketersediaan air dalam tanah, terutama di daerah perakaran tanaman dipengaruhi oleh kondisi fisik tanah, tekstur dan struktur tanah. Kondisi fisik tanah yang berbeda akan menghasilkan kemampuan menahan air berlainan pula. Kemampuan menahan air (water holding capacity) dinyatakan sebagai sejumlah air tanah yang tertahan, sebelum  terdrainase ke lapisan tanah yang lebih dalam (Israelsen dan Hansen, 1979).Tanaman hortikultura, biasa dibudidayakan di pegunungan pada ketinggian lebih dari 1000 m dpl. didominasi tanah jenis Andisols yang berwarna gelap, struktur sangat porous, tekstur didominasi oleh fraksi debu, kisaran 30 % - 40 %. sehingga kemampuan meloloskan air (konduktivitas hidrolik) sangat tinggi.Penelitian bertujuan untuk menentukan dosis bahan pemantap tanah hidrogel dan interval pemberian air yang tepat dalam upaya meningkatkan kemampuan tanah menahan air (water holding capacity) dari tanah Andisol, efisiensi pemberian air, pertumbuhan dan hasil tanaman sayuran. Hasil dari penelitian ini diharapkan akan dapat menjadi suatu sumbangan temuan yang bermanfaat sebagai upaya pendekatan teknologi terhadap upaya peningkatan kemampuan menahan air tanah (water holding capacity) untuk memperbaiki dan meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil produksi  pertanian, khususnya tanaman hortikultura dan peningkatan efisiensi pemberian air pada tanah Andisol.Penelitian dilakukan dengan metode Eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial dengan dua faktor yaitu Dosis Pemantap Tanah Hidrogel dan Interval Pemberian Air.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan pemberian air memberikan nilai yang berbeda nyata untuk kemampuan menahan air tanah (1,507.8 mm), efisien irigasi (76.79 %). Sedangkan untuk kandungan air dalam tanah baik pelakuan dosis hidrogel (24.1805 mm) maupun pemberian air (24.2893 mm) memberikan nilai yang berbeda nyata. Kata kunci: Kemampuan menahan air, Andisols, Porous, Hidrogel, Hortikultura
PENGARUH PENAMBAHAN AGAR TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK SUSU KAMBING YANG DIFERMENTASI OLEH Lactobacillus casei galur shirota Pramono U. u; Cucu S. Achyar; Marsetio -
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 1, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Susu Kambing yang difermentasi oleh Lactobacillus casei galur Shirota (Susu kasei dari Susu kambing) adalah produk susu fermentasi yang merupakan produk baru hasil pemanfaatan susu kambing. Kualitas susu kasei dari susu kambing masih rendah karena adanya permasalahan antara lain permukaan yang tidak seragam, sineresis dan adanya sejumlah air yang tidak terperangkap pada sistem gel (koagulum) dan membentuk genangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi penggunaan agar yang tepat dalam pembuatan susu kasei dari susu kambing sehingga diperoleh produk dengan karakteristik yang baik dan disukai panelis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 perlakuan dan diulang 5 kali. Perlakuan penambahan agar adalah A (0,2%), B (0,3%), C (0,4%), D (0,5%), dan E (0,6%). Kriteria pengamatan yang dilakukan terdiri dari pengamatan utama dan pengamatan penunjang. Pengamatan utama terdiri dari pengamatan terhadap sifat fisik (kestabilan selama 15 hari penyimpanan pada suhu 5-10°C dan kekentalan) dan pengamatan terhadap sifat organoleptik (kesukaan terhadap warna, aroma, rasa, kekentalan). Pengamatan penunjang terdiri dari pengamatan karakteristik susu (kadar lemak, densitas, total padatan terlarut), pengamatan sifat kimia (pH dan total asam tertitrasi) dan total bakteri asam laktat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan agar memberikan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap kestabilan dan kekentalan susu kasei dari susu kambing. Perlakuan penambahan agar yang menghasilkan karakteristik yang baik adalah 0,5% dan 0,6%. Perlakuan penambahan agar sebesar 0,5% menghasilkan karakteristik yang baik yaitu memiliki karakteristik fisik berupa nilai kestabilan 100% (stabil) dan nilai viskositas 837 cP; karakteristik organoleptik berupa : skor kesukaan terhadap warna 3,97 (biasa), skor kesukaan terhadap aroma 3,39 (biasa), skor kesukaan terhadap kekentalan 3,47 (biasa); karakteristik kimia berupa : nilai pH 3,92, total bakteri asam laktat 4,6 x 108, dan kadar asam laktat 1,75% (berasam tinggi) namun memiliki karakteristik kesukaan terhadap rasa yang tidak disukai (nilai 2,60). Perlakuan penambahan agar sebesar 0,6% menghasilkan karakteristik yang baik yaitu memiliki karakteristik fisik berupa nilai kestabilan 100% (stabil) dan nilai viskositas 949 cP; karakteristik organoleptik berupa : skor kesukaan terhadap warna 3,98 (biasa), skor kesukaan terhadap aroma 3,35 (biasa), skor kesukaan terhadap kekentalan 3,41 (biasa); karakteristik kimia berupa : nilai pH 3,90, total bakteri asam laktat 3,4 x 108, dan kadar asam laktat 1,79% (berasam tinggi) namun memiliki karakteristik kesukaan terhadap rasa yang tidak disukai (nilai 2,58). Kata kunci: Fermentasi, Lactobacillus casei shirota strain, Susu kambing, Stabilitas, Viskositas
MODIFIKASI TATA LETAK FASILITAS PRODUKSI JAMUR TIRAM STUDI KASUS PADA PETANI JAMUR CITA LESTARI CISARUA KABUPATEN BANDUNG Mariskasukma Mariskasukma; Roni Kastaman; Totok Pujiyanto
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 1, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi jamur tiram di tingkat petani khususnya pada petani jamur Cita Lestari Cisarua Kabupaten Bandung hingga saat ini masih  sedikit. Hal ini salah satunya disebabkan oleh tata letak produksi  yang tidak teratur. Tata letak yang tidak diatur dengan baik akan menyebabkan produksi tidak efektif dan efisien. Tata letak yang tidak efektif dan efisien dapat diperbaiki dengan cara mengatur tata letak secara teratur. Untuk memecahkan persoalan tersebut telah dilakukan penelitian modifikasi tata letak fasilitas produksi pada petani jamur Cita Lestari dari bulan Maret hingga Juni 2004 di desa Cisarua Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung. Modifikasi tata letak fasilitas produksi jamur ini bertujuan untuk mendapatkan tata letak alternatif fasilitas produksi jamur tiram yang baik dari segi teknis dan ekonomis dalam skala kecil. Hasil dari penelitian modifikasi tata letak fasilitas produksi jamur ini adalah sebuah bentuk usulan alternatif tata letak terbaik untuk petani jamur Cita Lestari. Rancangan yang terbentuk  berdasarkan dari pertukaran-pertukaran antara dua departemen atau lebih. Selain itu didapatkan juga bentuk rancangan tata letak ideal yang dapat digunakan sebagai referensi untuk para petani jamur yang lain. Kata kunci: Tata letak fasilitas, Produksi jamur tiram efektif dan efisien
PENGARUH JENIS PELARUT TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KASAR ISOFLAVON DARI AMPAS TAHU Silvia Oktavia Nur Yudiastuti; Tensiska -; Marsetio -
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 1, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isoflavon dalam ampas tahu terdiri atas komponen polar (terikat gula atau glikon) dan komponen nonpolar (tidak terikat gula atau aglikon). Isoflavon diperoleh melalui ekstraksi dengan pelarut organik dan HCL secara maserasi.. Penelitian bertujuan menentukan jenis pelarut yang dapat menghasilkan isoflavon dengan aktivitas antioksidan terbaik dan mengetahui stabilitasnya terhadap suhu pengolahan pangan . Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen deskriptif diikuti dengan analisis regresi. Perlakuan yang dicoba adalah pelarut etanol (polar), etil asetat (semi-polar), dan heksan (nonpolar),  pada masing-masing pelarut  ditambahkan HCL 4N sehingga rasio ampas tahu : pelarut organik : HCl = 2 : 8 : 1. Karakteristik  yang diamati adalah rendemen ekstraksi, aktivitas antioksidan dihitung sebagai waktu induksi, stabilitas terhadap panas dari antioksidan pada suhu pasteurisasi dan sterilisasi komersial, serta konsentrasi komponen daidzein (aglikon) dari  isoflavon dengan HPLC.Ekstrak etil asetat merupakan ekstrak terbaik yang memiliki rendemen sebesar 19,0267%, waktu induksi  (hari ke-12) lebih rendah dari BHT (>12 hari), jumlah komponen daidzein sebanyak 2,28 g/100g tepung. Setelah dipanaskan pada suhu pasteurisasi serta sterilisasi komersil,  aktivitas antioksidan ekstrak etil asetat menurun sampai 50 % yang ditunjukkan dengan penurunan waktu induksi dari 12 hari menjadi 6 hari. Kata kunci: Isoflavon, Pelarut organik, Aktivitas antioksidan
PENGARUH JENIS DESIKAN DAN SUHU DESIKASI PADA KARAKTERISTIK DAUN JERUK PURUT KERING Erwin Susanti; Carmencita Tjahjadi; Cucu S. Achyar
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 1, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun jeruk purut (Citrus hystrix L.) adalah komoditas pertanian yang banyak digunakan sebagai bumbu dapur karena memiliki aroma yang khas. Salah satu cara untuk mengawetkan daun jeruk purut namun tetap mempertahankan aroma khasnya adalah dengan desikasi.Penelitian ini dilakukan dengan menetapkan jenis desikan dan suhu desikasi yang tepat agar diperoleh daun jeruk purut kering dengan warna, aroma, dan karakteristik lain yang baik. Metode percobaan yang dipakai adalah Rancangan Petak Terpisah dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Faktor petak utama adalah suhu desikasi, yaitu suhu ruang (26°C±1°C) dan 34°C±2°C. Faktor anak petak adalah jenis desikan, yaitu silika gel, batuan zeolit dan batuan lempung tufa.Penggunaan jenis desikan teknis batuan zeolit pada suhu desikasi 34°C±2°C menghasilkan daun jeruk purut kering dengan warna dan aroma yang paling baik, yaitu warna permukaan atas hijau agak kuning yang cerah, warna permukaan bawah hijau muda agak kuning, kadar air 5,51 % b.k., kadar Volatile Reducing Substances 104,55 mikrogram ekivalen/gram, rendemen 32,37 %, dan nilai kesukaan terhadap warna 4,2, atau antara agak suka sampai suka, aroma daun jeruk purut kering 3,6 dan aroma daun jeruk purut kering setelah rehidrasi 3,4 atau antara biasa sampai agak suka. Kata kunci: Daun jeruk purut, Desikasi, Zeolit, Silika gel, Batuan lempung tufa 
PENGARUH PENGECILAN UKURAN DUA JENIS JAHE (Zingiber officinale) TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK SARI KEDELAI (Glycine max Merr) JAHE Marleen Herudiyanto; Mira Miranti
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 1, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemaanfaatan sari kedelai masih terbatas karena adanya flavor langu, padahal sari kedelai memiliki mutu protein hampir sama dengan susu sapi. Protein efisiensi rasio (PER) sari kedelai adalah 2,3 sedangkan PER susu sapi adalah 2,5. Salah satu cara untuk menutupi flavor langu adalah dengan penambahan bahan yang berfungsi sebagai penambah rasa dan aroma seperti rempah-rempah antara lain jahe.Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan jenis dan cara pengecilan ukuran jahe yang tepat yang diharapkan dapat menghasilkan sari kedelai jahe dengan karakteristik yang paling baik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 6 perlakuan dengan 4 kali ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah jahe gajah iris, jahe gajah tumbuk, jahe gajah parut, jahe emprit iris, jahe emprit tumbuk, jahe gajah parut.. Hasil penelitian menunjukan perlakuan pencampuran jahe gajah iris menghasilkan sari kedelai jahe yang diterima panelis dari segi warna, rasa, aroma, flavor, dan penampakan keseluruhan. Kestabilan emulsi sari kedelai yang dihasilkan hingga hari ke-10 bertahan dengan nilai 100%. Namun, semakin menurun pada hari selanjutnya. Total padatan berada dibawah SNI yaitu 9,34%. Sari kedelai yang dihasilkan memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai EC 50% 7,55% v/v. Kata kunci: Jahe, Sari kedelai jahe, Pengecilan ukuran, Kestabilan emulsi, Antioksidan

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2007 2007