cover
Contact Name
Rizky Mulya Sampurno
Contact Email
rizky.mulya@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
j.teknotan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
ISSN : 19781067     EISSN : 25286285     DOI : -
Core Subject : Education,
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian, merupakan publikasi ilmiah kerjasama antara Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran (FTIP UNPAD) dengan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA) Cabang Bandung. Jurnal ini diterbitkan 2 kali setahun (1 Volume, 2 Nomor penerbitan) dalam upaya menyebarluaskan ide-ide konseptual dan/atau hasil-hasil penelitian dan penerapan serta pengembangannya dalam bidang ilmu keteknikan dan teknologi pertanian dalam arti luas (pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kehutanan), khususnya pertanian tropika dan ilmu hayati. Penulis naskah/artikel jurnal adalah civitas academika, peneliti dan praktisi serta anggota perhimpunan/organisasi professional dari semua disiplin dan terbuka bagi umum yang menaruh minat dalam bidang ilmu terkait.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 3 (2008)" : 11 Documents clear
KAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L ) DALAM RANGKA PEMANFAATAN LIMBAH KULIT MANGGIS DI KECAMATAN PUSPAHIANG KABUPATEN TASIKMALAYA Efri Mardawati; Fitry Filianty; Herlina Marta
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kulit manggis merupakan cangkang yang dibuang oleh konsumen atau dapat disebut sebagai limbah hasil pertanian. Kulit buah Manggis diketahui mengandung senyawa xanthone sebagai antioksidan, antiproliferativ, dan antimikrobial yang tidak ditemui pada buah-buahan lainnya Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji kandungan dan aktivitas antioksidan yang terdapat dalam kulit buah manggis yang ada di Kabupeten Tasikmalaya yang merupakan salah satu sentra produksi manggis di Indonesia, sehingga dapat menambah sumber antioksidan alami yang sangat dibutuhkan untuk kesehatan manusia.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh ekstrak kasar kulit mangggis yang mengandung antioksidan dengan rendemen ekstraksi serta aktivitas antioksidan yang tertinggi dari tiga pelarut yang digunakan yaitu pelarut methanol, etanol dan etil asetat. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode dpph Metode penelitian yang digunakan adalah deskritif atau explanatory research. Percobaan terdiri dari 3 perlakuan pelarut yang diulang sebanyak tiga kali.Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa ekstrak kulit manggis memiliki antioksidan sangat kuat  hal ini dibuktikan pada semua fraksi pelarut baik fraksi methanol, etanol dan etil asetat yang memiliki EC50 kurang dari 50. dan aktivitasnya lebih besar jika dibandingkan dengan antioksidan yang menjadi balangko. Fraksi Metanol mempunyai nilai EC50 yang lebih kecil  yatiu 8,00 mg/L, berarti mempunyai aktivitas antioksidan yang lebih besar dibanding dengan fraksi etanol dengan nilai EC50 sebesar 9,26 mg/L dan etit asetat yang memberikan nilai EC50 sebesar 29,48 mg/L. Berdasarkan hasil penghitungan nilai rendemen ekstrak kasar antioksidan yang dihasilkan terlihat bahwa pada fraksi methanol memiliki nilai rendemen yang terbesar yaitu 22,27% kemudian diikuti oleh fraksi etanol (18,99%) dan etil asetat (11,54) Kata kunci : Kulit Manggis, Anti oksidan, Xanthone, Metode DPPH
SISTEM PAKAR FUZZY PENENTUAN DAN PENIGKATAN KUALITAS MANGGIS Dwi Purnomo
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komoditas manggis (Garcinnia mangostana Linn.) merupakan salah satu komoditas buah eksotik mempunyai nilai ekonomis tinggi terutama untuk ekspor dan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi komoditas ekspor unggulan. Faktor yang paling menentukan terhadap keberhasilan produk manggis untuk diterima di pasar adalah faktor kualitas. Pasar Internasional memiliki tuntutan kualitas yang sangat baik sementara untuk kualitas dibawahnya diperuntukkan bagi pasar lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu sistem pakar dalam penentuan kualitas manggis serta menentukan strategi perbaikan proses untuk meningkatkan kualitas manggis agar sesuai dengan tuntutan pasar.  Penelitian ini dilakukan pada bulan mei hingga juli 2008. Studi kasus dilakukan di Gapoktan Athamukti, Puspahyang Tasikmalaya dan dilakukan melalui dua tahapan, yaitu  penentuan kualitas manggis dan strategi peningkatan kualitas manggis. Kedua tahapan tersebut dilakukan dengan menggunakan teknik Sistem Pakar Fuzzy (Fuzzy Expert System). Yang membedakan keduanya adalah metode FIS yang digunakan, untuk penentuan kualitas manggis digunakan metode FIS Mamdani, hal tersebut dilakukan karena baik input maupun output merupakan himpunan fuzzy. Sedangkan untuk tahapan penentuan strategi peningkatan kualitas menggunakan metode FIS Sugeno karena outputnya mempunyai nilai tunggal (crisp). Fungsi keanggotaan yang digunakan adalah Triangular Fuzzy Number (TFN). Kata kunci : Manggis, Kualitas, Strategi, Fuzzy Expert System, Fuzzy Inference System, Mamdani, Sugeno
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN CAMPURAN LARUTAN FERMENTASI KUBIS DAN EDIBLE COATING DARI KITOSAN TERHADAP KARAKTERISTIK PATIN PADA SUHU RENDAH Eddy Afrianto; Deasy Aprilisa
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui efektivitas penggunaan campuran larutan fermentasi kubis dan suspensi dari kitosan terhadap karakteristik patin pada suhu rendah. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan lima perlakuan, yaitu patin tanpa perendaman (kontrol), perendaman patin dalam larutan fermentasi kubis dan perendaman patin dalam campuran larutan fermentasi kubis dan suspensi kitosan dengan tiga konsentrasi kitosan yang berbeda, yaitu 2,5%, 5% dan 7,5%. Pengamatan dilakukan terhadap susut bobot, Total Volatile Base (TVB), dan jumlah total bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan campuran larutan fermentasi kubis dan suspensi dari kitosan berpengaruh terhadap susut bobot, Total Volatile Base (TVB), dan jumlah koloni bakteri. Patin yang direndam dalam campuran larutan fermentasi kubis dan suspensi kitosan 2,5% (Perlakuan B) memberikan pengaruh terbaik hingga hari ke-10. Kata kunci : Fermentasi kubis, Suspensi, Suhu rendah, Patin
PENGGUNAAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK MENENTUKAN POTENSI KETERSEDIAAN AIR TANAH Kasus di Sub DAS Cisangkuy, DAS Citarum Bandung Dwi Rustam Kendarto
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Informasi ketersediaan air tanah sangat diperlukan dalam perencanaan pertanian, manajemen irigasi dan perencanaan pola tanam. Agar dapat menggambarkan sebaran spasial informasi ketersediaan air suatu suatu wilayah secara lebih rinci, maka informasi data visual geografik menjadi sangat menarik untuk digunakan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan distribusi spasial ketersediaan air tanah menggunakan teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis. Penelitian ini dilakukan dengan metode kesetimbangan air yang dikemukakan oleh Thornthwaite menggunakan input data visual geografis yang berupa peta dan citra satelit. Penggunaan data input visual diharapkan mampu menggambarkan sebaran nilai ketersediaan air tanah secara rinci mengikuti sebaran geografis sesuai kondisi di lapangan. Dalam penelitian ini dibandingkan pula dua jenis input data yang digunakan yaitu input peta karakteristik lahan serta input dari citra dan informasi topografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan data input spasial dapat menggambarkan distribusi nilai ketersediaan air tanah. Penggunaan citra satelit dan informasi topografi ternyata lebih handal dibandingkan input peta karakteristik lahan. Kehandalan tersebut dapat dilihat dari angka root mean square (RMS) dan angka koefisien korelasi. Nilai RMS untuk masing-masing cara yaitu 27,8% untuk input peta karakteristik lahan serta 21.3% untuk penggunaan indeks kelembaban dan indeks topografi. Sedangkan angka koefisien korelasi untuk input peta karakteristik lahan adalah 0,6, serta angka koefisien korelasi untuk input indeks kelembaban dan indeks topografi adalah 0,65. Kata kunci : Ketersediaan Air, Sistem Informasi Geografis, Penginderaan jauh, Kesetimbangan air 
PENGKAJIAN PENGGUNAAN GUNTING PETIK PADA KOMODITAS TEH DI KECAMATAN CIKALONG WETAN-KABUPATEN BANDUNG Heny Herawati; Agus Nurawan
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan utama di perkebunan teh rakyat di Kecamatan Cikalongwetan saat ini dan ke depan adalah semakin langkanya tenaga kerja pemetik Kebutuhan tenaga kerja di perkebunan teh rata-rata 1,3 orang per hektar. Dari jumlah tersebut, 70% merupakan tenaga pemetik. Pemetikan mekanis menggunakan gunting atau mesin petik disamping dapat mengatasi kelangkaan tenaga kerja, dapat juga meningkatkan produksi pucuk jika dibandingkan secara manual dengan menggunakan tangan. Dengan memperhatikan peran pemetikan untuk tercapainya tingkat produksi, tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tenaga pemetik di atas adalah: (a) Optimasi produksi tanaman serta (b) Mekanisasi pemetikan. Pengkajian penggunaan gunting petik pada komoditas teh, disamping diharapkan dapat mengatasi kelangkaan tenaga panen, juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas pucuk teh yang dihasilkan. Pengkajian dimulai dari bulan Agustus 2005 – Desember 2005 di Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung. Metode pengkajian dilakukan dengan pendekatan deskriptif dengan cara membandingkan antara penggunaan kombinasi gunting petik dan manual dengan manual saja. Masing-masing perlakuan diulang 2 kali. Kelompok Tani yang terlibat dalam kegiatan adalah kelompok tani Tunas Maju. Tujuan pengkajian untuk mengetahui nilai tambah dan hasil pengunaan guntik petik. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa, penggunaan gunting petik pada saat pemetikan teh, membutuhkan waktu petik yang lebih singkat yaitu selama 6,57 jam/ plot dengan prestasi petik sebesar 18,05 kg/jam. Apabila dibandingkan antara penggunaan gunting petik dan cara manual terkait dengan interval petik  rata-rata gunting petik sebesar 20,57 hari dan cara manual 12 hari, belum diperoleh hasil yang optimal. Dengan menggunakan gunting petik, diperoleh hasil dengan persentase daun lebih besar yaitu 76,25% dibandingkan dengan cara manual. Pemetikan dengan cara manual dihasilkan mutu pucuk peko sebesar 44,99%, sedangkan dengan menggunakan gunting diperoleh mutu pucuk peko lebih banyak yaitu sebesar 46,14%. Penggunaan gunting petik dapat meningkatkan prestasi petik dan mutu pucuk yang dihasilkan. Untuk optimalisasi kinerja gunting petik masih dibutuhkan peningkatan ketrampilan dalam penggunaannya. Sedangkan kuantitas hasil pucuk, disamping dipengaruhi oleh cara pemanenan juga dipengaruhi oleh musim. Kata kunci: Gunting petik, Panen, Teh
SIFAT REOLOGI DAN TEKSTUR GEL SUSU ASAM SEBAGAI AKIBAT VARIASI DALAM KADAR LEMAK DAN PERLAKUAN PEMANASAN Robi Andoyo
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gel susu fermentasi dibuat dari bubuk kasein dan whey protein yang direkonstitusi dengan kadar lemak divariasikan 0, 2 dan 4 % dipanaskan dengan tiga taraf kombinasi suhu-waktu yang berbeda yaitu 760C / 0 detik, 85 0C /0 detik dan 850C /20 menit, kemudian di asamkan dengan menggunakan glucono-d-lactone (GDL) pada 35°C selama 5 jam. Sifat reologi dan tekstur dari gel yang terbentuk kemudian di analisis dengan menggunakan dynamic low-amplitude oscillatory rheology dan texture profile analyis (TPA).Pemberian perlakuan panas menyebabkan peningkatan derajat whey protein terdenaturasi cenderung meningkatkan nilai Loss angle (δ) yang diukur pada frekuensi 1 Hz dan sebaliknya dengan meningkatnya kadar lemak dari sistem mengakibatkan nilai Loss angle (δ) semakin kecil. Meningkatnya derajat whey protein terdenaturasi akibat perlakuan  pemanasan juga mengakibatkan naiknya nilai storage modulus (G’) pada semua taraf kadar lemak sedangkan nilai G’ sedikit mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya kadar lemak pada sampel. Pengukuran TPA pada sampel menunjukan nilai kekerasan, fracturability, adhesivitas dan kohesivitas mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya derajat denaturasi whey protein namun pada pemanasan 850C /20 menit, semua parameter tersebut mengalami penurunan. Peningkatan kadar lemak sebesar 2 dan 4 % menyebabkan penurunan nilai kekerasan, fracturability, adhesivitas dan kohesivitas pada semua perlakuan pemanasan yang diberikan kecuali pada pemanasan 850C /20 menit. Kata kunci : Lemak, Pemanasan, Rheologi, Texture profile analysis
LAMA SELANG WAKTU TANAM PADI DARI TANAMAN SEBELUMNYA Gunawan Nawawi
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama selang waktu tanam dari panen tanaman sebelumnya terhadap kebutuhan air irigasi untuk pengolahan tanah serta pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah telah dilakukan di kecamatan Plered, Purwakarta dari bulan Juni hingga Oktober 2002.  Empat lama selang waktu tanam, yaitu 2 hari, 10 hari, 20 hari dan 30 hari masing-masing dicoba pada petak sawah seluas 15 m x 15 m, diulang 6 kali dan disusun berdasarkan rancangan acak kelompok.Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama selang waktu tanam berpengaruh terhadap kebutuhan air untuk pengolahan tanah, pertumbuhan dan hasil tanaman padi IR 64. Jumlah kebutuhan air untuk pengolahan tanah tidak termasuk untuk penjenuhan, pada selang waktu 2 hari sebanyak 72,0 mm, pada 10 hari sebanyak 105,1 mm, pada 20 hari sebanyak 151,6 mm dan pada 30 hari sebanyak 193,3 mm. Jumlah kebutuhan air untuk penjenuhan sebanyak 125,0 mm. Hasil gabah kering giling yang diperoleh pada selang waktu tanam 2, 10, 20 dan 30 hari masing-masing sebesar 5,66 ton/ha; 6,92 ton/ha; 5,27 ton/ha dan 5,25 ton/ha. Perbedaan hasil ini dipengaruhi oleh perbedaan jumlah anakan dan malai yang terbentuk. Kata kunci : Penanaman ulang, Selang waktu, Padi, Petak sawah, Kebutuhan air irigasi, Penjenuhan. 
ANALISIS PENGUBAHAN IKLIM MIKRO DI DALAM KANDANG DOMBA GARUT DENGAN METODE PENGENDALIAN PASIF ”STUDI KASUS DI UPTD-BPPTD MARGAWATI, KABUPATEN GARUT” Zaida -; Handarto -; Gilang Ginanjar Natari
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Domba Garut melepaskan kalor sensibel maupun kalor laten sebagai respon terhadap perubahan iklim di dalam kandang, terutama fluktuasi suhu bola kering. Karakteristik iklim mikro di dalam kandang pengendalian pasif yang fluktuatif, tidak selalu dapat mengubah iklim yang diharapkan sepanjang hari.Adanya keterbatasan sifat-sifat termofisika konstruksi kandang pengendalian pasif menghasilkan proses-proses fisik sejalan dengan fluktuasi iklim di luar kandang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengubahan iklim mikro di dalam kandang pengendalian pasif, dengan menggunakan metode deskriptif eksplanatori. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik iklim mikro di dalam kandang lebih konstan dibandingkan lingkungan luar, dengan intensitas suhu bola kering yang lebih tinggi. Kegagalan ventilasi yang terdiri dari pergerakan angin mati, angin turbulen, dan difusi uap air oleh radiasi matahari yang tidak optimal, menyebabkan pengendalian kelembaban di ruangan kandang bagian kiri tidak berjalan efektif.Proses fisik dari analisis perbandingan antara ruangan kandang bagian kanan maupun bagian kiri terhadap luar, didominasi oleh pemanasan humidifikasi. Domba Garut mengalami stres panas antara pukul 12.00 dan 14.30. Namun, pukul 13.00 sampai 13.30 menunjukkan iklim yang efektif untuk domba Garut, dimana kalor konveksi domba Garut adalah rendah antara 31% (450 W) dan 32% (481 W). Hasil penelitian secara keseluruhan menyimpulkan kandang pengendalian pasif menunjukkan kinerja yang baik dalam meredam cekaman iklim pada domba Garut dan efektif sebagai bangunan pengendali kalor, kelembaban, dan bau.Kata kunci : Fluktuasi Iklim, Kandang domba garut, Pengendali pasif, Pengubahan iklim mikro, Proses fisik
RESPON TANAMAN TEH (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) KLON GAMBUNG 7 TERHADAP PUPUK P DAN KOMPOS BIOAKTIF Intan Ratna Dewi; Santi Rosniawaty; Mira Ariyanti
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) Klon Gambung 7 terhadap Pupuk P dan Kompos bioaktif bioaktif.Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Lembang Kabupaten Bandung.Ketinggian tempat 1.200 m di atas permukaan laut dengan jenis tanah Andisols.  Percobaan dilaksanakan  pada bulan Mei hingga Oktober 2007. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak kelompok dengan sebelas perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuannya adalah sebagai berikut : A = 100% dosis rekomendasi pupuk SP-36, tanpa kompos bioaktif;  B =75%  dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 25 g  kompos bioaktif / polibag ; C = 75% dosis rekomendasi pupuk SP-36  dan  50 g kompos bioaktif /polibag; D =  75% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 75 g kompos bioaktif /polibag ; E  = 50% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 25 g  kompos bioaktif / polibag ; F = 50% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan  50 g  kompos bioaktif / polibag ; G = 50% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 75 g  kompos bioaktif / polibag ; H = 25% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 25 g  kompos bioaktif / polibag ;  I = 25% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan  50 g  kompos bioaktif / polibag ; J = 25% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 75 g  kompos bioaktif / polibag ; K = 100% kompos bioaktifHasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi pupuk P dan kompos bioaktif  memberikan perbedaan yang nyata terhadap jumlah daun tanaman teh umur 12 msp dan bobot kering tanaman. Perlakuan tidak memberikan perbedaan yang nyata pada tinggi tunas, diamater batang dan nisbah pupus akar. Pertumbuhan terbaik  diperoleh dari perlakuan kombinasi 75% dosis rekomendasi pupuk SP-36  dan  50 g kompos bioaktif /polibag ; dan 75% dosis rekomendasi pupuk SP-36  dan  75 g kompos bioaktif /polibag. Kata kunci : Pupuk P, kompos bioaktif, tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) Klon Gambung 7
PEMBUATAN SERBUK MINUMAN SARI KACANG HIJAU (Phaseolus vulgaris L.) MELALUI TEKNIK KO-KRISTALISASI Ade Ridwan; Tita Rialita; Tati Sukarti
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan serbuk minuman sari kacang hijau dengan teknik ko-kristalisasi telah dilakukan di Laboratorium Jurusan Teknologi Industri Pangan, Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran, dari bulan April 2008 hingga bulan Juni 2008. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan antara sukrosa dan sari kacang hijau sehingga menghasilkan serbuk minuman sari kacang hijau dengan beberapa karakteristik yang baik dan disukai oleh panelis. Metode percobaan yang digunakan adalah analisis deskriptif yang dilanjutkan dengan analisis regresi, terdiri dari 6 perlakuan dan 2 kali ulangan. Pada penilaian sensori digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 6 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah perbandingan sukrosa dan sari kacang hijau 1:1 (b/b), 2:1 (b/b), 4:1 (b/b), 1,6:1 (b/b), 1,8:1 (b/b), dan 2:1 (b/b). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara perbandingan sukrosa dan sari kacang hijau terhadap waktu larut serbuk dan rendemen. Karakteristik serbuk minuman terbaik diperoleh dari perlakuan perbandingan 1,6:1 (b/b) dengan waktu larut 1,21 menit, rendemen 40,73 %, kadar gula total 80,29 % b/b, kadar air  2,56 %, kadar protein 20,80 %. Nilai kesukaan terhadap warna serbuk cenderung disukai, sedangkan aroma serbuk serta warna, rasa, dan aroma seduhan serbuk minuman kacang hijau cenderung dinilai biasa. Kata kunci : Sari kacang hijau, Sukrosa, Ko-kristalisasi, Serbuk minuman

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2008 2008