cover
Contact Name
Rizky Mulya Sampurno
Contact Email
rizky.mulya@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
j.teknotan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
ISSN : 19781067     EISSN : 25286285     DOI : -
Core Subject : Education,
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian, merupakan publikasi ilmiah kerjasama antara Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran (FTIP UNPAD) dengan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA) Cabang Bandung. Jurnal ini diterbitkan 2 kali setahun (1 Volume, 2 Nomor penerbitan) dalam upaya menyebarluaskan ide-ide konseptual dan/atau hasil-hasil penelitian dan penerapan serta pengembangannya dalam bidang ilmu keteknikan dan teknologi pertanian dalam arti luas (pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kehutanan), khususnya pertanian tropika dan ilmu hayati. Penulis naskah/artikel jurnal adalah civitas academika, peneliti dan praktisi serta anggota perhimpunan/organisasi professional dari semua disiplin dan terbuka bagi umum yang menaruh minat dalam bidang ilmu terkait.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2013)" : 10 Documents clear
PRODUKSI MINUMAN FUNGSIONAL SIRSAK (Anona muricata. Linn) DENGAN FERMENTASI BAKTERI ASAM LAKTAT Nurud Diniyah; Achmad Subagio; Mukhammad Fauzi
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan bakteri asam lactat (LAB) dalam memproses minuman fungsional sop asam bertujuan untuk mengetahui efek LAB dan fermentasi terhadap sifat fungsional dan karakteristik, serta daya anti-oxidant minuman sop asam. Studi ini menggunakan analisis deskriptif  pada beberapa variasi lamanya fermentasi. Pengamatan dilakukan pada turbiditas, total asam, pH, total gula, pengurangan gula, vitamin C, kapasitas anti-oksidan, dan hasil tes organoleptik. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan LAB dan fermentasi mempengaruhi karakteristik dan daya anti-oksidan minuman fungsional sop asam. Kata kunci: sup asam, proses minuman, LAB, fermentasi, anti-oxidan
Tahanan Draft Tanah Spesifik Beberapa Bajak Singkal di Tanah Sawah Ade Moetangad Kramadibrata
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Reaksi tanah terhadap tiga permukaan kerja bajak singkal ketika beroperasi pada kondisi tanah sawah telah diprediksi dengan menggunakan formula Kisu dan pada saat yang sama diukur secara actual di lapangan untuk mengetahui tahanan draft tanah spesifiknya. Bajak singkal yang digunakan adalah lanyam kecil Cidaun, lanyam besar Ciamis (keduanya seluruhnya terbuat dari kayu) dan bajak Bujul (singkal besinya didukung oleh kayu) – dinyatakan di sini sebagai P1, P2 dan P3. Bajak-bajak ini secara bergiliran ditarik oleh seekor kerbau berbobot dinamik 23,44 kN dengan kecepatan tarik 0,48 m/s pada kedalaman 10 cm. Sebuah dynamometer terkalibrasi berkapasitas 549,36 N/cm2 terpasang di titik tarik pada palang tarik kerbau digunakan untuk mengukur tahanan draft tanah actual. Hasil pendugaan Formula Kisu menunjukan rata-rata tahanan draft tanah spesifik untuk P1, P2 dan P3 berturut-turut adalah 1,2542; 1,2123 dan 1,2548 N/cm2. Sedang data aktual yang diukur pada P1, P2 dan P3 berturut-turut menunjukan tahanan draft tanah spesifik 1,3705; 1,239 dan 1,3885 N/cm2.  Data ini membuktikan bahwa perolehan data prediksi dan data aktual masih berada di dalam interval yang dapat diterima pada nilai maksimum 4 N/cm2. Walau terdapat perbedaan nyata antara data prediksi dan data aktual, namun besaran ini masih berada dalam batas maksimum tahanan draft tanah hewan yang memiliki gaya tarik 0,4709 kN pada kecepatan tarik 0,48 m/det atau daya maksimum sekitar 0,226 kW. Kata kunci: tahanan draft tanah spesifik, bajak tradisional, hewan tarik, tanah sawah
APLIKASI ARTIFICIAL NEURAL NETWORK DALAM PEMUPUKAN N, P, DAN K PADA BUDIDAYA TEBU S Prabawa; B Pramudya; I W Astika; Radite PAS; E Rustiadi
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Data historis dosis pemupukan pada budidaya tebu dan hasil yang diperoleh (hasil tebu dan kadar gula) sangat bermanfaat untuk mengetahui dosis pemupukan yang memberikan hasil yang tinggi.  Hubungan tersebut dapat diformulasikan dengan artificial neural network. Penelitian ini bertujuan membangun model artificial neural network sehingga dapat ditentukan kebutuhan jumlah hara N, P, dan K pada target hasil tebu (yield) dan kadar gula yang diharapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Artificial Neural Network (ANN) yang dibangun untuk memformulasikan hubungan antara jumlah hara yang dibutuhkan dengan hasil tebu dan kadar gula memiliki akurasi R2=0.93 untuk pupuk pertama N, R2=0.88 untuk pupuk pertama P, R2=0.88 untuk pupuk kedua N, dan R2=0.92 untuk pupuk kedua K. Kata kunci: dosis pupuk, hasil tebu, kadar gula, artificial neural network.
KARAKTERISTIK DEFORMASI TANAH PADA PEMBUATAN LORONG PENGATUS DANGKAL DI TANAH SAWAH JENUH DI DALAM SOIL BIN Siti Suharyatun
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan lorong pengatus di atas lapisan keras (hardpan) pada  tanah sawah dilakukan untuk memperpendek masa tunggu tanam palawija yang sekaligus mempercepat penurunan kadar lengas tanah yang tinggi setelah musim hujan agar sesuai dengan pertumbuhan awal tanaman palawija. Namun terdapat resiko deformasi lorong pengatus pada saat pengolahan tanah yang sangat ditentukan oleh kondisi fisik tanah aktual. Penelitian eksperimentil deskriptif dilakukan pada skala laboratorium di dalam soil bin yang diisi tiga contoh tanah yang berbeda kadar liatnya, yaitu; 1) Godean (GDN: 13.12 %), 2) Moyudan (MYD: 41.17 %), dan Boyolali (BYL:53,63 %). Masing-masing tanah diamati karakteristik deformasinya saat pembuatan lorong pengatus. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa deformasi tanah terbesar justru terjadi pada tanah dengan kandungan liat tertinggi (53.63 %) dan terkecil pada tanah dengan kandungan liat (13.12 %). Kata kunci: deformasi tanah, lorong pengatus, tanah sawah
MESIN PEMUPUK PRESISI LAJU VARIABEL BERBASIS MIKROKONTROLER Radite P.A. S; M. Tahir Tahir; W. Hermawan; B. Budiyanto
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem penjatah pupuk laju variable (variable rate fertilizer metering system) merupakan salah satu teknologi kunci pada mesin-mesin pintar yang digunakan dalam implementasi pertanian presisi (precision farming).  Pada mesin pemupuk yang mempunyai penjatahan laju variabel, akurasi pemberian dosis dan fleksibilitas dalam pemberian dosis yang berubah secara cepat sangatlah diperlukan.  Pada penelitian ini bagian penjatah pupuk diputar langsung oleh motor DC yang kecepatannya dapat dikontrol secara digital berbasis modul mikrokontroler 8 bit AVR 128.  Rotor yang digunakan adalah tipe bintang dengan 6 sirip. Sistem yang dikembangkan ini dapat mengatur perubahan dosis secara tepat dan cepat, juga memungkinkan perekaman data pemupukan dan posisi-nya di lapangan menggunakan DGPS.  Hasil pengujian menunjukkan bahwa pupuk dapat dijatah secara presisi, mempunyai hubungan linier terhadap putaran rotor dan proporsional baik pad pengoperasian rotor tunggal maupun rotor ganda. Pengoperasian dengan rotor tunggal dengan pupuk urea memberikan nilai kalibrasi dosis 0.794 dengan koefisien diterminasi lebih dari 0.999, sedangkan pengoperasian dengan rotor ganda nilai kalibrasi dosisnya adalah 1.513 g/s/rps dengan koefisien diterminasi lebih dari 0.999. Pada prototip mesin ini jumlah pupuk dapat diberikan secara akurat dan beragam dosisnya secara spasial sesuai dengan kebutuhan tanaman dalam blok, juga tepat posisi penempatannya di dalam lahan  Kedepan, pengembangan prototip ini diharapkan dapat mendukung kemampuan teknologi lokal-nasional pada penerapan precision farming dimasa depan. Kata Kunci: Pertanian presisi, penjatah laju variabel, Electronic metering
PENGARUH UKURAN KALENG TERHADAP NILAI Fo GULAI TUNA KALENG Agus Susanto; Asep Nurhikmat
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk meningkatkan daya simpan pangan diperlukan suatu teknologi seperti pengalengan bahan pangan. Salah satu tahapan proses dalam pengalengan adalah proses sterilisasi, dimana ukuran kaleng sangat berpengaruh terhadap nilai Fo yang dihasilkan. Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh ukuran kaleng terhadap nilai Fo gulai tuna kaleng. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas Fo gulai tuna kaleng ukuran 301 x 407 dan ukuran 301 x 205. Penelitian menghasilkan nilai Fo gulai tuna untuk ukuran kaleng ukuran 301 x 407 dan 301 x 205 masing-masing adalah 18.37 dan 12.28 menit. Nilai gizi untuk kedua ukuran sama yaitu air, protein, lemak dan abu masing-masing 79,82; 11,07; 4,29 dan 4,32 %. Kata kunci : ukuran kaleng, nilai Fo, gulai tuna
EVALUASI KINERJA SISTEM IRIGASI Chandra Setyawan; Sahid Susanto; dan Sukirno
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Instrumen evaluasi kinerja sistem irigasi secara kuantitatif dikembangkan dengan pendekatan sistem dan berbasis keluaran telah diaplikasikan di wilayah sistem Irigasi Serayu, Jawa Tengah. Keluaran sistem dipakai sebagai indikator utama (main indikator) mencerminkan tingkat kecukupan dan ketepatan pemberian air, efisiensi irigasi, kondisi dan fungsi sistem drainase, luas tanam dan produktivitas. Komponen sistem irigasi dalam bentuk input, proses, dampak dan keberlanjutan sistem irigasi dimasukkan sebagai indikator tambahan (auxiliary indicator). UPT Jeruk Legi. UPT Kroya dan UPT Sumpiuh dipakai sebagai daerah irigasi sampel yang masing-masing mewakili daerah atas, tengah dan bawah. Dengan menggunakan rentang skor 1-4, hasil penilaian kinerja sistem irigasi berada dalam posisi baik.  Daerah irigasi yang berada di daerah atas dan tengah mempunyai total skor 2,87 dan 2,20  dan daerah bawah mempunyai total skor 2,13. Berbasis pada luaran, komponen evaluasi dipakai sebagai dasar dalam menilai kinerja Operasi dan Pemelihataan (O&P). Hasilnya menunjukkan bahwa kinerja O&P daerah irigasi bagian atas termasuk kategori sangat baik (skor 3,05) dan bagian tengah dan bawah termasuk kategori baik (skor 2,50 dan 2,42). Dengan menempatkan posisi kinerja sistem Irigasi dalam bentuk kuadranisasi menunjukan untuk UPT Jeruk Legi dan Kroya berada pada kuadran I yang mengindikasikan prasyarat kinerja sistem irigasi terpenuhi untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan, sedangkan untuk UPT Sumpiuh berada pada kuadran II yang berarti prasyarat kinerja sistem irigasi masih memerlukan peningkatan untuk memenuhi keluaran yang diinginkan. Kata kunci: evaluasi kinerja sistem irigasi, O&P sistem irigasi, indikator dasar, indikator                     tambahan 
RANCANG BANGUN REAKTOR BIOGAS DENGAN PENGADUK UNTUK SAMPAH ORGANIK SKALA RUMAH TANGGA Totok Herwanto; Kharistya Amaru; Dodi Nurhadi Saputra
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk mengurangi kelemahan reaktor biogas yang ada dan pemanfaatan sampah organik telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk merancang bangun reaktor biogas yang mudah dibuat, relatif murah, tidak korosi, tahan lama, dan memiliki pengaduk  dengan memanfaatkan sampah organik skala rumah tangga. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Desember 2011 di Desa Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Hasil penelitian memberikan rancangan reaktor biogas berbahan dasar drum plastik High density Polyethilen (HDPE) dengan pengaduk untuk sampah organik skala rumah tangga dengan spesifikasi: volume total 500l, volume isian 400l, panjang pengaduk 750mm dengan diameter poros 20mm. Reaktor biogas dapat menghasilkan biogas sebanyak 1100l dengan proses selama 30hari, temperatur dan pH rata-rata bahan isian berkisar 28ºC dan 7,23 dengan nilai kalor bersih 19,78 Joule/cm3. Pengaduk dapat mengaduk bahan isian di dalam reaktor biogas sehingga tidak mengalami pengeringan. Biaya investasi reaktor biogas Rp 587.000, NPV= Rp 752.906, IRR= 34,11 %, BCR= 1,59, reaktor biogas ini mencapai BEP pada produksi 1.350 l/bulan. Kata kunci : rancang bangun, reaktor biogas, pengaduk, sampah organik.
PERUBAHAN KANDUNGAN KLOROFIL DARI TIGA JENIS SAYURAN SELAMA PROSES PENGERINGAN DENGAN OVEN VAKUM Tensiska ,; Imas Siti Setiasih; Fathunnisa .
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Klorofil sebagai pewarna alami dapat digunakan sebagai suplemen makanan. Sumber klorofil potensial terdapat pada sayuran hijau seperti daun singkong, bayam, dan daun pepaya.yang tersedia dalam bentuk ekstrak cairan, sehingga kurang praktis dalam penggunaannya. Karena itu perlu dilakukan mikroenkapsulasi dengan penyalut dekstrin. Pengeringan dilakukan menggunakan oven vakum pada suhu 40 ± 5ºC dengan variasi waktu pengeringan Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perubahan kandungan klorofil dari tiga jenis sayuran selama proses pengeringan ekstrak klorofil dengan oven vakum pada waktu yang berbeda. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama ialah jenis sayuran yang terdiri dari 3 taraf yaitu daun singkong, bayam, dan daun pepaya. Faktor yang kedua ialah lama pengeringan yang terdiri dari 3 taraf yaitu 30, 60, dan 90 menit. Hasil penelitian menujukkan bahwa jenis sayuran bayam menghasilkan bubuk klorofil dengan intensitas warna hijau (-a*) paling tinggi -4,34, kandungan total klorofil 23,47 mg/L, klorofil a 14,65 mg/L, klorofil b 8,85 mg/L, dan rendemennya 0,29 %. Lama pengeringan 30 menit sudah cukup untuk mengeringkan bubuk klorofil dalam oven vakum dengan suhu 40±5ºC. Kata kunci: kloropil, sayuran, proses  pengeringan, oven vakum
SIMULASI KONSUMSI ENERGI PENGERINGAN JAGUNG PIPILAN PADA BERBAGAI SUHU DAN LAJU ALIRAN UDARA PENGERING Leopold O. Nelwan
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa faktor penting dari udara pengering yang mempengaruhi waktu pengeringan pada tumpukan biji-bijian adalah suhu, kelembaban, dan laju aliran udara pengering. Kombinasi ketiga faktor tersebut pada acuan kondisi (suhu dan kelembaban) udara lingkungan juga menentukan laju energi (daya) yang dibutuhkan, baik mekanik maupun termal. Bersama, faktor-faktor tersebut secara bersama-sama akan menentukan total konsumsi energi pengeringan. Sebuah simulasi konsumsi energi untuk pengeringan jagung pipilan yang didasarkan pada model pengeringan tumpukan tebal dan dilakukann pada berbagai suhu (35-55 °C) dan laju aliran massa (0.05-0.1 kg/m2-s) udara pengering pada ketebalan tumpukan 0.5 m. Suhu udara lingkungan pada simulasi tersebut bervariasi dari 25-32 °C akan tetapi rasio kelembabannya konstan yaitu 0.019 kg/kg u.k. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada peningkatan laju aliran udara akan memberikan konsumsi energi pengering per m2 luasan produk meningkat untuk seluruh kondisi.  Akan tetapi, suhu udara pengeringan akan memberikan peningkatan konsumsi energi pada suhu udara lingkungan yang tinggi sedangkan pada suhu udara lingkungan yang lebih rendah justru akan menurunkan konsumsi energi. Kata kunci: simulasi, konsumsi energi, udara pengering, udara lingkungan, laju aliran massa 

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2013 2013