Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Analisis Rasio Luas Daerah Tangkapan Air (Catchment Area) dan Areal Budidaya Pertanian (Cultivated Area) dalam Desain Model Run Off Management Integrated Farming di Lahan Kering Bafdal, Nurpilihan; NP, Sophia Dwiratna NP; Amaru, Kharistya
Jurnal Teknik Sipil Vol 21, No 3 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.85 KB)

Abstract

Abstrak. Salah satu kendala lahan pertanian lahan kering adalah kurangnya ketersediaan air untuk tanaman pada musim kemarau. Pada area pertanian lahan miring, potensi run off (air limpasan) masih jarang dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi. Air limpasan ini dapat ditampung dan dimanfaatkan sebagai sebagai air irigasi di musim kemarau. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis rasio luas daerah tangkapan air (catchment area) dan daerah budidaya tanaman (cultivated area) pada sistem pengelolaan run off di lahan kering. Penelitian dilaksanakan dengan metode survey dan deskriptif analitik melalui pengamatan kondisi lapangan, pemetaan lokasi serta analisis potensi runoff. Lokasi penelitian adalah area lahan kering di Jatinangor. Hasil analisis runoff secara teoritis dengan metode Rasional menunjukkan bahwa jumlah kumulatif runoff dalam setahun sebesar 1160,05 m3, menunjukkan bahwa limpasan permukaan berpotensi sebagai alternatif sumber air irigasi di lahan kering. Analisis rasio daerah tangkapan dan daerah budidaya menunjukkan nilai C : CA sebesar 14,8, berarti bahwa untuk memenuhi kebutuhan air tanaman jagung pada lahan seluas 1000 m2 selama 3 kali musim tanam dalam setahun dibutuhkan daerah tangkapan air sebesar 14800 m2.Abstract. One obstacle dryland agricultural land is the lack of availability of water for crops in the dry season. On sloping land agricultural areas, the potential for runoff (runoff) is rarely used as a source of irrigation water. Water runoff can be collected and used as a irrigation in the dry season. The purpose of this study to analyze the ratio of catchment and cultivable area of the run-off management system in dry land. The research was conducted by survey method and descriptive analytic by observation field conditions, mapping the location and analysis of potential runoff. The location of research is an area of dry land in Jatinangor. The results of the analysis of runoff theoretically with rational method showed that the cumulative runoff in a year amounted to 1160.05 m3, indicating that the surface runoff is potentially as an alternative source of irrigation in dry land. Analysis of the ratio of catchment areas and cultivated areas show the value of the C: CA 14.8, meaning that in order to meet the water needs of the corn crop in the area of 1000 m2 for 3 seasons in a year needed catchment area of 14800 m2.
Kajian Irigasi Interval 1 Hari di Musim Kemarau pada Sistem Pemanenan Air Limpasan Bafdal, Nurpilihan; Amaru, Kharistya; Chandra, Debby Shafira
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian Vol 3, No 2 (2019): Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Juni
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1020.876 KB) | DOI: 10.31289/agr.v3i2.2591

Abstract

The water resource problems in dry season at Jatinangor dry land are the imbalance between water needs and water availability. Technology that can help the farmers in dry season is by using a runoff water harvesting system for irrigation use. Irrigation interval is applied so that water use is more efficient. The purposes of this study are to calculate crop water requirement of sweet corn (Zea mays L. Saccharata Sturt) by using Cropwat 8.0 Software and to find out the use of runoff water harvesting systems on one day interval irrigation in the dry season. This research use descriptive analysis method. The results showed that based on Cropwat 8.0, the crop water requirement of sweet corn is 300,6 mm/periode and the runoff water harvesting pond can fulfill the irrigation water needs of sweet corn in the dry season with actual irrigation water requirement of 55,6 m3 on 221  m2 width of area. The productivity yield of sweet corn is 13,25  tons /ha.
Kinerja dan Karakteristik Konsumsi Energi, Air, dan Nutrisi pada Sawi Pagoda (Brassica narinosa) Menggunakan Sistem Fertigasi Deep Flow Technique (DFT) Hidayah, Aidah Luthfi; Dwiratna, Sophia; Prawiranegara, Boy Macklin Pareira; Amaru, Kharistya
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkptb.2020.008.02.02

Abstract

Hidroponik dapat membantu tanaman untuk tumbuh. Keberhasilan penggunaannya dapat ditinjau dari kinerja yang dihasilkan serta mengetahui karakteristik konsumsi yang dibutuhkan selama satu kali masa tanam sawi pagoda. Penelitian ini dilaksanakan di rooftop gedung Departemen Teknologi Industri Pangan Universitas Padjadjaran. Fertigasi hidroponik yang digunakan pada penelitian ini adalah Deep Flow Technique (DFT) dengan parameter yang diukur adalah jumlah penggunaan air konsumtif, jumlah penambahan pekatan nutrisi dan jumlah energi listrik yang digunakan serta keseragaman dari hasil pertumbuhan tanaman dan hasil panen. Hasil penelitian menunjukkan kinerja pertumbuhan ditinjau dari keseragaman masuk dalam kategori cukup hingga sangat baik dengan hasil rata-rata tinggi 17,95 cm, jumlah daun 26,71 lembar, diameter tajuk 23,26 cm, bobot 79,11 gram, dan panjang akar 72,82 cm yang mampu dicapai dalam waktu yang lebih cepat dibanding budidaya secara konvensional yaitu hanya 28 hari. Efisiensi penggunaan air yang dihasilkan sebesar 50,441 Kg/m3 dan produktivitas lahan sebesar 1,736 Kg/m2 ditunjang dengan konsumsi energi listrik 38,57 MJ/m2, konsumsi air 1,57 liter/tanaman dan konsumsi nutrisi 12,17 ml/tanaman yang terhitung lebih kecil dibanding dengan budidaya secara konvensional.
Kajian Irigasi Interval 1 Hari di Musim Kemarau pada Sistem Pemanenan Air Limpasan Chandra, Debby Shafira; Bafdal, Nurpilihan; Amaru, Kharistya
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian Vol 3, No 2 (2019): Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Juni
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/agr.v3i2.2591

Abstract

The water resource problems in dry season at Jatinangor dry land are the imbalance between water needs and water availability. Technology that can help the farmers in dry season is by using a runoff water harvesting system for irrigation use. Irrigation interval is applied so that water use is more efficient. The purposes of this study are to calculate crop water requirement of sweet corn (Zea mays L. Saccharata Sturt) by using Cropwat 8.0 Software and to find out the use of runoff water harvesting systems on one day interval irrigation in the dry season. This research use descriptive analysis method. The results showed that based on Cropwat 8.0, the crop water requirement of sweet corn is 300,6 mm/periode and the runoff water harvesting pond can fulfill the irrigation water needs of sweet corn in the dry season with actual irrigation water requirement of 55,6 m3 on 221  m2 width of area. The productivity yield of sweet corn is 13,25  tons /ha.
Kajian Kemampuan Aplikasi Hidromulsa dan GeojuteTerhadap Jumlah Limpasan Permukaan pada Lahan Kering Ciparanje Dwi Rustam Kendarto; Nahda Balqis Salma; Sophia Dwiratna NP; Kharistya Amaru; Totok Herwanto; Nurpilihan Bafdal
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 15, No 2 (2021): TEKNOTAN, Desember 2021
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol15n2.10

Abstract

Lahan kering untuk pertanian pada umumnya berada di daerah lereng dan perbukitan dengan kondisi tanah yang peka terhadap pergerusan tanah akibat limpasan permukaan. Salah satu upaya konservasi pada lahan kering berlereng untuk mengurangi limpasan permukaan adalah dengan penggunaan aplikasi hidromulsa dan geojute. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan aplikasi hidromulsa dan geojute pada budidaya jagung terhadap jumlah limpasan permukaan. Penelitian ini dilakukan di Lahan Kering Ciparanje, Jatinangor. Perlakuan yang digunakan diantaranya plot A dengan menggunakan geojute mesh 5 cm dan hidromulsa, plot B dengan menggunakan geojute mesh 3 cm dan hidromulsa, plot C menggunakan hidromulsa tanpa geojute, dan plot D sebagai kontrol tanpa menggunakan geojute maupun hidromulsa. Pengamatan limpasan permukaan dilakukan setiap kejadian hujan. Metode yang digunakan deskriptif dengan analisis regresi dan uji-T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi hidromulsa dengan geojute mesh 5 cm dapat menurunkan limpasan permukaan paling optimal sebesar 66,39%, tetapi aplikasi hidromulsa tanpa penggunaan geojute menghasilkan jumlah limpasan permukaan yang tinggi.
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN SALAK SLEBONG (Salacca edulis Reinw.) DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SUMEDANG Gilar Hadimulya; Sophia Dwiratna N.P.; Kharistya Amaru
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 9, No 3 (2015): Teknotan, September 2015
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3636.937 KB)

Abstract

Lahan ekstensifikasi untuk tanaman salak slebong di Kabupaten Sumedang perlu dipetakan sebaran dan luasnya. SIG telah diaplikasikan untuk memudahkan proses analisis dan deskripsi lahan yang sesuai dengan tanaman tersebut. Metode penelitian analitik deskriptif digunakan untuk mengambarkan tingkat kesesuaian lahan berdasarkan parameter (syarat tumbuh, curah hujan, dan tekstur tanah), sehingga diperoleh peta sebaran hujan, peta sebaran suhu, dan peta sebaran tekstur tanah. Sedangkan metode survai ke lokasi sentra digunakan untuk memodifikasi tabel kesesuaian lahan berdasarkan keadaan lokasi sentra, dimana setiap parameter kesesuaian lahan di atas dioverlay, sehingga diperoleh peta kesesuaian lahan yang diinginkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40.811,36 hektar lahan atau sekitar 26,1 persen dari luas wilayah Kabupaten Sumedang masuk ke dalam kelas sangat sesuai (S1).Kata kunci: evaluasi keseuaian lahan, SIG, salak slebong
PENENTUAN TINGKAT BAHAYA EROSI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI SUB DAS CIKERUH KABUPATEN BANDUNG-SUMEDANG Amaru Kharistya; Sophia Dwiratna N.P.; Nurpilihan Bafdal; Jenal Abidin
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 9, No 3 (2015): Teknotan, September 2015
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3597.351 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat bahaya erosi yang terjadi di Sub DAS Cikeruh. Metode penelitian yang dilaksanakan adalah metode deskriptif, yaitu mendeskripsikan parameter-parameter Tingkat Bahaya Erosi (TBE) di SubDAS Cikeruh Kabupaten Bandung-Sumedang, dengan model prediksi erosi USLE (Universal Soil Loss Equation) dan kedalaman solum tanah yang dianalisis menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sub DAS Cikeruh memiliki Tingkat Bahaya Erosi yang bervariasi yaitu, sangat ringan 43,57 %; ringan 17,82 %; sedang 6,11 %; berat 31,96 %; dan sangat berat 0,54 % dari luas total Sub DAS Cikeruh dan laju erosi rata-rata di Sub DAS Cikeruh adalah sebesar 10,30 ton/ha/tahun.Kata kunci: Tingkat Bahaya Erosi, Sub DAS Cikeruh, Sistem Informasi Geografis (SIG)
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN TANAMAN UBI CILEMBU (Ipomoea batatas) DI KABUPATEN SUMEDANG MENGGUNAKAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) Mahardika Putra Pratama; Sophia Dwiratna N.P.; Kharistya Amaru
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 9, No 1 (2015): Teknotan, Januari 2015
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2819.482 KB)

Abstract

Potensi pasarubi Cilembu (Ipomoea batatas) sangat menjanjika, baik di pasar regional maupun internasional. Namun produksi ubi Cilembu aktual tidak dapat memenuhi permintaan pasar, sehingga, perluasan area tanam perlu dilakukan untuk meningkatkan produksinya. Untuk mengevaluasi kesesauian lahannya, SIG telah digunakan dalam penelitian ini, agar sebaran dan luasan lahan yang sesuai untuk ekstensifikasi pengembangan budidaya ubi Cilembu dapat diidentifikasi. Metode deskriptif digunakan melalui proses analisis tingkat kesesuaian lahan tanaman ubi Cilembu berdasarkan syarat tumbu yang meliputi, suhu, curah hujan, dan tekstur tanah tanaman ubi Cilembu. Dari data temperatur rerata tahunan, curah hujan rata-rata tahunan dan peta jenis tanah didapatkan masing-masing peta kesesuaian suhu, peta kesesuaian lahan untuk budidaya ubi Cilembu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan yang sesuai untuk perluasan kawasan budidaya ubi Cilembu adalah 8.623,56 ha atau 5,52 persen dari luas Kabupaten Sumedang.Kata kunci: evaluasi kesesuain lahan, SIG, peta kesesuaian
PENENTUAN TINGKAT BAHAYA EROSI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI SUB DAS CIKERUH KABUPATEN BANDUNG-SUMEDANG Kharistya Amaru; Sophia Dwiratna N.P.; Nurpilihan Bafdal; Jenal Abidin
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 7, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3597.351 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat bahaya erosi yang terjadi di Sub DAS Cikeruh. Metode penelitian yang dilaksanakan adalah metode deskriptif, yaitu mendeskripsikan parameter-parameter Tingkat Bahaya Erosi (TBE) di SubDAS Cikeruh Kabupaten Bandung-Sumedang, dengan model prediksi erosi USLE (Universal Soil Loss Equation) dan kedalaman solum tanah yang dianalisis menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sub DAS Cikeruh memiliki Tingkat Bahaya Erosi yang bervariasi yaitu, sangat ringan 43,57 %; ringan 17,82 %; sedang 6,11 %; berat 31,96 %; dan sangat berat 0,54 % dari luas total Sub DAS Cikeruh dan laju erosi rata-rata di Sub DAS Cikeruh adalah sebesar 10,30 ton/ha/tahun. Kata kunci: Tingkat Bahaya Erosi, Sub DAS Cikeruh, Sistem Informasi Geografis (SIG)
APLIKASI GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM (GIS) PADA PENYUSUNAN DATA SPATIAL LAHAN KRITIS (STUDI KASUS SUB DAS CIKERUH KABUPATEN SUMEDANG) Kharistya Amaru; Sophia Dwiratna; Nurpilihan Bafdal
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Data lahan kritis yang disusun dalam bentuk data spasial lahan kritis merupakan data yang tersimpan dalam format yang baik dan mudah diakses sehingga dapat diperoleh rekomendasi yang berdaya guna sebagai acuan dalam pengambilan kebijakan rehabilitasi hutan dan lahan. Keterbatasan waktu dan dana menjadikan SIG metode yang coock untuk melakukan analisis spasial dalam luasan yang besar. Penelitian ini dilakukan di Sub DAS Cikeruh dengan luas area kurang lebih 16.529 Ha, terletak diantara 107,684- 107,808°BT dan 6,811- 6,987 °LS. Metode penelitian adalah metode analisis deskriptif yang meliputi survey lapangan dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sub DAS Cikeruh memiliki luasan lahan Agak Kritis sebesar 3.080 Ha, lahan Kritis 516 Ha, Potensial Kritis 6.852 Ha. Tingkat Bahaya Erosi (TBE) Sub DAS Cikeruh didominasi oleh Kelas Sangat Ringan seluas 7.186 Ha, Kelas Berat seluas 3.172 Ha. Kelas Sangat Ringan dan Ringan terjadi pada daerah dengan solum tanah > 90 cm, sedangkan Kelas Ringan – Sedang – Berat terjadi pada daerah dengan solum tanah pada 60-90 cm, dan Kelas Berat dan Sangat Berat terjadi pada daerah dengan solum tanah pada < 30 cm. Kata kunci : Sistem Informasi Geografis, lahan kritis, data spasial, analisis spasial