cover
Contact Name
Rizky Mulya Sampurno
Contact Email
rizky.mulya@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
j.teknotan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
ISSN : 19781067     EISSN : 25286285     DOI : -
Core Subject : Education,
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian, merupakan publikasi ilmiah kerjasama antara Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran (FTIP UNPAD) dengan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA) Cabang Bandung. Jurnal ini diterbitkan 2 kali setahun (1 Volume, 2 Nomor penerbitan) dalam upaya menyebarluaskan ide-ide konseptual dan/atau hasil-hasil penelitian dan penerapan serta pengembangannya dalam bidang ilmu keteknikan dan teknologi pertanian dalam arti luas (pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kehutanan), khususnya pertanian tropika dan ilmu hayati. Penulis naskah/artikel jurnal adalah civitas academika, peneliti dan praktisi serta anggota perhimpunan/organisasi professional dari semua disiplin dan terbuka bagi umum yang menaruh minat dalam bidang ilmu terkait.
Arjuna Subject : -
Articles 398 Documents
Robot Kartesian Dua Dimensi untuk Penerapan Pestisida Nabati pada Budidaya Sayuran Hidroponik Vertikultur Subrata, I Dewa Made
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 19, No 2 (2025): TEKNOTAN, Agustus 2025
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol19n2.12

Abstract

Budidaya sayuran secara hidroponik memiliki kemungkinan yang sama untuk terserang Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sehingga perlu penerapan pestisida. Pestisida kimia yang diterapkan selama ini cenderung mencemari lingkungan maupun mengganggu kesehatan operator penyemprot oleh karena itu perlu diterapkan pestisida yang lebih ramah lingkungan dengan cara yang lebih aman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan manipulator robot tipe kartesian dua dimensi sebagai penyemprot pestisida nabati pada budidaya sayuran hidroponik vertikultur. Manipulator memiliki dua mekanisme geser yang satu bergerak pada rel horizontal dan yang lain bergerak pada rel vertical.  Rel vertical dipasang pada mekanisme geser horizontal. Dua batang nosel yang masing masing berisi tiga kepala nosel dipasang pada rel vertical manipulator sehingga batang nosel bisa digerakkan dalam arah horizontal. Batang nosel diposisikan di atas tanaman sayuran dengan kepala nosel menghadap ke bawah untuk menyemprotkan cairan pestisida nabati ke arah sayuran tiga kali seminggu. Konsentrat pestisida nabati yang digunakan terbuat dari bahan bawang putih, bawang merah, kunyit dan air abu gosok. Hasil pengujian menunjukkan bahwa robot mampu menggerakkan nosel sepanjang pipa hidroponik dengan ketelitian 2,1 mm. Nosel mampu menyemprotkan pestisida nabati dengan rataan debit 7,8 ml/detik dan dengan keseragaman 91 % pada nilai siklus kerja PWM pengendali pompa 98,04 %. Lama penyemprotan untuk luasan 3,73 m2 adalah 16,02 detik. Kapasitas lapang efektif robot adalah 0.072 ha/jam. Penerapan robot penyemprot pestisida nabati otomatis ini mampu mengurangi kerusakan tanaman sayuran akibat serangan OPT.
Pengaruh Rasio Bahan-Pelarut dan Waktu Ekstraksi terhadap Mutu Ekstrak Tembakau (Nicotiana tabacum L.) dengan Microwave-Assisted Extraction (MAE) Wulandari, Endah; Subroto, Edy; Djali, Mohammad; Fauziah, Hana
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 19, No 2 (2025): TEKNOTAN, Agustus 2025
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol19n2.9

Abstract

Tembakau (Nicotiana tabacum L.) merupakan salah satu komoditas unggulan di Indonesia. Ekstrak tembakau dapat diaplikasikan dalam produk untuk membantu berhenti merokok. Metode ekstraksi berbantu microwave (MAE) memiliki keunggulan dalam mempersingkat waktu ekstraksi dan penggunaan energi serta penggunaan pelarut yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh waktu ekstraksi dan rasio bahan baku-pelarut terhadap rendemen, warna, kandungan alkaloid, serta kadar nikotin pada ekstrak tembakau menggunakan Microwave-Assisted Extraction (MAE). Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio 1:3 (b/v) memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai rendemen tinggi, sedangkan rasio 1:9 (b/v) mampu menghasilkan rendemen yang lebih besar dalam waktu yang lebih singkat. Warna ekstrak tembakau menunjukkan nilai L*, a*, dan b* yang bervariasi, kecenderungan warna mengarah ke merah gelap. MAE menghasilkan kadar nikotin yang lebih rendah dibandingkan maserasi, tetapi tetap lebih efektif karena dapat mencapai hasil yang mendekati hanya dalam waktu ekstraksi 15 menit. Rasio bahan bakupelarut dan waktu ekstraksi terbukti memengaruhi rendemen, warna, dan kandungan alkaloid pada ekstrak tembakau. Perlakuan dengan hasil rendemen tertinggi (29.54%) serta intensitas sedang senyawa alkaloid yang terdeteksi diperoleh dari rasio bahan baku-pelarut 1:9 (b/v) selama 5 menit.
Karakterisasi Kimia Tepung Kulit Albedo dan Flavedo Buah Jeruk Limon (Citrus limon) Filianty, Fitry; Ramadhaningsih, Novita; Mahani, Mahani
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 19, No 2 (2025): TEKNOTAN, Agustus 2025
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol19n2.4

Abstract

Buah lemon (Citrus limon) merupakan salah satu buah yang banyak dimanfaatkan dalam industri pangan yang menghasilkan hasil samping berupa kulit. Kulit lemon mengandung berbagai senyawa seperti fenolik, flavonoid, tanin, alkaloid, resin, dan steroid. Kulit lemon terbagi menjadi dua bagian yaitu luar (flavedo) dan dalam (albedo). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakterisasi tepung kulit albedo dan flavedo berdasarkan rendemen dan analisis proksimat yang terdiri atas kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, dan kadar karbohidrat. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dengan dua kali pegulangan (duplo). Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa rendemen albedo yaitu sebesar 16,25% dan flavedo sebesar 15,05%. Albedo diketahui memiliki ketebalan lebih besar dibandingkan bagian flavedo, sehingga menghasilkan rendemen yang lebih tinggi. Sementara karakteristik kimia kulit albedo lemon memiliki kadar air 14,05%, kadar abu 2,52%, kadar lemak 0,44%, kadar protein 4,76% dan kadar karbohidrat 74,69%. Sedangkan kulit flavedo lemon memiliki kadar air 14,04%, kadar abu 6,23%, kadar lemak 1,72%, kadar protein 9,43% dan kadar karbohidrat 71,14%. Secara umum kandungan senyawa kimia utama dalam kulit jeruk lemon adalah karbohidrat, baik pada albedo maupun flavedo.
Optimasi Suhu Pemanasan Minuman Fungsional Ubi Jalar Ungu : Bioaktif, BAL dan Organoleptik Basrin, Fitriani; Sulfianti, Sulfianti; Berlian, Miming; Andi Pallawa, Nadirah B; Indriasari, Yuanita; If'all, If'all; Chaniago, Ramadhani
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 19, No 3 (2025): TEKNOTAN, Desember 2025
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol19n3.10

Abstract

Tren gaya hidup sehat mendorong pengembangan minuman fungsional berbasis ubi jalar ungu karena praktis, bergizi, dan digemari masyarakat. Namun, tantangan utama terletak pada proses pengolahan, khususnya pemanasan. Antosianin sangat sensitif terhadap suhu tinggi, pH, oksidasi, dan cahaya, sehingga mudah terdegradasi selama pemrosesan. Selain itu, viabilitas bakteri asam laktat sebagai mikroba probiotik sangat bergantung pada suhu pemrosesan. Untuk perlu dilakukan kajian tentang pengaruh suhu pemanasan terhadap bioaktif, viabilitas bakteri asam laktat dan organoleptik minuman fungsional ubi jalar ungu agar diperoleh suhu pemrosesan yang optimal. Penelitian ini didesain menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan faktor suhu pemanasan yaitu 70oC; 80oC; 90oC; 100oC. Perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoleh 20 sampel percobaan yang diuji kadar antosianin, aktivitas antioksidan, total bakteri asam laktat dan tingkat kesukaan secara organoleptik (uji hedonik) menggunakan 20 orang panelis terlatih. Perlakuan pemanasan dengan berbagai suhu (70 – 100oC) terbukti berpengaruh signifikan terhadap bioaktif seperti kadar antosianin dan aktivitas antioksidan, viabilitas bakteri asam laktat, dan tingkat kesukaan minuman fungsional ubi jalar ungu, dimana penggunaan suhu 70oC masih dapat mempertahankan bioaktif dari produk minuman fungsional dengan kadar antosianin sebesar 81,72 mg/L dan aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 11,61 µg/mL (aktivitas antioksidan sangat kuat). Untuk viabilitas BAL perlakuan suhu 70 – 100oC terbukti menurunkan jumlah BAL yang ada di dalam produk secara signifikan (<107 CFU/L) dengan total BAL berkisar 0,0407 – 6,06 x 104 CFU/L. Sementara tingkat kesukaan secara organoleptik diperoleh suhu 80oC mampu menghasilkan produk minuman fungsional yang paling disukai oleh panelis baik tekstur (4,5), rasa (4,55), aroma (3,65) dan warnanya (3,45).
Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Kopi Monokultur dan Agroforestri (Studi Kasus Kelompok Tani Bina Bakti, Sub-DAS Cikamiri, Jawa Barat) Ciptaningtyas, Drupadi; Abdurrahman, Muhammad Zhafir; Thoriq, Ahmad; Asdak, Chay
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 19, No 3 (2025): TEKNOTAN, Desember 2025
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol19n3.1

Abstract

Kecamatan Samarang merupakan salah satu daerah penghasil kopi di Kabupaten Garut yang menghadapi ancaman ekologis berupa degradasi lahan akibat konversi hutan menjadi perkebunan kopi, terutama pada usahatani kopi pola monokultur. Pola agroforestri yang mengintegrasikan prinsip konservasi lahan menjadi alternatif yang potensial untuk menyelesaikan permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan finansial usahatani kopi pola monokultur dan agroforestri di Kecamatan Samarang berdasarkan kriteria kelayakan investasi yaitu Net Present Value (NPV), net Benefit-Cost Ratio (net B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan payback period. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pola usahatani tersebut layak secara finansial. Dengan discount factor sebesar 14%, usahatani kopi pola monokultur menghasilkan NPV sebesar Rp28.851.760, net B/C 1,54, dan IRR 23,13%, dengan pengembalian modal pada tahun ke-7. Sementara itu, usahatani kopi pola agroforestri menghasilkan NPV sebesar Rp197.310.592, net B/C 4,54, dan IRR 47,48%, dengan pengembalian modal pada tahun ke-6. Temuan ini mengindikasikan bahwa pola agroforestri tidak hanya lebih menguntungkan secara finansial tetapi juga mendukung keberlanjutan ekosistem, sehingga diharapkan dapat menjadi pendekatan alternatif bagi petani dalam mengelola usahatani kopi di Kecamatan Samarang.
Pengendali Model Prediktif Terdistribusi untuk Meningkatkan Ketahanan dan Efisiensi Rantai Pasok Gula Semut Wangsaputra, Rachmawati; Sa'idah, Nur Faizatus; Pangestuti, Monika Windiana
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 19, No 3 (2025): TEKNOTAN, Desember 2025
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol19n3.15

Abstract

Dalam keberjalanannya, sistem rantai pasok Gula Semut menghadapi perubahan level permintaan, tidak sama dengan level permintaan saat perencanaan.  Kemampuan sistem rantai pasok dalam  memenuhi keinginan pelanggan dan tetap efisien dalam situasi permintaan yang berubah-ubah merupakan titik penting menjaga ketahanan rantai pasok.   Metoda Pengendali Model Prediktif Terdistribusi (PMPT) dan Colaborative Planning Forecasting dan Replenishment (CPFR) berpotensi menangani perubahan level permintaan terutama yang bersifat fluktuatif.   Objek penelitian adalah rantai pasok Gula Semut PT Binar Dini Mandiri Indonesia (PT BDMI), berlokasi di kabupaten Banyumas; penghasil kelapa terbesar di provinsi Jawa Tengah.  PT BDMI sering mengalami kerugian karena tidak mampu memenuhi permintaan saat terjadi perubahan.  Rumusan masalah penelitian adalah bagaimana mengimplementasikan CPFR dan PMPT sehingga kinerja ketahanan dan efisiensi kerja rantai pasok meningkat.  Metodologi meliputi: rumusan masalah, pengelolaan berdasarkan  CPFR dan PMPT, pengujian menggunakan 4 skenario, analisis, kesimpulan.  Pengolahan data dilakukan menggunakan MATLAB 2025 dan Excel Solver.  Ukuran kinerja ketahanan adalah tingkat pemenuhan permintaan sedangkan untuk efisiensi adalah ongkos pengadaan dan ongkos simpan.  Hasil menunjukkan skenario-0 memiliki ukuran kinerja tertinggi dari sisi ketahanan karena  rantai pasok dirancang berdasarkan kemampuan awal, sedang  pada skenario 1-2-3, semakin fluktuatif perubahan  permintaan, kinerja ketahanan  dan efisiensi akan menurun.  Kuantifikasinya perbandingan antar penggunaan PMPT dan tidak menunjukkan bahwa  PMPT memberikan tingkat ketahanan lebih tinggi yang tidak menggunakan PMPT.  PMPT dapat meningkatkan  ketahanan sekitar 9,9 % dan efisiensi kerja sebesar 1,2 % untuk  rantai pasok tetapi saat  perubahan permintaan sangat fluktuatif, tingkat pemenuhan permintaan mulai turun.  PMPT menunjukkan kemampuan  menghadapi perubahan dan juga tetap menjaga efisiensi.  Kesimpulan metoda PMPT terbukti memang  lebih dapat fleksibel menangani fluktuasi demand.
Pengaruh Pengeringan dan Pengecilan Ukuran terhadap Sifat Bubuk Stevia rebaudiana Yudhistira, Bara; Pratiwi, Herlis; Atmaka, Windi
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 19, No 3 (2025): TEKNOTAN, Desember 2025
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol19n3.6

Abstract

Kebutuhan gula tebu atau sukrosa sebagai pemanis terus  meningkat, kebutuhan gula nasional hanya mampu dipenuhi sekitar 40%, sisanya mengandalkan impor. Gula tebu memiliki kekurangan dengan nilai kalori yang tinggi. Stevia merupakan alternatif pemanis rendah kalori, dan mempunyai 300 kali tingkat kemanisan dari gula sukrosa. Pengeringan dan pengecilan ukuran merupakan proses pendahuluan dari daun stevia. Tahapan penelitian dilakukan dengan 2 tahap, yitu pertama pengeringan, dengan cabinet dryer yang dilakukan dengan variasi suhu pengeringan K1 (50 oC), K2 (60 oC), K3 (70 oC), dan K4 (80 oC) kemudian dilakukan uji kadar air dan total padatan terlarut, sampel terbaik yaitu K4 (pengeringan suhu 80 oC) dengan kadar air terendah yaitu 5,87% dan total padatan  terlarut tertinggi yaitu 8,73. Sampel terbaik kemudian dilanjutkan prosesnya ke tahap 2 yaitu pengecilan ukuran pada variasi M1 (60 mesh), M2 (80 mesh) dan M3 (100 mesh), kemudian dilakukan analisis persen rendemen, kadar abu, daya serap air, kadar steviosida dan kadar gula total bubuk daun stevia. One way Analysis of Variance (ANOVA) digunakan untuk analisis hasil penelitian dan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada α = 0,05. Sampel terbaik yaitu M3 (ukuran partikel 100 mesh) dengan % rendemen sebesar 39,68%, kadar abu sebesar 10,34%, daya serap air sebesar 63,64%, kadar steviosida 7,28% dan kadar gula total 7,83%.
Penerapan Micro/Nanobubble Generator Tipe Nosel Aliran Berputar pada Aerosol Serai Wangi Yusuf, Asep; Ramadhan, Naufal Fauzi; Alam, Hilman Syaeful
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 19, No 3 (2025): TEKNOTAN, Desember 2025
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol19n3.11

Abstract

Produk samping dari proses penyulingan minyak atsiri berupa aerosol sering kali tidak dimanfaatkan secara optimal dan bahkan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi nanobubble sebagai metode alternatif dalam memisahkan minyak atsiri dari aerosol, serta mengurangi beban limbah biologis, kimia, dan fisik. Nanobubble dihasilkan melalui generator tipe nosel aliran berputar berbasis kavitasi hidrodinamik, menggunakan berbagai jenis gas (udara, oksigen, dan ozon). Karakterisasi dilakukan dengan mengukur konsentrasi oksigen terlarut, pH, konduktivitas, dan ukuran gelembung mikro. Hasil menunjukkan bahwa generator yang dikembangkan mampu menghasilkan nanobubble dengan ukuran rata-rata gelembung mikro 18,85 μm, serta meningkatkan efisiensi pemisahan minyak atsiri dalam aerosol serai wangi. Nanobubble ozon dan oksigen menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan udara biasa dalam meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut dan perubahan parameter fisik-kimia lainnya. Teknologi ini berpotensi untuk diterapkan dalam pengolahan limbah industri minyak atsiri secara berkelanjutan.
Developing the Quality Function Deployment Method by Integrating Kano Model and Sensory Profile Analysis into the House of Quality Matrix Fauza, Gusti; Wimaryana, Viska Wandhira; Prasetyo, Hari; Ariviani, Setyaningrum; Muhammad, Dimas Rahadian Aji; Affandi, Dian Rachmawanti
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 19, No 3 (2025): TEKNOTAN, Desember 2025
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol19n3.2

Abstract

This study aims to enhance the effectiveness of the Quality Function Deployment (QFD) method for food product development by integrating the Kano model and sensory profile analysis using Quantitative Descriptive Analysis (QDA) into the House of Quality (HOQ) matrix. The Kano model was applied to identify and categorize customer expectations, while QDA was used to characterize the sensory attributes of four steamed brownie samples—one of which was the target for improvement. Twelve quality attributes were identified, comprising both intrinsic (taste, aroma, texture, appearance) and extrinsic (packaging, labeling, branding, distribution) factors. Kano analysis revealed that two attributes were classified as Attractive, eight as One-dimensional, and two as Indifferent. Sensory profiling showed key differences between the developed product and a superior competitor. HOQ analysis indicated that improvements in formulation (composition of ingredients) and packaging design were critical for increasing consumer satisfaction. Unlike conventional QFD, which primarily translates customer requirements into technical specifications, the proposed integrative approach explicitly distinguishes attributes based on their impact on satisfaction (via Kano) and links them to measurable sensory characteristics (via QDA). This combination provides clearer prioritization and more actionable insights for product developers. Therefore, this study offers a structured and consumer-focused strategy that strengthens QFD’s applicability in the food industry by improving both accuracy and relevance in decision-making.
Sensory Profile Evaluation Using the CATA (Check-All-That-Apply) Method: A Case Study on Commercial Dipped Wedang Uwuh Rifqi, Muhammad; Sakinah, Siti Ismaya; Kusumaningrum, Intan Harnesa
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 19, No 3 (2025): TEKNOTAN, Desember 2025
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol19n3.7

Abstract

Wedang uwuh is a functional drink commonly made of ginger, sappanwood, cinnamon, clove, and sugar. Wedang uwuh has immunomodulatory properties that can help strengthen the immune system. Making wedang uwuh dip is one of the efforts to make it more appealing and easier to serve. Many MSMEs (Micro, Small, and Medium Enterprises) in Indonesia manufacture wedang uwuh dyes. This study aims to determine the sensory profile of wedang uwuh celup products sold on e-commerce by several producers, to determine the sensory profile of wedang uwuh celup products, and to determine the characteristics preferred by panelists based on the attributes tested by 50 panelists with an age range of 18-60 years, with a ratio of 53% male and 47% female. The techniques employed are FGD (Focus Group Discussion), which is used to determine sensory qualities, and CATA (Check-All-That-Apply), which is used to create sensory profiles. The test results revealed a total of 12 sensory attributes, including bright red color, orange-brown color, herbal aroma, ginger aroma, sweet taste, bland taste, bitter taste, spicy sensation, warm sensation, warm afterfeel, bitter aftertaste, and spicy aftertaste. According to the test results, sample code 160 is the most preferred wedang uwuh sample because it is considered ideal by the panelists, namely having a ginger aroma, warm taste, warm feeling after drinking, brownish orange color, and spicy taste after drinking.

Filter by Year

2007 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 3 (2025): TEKNOTAN, Desember 2025 Vol 19, No 2 (2025): TEKNOTAN, Agustus 2025 Vol 19, No 1 (2025): TEKNOTAN, April 2025 Vol 18, No 3 (2024): TEKNOTAN, Desember 2024 Vol 18, No 2 (2024): TEKNOTAN, Agustus 2024 Vol 18, No 1 (2024): TEKNOTAN, April 2024 Vol 17, No 3 (2023): TEKNOTAN, Desember 2023 Vol 17, No 2 (2023): TEKNOTAN, Agustus 2023 Vol 17, No 1 (2023): TEKNOTAN, April 2023 Vol 16, No 3 (2022): TEKNOTAN, Desember 2022 Vol 16, No 2 (2022): TEKNOTAN, Agustus 2022 Vol 16, No 1 (2022): TEKNOTAN, April 2022 Vol 15, No 2 (2021): TEKNOTAN, Desember 2021 Vol 15, No 1 (2021): TEKNOTAN, Agustus 2021 Vol 14, No 2 (2020): TEKNOTAN, Desember 2020 Vol 14, No 1 (2020): TEKNOTAN, Agustus 2020 Vol 13, No 2 (2019): TEKNOTAN, Desember 2019 Vol 13, No 1 (2019): TEKNOTAN, Agustus 2019 Vol 12, No 2 (2018): TEKNOTAN, Desember 2018 Vol 12, No 1 (2018): TEKNOTAN, April 2018 Vol 11, No 2 (2017): TEKNOTAN, Agustus 2017 Vol 11, No 1 (2017): TEKNOTAN, April 2017 Vol 10, No 2 (2016): TEKNOTAN, November 2016 Vol 10, No 1 (2016): TEKNOTAN, Agustus 2016 Vol 9, No 3 (2015): Teknotan, September 2015 Vol 9, No 1 (2015): Teknotan, Januari 2015 Vol 8, No 2 (2014) Vol 8, No 1 (2014) Vol 7, No 3 (2013) Vol 7, No 2 (2013) Vol 7, No 1 (2013) Vol 6, No 3 (2012) Vol 6, No 2 (2012) Vol 6, No 1 (2012) Vol 5, No 3 (2011) Vol 5, No 2 (2011) Vol 5, No 1 (2011) Vol 4, No 2 (2010) Vol 4, No 1 (2010) Vol 2, No 3 (2008) Vol 2, No 2 (2008) Vol 2, No 1 (2008) Vol 1, No 3 (2007) Vol 1, No 2 (2007) Vol 1, No 1 (2007) More Issue