Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Kajian Interaksi Berbagai Kombinasi Minyak Atsiri Terhadap Mikroorganisme Perusak Pangan: Studi Kepustakaan Sakinah, Nurul; Rialita, Tita; Subroto, Edy
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 6, No 4 (2021): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.843 KB) | DOI: 10.33772/jstp.v6i4.19377

Abstract

Review ini bertujuan untuk mengkaji interaksi yang terjadi pada berbagai kombinasi minyak atsiri dan pengaruhnya terhadap mikroorganisme perusak pangan. Adanya faktor mikrobiologis menyebabkan pangan segar rawan untuk mengalami penurunan kualitas, sehingga dibutuhkan peran agen antimikroba untuk melindunginya dari mikroorganisme perusak pangan. Salah satu agen antimikroba yang dapat berperan sebagai pengawet pangan alami adalah minyak atsiri. Namun, untuk memberikan aktivitas antimikroba yang efektif dibutuhkan penambahan minyak atsiri dengan konsentrasi yang tinggi sehingga dapat mempengaruhi aroma, rasa, dan penerimaan konsumen. Hal ini dapat ditangani dengan mengkombinasikan minyak atsiri yang memberikan efek sinergis. Hasil review menunjukkan kombinasi minyak atsiri yang memberikan efek sinergis dapat menurunkan konsentrasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek antimikroba yang sama pada penggunaan minyak atsiri invididu. Efek sinergis cenderung terjadi ketika minyak atsiri dikombinasikan dengan komponen yang berbeda. Sedangkan, pengombinasian minyak atsiri dengan komponen utama yang berasal dari kelompok senyawa yang sama cenderung menghasilkan interaksi yang aditif ataupun indiferen. Selain itu, interaksi yang terjadi pada kombinasi minyak atsiri juga turut dipengaruhi oleh jenis bakteri target.
Enzymatic Interesterification of Fish Oil with Lauric Acid for the Synthesis of Structured Lipid Edy Subroto; Chusnul Hidayat; Supriyadi .
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 19 No. 2 (2008): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.389 KB)

Abstract

Structured lipid (SL) containing of medium chain fatty acid (MCFA) at outer position and polyunsaturated fatty acid (PUFA) at sn-2 position has superior dietary and absorption characteristics. The most methods for the enzymatic synthesis of SL were through two steps process, so that it was inefficient. Caprilic acid was usually used as a source of MCFA. In this research, SL was synthesized by enzymatic interesterification between fish oil and lauric acid. The specific lipase from Mucor miehei was used as catalyzed. Factors, such as the incubation time, substrate mole ratio, and reaction temperature were evaluated. The incorporation and the position of lauric acid on glycerol backbone and glyceride profile were determined. The results showed that SL containing of lauric acid at the outer position and PUFA at sn-2 was successfully synthesized, and it was done through one step process. From regiospecific determination, it showed that the position of lauric acid incorporation was only at the sn-1 and sn-3. Only 0.87% of lauric acid was incorporated at the sn-2. The optimum time and temperature of the reaction, and the substrate mole ratio were 12 h, 50?C and 1:10, respectively, in which the incorporation of lauric acid was 62.8% (mol). Glyceride profile was affected by incubation time, substrate mole ratio and reaction temperature. Triglyceride concentration decreased with an increase in the incubation time (> 12 h). In contrast, the diglyceride concentration increased at longer incubation time (> 12 h). Beside, triglyceride concentration increased with an increase in substrate mole ratio to 1:10, but it decreased when mole ratio of substrate was 1:15. At higher temperature (50?C), triglyceride decreased with an increase in the reaction temperature. In summary, the SL was successfully synthesized by the interesterification of fish oil and lauric acid using specific lipase of Mucor miehei.Key words : Interesterification, fish oil, lauric acid, structured lipids, lipase
Isolation and Identification of Lactic Acid Bacteria (LAB) Producing Bacteriosin-Like from Smoked Giant Catfish (Arius Thalassinus) Tita Rialita; Sumanti Debby Moody; Edy Subroto; Heditia Febby Susanto
Indonesian Journal of Applied Research (IJAR) Vol. 2 No. 3 (2021): Indonesian Journal of Applied Research (IJAR)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/ijar.v2i3.167

Abstract

Bacteriocin was bacterial metabolite that have antimicrobial properties, so it had the potential to be used as food bio preservatives. Bacteriocin was produced by lactic acid bacteria (LAB), one of the sources of which was from smoked fish products. Some regions in Indonesia produce various types of smoked fish from various types of fish, which were thought to contain bacteriocin-producing lactic acid; one of them was giant cathfish (Arius thalassinus). This study aims to obtain LAB isolates that have strong antimicrobial activity and have the potential to produce bacteriocin-like from smoked giant catfish (Arius thalassinus). The research method used an experimental method that analyzed descriptively. Based on the results, there were 15 isolates LAB isolated from smoked giant catfish. Three selected isolates showed strong antimicrobial activity inhibiting E. coli and S. aureus bacteria, and the most effective inhibiting Salmonella sp. One selected LAB isolates identified Pediococcus acidilactici suspected to produce pediocin bacteriocin-like, while the other two isolates identified Lactobacillus plantarum sp 1 and Lactobacillus plantarum sp 2 which suspected to produce plantaricin bacteriocin. Bacteriocin from the three isolates of LAB had characteristics stable to temperatures up to 121oC, stable in pH range 2-6, and bacteriocin activity increased with the addition of SDS (Sodium Dodecyl Sulfate) and EDTA (Ethylenediaminetetraacetic acid) surfactants. The conclusion was that the bacteriocin produced was stable at high temperature, low pH, and resistence in the presence of surfactants, so it had the potential to be developed as biopreservatives material in preserving fish-based foods
PENGARUH BEBERAPA RASIO BAKTERI PEMBANGKIT (Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus) TERHADAP CITA-RASA YOGHURT. Indira K. k; Edy Subroto
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbagai rasio antar bakteri pembangkit (starter) dalam pembuatan yogurt dapat merangsang pertumbuhan mikroba yogurt yang membentuk cita-rasa khas yang disukai. Dalam penelitian ini digunakan dua bakteri pembangkit, yaitu; Streptococcus thermophilus (St) dan Lactobacillus bulgaricus (Lb) pada pembuatan yogurt dari susu kental manis. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan rasio, yaitu; P1= 1:1; P2 = 3:1 dan P3 = 5:1. Hasil penelitian menunjukan bahwa rasio P2 = 3:1 memiliki cita-rasa yang paling disukai dengan total populasi mikroba 1.28 x 1011 cfu/ml pada kadar asam laktat 0,22 persen dan kadar gula total 14.03 persen. Kata kunci: Rasio bakteri pembangkit (Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus), Yogurt susu kental manis
PENGARUH WAKTU DAN SUHU REAKSI TERHADAP SINTESIS LIPID TERSTRUKTUR DARI MINYAK IKAN DAN ASAM LAURAT Edy Subroto; Chusnul Hidayat; Supriyadi -
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lipid terstruktur dengan medium chain fatty acid (MCFA) pada posisi luar dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) pada posisi sn-2 memiliki nilai gizi dan absorbsi yang sangat baik. Dalam penelitian ini lipid terstruktur disintesis secara langsung melalui interesterifikasi enzimatis antara minyak ikan dan asam laurat. Reaksi dikatalisis oleh lipase spesifik 1,3 dari Mucor miehei. Faktor-faktor seperti waktu inkubasi  dan suhu reaksi dipelajari. Selanjutnya tingkat inkorporasi asam laurat dan profil gliserida ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu dan suhu reaksi optimum berturut-turut 12 jam dan 50 oC. Rasio mol optimum minyak ikan dan asam laurat adalah 1:10 dengan dihasilkan inkorporasi laurat mencapai 62,8 mol %. Pada waktu inkubasi yang lama, (lebih dari 12 jam), trigliserida menurun seiring dengan meningkatnya waktu inkubasi, sedangkan digliserida meningkat seiring dengan meningkatnya waktu inkubasi. Pada suhu reaksi di atas 50 oC, trigliserida menurun seiring dengan meningkatnya suhu reaksi. Metode interesterifikasi ini cukup efektif untuk mensintesis lipid terstruktur spesifik. Kata kunci : Interesterifikasi, Minyak ikan, Asam laurat, Lipid terstruktur, Inkorporasi
MODIFIKASI PATI GARUT SECARA ENZIMATIS UNTUK PRODUKSI MALTODEKSTRIN Edy Subroto
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Garut merupakan sumber pati yang belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk mengoptimalkannya di antaranya adalah dengan memodifikasi pati garut secara enzimatis menjadi maltodekstrin yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang industri pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai variabel yang berpengaruh serta mengamati perubahan sifat-sifat fisika maupun kimia dari maltodekstrin yang dihasilkan. Suhu reaksi, lama waktu reaksi, dan konsentrasi enzim berpengaruh secara signifikasn terhadap nilai Dextrose Equivalen (DE) pada maltodekstrin yang dihasilkan, tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap karakteristik lainnya. Semakin tinggi suhu reaksi, lama waktu reaksi, dan konsentrasi amilase maka Dextrose Equivalen (DE) maltodekstrin yang dihasilkan semakin meningkat. Perlakuan suhu reaksi 85 °C, selama 10 menit dan konsentrasi α-amilase 0,2 % menghasilkan maltodekstrin terbaik dengan rendemen 72,6 , DE 9,57, dan solubility 51,99 % dan warna putih.                                      Kata Kunci : pati garut, maltodekstrin, amilase, dextrose equivalen (DE)
Pengenalan Digital Marketing pada UKM Aneka Cemilan Hikmah Bandung Ernah Ernah; Edy Subroto; Rossi Indiarto
Jurnal Abdidas Vol. 3 No. 1 (2022): February, Pages 1-227
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v3i1.558

Abstract

Perkembangan teknologi yang sangat pesat telah mengubah strategi pemasaran dari konvensional menjadi lebih modern dengan menggunakan teknologi digital atau internet yang dikenal dengan istilah pemasaran digital atau digital marketing. Digital marketing merupakan pemasaran produk maupun jasa secara daring melalui media sosial atau sarana digital lainnya. Tujuan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah untuk mengenalkan dan meningkatkan pengetahuan tentang digital marketing pada UKM Aneka Cemilan Hikmah Bandung. Kegiatan ini menggunakan dua metode yaitu metode ceramah berupa presentasi dengan menggunakan power point dan proyektor LCD dan metode tanya jawab atau diskusi. Hasil kegiatan ini menunjukkan peningkatan pengetahuan UKM Hikmah dalam penggunaan media digital sebagai strategi pemasaran produk. Dengan adanya kegiatan pengenalan digital marketing ini diharapkan dapat membantu UKM Hikmah dalam mengelola dan mengembangkan marketplace sebagai ajang promosi dan pemasaran produknya secara daring terutama dimasa pandemi Covid-19.
HUBUNGAN KADAR FLAVONOID DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MADU DARI BERBAGAI PROVINSI DI INDONESIA Mahani, Mahani; Savitri, Sherlin Regiena; Subroto, Edy
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 7, No 4 (2022): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1057.21 KB) | DOI: 10.33772/jstp.v7i4.27486

Abstract

ABSTRACTHoney contains secondary metabolites, including flavonoid compounds, which have antioxidant activity. The diversity of bee species and food plant sources in Indonesia will have an impact on differences in the composition of secondary metabolites in honey, it is necessary to analyze the influence of feed sources and bee species so as to improve the quality of the honey they produce. This study aims to determine the relationship between total flavonoid levels and antioxidant activity of honey from various provinces in Indonesia. The flavonoid test used UV-vis spectrophotometry; the antioxidant activity test was carried out using the DPPH method. The total flavonoid content contained in honey ranged from 4.04-47,033 mg/100g, A. cerana honey (North Sumatra) produced the highest total flavonoid content, while G. thorasica (West Sumatra) honey produced the lowest total flavonoid content. The antioxidant activity (IC50) contained in honey ranged from 3,589-64,271 mg/ml, H. itama honey (Sumsel) produced the highest antioxidant activity, while G. thorasica honey (West Sumatra) produced the lowest antioxidant activity. Flavonoid contents influence antioxidant activity that is equal to 25.27%, while 74.72% is influenced by other factors. Based on these data, the higher the flavonoid content, the stronger the antioxidant activity of honey.Keywords: Antioxidant Activity, Flavonoid, Bee Species, Feed SourceABSTRAKMadu mengandung metabolit sekunder, antara lain senyawa flavonoid, yang memiliki aktivitas antioksidan. Keberagaman spesies lebah dan sumber tanaman pakan di Indonesia akan berdampak pada perbedaan komposisi metabolit sekunder pada madu, hal itu perlu adanya analisis mengenai pengaruh dari sumber pakan dan spesies lebah sehingga dapat meningkatkan kualitas madu yang dihasilkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar total flavonoid dan aktivitas antioksidan madu dari berbagai provinsi di Indonesia. Uji flavonoid menggunakan Spektrofotometri Uv-vis, pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH. Kadar total flavonoid yang terkandung dalam madu berkisar antara 4.04-47.033 mg/100g, madu A. cerana (Sumut) menghasilkan kadar total flavonoid tertinggi, sedangkan madu G. thorasica (Sumbar) menghasilkan kadar total flavonoid terendah. Aktivitas antioksidan (IC50) yang terdapat dalam madu berkisar antara 3.589-64.271 mg/ml, madu H. itama (Sumsel) menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi, sedangkan madu G. thorasica (Sumbar) menghasilkan aktivitas antioksidan terendah. . Kadar flavonoid memiliki pengaruh terhadap aktivitas antioksidan yaitu sebesar 25,27%, sedangkan 74,72% dipengaruhi oleh faktor lain. Berdasarkan data tersebut, semakin tinggi kadar flavonoid, maka aktivitas antioksidan madu cenderung menguat.Kata Kunci: Aktivitas Antioksidan, Flavonoid, Spesies Lebah, Sumber Pakan
Kajian Karakteristik Produk Chocolate Compound dengan Penambahan Inulin (Fat Replacer) dan Stevia (Sweetener) Fadjar Ramadhan; Tien Muchtadi; Edy Subroto
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.88 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v8i5.11805

Abstract

Produk cokelat merupakan salah satu produk konfeksionari yang menggandung lemak dan gula yang tinggi. Adanya komponen tersebut dapat memicu gangguan kesehatan pada tubuh. Oleh karena itu perlu dilakukan inovasi terhadap penggunaan komponen bahan baku yang bertujuan untuk mengurangi kandungan lemak dan rendah kalori. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik produk cokelat imitasi/compound yang dihasilkan dengan menggunakan inulin sebagai fat replacer dan stevia sebagai sweetener pada berbagai taraf. Penelitian yang dilakukan meliputi 2 tahapan yaitu tahap pertama dengan pembuatan produk chocolate compound menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan analisis yang meliputi respon kimia (kadar air bebas, kadar lemak, Solid Fat Content – SFC), respon fisik (tekstur), dan respon sensoris (uji hedonik untuk parameter warna, aroma, rasa manis dan kelelehan) dengan tujuan untuk mengetahui respon terbaik terhadap produk yang dihasilkan. Penelitian tahap kedua adalah melakukan analisa terhadap mikrostruktur kristal yang terbentuk pada produk dengan respon terbaik melalui pengujian Differencial Scanning Calorimeter (DSC), Polarized Light Microscope (PLM), dan Scanning Electorn Microscope (SEM). Hasil pengamatan terhadap respon terbaik memiliki nilai kadar air bebas sebesar 0,81-0,91%, kadar lemak sebesar 18,80 – 19,19%; Solid Fat Content (SFC) 0% (meleleh sempurna) pada suhu 400C, kekerasan sebesar 30,19-31,63N; atribut warna 3,30-3,42; aroma 2,80 – 2,84; rasa manis 3,08-3,15; kelelehan 2,78-2,82 dan memiliki struktur yang padat, berukuran kecil dengan celah aliran lemak terbatas dan tidak ada bunga kristal tajam yang terbentuk (indicator fat bloom).
Empowering the residents of Aptrans Batujajar in training in dairy and meat product to support business independence Putri Widyanti Harlina; Edy Subroto; Rossi Indiarto; Fetriyuna Fetriyuna
Community Empowerment Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/ce.10603

Abstract

Milk and meat are animal food sources that are rich in important nutrients for the health of the human body. However, because they are included in the perishable foods category, these two food ingredients are vulnerable to contamination and damage. Therefore, further processing is needed to increase the nutritional value and extend the shelf life of processed products. This community service program aims to transfer knowledge and skills in processing milk (yogurt) and meat (sausages) to partner communities, namely the residents of Aptrans Batujajar. Through training and mentoring, the main goal is to increase public awareness and creativity in processing dairy and meat foods. The method used in this program involves hands-on training in the manufacture of dairy and meat products. Additionally, assistance and monitoring are carried out to ensure in-depth understanding and increase community creativity in utilizing the knowledge gained. Through this program, a new product of economic value was successfully created, namely yogurt. This product has the potential to be further developed as an independent business that can support entrepreneurial creativity in the community.