cover
Contact Name
pramesti
Contact Email
fadesti@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
fadesti@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Gelar : Jurnal Seni Budaya
ISSN : 14109700     EISSN : 26559153     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Gelar focuses on theoretical and empirical research in the Arts and Culture.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2009)" : 10 Documents clear
KONTINUITAS DAN DIS-KONTINUITAS SENI PERTUNJUKAN WAYANG TOPENG DI MALANG Robby Hidajat
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4118.28 KB) | DOI: 10.33153/glr.v7i1.1255

Abstract

Kontinuitas bersandar pada teori fungsional-struktural, yang menyatakan bahwa kesenian dalam masyarakat mempunyai fungsi tertentu dan sangat berkait dengan hajat hidup masyaraktnya. Tetapi tidak demikian dengan pandangan Des-Kontinuitas yang memandang bahwa seni pertunjukan hadir dari waktu-kewaktu berdasarkan kemampuan “negosiasi ruang-waktu”, sehingga hadir sebagai sebuah “frahmentasi” yang dari waktu kewaktu mempunyai “actor-aktor intelektual” yang mengimplementasikan hasrat, keinginan, motivasi, ilmu pengetahuan dan ketrampilan, dan berbagai kepentingan politis yang menggejala pada zamannya. Wayang Topeng di Malang jika dicermati dari prospeksif Des-Konstruksi akan menampakan sebagai mozaik, atau sebagai “laiyer” yang antar potongan satu dengan potongan lain sebenarnnya berdiri sendiri, satu sama lain tidak memiliki kaitan yang bersifat kontinuitas. Satu sama lain dapat disebut sebagai gejala adaptatif, difusi, atau kohesi budaya yang menggejala untuk membangun sebuah pengokohan. Tetapi pola-pola konstruksi sosial organisatoris tersebut tidak hadir sebagai sebuah diakronistik. Tetapi menunjukan sebuah potongan masa yang satu sama lain tidak saling berdiri atas kekuatan masing-masing.Keyword : Konstruksi, Seni pertunjukan, Wayang, Topeng.
EKSPRESI SEBAGAI WAHANA PEMBENTUK FOTOGRAFI POTRET YANG FOTOGENIK Mujisoewasta Mujisoewasta
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3096.289 KB) | DOI: 10.33153/glr.v7i1.1265

Abstract

Selection of a subject in a photographic activity, that a human being is a most interesting subject to pay attention. Actually, it is not seen from her or his physical appearances such as his handsome face or her pretty face, her elegance and so forth. These are physical in nature and they have small attractive features, whereas the truly strongest attraction will appear from his or her poses or styles and expressions. A human being is a dynamic, ever-changing, ever-styled subject in expressing his or her feelings through his other faces and it is often attractive. It is frequently inciting a photographer to document it into an attractive photographic work (photogenic). An expression that is selected carefully and properly and by waiting and observing the subject patiently and thoroughly, and then a quick and accurate reaction is needed to determine timing of picture taking, because the expressions that area facial expression (mimic), movement or style may last for a few seconds. The most interesting expression is a dynamic one. However, it is very difficult to obtain because an acute and smart observation of a photographer is needed in graphically documenting the subject. A photographic work would be considered successful if it was able to document an interesting mimic or expression (photogenic). Without expression, a photographic work or portrait will appear to be rigid, insipid and unimpressive for people who look at it.Keyword : Expression, photographic capability, subject pose
TAYUB DI BLORA JAWA TENGAH PERTUNJUKAN RITUAL KERAKYATAN Edi Wahyono
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4079.199 KB) | DOI: 10.33153/glr.v7i1.1257

Abstract

-
IKLAN TELEVISI SEBUAH PRODUK KARYA SENI DALAM KOMUNIKASI MASSA Sri Indratmi Yudiarti
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5294.481 KB) | DOI: 10.33153/glr.v7i1.1267

Abstract

Iklan di media televisi merupakan pesan komunikasi yang bertujuan untuk memperkenalkan produk barang atau jasa. Tujuan selanjutnya adalah memotivasi dan mempersuasi para pemirsa atau audience untuk mencari, membeli dan menjadi pelanggan tetap. Selanjutnya dari fihak media televisi sendiri menggunakan iklan sebagai sumber income untuk kelangsungan hidup perusahaan media. Iklan televisi dapat dibedakan sebagai iklan bisnis, iklan layanan masyarakat dan iklan yang sifatnya gabungan antara bisnis dan layanan masyarakat. Sebagai bagian dari komunikasi massa media televisi mempunyai ciri khas cepat, selintas dan umum, hal inilah yang dimanfaatkan secara maksimal oleh para pemasang iklan. Karya iklan dikreasi oleh team kreatif biro iklan. Gagasan iklan mungkin datang dari produsen produk, team kreatiflah yang menerjemahkan ide tersebut ke dalam bahasa audio visual. Cara kerja team kreatif ini seperti para seniman menciptakan karya, mengembarakan imaginasi, menggali informasi serta mempelajari karakter unsur-unsur sosial budaya masyarakat. Hasil karya mereka yang berbentuk iklan merupakan salah satu bentuk seni visual, yaitu suatu karya seni yang khusus untuk dilihat mata. Kata kunci: Iklan, Karya seni, Komunikasi massa.Keyword :Iklan, Karya Seni, Komunikasi Massa
SEKA DALAM KONTEKS KEHIDUPAN MASYARAKAT DAN KESENIAN BALI I Gusti Gede Putra
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2690.232 KB) | DOI: 10.33153/glr.v7i1.1259

Abstract

This article focuses on Seka in the context of Balinese art and social life. Seka is a professional organization of which the scope is smaller than a traditional organization in Bali, like banjar and village. Seka is a smaller part but it covers certain parts of banjar and village. This article aims to describe the form and role and Seka in the context of Balinese art and social life. The results of the analysis show that Seka is a social group of which the members have close relation, which has a special feature and goal, and which uses direct and indirect patterns of communication. Seka is engaged in art, social and economic life, customs, religion and hobby. It has a great role in religious life, especially Seka which is engaged in art. The members of this kind of Seka do not hope for payment when they give a hand in carrying out customary rituals. In case of tourism, Seka participates in making an effort to attract tourists. Seka charges a fee for this affair to increase the welfare of the members.Keyword : seka
TARI WAROK SURO INDENG SEBAGAI EKSPRESI SENI DAN UPACARA RITUAL MASYARAKAT JRAKAH KECAMATAN SELA KABUPATEN BOYOLALI Suharji Suharji
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5886.581 KB) | DOI: 10.33153/glr.v7i1.1269

Abstract

Abstrak Pertunjukan Tari Warok Suro Indeng pada awal debutnya sebagai sebuah ekspresi seni kelompok masyarakat, kemudian berkembang dilingkungan masyarakat Desa Jrakah sebagai bagian dari upacara adat tradisi saparan yang laksanakan bertepatan dengan bersih dusun. Upacara ritual dianggap sebagai keharusan untuk memperoleh ketenangan batin, berkaitan erat dengan kondisi sosial budaya pendukungnya. Kehadiran Tari Warok Suro Indeng sebagai ekspresi masyarakat Desa Jrakah merupakan bentuk sinkretis. Melalui sesaji disertai pertunjukan Tari Warok Suro Indeng penuh dengan tindakan simbolis. Masyarakat berusaha mengadakan komunikasi dengan kekuatan adi kodrati sehingga dalam kegiatan upacara terjadi hubungan dua arah yaitu secara vertikal dan horisontal. Secara vertikal masyarakat Jrakah berusaha mengadakan komunikasi dengan Tuhan dan leluhurnya serta arwah yang anggap suci untuk mendapatkan keselamatan, berkahnya demi kelangsungan hidupnya, secara horisontal menumbuhkan rasa kebersamaan, kesetia kawanan yang didasari rasa saling membantu, menghormati sehingga tercapai kegoyong-royongan hidup bersama. Dengan dilandasi kepercayaan terhadap kekuatan adikodrati, upacara adat tradisi saparan yang laksanakan bertepatan dengan bersih dusun yang dilengkapi pertunjukan Tari Warokan Suro Indeng, memiliki penuh makna menyangkut norma serta tindakan sosial, untuk menjaga kelangsungan hidup masyarakat Desa Jrakah sebagai penyangganya.  Keyword : Suro Indeng, sinkretisme, tari rakyat.
INTERAKSI SENI PERTUNJUKAN WAYANG DAN POLITIK Jaka Rianto
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3148.966 KB) | DOI: 10.33153/glr.v7i1.1261

Abstract

The article entitled “Wayang and Politics: the Interaction of Shadow Play with the Power System” discusses the intervention of the authority in puppet theatre. The intervention has begun since there was an understanding that art could be a medium for practical purposes. Based on the fact, this article aims to explain the problems of how the power system intervenes wayang theatre and what the wayang paradigm in the Indonesian power system is like. Based on the analysis on political system dimension, the result of the research showed that to make the art development free from the intervention of the authority was hard to realize. Wayang theatre, indeed, can be used as the frame of the behaviour of the authority. We can see, for instance, that politicians are analogous to wayang; there is a belief that wayang ruwatan (an act of exorcism) performance aims at making a certain political party win.Keyword : wayang performance, politics, power
PERAN TEKNIK GERAK TARI MENDUKUNG KEMAMPUAN KEPENARIAN Sriyadi Sriyadi
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2159.578 KB) | DOI: 10.33153/glr.v7i1.1271

Abstract

Teknik Tari adalah suatu cara untuk melakukan sesuatu gerak tari agar lebih baik, Teknik tari merupakan metode atau cara latihan tari yang sangat baik dan efektif, sebagai persiapan fisik disamping juga untuk menujang ketrampilan gerak dibidang tari, atau untuk mempersiapakan seorang penari, terutama pada mahasiswa Jurusan Tari ISI Surakarta. Teknik merupakan sruktur anatomi pisikologi yang mengembangkan gerak dengan tari. Guna teknik adalah untuk melatih jiwa dan pikiran secara runtut agar dalam mempergunakan tubuh sebagai sarana ekpresi, dan melatih tubuh supaya tunduk dan reponsip terhadap pikiran yang ekpresif. Dalam pengunaan gerak tari tubuh adalah intrumen atau alat, sedangkan gerak adalah medianya yang akan diolah. Pencapaian teknik perlu didahuluhi persiapan alat yang kuat dan lentur yang dapat dipergunakan dalam mengukapkan, mengekpresikan dan menampilkan gerak yang diinginkan agar bias tercapai dengan sempurna.Keyword : Teknik, Tari
Transformasi Cerita Serat Menak dalam Pertunjukan Wayang Golek Menak Tatik Harpawati
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5739.486 KB) | DOI: 10.33153/glr.v7i1.1253

Abstract

The change of form from written literature to performing arts produces a new genre, for the reason, transformation of all intrinsic as well extrinsic aspects are complex and varied the changes in performing arts which come from serat menak show that serat menak has had transformation. Concerning that serat menak is adaptation form Hikayat Amir, it is not impossible that artists of wayang golek menak may base their works directly form the original work. The aims of this discussion include (1) describing story (lakon) wayang golek menak; (2) describing transformation forms of serat menak in lakon wayang golek menak covering character, setting, story, and theme; (3) mapping the development of serat menak in lakon wayang golek menak. The aims will be fulfilled by using reception and intertextual approaches approaches. Based on both approaches, it can be found out that serat menak becomes the source of some stories (lakon) in wayang golek menak. Transformation of story can be seen in the hiprogramming stories in serat menak. Story pattern in wayang golek menak manak have double characters. Transformation of setting can be found in the addition and different names of places where the story happens. Transformation of character appears in the change of name and the additional new names for not basic characters. The difference and addition of name, place and character occur because of the different pronounciation, miss information, as well as the dalang creativities in recept serat menak. The reason is that the performance of wayang golek menak is inherited orally so that the development of serat menak in lakon wayang golek menak is very extensive and complex. Dalang can freely create lakon in accordance to his view and his family as well as social cultural background.Keyword : Transformation, Serat Menak, Wayang Golek Menak
PENERAPAN UNSUR-UNSUR ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA PADA INTERIOR PUBLIC SPACE DI SURAKARTA Joko Budiwiyanto
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4552.476 KB) | DOI: 10.33153/glr.v7i1.1263

Abstract

This article represents observation result towards traditional architecture elements of Java on public space interior in Surakarta. Observation is carried out to the public buildings as a hotel, museum, restaurant, office, etc. It can be found from the observation that there are some public buildings in Surakarta which adopted the traditional architecture elements of Java as room shaping element and aesthetic element in creating room interior nuance of Javanese style.Keyword : application, traditional, architecture, Java, interior

Page 1 of 1 | Total Record : 10