cover
Contact Name
Zahri Nasution
Contact Email
kebijakan.sosek@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kebijakan.sosek@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20896980     EISSN : 25273280     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2014): JUNI 2014" : 8 Documents clear
ANALISIS KONEKTIVITAS KELAUTAN DAN PERIKANAN ANTAR WILAYAH PULAU UTAMA DI INDONESIA Estu Sri Luhur; Subhechanis Saptanto; Tajerin Tajerin
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2014): JUNI 2014
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1101.911 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v4i1.168

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis konektivitas sektor kelautan dan perikanan dalamsistem Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yangdilakukan pada tahun 2014. Kajian dilakukan dengan menggunakan data sekunder berupatabel interregional input-output (IRIO) 2010 yang telah dimutakhirkan (updating) dari IRIO 2005menggunakan metode row-augmented technical coefficient-sheet/RAS. Hasil kajian menunjukkanbahwa konektivitas sektor kelautan dan perikanan antar wilayah cenderung tinggi yang ditunjukkanoleh besarnya koefisien keterkaitan ke belakang/indeks daya penyebaran dan koefisien keterkaitan kedepan/indeks daya kepekaan lebih besar dari satu satuan unit; namun konektivitas wilayah timur denganwilayah barat masih rendah yang ditunjukkan oleh masih besarnya dominasi Pulau Jawa, Sumateradan Bali dalam aktivitas ekonomi sektor kelautan dan perikanan. Hal ini memberikan indikasi alirandistribusi belum berjalan optimal sehingga keterkaitan ekonominya juga terhambat. Untuk itu, penguatankonektivitas antar koridor ekonomi (pulau utama) termasuk pada kegiatan yang terkait dengan kelautandan perikanan merupakan strategi utama dalam mengimplementasikan MP3EI. Kebijakan yangdirekomendasikan untuk mendorong kinerja yang lebih optimal pada usaha kelautan dan perikanan,antara lain: (1) meningkatkan investasi pada sektor industri pengolahan hasil perikanan melaluipembangunan dan perbaikan infrastruktur, institusi dan sumberdaya manusia; dan (2) membangun danmemperbaiki sarana transportasi antar pulau melalui penguatan Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN).Title: Connectivity Analysis of Marine and Fisheries between Main IslandsRegion of IndonesiaThis study aimed to analyze the connectivity of marine and fisheries sector in Masterplan forAcceleration and Expansion of Indonesia’s Economic Development (MP3EI) system conducted in 2014study was conducted using secondary data from Tables of interregional input-output (IRIO) 2010 hadbeen updating of IRIO 2005 with row-augmented technical coefficient-sheet/RAS method. The resultsshowed that connectivity of marine and fisheries sector between regions tend to be higher which indicatedby backward linkages coefficient/index of spread and forward linkages coefficient / index of sensitivitywas higher than one unit; however connectivity between eastern and western region are still low whichindicated by magnitude dominance of Java, Sumatra and Bali islands in the economic activity of marineand fisheries sectors. This results in flow distribution is not optimal, so the economic relationship is alsoinhibited. To that end, strengthening connectivity between economic corridors (main island), including theactivities related to marine and fisheries are the main strategies in implementing MP3EI. Recommendedpolicies to encourage more optimal performance on marine and fisheries, among others: (1) increaseinvestment in fish processing industry through the development and improvement of infrastructure,institutions and human resources; and (2) establish and improve the means of transportation betweenislands through the strengthening of the National Fish Logistics System (SLIN).
INDIKATOR KEBIJAKAN USAHA PEMBANGUNAN WISATA MASAL DI PULAU-PULAU KECIL Mira Mira
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2014): JUNI 2014
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.943 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v4i1.224

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis indikator kebijakan pembangunan wisata masaldi pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu, penelitian ini penting dilakukan karena kepulauan kecil yangsangat rentan terhadap pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Penelitian ini dilakukan padatahun 2012 di Kepulauan Seribu, yang dibiayai oleh Universite de La Rochelle. Indikator kebijakanpembangunan wisata masal ini mengacu pada parameter yang telah ditetapkan oleh Weaver (2000),Shaw et william (2002) et Cournoyer (2005). Ditinjau dari indikator kebijakan atraksi, pulau-pulau wisatayang dikelola oleh swasta menerapkan wisata masal, hal ini bisa dilihat dari karakteristik atrakasi (aspekwisata sangat dikomersialkan, bersifat generik, homogen, dan, pembangunan ditujukan secara eklusifuntuk kunjungan wisatawan, dengan tipe wisata pantai dan berjemur. Dari indikator kebijakan tekanan,aspek pembangunan wisata yang terlalu komersial di pulau yang dikelola oleh swasta membuat aspeksosial terabaikan. Untuk pulau-pulau yang dikelola oleh masyarakat dan oleh pemerintah, indikatorkebijakan wisata masal hanya bisa dilihat dari elemen musim kunjungan dan permintaan, sedangkandua elemen lainnya (volume dan asal turis), element tersebut tidak ditemukan dalam pengelolaanwisata. Ditinjau dari indikator kebijakan struktur ekonomi, pulau-pulau wisata yang dikelola oleh swastamenerapkan wisata masal, karena pembangunan wisata dilakukan secara ektensif, dan pembangunanwisata memiliki multiplier effect yang rendah terhadap masyarakat. Berbeda dengan pulau-pulau yangdikelola masyarakat lokal yang tidak menerapkan wisata masal, karena pengembangan wisata tidakdilakukan secara ektensif, dan memiliki multiplier effect yang tinggi terhadap masyarakat lokal. Kontrolpemerintah dan masyarakat terhadap aturan pembangunan wisata di pulau yang dikelola oleh swastasangat lemah.Title: Indicators of Mass Tourism Development Policy in Small IslandsThe purpose of this study is to analyze indicators of mass tourism development in small islands.The study was conducted 2012 at Seribu Archipelago (Pramuka, Panggang, Karya, Bidadari, Ayer besar,Untung Jawa, Onrust, Cipir, Kelor, and Rambut Island). Indicators of mass tourism development policyrefer to the parameters set by Weaver (2000), Shaw et William (2002) et Cournoyer (2005).The resultsof the study analysis indicates, firstly (Policy Indicators Attraction, the islands are managed by privatecompanies, practice the principles of mass tourism, because it is commercial, generic, homogen, andexclusive. Secondly, the islands are managed by government and community local, not practice theprinciples of mass tourism, because it is not extensive, eclusive, and it has high multiplier effect forlocal community. the islands are managed by private companies do not involve the local communities.Although it is expected from the management of the tourism development that they should involve thelocal communities. Control of government and society to the rule of tourist development on the island aremanaged by the private sector is very weak.
ANALISA KELEMBAGAAN PENGELOLA ENERGI SEBAGAI PENDUKUNG KEBIJAKAN PENGEMBANGAN ENERGI LAUT Rizky Muhartono; Mira Mira; Estu Sri Luhur; Siti Hajar Suryawai
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2014): JUNI 2014
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.489 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v4i1.218

Abstract

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi yang besar akan energi laut. sepertipasang surut, gelombang laut, perbedaan suhu dan salinitas. Potensi energi tersebut dapat diwujudkanmenjadi energi listrik yang siap pakai. Implementasi potensi energi ini membutuhkan perhitungan aspekteknis yang tepat, seperti lokasi yang dipilih, jenis teknologi yang akan dipakai, biaya yang dibutuhkan.Selain aspek teknis, aspek kelembagaan harus disertakan dalam perhitungan. Tulisan ini bertujuan untukmenganalisis kelembagaan pengelola energi dari aspek regulatif, normatif dan kognitif. Pengumpulandata dilakukan pada tahun 2013 di lima kabupaten yaitu, Gresik, Klungkung, Flores Timur, Raja Ampat,Bangka. Wawancara dilakukan kepada informan yang dianggap mengetahui pengelolaan energi dilokasi. Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian aspekregulatif terbesar pada Kabupaten Klungkung (Nusa Penida) ( 37,5%), Capaian aspek normatif terbesarterdapat di kabupaten Nusa Penida dan Flores Timur, masing-masing memiliki nilai capaian 45%, padaaspek kognitif menunjukkan bahwa nilai tertinggi (52,5%) terdapat pada Kabupaten Klungkung (NusaPenida). Prioritas lokasi untuk dikembangkan berdasarkan aspek kelembagaan (regulatif, normatif dankognitif) secara berurutan adalah Kabupaten Klungkung, Kabupaten Larantuka, Kabupaten Gresik,Kabupaten Raja Ampat, dan Kabupaten Bangka. Pada wilayah yang memiliki capaian nilai aspekregulatif rendah perlu didorong untuk membuat regulasi dan aturan yang dapat digunakan sebagailandasan dalam pengembangan energi laut. Peningkatan aspek kognitif dan normatif perlu diberikandukungan berupa penguatan sosialisasi, penguatan kapasitas masyarakat dan partisipasi masyarakat.Title: Institutional Analysis Of Energy Management To SupportMarine Energy PolicyAs an archipelago, Indonesia has a huge ocean energy potential, derived from tidal, oceanwaves, temperature and salinity differences. Ocean energy potential transformed into electrical energythat is ready to use. Utilization of energy potential requires intensive assessment on technical aspectssuch as potential location, type of technology introduced, and total cost. In addition to the technicalaspects, institutional factor should be included in the asessment. This paper aims to analyze institutionalaspect, regulative, normative and cognitive. Data collection was conducted in 2013 in five districts:Gresik, Klungkung, East Flores, Raja Ampat, Bangka. Informant interviews were carried out to determineperception of energy management at each site. Data analysis was qualitative description. The resultsshowed that the greatest achievement on the regulative aspects was Klungkung-Nusa Penida (37.5%).The highest achievement on normative aspects were Flores East and Nusa Penida district, with thevalue of 45%. While the cognitive aspect shows that the highest value (52,5%) attained in Klungkungregency. Based on Institutional Aspects (regulative, normative and cognitive), priority locations forenergy development were sequentially Klungkung regency, Larantuka regency, Gresik regency, RajaAmpat Regency, and Bangka regency. It is recommended, for areas with low value of regulativeaspects,regulations should be stipulated for ocean energy development. Improved cognitive andnormative aspects are through strengthening intensive communication with local stake holder,communityengagementand capacity building.
SISTEM PEREKRUTAN PEKERJA DAN HUBUNGAN KERJA PADA USAHA PERIKANAN TUNA Rizki Aprilian Wijaya; Maulana Firdaus
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2014): JUNI 2014
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.103 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v4i1.28

Abstract

Ketersediaan tenaga kerja perikanan yang semakin langka, dan timpangnya sistem bagi hasil merupakan salah satu isu strategis dalam memetakan permasalahan tenaga kerja pada usaha perikanan tuna. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis sistem perekrutan pekerja dan ketersediaan tenaga kerja serta menganalisis hubungan kerja antara pemilik kapal dan tenaga kerjanya pada usaha perikanan tuna di Kota Bitung. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (In-depth Interviews) kepada 30 orang informan dengan status sebagai pemilik kapal, nahkoda dan anak buah kapal (ABK). Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil kajian menunjukan bahwa sistem perekrutan tenaga kerja terjadi melalui jalur informal. Ketersediaan tenaga kerja ABK lebih mudah dicari dibandingkan dengan tenaga kerja nahkoda. Hubungan kerja antara pemilik kapal dan pekerjanya merupakan sebuah hubungan kerjasama dalam mencapai tujuan keberlanjutan usaha perikanan. Hambatan untuk peningkatan usaha terdapat pada proses penjualan ikan. Peningkatan posisi tawar pelaku usaha dapat dijadikan sebagai jalan keluar pemecahan masalah.Title: Worker Recruitment System and Working - Relationship on Tuna Fisheries The more scarce labor availability and disparity of sharing system was one of the strategies issues problem in tuna fisheries business. This paper aimed to analyzing the system of recruitment and labor supply, as well as analyzing the working relationship between the owners and workers at the business of tuna fisheries in Bitung City. The study was conducted using a survey method through a qualitative approach.  Data  collected  through  in-depth  interviews   to  30  informants  with  status  as  ship  owners, captains and crew (ABK). Data analyzed used descriptive qualitative. Result showed that the system of labor recruitment occurs through informal channels. The crew labor availability relatively easy compared to the captain labor. The working relationships between ship owners and workers is a relationship of cooperation in achieving sustainable fisheries.Barriers to business improve are in the process of selling fish. Increase the bargaining position of fisher could be used as a way out to solving problems.
IDENTIFIKASI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN MATA PENCAHARIAN ALTERNATIF UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DI TAMAN WISATA PERAIRAN LAUT BANDA Benny Osta Nababan; Yesi Dewita Sari
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2014): JUNI 2014
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.233 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v4i1.221

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui potensi sumberdaya alam dan profil SDM yang terdapatdi TWP Laut Banda dan menentukan Mata Pencarian Alternatif (MPA) di TWP Laut banda dengan tetapmempertimbangkan keberlanjutan ekosistem dan sumberdaya perairan dalam mendukung pengelolaankawasan konservasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat. Penelitianini menggunakan tiga pendekatan yaitu: studi kepustakaan, observasi dan survei serta ParticipatoryRural Appraisal (PRA). Metode analisis data yang digunakan adalah analisis rating scale, analisisstudi kelayakan dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan mata pencaharian alternatif yangsangat layak dikembangkan (Prioritas 1) adalah budidaya rumput laut sedangkan layak dikembangkan(Prioritas 2) adalah home industry, kerupuk ikan dan bertanam sayur. Saran dan strategi yang perludiperhatikan antara lain melakukan sosialiasi, penyuluhan dan pelatihan teknis usaha pada prioritas1 dan prioritas 2 dengan harapan masyarakat terutama nelayan saat tidak melaut tetap meningkatkanpendapatan ekonomi namun tidak melakukan kegiatan destruktif. Selain itu perlu dibentuk kelembagaanpengelolaan (kelompok) mata pencaharian alternatif di TWP Laut Banda sebagai pelopor yang akanmenularkan kemampuannya dalam usaha kepada masyarakat lainnya. Perlu mendapatkan dukungandan fasilitasi dari pemerintah, terkait dengan mata pencaharian alternatif yang akan dikembangkanseperti pendampingan teknis dan membangun pola kemitraan bisnis untuk memperoleh penyediaanmodal dan akses pasar yang lebih luas mengingat sangat sulit akses transportasi di TWP Laut Banda.Title: Identification and Development Strategy of Alternative Livelihoodfor Welfare Society in Water Park of Banda SeaThis study aims to assess the potential of natural resources and human resource profile in TWPBanda Sea and then determine the Alternative Livelihood (MPA) in TWP Banda Sea. This study usedthree approaches: the study of literature, observations, surveys and Participatory Rural Appraisal (PRA).Data analysis methods were used rating scale analysis, feasibility study analysis and SWOT analysis.The results showed that alternative livelihoods are feasible to be developed (Priority 1) is seaweedfsarming and should be developed (Priority 2) are a home industry, fish crackers and vegetable farming.Strategies can be done that socializing, counseling and technical training for alternative livelihoods inpriority 1 and priority 2. This was done in the hope of people especially fishermen, when they are notfishing, they still earn money, but did not do destructive activities. Addition it is necessary be formedinstitutional management (group) of alternative livelihood in TWP Banda Sea as a pioneer who willtransmit capability in order to other societies. Require to get the support and facilitation from the agencies,associated with alternative livelihoods that will be developed, such as technical assistance and businesspartnerships to get capital and market access given the very difficult transportation access in TWP BandaSea.
EFISIENSI DAN OPTIMISASI INPUT BUDIDAYA IKAN MAS KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA Intan Adhi Perdana Putri; Zuzy Anna
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2014): JUNI 2014
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1263.971 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v4i1.222

Abstract

Ikan mas merupakan salah satu ikan hasil budidaya dalam Keramba Jaring Apung (KJA)terbanyak di Jawa Barat. Pada tahun 2012 produksi ikan jenis ini sebesar 93.080 ton atau 48% daritotal produksi budidaya. Waduk Cirata merupakan salah satu badan air dengan produksi ikan mas yangcukup besar. Namun biaya produksi yang meningkat dan tidak efisiennya penggunaan input produksi,mengakibatkan terjadi penurunan margin keuntungan para pembudidaya tersebut. Salah satu cara yangbisa ditempuh oleh pembudidaya untuk meningkatkan keuntungan adalah dengan cara minimisasi biaya(cost minimization) dari input produksi (pakan, benih dan tenaga kerja), sehingga diperoleh kombinasiinput produksi dengan biaya terendah dengan produksi ikan yang optimal. Hasil analisis efisiensi unitusaha budidaya KJA di waduk Cirata dengan menggunakan pendekatan DEA menunjukkan bahwa hanyaada 4 % DMU yang fully efficient. Sedangkan dari hasil analisis minimisasi biaya melalui pendekatanShephard Lemma adalah diperoleh kombinasi input yang optimal untuk pakan sebesar 23.459,99 kg,benih ikan sebesar 556,62 kg, dan tenaga kerja sebesar 424,18 HKP, untuk satu unit usaha (4 petak)selama satu tahun. Biaya yang bisa dikurangi setiap tahun dengan menggunakan kombinasi input yangoptimal adalah sebesar Rp. 3.418.152,05.Title: Technical Efficiency and Input Optimization of Common Carp Cultureon Floating Net Cage in CirataCommon Carp Culture with Floating Net Cage (KJA) method in West Java Province has the highestproduction among the other species. It is more or less accounted for 48 % of common carp productionof West Java Province yield from KJA method. Cirata is one of the inland water, with high-yielding Carpon KJA. Problems faced by fish farmers in Cirata is continuous price increases, which cause a declinein their profits. To maximize the profits, this paper will analyzed the cost minimizing factor input (feed,fry and labor), in order to determine the best combination of factor input to produce given output withlowest cost, using Sheppard’s Lemma method. More over efficiency analysis using Data EnvelopmentAnalysis was also conducted. the result of cost minimization by means of Sheppard’s Lemma showsthe optimal input combination for one KJA unit were 23,459.99 kg for feed, 556.62 kg for fry and 424.18HKP for labor. Fish farmer could decrease their production cost for about Rp. 3,418,152.05 by using thecombination of optimal input. Efficiency analysis shows that only 4 % DMU’s were fully efficient.
PENINGKATAN KAPASITAS NELAYAN TERKAIT UPAYA PERTAHANAN NEGARA DI WILAYAH PERBATASAN Bayu Vita Indah Yanti
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2014): JUNI 2014
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1751.021 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v4i1.167

Abstract

Posisi centre of gravity kawasan asia pasifik menyebabkan Indonesia memiliki tingkat kerawananyang tinggi terhadap ancaman dari luar. Hal inimuncul karena terbukanya dan tersebarnya wilayahwilayahIndonesia yang mengakibatkan terganggunya stabilitas keamanan yang dapat mengancamkedaulatan Indonesia.Sistem pertahanan keamanan rakyat semesta (sishankamrata) merupakan sistempertahanan keamanan yang dilaksanakan Indonesia dengan melibatkan semua komponen bangsadalam menjaga wilayah kedaulatan Indonesia. Untuk wilayah perbatasan, nelayan memiliki peranstrategis sebagai komponen pendukung dalam menjaga kedaulatan wilayah negara. Bagaimana upayapeningkatan kapasitas nelayan di wilayah perbatasan sebagai komponen pendukung sishankamrataselama ini? Pembahasan dilakukan berdasarkan pada studi literatur dan analisis dilakukan berdasarkanteori argumentasi. Berdasarkan hasil pembahasan upaya peningkatan kapasitas nelayan sebagaikomponen pendukung sishankamrata seharusnya dilakukan secara komprehensif karena keterkaitanantar institusi pembinaan nelayan yang melibatkan tidak hanya pada institusi pertahanan.Title: Human Resource Capacity Fishermen Related Efforts inThe Defense of The BorderIndonesia has the position of center of gravity in Asia Pasific, and it caused Indonesia hasa high degree of vulnerability to external threats.This arises because of the opening and spread ofsovereign territory of Indonesia. It also resulted in disruption of security and stability that can threatenthe sovereignty of Indonesia. People’s security and defense systems (Sishankamrata) is a defensesystem that is implemented Indonesian security by involving all regions of the nation to maintain thesovereignty of Indonesia. In the border areas, fishermen have a strategic role as a supporting componentin maintaining the state’s territorial sovereignty. How efforts to increase fishing capacity in the borderregion as a supporting component of people’s security defense system for this? The discussion is basedon a literature study and analysis carried out based on the theory of argumentation. Based on theresultsof the discussion, an effort to increase fishing capacity as a supporting component of people’s securitydefense system should be done in a comprehensive manner, as the relationship between institutionaldevelopment that involves not only the fishermen on defense institutions.
STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR BANDENG (Chanos-chanos sp) Yayan Hikmayani; Hertria Maharani Putri
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2014): JUNI 2014
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.049 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v4i1.223

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait dengan strategi pengembanganpasar produk bandeng (Chanos-chanos sp). Metode penelitian menggunakan survey denganpengambilan responden dilakukan secara purposive sampling dan Focus Group Discussion (FGD) sertaExpert Judgement Metode analisis data dilakukan secara deskriptif dan kuantiatif. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa faktor internal strategis hasil penilaian bobot, rating dan skor terhadap setiapfaktor yang teridentifikasi pada komponen kekuatan (S) dan komponen kelemahan (W) masing-masingsebesar 0,44 dan 0,26; atau untuk keseluruhan (agregat) dari faktor internal strategis adalah sebesar0,70. bahwa skor komposit untuk komponen peluang (O) adalah sebesar 0,50 dan untuk komponenancaman (T) adalah sebesar 0,39, atau untuk keseluruhan (agregat) dari faktor eksternal strategisadalah sebesar 0,89. Strategi diperoleh berdasarkan analisis di dominasi oleh faktor kekuatan (S) danpeluang (O) atau Strategi SO yaitu intensifikasi budidaya dilokasi potensial, pembangunan infrastrukturdi lokasi sentra produksi,meningkatkan promosi di negara tujuan ekspor. . Hasil Analisis QPSM urutanperioritas langkah-langkah strategi tersebut adalah 1) Intensifkan budidaya di lokasi potensial denganskor total atraktif sebesar 7,7; 2) pembangunan infrastruktur di lokasi sentra produksi dengan skor totalatraktifeness sebesar 7,5; 3)meningkatkan promosi pasar di negara tujuan ekspor dengan skor totalatraktif sebesar 8,8.Title: Market Development Strategy of Milkfish (Chanos-chanos sp)This paper aims to provide information related to the product market development strategy ofmilkfish (Chanos-chanos sp). The research method used to capture survey respondents conducted bypurposive sampling and Focus Group Discussion (FGD) and Expert Judgement. Data analysis methodsin descriptive and kuantiatif. The results showed that the internal factors of the strategic assessment ofweight, rating and scores on each of the factors identified in the power component (S) and componentweaknesses (W) respectively of 0.44 and 0.26; or for the overall (aggregate) of strategic internal factorsare of 0.70. that the composite scores for the components of the opportunities (O) is equal to 0.50 and forthe components of the threat (T) is 0.39, or for the overall (aggregate) of strategic external factors is 0.89.The strategy was obtained by the analysis is dominated by the power factor (S) and opportunities (O) orSO strategy is a potential intensification of aquaculture location, infrastructure development at the site ofproduction centers, increase promotion in export destination countries. Results Analysis of the sequenceQPSM priorities steps of the strategy are: 1) Intensified aquaculture at potential sites with an attractivetotal score of 7.7; 2) development of infrastructure at the location of production centers with a total scoreof atractive 7.5; 3) increase in market promotion of export destinations with a total attractive score of 8.8.

Page 1 of 1 | Total Record : 8