cover
Contact Name
aqlania
Contact Email
aqlania@uinbanten.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aqlania@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jalan Jendral Sudirman No. 30 Panancangan Cipocok Jaya, Sumurpecung, Kec. Serang, Kota Serang, Banten 42118
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Aqlania
ISSN : 20878613     EISSN : -     DOI : -
The Aqlania Journal is a scientific journal that focuses on the publication of research results in religious philosophy, humanitarian and environmental studies. This journal is published periodically twice a year in June and December. The Aqlania journal is open to researchers, practitioners and observers of religious, human and environmental philosophy studies. This journal is managed by the Department of Aqeedah and Islamic Philosophy Philosophy Faculty of Ushuluddin and Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 11 No 1 (2020): June" : 6 Documents clear
Relevansi Pemikiran Thomas Khun Terhadap Penerapan Ijma’ Mamnunah Mamnunah; Sufyan Sauri
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 1 (2020): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i1.2642

Abstract

Pemikiran Thomas Khun yang terkenal adalah tentang paradigma, yang mana Khun menyatakan bahwa segala ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang pasti didasari denggan paradigma yang diyakini. Apabila terjadi suatu hal baru yang tidak bisa dipecahkan dengan paradigma tersebut, maka terjadilah yang oleh Thomas Khun dinamai dengan revolusi ilmiah. Pemikiran Thomas Khun tentang Revolusi Ilmiyah ini memiliki konsep dan ciri-ciri pemikiran serta model filsafat baru yang berujung dengan adanya ilmu pengetahuan baru. Dalam fase inilah Thomas Kuhn menyebutnya sebagai fase sejarah lahirnya ilmu pengetahuan baru, yaitu dimulai dengan normal science, kemudian terjadi anomaly dan crisis, setelah itu barulah muncul revolusi ilmiah sebagai bentuk lahirnya ilmu pengetahuan baru. Jika dikaji lebih dalam lagi, maka pemikiran Thomas Kuhn ini memiliki relevansi dengan ilmu keislaman khususnya dalam penerapan sumber hukum-hukum islam yaitu penerapan ijma’, yang mana paradigma yang dimiliki oleh umat muslimin dalam menjalankan amaliyah dan ubudiyah tentulah berdasarakan dengan alqu’an dan hadist, inilah yang disebut Kuhn dengan normal science. Namun, ketika ada masalah dalam kehidupan sehari hari dalam masalah ubudiyah dan amaliyah bagi umat islam yang tidak memiliki nash atau teks dalam alqur’an dan hadist maka dari sini akan terjadi anomaly dan crisis yang mana akan terjadi banyak perdebatan di antara para ulama sebelum memperoleh solusi dari masalah yang dihadapi kaum muslimin, dan kemuadian mereka melakukan ijma’ yang mana setelah hasil ijma’ itu sudah didapat maka terjadilah yang namanya revolusi ilmiyah, yang mencerminkan bergesernya paradigma kaum muslimin dari pada lama ke paradigma yang baru, dalm artian di mana kaum muslimin dalam menjalankan amaliyah ubudiyah apabila tidak terdapat nash atau teks dalam alqur’an mereka akan mencarinya dalam ijma’ ulama yang telah dilakukan.
Hubungan Ilmu Manthiq (Logika) dengan Ushul Fiqh Hasan Bhakti Nasution
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 1 (2020): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i1.2693

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi hubungan antara ilmu Manthiq dan ilmu ushul fiqh. Objek yang dikaji adalah konsep al-qiyas yang dikemukakan oleh ilmu Manthiq dan ilmu ushul fiqh. Terdapat hubungan peredaan dan persamaan konsep al-qiyas. Persamaannya terjadi dalam enam hal, yaitu kesamaan bahasa, prinsip, proses menghasilkan, adanya penghubung (kaitan/had aushat, íllat), status kebenaran, dan kesamaan latar belakang perumus ilmu.Sedangkan perbedaannya terpusat pada empat hal, yaitu perbedaan dari segi tujuan, perbedaan cara kerja, perbedaan terminologi hubungan, dan perbedaan sumber. Adapun faktor terjadinya persamaan ialah karena tiga hal, yaitu menggunakan bahasa yang sama yakni bahasa Arab, pengguna yang sama, yaitu sama-sama pemikir Muslim. Kemudian dikembangkan di kawasan yang sama, yaitu kawasan Islam (dawlah Islamiyyah). Sedangkan faktor terjadinya perbedaan tidak terlepas dari tiga hal, yaitu karakter ilmu yang berbeda, sumber yang berbeda, dan kegunaan yang berbeda. Terjadinya integrasi di antara ilmu Manthiq dan ilmu Ushul Fiqh dalam bentuk klasifikasi al-qiyas kepada al-qiyas al-istinbathiy dan al-qiyas al-syar’iy. Dengan rumusan ini terintegrasilah makna al-qiyas dalam sebuah bangunan keilmuan Islam dalam rumpun ilmu-ilmu rasional (‘ulum al-‘aqliyyah). Upaya integrasi ini dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu pendekatan ontologis, pendekatan epistemologis, dan pendekatan aksiologis, yaitu ilmu yang dikembangkan harus dijadikan sebagai media pengenalan Allah SWT, sebagai kata kunci dan membedakan ilmu-ilmu Islam dengan ilmu-ilmu Barat. Dalam ilmu Barat, aksiologi ilmu ialah untuk ilmu sendiri atau ilmu dikembangkan untuk ilmu sendiri (science for science). Sedangkan dalam Islam, ilmu dikembangkan agar manusia mampu mengenal Allah secara benar, sehingga merasa dalam pengawasan-Nya (tasawuf sunniy) atau bersatu dengan-Nya (tasawuf falsafiy) yang pada akhirnya mendapat keridhaan-Nya.
Keistimewaan Etika Islam dari Etika yang Berkembang di Barat Yunita Kurniati
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 1 (2020): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i1.2543

Abstract

Tulisan ini bermaksud untuk mengkaji bagaimana karakter dari etika Islam yang membedakannya dengan etika yang berkembang di Barat guna mengetahui keistimewaan dari etika Islam itu sendiri. Dari tulisan ini ditemukan bahwa terdapat banyak perbedaan yang mendasar antara etika Islam dengan etika yeng berkembang di Barat, mulai dari urusan yang kecil sampai urusan yang besar, baik itu urusan dengan sesama, Tuhan dan alam semesta. Etika yang berkembang di Barat, dalam urusan mengenai tindakan yang dilakukan manusia awalnya didasarkan dengan wahyu, kemudian seiring dengan berkembangnya zaman hal tersebut mengalami perubahan, sehingga etika yang tadinya didasarkan pada wahyu dalam ukuran kebenaran kini hanya didasarkan pada akal saja. Yang menjadi latar belakang perubahan tersebut adalah kekhawatiran orang-orang Barat akan otoriter gereja yang terlalu mengekang masyarakat, dan karena orang Barat ingin merdeka dari kekangan tersebut, maka etika yang tadinya didasarkan pada wahyu kini hanya didasarkan pada akal saja. Dampaknya segala apa yang dilakukan manusia dalam kesehariannya selalu atas kepentingan manusia itu sendiri, tanpa ada pertimbangan yang lain. Sementara etika Islam dalam urusan tentang tindakan manusia selalu dikaitkan dengan agama dengan berlandaskan pada alquran dan hadis, mempertimbangkan kebenaran dari argumentasi yang lain dengan syarat tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam. Dan dalam prakteknya, menganjurkan manusia untuk berbuat baik tidak hanya dalam hubungannya dengan Allah SWT., saja tapi juga dengan sesama dan alam semesta, termasuk di dalamnya hewan dan tumbuhan.
Posisi Agama dalam Perbincangan Gender Heru Syahputra
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 1 (2020): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i1.2620

Abstract

Gender merupakan konsep kultural yang berusaha membuat pembedaan dalam hal peran dan tanggung jawab serta pelaku yang akan membentuk karakteristik emosional antara perempuan dan juga laki-laki. Pandangan inidiwarisi dari pandangan masa lalu dimana terdapat pembedaan yang sangat mencolok antara perempuan dan laki-laki, baik dari segi pendidikan, pekerjaan maupun status dalam masyarakat tersebut. Tetapi seiring berjalannya waktu muncul kesadaran yang berbuah pada muncul dan meluasnya gerakan kesetaraan gender. Gerakan ini selain mendapat dukungan, juga mendapat tantangan yang tidak kecil. Penolakan dari sisi pro-budaya dapat dimaklumi, sebab gerakan ini dapat menggugat status laki-laki atau setidaknya mengurangi superioritas laki-laki, sehingga gerakan ini berjalan demikian lambat. Tetapi di sisi lain, para penggugat gerakan kesetaraan gender adalah juga orang beragama. Dengan demikian muncul pertanyaan, yakni bagaimana pandangan agama terhadap kesetaraan gender. Tulisan ini menelusuri konsep agama-agama besar mengenai gender, yang ditelusuri dalam teks-teks suci masing-masing agama. Hasil yang ditemukan adalah bahwa sesungguhnya semua agama mendorong kesetaraan gender. Bahkan Islam memiliki konsep yang sangat jelas dan transparan mengenai hal itu melalui persamaan hak antara manusia baik laki-laki dan perempuan.
Prosesi Hajad Dalem Labuhan Keraton Yogyakarta dalam Perspektif Semiotika C.S., Peirce Andika Setiawan
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 1 (2020): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i1.2446

Abstract

Abstract Besides being referred to as a student city, Yogyakarta is also referred to as a city of culture. One culture that still exists today is Hajad Dalem Labuhan or sea alms. According to some people and the Yogyakarta palace, Hajad Dalem Labuhan is only a means of fostering safety, peace, and well-being as well as a tourist attraction that brings rupiah coffers to the surrounding community. This research uses a descriptive qualitative method with Charles Sanders Peirce's semiotic analysis knife. The destruction of the Hajad Dalem Labuhan ceremony due to differences in viewpoints regarding the meaning of the signs and symbols in it made the action unfortunate by some people of Yogyakarta and included the regent of Bantul. Hajad Dalem Labuhan according to KRT Djatiningrat information is just a manifestation of piety to God Almighty. Good relations are not only done with God, and humans, but also nature. Uborampe is only a means to God, asking for anything to remain with Him. Unlike the case with groups that interpret the signs and symbols in the Hajad Dalem Labuhan ceremony with another view, that the ceremony will only lead to shirk and such needs to be reviewed. These differences in meaning will be reconciled with the perspective of Charles Sanders Peirce's semiotics. By applying the theory of semiotics, what is obtained in the triangle sign is the concept of Rahmatan Lil Alamin. So, both must have an attitude of tolerance which is the implementation of Rahmatan Lil Alamin itself. Keywords: Hajad Dalem Labuhan, Differences In Meaning, Charles Sanders Peirce's Semiotics, Applying The Theory, Rahmatan Lil Alamin. Abstrak Selain disebut sebagai Kota pelajar, Yogyakarta juga disebut sebagai Kota budaya. Salah satu budaya yang tetap eksis sampai sekarang ialah Hajad Dalem Labuhan atau sedekah laut. Menurut sebagian masyarakat dan kalangan keraton Yogyakarta, Hajad Dalem Labuhan hanyalah sebagai sarana membina keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan serta sebagai obyek wisata yang mendatangkan pundi-pundi rupiah bagi masyarakat sekitar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pisau analisa semiotika Charles Sanders Peirce. Pengerusakan upacara Hajad Dalem Labuhan karena perbedaan sudut pandang tentang memaknai tanda dan simbol yang ada di dalamnya, membuat aksinya disayangkan oleh sebagian masyarakat Yogyakarta dan termasuk bupati Bantul. Hajad Dalem Labuhan menurut keterangan KRT. Djatiningrat, hanyalah sebuah manifestasi ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Hubungan baik tidak hanya dilakukan kepada Allah, dan manusia saja tetapi alam pun juga. Uborampe hanyalah sarana menuju Tuhan, meminta apapun tetap kepada-Nya. Berbeda halnya dengan kelompok yang memaknai tanda dan simbol daalm upacara Hajad Dalem Labuhan dengan pandangan lain, bahwa upacara tersebut hanya akan menjurus pada kesyirikan dan yang demikian perlu dikaji ulang. Perbedaan-perbedaan makna inilah akan didamaikan dengan perspektif semiotika Charles Sanders Peirce. Dengan mengaplikasikan teori semiotikanya, yang didapat dalam segitiga tanda ialah konsep Rahmatan Lil Alamin. Jadi, keduanya harus memiliki sikap toleransi yang merupakan implementasi dari Rahmatan Lil Alamin itu sendiri. Kata Kunci: Hajad Dalem Labuhan, Perbedaan-Perbedaan Makna, Semiotika Charles Sanders Pierce, Mengaplikasikan Teori, Rahmatan Lil Alamin.
Teologi Islam dan Hak Asasi Manusia Aniq Fahmi
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 1 (2020): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i1.2589

Abstract

Tulisan ini berupaya mengeksplorasi hubungan teologi Islam dan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam pemikiran Abdullahi Ahmed An-Na’im. Hubungan antara Islam dan HAM hingga saat ini masih menjadi topik yang selalu hangat untuk diperdebatkan bahkan dipertentangkan, baik dari historisitas maupun segi filosofis-teologisnya. An-Na’im dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki komitmen kuat terhadap Islam sekaligus mempunyai dedikasi yang tinggi terhadap HAM. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) yang bersifat kualitatif. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap pemikiran Abdullahi Ahmed An-Na’im yang memiliki pandangan berbeda dengan tokoh lain terhadap teologi Islam dan HAM. Dalam pandangan An-Na’im, untuk dapat membaca HAM dalam konteks Islam secara jernih perlu adanya reformasi dalam internal umat Islam yang didalamnya melibatkan unsus-unsur teologis dan didasarkan dengan asas kemanusiaan serta disesuaikan dengan konteks kekinian.

Page 1 of 1 | Total Record : 6