Articles
80 Documents
Filsafat Qur’ani Mengenai Deskripsi Manusia
Syafiin Mansur
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 10 No 1 (2019): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (525.319 KB)
|
DOI: 10.32678/aqlania.v10i01.1991
filsafat qurani merupakan pemikiran mendalam yang dilandasai Al-Qur’an yang menggambarkan manusia, baik secara bentuk atau model kejadian seperti Adam tanpa Bapak dan Ibu, Hawa tanpa Ibu tetapi ada Bapak, Isa ada Ibu tanpa ada Bapak dan Muhammad ada Bapak dan Ibu, sama seperti kita semua yang tercipta ada Bapak dan Ada Ibu melalui pernikahan yang syah. Kemudian manusia disebut dengan sebutan yang indah adalah an-Nas adalah makhluk sosial, al-Insan adalah makhluk bermoral, al-Basyar adalah makhluk biologis, al-Abdu adalah makhluk religious dan Bani Adam adalah makhluk historis.
Strategi Pemikiran Pengembangan Lembaga PTAIS Menghadapi Era Globalisasi di Indonesia
Syukri Syukri
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 8 No 2 (2017): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (532.107 KB)
|
DOI: 10.32678/aqlania.v8i02.1024
Lembaga Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIS) mempunyai peran yang sangat urgen untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa Indonesia. PTAIS juga menjadi tolok ukur kemajuan suatu bangsa dan menjadi cermin kepribadian masyarakatnya. PTAIS dalam relevansinya dengan globalisasi di Indonesia terus dikembangkan dan diarahkan untuk mendidik anak bangsa agar mampu meningkatkan daya penalaran, menguasai IPTEK dan IMTAK, karena itu, tata kehidupan akademik kampus lembaga PTAIS dikembangkan sebagai masyarakat ilmiah yang berwawasan budaya bangsa, sehingga mampu bersaing dalam menghadapi era globalisasi. Untuk tujuan itu, PTAIS harus mengembangkan langkah-langkah pemikiran strategis, yaitu; materi keilmuan dan kurikulum PTAIS harus kembali kepada sumber utama ajaran Islam dan tujuan pendidikan nasional, tidak ada dikhotomi antara ilmu-ilmu keislaman dengan umum, melahirkan ijtihad atau pemikiran baru dan aktualisasi tradisi, PTAIS memiliki sarana, fasilitas, biaya operasional dan donator kelangsungan pendidikan, memilki tenaga pendidik dan kependidikan yang profesional dan proporsional, maka barulah PTAIS dapat menghadapi era globalisasi yang handal di Indonesia.
Sejarah dan Gerakan Politik Ikhwanul Muslimin
Abdullah Jarir
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 10 No 1 (2019): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (365.282 KB)
|
DOI: 10.32678/aqlania.v10i01.1990
Gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan di Mesir tahun 1928 oleh Hassan Al-Banna dipersepsikan oleh sebagian penulis barat sebagai gerakan yang mengusung politik fundamentalisme Islam, yaitu sebuah gerakan yang menegaskan kembali kewajiban mendirikan Negara Islam serta penolakan terhadap pengaruh budaya, politik, dan ekonomi barat. Ikhwanul Muslimin juga dinilai telah melakukan politisasi agama, sangat agresif terhadap non Islam sekaligus umat Islam yang mengadopsi gaya hidup barat., melakukan praktek kekerasan dalam melaksanakan tuuan-tujuan politiknya, mengkafirkan para penguasa, dan melakukan praktek dinas rahasia dalam mencapai tujuan-tujuan politiknya. Persepsi politik fundamentalisme Ikhwanul Muslimin semakin diperkuat lagi dengan sebuah tindakan nyata, yaitu aksi penggulingan terhadap kekuasaan Monarki Mesir Pro Inggris tahun 1952. Tak cukup sampai di situ, Ikhwanul Muslimin juga pernah mengirim relawan jihad ke bumi Palestina tahun 1947 untuk membantu perjuangan rakyat Palestina melawan zionisme Yahudi. Cap fundamentalisme juga sempat dialamatkan oleh rezim Gamal Abdul Nasser yang berkuasa saat itu sehingga ia memasukan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi terlarang, bahkan para pemimpinnya dipenjarakan, disiksa, dan dieskekusi mati.
Kerukunan dalam Perspektif Agama-Agama di Indonesia
Syafi'in Mansur
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 8 No 2 (2017): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1628.449 KB)
|
DOI: 10.32678/aqlania.v8i02.1025
Fenomena kerukunan atau toleransi umat beragama di Indonesia memang menarik diamati karena kerukunan umat beragama di Indonesia dapat tumbuh subur dengan agama-agama yang bermacam-macam, ada Islam, Kristen [Katolik dan Protestan], Hindu, Buddha dan Khonghucu. Namun tetap semua agama sama-sama menjaga umatnya untuk menjadi rukun, damai, kasih sayang dan saling menghormati dan menghargai. Bahkan Indonesia bisa menjadi contoh bagi dunia tentang toleransi atau kerukunan yang dapat tumbuh dengan keragamaan atau khebinekaan. Begitu pula, para tokoh agama saling bahu-membahu dalam menciptakan kerukunan atau toleransi di Indonesia.
Kontektualisasi Pemikiran Dakwah Hasan Al-Banna
Samian Hadisaputra
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 8 No 1 (2017): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (428.571 KB)
|
DOI: 10.32678/aqlania.v8i01.1019
Hasan Al-Banna merupakan sosok pendakwah yang memiliki jiwa militansi yang agung siap dengan segala resiko dan konsekuensinya dalam menjalankan tugas sucinya. Dengan ketegaran dan ketulusan yang dimilikinya membuat pemikiran dan gerakan dakwanya berkembang pesat keseluruh dunia Islam hingga saat ini , walaupun di tempat kelahirannya gerakan dakwah Hasan al-Banna yang terorganisir melalui Ihkwanul Muslimin dibubarkan di Mesir.
Capaian Pendidikan Dalam Pendekatan Prinsip Theologi (Qadariyah)
Abdul Qodir
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 10 No 1 (2019): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/aqlania.v10i01.1993
Paham Qadariyah lahir sebagai respon atas rekayasa sosial keagamaan yang dibangun di bawah hegemoni kekuasaan yang cenderung menindas dan tidak lagi berpihak kepada kepentingan rakyat kecil. Agama dipandang sebagai alat untuk memapankan sistem yang dibangun oleh kepentingan penguasa. Doktrin Qadariyah berlandaskan pada Q.S. al-Kahfi ayat 29, Q.S. surat Ali Imran ayat 165, Q.S. surat ar-Ra’d ayat 11 Dan Q.S. surat an-Nisa ayat 111, adalah manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya. Manusia sendirilah yang melakukan baik atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. Atas dasar tersebut, dijadikan sebagai bantahan terhadap kekuasaan yang menindas atas nama agama. Penulis akui, memang antara pembahasan mengenai theology Qadariyah dan aspek pendidikan tidaklah berhubungan secara erat, bahkan tidak berhubungan sama sekali. Namun dalam hal ini, Qadariyah dijadikan penulis hanya sebatas tempat pengambilan i’tibar dan prinsip mengenai upaya dan kerja keras manusia dalam meraih sesuatu. Dalam konteks capaian pendidikan, berdasarkan pendekatan prinsip Qadariyah yang menekankan adanya kebebasan berkehendak dalam diri manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatannya, maka capaian pendidikan tersebut ditentukan oleh sejauh mana manusia melakukan usaha dan kerja keras dalam kegiatan pembelajaran untuk memperoleh pengetahuan. Dengan demikian, capaian pendidikan melalui pendekatan prinsip teologi qadariyuah dengan tegas membantah adanya istilah “ilmu laduni” sebagai ilmu yang dianggap pemberian langsung dari Tuhan, tanpa melakukan proses pembelajaran dan proses pemikiran. Tetapi ilmu laduni dipahami sebagai ilmu yang diperoleh dengan tetap melalui proses belajar (mendengarkan.melihat) namun hal tersebut tidak disadarinya sebagai proses belajar. Jadi pada prinsipnya penulis memandang bahwa ilmu sebagai capaian pendidikan yang meliputi tiga ranah (kognitif, afektif, dan psikomotor) tidak terlepas dari proses belajar dan usaha keras.
Sayyed Hossein Nasr tentang Filsafat Perennial dan Human Spiritualitas
Jaipuri Harahap
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 8 No 2 (2017): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (537.867 KB)
|
DOI: 10.32678/aqlania.v8i02.1026
According to Hossein Nasr, what is occurred on the failure of Western civilization nowadays is because of their effort to isolate human being form its essence by eliminating human spirituality as a pillar of civilization itself. To dealt with, Nasr offered a solution through perennial philosophy that is a new knowledge approach integrated spiritual and rational dimension of philosophy which back to divine revelation, called traditional philosophy.Through perennial philosophy, then, Nasr tried lead human being to an awareness of that only God is an absolute thing, source of all things, including religious plurality and any religious sites. Therefore, Nasr ask to find each similarity and difference to encourage positive doctrine from it primordial, not to create enmity.
Homoseksual dalam Perspektif Agama-Agama di Indonesia
Syafi’in Mansur
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 8 No 1 (2017): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1045.002 KB)
|
DOI: 10.32678/aqlania.v8i01.1020
Sejarah telah mencatat dalam lebaran kehidupan manusia, bahwa homoseksual telah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia pada zaman kaumnya Nabi Luth yang belum pernah terjadi pada zaman-zaman umat terdahulu. Perbuatan homoseksual yang tidak diperkenan dengan Tuhan karena telah menyalahi fitrah manusia sehingga mereka disiksa. Homoseksual sekarang menjadi perbincangan di Indonesia dengan nama LGBT ini yang dapat mendatangkan musibah dan bencana serta penyakit yang sedang diperjuangkan oleh aktivis LGBT untuk dibolehkannya pernikahan sesama jenisnya. Maka agama Islam, Kristen {Katolik dan Protestan], Hindu, Buddha dan Konghucu meresponnya. Kalau agama Hindu, Buddha dan Konghucu tidak terlalu keras dalam melarang homoseksual dan LGBT. Sedangkan agama Islam dan Kristen adalah sangat keras melarangnya, bahkan dianggap sebagai kejahatan dan dosa serta dikutuk oleh Tuhan dan seharusnya dihukum dengan hukuman mati. Tetapi kalau mereka bertaubat kepada Tuhan maka Tuhan akan memafkan dan kembali menjadi manusia yang normal sehingga menjadi manusia yang sehat jasmani dan rohaninya.
Tauhid dalam Tasawuf
Muhammad Alif
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 8 No 2 (2017): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1318.475 KB)
|
DOI: 10.32678/aqlania.v8i02.1027
Konsep bersatunya manusia dengan Tuhan (ittiĥād) dan berkomunikasinya manusia dengan Tuhan (ittişāl) telah tertanam dalam pemikiran kaum sufi sejak dulu, walaupun sebagian orang yang anti taşawwuf menggugat dan menyangkal kedua ajaran tersebut sebagai ajaran Islam. Bagi mereka kedua ajaran itu sering dipandang sebagai perbuatan syirik, karena dianggap sebagai ajaran yang memandang Tuhan sebagai imanen tidak transenden serta mengabaikan dualitas antara Tuhan dan makhluk-Nya.
Menelusuri Konsep Filsafat Islam tentang Sejarah
Jaipuri Harahap
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 8 No 1 (2017): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (499.256 KB)
|
DOI: 10.32678/aqlania.v8i01.1022
Islamic philosophy is not only a study on theology, but also a study of way of life as a whole. Even though Greek Phylosophy regarded as a philosophical root, but it is not the one reference for Muslim Philosophers who try to absorp history as a consept. Greek and Islamic Philosophy have two different view -- if it is not contradictive -- on history.History in Islamic viewis to record on a part of God planning which is already appeared. It should be recognized that this world is existed because of God power, where everything is planned since azali time. Knowledge about history is a thing opened by God to the universe. From this point of view, history has influenced by religiousity. Thus, Islam adds morality in historical consept. Al-Quran, Muhammad, and all Muslims form the first generation had talked us about how important of a history. We all need to history. Therefore, study from the past and history should be placed as a guidance for the life in the future.