cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Rekayasa Lingkungan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 589 Documents
JURNAL REKAYASA LINGKUNGAN Lingkungan, Jurnal Rekayasa
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 11, No 1 (2018): Jurnal Rekayasa Lingkungan
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.905 KB)

Abstract

OPTIMALISASI KINERJA PERANGKAT PENINGKAT PH BERBASIS RESIN MAGNESIUM OKSIDA UNTUK PRODUKSI AIR SIAP MINUM Robbani, Muhammad Haqqiyuddin; Setiadi, Imam
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 12, No 2 (2019): JURNAL REKAYASA LINGKUNGAN
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.3 KB)

Abstract

Rendahnya nilai pH air yang dihasilkan oleh teknologi pengolahan air siap minum (Arsinum) berbasis membran reverse osmosis (RO) masih menjadi salah satu permasalahan yang kerap terjadi. Remineralisasi atau penambahan kembali ion mineral merupakan salah-satu alternatif teknologi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi operasi (waktu tinggal) terbaik dalam proses peningkatan pH air siap minum menggunakan resin magnesium oksida dengan tetap memperhatikan nilai TDS yang masih aman untuk dikonsumsi. Penelitian dilakukan dengan memvariasikan laju alir serta jumlah cartridge yang nantinya akan berkaitan dengan lamanya waktu tinggal atau waktu kontak antara air umpan dengan resin magnesium oksida. Penambahan resin magnesium oksida nyatanya mampu meningkatkan nilai pH larutan umpan hingga mencapai nilai pH 9 (sembilan). Adapun kadar TDS air produk yang terukur untuk semua waktu tinggal yang diatur dalam variabel penelitian ini masih dalam batas aman untuk dikonsumsi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan teknis untuk kemudian dapat diaplikasikan dalam proses produksi air siap minum. kata kunci: pH, air siap minum, reverse osmosis, remineralisasi, magnesium oksida 
DESAIN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT KAPASITAS 40 M3/HARI Hartaja, Dinda Rita Krishumartani
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 10, No 2 (2017): Jurnal Rekayasa Lingkungan
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.717 KB)

Abstract

Air limbah rumah sakit merupakan salah satu polutan yang paling potensial bagilingkungan, karena sifatnya yang merupakan campuran beragam material organik dan bahkan bersifat patogen. Dengan demikian limbah harus diolah dengan benarsebelum dibuang ke badan lingkungan. Namun, dana dan lahan yang terbatasbiasanya menjadi kendala saat rumah sakit akan membangun fasilitas pengolahanlimbah, terutama untuk rumah sakit menengah dan kecil. Mengingat permasalahannya, pengembangan fasilitas pengolahan limbah yang tepat dan murah dalam hal teknologi, harga dan kemudahan pengoperasian sangat penting. Dalam makalah ini dijelaskan desain instalasi pengolahan air limbah (IPAL) denganpengolahan biologis untuk rumah sakit yang sesuai yaitu dengan proses pengolahanair limbah biofilter anaerob aerob dengan kapasitas 40 m3/hari, atau kurang lebihuntuk kapasitas jumlah tempat tidur di rumah sakit sebanyak 50 tempat tidur. Dengan menerapkan sistem biofilter anaerob - aerob ini, konsentrasi COD, BOD dan bahan padat tersuspensi dapat dikurangi secara signifikan serta detergen dan amonia.kata kunci : biofilter anaerob aerob, desain, IPAL, pengolahan biologis
PROTEASE FROM BACILLUS SP. AS A DEGRADING CHICKEN FEATHER FOR PRODUCING FEATHER MEAL Setyahadi., dkk, Siswa
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 8, No 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.705 KB)

Abstract

Chicken feathers are a significant source of protein for livestock because ofhigh protein content and contain large amounts of cystine, glycine, arginine, and phenylalanine. Chicken feathers are not hydrolyzed, it is very difficult to digest by nonruminant animals because they contain high keratin. Hydrolyzed chicken feathers are not very difficult to digest by nonruminant animals because they contain high keratin. Raw chicken feathers must be hydrolyzed to be used as a feed ingredient for nonruminant species. Processing through bio-fermentation of chicken feathers would lead to overhaul the structure of the network, termination of disulfide bonds,hydrogen bonds and decreased levels of keratin. One of the processing of chicken feathers into feather meal is to utilize the specific proteases that degrade keratin. Bacillus sp. which has been isolated from Kawah Putih crater, Ciwidey, Bandung is a protease-producing bacterium. Fermentation using a medium containing: 2.8% (w/ v) glucose, 0.5% (w / v) urea and 0.005% (w / v) yeast extract with the conditions of the process carried out at pH 7.5; temperature 37 0C; shaker incubator 150 rpm will produce protease with the activity of 121 U / ml and prote in content 6.65 mg /ml in 36 hours. Hydrolysis of chicken feather needs to be pepsin digestibility tested to ensure that it has been processed correctly. Chicken feathers was obtained from slaughterhouses in Bogor. Pepsin digestibility of feather meal after hydrolyzed by proteases from Bacillus sp. is 67.4%.Keywords: feather meal, protease, fermentation, Bacillus sp.
PEMANFAATAN KULIT BUAH PISANG NANGKA SEBAGAI SUBSTRAT FERMENTASI PADAT PADA PRODUKSI XILANASE dkk, Trismilah
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 5, No 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.427 KB)

Abstract

Jackfruit skin bananas (Musa sp.) one of the agricultural waste that is rich nutrients for the growth of microorganisms, can be used as a substrate of xilan for the production xilanase. The research aims to know the optimum conditionsof solid fermentation for production xilanase Bacillus licheniformis I-5 using a jackfruit skin banana as substrate. Optimization includes the incubation time for 72 hours with the interval measurement activities every six hours, the moisture content variation on the 1: 1.0 (55%); 1: 1.5 (65%); 1: 2.0 (70%); 1 : 2.5 (74%) (w / v), incubation temperature variation in the 40 °, 45 °, 50 °, 55 °, 60 ° C and the addition of carbon and nitrogen source on the concentration of 1, 2,3, 4, and 5% (w / w). Fermentation carried out in erlenmeyer 250 ml, containing 10 g cod banana jackfruit, 0.4 K2HPO4, and 0.2 MgSO4 (g / l). Results of research shows that the optimum activity xilanase to 48 hours of fermentation,moisture content 1: 1.5 (65%) and incubation temperature 50 ° C with the activity of 0410 ± 0102 U / ml. The addition of glucose and prevent xilosa activities to be 0032 ± 0007 U / ml and 0053 ± 0025 U / ml concentration in 5%. Pepton addition of 4% increased the activity is not signifi cant to control the 0487 ± 0073 U / ml.
PERANCANGAN SISTEM PEMOMPAAN AIR SAMPEL TENAGA SURYA UNTUK SISTEM ONLINE MONITORING KUALITAS AIR SUNGAI Setiaji, Galih
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 10, No 1 (2017): Jurnal Rekayasa Lingkungan
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.568 KB)

Abstract

Pada tahun 2014 KLHK dan BPPT telah melakukan pengkajian dan penerapan teknologi online monitoring kualitas air sungai (Onlimo) di sungai Ciliwung. Peran sistem Onlimo ini adalah untuk mempermudah upaya pengendalian pencemaran sungai. Tahun 2015 dan 2016 KLHK dan BPPT telah melakukan pemasangan sistem Onlimo di 10 lokasi pada 4 DAS prioritas. Dalam sistem Onlimo tersebut terdapat dua metode pemasangan sensor yaitu: pencelupan secara langsung ke dalam sungai dan pengukuran di luar sungai. Pada sistem pengukuran di luar sungai, sampel air sungai dipompa dari sungai menuju tangki yang telah tersedia sensor di dalamnya. Sistem pemompaan sampel air sungai diaplikasikan saat kondisi sungai tidak memungkinkan untuk dilakukanya pencelupan sensor secara langsung. Saat ini sistem pemompaan masih diaplikasikan pada daerah yang memiliki suplai listrik PLN karena konsumsi listrik yang cukup besar untuk menjalankanya. Dengan rencana KLHK yang menargetkan penerapan sistem online monitoring kualitas air di 15 DAS prioritas, maka penting untuk dipersiapkan perancangan sistem pengambilan sampel dengan energi alternatif agar dapat ditempatkan di lokasi manapun tanpa tergantung listrik dari PLN. Pada perancangan ini telah dihasilkan rancangan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dapat menyuplai kebutuhan listrik sebuah sistem pemompaan air sampel untuk sistem online monitoring kualitas air selama 24 jam. Kata Kunci : online monitoring, kualitas air, sensor, pembangkit listrik, tenaga surya
STANDARISASI KOMPOS BERBAHAN BAKU SAMPAH KOTA Wahyono., dkk, Sri
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 6, No 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.709 KB)

Abstract

Food grade compost should have a high quality such as no containing hazardous andforeign material above of threshold level because of their risk to human and environmental health. So that, compost production should be based on compost standard. In the beginning of this article, the national compost standard No. 19-7030-2004 is discussed. After that we discuss about the principle of compost production, the type of compost technology and the control of composting process.Keywords: Compost quality, municipal salid waste
POTENSI PERUBAHAN KUALITAS AIR PERMUKAAN AKIBAT PENGEMBANGAN KERETA API SEMI CEPAT DI SEPANJANG JALUR KERETA API JAKARTA – SURABAYA Herlambang, Arie; Suciati, Fuzi
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 12, No 1 (2019): JURNAL REKAYASA LINGKUNGAN
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.314 KB)

Abstract

Banyak sungai di Jawa mengalir ke utara, pembangunan jalur kereta api memotong sungai-sungai tersebut. Jalur kereta api Jakarta Surabaya sudah ada sejak jaman Belanda, rencana pengembangan jalur kereta api kedepan akan menambah jalur dan frekuensi perjalanan. Potensi berubahnya kualitas air permukaan, akibat rencana pembangunan sedikit banyak akan terpengaruh, terutama akibat penyiapan lahan, pembangunan jembatan dan terowongan, pembuatan jalan baru, dan adanya peningkatan potensi limbah akibat meningkatnya perjalanan kereta. Parameter kualitas air yang potensi berubah adalah TSS, BOD dan COD akibat penyiapan lahan, masa kontruksi dan masa operasional terkait dengan munculnya limbah operasional limbah. Tulisan ini menyampaikan hasil analisis kualitas air dari sungai-sungai yang dilalui jalur kereta, dan berusaha mencari gambaran antara kualitas air dengan adanya rencana kegiatan pengembangan kereta jakarta ? surabaya. Pada beberapa wilayah kondisi rona awalnya sudah melampaui baku mutu, oleh karena itu pada saat kontruksi pengendalian TSS nya harus diperhatikan, sedangkan pada stasiun-stasiun besar parameter BOD dan COD-nya harus dijaga terutama pada limbah-limbah yang keluar dari stasiun, sehingga diperlukan instalasi pengolahan limbah. Tidak dipungkiri pada stasiun besar yang terletak dikota masalah limbah domestik dari pemukiman sekitar memerlukan peningkatan dalam pengelolaannya.Kata kunci : Perubahahan kualitas air permukaan, TSS, BOD dan COD.
DESIGN AND CONSTRUCTION COMPOSTING PLAN AT BPPT JAKARTA OFFICE Tjahjono., dkk, Hendra
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 7, No 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2446.178 KB)

Abstract

Waste, both organic and non organic waste generated much cause problems, such as environmental pollution. In large cities waste product per capita ranges between 600- 830 grams per day (Mungkasa, 2004). On the other hand, the city government more difficult to get a processing Waste (landfill). With the launch of Act No. 18 of 2008 on Waste Management in which one important message of the Act is any source of waste should reduce the amount of waste to be disposed to landfill. The results showed that BPPT office waste generation amounted to 0.0108 kg / peg / day or 0002 kg/org/m2/hr paper component composition 59.94% (almost 60%), office space (80.84%), canteen (10.49%), parks (8.67%) and approximately 28.47% of organic material, (Shochib. R,2010). BPPT, as one source of waste from the commercial sector, has reduced the amount of waste that must be disposed of to landfill by utilizing inorganic garbage that still has economic value, while for organic waste, BPPT trying to reduce the amount of waste by processing organic waste into compost, for it will built home composting, which is one place that used to process organic waste into compost. Home composting is designed for a capacity of 1 m3 per week with the long process of 6 weekskeywords: office waste, composting, home composting
PEMANFAATAN LIMBAH TANAMAN TEBU UNTUK PAKAN SAPI Akhadiarto, S.
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 4, No 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.168 KB)

Abstract

Up to the present time the compost heap of sugar cane has not yet been untilized to the greatest extent. The compost heap, however, has been a major animal feed. In Indonesia about 6.49 million sugar cane tops, 2.78 million ton kletekan and 1.86 million ton sugar sogolan can be obtained each year. By product of sugar processing can yield bagasse, blotong and molasses. All of these by products are potential as a substitute for common forage in ruminants particularly during a relatively long dry season as long protein sources provided. On the other hand the supply of animal feed is becoming scarce and expensive. The farm land growth is limited, especially in dry season. With regard to the potentials mentioned along with animal feed technology, the compost heap of the sugar cane can be converted into essential animal feed. The waste of sugar cane can be processed become wafer and the use can reached 50 ? 55 % from the total of the forage in ruminants.Key words : waste, sugar can, forage, wafer, ruminants.

Filter by Year

2016 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 2 (2021): JURNAL REKAYASA LINGKUNGAN Vol. 14 No. 1 (2021): JURNAL REKAYASA LINGKUNGAN Vol. 13 No. 2 (2020): JURNAL REKAYASA LINGKUNGAN Vol. 13 No. 1 (2020): JURNAL REKAYASA LINGKUNGAN Vol 12, No 2 (2019): JURNAL REKAYASA LINGKUNGAN Vol. 12 No. 1 (2019): JURNAL REKAYASA LINGKUNGAN Vol 12, No 1 (2019): JURNAL REKAYASA LINGKUNGAN Vol 11, No 2 (2018): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 11, No 2 (2018): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 11 No. 2 (2018): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 11, No 1 (2018): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 11, No 1 (2018): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 11 No. 1 (2018): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 10, No 2 (2017): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 10, No 2 (2017): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 10 No. 2 (2017): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 10 No. 1 (2017): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 10, No 1 (2017): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 10, No 1 (2017): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 9, No 2 (2016): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 9 No. 2 (2016): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 9, No 2 (2016): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 9, No 1 (2016): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 9, No 1 (2016): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 9 No. 1 (2016): Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 9, No 2: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 9, No 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 8, No 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 8 No. 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 8, No 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 7, No 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 7, No 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 7 No. 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 7, No 2: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 7, No 2: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 7 No. 2: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 6 No. 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 6, No 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 6, No 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 6, No 2: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 6 No. 2: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 6, No 2: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 6, No 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 6 No. 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 5 No. 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 5, No 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 5, No 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 5, No 2: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 5 No. 2: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 5, No 2: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 5, No 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 5, No 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 5 No. 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 4, No 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 4 No. 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 4, No 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 4 No. 2: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 4, No 2: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 4, No 2: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 4, No 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 4, No 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 4 No. 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan More Issue