cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal ALAMI: Jurnal Air, Lahan, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
DASAR PERTIMBANGAN DI DALAM PRA PENATAAN RUANG KAWASAN RAWAN BENCANA DI WILAYAH PESISIR Edyanto, C.B. Herman
Jurnal ALAMI: Jurnal Air, Lahan, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coastal is a fragile area where some physical development actions were taken by the people and thus may change the environment totally. There is no awareness of the local people to take care their environment surrounding from the detrimental processes, such as land, water or air pollutions. Coastal environment must, however, be protected from the ecosystem damaging. A river was identified as a mediator of water pollution from industries situated along the river which produce solid and liquid waste through flow of the river. Spatial planning, therefore, can manage the use of land for certain activities in both up and down streams of a river and other coastal regions to mitigate the hazard in the coast.
MITIGASI KAWASAN PANTAI SELATAN ROTA BANDAR LAMPUNG, PROPINSI LAMPUNG TERHADAP BENCANA TSUNAMI Naryanto, Heru Sri
Jurnal ALAMI: Jurnal Air, Lahan, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Bandar Lampung mempunyai potensi yang sangat besar terhadap bencana tsunami yang bersumber dari perairan kawasan Selat Sunda, baik itu berasal dari gempa, longsor bawah laut, maupun letusan Gun. ung Anak Krakatau. Pengalaman letusan dahsyat dari Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada tanggal 27 Agustus 1883 yang diikuti oleh tsunami telah menghancurkan kawasan Selat Sunda, termasuk pantai Kota Bandar Lampung bagian selatan. Untuk mengamankan penduduk dan hasil-hasil pembangunan yang sudah dimiliki, kawasan pantai selatan Bandar Lampung harus dilakukan mitigasi terhadap kemungkinan bencana tsunami. Untuk mengurangi kerusakan yang diakibatkan oleh tsunami tersebut, upaya mitigasi bisa dilakukan secara struktural maupun non-struktural. Saat ini telah banyak infrastruktur yang berada di kawasan pantai selatan Bandar Lampung, baik itu kawasan industri, perdagangan, perhotelan, kepariwisataan dan terutama adalah pemukiman penduduk. Untuk menghindari dampak bencana tersebut, sebaiknya Pemda, masyarakat & institusi terkait segera melakvkan upaya mitigasi, kesiapsiagaan, sistem peringatan dini, serta membuat evaluasi master plan yang telah ada dengan pertimbangan bencana tsunami dalam pengamanan harta, jiwa dan lingkungan di kawasan pantai untuk pembangunan berkelanjutan.
KAJIAN BANJIR ROB DI KOTA SEMARANG (KASUS DADAPSARI) Kurniawan, Lilik
Jurnal ALAMI: Jurnal Air, Lahan, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setidaknya 1.346 ha kawasan pesisir Kota Semarang merupakan daerah banjir rob sepanjang tahun. Areal tersebut hampir 95 % merupakan kawasan permukiman padat, sehingga kerugian yang diderita warga masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut diantaranya penyakit kulit ( gatal-gatal), kehilangan 5a-100 % komponen rumah, genangan yang mepengaruhi kesehatan lingkungan serta rusaknya berbagai sarana dan prasarana. Beberapa penyebab yang secara langsung maupun tidak langsung dapat memperparah terjadinya rob antara lain : penurunan tanah akibat groundwater pumping dan beban di atas muka tanah, bertambahnya tinggi permukaan air laut, tingginya sedimentasi dan sampah, sistem drainase yang tidak tepat, curah hujan dan fenomena alam lain. Beberapa alternatif penanganan masalah rob antara lain : adaptasi masyarakat, memaksimalkan fungsi drainase, pemakaian tandon air (parit yang sejajar pantai) dan pemompaan dengan tenaga angin dan, pembangunan dam lepas pantai. Kelurahan Dadapsari termasuk dalam daerah pesisir yang rawan terhadap banjir rob.• Di kelurahan ini terdapat setidaknya terdapat 7 RT yang rawan terhadap banjir rob yang berasal dari tanggul-tanggul yang kurung terawat pada Kali Semarang.
MITIGASI BENCANA ALAM DI WILAYAH PESISIR DALAM KERANGKA PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR TERPADU DI INDONESIA Diposaptono, Subandono Diposaptono
Jurnal ALAMI: Jurnal Air, Lahan, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah pesisir Indonesia yang kaya memiliki berbagai sumberdaya yang berperan penting dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah dan nasional untuk meningkatkan penerimaan devisa, lapangan kerja, dan pendapatan penduduk. Selain kaya akan sumberdaya alam, wilayah pesisir juga rentan terhadap tekanan lingkungan dan bencana alam. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan yang sifatnya komprhensif dan terpadu melalui pendekatan pengelolaan pesisir terpadu. Dalam Pengelolaan Pesisir Terpadu terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan agar terjadi keseimbangan yang dapat ditoleransi masyarakat dan lingkungan, yaitu keseimbangan ekologis, keseimbangan pemanfaatan, dan keseimbangan dalam pencegahan bencana (mitigasi). Mitigasi, yang merupakan proses mengupayakan berbagai tindakan preventif, untuk meminimalkan dampak negatif bencana yang diantisipasi akan terjadi di masa datang di suatu daerah tertentu, merupakan investasi jangka panjang bagi kesejahteraan semua lapisan masyarakat. Mitigasi bencana di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dapat dilakukan secara struktural maupun secara non struktural Secara struktural yaitu dengan melakukan upaya teknis, baik secara alami maupun buatan. Sedangkan mitigasi secara non struktural adalah upaya non teknis yang menyangkut penyesuaian dan pengaturan tentang kegiatan manusia agar sejalan dan sesuai dengan upaya mitigasi struktural maupun upaya lainnya.
DAMPAK BENCANA PADA REKLAMASI PANTAI UTARA JAKARTA Marwanta, Bambang
Jurnal ALAMI: Jurnal Air, Lahan, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Utara Jakarta yang membentang dari Kamal Muara sampai Marunda tak lama lagi akan berubah wajah menjadi daratan yang diisi dengan berbagai aktifitas yang mendukung perekonomian Jakarta. Reklamasi Pantura Jakarta ini bahkan direncanakan mengambil wilayah dari Kab. Bekasi timur sampai Kab. Tangerang. Kegiatan reklamasi yang direncanakan mulai tahun 2003 ini sedikit terhambat karena Kementrian Lingkungan Hidup menolak reklamasi pantura ini. Studi amdal memberikan hasil bahwa reklamasi pantura Jakarta memberikan dampak lingkungan yang sangat besar. Reklamasi pantura akan menghabiskan lahan seluas 2.700 ha, yang terbentang sepanjang 32 Km, dengan mengambil lebar dari bibir pantai ke arah laut sejauh 1,5 Km dan kedalaman maksimal delapan meter. Untuk reklamasi pantura tersebut dibutuhkan material sebanyak 330 juta m3. Untuk keperluan tersebut deposit pasir laut berdasarkan studi terdapat di Tanjung Burung, pulau Tidung, Tanjung Kait, Tanjung Pontang, pantai Cemara, pasir Putih, serta bekas pertambangan timah di pulau Bangka dan Belitung. Peruntukannya kawasan reklamasi dibagi dalam 3 zona: 1) Zona Barat untuk kawasan permukiman; 2) Zona Tengah untuk kawasan revitalisasi Sunda Kelapa, kawasan pusat niaga, serta kawasan rekreasi dan permukiman; 3) Zona Timur untuk kawasan Pelabuhan Tanjung Priok serta kawasan pergudangan, industri, dan pusat distribusi. Keuntungan ekonomis dari kegiatan tersebut harus juga memperhitungkan dampak bencana yang akan ditimbulkan. Minimal ada lima dampak yang akan muncul, yaitu dampak terhadap banjir di Jakarta, gangguan operasional beberapa proyek vital, potensi konflik dengan masyarakat, kerusakan ekosistem laut, serta memperluas potensi pencemaran ke arah perairan Pulau Seribu.
MIKROZONING KAWASAN RAWAN BENCANA INDUSTRI DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN DI WILAYAH PESISIR Prihartanto, Prihartanto
Jurnal ALAMI: Jurnal Air, Lahan, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa kawasan industri yang berada di wilayah pesisir pantai yang rawan bencanamembutuhkan penanganan yang lebih serius mengingat adanya faktor kerawanan terhadap bencana kegempaan dan tsunami serta bencana ikutan berupa bencana pencemaran lingkungan oleh industri akibat rusaknya fasilitas-fasilitas pabrik yang ada di kawasan tersebut. Untuk memitigasi bencana industri dan pencemaran yang terjadi di wilayah pesisir ini dibutuhkan adanya pengkajian resiko bencana. Salah satu aktivitas pengkajian resiko bencana di kawasan industri yang berada di wilayah pesisir pantai adalah mengidentifikasi potensi bahaya (hazard identification), baik bahaya karena fenomena alam maupun karena ulah manusia, serta menganalisis resikonya. Untuk mendukung pengkajian resiko di kawasan ini dibutuhkan peta mikrozoning (risk mapping) yang menggabungkan antara peta mikrozoning kawasan bencana alam dan model spasial distribusi pencemar ke lingkungan. Berdasarkan data dan informasi yang didapatkan dari hasil analisis model dan peta mikrozoning tersebut dapat dilakukan analisis kerawanan bencana.
ANALISIS POTENSI BAHAYA TSUNAMI DI PANTAI SELATAN JAWA TIMUR MELALUI IDENTIFIKASI KEMIRIPAN BENTUK TAPCHAN Wisyanto, Wisyanto
Jurnal ALAMI: Jurnal Air, Lahan, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adanya interaksi dari beberapa lempeng, telah menyebabkan wilayah Indonesia menjadi rawan terhadap bencana geologi dan diantaranya adalah bencana tsunami. Panjangnya wilayah pantai yang dimiliki oleh Indonesia memaksa kita sebagai peneliti kebencanaan harus membuat suatu skala prioritas dalam mengupayakan pemitigasian bencananya. Dimana salah satu upaya mitigasinya adalah dengan mengidentifikasi daerah-daerah rawan bencana tsunami yang selanjutnya dapat ditindak lanjuti dengan penelitian yang lebih detail untuk menentukan cara-cara efektif upaya mitigasi bencananya. Dengan berdasarkan pada fenomena instalasi pembangkit listrik energi gelombang laut, .telah dilakukan pendekatan masalah dengan permasalahan tsunami. Dimana geometri pantai yang menyerupai tapchan pada instalasi pembangkit listrik tadi telah dipakai sebagai alert identifikasi daerah rawan tsunami. Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah sudut datangnya gelombang tsunami terhadap arah bukaan mulut pantainya. Pada tulisan ini juga disampaikan bukti-bukti Tsunami Banyuwangi 1994 sebagai pembenaran dalam proses pengidentifikasian daerah rawan tsunami seperti diatas. Dan terakhir, dengan melalui pertimbangan kondisi masyarakat, kondisi geologi dan perkembangan teknologi telah ditentukan sistem mitigasi apa yang bisa dilakukan.
WATER QUALITY IN MADURA STRAIT, INDONESIA Nugrahadi, M. Saleh; Yanagi, Tetsuo
Jurnal ALAMI: Jurnal Air, Lahan, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Observations on water quality based on physical chemical and biological properties of sea surface water were conducted on 13-14 September 2000 and on 14-15 May 2001 in Madura Strait, Indonesia. Particular emphasis has been placed on Surabaya and Porong estuaries and its surrounding coastal water, where rivers carry contaminated load from land and debouch. The observation showed that Madura Strait received a lot of pollutant from the rivers.
KONDISI PERMUKAAN AIR LAUT DI SURABAYA DARI TAHUN KE TAHUN Haryono, Haryono; Rusqiyati, Eka Arifa
Jurnal ALAMI: Jurnal Air, Lahan, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan dan sebagian besar wilayahnya berupa lautan. Karena adanya pemanasan global, maka terdapat kemungkinan terjadinya kenaikan permukaan air laut. Kenaikan permukaan air laut akan menyebabkan dampak terhadap wilayah pesisir. Dampak tersebut seperti terjadinya bencana banjir. Bencana banjir dapat menyebabkan me rebaknya penyakit, terjadinya kerusakan sarana dan prasarana dan sebagainya. Semua itu dapat menyebabkan turunnya kualitas kehidupan maniusia. Bahan penelitian ini berupa data pasang surut untuk kawasan Surabaya. memantau Peralatan yang diperlukan untuk penelitian ini ialah komputer beserta perangkat lunaknya. Dengan menggunakan data dan peralatan itu, maka dilakukan analisis terhadap permukaan air taut di Surabaya. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa permukaan air laut di kawasan Surabaya tidaklah naik secara berarti. Kondisi permukaan air laut tersebut relatif konstan. Walaupun permukaan air laut tersebut tetap, akan tetapi dapat terjadi banjir di wilayah pesisir jika katakanlah permukaan tanah disitu cenderung turun.
PERMASALAHAN ABRASI DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN INDRAMAYU Prawiradisastra, Suryana
Jurnal ALAMI: Jurnal Air, Lahan, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Indramayu merupakan salah satu kabupaten yang termasuk kedalam propinsi Jawa Barat dengan luas 204.011 ha. Garis pantainya membujur dari arah barat berbatasan dengan kabupaten Subang ke arah timur berbatasan dengan kabupaten Cirebon, dengan panjang bentangan pantai sekitar 115,5 km. Kenyataan di lapangan di wilayah garis pantai tersebut terkonsentrasi banyak sarana dan prasarana antara lain : sarana pertambakan, tempat pendaratan nelayan, tempat rekreasi pantai, kilang minyak, jalan negara yang menghubungkan Jakarta-Surabaya. Disamping itu di wilayah ini potensi kerusakan telah terlihat dengan jelas antara lain : abrasi dan erosi, pencemaran lingkungan pantai, amblesan, intrusi air asin serta bencana banjir . Dalam makalah ini, penulis hanya memaparkan masalah kerusakan lingkungan di wilayah pantai yang diakibatkan oleh abrasi serta mencoba memberikan gambaran secara umum tentang tindakan mitigasi yang harus dilakukan, agar dampak negatif dapat direduksi sekecil mungkin.

Page 1 of 2 | Total Record : 20


Filter by Year

2003 2003