cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2013)" : 6 Documents clear
PENGARUH RADIASI EUV MATAHARI DAN AKTIVITAS GEOMAGNET TERHADAP VARIASI KERAPATAN ATMOSFER DARI ELEMEN ORBIT LAPAN-TUBSAT [INFLUENCE OF SOLAR EUV RADIATION AND GEOMAGNETIC ACTIVITY ON ATMOSPHERIC DENSITY VARIATION USING LAPAN-TUBSAT ORBITAL ELEMENTS] Tiar Dani; Abdul Rachman
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1054.904 KB)

Abstract

Kondisi lingkungan antariksa yang sangat ekstrim akibat aktivitas matahari dapat menyebabkan efek yang serius bagi satelit, baik itu efek anomali ataupun peluruhan orbit. Peluruhan orbit disebabkan oleh peningkatan kerapatan atmosfer terutama pada satelit-satelit di orbit rendah. Lapan-Tubsat dan satelit-satelit Lapan generasi selanjutnya akan ditempatkan di orbit rendah sehingga perlu diketahui pengaruh radiasi EUV dan aktivitas geomagnet terhadap kerapatan atmosfer yang dilintasinya. Hasil analisis keterpengaruhan kerapatan atmosfer, diperoleh korelasi sebesar 83% antara F10.7 sebagai proksi dari radiasi EUV dengan variasi kerapatan atmosfer, sedangkan korelasi dengan aktivitas geomagnet menggunakan indeks Ap sebagai proksi sebesar 13%. Kenaikan kerapatan atmosfer rata-rata akibat aktivitas matahari moderat dan tinggi masing-masing sebesar 4 kali dan 11 kali dibanding rata-ratanya saat aktivitas matahari tenang. Sedangkan aktivitas geomagnet moderat menyebabkan terjadinya kenaikan kerapatan atmosfer rata-rata sebesar 1 kali lebih tinggi dibanding saat keadaan geomagnet tenang. Kata kunci: Kerapatan atmosfer, Radiasi EUV, Aktivitas geomagnet TLE, Lapan-Tubsat, F10.7, Indeks Ap.
KORELASI OZON DAN BROMIN MONOKSIDA DI INDONESIA BERBASIS OBSERVASI SATELIT AURA-MLS [BROMINE MONOXIDE AND OZONE CORRELATION IN INDONESIA BASED ON AURA-MLS SATELLITE OBSERVATION] Novita Ambarsari; Ninong Komala; Waluyo Eko Cahyono
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.95 KB)

Abstract

Microwave Limb Sounder (MLS) merupakan bagian dari Earth Observing System (EOS) ditempatkan pada satelit AURA NASA yang diluncurkan pada tanggal 15 Juli 2004 dan efektif menghasilkan hasil data pengamatan global dari September 2004 hingga saat ini. MLS mengukur profil vertikal ozon dan komponen kimia atmosfer dengan lebih akurat. Penentuan profil vertikal Bromin Monoksida (BrO) dan Ozon di Indonesia telah dilakukan berdasarkan pengamatan atmosfer dengan menggunakan instrumen Microwave Limb Sounder (MLS) pada satelit AURA. Data yang digunakan adalah data profil vertikal BrO dan Ozon di wilayah Indonesia (95 BT-145 BT, 6 LS-11 LU) selama tahun 2005-2010. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi bulanan profil ozon vertikal di Indonesia tahun 2005-2010 umumnya konstan di bawah 100 hPa dan meningkat pada rentang tekanan 100 hPa hingga 0,1 hPa (dari stratosfer bawah ke stratosfer atas) dan kemudian menurun lagi dengan nilai maksimum terjadi pada stratosfer tengah pada tekanan 10 hPa saat perbandingan campuran ozon maksimum antara 8.000-11.000 ppbv (8 sampai 11 ppmv). Ozon mencapai nilai minimum di troposfer pada ketinggian di atas 0,01 hPa. Konsentrasi BrO tertinggi terjadi pada tekanan 14 hPa dengan rentang konsentrasi 0,005-0,04 ppbv yang terjadi pada bulan Februari 2005-2010 dan puncak terendah terjadi pada bulan Mei 2005-2010 dengan konsentrasi 0,02 ppbv. Korelasi antara ozon dan BrO pada tekanan 14 hPa menunjukkan nilai -0.218. Korelasi negatif menunjukkan peningkatan konsentrasi BrO berhubungan dengan penurunan konsentrasi ozon di lapisan stratosfer di atas Indonesia. Kata kunci: MLS AURA, Bromine monoksida, Ozon, Korelasi
PENENTUAN SUHU THRESHOLD AWAN HUJAN DI WILAYAH INDONESIA BERDASARKAN DATA SATELIT MTSAT DAN TRMM [DETERMINATION OF THRESHOLD TEMPERATURE OF RAIN CLOUD OVER INDONESIAN BASED ON MTSAT AND TRMM SATELLITE DATA] Lely Qodrita Avia; Agung Haryanto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.789 KB)

Abstract

Proses estimasi curah hujan berdasarkan suhu puncak awan membutuhkan penentuan suhu threshold awan hujan. Makalah ini membahas variasi suhu threshold awan hujan secara spasial untuk Indonesia berdasarkan data satelit Multi-functional Transport Satellite-1Replacement (MTSAT-1R) dan Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM). Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 728 set data satelit MTSAT-1R dan satelit TRMM yang merupakan data grid dengan resolusi temporal 3 jam-an dari bulan Desember 2007 sampai Februari 2008 dengan pertimbangan pada umumnya puncak musim hujan di wilayah Indonesia berlangsung pada periode tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada umumnya suhu threshold awan hujan di wilayah Indonesia bervariasi sekitar nilai 216K sampai 256K berdasarkan metode Perfect Correct (PC) yang bervariasi pada rentang nilai 0,8 sampai 0,9. Kata kunci: MTSAT-1R, TRMM, Statistik, Suhu Threshold, Awan Hujan 1 PENDAHULUAN
ANALISIS KEMAMPUAN RADAR NAVIGASI LAUT FURUNO 1932 MARK-2 UNTUK PEMANTAUAN INTENSITAS HUJAN [ANALYSIS OF FURUNO MARINE RADAR 1932 MARK-2 CAPABILITY TO OBSERVE RAIN RATE] Asif Awaludin; Ginaldi Ari Nugroho; Soni Aulia Rahayu
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1229.651 KB)

Abstract

Indonesia mempunyai banyak daerah rawan banjir dan tanah longsor sehingga diperlukan sistem peringatan dini terhadap bencana tersebut. Radar cuaca merupakan salah satu alternatifnya, akan tetapi harganya mahal, sehingga diperlukan radar cuaca alternatif yang biayanya murah. Dalam penelitian ini dilakukan analisis kemampuan radar navigasi laut Furuno 1932 Mark-2 sebagai solusi radar cuaca biaya murah dengan menganalisis spesifikasinya kemudian membuat eksperimen dan pengujian untuk mencoba solusi kelemahannya melalui pengembangan sistem akuisisi dan pengolah sinyal radar. Menurut spesifikasinya, unit scanner radar memenuhi syarat untuk pendeteksian hujan, hanya membutuhkan koreksi volume untuk lebar berkas vertikal yang lebar. Sedangkan unit display-nya belum memenuhi karena plotter-nya masih satu warna dan penghilang clutter-nya menganggap hujan sebagai clutter. Dari hasil eksperimen dan pengujian dapat diketahui bahwa radar ini mampu digunakan untuk mendeteksi pergerakan hujan dengan nilai reflektivitas yang terpantau antara 15-30 dBZ. Hasil pengukuran rain gauge menunjukkan pada reflektivitas 30 dBZ tersebut terpantau hujan dengan intensitas 5,4 mm/jam. Hubungan antara (Z) dan (R) yang terdeteksi tidak sesuai dengan persamaan Marshall Palmer, karena nilai 30 dBZ menghasilkan intensitas hujan 2,7 mm/jam. Oleh karena itu dalam penelitian selanjutnya perlu dicari hubungan Z dan R yang sesuai untuk radar ini melalui kalibrasi nilai reflektivitas menggunakan data hasil pengukuran rain gauge. Kata kunci: Faktor Reflektivitas Radar, Radar Navigasi Laut, Intensitas Hujan
SELEKSI PARAMETER MASUKAN MODEL TEC IONOSFER DI DAERAH LINTANG RENDAH [INPUT PARAMATERS SELECTION OF IONOSPHERIC TEC MODEL AT LOW LATITUDE REGION] Buldan Muslim
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.183 KB)

Abstract

Dalam pemodelan Total Electron Content (TEC) ionosfer, pemilihan parameter masukan dapat meningkatkan efektivitas penerapannya pada prediksi ionosfer. Beberapa parameter masukan untuk model ionosfer antara lain adalah fluks radio matahari pada gelombang 10,7 cm (F10.7) indeks aktivitas geomagnetik dari pengamatan di daerah lintang tengah yaitu indeks Ap dan indeks aktivitas geomagnet dari pengamatan di daerah ekuator yaitu indeks Dst. Data TEC dari Global Ionospheric Map (GIM) pada bulan Januari, mulai 1999 sampai 2010 telah digunakan untuk pembelajaran dan pengujian model Jaringan Syaraf Tiruan Regresi Umum (JSTRU) di daerah lintang rendah. Pemilihan parameter masukan untuk model TEC dilakukan dengan cara mengoptimasi konfigurasi masukan yang dapat menghasilkan model dengan kesalahan terkecil. Model TEC JSTRU dibuat dengan empat konfigurasi masukan: 1. F10.7, dan Universal Time (UT), 2. F10.7, Ap, dan UT, 3. F10.7, Dst, dan UT, 4. F10.7, Ap, Dst, dan UT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akurasi model TEC pada meridian 105 ºBT dengan parameter-parameter masukan yaitu F10.7, indeks geomagnet (Dst atau Ap), dan UT bervariasi terhadap lintang geomagnet. Konfigurasi parameter masukan yang menghasilkan model TEC bulanan paling akurat adalah konfigurasi ketiga yang menggunakan indeks Dst. Kata kunci: TEC, Model, Parameter masukan, Pemilihan, Jaringan syaraf tiruan, Regresi umum, Korelasi
KORELASI OZON DAN BROMIN MONOKSIDA DI INDONESIA BERBASIS OBSERVASI SATELIT AURA-MLS [BROMINE MONOXIDE AND OZONE CORRELATION IN INDONESIA BASED ON AURA-MLS SATELLITE OBSERVATION] Novita Ambarsari; Ninong Komala; Waluyo Eko Cahyono
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.95 KB)

Abstract

Microwave Limb Sounder (MLS) merupakan bagian dari Earth Observing System (EOS) ditempatkan pada satelit AURA NASA yang diluncurkan pada tanggal 15 Juli 2004 dan efektif menghasilkan hasil data pengamatan global dari September 2004 hingga saat ini. MLS mengukur profil vertikal ozon dan komponen kimia atmosfer dengan lebih akurat. Penentuan profil vertikal Bromin Monoksida (BrO) dan Ozon di Indonesia telah dilakukan berdasarkan pengamatan atmosfer dengan menggunakan instrumen Microwave Limb Sounder (MLS) pada satelit AURA. Data yang digunakan adalah data profil vertikal BrO dan Ozon di wilayah Indonesia (95 BT-145 BT, 6 LS-11 LU) selama tahun 2005-2010. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi bulanan profil ozon vertikal di Indonesia tahun 2005-2010 umumnya konstan di bawah 100 hPa dan meningkat pada rentang tekanan 100 hPa hingga 0,1 hPa (dari stratosfer bawah ke stratosfer atas) dan kemudian menurun lagi dengan nilai maksimum terjadi pada stratosfer tengah pada tekanan 10 hPa saat perbandingan campuran ozon maksimum antara 8.000-11.000 ppbv (8 sampai 11 ppmv). Ozon mencapai nilai minimum di troposfer pada ketinggian di atas 0,01 hPa. Konsentrasi BrO tertinggi terjadi pada tekanan 14 hPa dengan rentang konsentrasi 0,005-0,04 ppbv yang terjadi pada bulan Februari 2005-2010 dan puncak terendah terjadi pada bulan Mei 2005-2010 dengan konsentrasi 0,02 ppbv. Korelasi antara ozon dan BrO pada tekanan 14 hPa menunjukkan nilai -0.218. Korelasi negatif menunjukkan peningkatan konsentrasi BrO berhubungan dengan penurunan konsentrasi ozon di lapisan stratosfer di atas Indonesia. Kata kunci: MLS AURA, Bromine monoksida, Ozon, Korelasi

Page 1 of 1 | Total Record : 6