cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2014)" : 5 Documents clear
KARAKTERISTIK PARTIKEL BERMUATAN DI WILAYAH ANOMALIATLANTIK SELATAN YANG BERPOTENSI PENYEBAB GANGGUANOPERASIONAL SATELIT ORBIT RENDAH[THE CHARACTERISTIC OF CHARGED PARTICLES IN THE SOUTHATLANTIC ANOMALY REGION AS THE CAUSE OF OPERATIONALDISRUPTION ON LOW ORBITING SATELLITES] Nizam Ahmad; - Neflia
Jurnal Sains Dirgantara Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1225.844 KB)

Abstract

Wilayah Anomali Atlantik Selatan (AAS) mengandung partikel bermuatan yang membahayakan satelit-satelit yang berada di orbit rendah bumi (LEO). Partikel bermuatan yang terdapat di wilayah tersebut bersumber dari sinar kosmik galaksi (GCR) dan matahari yang terperangkap, merambat dan saling berinteraksi yang mengakibatkan fluks dan energi partikel bervariasi. Karakteristik partikel bermuatan di wilayah Anomali Atlantik Selatan dapat diketahui dengan menganalisis data partikel dari satelit NOAA 15. Tinjauan partikel dari GCR dilakukan saat aktivitas matahari minimum sedangkan tinjauan partikel dari matahari dilakukan saat aktivitas matahari maksimum. Analisis data partikel memperlihatkan bahwa saat aktivitas matahari maksimum dan minimum, terjadi badai GCR beberapa kali. Badai GCR tidak selalu berpengaruh signifikan terhadap aktivitas geomagnet yang dilihat melalui indeks Kp dan Dst. Analisis data partikel di AAS untuk kanal energi E>30 keV (elektron) dan 80 <E< 240 keV (proton) juga memperlihatkan bahwa badai GCR berpengaruh terhadap fluks elektron di AAS, namun tidak terlihat pada fluks proton. Peningkatan fluks partikel di SAA juga dilihat dengan meninjau fenomena semburan proton dari matahari (Solar Proton Event-SPE) dan memperlihatkan korelasi yang rendah. Pada kondisi matahari minimum, fluks rata-rata partikel di AAS  sekitar 102 partikel/cm2, sedangkan pada kondisi matahari maksimum, fluks minimum sekitar 103 partikel/cm2. Energi dan fluks yang demikian pada umumnya mengakibatkan pemuatan permukaan pada satelit-satelit orbit rendah.Kata kunci: Partikel bermuatan, Anomali Atlantik Selatan, Anomali satelit
ANALISIS INDEKS KUALITAS SINYAL PADA MANAJEMEN FREKUENSI BERBASIS DATA AUTOMATIC LINK ESTABLISHMENT (ALE) [ANALYSIS OF SIGNAL QUALITY INDEX IN MANAGEMENT FREQUENCY BASED ON AUTOMATIC LINK ESTABLISHMENT (ALE) DATA] Varuliantor Dear; Gatot Wikantho
Jurnal Sains Dirgantara Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1063.476 KB)

Abstract

Manajemen frekuensi komunikasi radio HF (3-30MHz) berbasis data jaringan sistem Automatic Link Establishment (ALE) telah dilakukan berdasarkan analisis indeks kualitas sinyal yang diperoleh. Hasil penerapan menunjukkan bahwa manajemen frekuensi berbasis data ALE dapat memberikan informasi tambahan berupa jaminan kualitas kanal yang lebih optimal. Kanal yang optimal diperoleh berdasarkan analisis nilai indeks penerimaan sinyal untuk tiap frekuensi yang diamati pada sistem ALE. Dalam proses yang dilakukan, penentuan frekuensi kerja dibatasi oleh nilai selisih peluang minimum (ΔP{F}min) yang merujuk pada acuan dari performa minimum perancangan link availability komunikasi radio HF, yakni nilai Lower Decile. Pembatasan nilai selisih peluang minimum dilakukan sebelum proses analisis indeks kualitas sinyal. Dalam makalah ini, data yang digunakan adalah data jaringan ALE untuk sirkuit Bandung-Wakosek pada tahun 2012. Proses penerapan yang dilakukan dengan batasan nilai selisih peluang (ΔP{F}min) yang mencapai 0,033 atau 3,3%, menghasilkan suatu nilai frekuensi kerja yang memiliki perbedaan dengan hasil dari proses penerapan tanpa mempertimbangkan kualitas sinyal penerimaan. Perbedaan diperoleh pada bulan Maret dan April dengan selisih indeks kualitas sinyal berada pada rentang 0,42 dan 0,55 Berdasarkan hasil yang diperoleh, frekuensi kerja yang direkomendasikan, dapat memberikan informasi kualitas kanal yang optimal dalam perencanaan komunikasi radio HF.Kata kunci: Indeks kualitas sinyal, ALE, Manajemen frekuensi, Komunikasi radio HF
KARAKTERISTIK INDEKS IONOSFER (INDEKS_T) JAM-AN DAN BULANAN SUMEDANG DAN BIAK [SUMEDANG AND BIAK HOURLY AND MONTHLY IONOSPHERIC INDEX (T INDEX) CHARACTERISTICS] Sri Suhartini; Irvan Fajar Syidik; Slamet Syamsudin
Jurnal Sains Dirgantara Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.261 KB)

Abstract

Salah satu masukan untuk perangkat lunak Advance Stand Alone Prediction System (ASAPS) yang digunakan untuk menyiapkan layanan prediksi frekuensi komunikasi radio HF oleh Lapan adalah indeks ionosfer (indeks_T), yaitu indeks yang menyatakan ukuran efek aktivitas matahari pada ionosfer. Dalam kondisi tertentu pengguna komunikasi radio HF memerlukan prediksi frekuensi jangka pendek, dan untuk itu diperlukan informasi indeks_T jam-an. Makalah ini membahas penerapan metode Turner untuk penentuan indeks Ionosfer (Indeks_T) lokal jam-an menggunakan data foF2 dari Loka Pengamat Dirgantara Sumedang (6,54 ⁰LS, 107,55 ⁰BT) tahun 1998 – 2012 dan Biak (1,38 ⁰LS, 135,98 ⁰BT) tahun 2005 – 2012 dan bilangan sunspot (R12).  Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Indeks_T jam-an Sumedang dan Biak mengikuti variasi aktivitas matahari jangka panjang, namun tidak nampak variasi musiman maupun hariannya. Analisis menunjukkan bahwa indeks_T jam-an harus dihitung secara terpisah untuk masing-masing lokasi. Indeks_T bulanan lokal di Sumedang dan Biak mengikuti karakteristik indeks_T global dan aktivitas matahari jangka panjang dan secara umum nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan indeks_T global. Untuk indeks_T regional bulanan Indonesia dapat digunakan satu nilai indeks_T regional, yaitu rata-rata indeks_T lokal bulanan.Kata kunci: Indeks ionosfer, Metode Turner, Indeks_T jam-an, Indeks_T bulanan
EFEK GAS SO2 DAN KELEMBAPAN UDARA TERHADAP INSOLASI DAN TEMPERATUR DI BANDUNG [EFFECT OF SO2 GAS AND HUMIDITY TO INSOLATION AND TEMPERATURE IN BANDUNG] Tuti Budiwati; Saipul Hamdi; Dyah Aries Tanti
Jurnal Sains Dirgantara Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.714 KB)

Abstract

Selain gas rumah kaca seperti CO2, N2O, CH4, H2O (uap air), dan O3 yang berpotensi mempengaruhi radiasi matahari yang diterima permukaan bumi (insolasi) dan berakibat terjadi pemanasan, ternyata SO2 mempunyai efek pendinginan dan pemanasan di permukaan bumi. Gas-gas tersebut mempunyai efek memanaskan troposfer dan permukaan bumi dikarenakan sebagian radiasi yang diemisikan dari permukaan bumi dikembalikan ke bumi dan sebagian lagi diserap. Berdasarkan data monitoring Automatic Weathering Station (AWS) dan SO2 di Bandung (Lapan) dari Oktober 2007 sampai Desember 2012, pada tahun 2010 menunjukkan kelembapan udara rata-rata tinggi yaitu 85% dibandingkan tahun 2009 yaitu 78%, sebaliknya SO2 kecil. Dampaknya menyebabkan penurunan insolasi tahun 2010 menjadi 145 W/m2 dari 166 W/m2 tahun 2009 atau 13%. Terdapat penurunan rata-rata temperatur tahun 2010 menjadi 23,69 ºC dari 23,97 ºC tahun 2009. Hasil analisis dengan metode korelasi Pearson didapati hubungan yang signifikan dan kuat pada musim kering antara SO2 dengan insolasi yaitu 0,514(**) dengan signifikansi p<0,01 dan signifikan tetapi agak lemah antara kelembapan dengan insolasi yaitu-0,489(*) dengan signifikansi p<0,05. Tetapi sebaliknya pengaruh kelembapan udara kuat pada musim basah dibandingkan SO2 terhadap insolasi. Korelasi antara insolasi dengan SO2 dan kelembapan pada musim basah yaitu -0,408(*) dengan signifikansi p<0,05 dan -0,487(**) dengan signifikansi p<0,01.Kata kunci: SO2, Kelembapan udara, Uap air, Gas rumah kaca, Insolasi, Temperatur, Korelasi Pearson
DAMPAK PENERAPAN PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS (PCA) DALAM CLUSTERING CURAH HUJAN DI PULAU JAWA, BALI, DAN LOMBOK [IMPACT OF PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS (PCA) IMPLEMENTATION ON RAINFALL CLUSTERING OVER JAVA, BALI AND LOMBOK ISLANDS] Ina Juaeni
Jurnal Sains Dirgantara Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (974.454 KB)

Abstract

Analisis komponen utama atau Principal Component Analysis (PCA) adalah prosedur matematik yang menggunakan teknik transformasi orthogonal untuk mengubah sekumpulan data dengan komponen yang mungkin saling berhubungan menjadi komponen yang tidak saling berkaitan. Hal ini bisa memberikan dampak pada clustering curah hujan di Jawa, Bali, dan Lombok. Penelitian ini menggunakan data curah hujan TRMM setiap 3 jam selama 13 tahun (dari tahun 1998 sampai 2010) yang diolah menjadi rata-rata tahunan, klimatologi bulanan (Januari – Desember), rata-rata selama 13 tahun. Tes multikolinieritas juga dilakukan pada ketiga jenis data ini sebelum melakukan clustering dengan PCA. Hasilnya menunjukkan bahwa clustering dengan PCA mengurangi  jumlah cluster dan mengubah distribusi spasial cluster curah hujan.Kata kunci: Analisis  Komponen  Utama, Cluster, Curah hujan

Page 1 of 1 | Total Record : 5