cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2008)" : 6 Documents clear
STUDI SENSITIVITAS DARLAM TERHADAP SKEMA KONVEKSI BERDASARKAN JUMLAH BULAN HUJAN Ina Junaeni; - Halimurrahman; Bambang Siswanto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 5, No 2 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (949.861 KB)

Abstract

Untuk mendukung kesimpulan tentang kinerja DARLAM, dalam tulisan ini disampaikan kinerja model melalui jumlah bulan hujan di wilayah Indonesia. Berdasarkan nilai perbandingan jumlah bulan hujan simulasi dan jumlah bulan observasi pertahun, skema Hal mempunyai kinerja paling buruk dibanding skema lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai perbandingan jumlah bulan hujan simulasi dan jumlah bulan hujan observasi yang sangat rendah. Skema Kuo menunjukkan kinerja yang baik untuk Papua, Kalimantan, Sumatera dan Jawa. Kinerja skema Arakawa dan skema Betts Miller yang baik ditunjukkan untuk lokasi berikut: Papua, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NT dan Bali, dan Jawa. Skema konveksi Ak, Kuo dan BM DARLAM cenderung menghasilkan curah hujan berlebih untuk NT, dan Bali dan juga pada periode ENSO 1982. Kata kunci : Jumlah bulan hujan, Skema konveksi, DARLAM.
KARAKTERISTIK INDIAN OCEAN DIPOLE MODE DI SAMUDERA HINDIA HUBUNGAN-NYA DENGAN PERILAKU CURAH HUJAN DI KAWASAN SUMATERA BARAT BERBASIS ANALISIS MOTHER WAVELET Eddy Hermawan; Kokom Komalaningsih
Jurnal Sains Dirgantara Vol 5, No 2 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.783 KB)

Abstract

Makalah ini utamanya mengkaji karakteristik Indian Ocean Dipole Mode (IOD) yang ada di Samudera Hindia, khususnya dari parameter Sea Surface Temperature (SST) terhadap anomali curah hujan yang ada di beberapa kawasan yang ada di Sumatera Barat. Data IOD dan curah hujan bulanan yang kami gunakan dalam studi ini antara tahun 1960 hingga 1999 (selama 39 tahun pengamatan). Dengan menggunakan software minitab berbasis Principal Component Analysis (PCA), data curah hujan tadi dikelompokkan menjadi kelompok 1 hingga kelompok 3. Hasilnya menunjukkan bahwa ketiga kelompok curah hujan tadi ternyata memiliki osilasi dominan yang sama dengan data IOD, khususnya parameter SST sekitar 3 tahunan. Hal ini mengindikasikan bahwa kawasan Sumatera Barat yang relatif basah sepanjang tahun, diduga terkait erat dengan anomali SST yang ada di Samudera Hindia. Kata kunci : IOD, Curah hujan, Minitab, dan Analisis wavelet.
ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER DI BAGIAN UTARA EKUATOR SUMATERA PADA SAAT PERISTIWA EL-NINO DAN DIPOLE MODE POSITIF TERJADI BERSAMAAN Sri Woro B. Harijono
Jurnal Sains Dirgantara Vol 5, No 2 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.405 KB)

Abstract

Analisa kondisi curah hujan yang tetap normal atau atas normal di bagian utara Sumatera pada periode bulan Juni-Juli-Agustus (JJA) pada saat peristiwa El Nino dan Dipole Mode Positif terjadi secara bersaman (simultan) telah dilakukan dengan menggunakan parameter Air Mampu Curah (Precipitable Water, PW), tutupan awan, dan radiasi gelombang panjang (OLR). Sirkulasi atmosfer Timur – Barat dan Utara – Selatan yang merupakan wahana transportasi masa uap air menuju bagian utara Sumatera telah digambarkan dalam bentuk peta sirkulasi Zonal dan peta sirkulasi Meridional. Pada saat kejadian Dipole Mode (DM) positif dan terjadi El Nino akan menyebabkan bergesernya sistem sirkulasi zonal yang menjauhi wilayah Indonesia ke arah Samudera Pasifik bagian tengah karena pengaruh El Nino dan ke arah barat Samudera India karena pengaruh DM positif. Proses dinamika aliran massa uap air ini mengalami anomali mengakibatkan penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan ekuator. Namun pada empat lokasi penelitian, di bagian utara Sumatera (Aceh – Medan – Lhokseumawe – Meulaboh), selama periode JJA saat terjadinya DM positif dan tahun El Nino (1963, 1973, 1982 dan 1997) sifat curah hujannya lebih tinggi dari keadaan rata-ratanya. Hal ini disebabkan masih adanya ketersediaan uap air di sekitar wilayah penelitian yang teridentifikasi antara lain; dari parameter OLR, Air Mampu Curah (Precipitable water) dan tutupan awan serta adanya mekanisme transfer masa uap air tersebut ke arah bagian utara Sumatera yang diidentifikasikan sebagai angin Monsun India. Analisis lebih rinci dari data curah hujan rata-rata bulanan di atas menunjukkan bahwa sifat hujan di Medan dan Lhokseumawe tidak signifikan bila dibandingkan dengan Aceh dan Meulaboh. Hal ini disebabkan faktor lokal seperti posisi geografi dan sirkulasi lokal berperan penting dalam proses pengangkatan massa udara/konveksi dan berfungsi dalam mekanisme pembentukan hujan di daerah tropis. Posisi geografis Medan dan Lhokseumawe yang berada di balik pegunungan Bukit Barisan menjadi daerah belakang angin selama periode Juni-Juli-Agustus (JJA), sehingga tinggi/besarnya curah hujan dari normalnya tidak signifikan. Sementara Aceh dan Meulaboh yang berada di muka pegunungan Bukit Barisan menjadi daerah hadap angin pada periode tersebut dan sifat hujan atas normalnya signifikan. Kata kunci: ENSO, India Ocean Dipole Mode (IODM), Sirkulasi Walker, Sirkulasi Hadley, PW, Tutupan Awan.
PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI PADA VARIASI CURAH HUJAN DI INDONESIA Wilson Sinambela; Tiar Dani; Iyus E. Rusnadi; Jalu Tejo Nugroho
Jurnal Sains Dirgantara Vol 5, No 2 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1425.284 KB)

Abstract

Aktivitas matahari dapat mempengaruhi parameter iklim jangka panjang. Radiasi ultraviolet, radiasi tampak (visible) dan radiasi panas adalah faktor utama yang mempengaruhi parameter iklim bumi. Radiasi-radiasi ini bervariasi mengikuti variasi aktivitas matahari dengan periode sekitar 11 tahun. Penelitian pengaruh aktivitas matahari pada variabilitas curah hujan di atas Indonesia selama 105 tahun (1900-2005) dilakukan dengan analisis wavelet dan korelasi empirik pada data variasi tahunan curah hujan, musim Jurnal Sains Dirgantara Vol. 5 No. 2 Juni 2008:149-168 150 DJF dan JJA yang telah dikelompokkan dengan metode fuzzy clustering. Melalui kombinasi metode fuzzy clustering, wavelet, dan metode korelasi memperjelas bahwa curah di Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas matahari jangka panjang. Kesamaan periodisitas curah hujan dengan aktivitas matahari, terutama periode -11 dan 22-tahun, merupakan indikasi pertama pengaruh aktivitas matahari pada variabilitas iklim Indonesia. Dari hasil analisis keterkaitan antara bilangan sunspot dan curah hujan dengan menggunakan pemulusan rata-rata bergerak 11 tahun dari rata-rata tahunan, curah hujan cenderung mengikuti pola variasi aktivitas matahari jangka panjang walaupun variasi curah hujan ada yang sefasa dan yang mendahului, variasi bilangan sunspot berkisar 15-20 tahun. Sementara itu, hasil analisis menunjukkan bahwa variasi curah hujan di cluster Indonesia Barat mempunyai korelasi yang baik dengan aktivitas matahari jangka panjang dengan indikator panjang siklus matahari sekitar 11 tahun, dan koefisien korelasinya mencapai r = 0,75. Sedangkan variasi curah hujan di cluster Indonesia Timur memiliki korelasi yang baik dengan variasi siklus matahari-11 tahun dan koefisien korelasinya bisa mencapai 0,81. Kata kunci : Variabilitas curah hujan, Aktivitas matahari, Panjang siklus matahari, Fuzzy Clustering.
DAMPAK VARIASI TEMPERATUR SAMUDERA PASIFIK DAN HINDIA EKUATORIAL TERHADAP CURAH HUJAN DI INDONESIA Bayong Tjasyono HK; - Ruminta; Atika Lubis; Ina Juaeni; Sri Woro B. Harijono
Jurnal Sains Dirgantara Vol 5, No 2 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1077.864 KB)

Abstract

Monsun menyebabkan variasi iklim musiman, sedangkan fenomena alam lain seperti El Nino, La Nina, Osilasi Selatan dan Dipol Osean Hindia menyebabkan variasi iklim non–musiman. Wilayah Indonesia dipengaruhi oleh rezim sirkulasi ekuatorial dan monsunal dengan karakter yang berbeda. Rasio antara jumlah curah hujan dalam monsun Asia (DJF) dan dalam monsun Australia (JJA) lebih besar untuk tipe hujan monsunal dari pada untuk tipe hujan ekuatorial. Pengaruh fenomena El Nino dan IOD(+) adalah penurunan jumlah curah hujan, sehingga masa tanam lebih pendek. Sebaliknya La Nina dan IOD (–) menyebabkan peningkatan jumlah curah hujan dengan demikian masa tanam lebih lama. Frekuensi kejadian El Nino, La Nina di Samudera Pasifik Ekuatorial dan Dipol Osean Hindia Ekuatorial kurang sering dibandingkan kondisi normalnya. Kata kunci : Curah hujan, SST, El Nino, La Nina, Osilasi Selatan, Dipol Osean Hindia.
TELAAH AWAL KEUBAHAN SETENGAH SUMBU PANJANG AKIBAT EFEK YARKOVSKY PADA ASTEROID 3362 KHUFU (1984 QA) Endang Soegiartini; Suryadi Siregar
Jurnal Sains Dirgantara Vol 5, No 2 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4728.827 KB)

Abstract

Efek Yarkovsky adalah gaya non-gravitasional yang bekerja pada benda yang disebabkan oleh emisi anisotropik foton termal, yang memberi momentum bagi benda tersebut. Efek ini biasanya terjadi pada meteoroid atau asteroid berukuran kecil (dengan diameter 10 cm sampai 10 km). Tulisan ini mencoba meninjau efek Yarkovsky tersebut bagi asteroid 3362 Khufu (1984 QA) yang berdiameter 0.7 km, serta Bond-albedo 0.17. Efek Yarkovsky menyebabkan keubahan pada setengah sumbu panjang orbit, akibatnya eksentrisitas orbit juga berubah. Terjadinya perubahan pada elemen orbit memberikan peluang asteroid tersebut bergerak mendekati Bumi. Telaah ini menunjukkan amplitudo keubahan setengah sumbu panjang orbit terhadap waktu akibat komponen harian dan musiman, masing-masing maksimal adalah 1.3×10-5 m/detik dan -3.7×10-9 m/detik. Kata kunci: Efek Yarkovsky, Asteroid, Orbit.

Page 1 of 1 | Total Record : 6