cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus.annas551@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
silfia_hanani@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota bukittinggi,
Sumatera barat
INDONESIA
HUMANISMA : Journal of Gender Studies
ISSN : 25806688     EISSN : 25807765     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Humanisma focus tentang issue-issue kesetaraan gender dan perlindungan terhadap anak di Indonesia baik dalam perspektif Islam maupun secara umum.
Arjuna Subject : -
Articles 88 Documents
The Empowerment Effect of Womens Acces to Hygiene and Utilization Status In Rural Areas of East Gojjam Zone Northwest Ethiopia Haimanot Minwuye Adam; Alemu Azmerawu; Sisay Awoke
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 6, No 1 (2022): January - June 2022
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v6i1.5228

Abstract

The empowerment has become a common component of water, sanitation, and hygiene (WASH) interventions. However, there is limited evidence on whether access to and utilization of WASH facilities have contributed to the empowerment of women. This study aimed to understand the empowerment effect of women’s access to hygiene and utilization status in selected rural areas of Gozamin and Machakel districts in the East Gojjam Zone, Ethiopia. The analyses were conducted based on responses from 325 married women selected through a multi-stage cluster sampling technique. Gologit2 was used to estimate the correlation between women’s access to hygiene and utilization level and their empowerment status. The gologit2 estimation identified hygiene utilization to have a statistically significant association with women empowerment in terms of self-esteem, household decision-making, and participation in rural health extension activities. A woman with a high hygiene utilization level was 2.5 times more likely to be empowered than a woman with low hygiene utilization level was. However, no statistically significant correlation was found between women’s access to hygiene and their empowerment status. It showed that the mere presence of hygiene facilities did not empower women unless these were actually utilized. Therefore, the researcher recommended that the government strengthen its work to promote and monitor women’s hygiene utilization in addition to the availability of hygiene facilities in the household. Pemberdayaan telah menjadi bagian komponen umum dari air, sanitasi, dan kebersihan (WASH). Namun, ada bukti terbatas tentang apakah akses dan pemanfaatan fasilitas WASH telah berkontribusi pada pemberdayaan perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh pemberdayaan akses perempuan terhadap status kebersihan dan pemanfaatan di daerah pedesaan terpilih di distrik Gozamin dan Machakel di Zona Gojjam Timur Ethiopia. Analisis kami didasarkan pada tanggapan dari 325 wanita menikah yang dipilih melalui teknik sampling cluster multi-stage. Gologit2 digunakan untuk memperkirakan hubungan antara akses perempuan ke tingkat kebersihan dan pemanfaatan dan status pemberdayaan mereka. Estimasi gologit2 mengidentifikasi pemanfaatan kebersihan memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan pemberdayaan perempuan dalam hal harga diri, pengambilan keputusan rumah tangga, dan partisipasi dalam kegiatan penyuluhan kesehatan pedesaan. Wanita dengan tingkat pemanfaatan higiene yang tinggi memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar untuk diberdayakan dibandingkan dengan wanita dengan tingkat pemanfaatan higiene yang rendah. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara akses perempuan terhadap kebersihan dan status pemberdayaannya, yang menunjukkan bahwa keberadaan fasilitas kebersihan saja tidak memberdayakan perempuan kecuali jika fasilitas tersebut benar-benar dimanfaatkan. Kami, oleh karena itu; merekomendasikan agar pemerintah memperkuat pekerjaannya untuk mempromosikan dan memantau pemanfaatan kebersihan oleh perempuan selain ketersediaan fasilitas kebersihan di rumah tangga. 
The Social Representation of Women in Bukittinggi Goverment in the Construction of Collective Conciousness Tyka Rahman
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 6, No 1 (2022): January - June 2022
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v6i1.5253

Abstract

This paper aimed to discuss social representation of women in the bureaucratic system.  The more modern the society is, the wider the space for women is to access various things, for instance, education, economic resources, and positions in workplace. This study focused on how women's accessibility for the positions relating to decision-making. This accessibility revealed how well women re able to play a role in constructing their social world. This study used Serge Moscovici’s Social Representation theory as the analysis tool. Social Representation is a derived theory from the concept of Collective Consciousness created by Emile Durkheim. Moscovici's Social Representation Theory revealed how individual knowledge system shaped by cultural and religious structures influences in making choices and acting to confront social reality. A qualitative approach was used to determine social representation of women on the bureaucratic system. This study analyzed women’s knowledge system which contested with community norms in order to maintain embeddesness to their collective. The social representation of women was the result of negotiation and contestation of knowledge system and individual consciousness with social norms.Tulisan ini bertujuan untuk membahas representasi sosial perempuan pada sistem birokrasi. Semakin modern masyarakat, semakin luas ruang bagi perempuan untuk mengakses berbagai hal, akses terhadap pendidikan, sumber daya ekonomi, dan posisi di ruang kerja. Studi ini berfokus pada aksesibilitas perempuan pada posisi yang berkaitan dengan pengambilan keputusan. Aksesibilitas ini akan mengungkap seberapa mampu perempuan berperan dalam membangun dunia sosialnya. Penelitian ini menggunakan teori Representasi Sosial, Serge Moscovici untuk alat analisis. Teori Representasi Sosial merupakan teori turunan dari konsep Kesadaran Kolektif Emile Durkheim. Teori Representasi Sosial, Moscovici mengungkap sistem pengetahuan individu dibentuk oleh struktur budaya dan agama, sehingga mempengaruhinya dalam membuat pilihan dan menghadapi realitas sosial. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengetahui representasi sosial perempuan pada sistem birokrasi. Studi ini menganalis sistem pengetahuan perempuan berkontestasi dengan norma masyarakat demi menjaga keterlekatan dengan kolektifnya. Representasi sosial perempuan merupakan hasil negosiasi dan kontestasi sistem pengetahuan dan kesadaran individu (individual consciousness) dengan norma sosial
Women’s Role and Position During Democratic Transition Period: A Comparison of Indonesia and Thailand Kurniawati Hastuti Dewi
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 6, No 1 (2022): January - June 2022
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v6i1.5475

Abstract

This paper observes the historical, cultural, political, and social aspects of Indonesian and Thailand women to understand the progress of the women’s role and position in the two countries, especially during the democratic transition period. This is qualitative research that utilized library sources to collect information and data through various resources such as books, documents, historical books, and webistes dated back from 1970s to 2000s in Indonesia and Thailand. Although there are similarities in development programs to address women's role and position before democratization in Indonesia and Thailand as both of them mainly focused on “practical gender interests”. Interestingly, this paper reveals that during the democratic transition period, Indonesian women’s role and position in politics are one step ahead. This is due to the political stability, persistent commitment of the government to the gender equality agenda, and growing support from progressive Muslim leaders.  In contrast, political turbulence due to often military coups which result in the government’s slow performance for women’s advancement combined with less support from Buddhist leaders slowed the progress of Thailand women. This paper highlights the important role of the government policy on gender equality for women’s advancement, political stability, and the role of the majority religion (Islam in Indonesia and Theravada Buddhism in Thailand) to support women's role and position in politics.Tulisan ini mengkaji aspek sejarah, budaya, politik, dan sosial perempuan Indonesia dan Thailand untuk memahami perkembangan peran dan posisi perempuan di kedua negara, terutama pada masa transisi demokrasi. Ini adalah penelitian kualitatif yang memanfaatkan sumber perpustakaan untuk mengumpulkan informasi dan data melalui berbagai sumber seperti buku, dokumen, buku sejarah, dan situs web dari tahun 1970-an hingga 2000-an di Indonesia dan Thailand. Meskipun ada kesamaan dalam program pembangunan untuk mengatasi peran dan posisi perempuan sebelum demokratisasi di Indonesia dan Thailand karena keduanya berfokus pada “kepentingan gender praktis”. Menariknya, tulisan ini mengungkapkan bahwa selama masa transisi demokrasi peran dan posisi perempuan Indonesia dalam politik selangkah lebih maju. Hal ini disebabkan oleh stabilitas politik, komitmen pemerintah yang gigih terhadap agenda kesetaraan gender dan dukungan yang semakin besar dari para pemimpin Muslim progresif. Sebaliknya, gejolak politik akibat seringnya kudeta militer yang mengakibatkan lambatnya kinerja pemerintah untuk kemajuan perempuan ditambah dengan kurangnya dukungan para pemimpin Buddhis memperlambat kemajuan perempuan Thailand. Tulisan ini menyoroti pentingnya peran kebijakan pemerintah tentang kesetaraan gender untuk kemajuan perempuan, stabilitas politik, dan peran agama mayoritas (Islam di Indonesia dan Buddhisme Theravada di Thailand) untuk mendukung peran dan posisi perempuan dalam politik.
Female Coffee Lovers' Consumptive Lifstyle at Espresso Beach Cafe in Pariaman Akdila Bulanov; Heru Permana Putra
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 6, No 1 (2022): January - June 2022
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v6i1.5524

Abstract

This research was entitled Female Coffee Lovers' Consumptive Lifestyle at Espresso Beach Café in Pariaman. This study was a kind of illustrative subjective exploration that highlighted field research and did not put aside the concentration of writing that intended to describe the impolite behavior of female coffee lovers at Espresso Beach Café in Pariaman. The investigation strategy used in this research was purposive investigation. The informants taken in this study were female coffee lovers at Espresso Beach Cafe in Pariaman.The techniques used for collecting data were interviews, observations, and documentation. The results of this research showed that the quality of female coffee lovers was observed from their lifestyle and their public activities that spent a lot of energy with their friends. The inspiration for female coffee lovers was to satisfy their desires, supported by financial assistance and close friends that made female coffee lovers feel more comfortable in their exercise. The spendthrift behavior of female coffee lovers was in choosing the place, the type of the drink, the friends, friends’ nicknames, time according to their assumptions, how to drink a drink, visit, and the environment while drinking and saving pocket money.Kajian ini merupakan semacam eksplorasi subjektif ilustratif yang menyoroti tentang “Gaya Hidup Konsumtif Wanita di Espresso Beach Cafe Pariaman”, penelitian ini tidak mengesampingkan konsentrasi penulisan yang bermaksud menggambarkan cara tidak sopan perilaku para wanita pecinta kopi di Espresso Beach Café Pariaman. Strategi pengumpulan data yang digunakan dalam kajian ini menggunakan purposive samppling. Lokasi yang diambil dalam penelitian ini adalah para wanita di Espresso Beach Café Pariaman yang mendapat kesempatan untuk mengkonsumsi kopi. Strategi pengumpulan informasi yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas yang dimiliki wanita yang menyukai kopi terlihat dari gaya hidup dan aktivitas publik mereka, menghabiskan banyak energi dengan teman-teman mereka. Inspirasi bagi para ahli kopi wanita adalah untuk memuaskan hasrat mereka, didukung oleh bantuan keuangan dan pasangan yang membuat para pecinta kopi wanita lebih nyaman dalam latihan penggunaan mereka. Perilaku boros yang dilakukan para wanita penikmat kopi adalah dengan memilih tempat coffeshope, jenis minuman, memilih teman minum kopi, waktu untuk nongkrong, cara meminum, dan berusaha menghemat uang saku.
Breastfeeding Practices of Karo Mothers in North Sumatera Indonesia Milda Longgeita Pinem
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 6, No 1 (2022): January - June 2022
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v6i1.5345

Abstract

This research aimed to understand the breastfeeding practices of mothers in Karo lands, North Sumatera, Indonesia. This research used ethnographic approach with data collection methods including participant observation, formal interviews and informal interviews. This research involved 27 participants. The research presented how Karo women's experiences of breastfeeding are influenced by three main institutional structures: the state, religion, and ethnic tradition. This study identified three essential points related to breastfeeding practices in Karo lands:  First, Karo mothers in the breastfeeding practice become an agency in negotiating the practical and discursive dimensions of breastfeeding in relation to the state and the church. Second, it is related to Karo culture in which mothers have a special treatment in Karo community, mostly because they are breastfeeding. Third, it is related to the continued influence of Karo culture in which the breastfeeding practice is influenced by the central figure of Karo community, i.e. the grandmother. This research provided a new knowledge about ethnic women’s experiences in the breastfeeding practice. Further, the research needs to be enriched with the experiences of voiceless women in breastfeeding practices.Studi ini bertujuan untuk memahami praktik menyusui para ibu di Tanah Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Penelitian mengunakan pendekatan etnografi dengan melakukan teknik pengumpulan data seperti observasi partisipan, wawancara formal dan percakapan informal atau perbincangan sehari-hari. Penelitian melibatkan 27 informan. Penelitian menunjukkan bahwa para ibu dipengaruhi oleh negara, agama, dan tradisi etnis. Studi mengidentifikasi tiga temuan esensial terkait dengan praktik menyusui para ibu di Tanah Karo. Pertama, para ibu menunjukkan sisi agensi atau kemandirian terkait praktik menyusui khususnya di hadapan kebijakan negara dan agama. Kedua, terkait dengan kultur Karo, para ibu memperoleh perlakuan yang istimewa, khususnya karena sedang menyusui. Ketiga, masih terkait dengan kultur Karo, praktik menyusui para ibu dipengaruhi oleh figur sentral yakni nenek. Studi ini memperkaya kajian terkait pengalaman perempuan dengan latar belakang etnisitas. Penelitian lebih lanjut perlu dilanjutkan dan diperkaya khususnya terkait dengan pengalaman perempuan marginal atau minoritas dalam hal praktik menyusui.
The Female Journalist Leadership and Gender Mainstreaming in Jamberita.com Media in Jambi A Arfan
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 6, No 1 (2022): January - June 2022
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v6i1.4947

Abstract

The background of this research was the social fact about the female journalist as company leader as well as chief editor in Jamberita.com media. The majority of chief editors of local media were dominated by male. The purpose of this study was to find out the forms of gender mainstreaming in Jamberita.com media because of the emergence of gender mainstreaming concept among its journalists and to examine the role of female leader in journalism of Jamberita.com media. This study used qualitative method by conducting observation for 10 days in July 2021 and interviewing three informants who were the chief editor and the journalists of Jamberita.com media. The results of this study found the forms of gender mainstreaming in Jamberita.com media through the same assignments and responsibilities. The women got the same opportunities in producing news according to their respective posts. The concept of gender mainstreaming in Jamberita.com media emerged as a strategy to achieve justice in the world of journalism. The female leader in Jamberita.com media in Jambi has been able to carry out her responsibilities by taking an active role in organizational activities and being able to provide work motivation to staff members well so that some fundamental things affected her position as the chief editor of Jamberita.com media, in terms of social values, social status, communication, education, and work experience. This study has implications for the important role of women in the world of journalism and opens up the chances for other researches that connect gender and journalism.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fakta sosial jurnalis perempuan sebagai pemimpin perusahaan sekaligus pemimpin redaksi di media Jamberita.com. Pemimpin redaksi media lokal mayoritas didominan laki-laki. Tujuan penelitian mengetahui bentuk-bentuk pengarusutamaan gender di Jamberita.com, sebab munculnya konsep pengarusutamaan gender di kalangan jurnalisnya dan meneliti peran pemimpin perempuan dalam ruang jurnalisme Media Jamberita.com. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, observasi dilakukan selama 10 hari pada bulan Juli 2021 dan wawancara dengan tiga orang informan yang merupakan pemimpin redaksi dan wartawan media Jamberita.com. Hasil penelitian ini menemukan bentuk-bentuk pengarusutamaan gender di Jamberita.com melalui pemberian tugas dan tanggungjawab yang sama, perempuan mendapat kesempatan yang sama dalam memproduksi berita sesuai dengan posnya masing-masing. Adapun konsep pengarusutamaan gender di Jamberita.com muncul sebagai strategi untuk mencapai keadilan dalam dunia kerja jurnalistik. Sementara pemimpin perempuan di Media Jamberita.com kota Jambi telah mampu menjalankan tanggungjawabnya dengan berperan aktif dalam kegiatan organisasi, mampu memberikan motivasi kerja kepada bawahan denganbaik, sehingga beberapa hal fundamental mempengaruhi posisinya sebagai ketua redaksi media Jamberita.com, dari segi nilai-nilaisosial, status sosial, komunikasi, pendidikan, dan pengalaman kerja. Penelitian ini berimplikasi kepada peran penting perempuan dalam dunia jurnalistik dan akan membuka ruang bagi penelitian lain yang menghubungkan gender dan jurnalisme.
Quraish Shihab's Interpretation of Gender Equality In Tafsir Al-Misbah Moh. Nor Ichwan; Faizal Amin
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 6, No 1 (2022): January - June 2022
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v6i1.5406

Abstract

This study explores Quraish Shihab's interpretation of gender equality issues, such as equality in creation, marriage, prophethood, the role of women in the public world, and others. This research uses the library research method, and the first and primary source is Tafsir al-Misbah. Operationally, the researchers readvarious literature written by scholars, both East and West, on the concept of gender from the perspective of feminism. Then, the researchers read the Tafsir al-Misbah on the same theme. Does feminist thought influence Quraish Shihab's interpretation or not? This research finds that according to Quraish Shihab, the issue of gender equality in the Qur'an must be understood proportionally, unlike gender practitioners who interpret the Qur'an excessively and seem to impose their will. Quraish Shihab argues that men and women are naturally different both physically and psychologically. Both also have equality in terms of humanity and rights. Women have advantages that men do not have and vice versa. Both need each other.Kajian ini mengeksplorasi interpretasi Quraish Shihab terhadap isu-isu kesetaraan gender, seperti kesetaraan dalam penciptaan, perkawinan, kenabian, peran perempuan di dunia publik, dan lain-lain. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan, dan sumber pertama dan utama adalah Tafsir al-Misbah. Secara operasional, peneliti membaca berbagai literatur yang ditulis oleh para sarjana, baik Timur maupun Barat, tentang konsep gender dari perspektif feminisme. Kemudian peneliti membacakan Tafsir al-Misbah dengan tema yang sama. Apakah pemikiran feminis mempengaruhi penafsiran Quraish Shihab atau tidak? Penelitian ini menemukan bahwa menurut Quraish Shihab, persoalan kesetaraan gender dalam Al-Qur'an harus dipahami secara proporsional, tidak seperti praktisi gender yang menafsirkan Al-Qur'an secara berlebihan dan terkesan memaksakan kehendaknya. Quraish Shihab berpendapat bahwa laki-laki dan perempuan secara alamiah berbeda baik secara fisik maupun psikis. Keduanya juga memiliki kesetaraan dalam hal kemanusiaan dan hak. Wanita memiliki kelebihan yang tidak dimiliki pria dan sebaliknya. Keduanya saling membutuhkan.
The Punishment and Dicipline of Ahmadi Women: A Case Study In Transito Dormitory In Mataram Abdul Gaffar
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 6, No 1 (2022): January - June 2022
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v6i1.5307

Abstract

Indonesian Ahmadiyya community (Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI)) in Lombok has taken refuge in Transito Dormitory in Mataram since 2006. Therefore, it is interesting to see how Ahmadi women experienced expulsion and fled to Transito Dormitory due to the differences in Ahmadiyya beliefs regarding Mirza Ghulam Ahmad as a prophet. This study aimed to observe the punishment and discipline they endured during expulsion and refuge in Transito Dormitory. This study used a qualitative method with a phenomenological approach and Michael Foucault's theory of punish and discipline. The results of this study revealed that Ahmadi women who took refuge in Transito Dormitory had difficulties in carrying out family functions. They had difficulties in managing all the household needs with limited facility. They were lack of water for cooking, washing, and other needs. This paper also showed that Ahmadi women who took refuge in Transito Dormitory experienced punishment and discipline through limited access and strict control mechanisms that forced them not to leave Transito Dormitory in MataramJamaah Ahmadiyah Indonesia Lombok telah mengungsi di Asrama Transito Mataram sejak tahun 2006. Oleh karena itu, menarik untuk dilihat bagaimana perempuan Ahmadiyah mengalami pengusiran hingga mengungsi di Asrama Transito Mataram karena perbedaan keyakinan Jamaah Ahmadiyah Indonesia mengenai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat penghukuman dan pendisiplinan yang mereka alami selama mengalami pengusiran dan pengalaman mengungsi di Asrama Transito. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan teori penghukuman dan pendisiplinan Michael Foucault. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa perempuan Ahmadiyah yang mengungsi di Asrama Transito mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi-fungsi keluarga, kesulitan dalam mengelola semua kebutuhan rumah tangga dengan fasilitas yang terbatas. Kekurangan air untuk memasak, mencuci dan kebutuhan lain. Tulisan ini juga menunjukkan bahwa Perempuan Ahmadiyah yang mengungsi di Asrama Transito mengalami penghukuman dan pendisiplinan melalui akses-akses yang serba terbatas serta mekanisme kontrol yang ketat yang memaksa mereka tidak bisa keluar dari Asrama Transito Mataram.