cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2019)" : 10 Documents clear
Kearifan Lingkungan Masyarakat Dayak Benuaq dalam Novel Api Awan Asap: Kajian Ekokritik Giiford Nina Queena Hadi Putri; Hasrul Rahman; Nisa Fitriyanti Afifah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v3i2.8264

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan lima nilai kearifan lingkungan yang diturunkan dari kaidah estetika pastoral Giiford. Etstika Pastoral mendasari nilai kearifan lingkungan dalam sastra sebagai dasar kajian ekokritik sastra yang antroposentris, sehingga sastra tidak kehilangan fungsi kultural dan ekologisnya engenai landasan manusia dalam melestarikan alam berkaitan dengan sikap hormat, tanggung jawab, solidaritas, kasih saying dan kepedulian terhadap alam, serta tidak mengganggu kehidupan alam dalam novel Api Awan Asap karya (AAA) Korrie Layun Rampan (KLR). Jenis Penelitian ini merupakan deskriptif kualititif dengan metode content analysis Harold D. Laswell yang bertujuan untuk mengetahui isi dan makna yang terkandung dalam data yang dianalisis dengan pembahasan secara mendalam terhadap isi dari informasi tertulis, dalam hal ini adalah novel AAA yang ditulis sebagai jawaban terhadap isi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh masyarakat Dayak melalui pembakaran hutan. Kegiatan yang dilakukan adalah membaca, mencermati, menafsirkan, dan menganalisis novel AAA karya KLR. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel AAA karya KLR dan literatur yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca, teknik catat, dan teknik kajian kepustakaan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat lima nilai kearifan lingkungan dalam novel AAA karya karya KLR.
Manajemen Produksi Pergelaran: Peranan Leadership dalam Komunitas Seni Pertunjukan Heny Purnomo; Lilik Subari
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v3i2.9951

Abstract

Seni populer selalu menghadirkan ruang sempit terhadap bentuk pertunjukan yang diselenggarakan secara langsung (live). Perkembangan budaya popular kedalam kehidupan seni pertunjukan telah me-munculkan transformasi nilai, ketika lembaga pemerintahan kurang dapat bersinergi dengan komunitas kesenian, maka terjadi berbagai benturan dalam proses berkesenian. Nilai estetik yang hadir melalui proses artistik, kini hanya dijadikan alat mendatangkan nilai ekonomi semata, sehingga “keindahan” sering dimaknai sebagai sesuatuhal yang harus menghasilkan keuntungan secara komersial. Sebaliknya perkembangan seni populer yang ditandai pesatnya media elektronik telah membawa pengaruh terhadap aktivitas produksi pergelaran. Pementasan kesenian tradisi yang diselenggarakan secara langsung sekarang semakin susah dijumpai, dan sering pula menghadapi persaingan dengan kesenian yang telah  dikomodifikasikan melalui media televisi. Tumbuh-kembang media televisi bahkan telah memicu pertumbuhan industri hiburan yang berorientasi komoditas dan keuntungan finansial. Tayangan hiburan di berbagai layar media televisi juga dapat memalingkan penonton dari pementasan yang diselenggarakan secara live. Perkembangan seni popular yang didukung teknologi dan kecepatan informasi telah membawa pengaruh transformasi dengan hadirnya industri hiburan, hal tersebut menjadi fenomena yang berdampak terhadap keberadaan pertunjukan maupun perilaku penontonnya. Penelitian bertujuan mendeskripsikan faktor pendukung produksi pergelaran, menjelaskan pengelolaan dan peranan leadership dalam komunitas kesenian. Untuk meng- analisa data digunakan teori relevan melalui analogi Goffman, dan manajemen ditunjang konsep kepemimpinan, sehingga hasil penelitian dapat digunakan menjawab fenomena yang terjadi. Penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan peranan leadership ini, lebih menitik-beratkan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, studi pustaka maupun dokumentasi. Penelusuran faktor pendukung dan produksi pergelaran menghasilkan asumsi tentang manajemen serta peranan kepemimpinan dalam keberadaan komunitas seni pertunjukan.
Jidor Sentulan: Kajian Rekonstruksi dan Budaya Koko Hari Pramono
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v3i2.9952

Abstract

Jidor Sentulan merupakan kesenian tradisional asli Jombang yang keberadaannya terancam di era modernisasi saat ini. Penelitian ini bertujuan melakukan rekonstruksi kesejarahan dan kandungan nilai budaya yang terdapat dalam pertunjukan Jidor Sentulan. Penelitian dilakukan di desa Bongkot, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian adalah pertunjukan dan informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian ini muncul pada kisaran 1830-1840 di bawa oleh seorang prajurit Pangeran Diponegoro. Pertunjukan ini berbentuk drama yang mementaskan sebuah lakon dalam pertunjukannya. Cerita yang dipentaskan dalam pertunjukan memiliki nilai budaya, yaitu mengenai hakikat hidup manusia, hakikat karya manusia, dan hakikat hubungan antarmanusia.
Interpretasi, Ekspresi, dan Style Film Pendek Perspektif Terbalik karya Andree Sascha Yunis Dwi Retnani
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v3i2.9953

Abstract

Perspektif Terbalik merupakan salah satu film pendek terbaik Indonesia karya Andree Sascha dengan durasi kurang lebih delapan menit. Film yang tidak menggunakan prolog dan beberapa dialog dari beberapa pemain yang terekam di dalamnya pun berhasil menarik beberapa perhatian viewer, serta mendapatkan berbagai penghargaan.Sehingga, hal tersebut menarik perhatian penulis untuk mengkaji film ini dengan menggunakan pandangan Rudolf Arnheim bahwa film as art, artinya sebuah film dibuat dengan mengandung unsur nilai seni ataupun estetika dan diharapkan bagi penikmat hasil karya seni dapat melakukan interpretasi atau pemaknaan sesuai imajinasinya terhadap sebuah film. Fokus dalam penelitian ini menggunakan interpretasi individual, ekspresi, dan style dalam film pendek “perspektif terbalik” karya Andree Sascha untuk merepresentasi makna. Hasil yang didapat ialah film ini mengajak penonton untuk memberikan makna secara bebas dan tidak seperti biasanya atau terbalik. Berdasarkan tiga fokus penelitian terhadap film ini, perspektif terbalik memiliki makna keseluruhan terkait dengan pesan film itu sendiri, yaitupenonton tidak dianjurkan untuk melakukan hal-hal yang berbau negatif dan dari unsur-unsur sinemanya, serta maksud dari judulnya sendiri ialah penonton diajak melakukan interpretasi terhadap bagian-bagian yang melekat pada film karena merekalah yang berbicara mengenai alur cerita dan harus memiliki pemikiran yang berbeda atau perspektif secara terbalik dengan apa yang telah dilihatnya
Resepsi Ikatan Keluarga Banyuwangi Terhadap Mantra Sabuk Mangir Dayu Rahma Dhani; Vindy Berlian Awanda; Santi Novitasari
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v3i2.10243

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resepsi yang dilakukan oleh Ikatan Keluarga Banyuwangi yang ada di Malang terhadap mantra sabuk mangir. Sumber data penelitian ini adalah mahasiswa asal Banyuwangi yang tergabung dalam Ikawangi yang ada di universitas di Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan teori resepsi sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan generasi muda terhadap mantra sabuk mangir beragam. Hanya sedikit yang mengerti secara mendalam fungsi dan kegunaan mantra ini. Meskipun begitu, bagi mereka yang tidak mengerti secara mendalam mempersepsi bahwa mantra ini merupakan mantra pengasih yang biasa digunakan untuk mencari jodoh. Hal ini menunjukkan bahwa mantra sabuk mangir di tengah masyarakat Banyuwangi, khususnya pelajar, tidak banyak lagi diketahui.
Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal di Sekolah Daroe Iswatiningsih
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v3i2.10244

Abstract

Pendidikan karakter sampai saat ini masih perlu ditanamkan pada siswa dalam pembelajaran. Pendidikan karakter diharapkan mampu menguatkan lima nilai utama karakter, yakni nilai religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Dalam penguatan pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan melalui pendidikan budaya berkearifan lokal. Budaya kearifan lokal perlu dikenalkan dan diajarkan di sekolah agar menumbuhkan sikap cinta budaya.  Para siswa saat ini kurang memiliki sikap peduli dan mencintai budaya. Untuk itu, paparan berikut menjelaskan bagaimana mengimplementasikan pendidika karakter berbasis kearifan lokal.
Kartu Ragam Gerak Tari Pendet Berbasis 3 Bahasa sebagai Stimulasi Kinestetik Anak Tuna Grahita Arina Restian; Alifatussa'dah Alifatussa'dah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v3i2.10245

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melatih kecerdasan kinestetik siswa tuna grahita di SDN Pandanwangi 3 Malang. Hal ini dilakukan dengan memberikan stimulasi kinestetik berupa gerakan-gerakan dasar tari pendet yang dijelaskan melalui media kartu ragam gerak tari pendet. Dalam media ini digunakan 3 bahasa sebagai bahasa pengantarnya, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Thailand. Penelitian menggunakan model ADDIE. Sumber data penelitian adalah siswa tuna grahita di SDN Pandawangi 3 Malang, GPK, validator ahli materi dan media. Penelitian dilakukan 2 kali pada semester genap 2018/2019. Penelitian dilakukan dalam 5 tahapan, yaitu analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukan (1) telah dilakukan implementasi pengembangan kartu ragam gerak tari pendet berbasis 3 bahasa dengan cara melakukan proses belajar mengajar dan penerapan 10 gerakan dasar tari pendet yang terdapat di dalam kartu ragam gerak tari pendet, (2) keefektifan pengembangan kartu ragam gerak tari pendet berbasis 3 bahasa sebagai stimulasi kinestetik  pada anak tuna grahita di SDN Pandanwangi 3 Malang harus diterapkan. Hal ini ditunjukan dengan uji keefektifan hasil belajar dengan presentase 65% dan uji keefektifan observasi aktivitas belajar dengan presentase 81,25%. Serta adanya uji kelayakan dari validator ahli media dan validator ahli materi. Hasil ini menunjukkan bahwa media pembelajarna yang dikembangkan efektif untuk digunakan dalam menstimulasi siswa tuna di SDN Pandanwangi 3 Malang
Front Matter Jurnal Satwika Vol.3 No.2 (2019) Jurnal Satwika
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v3i2.10252

Abstract

Back Matter Jurnal Satwika Vol.3 No.2 (2019) Jurnal Satwika
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v3i2.10253

Abstract

Dimensi Vertikal dan Horisontal Pendidikan Agama dalam Gendrung Sewu di Banyuwangi Joko Widodo; Robby Cahyadi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v3i2.27900

Abstract

Festival Gandrung Sewu merupakan festival rutin yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali. Hal ini merupakan upaya dalam melestarikan dan mengembangkan budaya kearifan lokal di kota Banyuwangi. Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian ilmu antropologi. Penelitian dilakukan di kota Banyuwangi, adapun subjek penelitiannya tokoh atau sesepuh, pawang atau dukun, dinas pariwisata kota Banyuwangi, pelaku penari Gandrung sewu dan masyarakat setempat. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: wawancara dan angket kuesioner. Hasil penelitian ini adalah adanya muatan Pendidikan Bergama dalam dimensi vertical dan horizontal. Dimensi vertical diwujudkan dengan berdoa dan bersyukur. Dimensi horizontal diimplementasikan dalam bentuk nilai kemanusiaan, keagamaan, dan kepribadian. Fungsi nilai pendidikan mencakup sejarah budaya kearifan lokal Banyuwangi. Pada fungsi nilai budaya mencakup pemahaman dan pengembangan budaya Banyuwangi. Pada fungsi nilai sosial mencakup rasa persaudaraan dan rasa solidaritas tinggi. Terakhir, pada fungsi nilai ekonomi mencakup kesejahteraan perekonomian masyarakat Banyuwangi. Gandrung Sewu Festival is a routine festival held once a year. This is an effort to preserve and develop the culture of local wisdom in the city of Banyuwangi. In this study, researchers used qualitative methods with an anthropological study approach. The research was conducted in the city of Banyuwangi, as for the research subjects were figures or elders, handlers or shamans, the tourism office of the city of Banyuwangi, Gandrung sewu dancers and the local community. The data collection techniques used are: interviews and questionnaire questionnaires. The result of this study is the content of Bergama Education in vertical and horizontal dimensions. The vertical dimension is realized by praying and giving thanks. The horizontal dimension is implemented in the form of human, religious, and personality values. The function of educational value includes the cultural history of local wisdom of Banyuwangi. The function of cultural values includes understanding and developing Banyuwangi culture. On the function of social values include a sense of brotherhood and a sense of high solidarity. Finally, the economic value function includes the economic welfare of the people of Banyuwangi.

Page 1 of 1 | Total Record : 10