MEDIA INFORMASI
Buletin Media Informasi dengan nomor ISSN : 2086-3292 dan ISSN online : 2655-9900 merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Unit penelitian Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya. Buletin Media Informasi diterbitkan 6 bulan sekali berisikan berisikan Artikel kesehatan dari Bidang: Keperawatan, Kebidanan, Keperawatan Gigi,Gizi, Farmasi, Rekam Medik dan Informasi Kesehatan (RMIK).
Articles
13 Documents
Search results for
, issue
"Vol 15, No 2 (2019): MEDIA INFORMASI"
:
13 Documents
clear
HUBUNGAN KONSUMSI FE DENGAN PANJANG BADAN PADA ANAK USIA 12-24 BULAN
Eline Charla Sabatina Bingan
Media Informasi Vol 15, No 2 (2019): MEDIA INFORMASI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (696.689 KB)
|
DOI: 10.37160/bmi.v15i2.415
Stunting (tubuh pendek) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang harus ditangani secara serius. Hasil pemantau Status Gizi (PSG) pada Tahun 2016 Laporan Tahun 2017, sebesar 29% balita Indonesia mengalami tubuh pendek yaitu 18,9% (pendek) dan 10,1% (sangat pendek). Hasil studi membuktikan bahwa pengaruh faktor keturunan hanya berkontribusi sebesar 15%, sementara unsur terbesar adalah terkait masalah asupan gizi, hormon pertumbuhan dan terjadinya penyakit infeksi berulang. Salah satu penyebab BBLR yaitu ibu yang anemia. Penyebab terjadinya anemia pada ibu hamil adalah kekurangan zat besi (Fe). Sehingga anak yang kekurangan energi protein dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak di usianya. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan konsumsi Fe dengan kejadian panjang badan pada anak usia 12-24 bulan. Metode penelitian observasional analitik yaitu untuk mengetahui hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat. Desain penelitian menggunakan Case Contol. Hasil analisis statistik bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan panjang badan anak pada ibu yang patuh dan tidak patuh konsumsi Tablet Fe dengan nilai P Value 0,002 (α 0,05).
ANALISIS BIAYA EFEKTIF TERAPI SKABIES PERMETRIN 5% DAN SALEP 2-4
Nuri Handayani;
Lingga Ikaditya
Media Informasi Vol 15, No 2 (2019): MEDIA INFORMASI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (435.787 KB)
|
DOI: 10.37160/bmi.v15i2.432
Scabies is a skin disease caused by Sarcoptes scabiei infection. The World Health Organization (WHO) estimates that the world incidence is 0.2-24%, Indonesia has a high prevalence of scabies, at any age. Research Objectives: The object of this study is to compare the cost-effectiveness of permethrin 5% with Unguentum 2-4 in patients with scabies. Research Type : The research type of this study is Cost-Effectiveness Analysis, the population in this study were students who diagnosed with scabies in Miftahul Huda Islamic boarding school. The sample recruited were 21 patients. Research Results: The analysis of Average Cost Effectiveness (ACER) and Additional Cost Effectiveness Ratio (ICER) performedand show the use of Unguentum 2-4 is more effective than Permethrin 5%. The score of ACER Unguentum 2-4 is 521,978, while Permethrin 5% is 841,837. ICER value is Rp. 5,000 for an increase of 1 unit effectivity of Permethrin 5%toUnguentum 24. Keywords: Permethrin 5%, Unguentum 2-4, ACER, ICER
PENGARUH PIJAT TERHADAP TINGKAT KESULITAN MAKAN BALITA USIA 1 TAHUN
Happy Marthalena Simanungkalit
Media Informasi Vol 15, No 2 (2019): MEDIA INFORMASI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (271.674 KB)
|
DOI: 10.37160/bmi.v15i2.360
Nafsu makan yang baik perlu di bentuk sejak dini agar tidak timbul gangguan makan di kemudian hari. Balita yang pola makannya terganggu berdampak terhadap kesehatan balita sehingga mudah terserang penyakit. Salah satu cara untuk mencegah hal tersebut adalah dengan cara melakukan pijat pada balita tersebut. Pijat padabalita merupakan terapi sentuh kontak langsung dengan tubuh yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman pada balita. Sentuhan dan pelukan dari seorang ibu adalah kebutuhan dasar balita. Jika pijat dilakukan secara teratur akan meningkatkan hormon katekolamin (epinefrin dan norepinefrin) yang dapat memicu stimulasi tumbuh kembang karena dapat meningkatkan nafsu makan, meningkatkan berat badan, dan merangsang perkembangan struktur maupun fungsi otak.Mengetahui Pengaruh Pijat Terhadap Tingkat kesulitan makan balita umur 1 tahun di Puskesmas Baamang II Tahun 2019.Penelitian ini menggunakan rancangan metode one group pretest posttest design. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai April 2019. Populasi studi penelitian ini adalah balita di Wilayah Kerja Puskesmas Baamang II. Sampel dengan jumlah 15 responden. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon.Setelah dilakukan analisa bivariat dengan statistik uji Wilcoxon didapatkan nilai p-value= 0,000 0,05, dapat disimpulkan bahwa H0 di tolak dan Ha diterima yang berarti ada pengaruh yang signifikan pada tingkat kesulitan makan balita sebelum dan sesudah dilakukan pemijatan, dimana nafsu makan balita sebanyak 15 responden (100%) sebelum dilakukan pemijatan mengalami kesulitan makan. Setelah dilakukan pemijatan, dari 15 responden yang tidak sulit makan sebanyak 13 responden (86,7%) dan yang tetap sulit makan sebanyak 2 responden (13,3%) dengan rata-rata (mean rank) adalah 7. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh pijat terhadap peningkatan nafsu makan balita usia 1 tahun. Ada pengaruh pijat terhadap peningkatan nafsu makan balita usia 1 tahun Kata Kunci : Pijat, Tingkat Kesulitan Makan, balita
HUBUNGAN MOTIVASI PASIEN DENGAN KEPATUHAN KONTROL ORTHODONTIK CEKAT DI KLINIK SWASTA YOGYAKARTA
Seri Wahyuni;
Herastuti Sulistyani;
Siti Hidayati
Media Informasi Vol 15, No 2 (2019): MEDIA INFORMASI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (503.067 KB)
|
DOI: 10.37160/bmi.v15i2.376
Perawatan orthodonti memerlukan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikannnya, kunjungan rutin harus ditaati. Keberhasilan perawatan orthodonti memerlukan motivasi yang tinggi dalam perawatan. Kegagalan untuk mentaati jadwal seringkali merupakan indikasi dari kurangnya kepatuhan di pihak pasien. Berbagai cara dapat dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan kontrol, salah satunya adalah pasien dimotivasi dengan baik agar mengerti dan menghargai perlunya jadwal kunjungan yang teratur. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya hubungan motivasi pasien dengan kepatuhan kontrol orthodonti cekat di Yogyakarta.Penelitian ini adalah survey analitik dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling Jenis dan teknik pengumpulan data dengan menggunakan data primer diambil dari hasil kuesioner dan data sekunder diambil secara langsung pada rekam medik. Populasi penelitian ini adalah pasien orthodonti cekat di klinik Yogyakarta. Analisis data menggunakan Korelasi Kendalls Tau. Motivasi pasien orthodonti cekat diketahui sebanyak 92,3% masuk dalam kategori motivasi tinggi. Kepatuhan kontrol pasien orthodonti cekat diketahui sebanyak 63,5% adalah pasien yang patuh kontrol. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara motivasi pasien dengan kepatuhan kontrol orthodonti cekat (p=0.007). Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara motivasi pasien dengan kepatuhan kontrol orthodonti cekat.
EVALUASI KESESUAIAN OBAT DAN DOSIS ANTIHIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT “X” KOTA TASIKMALAYA
Nida Ahadiah;
Nuri Handayani;
Eddy Suhardiana
Media Informasi Vol 15, No 2 (2019): MEDIA INFORMASI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (417.362 KB)
|
DOI: 10.37160/bmi.v15i2.409
Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di Indonesia. Prevalensi hipertensi akan terus meningkat tajam, sehingga penggunaan obat yang rasional oleh pasien hipertensi perlu diperhatikan karena merupakan salah satu elemen penting dalam tercapainya kualitas kesehatan. Dalam pengobatannya, terapi penggunaan obat antihipertensi perlu dievaluasi untuk meningkatkan keberhasilan terapi. Tujuan penelitian untuk mengetahui evaluasi kesesuaian obat dan dosis antihipertensi di instalasi rawat jalan RS “X” Kota Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif evaluatif dengan pengumpulan data secara prospektif dan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Data pasien dan profil penggunaan obat antihipertensi diperoleh melalui catatan medik pasien. Diperoleh sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 100 sampel. Semua data sampel kemudian diolah dan dianalisis untuk mengetahui kesesuaian obat dan dosis antihipertensi kemudian disesuaikan dengan rekomendasi dari JNC VIII. Hasil penelitian menunjukkan gambaran terapi antihipertensi terbanyak di instalasi rawat jalan RS “X” pada bulan Juni-Juli 2019 adalah amlodipine untuk terapi tunggal dan untuk terapi kombinasi adalah amlodipine dengan lisinopril. Pada evaluasi kesesuaian obat dan dosis antihipertensi terdapat ketidaksesuaian penggunaan obat yaitu, 5 kasus pada pasien hipertensi dengan DM sebesar 4,8%, 4 kasus pada pasien hipertensi dengan CKD sebesar 80% serta 2 kasus ketidaksesuaian dosis berupa dosis yang kurang dari dosis yang dianjurkan yaitu pada penggunaan obat lisinopril sebesar 1,3%.Kata kunci: hipertensi, kesesuaian obat dan dosis, obat antihipertensi
ANALISIS FAKTOR TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG TINDAKAN SWAMEDIKASI DIARE
Kiki Ambar Kurniasih;
Supriani Supriani;
Definingsih Yuliastuti
Media Informasi Vol 15, No 2 (2019): MEDIA INFORMASI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (430.098 KB)
|
DOI: 10.37160/bmi.v15i2.321
Masyarakat melakukan swamedikasi untuk mengatasi keluhan-keluhan dan penyakit ringan seperti diare. Data kasus diare di fasilitas kesehatan Provinsi Jawa Tengah sejumlah 924.926 dan jumlah yang baru tertangani 45,1%. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran tingkat pengetahuan masyarakat Jangrana Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap terhadap tindakan swamedikasi diare. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan survei yang bersifat analitik dengan menggunakan metode cross sectional. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan angket (kuesioner). Analisis data menggunakan metode analisis variansi tunggal dan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Desa Jangrana memiliki tingkat pengetahuan terhadap tindakan swamedikasi diare dengan kategori baik yang ditunjukkan 221 responden (69,9%), cukup 69 responden (21,8%), dan kurang 26 (8,2%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa umur, pendidikan, dan pekerjaan memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat pengetahuan terhadap tindakan swamedikasi diare, sedangkan jenis kelamin tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat pengetahuan terhadap tindakan swamedikasi diare.
PERTUMBUHAN ANAK SEKOLAH DASAR YANG MENGALAMI STUNTING UMUR 0-23 BULAN
Samuel Samuel;
Asep Riyana
Media Informasi Vol 15, No 2 (2019): MEDIA INFORMASI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (280.923 KB)
|
DOI: 10.37160/bmi.v15i2.374
ABSTRAKNegara berkembang seperti Indonesia menghadapi permasalahan gizi ganda berupa masalah kekurangan dan kelebihan gizi. Hal ini tidak hanya terjadi di daerah perkotaan tetapi juga di pedesaan. Dari permasalahan kekurangan gizi, terdapat masalah yang sangat penting yaitu stunting. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, stunting di Indonesia prevalensi pada umur 0-23 bulan sebesar 29,9%. Penelitian ini bertujuan menganalisis riwayat kejadian stunting, yang terjadi di umur 0-23 bulan sebagai faktor risiko gangguan pertumbuhan pada anak sekolah dasar. Desain penelitian cohort retrospective, dimana anak yang memiliki riwayat stunting sebagai faktor risiko dan gangguan pertumbuhan pada anak sekolah dasar sebagai faktor efek. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan proporsi gangguan pertumbuhan antara anak sekolah dasar yang memiliki riwayat stunting dengan yang tidak memiliki riwayat stunting (p0,05). Risiko Relatif (RR) 2,3 (95% CI= 1,0-5,2), yang berarti stunting yang terjadi pada usia di bawah dua tahun merupakan faktor risiko gangguan pertumbuhan anak sekolah dasar. Kata kunci : Pertumbuhan, Anak, Sekolah Dasar, Stunting
PENGEMBANGAN PANDUAN PRAKTIK ASUHAN KEBIDANAN KOMPLEMENTER DALAM PENCAPAIAN PEMBANGUNAN KESEHATAN IBU DAN ANAK
Atit Tajmiati;
Emi Nurjasmi;
Zaitun Zaitun
Media Informasi Vol 15, No 2 (2019): MEDIA INFORMASI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (513.418 KB)
|
DOI: 10.37160/bmi.v15i2.398
Penelitian ini dilatar belakangi dari masalah pemberian asuhan kebidanan yang belum optimal dalam bermitra dengan perempuan untuk mengedukasi dan memberdayakan wanita sebagai upaya promotif dan preventif sehingga ibu memiliki kesadaran untuk berperan aktif menjaga kesehatannya. Tujuan dari penelitian ini untuk menghasilkan produk berupa panduan praktik asuhan kebidanan komplementer dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan menurut Prof Dr.Sugiyono, Subjek penelitian adalah Bidan Praktik mandiri yang sudah memiliki pengalaman latihan asuhan komplementer yang berdomisili di Kota Tasikmalaya dan jakarta Timur sebanyak 30 orang. Pada tahap potensi dan masalah ditemukan hasil asuhan yang belum optimal klien hanya pasrah bagaimana perintah Bidan, kurang terlihat adanya kerjasama dengan klien, hasil analisis uji coba pemakaian menunjukan bahwa panduan praktik asuhan kebidanan komplementer yang dikembangkan dinyatakan valid. Hasil validasi akhir menyatakan bahwa panduan praktik memiliki tingkat kevalidan dengan presentase rata-rata 85,05% dengan kriteria sangat layak. Pada uji coba dilapangan menunjukan cukup efektif, hal tersebut dibuktikan hasil akhir lembar observasi klien sudah menunjukan sifat kooperatif dan mau bekerjasama dalam pelaksanaan asuhannya, dengan normal gain nilai akhir 0,71. Presentase nilai rata-rata kognitif klien 83,66, nilai afektif 3,77 dengan kriteri sangat baik dari skor minimal 4 dan psikomotor 3,84 dengan kriteria A dari skor minimal 4. Kata Kunci :Kebidanan, Asuhan Kebidanan Komplementer, Panduan praktik
PPENGARUH PEMBERIAN SARI KURMA TERHADAP PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI YANG MENGALAMI ANEMIA
Sofia Mawaddah
Media Informasi Vol 15, No 2 (2019): MEDIA INFORMASI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (342.044 KB)
|
DOI: 10.37160/bmi.v15i2.385
Anemia pada remaja dapat menyebabkan keterlambatan pertembuhn fisik, gangguan perilaku serta emosional. Beberapa faktor penyebab anemia yaitu rendahnya asupan zat besi dan zat gizi lainnya seperti vitamin A,C,Folat, Riboplafin dab B12. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sari kurma terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri. Metode penelitian yang digunakan quasi eksperimen, dengan pendekatan One group pretest-postettest design. Teknik sampel dengan Consecutive sampling sebanyak 35 sample remaja putri dengan variabel independen sari kurma, variabel dependen kadar hemoglobin, dan variabel luar usia, pendidikan orang tua, pendapatan orang tua dan kebiasaan sarapan pagi. Analisis univariat menggunakan distribusi, frenkuesi, dan persentasi. Analisa bivariat menggunakan uji paired sample t-test. Hasil uji paired sample t-test menunjukan ada pengaruh sari kurma terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMPN 11 Palangka Raya dengan p-Value= 0,00. Sari kurma dapat digunakan sebagai salah satu alternative pilihan untuk meningkatkan kadar Hb pada remaja puteri.Kata Kunci : Anemia, Hemoglobin, Sari kurma, Remaja putri
AKTIVITAS JALAN KAKI SETIAP HARI & 3 KALI PERMINGGU PADA PENDERITA DM DI CIREBON
Omay Rohmana;
Ati Siti Rochayati;
Eyet Hidayat
Media Informasi Vol 15, No 2 (2019): MEDIA INFORMASI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37160/bmi.v15i2.422
ABSTRAKSFaktor risiko penyakit tidak menular termasuk diabetes, 26.1% akibat kurang aktifitas fisik. American College of Sports Medicine (ACSM), aktivitas berjalan kaki direkomendasikan dilakukan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan, mengetahui pengaruh aktifitas fisik jalan kaki 30 menit setiap hari dibanding 60 menit 3 kali per minggu terhadap kadar gula darah penderita DM Tipe 2. Desain penelitian adalah eksperimen, pretest-postest intervention, responden penderita DM tipe 2 sebanyak 32 orang (16 orang/kelompok perlakuan), dan analisis data Independent Sample T Test Paired T Test. Hasil penelitian, terjadi penurunan kadar gula kadar rata-rata 9 mg/dl pada latihan jalan kaki 30 menit setiap hari (5 kali) perminggu dan rata-rata 48 mg/dl pada latihan jalan kaki 60 menit 3 kali perminggu. Latihan jalan kaki 60 menit 3 kali perminggu, berpengaruh terhadap penurunan kadar gula darah (α = 0,024 0,05), terdapat perbedaan bermakna antara perlakuan aktifitas fisik jalan kaki 30 menit setiap hari dibanding perlakuan aktifitas jalan kaki 60 menit 3 kali perminggu (α = 0,033 0,05). Disarankan pemberdayaan masyarakat dalam melaksanakan jalan kaki secara rutin dan teratur selama 60 menit 3 kali perminggu karena baik sebagai upaya menangani penderita DM tipe 2 secara non-farmakologis. Kata Kunci : jalan kaki, kadar gula darah