cover
Contact Name
Jurnal Living Islam
Contact Email
living.islam@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
living.islam@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Living Islam: Journal of Islamic Discourses
ISSN : 26216582     EISSN : 26216590     DOI : -
Living Islam: Journal of Islamic Discourses merupakan jurnal yang berada di bawah naungan Prodi Pascasarjana Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Living Islam: Journal of Islamic Discourses didesain untuk mewadahi dan mendialogkan karya ilmiah para peneliti, dosen, mahasiswa dan lain-lain dalam bidang studi: Filsafat Islam, al-Qur'an dan Hadis, dan Studi Agama dan Resolusi Konflik, baik dalam ranah perdebatan teoritis, maupun hasil penelitian (pustaka dan lapangan). Living Islam: Journal of Islamic Discourses terbit dua kali dalam satu tahun, yakni pada bulan Mei dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2022)" : 10 Documents clear
RESOLUSI KONFLIK KEAGAMAAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL: STUDI ATAS PELA GANDONG DI AMBON Ismail, Roni; Wakano, Abidin; Leasiwal, Genoveva
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i1.3012

Abstract

AbstractThis article aims to analyze the role of pela gandong as local wisdom used as a cultural conflict resolution in the 1999-2002 Ambon conflict. Using sociology of conflict approach, the theory of cultural conflict resolution, and methods of collecting observational data and interviews with Ambonese Muslims and Christians, this paper finds that, first, ethnocentrism is the main cultural cause of the Ambon conflict, and, second, the Ambon conflict is resolved and peace is built firmly through the cultural conflict resolution of pela gandong. With noble values, especially brotherhood, equality, equality, togetherness and tolerance, pela gandong is very effective in resolving cultural conflicts both during the Ambon conflict, post-conflict and in fostering peace until now. During the Ambon conflict, there was no conflict between Muslim and Christian countries that were bound by pela gandong. After the conflict occurred, pela gandong became the foundation of cultural conflict resolution in rebuilding peace, strengthening the capacity of Ambonese people "from within"; rebuild their broken relationship; reaffirming the value of brotherhood among Maluku peoples; teach mutual recognition of religious and cultural differences; accelerate recovery from conflict trauma; re-knitting the greetings of fraternity; and building mutual trust between Muslim and Christian countries. Meanwhile, in the process of building peace up to now, Ambonese admit that pela gandong is effective in preventing “outsiders” who keep trying to reescalate the conflict, because every country in Ambon is already engaged in pela gandong one with another country.Keywords: pela gandong, religious cultural resolution, local wisdom. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran pela gandong sebagai resolusi konflik kultural dalam konflik Ambon 1999-2002. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi konflik, teori reolusi konflik kultural, serta metode pengumpulan data observasi dan wawancara dengan warga Ambon Muslim dan Kristen, tulisan ini menemukan bahwa, pertama, etnosentrisme merupakan penyebab kultural utama konflik Ambon, dan, kedua, konflik Ambon diselesaikan dan kedamaian terbangun kokoh melalui resolusi konflik kultural pela gandong. Dengan nilai-nilai luhur utamanya persaudaraan, persamaan, kesetaraan, kebersamaan dan toleransi, pela gandong sangat efektif menjadi resolusi konflik kultural baik selama konflik Ambon terjadi, paska konflik maupun dalam membina damai hingga kini. Selama konflik Ambon terjadi, tidak ditemukan adanya konflik antara negeri-negeri Muslim dan Kristen yang terikat pela gandong. Paska konflik terjadi, pela gandong menjadi fondasi resolusi konflik kultural dalam membangun kembali perdamaian, menguatkan kapasitas warga Ambon “dari dalam”; membangun kembali hubungan mereka yang sempat retak; menegaskan kembali nilai bersaudara sesama orang Maluku; mengajarkan saling mengakui perbedaan agama dan budaya; mempercepat pemulihan dari trauma konflik; merajut kembali persaudaraan salam sarane; dan membangun saling percaya antara negeri-negeri Muslim dan Kristen. Sedangkan dalam proses bina damai hingga kini, pela gandong juga diakui warga Ambon efektif menangkal “tangan-tangan luar” yang terus mencoba mengeskalasikan kembali konflik karena setiap negeri di Ambon sudah ber-pela gandong dengan satu negeri.
URGENSI LITERASI DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR MAQASHIDI Kurniasih, Imas
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i1.3113

Abstract

AbstractThis research was conducted because of the writer's anxiety about the low literacy rate among students in Indonesia. This is due to the lack of student motivation to do literacy. Students do not understand what the benefits and importance of literacy are for their lives, as well as the dangers of leaving literacy. This study aims to explore the urgency of literacy based on Maqashidi interpretation, a new method of interpreting the Qur'an by exploring the maqashid sharia and maqashid Qur'an from the thematically discussed verses. This study resulted that there are seven maqashid (goals and wisdom) of Literacy, namely 1) Hifdz al-Din, 2) Hifdz al-Nafs, 3) Hifdz al-Nashl, 4) Hifdz al-'Aql, 5) Hifdz al- Mal, 6) Hifdz al-Bi'ah, 7) Hifdz al-Daulah. Literacy is a primary need (dharuriyah) that must be met because it greatly influences the realization of the 7 aspects of maqashid shari'ah. In addition, Literacy also contains the Hajjiyah dimension, namely literacy activities should be integrated in the education curriculum in Indonesia and guided by professional teachers. The dimension of Tahsiniyyah Literacy can be realized by the role of the government in providing infrastructure and complete learning and research facilities, as well as an adequate library and internet network. In realizing maqashid sharia, literacy activities must be guided by the fundamental values of the Qur'an, namely the value of justice (al-'Adalah), humanity (Insaniyah), moderation (Wasathiyah), freedom of responsibility (Hurriyah-Mas'uliyah), and equality (al-Musawah). School as educational institutions play an important role in efforts to instill awareness in students about the urgency of literacy in realizing maqashid sharia.Keywords: Literacy, Maqashidi interpretation, education.AbstraksiPenelitian ini dilakukan karena kegelisahan penulis tentang rendahnya literasi di kalangan siswa di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan kurangnya motivasi siswa untuk melakukan literasi. Siswa tidak memahami apa manfaat dan pentingnya literasi bagi kehidupan mereka, sekaligus bahayanya jika meninggalkan literasi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali urgensi literasi berdasarkan tafsir Maqashidi, suatu metode baru dalam menafsirkan al-Qur’an dengan menggali maqashid syariah dan maqashid Qur’an dari ayat yang dibahas secara tematik. Penelitian ini menghasilkan bahwa ada tujuh maqashid (tujuan dan hikmah) dari Literasi, yaitu 1) Hifdz al-Din, 2) Hifdz al-Nafs, 3) Hifdz al-Nashl, 4) Hifdz al-‘Aql, 5) Hifdz al-Mal, 6) Hifdz al-Bi’ah, 7) Hifdz al-Daulah. Literasi adalah kebutuhan primer (dharuriyah) yang harus dipenuhi karena sangat berpengaruh terhadap terwujudnya 7 aspek maqashid syari’ah. Selain itu, Literasi juga mengandung dimensi Hajjiyah, yaitu hendaknya kegiatan literasi terintegrasi dalam kurikulum pendidikan di Indonesia dan dibimbing oleh guru yang profesional. Dimensi Tahsiniyyah Literasi dapat diwujudkan dengan peran pemerintah dalam penyediaan infrastruktur dan fasilitas pembelajaran dan penelitian yang lengkap, juga perpustakaan dan jaringan internet yang memadai. Dalam mewujudkan maqashid syariah, aktivitas literasi harus berpedoman kepada nilai-nilai fundamental al-Qur’an, yaitu nilai keadilan (al-‘Adalah), kemanusiaan (Insaniyah), moderasi (Wasathiyah), kebebasan bertanggung jawab (Hurriyah-Mas’uliyah), dan kesetaraan (al-Musawah). Sekolah sebagai lembaga pendidikan berperan penting dalam upaya mananamkan kesadaran kepada siswa tentang urgensi literasi dalam mewujudkan maqashid syariah.Kata kunci: Literasi, tafsir Maqashidi, pendidikan.
RESEPSI PENGALUNGAN JIMAT KALUNG BENANG PADA BAYI DALAM TRADISI MASYARAKAT LAMONGAN HIdayatus Sya'dyya, Dini Tri
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i1.2257

Abstract

Religious life that practiced and understood by each community is diverse. It implicates that the understanding of something good to do and what is not to do are still varies one with another. So that belief in sacred goods is still even practiced today. As for trust in sacred objects, there are still pros and cons to society, on the other hand, trust has been slightly eroded due to the rapid development of technology that is consumed by the community. However, there are also some areas that still believe in sacred objects, such as in the Lamongan area, there is a belief in necklace thread talismans worn by babies who are still developing today, so this behavior is feared to violate the Qur'an and Hadith.Keywords: Talisman Charm, Thread Necklace, Lamongan Community Tradition.Kehidupan beragama yang sering dipahami oleh setiap masyarakat ialah berbeda-beda, sehingga pemahaman terhadap seuatu yang baik untuk dilakukan dan tidak masih bervariasi. Sehingga kepercayaan terhadap barang barang keramat masih saja dilakukan sampai saat ini. Adapun kepercayaan terhadap benda kermat masih menjadi pro dan kontra terhadap masyarakat, disisi lain kepercayaan sudah sedikit terkikis dikarenakan pesatnya perkembangan teknologi yang konsumi oleh masyarakat. Namun ada juga beberapa wilayah yang masih percaya dengan benda keramat, seperti diwilayah lamongan adanya kepercayaan terhadap jimat benang kalung yang dikenakan oleh bayi yang masih berkembang sampai saat ini, sehingga perilaku ini dikawatirkan menyalahi Al-Qur’an maupun Hadis.
TRADISI MALAM SATU MUHARAM DI PONDOK PESANTREN TAHFIDZUL QURAN AL HIKMAH PURWOASRI KEDIRI Husna, Nailyl Fida
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i1.3560

Abstract

AbstractThis article briefly describes one of the traditions of welcoming the arrival of the first night of Muharram. Indonesia is known for its diversity of traditions, customs and cultures, most of which were born before the arrival of Islam. This raises a big question mark about the validity of the tradition. Therefore, the ulama' are looking for a middle way between the two, which can be done but does not conflict with the religious law. One example is the tradition at the Tahfidzul Quran Al Hikmah Islamic Boarding School which has a tradition of reading the verse of the chair every night one Muharram. As for the procedure, it begins with prayer at the beginning and end of the year followed by prayer in congregation, tawassul, reading the verse of the chair 360 times (starting with basmalah in each verse and reading it in one seat) and ending with a prayer together. The method used in this paper is a descriptive qualitative approach with the type of field research and the living Quran theory approach. The results of the application of the theory show that the annual tradition at the Tahfidzul Quran Al Hikmah Islamic Boarding School is a practice obtained by KH. Abdun Nasir from his teacher Sheikh Maliki which is written in the book Kunuzu an-Najah Wa as-surur. Reading the verse of the chair is believed to bring many benefits including; protector from all dangers such as supernatural beings, clears the mind, amulets, tattoos and increases self-confidence etcKeywords: Muharram, Islamic bording school, ayat kursi Abstrak  Artikel ini menjelaskan secara singkat salah satu tradisi penyambutan datangnya malam satu Muharam. Indonesia dikenal dengan keanekaragaman tradisi, adat dan budayanya, sebagian besar tradisinya terlahir sebelum datangnya Islam. Hal ini, menimbulkan tanda tanya besar tentang keabsahan tradisi tersebut. Oleh karena itu, para ulama’ mencari jalan tengah antara keduanya, dapat dikerjakan namun tidak bertentangan dengan syariat agama.para ulama’ menegaskan, diperbolehkan melakukan semua tradisi asalkan tidak menyekutukan Allah. Salah satu contohnya tradisi di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Al Hikmah yang mempunyai tradisi membaca ayat kursi setiap malam satu Muharam. Adapun tata caranya, diawali dengan doa awal dan akhir tahun dilanjutkan sholat berjamaah, tawassul, membaca ayat kursi sebanyak 360 kali (diawali dengan basmalah di setiap ayatnya dan dibaca dalam satu dudukan) dan diakhiri dengan doa bersama. Metode yang digunakan dalam tulisan ini ialah pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan (field research) dan pendekatan teori living Quran. Adapun hasil penerapan teori tersebut menunjukkan, tradisi tahunan di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Al Hikmah merupakan amalan yang diperoleh KH. Abdun Nashir dari gurunya Syeikh Maliki yang tertulis dalam kitab Kunuzu an-Najah Wa as-surur. Membaca ayat kursi diyakini membawa banyak manfaaat diantaranya; pelindung dari segala mara bahaya seperti makhluk-makhluk ghaib, menjernihkan pikiran, jimat, rajah dan meningkatkan percaya diri dll. Kata Kunci: Muharam, pondok pesantren, ayat kursi
ETIKA POLITIK ARISTOTELES DAN RELEVANSINYA BAGI KEMAJEMUKAN RELIGIUS DI INDONESIA Anto, Puji
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i1.3217

Abstract

Aristotle's political philosophy is very important and relevant to discuss today, because it was the foundation of modern political theory. Aristotle provided the concept of the state with the best possibilities in reality, not on the basis of an abstract ideal order. From his studies Aristotle concluded that the most practicable state system is a constitutional government with the active participation of its citizens, or what he termed "Polity". A form of government which is a combination of constitutional democracy with certain aristocracy. The concept of constitutional democratic governance of Aristotelian ideas is currently widely used in the practice of state administration in the world, with a variety of variations and modifications. In his epistemology, Aristotle also classifies politics as a practical science, therefore politics requires the good and honest will of the politicians, more than merely perfect reason and knowledge. Filsafat politik Aristoteles sangat penting dan relevan untuk dibahas saat ini, karena merupakan landasan teori politik modern. Aristoteles memberikan konsep negara dengan kemungkinan terbaik dalam kenyataan, bukan berdasarkan tatanan ideal yang abstrak. Dari kajiannya Aristoteles menyimpulkan bahwa sistem negara yang paling praktis adalah pemerintahan konstitusional dengan partisipasi aktif warganya, atau yang disebutnya “Polity”. Suatu bentuk pemerintahan yang merupakan perpaduan antara demokrasi konstitusional dengan aristokrasi tertentu. Konsep pemerintahan demokrasi konstitusional gagasan Aristoteles saat ini banyak digunakan dalam praktik ketatanegaraan di dunia, dengan berbagai variasi dan modifikasi. Dalam epistemologinya, Aristoteles juga mengklasifikasikan politik sebagai ilmu praktis, oleh karena itu politik membutuhkan kehendak baik dan jujur para politisi, lebih dari sekedar akal dan pengetahuan yang sempurna.Kata Kunci: Pemikiran Politik, konsep Etika, Aritoteles.
RESEPSI KAJIAN SURAT AL-KAHFI DI DUSUN KUWARISAN, KEBUMEN (STUDI LIVING QUR’AN) Nugroho, Sapta Wahyu
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i1.2659

Abstract

AbstractHumans as diverse creatures are symbols that imply that every Muslim's reception of the text of the Qur’an and the hadith does not necessarily have to be the same at all times and places. This paper aims to reveal one of the receptions about the tradition of reading the Koran that developed in Indonesian society, namely the study of Al-Kahf in the Al-Kahf Majlis Kuwarisan Panjer Kebumen. Some forms of reception discussed in this paper will conical into two forms, namely exegesis and functional reception. In general there are several traditions that are popular in the community, including yasinan, tahlilan, kendurian, and so forth. While the Al-Kahfi letter itself, despite having authentic hadith authority, turned out to be one of the less popular in the community, and usually this tradition only has the scope of Islamic boarding schools. The reception of the tradition of reciting the Al-Kahfi letter in the midst of open society provides another interesting perspective because it is still something unique and minority. Keywords: Reception, The Qur’an, Tradition, Al-Kahfi AbstrakManusia sebagai makhluk yang beragam merupakan simbol yang mengisyaratkan bahwa resepsi setiap muslim terhadap teks Al-Quran dan hadis tidak mesti akan selalu sama di setiap waktu dan tempat. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan salah satu resepsi tentang tradisi pembacaan surat Al-Qur’an yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia, yakni kajian surat Al-Kahfi di Majlis Al-Kahfi Kuwarisan Panjer Kebumen. Beberapa bentuk resepsi yang didiskusikan dalam tulisan ini akan mengerucut ke dalam dua bentuk, yaitu resepsi eksegesis dan fungsional. Secara umum ada beberapa tradisi yang populer di masyarakat, diantaranya yasinan, tahlilan, kendurian, dan lain sebagainya. Sedangkan surat Al-Kahfi sendiri, walaupun memiliki otoritas hadis yang shahih, ternyata merupakan salah satu yang kurang populer di masyarakat, dan biasanya tradisi ini hanya ada lingkup pondok pesantren. Resepsi tradisi pembacaan surat Al-Kahfi di tengah masyarakat lepas memberikan sudut pandang lain yang menarik karena memang masih menjadi sesuatu yang unik dan minoritas. Kata Kunci: Resepsi, Al-Quran, Tradisi, Al-Kahfi
RELIGIOUS DISCRIMINATION PRAXIS IN PUBLIC SCHOOLS IN EAST LOMBOK Zuarnum, Linda Sari; Hamdi, Saipul
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i1.3668

Abstract

AbstractThis article is examining the practice of mono-religious teaching in public school and its influence on students' religious life which tends to mire on exclusive practice in East Lombok. The practice of mono-religious teaching in public schools not merely embark compulsion and religious exclusivity but also create discrimination towards other students for the tendency of applying only one religious practice at school. The impact of the religious praxis in public schools is the force and confinement on the students. Simultaneously, the government keeps producing sharia-based laws that stand for majority notwithstanding the laws fully beneficial for the majority group. Yet the disadvantages for minorities from the laws are obvious. The method used for this research is a qualitative method, the data are collected by interviewing some students from junior public school in East Lombok. There are 10 informants from 4 public schools at the central city of East Lombok, students interviewed are from different gender and religious backgrounds and questioned about their religious experiences at schools. This article comes up with the argument that religious education policy in Indonesia focuses on mono religious study with a vision to build students good morality through religion, however the result of this system is creating the tendency of exclusivity among majority students and restriction for minority students in public school. Mono-religious study and its practice at public schools somehow exceeds religious practice in religious schools and this creates school rules that force students to implement religious activity which is irrelevant with the principal of the public school. And generally, the facility for religious activities only accommodates students who are affiliated with majority belief. The problems that the mono-religious system causes discrimination towards minorities regarding the right for religious activities at public school. The conclusion will be served together with the critique towards the impact of mono-religious teaching in Public School. Keyword: Discrimination, mono-religious teaching, Islamization, public school, East Lombok AbstrakArtikel ini mengkaji praktik pengajaran mono-religious di sekolah umum dan pengaruhnya terhadap kehidupan beragama siswa yang cenderung eksklusif di Lombok Timur. Praktik pengajaran mono-agama di sekolah umum tidak hanya menimbulkan pemaksaan dan eksklusivitas agama, tetapi juga menimbulkan diskriminasi terhadap siswa lain karena adanya kecenderungan hanya menerapkan satu praktik agama di sekolah. Dampak dari praktek keagamaan di sekolah umum adalah timbulnya pemaksaan dan pembatasan terhadap siswa. Bersamaan dengan itu, pemerintah terus memproduksi undang-undang berbasis syariah yang berpihak pada mayoritas meskipun undang-undang tersebut sepenuhnya bermanfaat bagi kelompok mayoritas. Namun kerugian bagi minoritas dari sisi hukum sudah jelas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, data dikumpulkan dengan cara mewawancarai beberapa siswa SMP Negeri di Lombok Timur. Dalam penelitian ini  wawancara dilakukan pada 10 orang informan dari 4 sekolah negeri di pusat kota Lombok Timur, siswa yang diwawancarai berasal dari latar belakang gender dan agama yang berbeda dan ditanyai tentang pengalaman keagamaan mereka di sekolah. Pembahasan dalam artikel ini antara lain: Kebijakan pendidikan agama di Indonesia yang menitikberatkan pada studi mono-religius dengan visi membangun akhlak siswa yang baik melalui praktek keagamaan menimbulkan kecenderungan eksklusivitas di kalangan siswa mayoritas dan pembatasan terhadap siswa minoritas di sekolah negeri. Pembelajaran mono-religious dan praktiknya di sekolah negeri melampaui praktik keagamaan di sekolah agama, dan ini menciptakan peraturan sekolah yang memaksa siswa untuk melaksanakan aktivitas keagamaan yang tidak relevan dengan prinsip sekolah negeri. Dan umumnya fasilitas yang disediakan untuk kegiatan keagamaan hanya menampung siswa yang berafiliasi dengan keyakinan mayoritas. Permasalahan bahwa sistem mono-religius menyebabkan diskriminasi terhadap minoritas mengenai hak kegiatan keagamaan di sekolah umum. Kesimpulan akan disajikan bersama dengan kritik terhadap dampak pengajaran mono-religius di sekolah negeri. Kata kunci: diskriminasi, mono-religius, Islamisasi, sekolah negeri, Lombok Timur
RITUAL KEMATIAN MA AYUN BAREH DI JORONG PETOK, PANTI SELATAN, PANTI, PASAMAN SUMATERA BARAT Ilhanifah, Annisa
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i1.3136

Abstract

ABSTRAKDi dalam masyarakat Jorong Petok terdapat suatu tradisi atau kebiasaan yang dilaksanakan ketika ada seseorang masyarakat yang meninggal dunia, yaitu Tradisi Ma Ayun Bareh. Tradisi ini biasanya dilaksanakan sebelum jenazah dimakamkan, akan tetapi boleh juga dilaksanakan ketika pada bilangan hari. Tidak ada ketetapan dalam waktu pelaksanaan, tergantung kepada ahli waris. Tradisi Ma Ayun Bareh ini diyakini oleh mayarakat sekitar sebagai sarana untuk membayar fidiyah orang yang maninggal dunia, baik itu fidiyah shalat maupun fidiyah puasa. Pada tahap pelaksanaan tidak semua masyarakat yang melaksanakan tradisi ini, dikarenkan tidak ada paksaan atau keharusan terhadap masyarakat setempat. Disebabkan tradisi ini hanya bersifat Sunnah.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dikumpulkan dengan cara observasi, dan wawancara. Kemudian digunakan teknik analisis data seperti reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama tradisi ini bisa dipercayai dan diyakini oleh masyarakat Jorong Petok karena ajaran ini yang diajarkan oleh guru-gurunya, yang mana tradisi ini dalah suatu amalan yang membantu si mayat di dalam kubur. Kedua dari proses pelaksanaan, ma ayun barehi pada umumnya dilaksankan sebelum si mayat dimakamkan. Akan tetapi ada juga yang melaksanakannnya pada pelaksanaan hari bilangan. Ma ayun bareh ini dilaksanakan oleh tiga orang pelaku, yang pertama adalah seorang pemimpim pelaksana yang dinamakan dengan mursyid, dan dua orang lagi dinamakan dengan pelaksana. Pelaksana akan mendorong bareh semabri melafadzkan kalimat yang diucapkan dalam pelaksanaan. Mursyid bertugas sebagai menghitung dorongan secara lahiriyah, sedangkan secara bathiniah mursyid, berdoa kepada Allah SWT untuk diampuni segala dosa-dosa si mayat dengan cara merabithahkannya. Setelah pelaksanaan ini selesai, mursyid akan melaksanakan sholat hajat, dengan tujuan Allah mengampuni dosa-dosa si mayat dan diterimanya amal-amal baik si mayat. Ketiga fungsi ma ayun bareh bagi masyarakat Jorong Petok adalah membayar fidiah puasa dan fidiyah sholat si mayat. Fidiyah disini diartikan dengan penambahan atau perbaikan amalan yang tertinggalkan, agar si mayat dikuburkan dengan amal-amalan yang cukup. Kemudian fungsi dari ma ayun bareh ini adalah menjalin hubungan sosial antara masyarakat. Masyarakat yang kurang bercukupan akan terbantu dengan adanya ma ayun bareh ini. Kata kunci: Tradisi, Kematian, Maayun bareh
KRITIK MU’TAZILAH TERHADAP SISTEM FILSAFAT IBN SINA: ANALISIS PEMIKIRAN TAKLIF IBN AL-MALAHIMI Rakhmat, Aulia
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i1.3495

Abstract

The Mu'tazilites were considered to have close relationship with Muslim philosophers and because of this, many thought that the two had share poin of vies. However, this is not always the case. There are philosophical teachings that contradict to concept of Mu'tazilite theology. This gave birth to a theological critique of the Mu'tazilite against philosophy. Therefore, this article attempts to analyze the Mu'tazilah criticism of Ibn Sina's philosophical system focusing on the study of Ibn al-Malahimi's analysis of taklif written in his book intended to criticize philosophy, Tuhfat al-Mutakallimin fi al-Radd 'ala al-Falasifa. There are two reasons for studying the issue of taklif: first, the concept of taklif is the central doctrine of the Mu'tazilah because it relates to important concepts such as rewards and punishments, prophetic purposes and human actions. Therefore, it is important to study the Mu'tazilite criticism leveled at Ibn Sina on the issue of taklif. Second, the discussion about taklif is not found in the 20 points of criticism raised by al-Ghazali in his Tahafut Falasifah and therefore it can provide valuable insight of the theologian's assessment of the philosopher. This paper argues that Ibn al-Malahimi's purpose to present Ibn Sina's thoughts in the realm of taklif is his strategy to expose Ibn Sina's thoughts that are contrary to the Mu'tazilah doctrine. Through the discussion of taklif, Ibn al-Malahimi can uncover several interrelated issues such as the purpose of prophethood, the concept of reward and punishment and most importantly, reveal the deterministic understanding of human action held by Ibn Sina and his followers.
KONSEP PEMERINTAHAN BAKRI SYAHID DALAM TAFSIR AL-HUDA TAFSIR QUR’AN BASA JAWI Zaelani, Thoriq Fadli
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i1.3122

Abstract

Abstract Government is important in carrying out a life in the nation and state, in order to achieve the welfare of the world and the hereafter, both materially and spiritually. This study aims to examine the concept of government according to Bakri Syahid in Al-Huda's interpretation and to reveal how Bakri Shahid interprets the government verses. The method used is the description method in which the researcher describes regularly the thought conception of the character, including the biography of the character and the theory of literary interpretation of the Qur'an (al-tafsîr al-adabî li al-Qur’an) as a knife of analysis initiated by Amîn al-khûlî. The results of this study prove that there are five main concepts of government according to Bakri syahid in Al-Huda's interpretation, these concepts are: the concept of divinity, the concept of humanity, the concept of unity, the concept of deliberation and the concept of justice. However, in interpreting the verses of Bakri Shahid's government, he was greatly influenced by his scientific and professional background, as well as the influence of the social and cultural background of his time. Keywords: government; interpretation; justiceAbstrak Pemerintahan merupakan hal yang penting dalam menjalankan suatu kehidupan dalam berbangsa dan bernegara, demi tercapainnya kesejahteraan dunia maupun akhirat, baik dalam matrial maupun sepiritual. Penelitian ini berupaya untuk mengkaji konsep pemerintahan menurrut Bakri Syahid dalam tafsir Al-Huda dan untuk mengungkap bagaimana penafsiran Bakri Syahid terhadap ayat-ayat pemerintahan. Metode yang digunakan adalah metode deskripsi dimana peneliti menguraikan secara teratur konsepsi pemikiran dari tokoh, termasuk di dalamnya adalah biografi dari tokoh tersebut dan teori tafsir sastra terhadap al-Qur’an (al-tafsîr al-adabî li al-Qur’an) sebagai pisau analisanya yang digagas oleh Amîn al-khûlî. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa, ada lima pokok yang menjadi konsep pemerintahan menurut Bakri syahid dalam tafsir Al-Huda, konsep-konsep tersebut adalah: konsep ketuhanan, konsep kemanusiaan, konsep persatuan, konsep musyawarah dan konsep keadilan. Sedangkan dalam  menafsirkan ayat-ayat pemerintahan  Bakri Syahid sangat dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan dan profesi yang ia jalani, serta pengaruh dari latar belakang kehidupan sosiaal dan budaya pada masa nya. Kata Kunci: pemerintah; tafsir; keadilan

Page 1 of 1 | Total Record : 10