cover
Contact Name
Pendidikan Sosiologi
Contact Email
sosiologi@untirta.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
yustikairfani@untirta.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika
ISSN : 24773514     EISSN : 26140055     DOI : -
Core Subject : Social,
“Hermeneutika”memuat hasil penelitian yang berkaitan dengan pengembangan sains dan teknologi dalam bidang sosiologi.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2017)" : 5 Documents clear
Mengentaskan Kemiskinan: Multidimensional Approach Hisnuddin Lubis
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2214.744 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v3i1.2901

Abstract

Abstrak Kemiskinan merupakan persoalan krusial dalam pembangunan nasional. Terdapat beberapa tipologi  kemiskinan dari berbagai perspektif. Sesungguhnya persoalan kemiskinan ini bukan sekedar  permasalahan ekonomi, melainkan permasalahan sosial, ekonomi, budaya dan politik. Oleh karena  terdapat relatifitas dalam memahami kemiskinan, maka kemiskinan dapat dipahami dan  dikategorikan sebagai kemiskinan berdimensi ekonomi yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan  relatif. Kemiskinan berdimensi sosial-budaya yaitu kemiskinan kultural dan kemiskinan berdimensi  struktural yaitu kemiskinan struktural. Pengentasan kemiskinan tidak selamanya berdimensi  ekonomi, berikut dibahas melalui pendekatan peran, fungsional struktural, kapabilitas sistem politik  dan partisipatif. Dimana pokok persoalan adalah bagaimana stakeholder menjalankan fungsi dan  peran masing-masing. Pemerintah, swasta dan masyarakat merupakan tiga elemen kunci dalam  program pengentasan kemiskinan. Program pengentasan kemiskinan di Indonesia diklasifikasikan  menjadi dua, program delivery approach dan emergency, yang sifatnya mendesak, jangka pendek  dan program yang bersifat capacity building dan sustainability, yaitu program strategis jangka  panjang yang mengedepankan peningkatan kapasitas masyarakat dan keberdayaan masyarakat.  Masing-masing program dan strategi pengentasan kemiskinan mempunyai kelebihan dan  kelemahan, tidak ada yang sempurna. Oleh karena itu diperlukan efektifitas dan efisensi program  pengentasan kemiskinan dalam implementasinya. Untuk mencapai efektifitas dan efisiensi  diperlukan langkah strategis, pemetaan masalah, pemetaan kelompok sasaran, implementor dan  monitoring. Kata Kunci: kemiskinan, program pengentasan kemiskinan, capacity building, pendekatan partisipatif, delivery approach Abstract Poverty is a crucial issue in national development. There are several typologies from different perspectives. In fact this is not an economic barrier, the release of social, economic, cultural and  political issues. Because there is a relative importance in understanding poverty, poverty can be  understood and categorized as economic dimensionless poverty, namely absolute poverty and  relative criticism. Social-cultural dimension of poverty. Poverty alleviation is not always economic  dimension, following example above role, structural functional, political and participative system  capability. Where the main problem is how stakeholders perform their respective functions and  roles. Government, private and public are the three key elements in poverty alleviation programs.  Poverty alleviation programs in Indonesia are classified into two, urgent, short-term and  emergency programming and delivery approaches that require capacity building and sustainability,  a long-term strategic program that promotes community capacity building and community  empowerment. Each poverty reduction program and strategy has its advantages and disadvantages,  nothing is perfect. Therefore, the effectiveness and efficiency of poverty reduction program is  needed. To achieve the effectiveness and efficiency required strategic steps, problem mapping,  target group mapping, implementing and monitoring. Keywords: poverty, poverty alleviation program, capacity building, participatory approach, delivery approach.
Transformasi Jaringan Kegiatan Aliran Agama Jemaat Ahmadiyah Provinsi Jawa Barat Wahid Abdul Kudus
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.433 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v3i1.3083

Abstract

AbstrakPenelitian ini membahas transformasi yang terjadi dan berkembang dalam jaringan kegiatan Jemaat  Ahmadiyah. Sasarannya  untuk  dipelajari  orang  luar yang  menyimpang  dan  mencemari  kemurnian  agama yang mencakup doktrin hukum Islam, doktrin yang membingungkan, mengaku diri sebagai  nabi,  ekonomi  dan  penyaluran  dakwah  media  antusias  religius  dan  membangkitkan  keberanian  untuk mempercayainya.Dalam  penelitian  ini,  menggunakan  pendekatan  kualitatif  dan  kuantitatif  dalam  bentuk  deskripsi  dengan  pendekatan  fenomenologi.  Pendekatan  ini  melihat  bahwa  sebuah  fenomena  harus  diakui  secara menyeluruh lebih ditekankan pada proses kemudian hasilnya.Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan esensi hukum Islam di Ahmadiyah yang menekankan pasa  transformasi spiritualyang berbasiskan Alquran dan Hadis. Penetuan doktrin yang membingungkan  setelah  menutup  pusat  kegiatan  disebabkan  perbedaan  pendapat  tentang  interpretasi  rasional  Alquran sehubungan  dengan  nabi,  penerus  dan  Mahdi.  Proses  transportasi spiritual  jemaat  adalah  satu  struktur, dilakukan  untuk  memperbaharui  kesadaran akan  ketuhanan dan  budaya pada  tingkat  kehidupan  sosial  jemaat;  yang  dilakukan  sebagai  usaha  maksimal  untuk  merasionalisasi  dan  menyesuaikan kepercayaan jemaat.Gambar  dari  klaim  sebagai  nabi  sesudah  Nabi  Muhammad  untuk  menutup  fasilitas  keagamaan  karena  kepercayaan  yang  mendalam  yang  dibutuhkan dibutuhkan  transformasi  melalui  kombinasi  antara  renungan  dan keyakinan  yang  diterapkan  dalam  kehidupan  sehari-hari,  perjuangan  dan  pelayanan  publik  yang  perlu  didukung  dengan  fasilitas  ekonomi  agar  bisa  meningkatkan  kepercayaan dan iman. Doktrin spiritual dengan pemikiran rasional yang sopan, ramah dan percaya  diri untuk mengirimkan tulisan untuk menarik simpati masyarakat.Hegemoni  yang  ditanamkan  dalam  semangat  Jemaat  Ahmadiyah  berimplikasi  pada  terjadinya  asimilasi  teologi,  akulturasi  ideologi,  evolusi  religius  dan  naturalisasi  kepercayaan  untuk  mengembangkan jaringan historis-sosiologis.  Kata Kunci: Transformasi Jaringan, Jemaat AhmadiyahAbstractThis research is attempted to study the transformations that occur and develops within network of  activities  of Ahmadiyya’s congregation.  The  targets  to  be  studied  outsider  that  deviate  and  contaminate purity of religion that include the doctrines of Islamic law, confused doctrine, claiming  oneself as Prophet, the economic and proselytize medium of religious enthusiastic channeling, and  generating the courage to believe them. In  this  research,  it  has  used  a  combination  of  qualitative  and  quantitative  approaches  in  a  descriptive  form  with  phenomenology  approach.  This  approach  saw  that  a  phenomenon  must  be  recognized holistically by more emphasized on process then results. Based  on  results  of  research,  it  had  found  that  essence  of  Islamic  law  of Ahmadiyya  was  emphasized  on  spiritual  transformation  that  based  on  Holy  Quran  and  the  true  Hadith.  The  determination of doctrine that was puzzled post closing its central of activities due to difference in  opinion about rational interpretation of Holy Quran in regard with prophet hood, successor and the  Mahdi. The spiritual transportation process of the congregation was structured one, taken place in  order to  renewing  the  consciousness of  the  Godliness and  culture on  the  level of  social  life of  the  congregation; that was carried out as maximal efforts to rationalize and to adjust the congregation  believes. The picture from claim as prophet after Mohammad to closing the religious facility due to depth of  the believe that required transformation through a combination of devotional and faith that applied  in  the  daily  lives,  struggle  and  public  service  that  required  to  be  supported  with  economical  facilities  in  order  to  improve  believe  and  faith.  The  spiritual  doctrine  with  rational  thinking  was  used  as  polite,  friendly, and  self  confident  proselytize  medium  to  transmit  the  essay  in  order  to  attract the sympathy of the public. Hegemony  that  was  implanted  in  the  spirit  of  the Ahmadiyya congregation has implication’s on  occurrence  of  theology  assimilation;  ideology  acculturation;  evolution  of  religious  and  naturalization of believes in order to develop a historical-sociological network..Keywords: Network Transformation , Ahmadiyah congregation
Pembangunan Nilai Demokrasi dan Nasionalisme sebagai Kurikulum Tersembunyi di SMAN CMBBS Rizki Setiawan
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.017 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v3i1.3010

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan  untuk  mendeskripsikan  pembangunan  karakter  melalui  penanaman  nilai  demokrasi dan nasionalisme peserta didik melalui kurikulum tersembunyi. Metode penelitian yang  digunakan adalah kualitatif dengan strategi studi kasus. Lokasi penelitian ialah di SMAN CMBBS  Pandeglang, Banten. Hasil penelitian menunjukkan, (1) terdapatnya praktik pembangunan karakter  melalui  penanaman  nilai  demokrasi  dan  nasionalisme  beserta  kearifan  lokal  pada  peserta  didik  melalui kurikulum tersembunyi. (2) Nilai-nilai demokrasi yang dikembangkan dalam pembelajaran  adalah  sebagai  berikut:  pemahaman  hak  dan  kewajiban;  keberanian  berargumentasi;  mampu  membuat  kesepakatan;  memiliki  toleransi;  menghormati  pendapat;  mampu  memimpin;  bertanggungjawab;  dan  memiliki  rasa  persatuan.  (3)  Nilai-nilai  nasionalisme  yang  dikembangkan  dalam  pembelajaran  untuk  membentuk  perilaku  siswa  ialah  berupa:  taat  dengan  aturan  di  lingkungan sekolah; perilaku jujur; tanggung jawab; toleransi; saling menghargai dan menghormati;  disiplin; religius; mandiri; demokratis; cinta tanah air; dan peduli dengan teman.Kata Kunci: kurikulum tersembunyi, pendidikan demokratis, nasionalisme, pendidikan.AbstractThis  study  aims  to  describe  the  development  of  character  through  the  cultivation  of  democratic  values and  nationalism  of  learners  through  a  hidden  curriculum.  The  research  method  used  is  qualitative  with  case  study  strategy.  The  research  location  is  at  SMAN  CMBBS  Pandeglang,  Banten. The results show, (1) the existence of character building practices through the inculcation  of  democratic  values and  nationalism  along  with  local  wisdom  to  learners  through  the  hidden  curriculum.  (2)  The  values of  democracy  developed  in  learning  are  as  follows:  understanding  of  rights and obligations; courage to argue; able to make a deal; have tolerance; respect for opinion;  able to lead; to be responsible; and have a sense of unity. (3) The values of nationalism developed  in  learning  to  shape  student  behavior  are  in  the  form  of:  abiding  by  the  rules  in  the  school  environment;  honest  behavior;  responsible;  tolerance;  mutual  respect  and  respect;  discipline;  religious; independent; democratic; love the homeland; and caring with friends.Keywords: hidden curriculum, democratic education, nationalism, education.
Local Indegenous Dalam Demokrasi Modern Denny Soetrisnaadisendjaja
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.325 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v3i1.3080

Abstract

AbstrakMasyarakat  dilihat  dari  tatanan  nilai  yang  diterapkan  dalam  konstruksi  sosialnya  terpetakan  ke  dalam  dua  kelompok  yakni  modern  dan  tradisional.  Masyarakat  modern  menyerap  nilai-nilai  universal  yang  bersifat  global  seperti  konsep  demokrasi.  Sedangkan  masyarakat  tradisional  berdasarkan  pada  tatanan  nilai yang  berbasis  pada  religio  magi.    Perjumpaan  paradigma  antara  masyarakat modern dan masyarakat tradisional tidak dapat dihindari dan kerap terjadi kesenjangan  kultur dan pemahaman. Dalam kajian ini diketengahkan perbedaan cara pandang konsep demokrasi  antara  masyarakat  tradisional  dan  masyarakat  modern  dan  bagaimana  masyarakat  tradisional  mensiasatinya  tanpa  terjadi shock  of  cultur.  Sebaliknya,  masyarakat  tradisional  sebagaimana  diketemukan  di  Banten  Kidul  justru  memberikan  sumbangsih  yang  dapat  digunakan  untuk  memperkuat  demokrasi  di  Indonesia.  Kajian  ini  dilakukan  pada  masyarakat  Kasepuhan  Banten  Kidul dengan metode fenomenologis.Kata Kunci: Local Indegenous, Demokrasi ModernAbstractThe society seen from the value order applied in its social construction is mapped into two groups:  modern  and  traditional.  Modern  society  absorbs  universal  values  of  global  nature  such  as  the  concept  of  democracy.  Traditional  societies  are  based  on  values  based  on  religio  magi.  The  paradigm encounter between modern society and traditional society is inevitable and there is often  a  cultural  gap  and  understanding.  In  this  study,  the  differences  between  democracy  concept  between traditional society and modern society and how traditional society mensiasatinya without  shock  of  cultur.  On  the  other  hand,  the  traditional  community  as  found  in  Banten  Kidul  actually  contributes to strengthen democracy in Indonesia. This study was conducted on Kasepuhan Banten  Kidul community with phenomenological method.Keywords: Local Indegenous, Modern Democracy
Menuju Sosio Applied Science : Studi Pendekatan Sosiofotografi (Human Interest Photography) sebagai Metode Pembelajaran Sosiologi Wahyu Munanto
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.655 KB) | DOI: 10.30870/hermeneutika.v3i1.3082

Abstract

AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengembangkan metode pembelajaran Sosiologi ke arah applied science lewat media Sosiofotographi (Human Interest) bagi siswa SMAN 16 Bekasi sebagai salah satu metode belajar yang memberikan ruang aplikatif kepada siswa agar mampu menangkap gejala sosial di sekitar mereka lewat media foto. Artikel ini dalam penelitian sosial diklasifikasikan sebagai action research, yang memiliki pandangan bahwa pengetahuan dapat dibangun dari pengalaman yang terbentuk dari tindakan. Dengan demikian orang dapat ditingkatkan kemampuannya melalui tindakan penelitian. Subjek dalam artikel ini adalah siswa-siswi SMAN 16 Bekasi. Teknik pengumpulan data dilakukan secara kualitatif dengan pengamatan dan penilaian secara langsung yang dilakukan sehari-hari oleh peneliti. Penelitian ini memberi gambaran bahwa sosiofotografi adalah sebuah pendekatan pembelajaran Sosiologi yang berbentuk karya foto untuk selanjutnya di gabung dengan scrapbook. Dalam sosiofotografi Guru Sosiologi tak hanya mempunyai peran sebagai guru namun juga sebagai kurator foto, yang menyebabkan jika Guru Sosiologi ingin melaksanakan pendekatan sosiofotografi ini, maka guru sosiologi tersebut haruslah mempunyai pengetahuan minimal fotografi. Karena dalam mekanisme fotografi Guru Sosiologi dituntut mampu menyesuaikan hasil foto karya siswa dengan materi Sosiologi yang diajarkan. Diharapkan siswa mampu lebih peka terhadap gejala sosial disekitar mereka, penulis juga memberikan contoh beberapa siswa SMAN 16 Bekasi yang mampu berprestasi jika proses metode sosiofotografi ini berhasil dilaksanakan dengan benar. Kata Kunci: sosiofotografi, human interest, realitas sosial. AbstractThis article aims to develop sociology learning method toward applied science through Sosiofotographi (Human Interest) media for students of SMAN 16 Bekasi as one of the learning method that gives applicative space to students to be able to capture social phenomena around them through photo media. This article in social research is classified as action research, which holds the view that knowledge can be built on the experience formed by action. Thus, people can be increased their ability through research action. Subjects in this article are students of SMAN 16 Bekasi. Technique of data collecting done by leather with direct observation and assessment conducted by everyday by researcher. This study illustrates that socio-photography is a sociology learning approach in the form of photographic works for the next join with scrapbook. In socio-biography Teacher sociology not only has a role as a teacher but also as a photo curator, which causes if the sociology teacher wants to implement this socio-photography approach, then the sociology teacher must have minimal knowledge of photography. Because in the photography mechanism of sociology teachers are required to be able to adjust the results of student work photographs with sociology material taught. It is expected that students can be more sensitive to the social phenomena around them, the author also gives examples of some students of SMAN 16 Bekasi who are able to perform if the process of this sociophotographic method successfully implemented correctly. Keywords: socio-photography, human interest, social reality.

Page 1 of 1 | Total Record : 5