cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2010)" : 9 Documents clear
PENENTUAN KEDALAMAN KERAK BUMI DENGAN TEKNIK STACKING H-k MENGGUNAKAN MATLAB PADA DATA SINTETIK RECEIVER FUNCTION Wiwit Suryanto; Drajat Ngadmanto; Pupung Susilanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1258.619 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i1.57

Abstract

Salah satu metode untuk mendapatkan informasi mengenai struktur di bawah permukaan bumi adalah  receiver function. Konsep dasar metode receiver function ini adalah pendekatan kedalaman kerak bumi dengan menggunakan informasi waktu tunda dari fase gelombang Ps yang merupakan konversi dari pantulan gelombang P menjadi gelombang S pada batas mantel-kerak bumi. Akurasi ditingkatkan dengan menggunakan bantuan dari waktu tiba fase-fase gelombang lain yang tiba setelahnya, yaitu fase gelombang PpPs dan PpSs+PsPs. Program diuji menggunakan dua buah model kecepatan 4 lapis dengan variasi kecepatan yang besar berada pada kedalaman masing-masing 32 km dan 38 km. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan metode stacking H-k ini diperoleh kedalaman interface kerak sebesar 32 km dan 38 km yang bersesuaian dengan model yang dibuat. Perhitungan dengan H dan k masing-masing sebanyak 301 sample (total 301 × 301 kali perhitungan maju receiver function) diperlukan waktu selama 20 detik pada komputer dengan processor Intel Dual Core dan memori sebesar 2 GHz. One of methods to obtain information about structure beneath the earth's surface is receiver function. The basic concept of receiver function method is to estimate of the Earth's crust depth using phase delay information from Ps wave which is a conversion from P wave reflection to S wave at the earth’s crust-mantle boundary. The accuracy of the calculated depth was enhanced by using additional phases that arrived after that, i.e. PpPs and PpSs + PSPs. The program was examined using two models, each have a four-layer velocity models  with large velocity contrast at 32 km and 38 km of depth. We obtained that the depth of crust interface are about 32 km and 38 km. These depths correspond to the velocity model. It takes 20 seconds on a computer with an Intel Dual Core with memory of 2 GHz to calculate the model with 301 x 301 samples of H and k
HASIL PERHITUNGAN EFISIENSI TERMAL PLTGU DAN PELUANGNYA SEBAGAI PENYUMBANG PEMANASAN UDARA (STUDI PADA PLTGU PRIOK DENGAN POLA OPERASI 2-2-1 MENGGUNAKAN METODE NEWTON-RAPHSON) I Made Astra; Iwan Sugihartono; Lanny Catherine
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.848 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i1.63

Abstract

Perhitungan efisiensi termal dari PLTGU Priok dengan pola operasi 2-2-1 telah dihitung menggunakan metode Newton-Raphson. Hasil simulasi tersebut telah dibandingkan dengan data experimen yang diolah secara konvensional. Hasil simulasi perhitungan Newton-Raphson menunjukkan nilai efisiensi optimum sebesar 42,644% untuk daya output sebesar 311,5 MW. Hal ini menunjukkan bahwa simulasi perhitungan Newton-Raphson dan perhitungan data eksperimen memiliki selisih yang kecil, yakni sebesar 0,023%. Sedangkan pada uji efisiensi yang kedua efisiensi optimum 42,623% tercapai ketika daya output total sebesar 310,7 MW. Hasil simulasi perhitungan Newton Raphson menunjukkan nilai efisiensi optimum sebesar 42,644% untuk daya output sebesar 310,7 MW. Hal ini menunjukkan bahwa simulasi perhitungan Newton-Raphson dan perhitungan data eksperimen memiliki selisih yang kecil, yakni sebesar 0,021%.Dua perhitungan tersebut menunjukkan  effisiensi relatif rendah, menunjukkan ada energi yang berubah menjadi energi lain. Diantaranya energi panas yang lepas ke udara. Energi ini bersama polutan lainnya yang mengandung COx akan ikut berperan meningkatkan gas rumah kaca, ikut menyumbang konten pemanasan udara. The thermal efficiency of PLTGU Priok with a 2-2-1 operations has been calculated using Newton-raphson method. The simulation results have been compared to experimental data which are processed conventionally. The simulation shows that for the power output of 311.5 MW, the value of optimum efficiency was 42,644%. There is slight difference between the two calculation methods, i.e. 0,023%. In the second experiment, the value of optimum efficiency is 42.623% for total power output of 310.7 MV. Newton-Raphson simulation shows that the value of optimum efficiency is 42,644% for the power output of 310,7 MW. The result of calculations, both using Newton-Raphson and conventional data processing have a slight difference, i.e  0,021%.The low efficiency showed by the two calculation methods indicates that there is energy transformation, for instance in heat energy relesing. This energy, along with other pollutants containing COx, has a role in increasing concentrations of greenhouse gases in the atmosphere and thus contributes to global warming.
PERBANDINGAN HASIL LUARAN MODEL PRAKIRAAN CUACA CONFORMAL-CUBIC ATMOSPHERIC MODEL (CCAM) TERHADAP ARPEGE DAN TLAPS Roni Kurniawan; Donaldi Sukma Permana; Rian Anggraeni; Kurnia Endah Komalasari
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1236.148 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i1.59

Abstract

Pada penelitian ini dilakukan perbandingan luaran model prakiraan cuaca CCAM terhadap luaran model prakiraan cuaca ARPEGE dan TLAPS untuk mengetahui performa dari model prakiraan cuaca CCAM di wilayah Indonesia. Data model global Global Forecasting System (GFS) digunakan sebagai data inisialisasi CCAM untuk prediksi. Cakupan data prediksi yang dibandingkan adalah periode tanggal 1 - 28 Februari 2009 mewakili kondisi musim hujan dan periode tanggal 1 – 31 Mei 2009 mewakili kondisi awal musim kering di Indonesia. Perbandingan dilakukan secara kualitatif dengan komparasi visual dan kuantitatif dengan menghitung nilai korelasi spasial menggunakan software Grid Analysis and Display System (GrADS) versi 1.8SL11. Diperoleh bahwa hasil luaran ketiga model tersebut memiliki pola yang hampir sama, meskipun ARPEGE dan TLAPS menunjukkan hasil yang sedikit lebih baik dari CCAM. Hal ini mungkin dikarenakan penggunaan data analisis ARPEGE dan TLAPS sebagai representasi data observasi. Nilai rata-rata spasial korelasi dan nilai rata-rata RMSE untuk kedua perbandingan tersebut masing-masing menunjukkan tren menurun dan tren meningkat seiring dengan bertambahnya panjang waktu prediksi. Untuk parameter angin zonal dan angin meridional diperoleh bahwa CCAM memiliki pola yang sama dengan ARPEGE dan TLAPS. Sedangkan, untuk parameter suhu permukaan dan MSLP masih terdapat perbedaan RMSE yang cukup signifikan. Disimpulkan bahwa luaran model CCAM mempunyai performa yang cukup baik sebagai model prakiraan cuaca pada skala regional di Indonesia, meskipun masih perlu dilakukan proses validasi dan perbaikan pengaturan model lebih lanjut. This research accomplished the comparison of weather forecast output of CCAM upon ARPEGE and TLAPS to examine the performance of CCAM in Indonesia region. The Global Forecasting System (GFS) model output was used as the initial condition of CCAM. The comparison was applied to the forecast output on 1-28 February 2009 which represents the rainy season and 1-31 Mays 2009 which represents the onset of dry season in Indonesia. The comparison was conducted qualitatively by image visual comparison and quantitatively by spatial correlation calculation using Grid Analysis and Display System (GrADS) software version 18SL11. The result showed that the output from the three models have almost similar pattern, however output of ARPEGE and TLAPS were fairly better than CCAM. This result might emerge from the use of the ARPEGE and TLAPS data analysis as representation of observation data. The average spatial correlation showed a decreasing trend pattern while the average of RMSE showed a rising trend pattern along with the increasing of prediction time length. For zonal and meridional wind, it was found of having similar pattern as ARPEGE and TLAPS results. While for surface temperature and MSLP parameters, it was found of a significant difference in RMSE. As conclusion, CCAM has showed a fairly good performance upon generating weather forecast at regional scale in Indonesia, though there is still need to be improved further model tunning and validation.
IMPLEMENTASI PERHITUNGAN RECEIVER FUNCTION UNTUK GEMPA JAUH (TELESEISMIC) MENGGUNAKAN MATLAB Wiwit Suryanto; Boko Nurdiyanto; Suliyanti Pakpahan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1206.63 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i1.64

Abstract

Telah dilakukan pemodelan receiver function untuk data teleseismik yang direkam oleh stasiun pengamatan gempabumi 3 komponen. Perhitungan dekonvolusi dalam perhitungan receiver function ini dilakukan dalam domain frekuensi. Pemodelan dilakukan dalam sistem MATLAB. Program dapat berjalan dengan efisien, dan waktu yang diperlukan untuk perhitungan untuk model 4 lapis adalah sekitar 1,2 detik dengan menggunakan komputer Intel Atom dengan memori 1 GB. Untuk model dengan 31 lapisan, diperlukan waktu perhitungan 1,9 detik. Efektifitas program ini memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut misalnya untuk keperluan inversi. Receiver function modeling for teleseismic earthquake has been implemented using MATLAB. The deconvolution process is carried out in the frequency domain for simplicity. The time required for calculating a four-layer model is about 1.2 seconds using Intel Atom 1 GB of memory. For a velocity model with 31 layers it takes 1.9 seconds using the same computer specification. The effectiveness of the program may used for other advance application especially for earth crustal inversion.
APLIKASI ROC UNTUK UJI KEHANDALAN MODEL HYBMG Kadarsah Kadarsah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.75 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i1.60

Abstract

Relative Operating Characteristics (ROC) merupakan metode yang direkomendasikan oleh World Meteorological Organization (WMO) sebagai metode yang dapat mengindikasikan kemampuan probabilistik prediksi cuaca dan iklim. Metode ini diterapkan pada model HyBMG untuk menguji kehandalannya dengan cara memplotkan hit dan false-alarm rate. Uji kehandalan model ini menggunakan data curah hujan 10 tahun (1998-2007) pada 28 Daerah Prakiraan Musim (ZOM). Hasilnya berupa kurva ROC yang menunjukkan tingkat kehandalan model HyBMG dalam memprediksi curah hujan. Model HyBMG memiliki kehandalan dalam memprediksi curah hujan di beberapa daerah ZOM. Kurva ROC menunjukkan variasi kualitas sistem prediksi pada tingkat kepercayaan peringatan yang berbeda (probabilistik prediksi) dan dapat digunakan untuk optimalisasi nilai prediksi tertentu dari table kontigensi. The relative operating characteristic (ROC), is being considered by the World Meteorological Organization as a recommended method to indicate the skill of probabilistic weather and climate forecasts.Reliability evaluation of HyBMG model has been done by using Relative Operating Characteristics (ROC) which is created by plotting the hit and false-alarm rate. The Evaluation model is use rainfall data from only 28 climate regions over 10 years from 1998 to 2007. The result is ROC’s curve that describes the reliability HyBMG to predict rainfall. HyBMG has a reliability to predict the rainfall in a particular region. The ROC curve illustrates the varying quality of the forecast system at different levels of confidence in the warning (the forecast probability) and can be used to optimize forecast value given the specifics of an individual user’s contingency table.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.44 KB)

Abstract

Sampul Jurnal Meteorologi dan Geofisika
DETEKSI POTENSI GERAK VERTIKAL ATMOSFER DI ATAS WILAYAH BANDUNG DAN SEKITARNYA Endarwin Endarwin
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v11i1.61

Abstract

Pada penelitian ini deteksi potensi gerak vertikal atmosfer di atas wilayah Bandung dan sekitarnya telah dicoba dilakukan. Upaya untuk mendeteksi potensi keberadaannya dilakukan dengan memanfaatkan terdapatnya konvergensi atau pengaruh kondisi orografi yang menjadi salah satu sebab dari timbulnya gerak vertikal tersebut. Melalui upaya interpolasi data angin pada arah horisontal (2D) di beberapa ketinggian yang berbeda untuk 9 waktu pengamatan pada bulan Oktober 2003, dilakukan analisis hodograf untuk menentukan indikasi kemampuan olahan data angin dalam mendeteksi potensi gerak vertikal, analisis divergensi untuk mengetahui terdapatnya konvergensi serta analisis vortisitas relatif untuk mengetahui terdapatnya pengaruh kondisi orografi. Setelah melalui analisis hodograph, hasil dari analisis divergensi dan vortisitas relatif selanjutnya dibandingkan dengan kondisi awan yang terjadi yang ditunjukkan oleh data MT-SAT kanal inframerah sebagai representasi akibat  adanya gerak vertikal.  Berdasarkan perbandingan kedua analisis tersebut  menunjukkan bahwa analisis vortisitas relatif dapat mendeteksi adanya potensi gerak vertikal  di atas wilayah penelitian  dengan cukup signifikan sedangkan analisis divergensi  sebaliknya. Hal tersebut menunjukkan bahwa gerak vertikal yang terjadi lebih didominasi oleh pengaruh kondisi orografi.  Tingkat korelasi rata-rata deteksi potensi gerak vertikal yang diperoleh melalui analisis vortisitas relatif adalah 64 % dan hal tersebut sekaligus juga menunjukkan bahwa olahan data angin yang digunakan dapat berfungsi dengan cukup baik. An attempt to detection the atmosphere vertical motion potency on Bandung and its around as the investigation area has been carried out. The investigation was done by utilize the convergence or orographic influences that caused the vertical motion. The wind data in regular points was found by horizontal interpolation of wind observation that observed in some places for 9 observation time in October 2003 as the first step and then was done the hodograph analysis to determine the ability of horizontal interpolation result to detection vertical motion potency, divergence analysis to detection the convergence and relative vorticity analysis analisis to detection the orographic influences. Base on the comparing of divergence and relative vorticity analysis with the MT-SAT data, they show the relative vorticity analysis can detect vertical motion potency on investigation area with significantly result whereas the divergence analysis is the opposite. This result gives indication that the vertical motion on the investigation area more dominated by orographic influences as the main cause.  Finally, the mean accuracy of detection vertical motion potency by relative vorticity analysis is 64 % and this result also show that the wind data in regular points by interpolation can be used well.
SIMULASI PREDIKSI PROBABILITAS AWAL MUSIM HUJAN DAN PANJANG MUSIM HUJAN DI ZOM 126 DENPASAR Yunus Subagyo Swarinoto; Erwin Eka Syahputra Makmur
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v11i1.56

Abstract

Simulasi prediksi probabilitas Awal Musim Hujan (AMH) dan Panjang Musim Hujan (PMH) terkait kondisi Indonesia SSTA, Nino34 SSTA, dan IODM SSTA sebagai prediktor telah dilakukan di Zona Musim (ZOM) 126 Denpasar. Lokasi ini dipilih karena memiliki pola curah hujan dasarian maupun bulanan pola monsunal, sehingga terdapat perbedaan yang jelas antara kondisi Musim Hujan (MH) dengan kondisi Musim Kemarau (MK). Kejadian puncak dan lembah curah hujan pada lokasi ini berlangsung sekali dalam satu tahun. Puncak hujan berlangsung bersamaan dengan MH dan sebaliknya lembah hujan berlangsung bersamaan dengan MK. Untuk ZOM 126 Denpasar, simulasi prediksi probabilitas ini dihitung berdasaran pada kondisi seluruh prediktor sebagaimana tersebut di atas. Time lag 3, 2, dan 1 bulan digunakan pada data dasarian awal yang diolah. Data yang memiliki nilai koefisien determinasi R2 terbesar dari persamaan regresi multi linear yang dibentuk berdasarkan pada kondisi prediktor di atas  selanjutnya digunakan dalam menentukan simulasi prediksi probabilitas AMH dan PMH. Hasil menunjukkan bahwa kondisi Indonesia SSTA sangat berperan dalam menentukan nilai probabilitas maju-mundur AMH dan panjang-pendek PMH di ZOM 126 Denpasar, khususnya pada saat Nino34 dan IODM SSTA lemah. Sementara itu kondisi Nino34 SSTA dan IODM Anomaly memiliki peran sebagai penguat/pelemah terhadap probabilitas kejadian AMH dan PMH di ZOM 126 Denpasar. The probability forecast simulation of Rainy Season Onset and the Lenght of Season based on Indonesia SST, Nino34 SST, and IODM SST Anomalies as predictors, have been done over Seasonal Forecast Area (SFA) 126 Denpasar. This SFA was chosen as a case in relation to it’s monsoonal rainfall pattern. In this SFA there were clearly different condition between Rainy and Dry Seasons. Basically the peak of Rainy and Dry Seasons only happen once a year. The peak of Rainy Season  commonly takes place during early year but Dry Season occurs in the middle year. The probability forecast simulation of SFA 126 Denpasar was computed base on predictors condition at once. Time lag of 3, 2, 1 month(s) of predictors preceded the earliest onset of season have been examined. Time lags used data which have the most significant value of determination coefficient R2 (taken from multi linear regression equation) should be denoted as input for providing the probability forecast simulations. Results show that Indonesia SSTA has significantly played a role for determining the onset of seasons over SFA 126 Denpasar, whether earlier onset or longer ones, especially during the weak of Nino34 and IODM SSTAs. Meanwhile the other predictors condition were denoted to strengthen and  weaken the onset of seasons.
ANALISIS DAERAH ENDEMIK BENCANA AKIBAT CUACA EKSTRIM DI SUMATERA UTARA Asteria Satyaning Handayani
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v11i1.62

Abstract

Bencana alam akibat cuaca ekstrim telah mengambil banyak korban jiwa dan menyebabkan kerusakan di seluruh wilayah Indonesia, salah satunya di Sumatera Utara. Peristiwa ini menarik perhatian masyarakat karena daya rusaknya yang besar terhadap kehidupan manusia. Analisis daerah bencana akibat cuaca ekstrim telah dilakukan terhadap Sumatera Utara. Dengan menggunakan statistik terhadap data dari Database Bencana Alam, dipetakan daerah yang memiliki intensitas tinggi bencana dengan tujuan membangun kesadaran pemerintah daerah setempat mengenai daerahnya. Diperoleh bahwa terdapat dua daerah yang memiliki resiko dampak terbesar terkena bencana. Daerah-daerah tersebut adalah Medan dan Deli Serdang. Natural disasters due to extreme weather have taken many casualties and caused damage throughout Indonesia, one of which is in North Sumatera. They drew people’s attention because of their catastrophic impact to human lives. Analyses of disaster regions due to these extreme weather events have been done in North Sumatera. Using statistic from Natural Disaster Database, we try to map which region has higher intensity imposed by disaster in order to build local authorities awareness to their region. Apparently, there are two regions which having high disaster risk. They are Medan and Deli Serdang.

Page 1 of 1 | Total Record : 9