cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2011)" : 11 Documents clear
KAJIAN POTENSI ENERGI ANGIN DI WILAYAH SULAWESI DAN MALUKU Muhammad Najib Habibie; Achmad Sasmito; Roni Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.294 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.99

Abstract

Wilayah Sulawesi dan Maluku terletak di kawasan Indonesia Timur yang terdiri dari ratusan pulau kecil yang sebagian besar berpenduduk. Seiring perkembangan zaman, kebutuhan listrik di daerah tersebut semakin meningkat. Upaya diversifikasi pembangkit listrik dengan sumber energi alternatif ramah lingkungan menjadi suatu hal yang penting. Penelitian ini mencoba untuk menentukan daerah-daerah yang memiliki potensi sumber energi angin di wilayah Sulawesi (Toli-toli, Kayuwatu, Majene, Makassar, Gorontalo, Kendari, Naha) dan Maluku (Tual, Saumlaki, Bandanaeira, Ambon, Ternate) dengan menggunakan data arah dan kecepatan angin harian periode tahun 2003-2008. Dari hasil kajian dapat direkomendasikan 4 (empat) lokasi yang potensial untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga angin yaitu di Tual, Naha, Saumlaki, dan Bandaneira dengan potensi energi angin yaitu berkisar antara 3455,8 s/d 11861,4 watt day/tahun. Dari keempat lokasi tersebut, Tual merupakan lokasi yang paling berpotensi untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga angin. Sulawesi and Maluku are located in eastern part of Indonesia, which consists of hundreds of small islands and mostly inhabited. Nowadays, electricity demanding in the area is increasing. Diversification of power generation with environmental-friendly alternative energy resources become an important thing. This study examines areas that have potential of wind energy resources in Sulawesi (Toli-toli, Kayuwatu, Majene, Makassar, Gorontalo, Kendari, Naha) and Maluku (Tual, Saumlaki, Bandanaeira, Ambon, Ternate) by using daily wind data over the period of 2003-2008. The results recommend four potentially locations for wind power electricity installation, i.e. in Tual, Naha, Saumlaki, and Bandaneira, with range of wind energy potential between 3455.8 - 11861.4 watt day per year. Tual is the most potential location.
ANALISIS INTENSITAS CURAH HUJAN WILAYAH BANDUNG PADA AWAL 2010 Annie Hanifah; Endarwin Endarwin
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.819 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.95

Abstract

Pada awal 2010 di wilayah Bandung telah terjadi hujan dengan intensitas yang sangat tinggi serta berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini telah mengakibatkan kerugian materil dan immateril akibat terjadinya beberapa bencana seperti banjir, tanah longsor, serta meluapnya bendungan. Berdasarkan hasil analisis intensitas curah hujan diketahui bahwa jumlah curah hujan yang terjadi pada bulan Januari, Pebruari dan Maret 2010, seluruhnya berada di atas normal demikian pula dengan jumlah hari hujannya. Tingginya intensitas curah hujan yang terjadi selama 3 bulan berturut-turut dengan kondisi di atas normal jarang sekali terjadi di wilayah Bandung. Berdasarkan catatan yang dimiliki oleh BMKG Stasiun Geofisika Bandung hal serupa pernah terjadi pada tahun 1952 dan 1966, namun demikian intensitas curah hujan bulanan yang terjadi pada awal 2010 tersebut  yang terjadi selama 3 bulan berturut-turut merupakan yang tertinggi dari yang sebelumnya pernah terjadi. In Early 2010 occurred rainfall with very high intensity and long duration in Bandung and its surrounding. This condition has caused material and immaterial losses caused by floods, landslides and overflow of dam. Based on analysis, it is known that the rainfall intensity in January, February, and March 2010, was above normal as well as the total rainfall days. These conditions are very rare in Bandung. Based on BMKG's record, conditions such that occurred in 1952 and 1966, however the rainfall intensity in the early 2010 was the highest.
PEMANFATAN DATA MINING UNTUK PRAKIRAAN CUACA Subekti Mujiasih
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.575 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.100

Abstract

Proses prakiraan cuaca memerlukan banyak komponen data cuaca, jumlah data yang besar serta kemampuan prakirawan. Hal ini menyebabkan ketepatan dan kecepatan prakiraan kurang terpenuhi. Untuk memecahkan masalah tersebut, telah dilakukan penelitian model prediksi menggunakan beberapa teknik data mining yakni Association Rule, C4.5, Classification dan Random Forest. Data masukan adalah data sinoptik 9 stasiun maritim tahun 2009. Data masukan tersebut terdiri dari kecepatan angin, tutupan awan, suhu udara dan suhu titik embun. Data untuk pengujian model adalah data sinoptik Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok sejak tahun 2002 hingga 2010. Dari serangkaian pembuatan, pemilihan dan pengujian model, hasil  penelitian menunjukkan Association Rule mempunyai tingkat akurasi 60.9%, sedangkan C4.5 mempunyai tingkat akurasi 68.5%. Dengan demikian model prediksi yang dipilih adalah model prediksi C4.5. Komponen cuaca yang dominan memungkinkan terjadinya hujan adalah suhu udara, suhu titik embun, dan tutupan awan. Weather forecasting process needs many weather components, big data size and forecaster experience. They cause the accuracy and rapid of forecasting were not well-fulfilled. In order to solve this problem, the research of prediction model was done by using Association Rule and Classification (C4.5, Classification Tree and Random Forest) methods. The input of model production were wind speed, cloud cover, dew point temperature and temperature from 9 marine stations in 2009.  The input for testing the resulted model was synoptic data of Tanjung Priok Marine Station since 2002-2010. The result shows the accuracy of C4.5 is highest than others. Accuracy of C4.5 and Association Rule are about 68.5%, and 60.9%, respectively. Thus, the appropriate prediction model is the C4.5. Dominant weather component of C4.5 are cloud cover, dew point temperatur and temperature.
ANALISIS DATA METEOROLOGI DARI PEMANTAU CUACA OTOMATIS BERBAGAI ELEVASI DAN DATA RADIOSONDE DI PAPUA Donaldi Sukma Permana
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.307 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.96

Abstract

Iklim regional Papua dipengaruhi oleh Zona Konvergensi Inter-tropis (ITCZ). Tiga sirkulasi utama yang mengendalikan ITCZ di wilayah tersebut meliputi sirkulasi meridional Hadley, palung meridional kutub (South Pacific Convergence Zone) dan sirkulasi zonal Walker. Sirkulasi angin permukaan di Papua dipengaruhi oleh angin pasat tenggara dan angin pasat timur laut serta angin monsun barat-an. Akan tetapi di wilayah dataran tinggi, iklim Papua juga dipengaruhi oleh proses konvektif dan sirkulasi angin lokal. Pada studi ini, kami memaparkan analisis data meteorologi Papua menggunakan data pemantau cuaca otomatis (AWS) dari berbagai elevasi dan data radiosonde sebagai pembanding. Data AWS diperoleh dari PT. Freeport Indonesia (PTFI) yang terpasang mulai dari pesisir selatan Papua sampai ke dataran tinggi dekat pegunungan Puncak Jaya serta data stasiun BMKG Timika. Analisis menunjukkan bahwa laju susut temperatur permukaan sekitar 5°C/km. Rentang temperatur harian semakin besar pada ketinggian dibawah ~2.500 m d.p.l dan diatas ~3.500 m d.p.l. Total presipitasi tahunan tertinggi terjadi pada ketinggian sekitar 617 m d.p.l (~12.500 mm/tahun). Diatas ketinggian ~600 m d.p.l, total curah hujan siang hari lebih tinggi dari curah hujan malam hari dan sebaliknya dibawah ~600 m d.p.l.  Regional climate setting of Papua is mainly controlled by the intertropical convergence zone (ITCZ). Three major circulation systems control the ITCZ in the region including the meridional Hadley circulation, the South Pacific Convergence Zone and the zonal Walker circulation. Surface wind system over Papua is affected by easterlies trade winds and the equatorial or monsoon westerlies. However, in highland of Papua, its climate is dominated by local convective processes and local wind circulation. Here, we present meteorological data analysis based on automatic weather stations (AWS) data from different elevation and radiosondes data in Papua. AWS data were acquired from PT. Freeport Indonesia (PTFI) who installed automatic weather stations from southern coast of Papua to highland of Papua near Puncak Jaya Mountains as well as from BMKG station in Timika. Analysis of the data shows that the surface temperature lapse rate is about 5°C/km. Greater diurnal temperature differences are identified at below ~2,500 m a.s.l and at above ~3,500 m a.s.l. The highest annual precipitation of ~12,500 mm/ year is recorded at an elevation of 617 m. At above ~600 m a.s.l, the daytime precipitation is higher than during the night and vice versa at below ~600 m a.s.l.
PEMANFAATAN SATAID UNTUK ANALISA BANJIR DAN ANGIN PUTING BELIUNG: STUDI KASUS JAKARTA DAN YOGYAKARTA Hastuadi Harsa; Utoyo Ajie Linarka; Roni Kurniawan; Sri Noviati
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.554 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.101

Abstract

Japan Meteorology Agency (JMA) mengembangkan aplikasi SATAID (Satellite Animation and Interactive Diagnosis) untuk menampilkan citra satelit dan mendapatkan nilai beberapa parameter meteorologi di dalamnya. Pada makalah ini dibahas mengenai pemanfaatan aplikasi tersebut terkait kejadian banjir di Jakarta 1 Februari 2008 dan angin puting beliung di Yogyakarta 18 Februari 2007. Prosedur yang dilakukan pada kajian ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan analisa berdasar citra satelit yang diperoleh dari aplikasi SATAID tersebut. Japan Meteorology Agency (JMA) developed SATAID (Satellite Animation and Interactive Diagnosis) application to display and to retrieve some meteorology parameter values in satellite image data. This paper studies the use of  the application in analyzing the Jakarta flood February 1st, 2008 and the Yogyakarta Tropical cyclone February 18th, 2007. The procedure described in this paper can be applied in another issues as a reference material in analyzing SATAID image data.
ANALISIS PSEUDO-VEKTOR PADA AKTIVITAS KONVEKTIF BENUA MARITIM INDONESIA Danang Eko Nuryanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1896.211 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.92

Abstract

Kajian mengenai aktivitas konvektif diurnal Benua Maritim Indonesia (BMI) menjadi penting karena sampai saat ini masih terbatas pada daerah tertentu dari wilayah BMI. Kajian pseudo-vektor digunakan untuk merepresentasikan dua komponen data (konvergensi dan konveksi) segaligus ke dalam satu gambar. Data yang dipergunakan adalah data awan dan angin resolusi tinggi, guna merepresentasikan interaksi darat-laut-atmosfer yang lebih kompleks. Setelah dihitung indeks konveksi dan nilai konvergensinya, maka selanjutnya dilakukan normalisasi pada masing-masing komponen, kemudian dihitung fasenya. Muncul pola umum diurnal BMI yaitu konveksi di laut terjadi pada pagi dini hari hingga siang hari, sedangkan konveksi di darat terjadi pada sore hingga malam hari. Karena pola konveksi dan konvergensi menunjukkan kesamaan pola, hal ini menunjukkan keterkaitan hubungan antara konvergensi angin dengan konveksi. Selain pola umum tersebut, muncul juga pola lokal diurnal BMI yaitu pola arah angin yang tidak menunjukkan keterkaitan dengan angin darat atau angin laut. Study of Indonesian Maritime Continent (IMC) diurnal convective activity is important because recently limited to certain region in IMC. Study of pseudo-vector used to representated both two data component (convergence and convection) in one chart. The used data are high resolution cloud and wind data to representated complex land-sea-atmosphere interaction. After convection index and convergence values was calculated, then they normalized to each component, and then phase was calculated. General pattern of diurnal IMC appears that convection in the ocean occurs in early morning until noon, while the convection in the land occurred in the afternoon until the evening. Due to convection and convergence patterns show the same pattern, this suggests linkage relationship between wind convergence with convection. In addition to these general patterns, there are also local  diurnal pattern of wind direction IMC is a pattern that shows no connection with land or sea breeze winds.
KARAKTERISTIK PETIR TERKAIT CURAH HUJAN LEBAT DI WILAYAH BANDUNG, JAWA BARAT Deni Septiadi; Safwan Hadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.936 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.97

Abstract

Tulisan ini mencoba untuk menganalisis aktivitas petir menggunakan Lightning Detector sepanjang tahun 2009 dengan radius sekitar 10 km sekitar Bandung. Tujuan analisis adalah untuk identifikasi potensi hubungan antara parameter petir yaitu Cloud-to-Ground (CG) dengan curah hujan lebat di atas 50 mm/hari. Hasil analisis menunjukkan hubungan yang kuat antara CG dan curah hujan lebat serta dominasi CG- (66.1%) sepanjang musim dengan puncak aktivitas pada MAM (43.6%). Pemahaman akan keganjilan aktivitas kilat akan memberikan informasi penting dalam struktur, pertumbuhan awan, labilitas atmosfer ataupun sebagai warning (peringatan) cuaca ekstrim. The objective of this paper is to analyze the lightning activities using Lightning Detector during the year 2009 with a radius about 10 km around Bandung. The purpose of this analysis is to identify potential relationships between lightning parameters i.e Cloud-to-Ground (CG) with torrential rainfall more than 50 mm/day. The results showed a strong relationships between CG and torrential rainfall and dominance of CG- (66.1%) throughout the season with a  peak at MAM (43.6%). Understanding of the peculiarities of lightning activity will provide important information in the structure, the growth of clouds, atmospheric labilitas or as a warning extreme weather.
SAMPUL JURNAL MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampul Jurnal MG Volume 12 No. 2 Tahun 2011
STUDI HAZARD SEISMIK DAN HUBUNGANNYA DENGAN INTENSITAS SEISMIK DI PULAU SUMATERA DAN SEKITARNYA Edy Santoso; Sri Widiyantoro; I Nyoman Sukanta
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.93

Abstract

Zona subduksi di sepanjang pantai barat dan sesar aktif yang berada di pulau Sumatera merupakan sumber gempa bumi yang aktif. Upaya peningkatan mitigasi di wilayah Sumatera menjadi bagian yang penting, untuk itu diperlukan suatu studi hazard seismik dan hubungannya dengan intensitas seismik di pulau Sumatera dan sekitarnya. Studi ini menggunakan data dukung seperti data katalog gempa bumi, data sesar, data subduksi, data intensitas seismik dan data pga dari rekaman akselerograf BMKG. Berdasarkan hasil studi hazard seismik, diperoleh beberapa kota besar di Sumatra yang mempunyai hazard seismik tinggi seperti: Banda Aceh, Padang, Bengkulu dan Bandar Lampung. Hasil studi hubungan empiris antara nilai percepatan tanah maksimum (PGA) rata - rata dan data intensitas seismik (MMI) observasi diperoleh rumusan:  I (MMI) = 0.008 * PGA (gal) + 3.159. Berdasarkan pendekatan hasil studi sementara wilayah Sumatera dengan beberapa hasil penelitian para ahli luar negeri, maka rumusan empiris Wald et al. (1999) mempunyai hasil yang cukup dekat dengan hasil studi pada nilai PGA 0 -200 gal. Sedangkan rumusan empiris Lepolt (2008) untuk nilai PGA 200-1000 gal. The existence of the subduction zone along the west coast and active faults in Sumatra is an active source of earthquakes. Increased mitigation efforts in the region became an important part of Sumatra. It required a study of seismic hazard and its relationship with seismic intensity on the island of Sumatra and surrounding areas. This study used data supporting such an earthquake catalog data, data delivery, data subduction, earthquake intensity data and PGA data from recording accelerograph BMKG based on the results of seismic hazard studies, acquired several major cities in Sumatra that have a high seismic hazard such as Banda Aceh, Padang, Bengkulu and Bandar Lampung. The results of an empirical study of the relationship between rate the value of maximum ground acceleration (PGA) and seismic intensity (MMI) observations obtained by the formula: I (MMI) = 0008 * PGA (gal) + 3159. Based on the approach to the study while the region of Sumatra by several findings by scientists abroad, then the empirical formulation of Wald et al. (1999) have results quite close to the results of studies on the PGA 0 -200 gal. While the empirical formula Lepolt (2008) for the PGA 200-1000 gal.
KARAKTERISTIK GEOTEKNIK STASIUN ACCELEROMETER TANJUNG PRIOK (JATA) DAN DEPOK (JAUI) Widjojo A. Prakoso; Yunus Daud; Surya Aji Pratama
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.98

Abstract

Karakteristik geoteknik hingga kedalaman 30 m lokasi accelerometer yang berada di lingkungan Stasiun Meteorologi Maritim Klas I Tanjung Priok, Jakarta (JATA) dan yang berada di lingkungan Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Depok (JAUI) dibahas dalam makalah ini. Karakteristik geoteknik ditentukan melalui uji fisik berupa uji cone penetrometer, deskripsi visual-manual contoh tanah dari hasil bor dalam, dan uji standard penetration serta melalui uji geofisik berupa uji seismic downhole. Keempat uji tersebut kemudian dievaluasi untuk membuat model dan melakukan analisis karakteristik geoteknik. Kecepatan rambat gelombang geser rata-rata berbobot stasiun JATA adalah 188,1 m/s dan termasuk dalam jenis "Tanah Sedang", tetapi analisis lebih lanjut perlu dilakukan. Kecepatan rambat gelombang geser rata-rata berbobot stasiun JAUI adalah 239,8 m/s dan termasuk dalam jenis "Tanah Sedang". Geotechnical characteristics to a depth of 30 m for accelerometer location within Stasiun Meteorologi Maritim Klas I Tanjung Priok, Jakarta (JATA) and for accelerometer location within FMIPA Campus of Universitas Indonesia, Depok (JAUI) are discussed in this paper. Geotechnical characteristics were evaluated based on phyisical test results of cone penetration tests, visual-manual soil evaluation, standard penetration tests, and geophysical test results of seismic downhole tests.  From these four tests, for each location, a geotechnical characteristic model was developed and a geotechnical characteristic analysis was performed.  Weighted average of shear-wave velocity of JATA station was found to be 188,1 m/s and can be classified as "Stiff Soil", but it appears that a further characterization study needs to be conducted. Weighted average of shear-wave velocity of JAUI station was found to be 239,8 m/s and can be classified as "Stiff Soil".

Page 1 of 2 | Total Record : 11