cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
rindo.herdianto@pu.go.id
Editorial Address
Jalan Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung 40393
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Permukiman
ISSN : 19074352     EISSN : 23392975     DOI : http://dx.doi.org/10.31815/jp
Core Subject : Engineering,
Karya tulis ilmiah dibidang permukiman yang meliputi kawasan perkotaan/perdesaan, bangunan dan gedung yang ada didalamnya serta sarana dan prasarana pendukungnya.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 3 (2008)" : 8 Documents clear
Peran Kemitraan dalam Penataan Ruang Terhadap Pengendalian Permukiman Lia Yulia Iriani
Jurnal Permukiman Vol 3 No 3 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.156-164

Abstract

Pengendalian Perumahan dan Permukiman merupakan salah satu muatan materi UU No.4/1992. Dalam aplikasinya berhubungan dengan ketentuan penataan ruang, yang memerlukan kebersamaan dan kemitraan dalam penyelenggaraannya dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, sebagaimana tercantum pada pasal 2 huruf f UU No.26/2007. Hal ini merupakan paradigma baru salah satu ketentuan penataan ruang yang tidak tercantum pada UU No.24/1992. Hubungan timbal balik antara penataan ruang kaitannya dengan pengendalian permukiman sebagaimana tercantum pada pasal 7 ayat 1 dan 2 UU No.4/1992, dimaksudkan untuk membentuk suatu sistem hukum yang memberi dasar jelas dan tegas serta  menyeluruh bagi upaya pemanfaatan dan pengendalian permukiman di kawasan perkotaan maupun perdesaan namun  peraturan tersebut perlu segera dirubah karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan saat ini. Salah satu hasil litbang berhubungan dengan hal tersebut menyatakan 71,43 % responden ketentuan UU No.4/1992 perlu disesuaikan dengan aturan baru dan  karakteristik daerah, 28,57% aturan permukiman belum bisa mengendalikan timbulnya permukiman kumuh. Untuk itu diperlukan aturan yang lebih jelas dalam hal mengaplikasikan keterpaduan dalam penataan ruang di masyarakat.
Selimut Api sebagai Sarana Pemadam Kebakaran Pada Bangunan Rumah, Gedung dan Kendaraan Achmad Hidajat Effendi
Jurnal Permukiman Vol 3 No 3 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.165-175

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk memperoleh keandalan kinerja selimut api melalui eksperimen laboratorium. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk menciptakan alat pemadam api sederhana, yang terbuat dari bahan kain katun jenis terpal, yang dikombinasikan dengan bahan tahan api berbasis air, yaitu dapas 15, suatu bahan kimia yang aman terhadap makhluk hidup dan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selimut api memiliki keunggulan, yaitu mampu menahan temperatur minyak panas sekitar 320ºC dengan temperatur rata-rata permukaan selimut api sekitar 179,5ºC, dengan panjang perambatan api pada permukaan selimut api rata-rata 23,6 mm. Keunggulan lainnya adalah selimut api tidak memerlukan air dalam pemadaman kebakaran, bahkan selimut api tidak boleh dicuci atau kena air. Selimut api dapat digunakan berulang-ulang selama selimut api tersebut tidak sobek dan selimut api yang diteliti ini, memenuhi persyaratan standar AS/NZS 3504 : 1995 dan ASTM D3806-1979. Adanya selimut api akan melengkapi sarana proteksi kebakaran, khususnya untuk bangunan perumahan yang bisa digunakan baik untuk pemadaman maupun penyelamatan.  
Ketahanan Pelat Beton Komposit Aldeck Terhadap Api dan Kinerja Pelat Baja Gelombang sebagai Pengganti Tulangan Positif Lasino Lasino; Dany Cahyadi; Muhammad Nur Fajri Alfata
Jurnal Permukiman Vol 3 No 3 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.176-183

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai pelat beton komposit aldeck. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan pelat beton komposit aldeck terhadap api dan kinerja pelat baja gelombang sebagai pengganti tulangan positif yang dapat digunakan sebagai dasar dalam analisis teknis dan ekonomis dalam pengembangannya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan melakukan pembuatan benda uji berupa panel beton komposit Aldeck, berukuran 356 cm x 300 cm x 12 cm dari bahan beton mutu yang disyaratkan f’c 27,5 N/mm2 dan lapisan dasar baja gelombang. Dari hasil pengujian berupa uji bakar dapat disimpulkan bahwa pelat baja gelombang Aldeck dapat berfungsi sebagai pengganti tulangan positif sekaligus sebagai dasar (floor decking) dalam pembuatan komponen panel beton.    
Pengaruh Campuran Fly Ash dan Pasir Kuarsa sebagai Media Saringan Leachate Sampah Terhadap Waktu PERESAPAN, WARNA, Fe, Zn DAN Cu Tibin Ruby Prayudi
Jurnal Permukiman Vol 3 No 3 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.184-195

Abstract

Air leachate sampah dan fly ash keduanya merupakan limbah yang dapat mencemari sumber air tanah sehingga perlu ditangani dengan baik agar tidak  menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Beberapa peneliti telah melakukan penelitian dengan memanfaatkan fly ash sebagai bahan campuran pada beton, cat dan lain lain. Untuk lebih memperkaya penggunaan fly ash maka dilakukan penelitian penggunaan fly ash yang dicampur dengan pasir kuarsa pada komposisi tertentu sebagai media  untuk menyaring air leachate sampah rumah tangga. Penelitian eksperimental di laboratorium dilakukan melalui 3 saringan dari flexiglas, berdiameter 5 cm,  dan   media saringan berupa campuran fly ash dan pasir kuarsa pada komposisi 60 % fly ash : 40 % pasir kuarsa, 50 % fly ash : 50 % pasir kuarsa dan 40 % fly ash : 60 % pasir kuarsa dengan ketebalan media 90 cm. Debit leachate divariasikan pada  0,0001 liter/detik, 0,0003 liter/detik dan 0,0005 liter/detik. Ukuran butir pasir kuarsa mengikuti persyaratan media saringan, yaitu butiran yang lolos saringan diameter 1,5 mm dan tertahan saringan diameter 0.5 mm.  Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan dan pemeriksaan kualitas air   pada setiap volume 100 ml air saringan. Analisis data dilakukan melalui perbandingan besaran nilai warna, Fe, Zn, dan Cu,  pada  air baku leachate dengan air hasil saringan dan persentase campuran yang optimum dihitung berdasarkan persentase penurunan kadar warna, Fe, Zn, dan Cu yang terbesar. Dari analisis data atau pembahasan ternyata waktu tercepat peresapan air  dicapai pada debit penyaringan 0,0005 liter/detik, yaitu 7 menit dan komposisi campuran 60 % fly ash dengan 40 % pasir kuarsa merupakan campuran yang optimal menurunkan warna, Fe, Zn, dan Cu. Komposisi media campuran 60 % fly ash dengan 40 % pasir kuarsa dengan debit penyaringan 0,0001 liter/detik akan lebih baik dalam menurunkan warna sebesar 97,67 %; Fe sebesar 97,65 %; Zn sebesar 86,66 % dan Cu sebesar 71,43 %. Dari hasil tersebut di atas disimpulkan bahwa campuran fly ash dengan pasir kuarsa sebagai media saringan mencapai waktu peresapan tercepat dengan waktu 7 menit dan  dapat menurunkan kadar warna, Fe, Zn dan Cu.
Pengaruh Penambahan Foam Agent Terhadap Kualitas Bata Beton Andriati Amir Husin; Rudi Setiadji Agustiningtyas
Jurnal Permukiman Vol 3 No 3 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.196-207

Abstract

Foam agent adalah suatu larutan pekat dari bahan surfaktan, dimana apabila hendak digunakan harus dilarutkan dengan air yang merupakan larutan koloid. Dengan menggunakan foam generator maka dapat dihasilkan pre foam awal yang stabil dalam kondisi basa, oleh karena itu cocok untuk digunakan pada produksi mortar yang mengandung busa. Dalam percobaan ini agregat yang digunakan berasal dari limbah industri yang berupa fly ash, bottom ash dan limbah katalis RCC. Komposisi campuran yang digunakan adalah 1 bagian semen : 2 bagian agregat. Dari hasil penelitian ternyata untuk komposisi campuran 1 bagian semen : 2 bagian agregat (75% fly ash, 25% pasir)  dengan jumlah busa yang digunakan 0,8% dan 1,6% dapat memenuhi syarat untuk pemakaian di luar atau pada bagian luar bangunan, baik yang memikul beban maupun yang tidak memikul beban  dimana kuat tekannya lebih besar dari 125 kg/cm2. Bila agregat yang digunakan adalah bottom ash (100%) dengan jumlah busa 0,8% dapat digunakan untuk pemakaian di dalam atau pada bagian dalam bangunan yang memikul beban dimana kuat tekan yang dicapai lebih besar dari 85 kg/cm2 sedangkan apabila agregat yang digunakan adalah limbah katalis RCC (25% RCC,75% pasir) dengan jumlah busa 0,8% dapat digunakan untuk pemakaian di dalam atau pada bagian dalam bangunan yang tidak  memikul beban dimana kuat tekan yang dicapai adalah  68 kg/cm2.
Pengaruh Penambahan Bahan Drilling Cutting Sebagai Bahan Baku dalam Pembuatan Bata Beton Berlobang Agus Taufik; Rudi Setiadji Agustiningtyas
Jurnal Permukiman Vol 3 No 3 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potensi energi panas bumi (geotermal) sebagai salah satu sumber energi yang ada dan merupakan sumber energi terbesar di dunia. Salah satu limbah yang dihasilkan dalam jumlah yang besar dari pengeboran sumur geotermal adalah drilling cutting yang berupa lumpur berpasir yang mengandung bahan kimia tertentu yang dapat mencemari lingkungan bila tidak ditangani dengan baik. Telah dilakukan penelitian  terhadap bata beton berlobang (hollowblock) yang diberi tambahan drilling cutting dalam komposisi agregat halusnya Komposisi campuran untuk bata beton berlobang ukuran (10 x 20 x 30) cm3 menggunakan komposisi optimal hasil uji tekan terbesar dari mortar kubus                           ukuran (5 x 5 x 5) cm3. Pengujian bata beton berlobang meliputi kuat tekan, penyerapan air, berat jenis, dan analisa TCLP. Perbandingan campuran bahan bata beton berlobang 1 portland cement : 8 agregat (60% drilling cutting dan 40% pasir). Hasil uji kuat tekan menunjukkan mutu kelas III dan dapat digunakan untuk konstruksi pasangan dinding di bagian dalam bangunan yang tidak memikul beban. Berat jenisnya sebesar 1,69 gr/cc termasuk bata beton berlobang ringan. Hasil analisa TCLP yang ada berada di bawah ambang batas yang berlaku.
Pengaruh Penggunaan Prepacked Aggregate Concrete Terhadap Perbaikan Join Balok Kolom Eksterior Pracetak Pasca Pembebanan Siklik Statik Siti Aisyah Nurjannah
Jurnal Permukiman Vol 3 No 3 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.217-228

Abstract

Saat mengalami beban gempa, struktur rangka bangunan akan menyerap energi gempa secara terus menerus sehingga memasuki keadaan plastis dan mencapai batas kekuatannya, sehingga diharapkan terjadi sendi plastis pada komponen join, yaitu pada ujung balok di muka kolom. Tingkat kerusakan yang terjadi pada struktur bangunan yang menahan beban gempa adalah rusak ringan, rusak sedang, atau rusak berat. Struktur dengan jenis kerusakan ringan dan sedang masih bisa diperbaiki dan diperkuat. Sedangkan, struktur dengan kerusakan tingkat berat tidak dapat diperbaiki. Penelitian ini membahas kinerja join balok kolom eksterior pracetak yang mendapat beban siklik statik dalam dua tahap. Setelah mengalami kerusakan akibat pembebanan tahap ke-1, join diperbaiki. Setelah beton prepack cukup umur, join diuji dengan beban siklik statik tahap ke-2. Hasil uji beban yang dikaji adalah perbandingan kinerja join pada tahap ke-1 dan ke-2 yang meliputi: daktilitas, disipasi energi, momen-kelengkungan, dan pola retak.
Prediksi Kinerja Struktur Rumah Risha Terhadap Beban Gempa Indonesia dengan Menggunakan Capacity Spectra Method (CSM) Cecep Bakheri Bachroni
Jurnal Permukiman Vol 3 No 3 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.229-247

Abstract

Terdapat beberapa keunikan  pada struktur bangunan rumah yang tersusun dari panel risha, yaitu: 1) ukuran penampang melintang untuk balok pinggir sangat langsing dengan  ukuran 10 cm x 30 cm (lebar balok 1/3 dari tinggi balok),  2) luas penampang melintang yang langsing ini  terpotong oleh coakan sedemikian sehingga membentuk huruf C, 3)  pada setiap komponen balok atau kolom terdapat sambungan ditengah (tengah bentang pada balok atau ditengah tinggi pada kolom).  Ketiga hal yang unik tersebut  berpengaruh pada kinerja struktur bangunan secara keseluruhan terhadap beban lateral dan vertikal  yang harus dipikulnya.  Tulisan ini menyajikan mengenai kinerja struktur bangunan rumah yang tersusun dari panel risha dengan menggunakan metode spektra kapasitas (Capacity Spectrum Method, CSM) dari ATC 40. Struktur dimodelkan sebagai bangunan tinggal satu lantai ( luas 36 m2), dua lantai (luas 72 m2) tanpa dan dengan dinding, dengan masing-masing dari model tersebut dirancang kerusakan terjadi pada penampang balok/kolom tepat pada penampang huruf C. Hasil prediksi menunjukkan: 1) mode keruntuhan komponen-komponen struktur balok dan kolom dari susunan panel risha adalah mode keruntuhan geser, 2) kemampuan deformasi maksimum pada struktur rangka rumah 2 lantai dengan kerusakan dalam katagori kerusakan ringan, sangat kecil yaitu 3,8 cm, 3) struktur rumah dua lantai, luas lantai total 72 m2,  tanpa dinding, struktur ini aman bila dibangun di wilayah gempa 1 sampai dengan 5 pada kondisi tanah lkeras sampai lunak, dan aman dibangun di wilayah gempa 6 untuk kondisi tanah keras, 4) untuk struktur rumah dua lantai yang dipasang dinding dari pasangan bata merah dapat menambah kekakuan struktur bangunan sehingga dapat mengurangi simpangan perlu, ketika diuji dengan beban gempa wilayah 6 pada kondisi tanah lunak, struktur ini memiliki kinerja sangat baik, maka dapat dibangun diseluruh wilayah gempa Indonesia, 5) struktur rumah satu lantai tanpa dinding, luas lantai 36 m2, dibebani dengan beban gempa wilayah 6 pada kondisi tanah lunak. Pada simpangan perlu, tidak terjadi kerusakan berat di hampir seluruh komponen strukturnya, dengan demikian struktur ini dapat dibangun diseluruh wilayah gempa Indonesia dengan kondisi tanah keras, sedang dan lunak.

Page 1 of 1 | Total Record : 8