cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
rindo.herdianto@pu.go.id
Editorial Address
Jalan Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung 40393
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Permukiman
ISSN : 19074352     EISSN : 23392975     DOI : http://dx.doi.org/10.31815/jp
Core Subject : Engineering,
Karya tulis ilmiah dibidang permukiman yang meliputi kawasan perkotaan/perdesaan, bangunan dan gedung yang ada didalamnya serta sarana dan prasarana pendukungnya.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 2 (2009)" : 7 Documents clear
Model Pengembangan Hunian Vertikal Menuju Pembangunan Perumahan Berkelanjutan Tito Murbaintoro; M. Syamsul Ma'arif; Surjono H. Sutjahjo; Iskandar Saleh
Jurnal Permukiman Vol 4 No 2 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.72-87

Abstract

Pengembangan hunian vertikal di Kota Depok merupakan salah satu alternatif strategi memenuhi kebutuhan perumahan bagi masyarakat terutama Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), mengurangi backlog, dan mengoptimalkan pemenuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pengembangan hunian vertikal menuju pembangunan perumahan berkelanjutan dan implikasinya terhadap kebijakan pembangunan perumahan bagi MBR. Metode analisis data yang digunakan meliputi analisis deskriptif, analisis statistika, analisis finansial, analisis input-output (I-O), dan analisis sistem dinamik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Kota Depok memiliki potensi minat yang besar terhadap hunian vertikal namun tingkat keterjangkauan terutama MBR masih sangat rendah. Untuk meningkatkan keterjangkauan masyarakat dalam memiliki hunian, maka peran pemerintah sangat diperlukan terutama dalam pemberian bantuan dan insentif kepemilikan hunian. Pembangunan perumahan juga memberikan dampak ganda (multiplier effect) terhadap pembangunan di Kota Depok dan daerah sekitarnya. Dampak tersebut antara lain tingginya pembangunan perumahan, meningkatnya pendapatan masyarakat, dan  tingginya tingkat penyerapan tenaga kerja akibat pembangunan perumahan.  Peningkatan kebutuhan jumlah hunian, serta backlog perumahan di Kota Depok menunjukkan kecenderungan pertumbuhan mengikuti kurva eksponensial pada tahun simulasi 2001 sampai tahun 2025. Untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat di Kota Depok khususnya MBR dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan mempertahankan ketersediaan lahan RTH pada tingkat tertentu, skenario yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan RTH sampai pada luasan 5000 ha, dengan mendorong pertumbuhan hunian vertikal melalui subsidi bunga sebesar 8% dan subsidi uang muka sebesar Rp 10.000.000 – Rp 13.000.000.
Peningkatan Peran Lembaga Lokal dalam Rangka Pembangunan Permukiman di Perdesaan Aris Prihandono
Jurnal Permukiman Vol 4 No 2 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.88-101

Abstract

Pelibatan kelembagaan lokal tingkat desa dalam pembangunan perumahan dan permukiman sangat relevan dengan situasi saat ini karena kapasitas dan kapabilitas lembaga-lembaga formal yang ada sangat terbatas. Sekalipun demikian upaya tersebut harus disertai langkah seleksi yang hati-hati karena terkait dengan internalisasi muatan baru.  Hasil kajian adalah bahwa sejumlah kriteria dapat dijadikan referensi dalam pemilihan lembaga, yakni: tingkat kemapanan, kondisi unsur-unsur kelembagaan, serta efektivitas organisasi. Selanjutnya dilakukan penyusunan substansi dan metode pemberdayaan setelah tipe-tipe kelembagaan dan faktor yang berpengaruh terhadap kinerja lembaga diketahui. Bentuk pemberdayaan dapat berupa asistensi, fasilitasi, atau promosi. Sedangkan materi pemberdayaan meliputi tiga hal, yaitu materi umum, yakni materi yang diperlukan dalam proses peningkatan wawasan pengelola lembaga tanpa membedakan tipologi lembaga; materi inti adalah materi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan peningkatan kapasitas dan sinergi lintas program; materi penunjang adalah materi dasar yang secara normatif harus sudah dikuasai oleh calon peserta. 
Pembangunan Rumah Susun dalam Mendukung Aktivitas Ekonomi Perkotaan (Studi Kasus Kota Bandung) Heni Suhaeni
Jurnal Permukiman Vol 4 No 2 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.102-109

Abstract

Konsep dasar pembangunan rumah susun perkotaan adalah penataan ruang yang menghasilkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat dengan penggunaan lahan yang efisien.  Masalahnya adalah pembangunan rumah susun tidak pernah memperhitungkan kelompok-kelompok sasaran secara  jelas. Padahal aktivitas ekonomi di kawasan perkotaan di kota-kota besar Indonesia pada umumnya didukung dan digerakkan oleh berbagai kelompok dan strata  sosial ekonomi masyarakat yang beragam.  Kajian ini mengidentifikasi struktur aktivitas ekonomi penduduk mayoritas dan  kecenderungannya dalam membentuk & membangun pola-pola aktivitas ekonomi perkotaan, serta pembangunan rumah susun yang seperti apa yang dapat  mendukung aktivitas ekonomi perkotaan tersebut.  Kajian ini menggunakan data statitistik, dan metoda yang digunakan adalah metoda penelitian induktif.  Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa ternyata aktivitas yang dominan  penduduk  Kota Bandung  bergerak di sektor  perdagangan dan industri pengolahan, terutama industri pengolahan skala rumah tangga sektor non formal.  Oleh sebab itu pembangunan rumah susun sebaiknya diarahkan secara terintegrasi untuk mendukung dan mengakomodasi kebutuhan ruang sebagai unit hunian dan  sebagai ruang ekonomi produktif perkotaan di  Kota Bandung. 
Infrastruktur Pecinan yang Mudah Diakses Mendukung Prinsip Pariwisata yang Aksesibel Inge Komardjaja
Jurnal Permukiman Vol 4 No 2 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.110-120

Abstract

Pecinan mempunyai potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan pariwisata yang menarik. Secara ekonomi, kawasan wisata yang direncana dan dikelola dengan baik memberikan keuntungan yang berarti bagi pemerintah setempat. Demikian pula halnya dengan pecinan yang perlu ditata berdasarkan perencanaan matang dan pelaksanaan yang cermat. Dengan berpegang pada prinsip pariwisata yang aksesibel, wisatawan lokal dan mancanegara yang menyandang cacat akan tertarik untuk mengunjungi pecinan. PBB mengatakan para penyandang cacat mempunyai hak yang sama dengan mereka yang tidak cacat untuk berwisata. Penyandang cacat mempunyai keterbatasan mobilitas fisik, sehingga membutuhkan infrastruktur fisik yang mudah dan aman diakses. Dalam kenyataan, penyandang cacat tidak diberikan kesempatan yang setara untuk mengunjungi pecinan serta menikmati fasilitas dan suasana yang ditawarkan. Mereka mengalami kesulitan untuk bergerak secara mandiri, karena infrastruktur fisik kawasan pecinan tidak bebas hambatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk dapat mengidentifikasi problem penyandang cacat. Hasil analisis data menunjukkan mereka masih mengalami marjinalisasi karena tidak dapat menggunakan atau kesulitan mengakses infrastruktur disitu. Desain universal menciptakan infrastruktur yang aksesibel yang memberikan kemudahan bagi semua golongan masyarakat, tanpa kecuali, seperti orang jompo, orang yang baru sembuh dari penyakit berat, anak kecil yang belajar jalan atau pendorong gerobak. Pecinan yang ramah-cacat (disabled-friendly) mendukung prinsip accessible tourism. 
Komparasi Nilai Partial-OTTV pada EAST-WALL berbasis U-VALUE= 2,6 dengan U-VALUE= 1,6 Wied Wiwoho Winaktoe
Jurnal Permukiman Vol 4 No 2 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.121-127

Abstract

Secara teoritik, dinding-Timur (obyek simulasi) iklim tropika-lembab dipersyaratkan untuk memiliki nilai u-value = 2,0 yang sebenarnya sulit tercapai karena struktur dinding yang popular (plester-bata-plester) cenderung memiliki u-value = 2,6. Peningkatan kuantitas u-value tersebut terkait dengan penurunan kuantitas resistance value (R) melalui hubungan 1/R = u-value; hal ini berarti bahwa nilai-resistensi dinding akan (selalu) sulit menahan laju transfer-panas (OTTV-partial). Riset ini ditujukan untuk mendefinisikan dampak u-value > 2,0 (yakni 2,6) atau u-value < 2,0 (yakni 1,6) terhadap OTTV-partial, kasus dinding-Timur bangunan gedung. Prosedur riset mencakup sejumlah tahapan, yakni: (a) model dinding-Timur yang bernilai u-value >2 (yakni 2,6) dan WWR = 0,40 diformulasi lalu divisualisasikan menggunakan Ecotect v5.50; (b) model dinding-Timur yang bernilai u-value < 2 (yakni 1,6)  dan WWR = 0,40 diformulasi lalu divisualisasikan menggunakan Ecotect v5.50, (c) dinding-Timur dengan u-value=2,6 menjadi input dalam OTTV ver 1; kalkulasi partial OTTV menghasilkan nilai 21,28 W/m2, (d) dinding-Timur dengan u-value=1,6 menjadi input dalam OTTV ver 1; kalkulasi partial OTTV menghasilkan nilai 12,95 W/m2.  Konklusi: U-value < 2 menghasilkan partial OTTV lebih kecil ketimbang u-value > 2; oleh karena itu struktur ber-u-value < 2 menerima transfer-panas parsial jauh lebih kecil karena memiliki resistensi panas yang jauh lebih besar
Metode Analisa Data Variabel Sosial Bidang Permukiman Yulinda Rosa
Jurnal Permukiman Vol 4 No 2 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.128-139

Abstract

Pembangunan perumahan dan permukiman yang berkelanjutan adalah suatu konsep pembangunan dengan mempertimbangkan tiga pilar yaitu: ekonomi, sosial dan lingkungan. Analisa sosial merupakan hal yang penting dilakukan untuk mendapatkan pembangunan perumahan dan permukiman yang berkelanjutan. Terdapat dua metode analisa data secara statistik yaitu deskriptif dan induktif. Metode analisa deskriptif merupakan tahap awal untuk melakukan analisa induktif. Hasil analisa deskriptif memberikan gambaran untuk sejumlah objek yang diteliti, tidak dapat digeneralisasi untuk kelompok yang lebih besar. Data variabel sosial bidang permukiman merupakan data kualitatif. Untuk data variabel sosial bidang permukiman yang diukur melalui kuesioner tertutup terstruktur, analisa deskriptif dilakukan dengan terlebih dahulu membuat distribusi frekwensi. Beberapa metode yang biasa digunakan  dalam pembuatan distribusi frekwensi variabel sosial, diantaranya adalah dengan menggunakan nilai skor kumulatif dari seluruh item yang digunakan untuk mengukur variabel tersebut, dan metode strugle’s.    Ukuran letak dan ukuran penyebaran yang digunakan dalam analisa deskriptif data kualitatif variabel sosial bidang permukiman adalah rata-rata, modus, persentase, proporsi sebagai ukuran letak, sedangkan ukuran penyebaran diukur melalui nilai range (selisih nilai terbesar dan terkecil). Ukuran rata-rata dalam analisa data kualitatif variabel sosial bidang permukiman diwakili melalui ukuran modus. Metode analisa deskriptif  yang digunakan dalam pembahasan ini adalah melalui  pembuatan distribusi frekwensi dengan menggunakan nilai skor kumulatif seluruh item yang digunakan untuk mengukur variabel tersebut.
Keefektifan Pengolahan antara Abu Terbang dengan Karbon Aktif Terhadap Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK), Warna dan Logam Berat Air Lindi Sampah Tibin Ruby Prayudi
Jurnal Permukiman Vol 4 No 2 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.139-147

Abstract

Penelitian pengolahan air lindi sampah dengan menggunakan abu terbang dan karbon aktif pada dosis tertentu dilatarbelakangi oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mott dan Weber (1992), Viraraghavan dan Alfaro (1994), Vijender Sahu , R. P. Dahiya, K. Gadgil .(2005), yang menghasilkan bahwa abu terbang dapat menurunkan kandungan KOK, warna dan logam berat air buangan rumah tangga. Penelitian eksperimental di laboratorium dilakukan dengan pengadukan abu terbang dan karbon aktif dengan air lindi sampah pada kecepatan 100 rpm selama satu jam, pada dosis 15, 25, 35, 50, 100 dan 150 mg/liter. Hasil pengadukan didiamkan selama 30 menit lalu diperiksa Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK), Warna dan Logam Beratnya. Efektifitas abu terbang dan karbon aktif ditentukan pada perbandingan persentase perubahan parameter air baku dengan air hasil pengadukan air lindi sampah dengan abu terbang dan karbon aktif. Dari analisis data atau pembahasan ternyata dengan pemakaian abu terbang dapat menurunkan kandungan KOK sampai 100 %, dapat menurunkan kandungan  warna  sampai 99,72 %,  menambah kandungan  Fe sebesar 27,39%, menurunkan kandungan Zn sampai  91,57 %, dan menurunkan kandungan Cu sebesar 94,02 %, sedangkan dengan pemakaian karbon aktif penurunan KOK hanya 4,62 %, memperbesar kandungan warna, sebesar 14,47 %, menurunkan kandungan Fe sampai 27,65 %, menurunkan kandungan Zn  hanya 40,76 %, menurunkan kandungan Cu hanya 21,31%. Jadi pemakaian abu terbang akan lebih efektif dalam menurunkan KOK, warna, Zn,dan  Cu air lindi, sedangkan karbon aktif lebih efektif dalam menurunkan Fe air lindi. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7