cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
rindo.herdianto@pu.go.id
Editorial Address
Jalan Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung 40393
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Permukiman
ISSN : 19074352     EISSN : 23392975     DOI : http://dx.doi.org/10.31815/jp
Core Subject : Engineering,
Karya tulis ilmiah dibidang permukiman yang meliputi kawasan perkotaan/perdesaan, bangunan dan gedung yang ada didalamnya serta sarana dan prasarana pendukungnya.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 3 (2011)" : 12 Documents clear
Model Perhitungan Kandungan Emisi Co2 pada Bangunan Gedung Co2 Sabaruddin, Arief; Karyono, Tri Harso; Tobing, Rumiati R.
Jurnal Permukiman Vol 6 No 3 (2011)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2011.6.154-163

Abstract

Meningkatnya kandungan CO2 di atmospher telah menyebabkan efek gas rumah kaca, yang mengakibatkan naiknya temperatur bumi, sehingga terjadi pencairan cadangan es di kutub utara dan selatan serta cadangan es di dataran tinggi. Peningkatan gas CO2 disebabkan oleh proses pembakaran yang dibutuhkan dalam menjalankan sarana dan prasarana penunjang kehidupan kehidupan dan penghidupan manusia. Bangunan gedung berpeluang mengeluarkan 30% dari total emisi CO2 yang dihasilkan oleh kehidupan manusia. Terdapat 2 cara emisi CO2 yang berasal dari bangunan, yaitu emisi CO2 yang dihasilkan ketika proses pembangunan (embodied CO2 emission) serta emisi CO2 yang dihasilkan pada pemanfaatan bangunan. Konsep green building adalah salah satu pendekatan untuk menjamin terjaganya kualitas lingkungan agar tetap langgeng. Salah satu indikatornya adalah bangunan tersebut harus mengkonsumsi energi secara efisien sampai dengan zero energy. Namun nyatanya pemanasan global belum dapat diukur oleh besar konsumsi energi, akan tetapi dari besarnya emisi CO2 yang dihasilkan oleh bangunan. Hal tersebut disebabkan, besarnya emisi CO2 yang dihasilkan oleh setiap pembangkit listrik memiliki nilai yang berbeda-beda. Pembangkit listrik tenaga uap dengan batu bara menghasilkan emisi CO2 940 gr CO2 setiap 1 kWh, sedangkan energi listrik tenaga diesel menghasilkan 581 gr CO2 untuk 1 kWh. Sebagai upaya mitigasi terhadap pemanasan global, sudah saat-nya, besarnya emisi CO2 yang dihasilkan oleh bangunan tersebut dikendalikan. Proses pengendalian dapat dilakukan pada tahap perencana an maupun tahap pelaksanaan, sebagai upaya untuk menurunkan emisi CO2 yang dikandung oleh bangunan. Untuk menunjang proses perencanaan bangunan gedung rendah emisi CO2 tersebut diperlukan tools, yang berfungsi untuk mengukur/menghitung besarnya emisi CO2 pada bangunan. Tools tersebut akan memberi informasi besarnya harga satuan emisi CO2 pada bangunan gedung per meter persegi (HSEBG).
Kenyamanan Termal Adaptif Hunian Kawasan Mangrove Centre-Batu Ampar-Balikpapan Sujatmiko, Wahyu; Kusumawati, Fanny; Sugiarto, Aan
Jurnal Permukiman Vol 6 No 3 (2011)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2011.6.164-174

Abstract

Pada karya tulis ini disampaikan kajian kenyamanan termal adaptif responden perumahan Graha Indah Kawasan Mangrove Center Batu Ampar Balikpapan. Metoda penelitian adalah eksperimen lapangan. Diperoleh 49 data kesan termal dari penghuni 20 rumah,  10  rumah merupakan asli T36 dan sisanya modifikasi. Kondisi netralitas termal dirasakan responden pada Tdb = 29,4oC, ET* = 31,3 oC, SET* = 31,7 oC, TSENS = 1,01, DISC 1,94, dan PMV = 1,72, kondisi rata-rata termal Tdb  = 29,2oC, ET* = 31,1 oC, SET* = 31,5 oC, TSENS = 0,97, DISC 1,86, dan PMV = 1,67, yang berarti responden menginginkan kondisi netral sedikit di atas kondisi rata-rata. Adapun kondisi preferensi termal adalah Tdb = 28,1oC, ET* = 30 oC, SET* = 30,2 oC, TSENS = 0,74, DISC 1,47, dan PMV = 1,37. Hasil analisis kinerja termal unit bangunan memperlihatkan bahwa konstruksi selubung bangunan memiliki waktu tunda termal yang rendah, tercipta kondisi ruangan siang hari yang tidak nyaman (temperatur antara 27,8oC – 34oC dengan kelembaban rata-rata 78%). Hasil analisis data iklim memperlihatkan kondisi ekstrim minimum dan maksimum sepanjang tahun yang selalu di luar zona nyaman 80% ASHRAE. Konstruksi bangunan asli T36 yang masih memungkinkan terjadinya ventilasi silang untuk kenyamanan termal menjadi hilang oleh pemenuhan lahan dalam renovasi bangunan.

Page 2 of 2 | Total Record : 12