cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
rindo.herdianto@pu.go.id
Editorial Address
Jalan Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung 40393
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Permukiman
ISSN : 19074352     EISSN : 23392975     DOI : http://dx.doi.org/10.31815/jp
Core Subject : Engineering,
Karya tulis ilmiah dibidang permukiman yang meliputi kawasan perkotaan/perdesaan, bangunan dan gedung yang ada didalamnya serta sarana dan prasarana pendukungnya.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 3 (2012)" : 6 Documents clear
Studi Ergonomi terhadap Rancangan Ruang Kerja Kantor Pemerintah Berdasarkan Antropometri Indonesia Muhammad Nur Fajri Alfata
Jurnal Permukiman Vol 7 No 3 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2012.7.126-137

Abstract

Makalah ini membahas hasil penelitian ergonomi ruang kantor pemerintah berdasarkan antropometri manusia Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mensimulasikan kebutuhan ruang kerja yang optimum berdasarkan antropometri manusia Indonesia yang sebenarnya. Survei lapangan dilakukan untuk mengidentifikasi aktifitas pokok, perabot dan peralatan yang digunakan di ruang kantor pemerintah di Indonesia. Luasan ruang kerja optimum bagi pegawai/karyawan kantor untuk melakukan aktifitas sesuai dengan kedudukannya dalam organisasi kantor diperoleh dengan simulasi komputer. Simulasi mock up digunakan untuk memvalidasi hasil simulasi komputer. Penelitian ini menghasilkan data aktifitas pokok dan penunjang kerja, serta perabot dan peralatan yang digunakan untuk mendukung aktifitas tersebut. Studi ini menunjukkan bahwa luasan ruang minimum untuk staf golongan I dan II adalah 1,9 m2, staf golongan III dan IV adalah 2,6 m2 , pejabat eselon IV adalah 10,8 m2, pejabat eselon III adalah 20,5 m2, dan pejabat eselon II adalah 107 m2
Kajian Masalah Ekologis dalam Penataan Permukiman di Kawasan Pesisir – Zona Atas Air Aris Prihandono
Jurnal Permukiman Vol 7 No 3 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2012.7.138-150

Abstract

Masyarakat Suku Bajo yang hidup di Desa Kabalutan, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah merupakan satu diantara 61 masyarakat Bajo yang tersebar di seluruh perairan Sulawesi. Kepadatan bangunan yang tinggi, sanitasi dan persampahan yang belum di kelola, penggunaan terumbu karang untuk bahan bangunan, merupakan faktor yang mengganggu persyaratan hidup ekosistem terumbu karang. Upaya yang dapat ditempuh untuk mereduksi masalah tersebut antara lain penataan kembali permukiman masyarakat Bajo dan penerapan teknologi perumahan yang pro lingkungan dan diterima masyarakat. Penataan kembali permukiman secara teoritis dapat memberikan akses yang mencukupi bagi radiasi matahari untuk menyentuh dasar laut, sirkulasi air laut dan udara yang membawa nutrien dan oksigen serta karbon dioksida, sehingga fotosintesis biota laut dapat berjalan dengan baik. Penerapan teknologi sanitasi dan persampahan dimaksudkan untuk menjaga kejernihan dan menghindari terjadinya kontaminasi air laut serta substrate yang keras. Penerapan inovasi pengawetan komponen bangunan dan perbaikan struktur dimaksudkan untuk mengurangi kebutuhan akan material organik/ kayu, sehingga dapat menekan laju sedimentasi. Penerapan konsep rumah panggung serta jalan titian di atas air dimaksudkan untuk memberikan kemudahan sirkulasi air laut, udara, serta mobilitas masyarakat dengan menggunakan perahu. Baik penataan kembali permukiman maupun penerapan teknologi yang inovatif berangkat dari nilai-nilai tradisional dan kekayaan lokal sehingga diharapkan mempunyai tingkat akseptibilitas sosial yang tinggi
Identifikasi Arsitektur Rumah Tradisional Nias Selatan dan Perubahannya Bramantyo Bramantyo
Jurnal Permukiman Vol 7 No 3 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2012.7.151-161

Abstract

Keberadaan rumah tradisional Nias Selatan relatif lebih bertahan eksistensinya dibandingkan rumah tradisional lainnya. Untuk mempertahankan eksistensinya, diperlukan perubahan untuk mengakomodasi kebutuhan hunian masyarakat saat ini. Di sisi lain, perubahan tersebut berpotensi menghilangkan karakter atau keaslian arsitektur tradisional Nias Selatan maupun kearifan lokalnya. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan arsitektur yang terjadi dan dampaknya terhadap eksistensi dari rumah tradisional Nias Selatan. Metodologi yang digunakan adalah metode deskriptif-interpretatif terhadap kondisi eksisting dan perubahan pada rumah tradisional di lapangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa eksistensi rumah tradisional Nias masih cukup kuat pada desa-desa adat, dimana secara umum kondisinya masih relatif baik dan masih dihuni. Sementara perubahan yang banyak terjadi adalah penambahan bangunan pada bagian bawah rumah dan penggantian bahan bangunan. Kesimpulannya adalah perubahan yang terjadi pada rumah tradisional Nias Selatan merupakan upaya untuk mempertahankan eksistensi, yang secara umum tidak menghilangkan karakteristik asli arsitektur tradisional Nias Selatan, namun ikut mempengaruhi kearifan lokal yang dimiliki terkait resistensi bangunan tersebut terhadap ancaman gempa.
Peran Kawasan “Inner City Residents” di Kota Bandung bagi Kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah Heni Suhaeni
Jurnal Permukiman Vol 7 No 3 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2012.7.162-169

Abstract

Di negara-negara sedang berkembang, bukti menunjukkan bahwa kawasan “inner city residents” banyak dibutuhkan sebagai tempat tinggal dan tempat bekerja, walaupun kondisi kawasan”inner city resident” tersebut padat huni dan kumuh, karena posisi geografisnya yang berdekatan dengan pusat kegiatan ekonomi kota. Pertanyannya adalah, mengapa penduduk lebih memilih untuk bertempat tinggal di kawasan “inner city residents” yang kumuh dan padat huni, dan seberapa pentingkah kawasan “inner city residents” bagi mereka. Dalam makalah ini dibahas mengenai karakteristik kawasan “inner city residents” dan penduduknya yang bertempat tinggal di kawasan tersebut. Pengolahan dan analisis data diproses melalui Statistical Package for Social Sciences (SPSS). Metoda yang digunakan dalam SPSS ini adalah “dimension reduction” dan korelasi. Data primer hasil penelitian ini diambil dari dokumentasi Pusat Litbang Permukiman tahun 2010. Hasilnya menunjukkan bahwa kawasan “inner city residents” ini memiliki peran penting yang signifikan bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dalam hal menyediakan berbagai pilihan tempat tinggal yang variatif dan terjangkau, dan terutama karena posisi geografis yang strategis yang dapat dijadikan tempat tinggal dan tempat mencari nafkah di sekitar kawasan tersebut.
Pemanfaatan Abu Terbang dan Sebuk Gergaji untuk Pembuatan Mortar Ringan Geopolimer Dany Cahyadi; Triastuti Triastuti; Anita Firmanti; Bambang Subiyanto
Jurnal Permukiman Vol 7 No 3 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2012.7.170-175

Abstract

Pemanasan global telah menjadi permasalahan hampir di semua negara saat ini. Salah satu penyebabnya adalah emisi karbondioksida yang dihasilkan dari pembuatan semen. Pengurangan emisi karbondioksida dapat dilakukan dengan cara mengurangi penggunaan semen dalam pembuatan beton dan memanfaatkan material tambahan yang mempunyai sifat seperti semen sebagai bahan penggantinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan abu terbang dan serbuk gergaji terhadap sifat fisik dan mekanik mortar ringan geopolimer. Dalam penelitian ini, bahan-bahan yang digunakan meliputi abu terbang, serbuk gergaji akasia mangium, pasir, agregat ringan, larutan Natrium hidroksida (NaOH) dan larutan Natrium Silikat. Perbandingan semen – pasir dan abu terbang – pasir yaitu 1 : 2 (berdasarkan berat) dengan rasio air-semen sebesar 0,25; 0,3 dan 0, 35, dengan variasi kadar serbuk gergaji yang dipakai adalah 10%; 20%, 30% dan 40%. Komposisi antara larutan Natrium hidroksida dan larutan Natrium Silikat adalah 1 : 2 (berdasarkan volume). Pengujian dilakukan setelah benda uji berumur 7 hari dan 28 hari untuk mortar geopolimer dan mortar kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggantian semen Portland dengan abu terbang serta penambahan larutan Natrium hidroksida dan larutan Natrium Silikat ke dalam campuran dapat meningkatkan kuat tekannya sampai 19,7 Mpa dibandingkan dengan kuat tekan mortar kontrol sebesar 15,3 MPa. Sedangkan penambahan kadar serbuk gergaji ternyata menurunkan kuat tekan menjadi 8,1 MPa.
Kajian Subreservoir Air Hujan pada Ruang Terbuka Hijau dalam Mereduksi Genangan Air (Banjir) Sarbidi Sarbidi
Jurnal Permukiman Vol 7 No 3 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2012.7.176-184

Abstract

Perubahan fungsi lahan perkotaan sangat besar menyebabkan tanah kedap air semakin meluas, air limpasan lebih besar, debit banjir lebih tinggi dan bencana banjir yang besar di wilyah hilir. Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 tetang Penataan Ruang menetapkan kota wajib menyediakan ruang terbuka hijau (RTH) 30% dari luas wilayah. Tahun 2011 telah diteliti kriteria teknis desain subreservoir pada RTH untuk penampungan, peresapan dan pemanfaatan air hujan. Penelitian dimaksudkan untuk mengetahui kapasitas subreservoir pada RTH dalam mereduksi genangan air (banjir). Penelitian menggunakan metoda Gumbel, rumus Talbot, Ishiguro, Sherman dan Mononobe, rumus rasional, analisis luas kota dan RTH serta analisis reduksi debit banjir. Data dikumpulkan di Kota Bandung, Bogor dan Jakarta. Hasil penelitian: (1) semakin luas RTH menerapkan subreservoir air hujan, semakin besar genangan air (banjir) dapat direduksi di permukiman kota. (2) Seluruh RTH (30% wilayah kota) dapat digunakan untuk pencegahan banjir preventif dan mereduksi genangan hingga 48%. (3) Semakin kecil RTH kota semakin besar kecenderungan terjadi genangan air hujan di perkotaan, (4) RTH 16% diprediksi peluang terjadi genangan banjir mencapai 74% dan RTH eksisting sekitar 9% peluang terjadi genangan banjir mencapai 86%. (5) Subreservoir pada RTH berpotensi menahan air limpasan mencapai 100% dan mengalirkan kelebihan air ke drainase kota hingga nol persen atau zero runoff.

Page 1 of 1 | Total Record : 6