cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1 (2019)" : 6 Documents clear
HUBUNGAN VERTIKAL ANTARA KELIMPAHAN FORAMINIFERA DAN KARAKTERISTIK SEDIMEN INTI DI SELAT SUMBA, NUSA TENGGARA TIMUR Adrianus Damanik; Purna Sulastya Putra; Septiono Hari Nugroho; Rubiyanto Kapid
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5737.419 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.1.2019.563

Abstract

Data kelimpahan foraminifera dan karakteristik sedimen inti laut dalam digunakan sebagai proksi untuk merekonstruksi iklim, lingkungan, dan oseanografi di masa lalu. Penelitian ini menggunakan sebuah sampel sedimen inti laut dalam (ST-13) sepanjang 173 cm dari Selat Sumba, Nusa Tenggara Timur. Sampel sedimen tersebut diambil dengan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VII pada saat Ekspedisi Widya Nusantara (E-WIN) tahun 2016. Sebanyak 22 subsampel sedimen diambil secara vertikal pada setiap interval delapan cm untuk analisa kelimpahan foraminifera, karakteristik fisik sedimen dan kandungan unsur kimianya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara unsur biogenik (kelimpahan foraminifera) terhadap unsur anorganik (karakteristik fisik sedimen dan kandungan unsur kimia) melalui pengujian korelasi Pearson pada piranti lunak XLSTAT. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai korelasi yang tinggi antara kelimpahan foraminifera dengan nilai rata-rata, kemencengan, persentase pasir, Ca, dan Sr (-0,64, 0,72, 0,66, 0,71, dan 0,75). Sedangkan nilai korelasi yang lemah terjadi antara kelimpahan foraminifera terhadap pemilahan, kurtosis, Fe, Ti, dan K (-0,13, 0,43, -0,18, -0,43, dan -0,42). Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa kelimpahan foraminifera mempengaruhi ukuran butir rata-rata, pergeseran distribusi kearah lebih kasar, persentase pasir, dan juga Ca dan Sr sebagai unsur dari cangkang foraminifera tersebut.Kata kunci: Kelimpahan foraminifera, karakteristik sedimen, korelasi Pearson, laut dalam, Selat SumbaData of foraminiferal abundance and deep sea core sediment characteristics are used as proxies to reconstruct climate, environment and oceanography in the past. A study was conducted on deep sea using a 173 cm length core sediment sample (ST-13) from the Sumba Strait, East Nusa Tenggara. This core was carried out from RV Baruna Jaya VIII during the Widya Nusantara (E-WIN) Expedition in 2016. The abundance of foraminifera, physical properties of sediment and chemical content were analyzed from 22 subsamples sediments at every eight cm intervals. The purpose of this study was to determine the relationship between biogenic elements (abundance of foraminifera) to organic elements (physical properties of sediment and chemical content) by Pearson’s correlation with XLSTAT software. The results showed that a strong correlation between foraminiferal abundance with mean, skewness, sand percentages, Ca, and Sr (-0.64, 0.72, 0.66, 0.71, and 0.75). Meanwhile, the weak correlation values occur between foraminiferal abundance and sorting, kurtosis, Fe, Ti, and K (-0.13, 0.43, -0.18, -0.43, and -0.42). It seems that foraminifera abundance affects the mean grain size, changes the distribution to more coarse, the percentage of sand, and also Ca and Sr as its from shell of the foraminifera.Keywords: Foraminifera abundance, sediment characteristics, Pearson’s correlation, deep sea sediment, Sumba Strait.
INTERPRETASI GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN ANALISIS DATA GAYABERAT MENGGUNAKAN FILTER OPTIMUM UPWARD CONTINUATION DAN PEMODELAN 3D INVERSI : (STUDI KASUS: CEKUNGAN AKIMEUGAH SELATAN, LAUT ARAFURA) Imam Setiadi; Catur Purwanto; Dida Kusnida; Yulinar Firdaus
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5585.434 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.1.2019.579

Abstract

Cekungan Akimeugah terletak pada paparan Laut Arafura yang merupakan bagian dari passive margin yang berasosiasi dengan cekungan di kontinen Australia yang sudah memproduksi hidrokarbon seperti cekungan Bonaparte, Carnavon dan cekungan Canning. Secara tektonik cekungan ini berkembang akibat pertemuan lempeng Australia dengan Pasifik sehingga menyebabkan munculnya struktur lipatan, tinggian, rendahan dan patahan. Salah satu metoda geofisika yang dapat digunakan untuk mengetahui struktur geologi bawah permukaan adalah metoda gayaberat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi struktur geologi bawah permukaan, mendelineasi sub-cekungan sedimen serta memperkirakan ketebalan sedimen di Cekungan Akimeugah bagian selatan. Analisis data yang digunakan yaitu analisis spektrum, filter optimum upward continuation serta pemodelan inversi 3D. Hasil analisis spektral menunjukkan bahwa tebal batuan sedimen rata rata di daerah penelitian adalah sekitar 3.6 Km. Ketinggian optimum yang digunakan pada filter optimum upward continuation yaitu pada ketinggian 6000 m dan menghasilkan anomali regional serta residual. Sub-cekungan yang didelineasi dari analisis data gayaberat adalah sebanyak 7 sub-cekungan sedimen, dimana pola struktur yang teridentifikasi yaitu berupa tinggian, graben dan patahan. Hasil pemodelan 3D menunjukkan bahwa batuan dasar cekungan berupa batuan metamorfik dengan nilai rapat massa 2.7 gr/cc. Kemudian secara berurutan dari bawah ke atas diendapkan batuan sedimen dari kelompok Aifam yang berumur Paleozoikum dengan nilai densitas 2.6 gr/cc, kemudian di atasnya lagi adalah batuan sedimen kelompok Kemblengan yang berumur Mesozoikum dengan nilai rapat massa 2.5 gr/cc, dan yang paling atas adalah batuan sedimen tersier kelompok batugamping Nugini dengan nilai rapat massa 2.4 gr/cc dan Formasi Buru dengan nilai rapat massa 2.2 gr/cc.. Hasil analisis model bawah permukaan menunjukkan bahwa berdasarkan pola graben dan tinggian, Cekungan Akimeugah bagian selatan cukup potensial untuk berkembangnya petroleum system seperti cekungan di Australia yang sudah berproduksi hidrokarbon.Kata Kunci : Gayaberat, spektral analisis, filter optimum upward continuation, pemodelan 3D inversi, Cekungan Akimeugah selatan, Papua.The Akimeugah Basin is located on the Arafura Shelf which is part of the passive margin associated with basins of Australian continent that have produced hydrocarbons such as the Bonaparte basin, Carnarvon and the Canning basins. Tectonically this basin develops due to the collision between the Australian and the Pacific plates, resulting folds, highs, lows and faults. One of the geophysical methods that can be used to determine the subsurface geological structure is the gravity method. The purposes of this study are to identify subsurface geological structures, delineating sediment sub-basin and to estimate sediment thickness in the southern Akimeugah basin. Data analysis used are spectrum analysis, optimum upward continuation filters and 3D inversion modeling.. The spectral analysis results show that the average thickness of the sedimentary rock in the study area is about 3.6 Km. Optimum height that used at the optimum upward contiuation filter was at an altitude 6000 m and resulting regional and residual anomaly. The delineated sub-basin obtained from gravity data analysis is as many as 7 sediment sub-basins, where the identified structural pattern is in the form of high, graben and fault. The 3D modeling results show that the basement of the basin is of a metamorphic rock with a mass density value of 2.7 gr/cc. Then sequentially from the lowest, sedimentary rocks from the Aifam group of Paleozoic were deposited with a density value of 2.6 gr/cc, hereafter is sediment group of Kemblengan of Mesozoic with mass density values of 2.5 gr/cc, and at the top is a Tertiary sedimentary rock, limestone Nugini group with a mass density value of 2.4 gr/cc and Buru Formation with density value 2.2 gr/cc. The results of the subsurface model analysis show that based on a graben and high pattern, the southern Akimeugah basin is potential for the development of petroleum systems such as the basins those already produce hydrocarbons in Australia.Keywords: gravity, spectral analysis, optimum upward continuation filter, modeling 3D inversion, southern Akimeugah Basin, Papua.
ESTIMASI TRANSPOR SEDIMEN DI PERAIRAN KECAMATAN BREBES, JAWA TENGAH BERDASARKAN LAJU SEDIMENTASI DAN PENDEKATAN MODEL NUMERIK WISNU ARYA GEMILANG; ULUNG JANTAMA WISHA
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4383.065 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.1.2019.552

Abstract

Erosi dan akresi telah menjadi masalah utama di perairan Kecamatan Brebes. Perubahan pesisir yang sangat dinamis dipicu oleh faktor hidro-oseanografi yang mengendalikan mekanisme transpor sedimen yang terjadi baik di muara maupun diwilayah pantai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat rata-rata laju sedimentasi dan transpor sedimen yang terjadi di kawasan pantai Kecamatan Brebes. Pengambilan data laju sedimentasi menggunakan sediment trap yang kemudian dianalisis secara statistik. Perhitungan total transportasi sedimen dan distribusi vertikal suspensi sedimen dilakukan dengan pendekatan model numerik. Nilai laju sedimentasi berkisar antara 0,243 – 22,724 g.m-2.hari-1 dimana laju tertinggi berada di hulu sungai Pemali, Sungai Pemuda dan hilir sungai Pemali. Nilai sortasi sedimen menunjukkan nilai 1,1 – 1,59 (pemilahan buruk). Nilai skewness (Ski) berkisar antara 0,21 – 0,46 (dominan menceng sangat halus). Nilai kurtosis berkisar antara 1,79 – 4,45 (sangat runcing). Total transportasi sedimen sebesar 43,88 x 10-5 m3/s dan distribusi vertikal konsentrasi sedimen tersuspensi berkisar antara 1-176 mg/L (pasang) dan 3-198 mg/L (surut) dimana transpor sedimen sangat dipengaruhi oleh kondisi oseanografi (gelombang, pasang surut, dan arus sepanjang pantai). Pada saat tinggi gelombang pecah meningkat maka transpor sedimen yang terjadi juga semakin intens termasuk mekanisme erosi dan sedimentasi yang terjadi di dasar perairan.Kata kunci: Laju sedimentasi, model numerik, transpor sedimen, perairan BrebesErosion and accretion has become the main issues in Brebes Sub-District waters. Coastal changes which are very dynamic are triggered by hydro-oceanography factors controlling sediment transport mechanism occurred both in the estuary and coastal area. This study aims to determine the average of sedimentation rate and the sediment transport depiction in Brebes Sub-District coast. Sedimentation rate data collection was done using cylinder sediment trap which was then analyzed statistically. Total transport sediment and suspended sediment vertical distribution were calculated employing numerical model approach. The value of sedimentation rate ranged from 0.243 – 22.724 g.m-2.day-1 in which the highest value was observed upstream Pemali River, Pemuda River, and downstream Pemali River. Sediment sortation ranged from 1.1 – 1.59 (poorly sorted). Skewness (Ski) value ranged from 0.21 – 0.46 (very fine skewed). Kurtosis value ranged from 1.79 – 4.45 (very leptokurtic). Total sediment transport reached 43.88 x 10-5 m3/s and vertical distribution of suspended sediment ranged from 1-176 mg/L (flood) and 3-198 mg/L (ebb) respectively wherein the sediment transport is strongly controlled by the oceanography conditions (waves, tidal, and longshore current). When the breaking wave crest enhanced, the sediment transport occurs intensely including erosion and sedimentation in the bottom of water. Keywords: Sedimentation rate, numerical model, sediment transport, Brebes waters
DIVERSITAS DAN DISTRIBUSI FORAMINIFERA DI SELAT BENGGALA DAN SEKITARNYA, ACEH Suhartati M. Natsir; Singgih P.A. Wibowo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.563 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.1.2019.560

Abstract

Penelitian foraminifera di sekitar Selat Benggala belum diketahui namun telah ada penelitian dari sekitar pulau-pulau kecil di laut lepas Aceh. Penelitian mengenai keragaman dan sebaran foraminifera di perairan tersebut penting dilakukan sebagai data awal untuk interpretasi lingkungan pengendapan terkait batimetri, oseanografi, ekologi, klimatologi purba dan lain-lain. Hasil identifikasi foraminifera di sekitar Selat Benggala diperoleh 19 spesies foraminifera plangtonik dan 43 spesies foraminifera bentik. Nilai rasio foraminifera plangtonik dan foraminifera bentik (rasio P/B) relatif bervariasi berkisar antara 0 dan 81,84%. Nilai nol dijumpai di tiga stasiun yang didominasi oleh Amphistegina, Calcarina dan Heterostegina penciri lingkungan terumbu karang. Nilai rasio PB tertinggi tidak dijumpai pada stasiun dengan kedalaman tertinggi (1485 m) namun di stasiun yang berdekatan dengan pantai barat Pulau Weh pada kedalaman 101 m. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan pola arus setempat dan morfologi dasar laut (kemiringan lereng) sehingga terjadi akumulasi spesimen foraminifera plangtonik.Kata kunci: foraminifera, rasio P/B, kedalaman, Selat Benggala, Aceh.Foraminiferal study from Benggala Strait is unknown but it has been studied from surrounding small islands off Aceh. The study of diversity and distribution of foraminifera from the present study area is important as the initial data for the interpretation of the environmental deposition, paleo-bathymetry, paleo-oceanography, ecology, climatology and others. This study has identified 19 planktonic foraminifera and 43 species of benthic from Benggala Strait. The ratio of benthic and planktonic foraminifera (PB ratio) are varied between 0 and 81.84%. The zero value is found in three stations that dominated by Amphistegina, Calcarina, and Heterostegina associated with coral environment. The highest value of PB ratio is not found in the deepest depth (1485 m) but in a station that is close to western coast of Weh island with 101 m water depth. It may related to local current system and seafloor morphology (slope gradient) that accumulated specimens of planktonic foraminifera. Keywords: foraminifera, P/B ratio, water depth, Benggala Strait, Aceh.
KARAKTER MASA AIR DI LAUT SULAWESI BERDASARKAN ANALISIS FORAMINIFERA KUANTITATIF Marfasran Hendrizan; Widiyanti C. A.; R. E. Prabowo; Munasri Munasri; Nazar Nurdin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1359.127 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.1.2019.562

Abstract

Kumpulan foraminifera dari sedimen Sumur STA 3 (0.8897°N, 119.0865°E, kedalaman laut 1294 m) di Laut Sulawesi diteliti untuk memahami ciri lingkungan purba pada lokasi sumur. Situasi modern menunjukkan Laut Sulawesi menjadi jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang mentransport masa air dari Samudra Pasifik hingga Samudra Hindia. Studi ini difokuskan pada indeks ekologi untuk membuat struktur komunitas foraminifera dan mengeavaluasi dinamika komunitas foraminifera yang terekam di inti Sumur STA 3. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah observasi naturalistik meliputi preparasi sampel, kumpulan foraminifera (penjentikan dan identifikasi), dan analisis data. Analisis data kumpulan foraminifera menggunakan Paleontological Statistics (PAST) dari kelimpahan, keanekaragaman spesies Shannon-Winner (H’), indeks dominan (D), dan indeks kemerataan Pileou (J’). Analisis kluster dilakukan untuk menentukan kelompok sampel dikelompokkan berdasarkan kesamaan kumpulan foraminifera. Identifikasi foraminifera pada inti sedimen STA 3 terdiri dari 44 spesies foraminifera plankton dan 100 spesies foraminifera bentik. Indeks ekologi dari kumpulan foraminifera memperlihatkan keanekaragaman spesies berkisar antara 2.57 hingga 3.07, kisaran nilai dominan antara 0.07 hingga 0.13, dan indeks kemerataan berkisar antara 0.72 hingga 0.8. Analisis kluster memperoleh 3 kelompok lingkungan berdasarkan komposisi spesies mengindikasikan perubahan lingkungan yang tidak signifikan di sepanjang inti sedimen. Kumpulan foraminifera pada inti sedimen STA 3 mencerminkan karakteristik masa air hangat, kondisi oksigen rendah, dan asupan organik tinggi.Kata Kunci: Foraminifera, Struktur komunitas, analisis statistik, massa air, Laut Sulawesi. Foraminifera assemblages of marine sediment core STA 3 (0.8897°N, 119.0865°E, depth of 294 m) in Sulawesi Sea was investigated to understand paleoenvironment feature in this core site. Modern situation shows that Sulawesi Sea provides a pathway for Indonesian Throughflow (ITF) which transports watermasses from Pacific to Indian Ocean. This study focused on the ecological indices to establish community structure of foraminifera and to evaluate community dynamic as recorded in core STA 3. Method used in this study was naturalistic observation consisting of sample preparation, foraminiferal assemblage (picking and identification), and data analysis. Data analysis of foraminifera assemblages was applied using Paleontological Statistics (PAST) of relative abundance, species diversity of Shannon-Wiener (H’), dominance indices (D), and Pileou evennes indices (J’). Cluster analysis was performed to determine how samples group based on the similarity of foraminiferal assemblages. Foraminifera identification in core STA 3 contains 44 species of planktonic foraminifera and 100 species of benthic foraminifera. Ecological indices of foraminiferal assemblages show species diversity of foraminiferal assemblages with a range value between 2.57 and 3.07, range of dominance values from 0.07 to 0.13, and evennes values fluctuate from 0.72 to 0.8. Cluster analysis reveals 3 clusters environment based on species composition which indicate no significant environmental changes in the entire core record. Foraminiferal asemblages in core STA 3 reflect watermass characteristics with warm water column, low bottom-water oxygenation, and high organic influx conditions. Keywords: Foraminifera, community structure, statistical analysis, watermass, Sulawesi Sea.
KETEBALAN ENDAPAN SEDIMEN PASIR LAUT BERDASARKAN DATA SEISMIK DANGKAL SALURAN TUNGGAL DI PERAIRAN TAKALAR, SELAT MAKASSAR Purnomo Raharjo; Mario Dwi Saputra; Godwin Latuputty; Nine Yayu Geurhaneu; Delyuzar Ilahude
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4491.71 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.1.2019.593

Abstract

Ketebalan dan jenis sedimen dasar laut di suatu lokasi penelitian dapat diketahui dari pengambilan data geologi permukaan dan bawah permukaan dasar laut. Metoda yang digunakan untuk mendapatkan data tersebut di atas antara lain geofisika laut (batimetri, seismik refleksi), geologi (pengambilan contoh sedimen dasar laut). Kegiatan penelitian ini berada di perairan Selat Makassar, di muara sungai sekitar pantai Takalar sebagai sumber sedimen pasir ke arah lepas pantai. Sumber sedimen pasir tersebut diketahui dari hasil pengamatan di lapangan ternyata dipengaruhi oleh energi gelombang, arus sejajar pantai (longshore current) dan arus pasang surut (tidal current). Data geologi bawah permukaan (sub bottom profiling) didapat dengan menganalisa rekaman seismik pantul dangkal untuk mengetahui ketebalan dan luasan sebaran sedimen pasir. Dari analisis data tersebut dilakukan pendekatan perhitungan secara kualitatif sehingga diketahui deposit endapan pasir dengan luas area kurang lebih 9,764 km², dengan asumsi ketebalan rata-rata 3,84 meter maka deposit kurang lebih 224 juta meter³.Kata Kunci : Seismik refleksi, sedimen pasiran, Takalar, Selat Makasar The thickness and type of seabed sediments at a research location can be known from surface and subsurface geological data collection. The methods used to obtain the above data include marine geophysics (bathymetry, seismic reflection), geology (sampling of sea floor sediments). This research activity was located in the Makassar Strait waters, at the mouth of the river around the Takalar coast as a source of sand sediment towards the offshore. The source of the sand sediment known from observations in the field was influenced by wave energy, longshore currents and tidal currents. Sub-bottom profiling is obtained by analyzing shallow reflected seismic records to determine the thickness and sand deposition distribution. From the analysis of the data the qualitative calculation approach is carried out so that it is known that the deposition of sand deposits with an area of approximately 9,764 km², assuming an average thickness of 3,84 meters, the deposit reserves of approximately 224 million meters³. Keyword : seismic reflection, sandy sediment, Takalar, Makasar strait

Page 1 of 1 | Total Record : 6