cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 3 (2004)" : 4 Documents clear
FORAMINIFERA DI TELUK SEPI - BLONGAS, LOMBOK SELATAN, NUSA TENGGARA BARAT DAN KAITANNYA DENGAN FAKTOR LINGKUNGAN Auliaherliaty Auliaherliaty; Kresna Tri Dewi; Yusuf Adam Priohandono
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 3 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.091 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.3.2004.115

Abstract

Dua puluh satu contoh sedimen dasar perairan Teluk Sepi - Blongas, Lombok Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Barat telah digunakan untuk studi foraminifera bentik dalam kaitannya dengan faktor lingkungan. Foraminifera bentik yang ditemukan di daerah penelitian sebanyak 133 spesies yang termasuk dalam 60 genera. Spesies yang mempunyai persentase tertinggi adalah Ammonia beccarii, kemudian diikuti oleh Ammonia sp., Elphidium crispum, Pattelina corrugata, Amphistegina lessonii, Amphistegina sp.1, Calcarina sp.1, Pyrgo lucernula dan Quinqueloculina seminulum. Calcarina dengan pengawetan cangkang yang baik merupakan genus penciri utama daerah penelitian. Genus ini terdiri dari 15 species dengan perkiraan 11 spesies diantaranya merupakan spesies baru dan diperlukan penelitian khusus di masa yang akan datang. Foraminifera bentik tidak terdistribusikan secara merata di setiap lokasi pengambilan percontoh. Hal ini berkaitan dengan faktor lingkungan seperti jenis sedimen, pola arus, nutrisi dan kondisi lingkungan setempat seperti wilayah bakau dan budidaya mutiara. Twenty-one seafloor sediment samples of the Sepi-Blongas Bay, South Lombok Island, West Nusa Tenggara Province, have been used for foraminiferal study in relation to environmental factors. A total of 133 foraminiferal species belongs to 60 genera have been found in the study area. The largest percentage species is Ammonia beccarii, followed by Ammonia sp., Elphidium crispum, Pattelina corrugata, Amphistegina lessonii, Amphistegina sp.1, Calcarina sp.1, Pyrgo lucernula and Quinqueloculina seminulum. Calcarina, which is preserved in good condition, is a main genus dominated the study area. This genus comprises 15 species, in which 11 among them, are probably new and it needs particular research in the future. The benthic foraminifera in this study area are not distributed widely at every sample location. This depends on the ecological factors: sediment types, current pattern, nutrients and local environmental conditions such as mangrove area and pearl cultivation area.
PENAFSIRAN GEOLOGI PERAIRAN PULAU MENJANGAN-BALI DARI DATA SEISMIK Lukman Arifin; Delyuzar Ilahude
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 3 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.36 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.3.2004.116

Abstract

Hasil penafsiran rekaman seismik pantul dangkal menunjukkan adanya sesar-sesar aktif di bagian barat dan bagian timur daerah selidikan. Diduga morfologi tinggian bagian timur merupakan bagian daratan Pulau Bali dan bagian barat adalah bagian daratan Pulau Jawa. Adanya onggokan di permukaan dasar laut di sekitar Tanjung Pasir Putih ditafsirkan sebagai carbonat build-up. Bentuk ini banyak ditemukan di sekitar Pulau Menjangan. yang merupakan kawasan wisata bawah laut. Kondisi geologi dari penafsiran rekaman seismik ini diharapkan dapat merupakan masukan untuk pengembangan pembangunan di kawasan wisata Pulau Menjangan. Results of shallow seismic reflection interpretation records show the present of active faults in the western and eastern part of the study area. The morphological hight in the western part is suggested as part of the Bali island and the western part is of Java island. The height at the sea floor surface around Tanjung Pasir putih is interpreted as a carbonat build-up. This form was found around the Menjangan island of marine tourism area. Geological condition interpreted from seismic records is hoped can contribute to the development of the Menjangan island tourism area.
IDENTIFIKASI STRUKTUR PADA PROFIL MAGNET TOTAL DAN SEISMIK DANGKAL DI PERAIRAN TANJUNG SELOR KALIMANTAN TIMUR Delyuzar Ilahude; Lukman Arifin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 3 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1236.228 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.3.2004.117

Abstract

From the total magnetic anomaly and single channel seismic data interpretation on the systematic mapping in the Tanjung Selor waters, east Kalimantan, are shows correlation almost similar between magnetic anomaly with the seismic data records. The magnetic anomaly value and seismic data profiles are show that the many fault and fold structures identification in the research area. The total magnetic anomaly result which are presented of the magnetic basement. Dari Anomali magnet total dan data seismik dangkal saluran tunggal pada pemetaan sistematik di perairan Tanjung Selor, Kalimantan timur, menunjukkan hubungan yang hampir mirip antara nilai anomali magnet total dengan data seismik. Profil anomali magnet dan data seismik dangkal menunjukkan banyaknya struktur sesar dan perlipatan teridentifikasi di daerah penelitian. Anomali magnet total hasil penelitian ini lebih cenderung menggambarkan intensitas magnet batuan dasar.
POTENSI WISATA BAHARI DITINJAU DARI ASPEK GEOLOGI DAN GEOFISIKA KELAUTAN DI PERAIRAN MUARA SAMBAS, KALIMANTAN BARAT Wayan Lugra; Abdul Wahib
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 3 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1222.466 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.3.2004.118

Abstract

Perkembangan Kota Kecamatan Pemangkat tampak sangat pesat karena kota tersebut sebagai kota penyangga pelabuhan laut di Muara Sungai Sambas. Disamping sebagai kota tujuan bisnis, Pemangkat juga memiliki pantai yang indah serta unik diantaranya di sebelah utara Muara Sungai Sambas yaitu di Desa Jawae dan di Tanjung Batu di sebelah selatan Muara Sungai Sambas. Di Desa Jawae pantainya berpasir berwarna putih keabuan, dengan lebar paras muka pantai berkisar 15 - 25 meter, serta dibelakang garis pantainya ditumbuhi pohon bakau dan ketapang. Perubahan kedalaman perairan berangsur dari kedalaman 0,5 meter sampai 11 meter, dengan air laut yang masih jernih. Pelamparan pasir ke arah laut sekitar 300 meter mencapai kedalaman 2 meter. Pantai ini sangat cocok dikembangkan untuk wisata pantai. Di Tanjung Batu pantainya bertebing serta dialasi batuan yang sangat kompak dan pejal. Dibeberapa tempat batuan dasar pantainya terlihat hitam mengkilap karena gerusan ombak serta memantulkan cahaya matahari oleh mineral-mineral yang terkandung di dalam batuan tersebut. Pantai ini telah berkembang menjadi daerah tujuan wisata karena keunikannya serta letaknya yang strategis dan dekat dari jangkauan lalu lintas umum . The developing of Pemangkat City was very rapidly because that city as a buffer city of Sambas Harbour. Biside as a bisnis destination, Pemangkat city has a beautiful beach and unique such as in Jawae located in the northern of Mouth Sambas River and Tanjung Batu in the southern of Mouth Sambas River. Sand beach of Jawae is white to grey, with wide berm was about 15 to 25 meters and in the back of coastal line were growth by mangrove and ketapang trees. Depth changes of study area was very gradually from 0,5 meter to 11 metres depth and sea water was still purity. Distribution of the sand to the sea ward from coast line was about 300 metres untill 2 meters water depth. This beach is very suitable for developing to be beach tourism object. The Beach In Tanjung Batu was steeping beach wich is based by masive rocks and very campact. In some places besement rock of the beach looking black glance caused by waves eroded, and reflecting the sun shine by black minerals which is acquired within the basement rock. This beach had developed to be a beach tourism object because its unique and locally strategic, near from reaching public transportations.

Page 1 of 1 | Total Record : 4