cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Pemanfaatan Limbah Padat Kompos Kotoran Ternak dalam Meningkatkan Daya Dukung Lingkungan dan Biomassa Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.) Djonius Nenobesi
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i1.344

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompos limbah kotoran ternak dalam meningkatkan daya dukung lingkungan dan biomassa tanaman kacang hijau varietas Vima 1 pada tanah Vertisol. Penelitian ini menggunakan rancangan petak terpisah yang petak utamanya adalah jenis kompos dengan 3 level yakni kompos kotoran ayam, kompos kotoran sapi, dan kompos slurry biogas kotoran sapi. Anak petak berupa dosis dengan 4 level yakni 0, 15, 30, dan 45 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompos slurry biogas kotoran sapi 45 ton/ha secara nyata memberikan nilai tertinggi kandungan P total, K tersedia, C organik, jumlah koloni bakteri tanah, serta hasil biji, berat biomasa, efisiensi penggunaan air (EPA), dan efisiensi penggunaan pupuk (EPP). Pemberian slurry biogas kotoran sapi dengan dosis tersebut menghasilkan berat biji 1,77 ton/ha, berat biomasa per tanaman 76,1 gram, EPA 0,0113 kg/liter,dan EPP 0,06 kg/kg. Seluruh ukuran produktivitas tanah dan tanaman juga secara nyata lebih tinggi pada perlakuan pemberian kompos daripada tanpa pemberian kompos. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian kompos kotoran ternak meningkatkan daya dukung lingkungan dan peningkatan paling tinggi terjadi pada perlakuan 45 to/ha slurry biogas.
Kelembagaan Urusan Pangan dari Masa ke Masa dan Kebijakan Ketahanan Pangan Juli Panglima Saragih
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i1.345

Abstract

Sejak kemerdekaan Indonesia sampai saat ini tugas, kewenangan, dan organisasi kelembagaan urusan pangan selalu berubah-ubah yang dapat berpengaruh terhadap upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional. Selama Orde Baru, lembaga pangan Badan Urusan Logistik (BULOG) relatif berhasil dalam menstabilkan harga pangan pokok walaupun BULOG tidak berbentuk badan usaha. Politik pengelolaan pangan juga mempengaruhi pencapaian ketahanan pangan seperti pada masa krisis ekonomi 1998. Pentingnya lembaga pangan juga tidak secara tegas diatur dalam UU No.7 Tahun 1996. Sejak BULOG menjadi badan usaha milik negara berbentuk perusahaan umum tahun 2003, BULOG terus berupaya untuk menstabilkan harga pangan pokok, tetapi masih tidak mampu menurunkan dan menstabilkan hargapangan pokok di luar beras. Studi ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif-analisis. Data sekunder dari berbagai referensi yang relevan dikumpulkan dan dianalisa guna menjawab permasalahan. Dari hasil analisis antara lain disimpulkan bahwa pemerintah memang sudah menetapkan lembaga urusan pangan seperti BULOG, tetapi masih belum terkoodinasi antar-lembaga padahal urusan pangan bersifat lintas sektor. Salah satu dampaknya adalah masih mahalnya harga sebagian besar komoditas pangan pokok di masyarakat. Mata rantai tata niaga yang cukup panjang juga menjadi penyebab tidak tercapainya ketahanan pangan nasional.
Pengembangan Kedelai untuk Kemandirian Pangan, Energi, Industri, dan Ekonomi Tajuddin Bantacut
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i1.346

Abstract

Kedelai adalah komoditas strategis yang permintaannya tinggi, produk hilirnya sangat beragam dan bernilai tinggi, meliputi pakan, pangan, energi dan bahan baku industri. Kenaikan konsumsi yang terus meningkat, namun belum dapat diimbangi oleh kenaikan produksi dalam negeri. Impor masih menjadi andalan sehingga seringkali terjadi gejolak harga dan pasokan akibat perubahan situasi ekonomi makro dan pasokan di pasar internasional. Berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan produksi dalam negeri, tetapi belum mampu meningkatkan pasokan yang berarti. Orientasi pembangunan yang dipatok pada swasembada menjadikan pengembangan kedelai tersandera oleh tujuan jangka pendek dan tidak bergerak menuju industri hilir yang kuat yang menguntungkan secara ekonomi. Produktivitas kedelai yang masih sangat rendah menjadi kendala peningkatan produksi karena keterbatasan bibit unggul, ketersediaan pupuk dan sarana produksi lainnya. Potensi lahan dan kesesuaian iklim untuk penanaman menjadi faktor penghambat perluasan dan peningkatan produksi. Ketergantungan masyarakat terhadap produk turunan kedelai, terutama tahu dan tempe, menjadikan kedelai sebagai bagian dari bahan pangan pokok. Oleh karena itu, orientasi pertambahan produksi kedelai seharusnya tidak dibatasi pada swasembada untuk memenuhi permintaan saat ini, terutama bahan baku tahu dan tempe, tetapi lebih dari itu untuk penguatan ekonomi, industri dan kemandirian pangan. Paper ini membahas berbagai permasalahan dan strategi pembangunan kedelai berbasis industri menuju kemandirian pangan dan ketahanan ekonomi.
Karakteristik Fisik, Kimia, dan Sensori Beras Analog Berbasis Bahan Pangan Non Beras Slamet Budijanto
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i1.347

Abstract

Beras analog merupakan salah satu produk pangan yang terbuat dari bahan pangan non beras, yang dapat menjadi alternatif makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Bahan baku sumber karbohidrat non beras yang berpotensi antara lain jagung kuning, jagung putih, ubi kayu, dan sorgum. Keunggulan beras analog tidak hanya berbentuk menyerupai beras, namun dapat dimasak dan dikonsumsi layaknya beras dari padi. Beberapa penelitian telah mampu menghasilkan beras analog yang menyerupai beras menggunakan campuran beberapa jenis bahan baku. Beras analog yang diperoleh juga memiliki sifat fungsional seperti nilai indeks glikemik (IG) rendah, mengandung serat pangan dan total fenol yang tinggi.Karakteristik fisik penting yang diamati diantaranya adalah warna, bentuk, teknik, dan waktu pemasakan. Karakteristik sensori beras analog juga telah dapat diterima oleh panelis pada kisaran agak tidak suka hingga suka. Penelitian-penelitian mengenai beras analog menunjukkan dapat meningkatkan nilai tambah dari bahan pangan non beras serta mendukung keragaman sumber gizi bagi masyarakat. Artikel ini mengulas beras analog yang menggunakan teknologi ekstrusi dari beberapa jenis bahan baku non beras.
Efisiensi dan Prospektif Usaha Tani Ubi Jalar (Studi Kasus Desa Petir, Dramaga, Jawa Barat, Indonesia) R.W. Asmarantaka
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i1.348

Abstract

Ubi jalar merupakan salah satu sumber pangan utama setelah beras dan ubi kayu yang mempunyai potensi ekonomi untuk dikembangkan. Tujuan penelitian ini adalah i) untuk menganalisis tingkat efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi usaha tani ubi jalar; ii) untuk mempelajari faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi produksi ubi jalar; dan iii) untuk mendeskripsikan prospek pengembangan usaha tani ubi jalar. Analisis data dilakukan dengan menggunakan fungsi produksi Cobb Douglass stochastic frontier dan fungsi biaya dual frontier. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha tani ubi jalar Desa Petir telah efisien secara teknis dengan nilai rata-rata sebesar 0,95, namun belum efisien secara alokatif (0,61) dan ekonomi (0,57). Faktor yang berpengaruh nyata terhadap inefisiensi teknis adalah pendidikan, umur, proporsi pendapatan ubi jalar, keikutsertaan kelompok tani, modal usaha tani, varietas ubi jalar dan dummy irigasi. Usaha tani ubi jalar sangat prospek untuk dikembangkan karena mempunyai tingkat keuntungan dan produktivitas yang tinggi, serta permintaan ubi jalar yang terus meningkat.
Analisis Nilai Tambah Rantai Pasok Jagung Pakan Ternak: Studi Kasus di Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara Julian Witjaksono
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i1.349

Abstract

Jagung merupakan komoditas penting sebagai uang kas bagi para petani kecil khususnya di wilayah pedesaan. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran para pelaku kunci yang terlibat dalam sistem rantai nilai dan menganalisis nilai tambah yang diperoleh dari setiap peran dari pelaku yang terlibat langsung dalam rantai pasok jagung. Kajian ini telah dilaksanakan dari bulan April sampai Agustus 2016. Pemilihan lokasi studi berdasarkan pertimbangan bahwa Kabupaten Konawe Selatan merupakan salah satu sentra produksi jagung dan bahan pakan ternak di Sulawesi Tenggara. Teknik purposive sampling dan snowball sampling telah diterapkan dalam pemilihan responden berdasarkan pertimbangan karena informasi yang terbatas tentang jumlah pedagang pengumpul, pengusaha, dan pelaku lainnya yang terlibat dalam rantai pasok jagung. Metode penelitian ini menggunakan analisis deskriptif untuk rantai pasok, kondisi rantai pasok, metode Hayami untuk analisis nilai tambah. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai tambah tertinggi diperoleh dari pedagang pengumpul besar (PT.BSL) sebesar Rp6.300,00/kg, CV. Usaha Inti Rakyat sebagai usaha ayam petelur sebesar Rp6.275,00/kg dan petani jagung sebesar Rp5.415,00/kg. Hasil analisis margin mengindikasikan nilai tertinggi diperoleh CV. Usaha Inti Rakyat sebesar Rp6.850,00/ kg, petani jagung Rp5.915,00/kg dan PT. BSL Rp5.225,00/kg.
ANALISIS KEBIJAKAN TERHADAP SUPPLY DEMAND JAGUNG NASIONAL DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIK Sumarni Panikkai
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i2.350

Abstract

Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian Indonesia. Jagung dapat dimanfaatkan untuk pangan, pakan, dan bahan baku industri. Kebutuhan akan jagung semakin meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply) jagung nasional haruslah senantiasa dapat terjaga agar tidak terjadi kelangkaan disatu sisi dan over-supply disisi yang lain.Sistem dinamik dalam mengestimasi tingkat kebutuhan dan ketersediaan jagung nasional menjadi sangat penting, mengingat sistem dinamik dapat memproyeksi keduanya dimasa yang akan datang. Metode pengumpulan data adalah studi literatur dengan mengumpulkan data sekunder terkait produksi jagung nasional dalam kurun waktu 2010-2015. Metode analisis data menggunakan pendekatan sistem dinamik. Hasil penelitian diperoleh bahwa model skenario yang dikembangkan dengan skenario#1 (ekstensifikasi lahan areal tanaman dari 4% meningkat menjadi 8% per tahun) dan skenario#2 (intensifikasi lahan dengan peningkatan produktivitas lahan rata-rata 2,0 ton/ha), mampu menjawab kebijakan terhadap supply-demand jagung nasional.Skenario#1 akan memberikan implikasi kebijakan berupa program ekstensifikasi atau perluasan areal tanam mulai tahun 2016 dengan peningkatan sebanyak 4% per tahun. Peningkatan luas areal tanam tersebut akan meningkatkan luas areal tanam dari 6.953.067,64 hektar pada tahun 2015 meningkat menjadi 8.803.697,58 ha pada tahun 2016 atau naik sebanyak 1.850 ribu hektar atau sekitar 26,67%. Skenario#2 merupakan skenario kombinasi antara program ekstensifikasi dengan program intensifikasi. Peningkatan produktivitas lahan rata-rata 2,0 ton/hektar akan berimplikasi pada berbagai upaya peningkatan produktivitas lahan seperti; program benih unggul, pemberantasan hama dan penyakit, peningkatan pemupukan dan lain sebagainya.
KARAKTERISTIK TEPUNG TEMPE LARUT AIR Made Astawan
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i2.351

Abstract

Tujuan penelitian ini ialah menganalisa karakteristik tepung larut air berbasis kedelai, tempe kedelai dan tempe kecambah kedelai. Tepung larut air diperoleh dari tepung rendah lemak yang diekstrak dengan air dalam keadaan basa (pH 9). Rendemen hasil ekstraksi tepung larut air berbasis kedelai (SF), tempe kedelai (STF), dan tempe kecambah kedelai (GTF) masing-masing ialah 30.51±1.19%; 11.51±1.12%; dan 14.89±1.95%.  STF dan GTF menunjukkan protein terlarut dan aktivitas antioksidan yang secara signifikan lebih tinggi (p < 0.05) dari SF, SPI, dan tepung tak larut air. Viskositas kelompok tepung larut air  (SF, STF, GTF) secara signifikan lebih rendah (p < 0.05) dari SPI. Hasil pengamatan terhadap komposisi asam amino menunjukkan bahwa proses pembuatan tepung larut air tidak menghilangkan kandungan asam amino esensial yang ada pada bahan asal. Karakteristik lain berupa aktivitas air, warna, dan densitas kamba tepung larut air turut dianalisa.
Produksi Tepung Gadung (Dioscorea hispida Dennst) Kaya Pati Resisten Melalui Fermentasi Bakteri Asam Laktat dan Pemanasan Bertekanan-Pendinginan Haryo Bimo Setiarto
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i2.352

Abstract

Pati resisten adalah pati yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim pencernaan dan tidak dapat diserap di dalam usus halus, akan tetapi dapat mengalami proses fermentasi secara lambat oleh bakteri di usus besar sehingga bisa memperbaiki kesehatan saluran pencernaan. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kadar pati resisten tepung gadung melalui fermentasi bakteri asam laktat (BAL) dan pemanasan bertekanan – pendinginan. Irisan gadung difermentasi dengan kultur campuran bakteri asam laktat selama 18 jam pada suhu 37oC. Irisan gadung hasil fermentasi selanjutnya diautoklaf (121oC, 15 menit) dan didinginkan (4oC, 24 jam), perlakuan dilakukan untuk satu dan dua siklus. Irisan gadung kemudian dikeringkan (70oC, 16 jam), digiling dan diayak (80 mesh) untuk mendapatkan tepung gadung modifikasi. Perlakuan dua siklus pemanasan bertekanan-pendinginan mampu meningkatkan kadar pati resisten pada tepung gadung modifikasi, dibandingkan satu siklus pemanasan bertekanan-pendinginan. Kadar pati resisten tertinggi dicapai pada perlakukan dua siklus pemanasan bertekanan-pendinginan (Autoclaving Cooling-2 Siklus/AC-2S) tanpa fermentasi sebesar 6,86 persen bobot kering (bk),  merupakan peningkatan 3,2 kali lipat jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol  (2,14 persen bk). Kandungan amilosa tinggi yang dihasilkan perlakuan pemanasan bertekanan-pendinginan berasosiasi dengan tingginya kadar pati resisten tepung gadung modifikasi. Peningkatan kadar pati resisten pada tepung gadung modifikasi menyebabkan penurunan daya cerna pati gadung.
Pengembangan Bekatul sebagai Pangan Fungsional: Peluang, Hambatan, dan Tantangan Slamet Budijanto
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i2.354

Abstract

Bekatul, sebagai hasil samping pengolahan padi, memiliki kandungan gizi yang baik dan kaya akan komponen bioaktif. Bekatul telah banyak dilaporkan memiliki manfaat bagi kesehatan, misalnya aktivitas antioksidan, aktivitas kemopreventif kanker, dan aktivitas hipokolesterolemik. Bekatul saat ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan pemanfaatannya sebagai bahan pangan masih sangat terbatas. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai potensi kesehatan bekatul, tidak terstandarnya kualitas bekatul, serta karakteristik bekatul yang mudah mengalami kerusakan menjadikan bekatul  kurang menarik  untuk mengembangkan bekatul, terutama sebagai pangan fungsional. Tantangan yang perlu dipecahkan guna meningkatkan nilai tambah bekatul antara lain edukasi masyarakat terkait dengan  manfaat kesehatan bekatul, cara stabilisasi dan penyimpanan bekatul, hingga strategi pemasaran bekatul.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue