cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Formulasi dan Evaluasi Sensori Tepung Bumbu Ayam Goreng Berbasis Tepung Singkong Termodifikasi Taufik Rahman
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i2.357

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi tepung bumbu terbaik dan mengetahui mutu sensori tepung bumbu ayam goreng berbahan baku tepung singkong termodifikasi metode autoclaving-cooling cycles. Tahapan kegiatan dimulai dengan pembuatan dan karakterisasi tepung singkong modifikasi Autoclaving-cooling cycle. Selanjutnya dilakukan pengujian organoleptik dengan menggunakan metode uji hedonik terhadap aplikasi tepung bumbu ayam goreng. formulasi tepung bumbu ayam goreng dilakukan dengan  perlakuan perbandingan tepung singkong modifikasi, tepung sagu dan tepung maizena. Hasil karakterisasi dan fungsional dari tepung singkong modifikasi autoclaving-cooling cycles menunjukan bahwa tepung singkong modifikasi autoclaving-cooling cycles memiliki kadar air sebesar  6,44 persen, kadar abu 1,78 persen, kadar protein 2,76 persen, kadar lemak 0,10 persen, kadar karbohidrat (by difference) 85,34 persen, kadar pati 67,31 persen, kadar amilosa 24,22 persen, kadar amilopektin 43,08 persen, kadar pati resisten 4,45 persen, WHC 28,85 persen ,dan OHC 10,20 persen. Kadar water holding capacity 18,52 persen, dan kadar oil holding capacity 10,20 persen. Hasil uji organoleptik menunjukan bahwa formula tepung ayam bumbu terpilih dengan komposisi tepung singkong modifikasi 40 persen, tepung sagu 30 persen, tepung maizena 18 persen, dan bumbu 22 persen. Tahapan berikutnya dilakukan optimasi formula tepung bumbu ayam goreng. Formulasi optimal yang dilakukan melalui program design expert 7,0 metode d- optimal, selanjutnya dibandingkan dengan analisis laboratorium. Hasilnya nilai desirability (ketepatan) 0,774, menunjukkan  bahwa selisihnya kecil antara hasil analisis yang ditawarkan dari program dengan analisis dari laboratorium.
Karakterisasi Kerenyahan dan Kekerasan Beberapa Genotipe Kentang (Solanum tuberosum L.) Hasil Pemuliaan Sri Efriyanti Harahap
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i3.358

Abstract

Kerenyahan dan kekerasan adalah salah satu parameter penting dalam produk keripik. Pada penelitian ini, perbedaan rasio amilosa dan amilopektin yang terkandung di dalam kentang dapat mempengaruhi tingkat kerenyahan dan kekerasan dari suatu keripik. Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi beberapa genotipe kentang sebagai umpan balik kepada pemulia tanaman untuk mendapatkan genotipe yang sesuai dengan pengolahan keripik kentang. Penelitian ini diharapkan memberikan informasi untuk mendapatkan beberapa genotipe kentang sebagai bahan baku keripik. Nilai kekerasan dari keripik yang telah umum beredar dipasaran (komersial)  berkisar 375.4 – 431.5 gf. Bila dibandingkan dengan hasil kekerasan 9 genotipe kentang yang dikembangkan, ada genotipe Gatsay  yang dapat mendekati nilai kekerasan keripik komersial. Hal ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk dikomersialkan sebagai keripik kentang yang cocok di pasaran.
KERAGAAN DAN PRODUKTIVITAS BEBERAPA VARITAS UNGGUL BARU INPARA DI LAHAN RAWA PASANG SURUT TIPOLOGI LAHAN SULFAT MASAM DI PROVINSI JAMBI Jumakir Villa
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i2.360

Abstract

Pengkajian ini bertujuan untuk melihat keragaan  dan  produktivitas padi varietas Inpara  di lahan rawa pasang surut tipologi lahan sulfat masam potensial. Pengkajian dilaksanakan di Kelurahan Senyerang Kecamatan Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi pada bulan Juni - September  2016. Lokasi pengkajian termasuk lahan rawa pasang surut dengan tipologi lahan sulfat masam potensial dan tipe luapan air B/C, dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK)  dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari varietas unggul baru padi lahan rawa pasang surut (Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5, Inpara 6, Inpara 8, dan Inpara 9, sedangkan varietas Cisokan dan Junjung sebagai varietas pembanding). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam dan uji DMRT pada taraf 5 persen.  Hasil pengkajian menunjukkan bahwa persentase tumbuh tanaman padi di persemaian menunjukkan pertumbuhan yang baik dengan persentase tumbuh 80-90 persen. Keragaan pertumbuhan beberapa varietas Inpara cukup beragam, varietas Inpara 1, 2, 3, 6, 8 dan 9 keragaannya lebih baik dibanding varietas pembanding Cisokan dan Junjung sedangkan varietas Inpara 5 memperlihatkan pertumbuhan cukup baik namun rentan terhadap penyakit blas dan neck blas. Peningkatan produktivitas padi Inpara  sebesar 17,12 persen - 26,08 persen dibanding varietas Cisokan dan 4,73 persen - 9,94 persen dibanding varietas Junjung. Beberapa VUB Inpara yang memiliki potensi hasil tinggi yaitu Inpara 1(6,94 t/ha), Inpara 3 (6,69 t/ha), Inpara 6 (6,75 t/ha) dan Inpara 8 (6,56 t/ha) sedangkan varietas pembanding Cisokan (5,13 t/ha) dan Junjung (6,25 t/ha).
Penggunaan Beras Sagu Untuk Penderita Pradiabetes Use of Rice Sagu for Patients of Prediabetes Bambang Hariyanto
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i2.361

Abstract

Beras sagu dibuat dengan campuran pati sagu dan tepung kacang merah dengan komposisi 90 persen dan 10 persen.  Selanjutnya beras sagu diberikan pada relawan penderita pradiabetes. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui pengaruh konsumsi beras sagu terhadap kadar glukosa penderita pradiabetes. Jumlah relawan sebanyak 20 orang dan waktu intervensi 4 minggu. Pemberian makan beras sagu sebanyak 120 gram setiap hari dan menu lainnya bebas kecuali lauk yang mengandung karbohidrat seperti kerupuk, perkedel, mi dan sebagainya. Parameter yang dianalisa adalah kadar glukosa darah relawan dan kadar kolesterol dan trigleserida pada awal dan akhir intervensi.  Hasil  penelitian menunjukkan bahwa intervensi beras sagu dan kacang merah pada relawan prediabetes selama 4 minggu dapat menurunkan glukosa, total kolesterol dan trigliserida post prandial secara signifikan. Dengan demikian beras sagu sebagai pangan lokal  memiliki kelebihan  yaitu dapat menjaga gula darah penderita pradiabetes. Penggunaan beras sagu dapat diperluas sebagai pangan kesehatan.
PATI RESISTEN PADA BERAS : JENIS, PENYIAPAN, EFEK FISIOLOGIS, DAN APLIKASINYA Riyanti ekafitri
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i3.362

Abstract

Beras secara umum diketahui memiliki indeks glikemik (IG) yang relatif tinggi dibandingkan dengan makanan yang mengandung pati lainnya sehingga berpotensi menyebabkan penyakit diabetes. Salah satu ingridien pangan yang dapat berfungsi sebagai ingridien rendah IG dan dapat mencegah diabetes adalah pati resisten (RS). RS pada beras dapat disiapkan atau ditingkatkan kandungannya dengan modifikasi pati secara fisik, kimia dan enzimatis. Modifikasi pati akan mengakibatkan perubahan pada kandungan pati berdasarkan tingkat kecernaannya yaitu pati cepat cerna (RDS), pati lamat cerna (SDS) dan pati resisten (RS). RS dapat tergolong dalam RS tipe 1,2, 3, 4,dan 5. Proses modifikasi pati dapat meningkatkan kandungan RS dan menurunkan IG pati beras. Kandungan RS pada beras diketahui dapat menurunkan kandungan gula darah, meningkatkan berat badan pada mencit diabetes, menurunkan indeks organ, total kolestrol, dan total triasilgliserol serta dapat meningkatkan kadar HDL-kolesterol. Pada mencit obesitas, RS efektif menurunkan kenaikan berat badan dan memiliki pengaruh hipokolesterolemik. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi RS beras memberikan efek positif bagi kesehatan. Aplikasi penggunakan tepung beras tinggi pati resisten dan rendah IG menjadi cake  dan mie merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan keanekaragaman produk olahan pati/tepung beras rendah IG dan konsumsinya tidak memberikan efek peningkatan gula darah yang berujung pada penyakit diabetes. Rice is generally known has higher glicemic index than other starchy foods so it potentially cause diabetes.One of food ingredient that can function as low GI ingridient is resistant starch (RS). RS can be prepared or enhanced by modification of starch : physically, chemically and enzymaticall. Stach modification can cause change of starch content base on  the digestibility of starch, such as rapidly digestible starch (RDS), slowly digestible starch (SDS) and resistant starch (RS). RS can be classified into RS type 1, 2, 3, 4, and 5. The process of starch modification can increase RS content dan decrease GI of rice starch. RS of rice is known can decreases sugar blood, increases weight of diabetic mice, decreases organ index, total cholesterol and total triacylglyserol and increase HDL-cholesterol levels. In obesity mice, RS effectively decreases weight gain and has a hypocholesterolemic effect. So, it shows RS consumption has a positive effect on health. The application rice flour which contain  high RS and low IG to cake and noodle is one step to increase the diversity of processed products base on low IG starch/rice flour. Its consumption does not give effect of increasing blood sugar that cause diabetes.
Tempe Bungkil Kacang Tanah Khas Malang Malang Peanut Presscake Tempe Edy Tya Gullit
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i3.363

Abstract

Di Malang, Jawa Timur, terdapat pangan khas berbasis bungkil kacang tanah yang telah dikenal oleh masyarakat setempat sebagai “tempe kacang”. Tidak diketahui awal mula dan sejarah produk ini dan tidak banyak referensi yang membahas dan memberikan informasi secara mendetail. Keunikan yang dimiliki tempe bungkil kacang yaitu penggunaan ragi mirip ragi tape dan pemeraman yang dilakukan dalam keadaan terbuka. Dalam produksi tempe kedelai, ragi yang digunakan merupakan ragi tempe dan pemeraman dilakukan dalam keadaan tertutup plastik atau daun pisang. Tulisan ini mengulas  setiap lini proses produksi tempe bungkil kacang tanah  khas Malang serta potensinya sebagai pangan fungsional. Beberapa potensi manfaat kesehatan yang dimiliki produk ini antara lain dapat menurunkan trigliserida, kolesterol dan LDL, serta meningkatkan HDL dalam darah.In Malang, East Java, figured indigenous food based peanut presscake which been known by local as “tempe kacang”. There aren’t many information about origin and history of peanut presscake tempe and also the  specific detail about this product. Peanut presscake tempe has it own uniqueness about production process such as utilizing starter which similar to tapay starter and aging condition which was held in opened space. Regular soy tempe production utilized tempe starter and aging was wrap in plastic or banana leaves. This articles reviews every step of Malang peanut tempe production along its potency as fungsional food. The health potency of Malang peanut tempe has been reported such as decreasing blood triglyceride, cholesterol, LDL and increasing HDL.Di Malang, Jawa Timur, terdapat pangan khas berbasis bungkil kacang tanah y[A1] ang telah dikenal oleh masyarakat setempat sebagai “tempe kacang”. Tidak diketahui awal mula dan sejarah produk ini dan tidak banyak referensi yang membahas dan memberikan informasi secara mendetail. Keunikan yang dimiliki tempe bungkil kacang yaitu penggunaan ragi mirip ragi tape dan pemeraman yang dilakukan dalam keadaan terbuka. Dalam produksi tempe kedelai, ragi yang digunakan merupakan ragi tempe dan pemeraman dilakukan dalam keadaan tertutup plastik atau daun pisang. Tulisan ini mengulas  setiap lini proses produksi tempe bungkil kacang tanah  khas Malang serta potensinya sebagai pangan fungsional. Beberapa potensi manfaat kesehatan yang dimiliki produk ini antara lain dapat menurunkan trigliserida, kolesterol dan LDL, serta meningkatkan HDL dalam darah. [A1]
Karakteristik Fisik dan Kimia Beras Indigenous dari Lahan Pasang Surut di Kalimantan Tengah Elmi Kamsiati
JURNAL PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v27i2.366

Abstract

AbstrakBeras merupakan bahan pangan pokok penting bagi penduduk dunia. Lahan pasang surut memiliki potensi untuk menjadi daerah penghasil beras. Varietas padi/beras yang tumbuh dan beradaptasi dengan baik pada lahan pasang surut dapat dikembangkan pada program pemuliaan padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik beras indigenous yang berasal dari lahan pasang surut di Kalimantan Tengah, terkait dengan sifat fisik dan kimianya. Ada delapan varietas beras yang dikarakterisasi yaitu Karang Dukuh, Siam Jurut, Siam Pandak, Siam Palun, Siam Palas, Bayar Pahit, Rantul dan Siam Unus. Sifat fisik yang dianalisis adalah dimensi, kekerasan dan derajat putih. Sedangkan sifat kimia yang diamati adalah kadar amilosa, lemak dan kadar air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Siam Palas, Siam Pandak, Bayar Pahit, Rantul merupakan beras dengan bentuk medium, sedangkan empat lainnya merupakan beras dengan bentuk ramping (slender). Nilai derajat putih beras berkisar antara 45.3-50.9 yang setara dengan derajat sosoh 83-93%. Beras tersebut memiliki kadar amilosa berkisar antara 26.23-29.17%, yang termasuk beras dengan kadar amilosa tinggi. Sedangkan kadar lemaknya cukup rendah, berkisar antara 0,32-0,62%. Dari penelitian ini diketahui bahwa beras dari lahan pasang surut memiliki kadar amilosa yang tinggi yang memiliki potensi indeks glikemik yang rendah.  AbstractRice is one of important staple food of world’s population. Tidal swamp land have potential resouces to be rice production area. Rice varieties that grows and well adapted in tidal swamp land can be developed in breeding program. The aims of this study was to investigate the physical and chemical characteristics of indigenous rice from tidal swamp land in Central Kalimantan. Paddy got from paddy breeder in Central Kalimantan. There are eight indigenous varieties of rice which is characterized namely Siam Palas, Siam Jurut, Siam Pandak, Siam Palun, Bayar Pahit, Rantul, Karang Dukuh and Siam Unus. The physical properties that observed were dimensions, hardness and whiteness. Amylose, fat and moisture content were the chemical properties that analyses. The result showed that based on shape, Siam Palas, Siam Pandak, Bayar Pahit, Rantul varieties has moderate shape, and the others has slender shape. The whiteness degree of rice ranged between 45.3-50.9 which is equivalent to 83-93% milling degree. The rice had high amylose content ranged between 26.23-29.17. While the fat contents fairly low, ranged between 0.32-0.62%. From this research, rice from tidal swamp land has high amylose content that potential as rice with low glycemic index.  
Karakteristik Fisikokimia Tepung Dari Berbagai Genotipe Baru Ubi Kayu Aris Purwanto; Septian Palma Ariany
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i3.367

Abstract

Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) adalah salah satu sumber karbohidrat yang berpotensi besar dikembangkan untuk mendukung program diversifikasi pangan. Ubi kayu menjadi sumber karbohidrat non-beras terbesar kedua dunia setelah jagung. Ubi kayu merupakan komoditas agroindusti yang potensial untuk dijadikan bahan baku berbagai industri seperti pangan, pakan, farmasi, kertas dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat fisikokimia dari 20 genotipe ubi kayu yang berasal dari tim pemulia tanaman ubi kayu IPB, sehingga dapat menjadi umpan balik bagi pemulia (breeder) untuk mendapatkan genotipe yang sesuai dengan tujuan pengolahan ubi kayu skala industri. Analisis fisikokimia dilakukan dengan analisis fisik meliputi analisis karakteristik pasta (pasting properties) dan analisis kimia meliputi (kadar air, total pati, amilosa, amilopektin, kadar HCN) dan rendemen tepung singkong. Dari hasil karakterisasi diperoleh bahwa setiap genotipe ubi kayu memiliki sifat fisiko-kimia tepung yang berbeda.  Kandungan air tertinggi, total pati, amilosa, amilopektin, HCN, dan rendemen pada tepung ubi kayu ditemukan pada varian V4D2-122 (varian Malang-4) (8,13 persen), V2D0-311 / 313 (Ratim) (90,44 persen), V3D1-423 (varian UJ-5) (31,69 persen), V2D0-311/313 (Ratim) (64,70 persen), V5D2-333 (varian Adira-4) (1,52 ppm), dan V2D0-311/313 (Ratim) (29,11 persen). Pada pengujian pasting properties genotipe V4D2-122 (varian Malang-4) memiliki viskositas puncak tertinggi (5703 cP). Genotipe ubi kayu dapat diaplikasikan pada produk pangan dan nonpangan yang sesuai dengan karakter fisikokimianya
Bekatul Beras sebagai Pencegah Kanker Kolon Winda Nurtiana; Slamet Budijanto
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i3.368

Abstract

Kanker kolon merupakan penyakit yang terjadi di permukaan usus besar. Kanker ini menempati urutan kedua di antara semua kasus kanker di dunia pada pria dan urutan ketiga pada wanita.  Faktor internal dan eksternal dapat menjadi pencetus penyakit ini dan dalam hal kanker kolon faktor eksternal menyumbang 90-95 persen. Pola makan merupakan faktor eksternal yang paling terkait dengan penyakit ini. Tingginya asupan lemak dan kolesterol serta rendahnya asupan serat pangan dan senyawa bioaktif pada diet sehari-hari akan meningkatkan prevalensi penyakit ini. Bekatul beras merupakan hasil samping pengolahan padi yang kaya akan serat pangan dan senyawa bioaktif, namun saat ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Berbagai laporan menunjukkan bahwa konsumsi diet kaya serat pangan dan senyawa bioaktif dapat mencegah kanker kolon. Bekatul dari beras berpigmen mengandung lebih banyak senyawa bioaktif terutama pigmen antosianin yang mempunyai aktivitas antioksidan yang dapat mencegah mutasi sel normal menjadi sel kanker. Kandungan pigmen antosianin pada beras hitam lebih tinggi daripada beras merah. Artikel ini mengulas peranan serat pangan dan senyawa bioaktif pada bekatul beras dalam upaya pencegahan kanker kolon dan juga potensi bekatul beras hitam yang dapat mencegah penyakit ini lebih efektif.
Penerapan GHP dan GMP Pada Penanganan Pascapanen Padi Di Tingkat Penggilingan (GHP and GMP Implementations in Postharvest Handling of Rice at The Rice Mill Operator Level) Sarastuti Sarastuti; Usman Ahmad; Sutrisno Sutrisno
JURNAL PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v27i2.369

Abstract

AbstrakPenerapan Good Handling Practices (GHP) dan Good Manufacturing Practices (GMP) pada penanganan pascapanen padi di tingkat penggilingan di Indonesia masih rendah, bahkan sebagian besar operator tidak memperhatikan tentang standar mutu beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan GHP dan GMP pada penanganan pascapanen padi di tingkat penggilingan. Survey dilakukan terhadap enam penggilingan padi penyalur beras mitra Toko Tani Indonesia Center dalam kegiatan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM), di wilayah Jawa Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi lapangan, dan pengambilan sampel gabah dan beras sesuai berdasarkan metode SNI 19-0428-1998. Analisis mutu dilakukan berdasarkan metode SNI 01-0224-1987 untuk gabah dan SNI 6128:2015 untuk beras. Penilaian kesesuaian penerapan GHP dan GMP dilakukan berdasarkan praktek yang dilakukan responden, dibandingkan terhadap pedoman GHP dan GMP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedoman GHP dan GMP belum sepenuhnya diterapkan oleh penggilingan padi. Tingkat kesesuaian penanganan pascapanen padi adalah 52.9% untuk GHP dan 66.7% untuk GMP. Ketidaksesuaian terhadap pedoman GHP dan GMP dibedakan menurut aspek fasilitas dan penanganan pascapanen padi. Ketidaksesuaian dari aspek fasilitas, yaitu: kondisi bangunan dan gudang penyimpanan tidak dilengkapi pengontrol suhu, tekanan, kelembaban udara, dan perlindungan dari debu, kotoran, binatang pengerat, hama, dan serangga. Ketidaksesuaian pada penanganan pascapanen padi, antara lain: operator penggilingan padi tidak melakukan proses sortasi, pembersihan, dan pemutuan gabah. Selain itu, pengemasan gabah tidak disesuaikan dengan standar kelas mutu. Kondisi tersebut menghasikan beras bermutu rendah berdasarkan persyaratan mutu pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 31/Permentan/PP.130/8/2017.kata kunci: beras, mutu, pascapanen padi, penggilingan AbstractsIn Indonesia, implementation of Good Handling Practices (GHP) and Good Manufacturing Practices (GMP) in postharvest handling of rice at the rice mill operator level is categorized low, and even most operators do not care about rice quality standards. This study aims to evaluate the application of GHP and GMP on postharvest handling of rice at the rice mill level. The survey was conducted on six rice mills as milled rice supplier to Toko Tani Indonesia Center in the Food Business Community Development (PUPM) activity, in West Java area. The data were collected through interview, field observation, and sampling of rice and milled rice according to SNI 19-0428-1998 method. Quality analysis was conducted based on SNI 01-0224-1987 method for rice and SNI 6128: 2015 for milled rice. Conformity assessment of GHP and GMP implementation was calculated based on respondents' practice, compared to GHP and GMP guidelines. The results show that GHP and GMP guidelines have not been fully implemented by rice mill operators. The postharvest handling conformity level was 52.9% for GHP and 66.7% for GMP. Non-compliance with GHP and GMP guidelines were grouped into two aspects, facilities and postharvest handling of rice. Non-conformity of the facilities aspect, namely: the condition of the building and storage warehouse was not equipped with temperature control, pressure, humidity, and protection from dust, dirt, rodents, pests, and insects. Non-compliance to postharvest handling of rice, among others are lacks of sorting, cleaning, and rice grading processes. In addition, the rice packaging was not adjusted to the quality standards. These conditions result milled rice with low quality according to the Regulation of the Minister of Agriculture Number: 31/ Permentan/PP.130/8/2017. keywords: milled rice, postharvest handling, quality, rice mill operator

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue