cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pekalongan,
Jawa tengah
INDONESIA
RELIGIA
ISSN : 14111632     EISSN : 25275992     DOI : -
Religia is a periodical scientific journal with ISSN Print: 1411-1632; Online: 2527-5992 published by the Faculty of Ushuluddin, Adab and Da'wah IAIN Pekalongan. This journal specializes in the study of Islamic sciences (Islamic Theology, Philosophy and Islamic thought, Tafsir-Hadith, Science of Da'wah, and Sufism). The managers invite scientists, scholars, professionals, and researchers in Islamic scholarship disciplines to publish their research results after the selection mechanism of the manuscript, the review of the partner bebestari, and the editing process. The Religia Journal is published in April and October each year. This journal has been indexed in a reputable national indexing agency.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 20 No 2: Oktober 2017" : 14 Documents clear
PETIK LAUT: Social-Ideological Accommodation in the Fishermen Community of Kedungrejo Muncar Banyuwangi Ainiyah, Nur
RELIGIA Vol 20 No 2: Oktober 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.877 KB) | DOI: 10.28918/religia.v20i2.905

Abstract

This research aims to showing how accommodating the differences of two traditions ideologically and socially can create tolerance and peace in a plural society. The plurality of Muncar such ethnicity, religion, culture and class-economy could protect the conflict. They more choose the public interest than personal interest. The social reality of Muncar is showing with ritual Petik Laut which combines between Islamic and Osing tradition. Cosmologically both of them are different, Islam believes in the singular God and the Osing believes in the plural God. The main problem of this research is how the ideological and social accommodation between the Islamic and Osing tradition can work. So my conceptual framework of research that syncretism is the accommodation of differences which can create society to be peaceful. And the ritual collective is the combining media of how the differences because the ritual has the collective goal which is reached by society as the actors.This research shows that the differences of religion and ideology in the multi-ethnical and cultural society have potentials for conflict. But the conflict can be protected by involving the social agents of society like santri and kejawen  in order to avoid riot. The ideological problem is significant and sensitive and it is easy to create raise strong emotions among the fishermen. The wrong interpretation of ideology can be fatal. However the coastal society generally is known as less temperamental and open-minded person and permissive for the religious and ideological plurality. Their attitudes which want to show ‘dignity’ (jati diri) are the characteristic of the coastal society. This attitude manifests in the petik laut ritual by involving the symbols of religions, cultures and ethnicities in Kedungrejo.The Kedungrejo society majority is Islam but they believe in Ratu Reja Mina as the fish Queen although it is the Osing belief. The honor for the Sayid Yusuf as the historical figure of the Petik Laut history is done together by them. These beliefs complete the Islamic belief for Prophet Hidir. The coastal cosmology of Kedungrejo is the result of accommodating between Islam and Osing. So it became the local ideology which can avoid the conflict. Because left one of two ideologies can create the ideological conflict in society. They are still doing the process for the survival society life peacefully although they have the different interpretation about ritual petik laut. The conflict of economy as the consequence of the work system between jaragan and pandiga, and the environmental conflict between fabric and society can assimilate in this ritual because the social function of petik laut can accommodate all of the elements of society even religion to include in this ritual. So the person who has the certain conflict became the ritual as the mediation for building up the social cohesion (silaturohmi) among the fishermen community, religious institution and the organization of the pesantren’s alumni. From the social accommodation, the social cohesion came back to unity so that peace can return to Kedungrejo. 
SALAT DUHA SEBAGAI BUDAYA POPULER DALAM PEMAKNAAN ANGGOTA MAJELIS DHUHA BANTUL Afifah, Nurul
RELIGIA Vol 20 No 2: Oktober 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.803 KB) | DOI: 10.28918/religia.v20i2.927

Abstract

Majelis Duha Bantul is a community that consistly performs Duha prayer in specific and unique style; by performing it collectively, in certainly days, etc. The major question in this research is how they interpretate the duha prayer that they commit? This research is field research with the descriptive, qualitative and analitic genre by applying etnographical approach and the sociology of knowledge theory, and applying the interview and observation as the method. This result of this research reveal three meaning of the duha ritual in the perspective of majelis duha Bantul: (1) objective meaning that is the meaning of the Duha Prayer which majelis duha Bantul understood from the hadis that suggesting the duha prayer. (2) expressive meaning which personally diverse, several person interpretate duha prayer as the effort to attain the physical and mental health, some men religiously interpretate that duha prayer is one of many ways to reach the wordliness success and the hereafter happiness, etc. (3) documenter meaning that show the duha prayer as the ritual based on the hadis advice but in very fact this ritual is disputed still by some scholars; by commiting the duha prayer it means they indentified them self as the community that  appraise the duha prayer collectively is the sunah ritual. And finally this duha ritual subconsciously become the living hadis ritual it self.Keyword: Duha Prayer, majelis Dhuha Bantul, living hadith, sosiology of knowledge AbstrakMajelis Dhuha Bantul merupakan sebuah komunitas yang secara konsisten melaksanakan salat Duha dengan model yang khas dan unik; dilakukan bersama, di hari ternentu dan sebagainya. Pertanyaannya kemudian, bagaimana pemaknaan salat Duha yang dilakukan oleh komunitas tersebut? Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat diskriptif, kualitatif dan analitik dengan pendekatan etnografi dan menggunakan teori sosiology of knowledge, dengan metode wawancara, observasi, interview dan sebagainya. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan tentang salat Duha yang diambil berdasarkan informasi dari komunitas tersebut dapat dikategorikan menjadi tiga macam: (1) makna objektif yakni salat Duha yang dilaksanakan oleh Majelis ini berangkat dari pemahaman mereka terhadap teks-teks normatif yakni hadis-hadis wasiat tentang salat Duha. (2) Makna ekpresif (personal) cukup beragam; ada yang memaknai sebagai upaya mendapat kesehatan fisik maupun psikis, meningkatkan sikap religius pelaku, mendapatkan kesuksesan dunia-akhirat dan sebagainya. (3) Makna dokumenter; pada dasarnya praktik tersebut berdasarkan teks-teks hadis yang pada kenyataannya masih diperselisihkan oleh para ulama; dengan memeraktikkan salat Duha, berarti mereka mengidentifikasikan diri dengan kelompok yang menilainya sebagai ritual sunah. Pada gilirannya, tanpa mereka sadari praktik ini pun menjadi salah satu bentuk living hadis.Kata kunci: salat Duha, majelis Dhuha Bantul, living hadis, sosiology knowledge.
NILAI-NILAI DAN MAKNA BIMBINGAN KONSELING ISLAM DALAM HADIS SHAHÎH BUKHARI (STUDI HADIS TENTANG RUKUN ISLAM) Zulfa, Nadhifatuz; Zulfa, Nadhifatuz
RELIGIA Vol 20 No 2: Oktober 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.752 KB) | DOI: 10.28918/religia.v20i2.854

Abstract

Rukun Islam dipandang hanya sebagai bagian dari inti ibadah. Padahal sesungguhnya dalam rukun Islam terkandung nilai-nilai bimbingan konseling Islam yang bisa dijadikan rujukan dalam pembentukan akhlâqul karîmah. Kandungan hadits Shahîh Bukhari tentang Rukun Islam diantaranya hadits ini merupakan hadits yang tinggi kedudukannya, karena berisi pondasi agama Islam, sekaligus pondasi bimbingan dan konseling Islam. Nilai-nilai bimbingan dan konseling Islam yang terkandung dalam hadits ini di antaranya nilai Aqîdahmeliputi visi  dan misi bimbingan dan konseling Islam khususnya dalam syahadat dan ibadah haji,  serta optimisme dan ketenangan batin, nilai Syari’ah meliputi perbuatan lahiriyah atau kegiatan (praktek/action) dalam bimbingan dan konseling Islam, nilai Sosial/Muamalah meliputi rasa empati, kepedulian sosial, kasih sayang, tolong menolong dalam kebaikan, persatuan dan kesatuan, persamaan dan persaudaraan, serta kebersamaan (jamaah), dan nilai Akhlak meliputi out put bimbingan dan konseling Islam, yakni akhlâqul karîmah, dengan terbentuknya insan muttaqîn.
KOSMOLOGI JAWA SEBAGAI LANDASAN FILOSOFIS ETIKA LINGKUNGAN Haryati, Tri Astutik
RELIGIA Vol 20 No 2: Oktober 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.66 KB) | DOI: 10.28918/religia.v20i2.1026

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membangun landasan filosofis etika lingkungan melalui  kosmologi Jawa dengan pendekatan filsafat. Fokus kajian diarahkan pada pandangan kosmologi Jawa untuk menemukan argumentasi filosofis landasan etika lingkungan. Pandangan kosmologi Jawa secara ontologis mengajarkan relasi antara manusia dan alam berbasis kesatuan eksistensi (manunggaling kawula gusti) sehingga dapat mengisi kekosongan kosmologi positivistik-antoposentris dalam mentalitas pencerahan. Secara epistemologis, berbasis rasa yang merupakan sistematisasi pengalaman manusia dalam menjalani kehidupan dan mampu mengantarkannya pada pengetahuan tentang Tuhan pencipta alam. Secara aksiologis bermuara pada harmoni in nature, sebuah sikap apresiatif terhadap alam yang merefleksikan ditiadakannya jurang pemisah antara subjek dan objek. Refleksi tersebut memungkinkan dilaksanakannya norma yang dijadikan pedoman berperilaku dan tuntutan kebutuhan praktis sejalan dengan dimensi etis-antropologis. Dengan demikian diharapkan dapat merubah cara pandang manusia terhadap alam dan memiliki kontribusi bagi pengembangan etika lingkungan untuk merespon problem kerusakan lingkungan baik dalam skala lokal maupun global.
KONSEP STRATEGI THEISTIC SPIRITUAL DALAM LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DAN PSIKOTERAPI ISLAM Istiani, Nurul
RELIGIA Vol 20 No 2: Oktober 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.409 KB) | DOI: 10.28918/religia.v20i2.1070

Abstract

Pendidikan spiritual di sekolah selama ini kurang diterapkan, selama ini guru Pendidikan Agama Islam hanya mampu mengedepankan aspek kognitif atau hasil pencapaian akhir terhadap suatu mata pelajaran saja. Hal ini belum mencapai aspek afektif, yaitu pembentukan sifat dan karakter  peserta didik, bagaimana siswa tersebut dapat menerapkan pelajaran yang telah didapat dan aspek psikomotorik yaitu pengembangan kreativitas. Pelajaran Agama belum menjadi alat utama untuk menentukan lulus atau tidaknya peserta didik dalam suatu jenjang pendidikan. Selain itu metode yang dilakukan oleh para guru Agama juga kurang bervariasi. Di dalam kelas peserta didik hanya duduk berjam-jam tetapi selama itu pikiran dan perasaan siswa tidak berada di dalam kelas. Peserta didik kurang terlibat aktif dalam proses pembelajaran baik itu dalam memperhatikan, mendengarkan atau merasakan apa yang sedang berlangsung. Untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal diperlukan strategi pembelajaran yang sistematis dan terarah, sementara itu strategi yang selama ini dipakai guru dalam pembelajaran belum memberikan kebebasan peserta didik untuk mengembangkan berbagai kecerdasan baik intelektual, emosional ataupun spiritual. Sehingga perlu adanya suatu strategi pendidikan spiritual dengan menggunakan metode hypnoteaching di sekolah. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan Strategi pendidikan spiritual pada mata pelajaran PAI melalui metode hypnoteaching di SMK N 3 Pekalongan ini meliputi: strategi pembentukan spiritual, strategi penjagaan spiritual dan strategi penyembuhan spiritual yang dilakukan oleh satu guru pengampu mata pelajaran PAI dan bisa dilaksanakan di dalam pembelajaran ataupun di luar pembelajaran dengan menyampaikan materi-materi spiritual melalui metode hypnoteaching dapat berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat ketika strategi pendidikan spiritual pada mata pelajaran PAI bisa menumbuhkan kesadaran spiritual  peserta didik yang bisa dilihat dari tingkah laku peserta didik sehari-hari,  meskipun di SMK N 3 ini masih dalam tataran strategi pembentukan spiritual tetapi sudah berjalan dengan baik.
YAUMIDDIN DALAM PERSPEKTIF TEORI HERMENEUTIKA EMILIO BETTI adinugraha, hendri hermawan
RELIGIA Vol 20 No 2: Oktober 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.946 KB) | DOI: 10.28918/religia.v20i2.818

Abstract

Abstrak: Paper ini menggunakan pendekatan kajian pustaka yang bersumber dari buku, jurnal, dan literatur lainnya yang masih ada relevansinya dengan topik ini. Tujuan dari paper ini ialah berusaha untuk menginterprestasikan kata yaumuddin dalam QS. Al-Fatihah: 4 dipandang dari teori hermeneutika Emilio Betti. Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa menurut Emilio Betti kajian terhadap teks erat kaitannya dengan kegiatan interpretasi meaning yang terkandung di dalam teks tersebut. Meaning senantiasa merujuk pada objektifitas pemikiran sang penafsir. Oleh karenanya, interpretasi teks hendaknya bersifat gerakan penafsiran yang melibatkan aspek kebahasaan, latar belakang historis dan pengenalan terhadap si pengarang secara bersama-sama. Metode hermeneutika Betti lebih menekankan pada rekonstruksi makna berbekal cakrawala intelektual penafsir (subjek) menggunakan model interprestasi reproduktif. Berdasarkan teori Betti tersebut, teks yaumiddin pada QS. Al-Fatihah: 4 berarti hari ditiupnya sangsakala, dimana hari yang tidak seorang pun dapat membela orang lain, sehingga hari itu dinamakan juga sebagai hari keputusan dan hari pembalasan oleh Allah SWT.Kata Kunci: Emilio Betti, Objektifitas, Rekonstruksi, dan Reproduktif.Abstract: This paper uses lierature research approach which sourced from books, journals, and other literature that still have relevance to this topic. This paper seeks to interpret the word “yaumiddin” in QS. Al-Fatihah: 4 from the perspective of Emilio Betti hermeneutic theory. The results of study showed that in a perspective of Betti the text closely related to the activities of interpretation of the meaning contained in the text. Meaning always refers to the objectivity of the interpreter thought. Therefore, the interpretation of the text should be the movement of interpretation that involves linguistic aspects, historical background and introduction to the author together. Betti hermeneutical method is more emphasis on the reconstruction of the intellectual horizons of meaning armed interpreter (subject) using a model of reproductive interpretation. Based on Betti theory that text “yaumiddin” on QS. Al-Fatihah: 4 means the day he blew the trumpet, where the day that no one can defend someone else, so the day was named as well as the decisions and the Day of Judgment by Allah SWT.Keywords: Emilio Betti, Objectivity, Reconstructive and Reproductive.
FUNGSI SIMAAN AL-QUR’AN BAGI SANTRI PONDOK PESANTREN SUNAN PANDANARAN, SLEMAN, YOGYAKARTA Yahya, Mohamad
RELIGIA Vol 20 No 2: Oktober 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.379 KB) | DOI: 10.28918/religia.v20i2.1020

Abstract

Fokus artikel ini adalah fungsi simaan al-Qur’an bagi santri-mahasiswa Pondok Pesantren Sunan Pandanaran (PPSPA), Sleman, Yogyakarta. Paradigma yang digunakan untuk menganalisis subjek penelitian adalah fungsionalisme Bronislaw Malinowski. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi-partisipatoris, wawancara, dan dokumentasi data literer. Dalam artikel ini saya menyimpulkan bahwa simaan al-Qur’an bagi santri-mahasiswa PPSPA tidak hanya sekedar memilki fungsi religi. Lebih jauh, simaan al-Qur’an bagi santri-mahasiswa PPSPA merupakan sistem kebudayaan yang memiliki unsur-unsur yang sangat kompleks. Kompleksitas unsur-unsur tersebut sejalan dengan ragam fungsinya, baik sosial, kebudayaan, ekonomi, politik-kuasa, promosi, dan pendidikan. Antarunsur dan antarfungsi tersebut tidak dapat dipisahkan dan saling terikat satu sama lain. Sehingga, aktivitas simaan al-Qur’an sebagai sebuah sistem kebudayaan memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan psiko-biologis para santri-mahasiswa dalam menjalani kehidupannya.   Kata Kunci: PPSPA, simaan al-Qur’an, kebudayaan, dan fungsionalisme.
YAUMIDDIN DALAM PERSPEKTIF TEORI HERMENEUTIKA EMILIO BETTI hendri hermawan adinugraha
Religia Vol 20 No 2: Oktober 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v20i2.818

Abstract

Abstrak: Paper ini menggunakan pendekatan kajian pustaka yang bersumber dari buku, jurnal, dan literatur lainnya yang masih ada relevansinya dengan topik ini. Tujuan dari paper ini ialah berusaha untuk menginterprestasikan kata yaumuddin dalam QS. Al-Fatihah: 4 dipandang dari teori hermeneutika Emilio Betti. Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa menurut Emilio Betti kajian terhadap teks erat kaitannya dengan kegiatan interpretasi meaning yang terkandung di dalam teks tersebut. Meaning senantiasa merujuk pada objektifitas pemikiran sang penafsir. Oleh karenanya, interpretasi teks hendaknya bersifat gerakan penafsiran yang melibatkan aspek kebahasaan, latar belakang historis dan pengenalan terhadap si pengarang secara bersama-sama. Metode hermeneutika Betti lebih menekankan pada rekonstruksi makna berbekal cakrawala intelektual penafsir (subjek) menggunakan model interprestasi reproduktif. Berdasarkan teori Betti tersebut, teks yaumiddin pada QS. Al-Fatihah: 4 berarti hari ditiupnya sangsakala, dimana hari yang tidak seorang pun dapat membela orang lain, sehingga hari itu dinamakan juga sebagai hari keputusan dan hari pembalasan oleh Allah SWT.Kata Kunci: Emilio Betti, Objektifitas, Rekonstruksi, dan Reproduktif.Abstract: This paper uses lierature research approach which sourced from books, journals, and other literature that still have relevance to this topic. This paper seeks to interpret the word “yaumiddin” in QS. Al-Fatihah: 4 from the perspective of Emilio Betti hermeneutic theory. The results of study showed that in a perspective of Betti the text closely related to the activities of interpretation of the meaning contained in the text. Meaning always refers to the objectivity of the interpreter thought. Therefore, the interpretation of the text should be the movement of interpretation that involves linguistic aspects, historical background and introduction to the author together. Betti hermeneutical method is more emphasis on the reconstruction of the intellectual horizons of meaning armed interpreter (subject) using a model of reproductive interpretation. Based on Betti theory that text “yaumiddin” on QS. Al-Fatihah: 4 means the day he blew the trumpet, where the day that no one can defend someone else, so the day was named as well as the decisions and the Day of Judgment by Allah SWT.Keywords: Emilio Betti, Objectivity, Reconstructive and Reproductive.
NILAI-NILAI DAN MAKNA BIMBINGAN KONSELING ISLAM DALAM HADIS SHAHÃŽH BUKHARI (STUDI HADIS TENTANG RUKUN ISLAM) Nadhifatuz Zulfa
Religia Vol 20 No 2: Oktober 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v20i2.854

Abstract

Rukun Islam dipandang hanya sebagai bagian dari inti ibadah. Padahal sesungguhnya dalam rukun Islam terkandung nilai-nilai bimbingan konseling Islam yang bisa dijadikan rujukan dalam pembentukan akhlâqul karîmah. Kandungan hadits Shahîh Bukhari tentang Rukun Islam diantaranya hadits ini merupakan hadits yang tinggi kedudukannya, karena berisi pondasi agama Islam, sekaligus pondasi bimbingan dan konseling Islam. Nilai-nilai bimbingan dan konseling Islam yang terkandung dalam hadits ini di antaranya nilai Aqîdahmeliputi visi  dan misi bimbingan dan konseling Islam khususnya dalam syahadat dan ibadah haji,  serta optimisme dan ketenangan batin, nilai Syari’ah meliputi perbuatan lahiriyah atau kegiatan (praktek/action) dalam bimbingan dan konseling Islam, nilai Sosial/Muamalah meliputi rasa empati, kepedulian sosial, kasih sayang, tolong menolong dalam kebaikan, persatuan dan kesatuan, persamaan dan persaudaraan, serta kebersamaan (jamaah), dan nilai Akhlak meliputi out put bimbingan dan konseling Islam, yakni akhlâqul karîmah, dengan terbentuknya insan muttaqîn.
PETIK LAUT: Social-Ideological Accommodation in the Fishermen Community of Kedungrejo Muncar Banyuwangi Nur Ainiyah
Religia Vol 20 No 2: Oktober 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v20i2.905

Abstract

This research aims to showing how accommodating the differences of two traditions ideologically and socially can create tolerance and peace in a plural society. The plurality of Muncar such ethnicity, religion, culture and class-economy could protect the conflict. They more choose the public interest than personal interest. The social reality of Muncar is showing with ritual Petik Laut which combines between Islamic and Osing tradition. Cosmologically both of them are different, Islam believes in the singular God and the Osing believes in the plural God. The main problem of this research is how the ideological and social accommodation between the Islamic and Osing tradition can work. So my conceptual framework of research that syncretism is the accommodation of differences which can create society to be peaceful. And the ritual collective is the combining media of how the differences because the ritual has the collective goal which is reached by society as the actors.This research shows that the differences of religion and ideology in the multi-ethnical and cultural society have potentials for conflict. But the conflict can be protected by involving the social agents of society like santri and kejawen  in order to avoid riot. The ideological problem is significant and sensitive and it is easy to create raise strong emotions among the fishermen. The wrong interpretation of ideology can be fatal. However the coastal society generally is known as less temperamental and open-minded person and permissive for the religious and ideological plurality. Their attitudes which want to show ‘dignity’ (jati diri) are the characteristic of the coastal society. This attitude manifests in the petik laut ritual by involving the symbols of religions, cultures and ethnicities in Kedungrejo.The Kedungrejo society majority is Islam but they believe in Ratu Reja Mina as the fish Queen although it is the Osing belief. The honor for the Sayid Yusuf as the historical figure of the Petik Laut history is done together by them. These beliefs complete the Islamic belief for Prophet Hidir. The coastal cosmology of Kedungrejo is the result of accommodating between Islam and Osing. So it became the local ideology which can avoid the conflict. Because left one of two ideologies can create the ideological conflict in society. They are still doing the process for the survival society life peacefully although they have the different interpretation about ritual petik laut. The conflict of economy as the consequence of the work system between jaragan and pandiga, and the environmental conflict between fabric and society can assimilate in this ritual because the social function of petik laut can accommodate all of the elements of society even religion to include in this ritual. So the person who has the certain conflict became the ritual as the mediation for building up the social cohesion (silaturohmi) among the fishermen community, religious institution and the organization of the pesantren’s alumni. From the social accommodation, the social cohesion came back to unity so that peace can return to Kedungrejo. 

Page 1 of 2 | Total Record : 14