cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Seni Tari
ISSN : 22526714     EISSN : 25032585     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
Tari Angguk Rodat sebagai Identitas Budaya Masyarakat Desa Seboto Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali
Jurnal Seni Tari Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v8i1.30599

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk pertunjukan tari Angguk Rodat sebagai identitas budaya masyarakat Desa Seboto. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian mengemukakan bahwa identitas budaya Desa Seboto melalui Tari Angguk Rodat dapat dilihat dari faktor biologis, sosial, kultural, religius, dan faktor ekonomi masyarakat Seboto. Pertunjukan Tari Angguk Rodat terdiri dari tema, pelaku, gerak, iringan, tata busana dan tata rias, tata pentas, pola lantai dan properti. Tari Angguk Rodat kini dapat dikenal masyarakat Seboto sebagai salah satu identitas kesenian Desa Seboto.
Estetika Beksan Srimpi Mandrarini di Pura Mangkunegaran
Jurnal Seni Tari Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v8i1.30632

Abstract

Beksan Srimpi Mandrarini merupakan salah satu beksan klasik yang berkembang di Pura Mangkunegaran tercipta pada masa Mangkunegaran V. Beksan Srimpi Mandrarini berasal dari kata “Mandra” yang artinya kelebihan dan “Rini” artinya perempuan jika digabungkan mengandung arti perempuan yang mempunyai kelebihan. Kelebihan yang dimaksud digambarkan dengan prajurit wanita yang sedang berlatih perang tanpa berganti pasangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeksripsikan dan menginterpretasi Estetika Beksan Srimpi Mandrarini yang meliputi wujud/bentuk, bobot/isi dan penampilan. Metode yang digunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan estetika serta menggunakan pendekatan etik dan emik. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Estetika Beksan Srimpi Mandrarini dapat dilihat dari bentuk yang terbagi menjadi dua yaitu pola dan elemen. Pola terdri atas maju beksan, beksan, mundur beksan dan elemen terdiri atas gerak, pelaku, tema, tata iringan, tata rias dan busana, tata lampu, tata panggung dan properti. Bobot meliputi suasana, ide dan pesan. Penampilan meliputi bakat,ketrmpilan dan sarana. Saran bagi pelaku seni di Pura Mangkunegaran agar dapat meneruskan khususnya dalam mengembangkan Tari Gaya Mangkunegaran dengan cara memperhatikan nilai-nilai estetis pada Beksan Srimpi Mandrarini
Fenomena Cross Gender Pertunjukan Lengger pada Paguyuban Rumah Lengger
Jurnal Seni Tari Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v8i1.30636

Abstract

Cross gender merupakan suatu istilah peran atau sifat yang menyeberang dari kepribadian seseorang. Fenomena cross gender yang terjadi adalah munculnya kembali penari lengger laki-laki pada kesenian Lengger yang sudah hampir hilang karena perkembangan zaman tepatnya di Paguyuban Rumah Lengger di Desa Pandak Kecamatan Baturaden Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenomena bentuk pertunjukan kesenian Lengger Paguyuban Rumah Lengger yang ditarikan oleh penari cross gender dan fenomena penari cross gender dalam pertunjukan kesenian Lengger di Paguyuban Rumah Lengger. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisa data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Berdasarkan hasil analisis data, hasil temuan dari fenomena cross gender pada kesenian Lengger paguyuban Rumah Lengger meliputi fenomena bentuk pertunjukan yang terdiri dari struktur pertunjukan (yang meliputi pola awal, pola tengah, dan pola akhir pertunjukan), gerak, properti, tata rias dan tata busana, musik iringan, dan tempat pertunjukan, serta fenomena penari cross gender dalam pertunjukan Lengger yang dapat ditunjukkan dari segi gerak dan tata rias busana.
Makna Simbolik Pertunjukan Tari Topeng Klana Cirebon Gaya Palimanan
Jurnal Seni Tari Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v8i2.30688

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan makna simbolik pertunjukan Tari Topeng Klana Cirebon. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan semiotika. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang diabsahkan dengan triangulasi, kemudian dianalisis menggunakan tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukan makna Tari Topeng Klana terdapat pada elemen penari, gerak representatif, gendhing gonjing, busana, properti (ules, kedok, gantungan), sesaji dan lakon. Pemaknaan berasal dari masyarakat atau penonton dan seniman setempat. Penonton menginterpretasi Tari Topeng Klana Cirebon sebagai konotasi angkara murka dan wujud amarah. Seniman memaknai Tari Topeng Klana menjadi tiga interpretasi, yaitu 1) Manusia yang berada pada puncak kematangan fisik, psikis, dan pola pikir. 2) Semangat mencapai tujuan hidup dengan memegang teguh pedoman agar jauh dari ketersesatan. 3) Manusia dalam mencapai dan menetapkan suatu tujuan manusia selalu bertindak dengan penuh pertimbangan. Interpretasi masyarakat yang bertentangan dengan seniman setidaknya dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu 1) ketidaktahuan masyarakat, 2) penghayatan yang kurang mendalam, 3) feferensi masyarakat dalam menginterpretasi berdasarkan pengetahuan yang populer di lingkungannya, serta 4) faktor seniman.
Analisis Gaya Slangit Tari Topeng Tumenggung di Desa Slangit Cirebon
Jurnal Seni Tari Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v8i1.30749

Abstract

Tari Topeng Tumenggung merupakan salah satu Tari Topeng Cirebon yang berada pada urutan keempat mengisahkan tentang Tumenggung Magangdiraja yang diutus oleh Raja Bawarna untuk mencari Jinggananom yang telah lama tidak membayar upeti. Tujuan penelitian yakni menganalisis bentuk penyajian Tari Topeng Tumenggung Gaya Slangit serta menganalisis Gaya Tari Topeng Tumenggung Slangit Cirebon. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnokoreologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian bentuk penyajian Tari Topeng Tumenggung Gaya Slangit meliputi gerak yang terdiri dari 3 tahap yakni dodoan, unggah tengah serta deder/kering tilu dengan iringan musikTumenggungan, Waledan, dan Barlen, adapun pola lantai yang digunakan dalam pertunjukan Tari Topeng Tumenggung Gaya Slangit tidak baku artinya setiap penari dapat mengkreasikan sendiri pola lantai saat menari. Rias yang digunakan yaitu rias korektif serta busana yang meniru atribut-atribut dari orang yang berstatus sosial tinggi seperti pemakaian kalung, dasi, dan topi, adapun properti yang digunakan yaitu Topeng Tumenggung. Tari Topeng Tumenggung Gaya Slangit Cirebon dipentaskan di ruang terbuka. Analisis gaya Tari Topeng Tumenggung Gaya Slangit Cirebon muncul melalui analisis postur, interpretasi dan kreativitas.
Pelestarian Tari Pesta Baratan di Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara
Jurnal Seni Tari Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v8i1.30770

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penyajian dan pelestarian Tari Pesta Baratan di Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi serta teknik keabsahan data diperiksa dengan metode triangulasi sumber. Penelitian menghasilkan data bahwa Tari Pesta Baratan dibagi menjadi tiga jenis yaitu penari impes/lampion, penari obor, dan penari tampah. Tari Pesta Baratan mempunyai gerak sederhana yang diperindah diambil dari gerakan sehari-hari pada masa dahulu, pada penari impes/lampion menceritakan jika menjelang ramadhan banyak yang berjualan impes/lampion di pinggir jalan, pada penari obor menceritakan pada jaman dahulu penerangan menggunakan obor, pada penari tampah menceritakan bahwa orang jaman dahulu sering menggunakan tampah yang diisi puli atau makan khas Jepara. Pelestarian Tari Pesta Baratan dilakukan dengan tiga cara yaitu: 1) perlindungan, dilakukan oleh Yayasan Lembayung dengan mengadakan tari Pesta Baratan setiap tahunnya dan telah diakui pemerintah Kabupaten Jepara dengan dimasukannya ke dalam kalender event Jepara; 2) pengembangan, dilakukan Yayasan Lembayung yaitu tidak hanya menggelar tari Pesta Baratan di Kota Jepara namun sampai ke Kota Blora untuk memperkenalkan dan mempromosikan kepada masyarakat luar Kota Jepara; 3) pemanfaatan, dilakukan oleh pemerintah Jepara menghasilkan Rekor MURI sebagai pembawa impes/lampion terbanyak serta menjadi peserta Art Kids International Festival di Kota Jepara
Interaksi Simbolik pada Pertunjukan Sintren Desa Luwijawa Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal
Jurnal Seni Tari Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v8i1.31075

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk pertunjukan Kesenian Sintren Desa Luwijawa dan memahami proses interaksi simbolik yang terjadi dalam pertunjukan Kesenian Sintren Desa Luwijawa. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan pendekatan etik dan emik. Data diperoleh melalui metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengujian keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Teknik analisis data menggunakan teori Adshead. Hasil dari penelitian yaitu: 1) bentuk Pertunjukan meliputi elemen-elemen pertunjukan yaitu tema, pelaku pertunjukan, busana/kostum , make up/rias, iringan, properti, gerak, tempat pertunjukan, tata cahaya dan suara; 2) proses interaksi simbolik yang terjadi antara pemain dengan pemain, pemain dengan penonton, pemain dengan pemusik, pemusik dengan pemusik, penonton dengan penonton. Berdasarkan dari hasil penelitian Kesenian Sintren Desa Luwijawa, peneliti memberikan saran kepada anggota kelompok Kesenian Sintren agar pertunjukan Kesenian Sintren lebih variatif dan lebih menarik. Perhatikan proses regenerasi para pelaku pertunjukan Kesenian Sintren.
Ritual Ngguyang Jaran pada Paguyuban Kuda Lumping Wahyu Turonggo Panuntun di Desa Legoksari Kecamatan Tlogomulyo Kabupaten Temanggung
Jurnal Seni Tari Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v8i1.31257

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana prosesi ritual dilaksanakan dan menganalisis makna ritual bagi anggota paguyuban Kuda Lumping Wahyu Turonggo Panuntun. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) prosesi ritual dilaksanakan dua kali yaitu rutin pada malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon dan ritual sehari sebelum pertunjukan. Ritual dilaksanakan di dua tempat yaitu sendang, dimana dalam sendang melakukan aktivitas memandikan properti kuda dan dilanjutkan dengan memanjatkan doa di pepundhen dengan membawa sesaji dan properti kuda. Perbedaan dari kedua ritual hanya terletak pada waktu pelaksanaan, ritual rutin dilaksanakan pada pukul 00.00 WIB sedangkan ritual sebelum pertunjukan yang terpenting adalah malam hari, 2) makna ritual bagi anggota adalah untuk permohonan izin, dan keselamatan.
Strategi Adaptasi Masyarakat Non Hindu pada Pertunjukan Ogoh-Ogoh di Desa Linggoasri Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan
Jurnal Seni Tari Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v8i1.31438

Abstract

Tujuan penelitian ini ialah untuk memecahkan masalah strategi adaptasi masyarakat non Hindu pada pertunjukan ogoh-ogoh di Desa Linggoasri Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan. Strategi adaptasi yang menjadi kajian dalam penelitian ini meliputi proses persepsi dan interpretasi, serta sistem kategorisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik keabsahan data diperiksa dengan metode triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Teknik analisis data melalui tahapan reduksi, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan. Berdasarkan analisa data hasil penelitian, persepsi masyarakat non Hindu di Desa Linggoasri dibagi menjadi persepi dari tokoh masyarakat, persepsi dari tokoh agama, persepsi dari tokoh pemerintahan, dan persepsi dari masyarakat umum. Interpretasi masyarakat dikelompokan dalam lima tanggapan yakni hak individu masyarakat, kewajiban sebagai makhluk sosial, kesamaan adat dan tradisi, keinginan menjadikan pertunjukan rakyat. Persepsi dan interpretasi positif dari masyarakat non Hindu di Desa Linggoasri serta dibuktikan pemilihan tindakan selanjutnya yakni dengan munculnya sikap apresiasi dan toleransi serta kebutuhan integratif masyarakat, membuat masyarakat non Hindu dapat beradaptasi pada pertunjukan ogoh-ogoh yang dilaksanakan umat Hindu di Desa Linggoasri.
Studi Laban Tari Jogi
Jurnal Seni Tari Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v8i2.32230

Abstract

Bentuk penyajian tari umumnya dipahami sebagai hal praktis yang dilakukan secara fisikal, sehingga penyajiannya dalam bentuk tertulis tak banyak dilakukan. Bentuk pencatatan yang lazim digunakan dalam bidang tari yakni notasi Laban yang dilengkapi dengan metode analisis Laban. Notasi Laban dalam bidang tari berguna sebagai metode pendokumentasian yang universal. Tari Jogi di Batam pada mulanya disajikan hanya oleh penari perempuan, sedangkan kini perkembangannya dilakukan dengan menambahkan penari laki-laki dalam pola tari berpasangan. Gerak pokok tari Jogi terdiri dari tujuh motif gerak, yang dilakukan dalam pola lantai maju, mundur, bergerak naik dan turun dalam posisi tidak berpindah tempat. Ketujuh motif gerak dasar tersebut menjadi dasar dari tari Jogi yang berkembang di Batam hingga saat ini. Tujuan penelitian ini ialah mendokumentasikan motif gerak pokok tari Jogi dengan notasi Laban dan mengkaji kualitas geraknya melalui aspek tenaga (effort) dan wujud (shape). Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif, dengan cara mengumpulkan data terkait koreografi tari Jogi di Batam. Hasil dari penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai referensi tentang tari Jogi di Batam dalam bentuk notasi gerak dan analisis kualitas geraknya melalui studi Laban.