cover
Contact Name
Ahmad Ihwanul Muttaqin
Contact Email
ihwanmuttaqin@gmail.com
Phone
+6285258606162
Journal Mail Official
tarbiyatunaiais@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang Jl. Pondok Pesantren Kiai Syarifuddin Kedungjajang
Location
Kab. lumajang,
Jawa timur
INDONESIA
TARBIYATUNA
ISSN : 20856539     EISSN : 24424579     DOI : DOI: 10.36835/tarbiyatuna
Core Subject : Education,
Tarbiyatuna adalah jurnal ilmiah yang memuat artikel-artikel tentang pendidikan Islam, pendidikan Agama Islam dan bahkan manajemen Pendidikan Islam. Dimaksudkan sebagai wahana pemikiran kritis dan terbuka bagi semua kalangan baik akademisi, agamawan, intelektual, mahasiswa dengan spesifikasi kajian dan penelitian di bidang Pendidikan Islam.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 12 No 2 (2019): AGUSTUS" : 5 Documents clear
Kepemimpinan Pesantren dan Perubahan Sosial Aminatuz Zahroh
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12 No 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v12i2.399

Abstract

Tulisan ini akan melihat pesantren sebagai lembaga pendidikan indegenious dari sudut pandang kepemimpinan. Sejatinya, penelitian tentang hal tersebut sudah lazim dilakukan. Tetapi koneksi antara kepemimpinan dengan perubahan sosial di dalam pesantren tidak banyak dilakukan, karena sejak awal pesantren selalu melakukan perubahan dengan sangat selektif dan adaptif. Selain itu, acapkali perubahan kepemimpinan di pesantren menyebabkan disparitas baru antara pesantren dengan pemangku kepentingan yang lain. Kesimpulan dari penelitian ini menyebutkan bahwa seorang pemimpin di pesantren harus menerapkan the spiritual leadership yang secara garis besar adalah berkenaan dengan upaya konsolidasi dengan niat yang suci yaitu dengan memulai dari niat diri sendiri, membangun niat secara bersama, mempertahankan niat, budaya organisasi, membangun persaudaraan dan kolaborasi serta membangun integritas yaitu dengan cara membangun integritas budaya organisasi yang sehat.
Kurikulum Pendidikan Tinggi Empat Negara Indonesia, India, Irak dan Turki Siti Aimah
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12 No 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v12i2.400

Abstract

Kurikulum sebagai sebuah konsep pendidikan di perguruan tinggi khususnya harus mampu mengakomodir perkembangan ilmu pengetahuan (scientific vision), kebutuhan masyarakat (societal needs) dan tentu saja kebutuhan pengguna lulusan (stakeholder needs). Tanpa meninggalkan ciri khas, masing-masing negara memiliki kurikulum terstuktur dan sistematis yang menjadi panduan dalam pelaksanaan pendidikan yang dikembangkannya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Meskipun secara umum kurikulum pada setiap negara memiliki persamaan akan tetapi secara spesifik masing-masing negara memiliki keunikan yang berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Diantara Empat negara; Indonesia, India, Irak dan Turki, persamaannya adalah sama-sama fokus mengkaji dan mengembangkan teori-teori Islam klasik yang terdapat pada kitab-kitab salaf menggunakan sistem-sistem modern dengan mengadopsi pola pendidikan barat, meskipun dengan tetap mempertahankan ciri khas dari pola pendidikan Islam yang cenderung berorientasi pada pembinaan karakter dan budi pekerti yang mulia. Sedangkan perbedaannya yaitu pada orientasi mutu pembelajaran seperti yang terjadi di Indonesia dan India, perbedaan pada otoritas pelaksanaan kurikulum seperti yang ada di Indonesia dan Irak, dan perbedaan pada otonomi akademik seperti yang terdapat di Indonesia dan Turki.
Ideologisasi Identitas Aswaja An-Nahdliyah di LP. Ma’arif NU Lumajang dalam Menangkal Gerakan Islam Transnasional Zainil Ghulam; Achmad Farid
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12 No 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v12i2.401

Abstract

Artikel ini mengulas tentang upaya yang dilakukan oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdaltul Ulama (NU) Lumajang dalam membumikan identitas Aswaja An-Nahdliyah. Secara khusus, penanaman identitas Aswaja An-Nahdliyah dilakukan untuk menangkal gerakan Islam Transnasional yang sedang marak terjadi di Lumajang terutama di lingkungan lembaga pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama. Penelitian ini menggunakan penelitian lapangan (field research) dengan metode kualitatif. Penelitian dilakukan di lembaga pendidikan Ma’arif di beberapa daerah di Lumajang. Kesimpulan penelitian ini menyebutkan bahwa proses yang dilakukan oleh LP Ma’arif dan seluruh lembaga pendidikan di lokasi penelitian memiliki iklim dan kebudayaan Nahdlatul Ulama itu sendiri. Selain itu, amaliyah dan tradisi kegamaan Nahdlatul Ulama dijadikan sebagai kegiatan rutinan. Antara lain tahlil, istighotsah, ziarah kubur dengan melibatkan stakeholder lain baik dari unsur wali murid maupun masyarakat pada umumnya. Selain kegiatan rutin, literasi tentang ke-NU-an juga dilakukan dengan menjadikan majalah AULA PWNU Jawa Timur sebagai pedoman penerimaan berita dan informasi terkini tentang NU.
Desain Integrasi Primary and Sub-Culture Organization di Lembaga Pendidikan Tinggi Islam dan Pesantren Atmari Atmari
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12 No 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v12i2.397

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian penulis di dua tempat berbeda budaya organisasi; yang pertama lembaga pendidikan tinggi yang memiliki pondok pesantren sebagai nilai tambah (sub-culture) pembentukan karakter mahasiswanya. Sedang yang kedua, pondok pesantren yang menyelenggarakan pendidikan tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan santrinya. Sebagaimana diketahui, pendidikan tinggi sesuai dengan aturan mainnya, memiliki budaya kebebasan akademik, keterbukaan informasi, dan sistem penyelenggaraan yang professional. Di pihak yang lain, pesantren juga memiliki aturan budayanya sendiri; semisal, sangat kuat untuk menjaga nilai-nilai keislaman, ketaatan kepada guru, kesederhanaan, dan aspek-aspek lainnya. Maka dari itulah, penulis mengasumsikan proses pengintegrasian ini membutuhkan strategi, tata kelola, dan pendekatan yang berbeda dibandingkan sub-culture organisasi lainnya, anggap saja seperti Fakultas dan Jurusan yang ada di bawah naungan lembaga pendidikan tinggi. Sesuai dengan hasil riset yang penulis lakukan, ditemukan bahwa; desain integrasi pendidikan tinggi dan pesantren ada pada pola interkoneksi dan implanted-Islamic tradition. Artinya, pendidikan tinggi tidak memaksakan seluruh values (nilai) yang ada di pesantren terimplementasi secara holistic, melainkan mengambil sebagian saja untuk dijadikan basis nilai tindakan karakter. Sepandan dengan itu, pondok pesantren yang menyelenggarakan pendidikan tinggi, juga tidak merubah posisi pesantren sebagai pengatur desain integrasi. Pendidikan tinggi harus mengikuti aturan dan nilai yang ada di pondok pesantren. Jadi, keduanya memiliki model desain kompromistik dan kolaboratif untuk mencapai pada tujuan yang diinginkan.
Hidden Curriculum Pesantren: Urgensi, Keberadaan dan Capaiannya Ahmad Halid
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12 No 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v12i2.398

Abstract

Artikel ini berupaya melihat hal yang “istimewa” di dalam pesantren. Salah satu aspek yang selalu menjadi sorotan para peneliti dalam setiap diskursus adalah keistimewaan pesantren yang terus eksis di setiap lini masa. Salah satunya adalah keberadaan kurikulum “tersembunyi” yang sering disebut hidden curriculum. Hidden curriculum pesantren adalah ngaji nilai-nilai, karakter, sikap, perilaku dan tindakan kiai sehari-hari sebagai modal para santri ketika mereka kembali ke halaman rumahnya masing-masing. Model kajian ini adalah menggunakan model kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data kepustakaan dan contoh-contoh aktual pelaksanaan hidden curriculum pesantren. Hasil pembahasannya dikontrol dengan membandingkan dengan hasil penelitian orang-orang terdahulu dengan kasus yang sama. pesantren adalah seperangkat kegiatan edukatif untuk transmisi ilmu, budaya, tradisi, norma, nilai, dan keyakinan, asumsi yang disampaikan di ruang belajar dan lingkungan sosial pesantren namun tidak direncanakan dan tidak terstruktur secara formal dan non formal, sangat diharapkan (expected messages) dan pendidikan itu berjalan secara alamiah dan mengikuti kemauan kyai atau ustadz. Hidden curriculum pesantren memperdalam ngaji nilai-nilai, karakter, sikap, perilaku dan tindakan kyai sehari-hari sebagai modal dipraktikkan ketika para santri kembali kehalam rumahnya masing-masing.

Page 1 of 1 | Total Record : 5