cover
Contact Name
ISLAM TRANSFORMATIF
Contact Email
islamtransformatif.ejurnaliain@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
islamtransformatif.ejurnaliain@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bukittinggi,
Sumatera barat
INDONESIA
ISLAM TRANSFORMATIF : Journal of Islamic Studies
ISSN : 2599218X     EISSN : 25992171     DOI : -
Core Subject : Religion,
Islam Transformatif merupakan pencarian dialogis, bagaimana agama harus membaca dan memberikan jawaban terhadap ketimpangan sosial. Adapun konsep teologis kritis disodorkan sebagai pendekatan memahami hubungan agama dengan kekuasaan, modernisasi dan keadilan rakyat.
Arjuna Subject : -
Articles 88 Documents
The Actualization of Tazkiyatun Nafs Values in The Moral Development of Students of The Ulul Albab Islamic Studies Organization (KSI) UIN Padang Gusmi Ranti; Jamaldi Jamaldi
Islam Transformatif : Journal of Islamic Studies Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/it.v5i2.4970

Abstract

This study focuses on examining the actualization of the values of Tazkiyatun Nafs in the moral development of the students of the KSI Ulul Albab organization UIN Imam Bonjol. The thought of Imam Al-Ghazali and other scholars about the tazkiyatun nafs is very interesting and important to apply as a moral basis in developing the morals of the people, especially the development of the younger generation. By using descriptive qualitative research by conducting interviews with students who are active in KSI, it is concluded that the actualization of the values of tazkiyah al-nafs in building morals and religious character in instilling noble souls and having al-karimah character. then from the application of the values of tazkiyah al-nafs it also includes a strategy in the habituation of students of the KSI Ulul Albab organization in the hope of creating student discipline and changing bad morals or being therapy for bad souls into good morals. Even the application of tazkiyah al-nafs values in the form of mental therapy. Tazkiyah al-nafs in the form of mental therapy is based on the argument that the human soul can be treated. Efforts to treat mental illness must be done through science and charity. Science here serves to determine the cause and effect of a mental illnessPenelitian ini  mengkaji tentang aktualisai nilai-nilai Tazkiyatun Nafs dalam pembinaan akhlak mahasiswa organisasi KSI Ulul Albab UIN Imam Bonjol. Pemikiran Imam Al-Ghazali dan ulama lain tentang tazkiyatun nafs tersebut diterapkan sebagai landasan moril dalam pengembangan akhlak umat teritama pembinaan generasi muda. Dengan menggunakan penelitian kualitatif deskriptif, peneliti melakukan wawancara dengan mahasiswa yang aktif dalam KSI serta mengamati kegiatan mereka. Sehingga dapat disimpulkan bahwa aktualisasi nilai-nilai tazkiyah al-nafs dilakukan melalui pembinaan akhlak dan karakter religious dalam menanamkan jiwa-jiwa yang mulia dan berakhlaq al-karimah. Penerapan nilai-nilai tazkiyah al-nafs itu juga termasuk strategi dalam pembiasaan mahasiswa organisasi KSI Ulul Albab dengan harapan tercipta suatu kedisiplinan mahasiswa dan perubahan akhlak yang buruk atau menjadi terapi bagi jiwa yang buruk menjadi akhlak yang baik. Bahkan penerapan nilai-nilai tazkiyah al-nafs dalam bentuk terapi jiwa. Tazkiyah al-nafs dalam bentuk terapi jiwa didasari argument bahwa jiwa manusia dapat diobati. Upaya pengobatan penyakit jiwa mesti dilakukan melalui ilmu dan amal. Ilmu disini berfungsi untuk mengetahi sebab dan akibat suatu penyakit jiwa 
Dynamics of Law Enforcement of the Islamic Criminal Law in Aceh in the Indonesian Democratic System Rabiatul Adawiah; Ihsan Kamaludin
Islam Transformatif : Journal of Islamic Studies Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/it.v5i1.4721

Abstract

This study focuses on analyzing the dynamics of the application of the Criminal Code (Qanun Jinayah) in the Aceh region. In the Pancasila democratic system run by the Indonesian state, the government guarantees the right of every citizen and belief group to manifest their teachings, but there are some areas that have the authority to enforce special policies such as Aceh which has ratified regional regulations based on Islamic law and the State supports the application of the rules. the. The method used in this study is descriptive qualitative research expected to be able to reveal qualitative information with description-analysis using the strategy used in this research is a case study. This research indicates that the implementation of Qanun Jinayah carried out in Aceh often results in differences of opinion because some parties consider that the application of the law overlaps with human rights which is usually implemented in democratic countries such as Indonesia, moreover the law also applies to non-Muslim residents who live in Aceh. However, there are also several parties who continue to support the implementation of the Qanun Jinayah to continue to be enforced because they have followed special rules ratified by the Government of Indonesia. Penelitian ini berfokus untuk menganalisa dinamika penerapan Peraturan Tindak Pidana (Qanun Jinayah) di wilayah Aceh. Di dalam sistem demokrasi Pancasila yang dijalankan oleh negara Indonesia, pemerintah menjamin hak setiap warga negara maupun kelompok kepercayaan untuk memanifestasikan ajarannya, namun terdapat beberapa wilayah yang memiliki otoritas untuk memberlakukan kebijakan khusus seperti Aceh yang telah mengesahkan peraturan daerah bedasarkan syariat Islam dan Negara mendukung penerapan aturan tersebutMetode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yang dimaksudkan untuk menganalisa topik secara mendalam serta menggunakan strategi studi kasus. Penelitian ini mengindikasikan bahwa penerapan Qanun Jinayah yang dilakukan di Aceh sering kali menghasilkan perbedaan pendapat dikarenakan beberapa pihak menilai bahwa penerapan hukum tersebut tumpang tindih dengan hak asasi manusia, apalagi hukum tersebut juga berlaku bagi penduduk non-muslim yang tinggal di daerah Aceh. Meskipun demikian, terdapat juga beberapa pihak yang terus mendukung penerapan Qanun Jinayah tersebut untuk dapat terus diberlakukan karena sudah mengikuti aturan khusus yang disahkan oleh Pemerintah Indonesia
The Construction of Epistemology of Fatwa on Social Interaction Through Social Media in Indonesia Karmuji Abu Safar; Teti Hadiati; Athoillah Islamy
Islam Transformatif : Journal of Islamic Studies Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/it.v5i2.5004

Abstract

This study intends to identify the Islamic legal approach in determining the fatwa of the Indonesian Ulema Council Number 24 of 2017 concerning Law and Social Interaction in Social Media. This literature research is a type of philosophical normative research using an Islamic legal system approach. The results of the study conclude that the determination of the MUI fatwa on laws and guidelines for social interaction through social media uses a holistic approach to Islamic law. This major conclusion can be seen from various characteristics which is: First, the overall character (wholeness) and multidimensionality in the form of the use of universal textual arguments ('aam). Second, the character of purpose in the form of the use of various fiqh rules that emphasize the realization of benefit as the basis as well as the orientation of legal determination. Third, the cognitive character is the use of several classical fiqh ideas, but they are not used as independent arguments, but are combined with various other perspectives that are part of the fatwa arguments. Fourth, the character of openness in the form of an elaboration of the Islamic legal approach with the opinions of experts regarding the use of social media Penelitian ini bermaksud untuk mengidentifikasi pendekatan hukum Islam dalam penetapan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial. Penelitian pustaka ini termasuk jenis penelitian normatif filosofis dengan menggunakan pendekatan sistem hukum Islam. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penetapan fatwa MUI atas pedoman interaksi sosial melalui media social menggunakan pendekatan hukum Islam yang bersifat holistik. Kesimpulan besar inidapat dilihat dari berbagai karakteristik sebagai berikut: Pertama, karakter menyeluruh (wholeness) dan multidimensi dalam penggunaan dalil-dalil nas yang bersifat universal (‘aam). Kedua, karakter kebermaksudan (purpose) berupa penggunaan berbagai kaidah fikih yang menekankan kemaslahatan sebagai dasar penetapanhukum. Ketiga, karakter kognitif berupa penggunaan beberapa pemikiran fikih klasik, namun tidak dijadikan sebagai dalil independen, melainkan dipadu dengan berbagai perspektif lain yang menjadi bagian dalil fatwa. Keempat, karakter keterbukaan dalam elaborasi pendekatan hukum Islam dengan pendapat para ahli terkait penggunaan media sosial.
The Meanings of The Philosophy of Symbol of The Patuaekkon Tradition In The Mandailing Muslim Bataknesse Community on The Northern Border of West Sumatra Fitri Mawaddah
Islam Transformatif : Journal of Islamic Studies Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/it.v5i2.4893

Abstract

This article aims to describe the meaning of symbolic philosophy contained in patuaekkon tradition at the wedding of Mandailing Batak Muslim community in Kampung Harapan Village, Pasaman Regency. This research article uses the field research method, in which the researcher collects data directly at the research location to strengthen the results of the philosophical meaning contained in patuaekkon tradition with a descriptive approach. The results of this study indicate that the meaning of symbolic philosophy of patuaekkon tradition consists of water symbolizing purity, kaffir lime symbolizing cleanliness, silunjuang leaves symbolizing self-adjustment, midrib leaf of banana stem and miracle leaves symbolizing peace and tranquility, nacar symbolizing the process of life's journey, ulos symbolizing blessing and affection, onang-onang song as an expression of joy, praise, hope, advice, and prayer. Poda has a meaning as advice in social life, ways to find a good and right livelihood, and habits in life.Artikel ini bertujuan  untuk menguraikan makna filosofi simboik yang terkandung dalam tradisi patuakkon pada pernikahan komunitas Muslim Batak Mandailing  Perbatasan utara di Kampung Harapan Kabupaten Pasaman. Penelitian artikel ini menggunakan metode field reasearch, dimana peneliti mengumpulkan data-data secara langsung di lokasi penelitian untuk memperkuat hasil makna filosofi yang terkandung dalam tradisi patuaekkon dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna filosofi simbolik  tradisi patuaekkon terdiri dari air melambangkan kesucian, jeruk purut melambangkan kebersihan, daun silunjuang melambangkan penyusaian diri, pelepah batang pisang dan daun cocor bebek melambangkan kedamaian dan ketentraman, nacar melambangkan proses perjalanan hidup, ulos sebagai makna restu dan kasih sayang, lagu onang-onang sebagai ungkapan kegembiraan, pujian, harapan, nasehat, dan do’a, poda memiliki makna sebagai nasehat dalam berkehidupan sosial, cara-cara mencari penghidupan yang baik dan benar, dan kebiasaan yang dilakukan dalam kehidupan
Hesbollah Kuranji at the Front Padang Area (1945-1948) Revi Handayani
Islam Transformatif : Journal of Islamic Studies Vol 5, No 1 (2021): January - June 2021
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/it.v5i1.4275

Abstract

AbstractThis paper examines the struggle of the militant ranks Hezbollah at the Front Padang Area. Most of the literature written only talks about the role of regular soldiers (official soldiers recruited by the government) who often fight in the front lines, even though the activation of the militias also contributed the most significant contribution to the struggle at that time physical revolution. The Hezbollah written in this article is Hezbollah in the Padang Region, especially those who are members of the Padang City Hezbollah, who are aware of the existing situation and conditions, so they are persistently trying to reclaim their homeland from the colonial powers of the Allies and the Dutch who want to re-establish their power. The research method in this paper is the historical method, which critically examines and analyzes records and relics. The research steps consist of four stages: Heuristics, Criticism, Interpretation and Historiography. In collecting data and research materials, both historical actors and witnesses were used, apart from using literature and documentary studies and interviews with sources. The result of this research is that the struggle of the Hezbollah Army (Lasykar) of Padang City is based on the intention of "Jihad FiiSabillilah" to struggle to uphold the State and Religion solely for the sake of Allah, only with great encouragement and very simple motivation. However, the principle cannot be separated from any political influence. Hezbollah army has a firm stance that all disturbances and disturbances to public order that occur in the city of Padang are the responsibility of all levels of society in the city of Padang.Keywords: Hezbollah army, Corporal Revolution, Front of Padang Area AbstrakTulisan  ini mengkaji tentang perjuangan barisan kelaskaran Hizbullah di Front Padang Area. Selama ini literatur mengenai barisan  perjuangan yang banyak ditulis hanya peranan tentara reguler (tentara resmi yang direkrut pemerintah) saja yang sering berjuang dibarisan depan, padahal aktivasi dari barisan kelaskaran juga memberikan sumbangan terbesar dalam perjuangan pada masa revolusi fisik. Hizbullah yang ditulis  dalam artikel ini  adalah Hizbullah  di Daerah Padang, khususnya  yang  tergabung  dalam  Hizbullah Kota Padang  telah  sadar  terhadap  situasi  dan  kondisi yang ada, sehingga dengan gigih mereka berusaha merebut kembali tanah airnya dari kekuasaan penjajahan  Sekutu  dan  Belanda  yang  ingin  menancapkan  kembali kekuasaanya. Metode Penelitian dalam tulisan ini adalah Metode  Historis,  yaitu proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peningalan masa lampau. Adapun langkah-langkah penelitian terdiri dari empat tahap, yaitu: Heuristik,  Kritik, Interpretasi dan Historiografi. Dalam mengumpulkan data dan bahan penelitian, selain mengunakan studi literatur dan dokumenter, digunakan pula wawancara terhadap narasumber, baik pelaku dan saksi sejarah. Hasil Penelitian ini adalah Perjuangan Lasykar Hizbullah Kota Padang tersebut dilandasi niat “Jihad Fii Sabillilah” berjuang menegakan Negara dan Agama semata-mata hanya karena Allah, Hanya dengan dorongan semangat yang besar serta motivasi yang sangat sederhana namun prinsipnya tidak terlepas dari pengaruh politik manapun, Lasykar Hizbullah ini mempunyai  ketegasan  pendirian  bahwa  segala  kekacauan  dan  ganguan terhadap  ketertiban  masyarakat  yang terjadi di Kota Padang adalah tangung jawab semua lapisan masyarakat yang berada di Kota Padang.Kata Kunci: Lasykar Hizbullah, Revolusi Fisik, Front Padang Area
Cultural Adaptations in Maintaining Religious Harmony in the Labor Community at PT Satya Krisma Usaha Factory in Tebo Ilir Jambi Rara Anggraini
Islam Transformatif : Journal of Islamic Studies Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/it.v5i2.4961

Abstract

This study describes the cultural adaptation carried out by the factory worker community consisting of various ethnicities and religions at PT Satya Krisma in Tebo Ilir Jambi, in maintaining religious harmony. This research uses qualitative research that emphasizes the depth of information obtained through interviews and is also supported by field observation methods. The results of the study show that first, the reality of life that occurs in the community of factory workers in the village of Betung Bedarah Barat is very harmonious and harmonious until now, because the community always respects and respects, and always prioritizes mutual assistance and cooperation. Second, factors that influence the occurrence of harmony are internal and external factors, internal factors are tolerance, dialogue between communities and there is also awareness of diversity. The external factor is that there are institutions that support religious harmony, namely the involvement of the government, traditional leaders and religious leaders. Third, in maintaining harmony, they have strategies including strengthening brotherhood, the role of traditional leaders, religious leaders, and maximizing regulations and the role of local governments.Penelitian ini menjelaskan tentang adaptasi budaya komunitas buruh pabrik dalam menjaga kerukunan umat beragama di PT Satya Krisma di Tebo Ilir Jambi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang menekankan pada aspek kedalaman informasi yang diperoleh melalui wawancara dan didukung pula oleh metode observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pertama, realita kehidupan yang terjadi pada komunitas buruh pabrik di desa Betung Bedarah Barat sangat rukun dan harmonis sampai saat ini, karena masyarakat selalu menghargai dan menghormati, dan selalu mengedepankan sikap saling bantu dan bekerja sama. Kedua, faktor yang mempengaruhi terjadinya keharmonisan yaitu faktor internal dan eksternal, faktor internal yaitu adanya sikap toleransi, dialog antar masyarakat dan juga terdapat kesadaran. Faktor eksternal yaitu terdapat lembaga yang menjadi pendukung dalam kerukunan umat beragama yaitu adanya keterlibatan pemerintah, tokoh adat dan tokoh agama. Ketiga, dalam mempertahankan kerukunan, mereka mempunyai strategi di antaranya memperkuat tali persaudaraan, melibatkan tokoh adat, tokoh agama, dan memaksimalkan peran regulasi pemerintah daerah.
The Recontextualization of the Spiritual Value Fasting in Improving the Body's Immune System During the Covid 19 Pandemic Shifa Nisrina Sujana; Sabiq Muhammad Ul-Haq
Islam Transformatif : Journal of Islamic Studies Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/it.v5i2.4967

Abstract

This study focuses on how the process of fasting in Ramadan and sunnah (Monday-Thursday) among Muslims can improve the immune system of practitioners and even affect their social life to practice sunnah fasting. The Corona Virus pandemic, which is still a global problem, not only has an impact on people's social lives, but also encourages many Muslim communities to look for alternative solutions to maintain the vitality of their bodies. Fasting is one method that is currently becoming a trend in society because it is believed by the community that this method is able to ward off various kinds of diseases, especially as exemplified by Prophet Muhammad and Prophet Musa. This study uses a qualitative descriptive method that analyzes the practice of fasting in Ramadan and Monday-Thursday and its implications for the immune system. Data collection techniques used in this study were social observation and interviews with fasting practitioners. The analysis technique consists of data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions and levers. The results of this study indicate that fasting performed by Muslims is not only able to improve the quality of health but also mental condition because they have a sense of optimism about their condition, especially in the face of a pandemic. Penelitian ini berfokus pada bagaimana proses puasa Ramadhan dan sunah (Senin-Kamis) di kalangan umat Islam mampu meningkatkan sistem kekebalan para praktisi dan bahkan mempengaruhi kehidupan sosial mereka untuk menjalankan puasa sunnah. Pandemi Virus Corona yang masih menjadi masalah global tidak hanya berdampak pada kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga mendorong banyak komunitas Muslim untuk mencari solusi alternatif demi menjaga vitalitas tubuh mereka. Puasa merupakan salah satu metode yang saat ini menjadi tren masyarakat karena diyakini masyarakat bahwa metode ini mampu menangkal berbagai macam penyakit, terutama seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad dan Nabi Musa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menganalisis praktik puasa Ramadhan dan Senin-Kamis serta implikasinya terhadap sistem kekebalan tubuh. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi sosial dan wawancara dengan praktisi puasa. Teknik analisis terdiri atas pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa puasa yang dilakukan oleh umat Islam tidak hanya mampu meningkatkan kualitas kesehatan tetapi juga kondisi mental karena mereka memiliki rasa optimisme terhadap kondisi mereka, terutama dalam menghadapi pandemi.
Religious Messages Without Religion In Nas Daily Online Videos (Displacement Analysis in Authority) Ahmad Assegaf
Islam Transformatif : Journal of Islamic Studies Vol 5, No 1 (2021): January - June 2021
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/it.v5i1.4054

Abstract

AbstractThe article tells about religious authority being taken over by content creators. The defeat of religious authorities arises because there are more and more people watching vlog videos than followers of religious authorities themselves. The link between video vlogs and religious authorities is video vlogs that accidentally take over the place or field of spreading religious knowledge. Observations were made through Facebook Nas Daily. This study uses Pauline Hope Cheong's Authority theory. In analyzing it, it is exactly the same as where Pauline hope Cheong explains his theory, namely through the four logics he considers to formulate the theory, namely disjucture and displacement as the formulation of the problem, and continuity and complementarity as solutions to problems. This research proves that religion is now not only obtained from religious authorities.Keywords: Authority, Nas Daily, Religious Authority, DisplacementAbstrakArtikel bercerita tentang otoritas keagamaan yang diambil alih oleh konten creator. kekalahan otoritas keagamaan muncul karena pengamat vidio vlog lebih banyak dan memiliki banyak kalangan daripada para pengikut dari otoritas keagmaan itu sendiri. Yang menghubungkan antara vlog video dengan otoritas keagamaan adalah video vlog yang tidak sengaja mengambil alih  tempat atau lapangan penyebaran ilmu agama secara tidak sengaja. Pengamatan dilakukan melalui facebook Nas Daily. Penelitian ini menggunakan teori Authority milik Pauline Hope Cheong. Dalam mengalisisnya sama persis sebagai mana Pauline hope Cheong menenrangkan teorinya yaitu melalui empat logika yang dipertimbangkanya untuk merumuskan teori yaitu disjucture dan displacement sebagai perumusan problematika, dan continuity dan Complementarity sebagai solusi probelematika. Penelitian ini membuktikan bahwa agama sekarang tidak hanya di dapat dari otoritas keagamaan.  Kata Kunci: Authority, Nas Daily, Otoritas Keagamaan, Displacement
The Islamic Traditional Arts and the Traces of Science: A Study of Ethnomathematics in Ambe-Ambeken Dance in Aceh Singkil Nur Ainun Lubis; Dharma Kelana Putra; Amrul Badri; Wahyu Wiji Astuti
Islam Transformatif : Journal of Islamic Studies Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/it.v5i2.4850

Abstract

This research explores the origins of the Ambe-ambeken Dance from Singkil Regency, the form of the Ambe-ambeken Dance, and analyzes the ethnomathematics. As a cultural entity, the Singkil people have a dance known as the Ambe-ambeken or Sakhindayong dance. This study uses a descriptive qualitative method to describe the Ambe-ambeken dance based on historical, anthropological and mathematical approaches. Although the variety of movements looks simple at first glance, this dance is a form of technology of enchantment that is full of wisdom and has an essential role in shaping the community's personality and the spread of Islam in Singkil through the poems that are sung during the dance. Then from a different perspective, it was found that there is a mathematical element that many people do not realize in a traditional dance, namely a geometric transformation. This fact leads to a new assumption that culture in the past was built on spirituality and aesthetic values and by applying mathematical principles in various aspects of life. Penelitian ini mengungkap asal-usul Tari Ambe-ambeken dari Kabupaten Singkil, bentuk Tari Ambe-ambeken serta menganalisis etnomatematika pada Tari Ambe-ambeken Sebagai sebuah entitas kultural, masyarakat Singkil memiliki sebuah tarian yang dikenal sebagai tari Ambe-ambeken atau Sakhindayong.. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan tari ambe-ambeken berdasarkan pendekatan Sejarah, Antropologi dan Matematika. Meskipun sepintas ragam geraknya terlihat sederhana, tetapi tarian ini merupakan bentuk technology of enchantment yang sarat akan kearifan dan memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian masyarakat serta penyebaran agama Islam di Singkil melalui syair-syair yang dibawakan selama tarian berlangsung. Kemudian dari sisi yang berbeda, ditemukan bahwa ada unsur matematika yang tidak disadari oleh banyak orang dalam suatu tarian tradisional, yakni berupa transformasi geometri. Fakta ini mengarahkan pada asumsi baru bahwa kebudayaan di masa lalu tidak hanya dibangun atas dasar spiritualitas dan nilai estetika semata, tetapi juga dengan menerapkan prinsip matematika dalam berbagai aspek kehidupan.
The Concept of Islamic Parenting in the Era of Islamic Moderation: An Analysis of Hurlock's Parenting Theory Vivi Yulia Nora
Islam Transformatif : Journal of Islamic Studies Vol 5, No 1 (2021): January - June 2021
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/it.v5i1.4476

Abstract

AbstractThis article describes the parenting proposed by Hurlock and its relevance to parenting in Islam in the face of Islamic moderation demands. This research is comparative research with data analysis techniques using content analysis and descriptive analysis. This research concludes that there are two Hurlock’s parenting patterns related to Islamic parenting, namely authoritarian and democratic parenting. In Islamic Parenting, parents parenting is not authoritarian and not too permissive towards children; this is in line with the concept of Wasatiyyah in Islam, which means in the middle. This parenting is one of the examples of Noah AS., Ibrahim AS., and Luqman as told int the Qur’an, and the example og prophet Muhammad SAW., in the Sunnah. To face the moderation of Islam, parents can apply these two parenting styles to their children. Through moderate but still Islamic parenting, it is hoped that it can make a generation that can become part of the "ummatan wasaṭan", namely a generation that has good, fair, and not extreme characters, and is independent, not taking sides except for what is right according to the teachings of the Shari'a.Keyword: Parenting, Hurlock, Islamic Parenting, Moderation of IslamAbstrakArtikel ini memaparkan tentang pola asuh yang dikemukakan oleh Hurlock dan relevansinya dengan parenting dalam Islam dalam menghadapi tuntutan moderasi Islam. Penelitian ini adalah penelitian komparatif dengan teknik analisis data menggunakan analisis konten dan analisis deskriptif. Adapun kesimpulan dari peneltian ini adalah bahwa terdapat dua pola asuh Hurlock yang memiliki keterkaitan dengan parenting Islami, yaitu pola asuh otoriter dan demokratis. Dalam Pola Asuh Islami orang tua dalam pengasuhan Anak tidak otoriter dan tidak terlalu permisif terhadap anak, hal imi senada dengan konsep Wasatiyyah dalam Islam yang artinya ditengah Pola asuh tersebut merupakan salah satu keteladanan Nabi Nuh As., Nabi Ibrahim AS., dan Luqman yang diceritakan dalam al-Qur’an, serta keteladanan Nabi Muhammad dalam Sunnah. Untuk menghadapi moderasi Islam dua pola asuh tersebut dapat diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya. Melalui pola asuh moderat namun tetap islami diharapkan dapat menjadikan generasi yang mampu menjadi bagian dari “ummatan wasaṭan”, yaitu generasi yang memiliki karakter baik, adil, dan tidak ekstrem, serta bersifat independen, tidak berpihak kecuali kepada hal yang benar menurut ajaran syariat. Kata Kunci: Pola Asuh, Hurlock, Parenting Islami, Moderasi Islam