cover
Contact Name
Jurnal Artefak
Contact Email
jurnalartefaksejarah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalartefaksejarah@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. ciamis,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Artefak
Published by Universitas Galuh
ISSN : 23555726     EISSN : 25800027     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ARTEPAK, diterbitkan olah Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Galuh. Jurnal ini memuat hasil penelitian atau kajian teoritis yang berkaitan dengan pengembangan dan peningkatan profesi guru IPS, kajian Sejarah Lokal & Nasional, Kebudayaan, dan Pendidikan. Diterbitkan secara berkala Dua kali dalam setahun yaitu pada Bulan April dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2020): September" : 9 Documents clear
PERAN PENDIDIKAN DI MASA KEPENDUDUKAN JEPANG (1942-1945) TERHADAP PERUBAHAN BUDAYA DI JAWA BARAT Sigit Sudibyo
Jurnal Artefak Vol 7, No 2 (2020): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.301 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i2.3269

Abstract

Penelitian ini yang berjudul “Peran Pendidikan Di Masa Kependudukan Jepang (1942-1945) Terhadap Perubahan Budaya Di Jawa Barat”. Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana peran pendidikan di masa kependudukan Jepang terhadap perubahan budaya di Jawa Barat, Sesuai dengan masalah tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui lebih jelas peran pendidikan pada masa pendudukan Jepang terhadap perubahan budaya. Dalam penulisan artikel ini menggunakan metode penelitian Historis dengan teknik kepustakaan dan dokumen pengumpulan data dilakukan di perpustakaan, serta sumber-sumber Jurnal yang terpecaya yang diambil dari internet. Hasil penelitian ini didapat sesuai dengan 7 unsur budaya yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat yaitu, sistem religi, sistem organisasi, sistem pengetahuan, sistem teknologi dan peralatan, bahasa, dan kesenian. Masa pendudukan Jepang selama tiga setengah tahun merupakan masa yang menentukan salah satu periode yang sangat menentukan bagi bangsa Indonesia. Kebijakan yang paling mempengaruhi budaya yang pemerintah jepang keluarkan dan pendidikan sangat berperan dalam pelaksanaanya khususnya diwilayah Jawa Barat, yang pertama kebijakan Language Planning, bangsa Indonesia diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Jepang. Bangsa Indonesia dilatih dan didik untuk memegang jabatan dan mengatur organisasi pemerintahan, yang akhirnya merubah bahasa nasional yang sebelumnya menggunakan bahasa Belanda. Kebijakan selanjutnya adalah dihapuskannya sistem stratifikasi sosial yang ada didalam masyarakat Indonesia, baik golongan antar golongan maupun status sosial, kebijakan tersebut juga mempengaruhi budaya bangsa Indonesia, yang sudah ada sejak masa Hindu-Budha.
POLITIK BERAS DAN GERAKAN SOSIAL: RESISTENSI PETANI UNRA SULAWESI SELATAN MASA KEPENDUDUKAN JEPANG 1943 Moch Dimas Galuh Mahardika; Fahmi Nur Ramadhan
Jurnal Artefak Vol 7, No 2 (2020): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.189 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i2.3724

Abstract

Dalam rangka mendukung upaya Jepang memenangkan Perang Asia Timur Raya, Jepang menerapkan kebijakan mobilisasi massa dan sistem “politik beras” atau wajib serah padi secara paksa terhadap petani di Indonesia. Implikasi politis dari kebijakan ini adalah terjadinya perubahan sosial pada masyarakat pedesaan seperti perubahan struktur otoritas tradisional di Sulawesi Utara. Penerapan sistem politik beras ini juga membuat rakyat Indonesia semakin menderita. Ada dua faktor utama penyebab terjadinya pemberontakan, yaitu penyebab langsung dan tidak langsung. Perlakuan kasar penagih setoran kepada warga desa dan perilaku kekerasan aparat polisi ketika melakukan inspeksi ke desa Unra dalam rangka melakukan penagihan kewajiban setoran beras kepada warga. Selain itu, penyebab tidak langsung ialah adanya penetapan kewajiban setor beras dari pemerintah pendudukan Jepang kepada petani, yang kuotanya 500 liter per kepala rumah tangga. Faktor-faktor inilah yang kemudian menjadi pemicu munculnya perlawanan rakyat di pedesaan, terutama di daerah-daerah lumbung beras seperti yang terjadi di desa UNRA pada tahun 1943. Gerakan pemberontakan petani UNRA ini dipimpin seorang tokoh agama bernama Guru Mante. 
BELAJAR SEJARAH DI MUSEUM: OPTIMALISASI LAYANAN EDUKASI BERBASIS PENDEKATAN PARTISIPATORI Laely Armiyati; Dede Wahyu Firdaus
Jurnal Artefak Vol 7, No 2 (2020): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.14 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i2.3472

Abstract

Museum berperan penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran sejarah. Oleh karena itu, peningkatan layanan museum sebagai tempat edukasi harus terus dilakukan salah satunya dengan mengimplementasikan pendekatan partisipatori. Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana implementasi layanan edukasi di museum dengan pendekatan partisipatori. Penelitian menggunakan metode studi kasus pada museum di bawah otoritas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan museum di bawah otoritas Pemerintah Daerah di wilayah DKI Jakarta. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Wawancara dilakukan pada pengelola museum dan pengunjung, observasi dilakukan dengan melakukan kunjungan langsung, dan terakhir melalui analisis dokumen berupa arsip data pengunjung. Penelitian ini menunjukkan bahwa kedua museum telah melakukan layanan edukasi dengan memberikan pelabelan pada koleksi, memberikan layanan kepemanduan, membuat situs daring berisi informasi koleksi tentang museum, mengadakan pameran dan festival. Implementasi layanan edukasi berbasis pendekatan partisipatori di museum dilakukan dengan dua cara yaitu mengadakan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada peran aktif pengunjung dan berkolaborasi dengan komunitas masyarakat untuk mengadakan kegiatan di museum.Museums play an important role in improving the quality of learning history. Therefore, improving museum services as a place of education must be done, one of which is by implementing a participatory approach. This study examines how the implementation of educational services in museums with a participatory approach. The research uses the case study method in the museum under the authority of the Ministry of Education and museum under the authority of the Regional Government in the DKI Jakarta area. Data were collected by interview, observation, and document analysis techniques. Interviews were conducted at museum managers and visitors, observations were carried out by direct visits, and document analysis was carried out at visitor data archives. This research shows that both museums have provided educational services by labeling collections, providing guiding services, creating online sites containing collection information about museums, holding exhibitions and festivals. The implementation of educational services based on participatory approaches in museums is done in two ways, namely holding activities that lead to the active role of visitors and collaborating with the community to hold activities in the museum.
NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL LEUWEUNG GEDE KAMPUNG KUTA CIAMIS DALAM MENGEMBANGKAN GREEN BIHAVIOR UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER MAHASISWA Dewi Ratih; Aan Suryana
Jurnal Artefak Vol 7, No 2 (2020): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.461 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i2.4199

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan karakter siwa dengan menggunakan nilai-nilai kearifan lokal Leuweung Gede Kampung Kuta. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Reseach). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, pemberian tes (pre dan post test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal Hutan Leuweung Gede  mampu meningkatkan karakter siswa, yang dibuktikan dengan hasil angket yang meningkat dari setiap siklus, yaitu dari 50% menjadi 80%. Diantara nilai-nilai kearifan lokal Hutan Leuweung Gede Kampung Kuta adalah nilai keagamaan, bahasa, etika, menjaga lingkungan, sistem teknologi dan lainnya.The purpose of this study was to determine the improvement of the character of the shiva by using the local wisdom values of Leuweung Gede Kampung Kuta. This research was conducted using the Classroom Research method (Classroom Research). Data collection was carried out through observation, interviews, giving tests (pre and post test). The results showed that the values of local wisdom in the Leuweung Gede Forest were able to improve the character of students, as evidenced by the increasing results of the questionnaires from each cycle, from 50% to 80%. Among the local wisdom values of the Leuweung Gede Forest in Kampung Kuta are religious values, language, ethics, protecting the environment, technology systems and others.
PERKEMBANGAN DAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN DI ZAMAN KOLONIAL BELANDA DI INDONESIA ABAD 19-20 Zofrano Ibrahimsyah Magribi Sultani; Yasinta Putri Kristanti
Jurnal Artefak Vol 7, No 2 (2020): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.31 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i2.3518

Abstract

Artikel ini memiliki tujuan agar dapat memahami berbagai macam pelaksanaan pendidikan zaman kolonial Belanda di Indonesia setelah Politik Etis diberlakukan. Pendidikan pada zaman kolonial Belanda memiliki banyak sekali sistem pengajaran dan pembelajaran yang dibangun Belanda berdasarkan kelompok sosial seperti sekolah untuk pribumi, Belanda/Eropa, dan Timur Asing. Politik yang dijalankan oleh Belanda yaitu Politik Etis merupakan ujung tombak terciptanya pendidikan-pendidikan modern di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan metode penelitian kepustakaan. Hasil dari pendidikan zaman kolonial Belanda yaitu munculnya pembelajaran dengan pendidikan modern yang menumbuhkembangkan nasionalisme dan pengajaran berbasis soft skill dalam memenuhi kebutuhan tenaga terampil. Dengan demikian, perkembangan dan pelaksanaan pendidikan di zaman kolonial Belanda di Indonesia memiliki tujuan meningkatkan martabat bangsa dan mencerdaskan kehidupan bangsa.This article has the aim of understanding various types of education in the Dutch colonial era in Indonesia after the Ethical Policy was put in place. Education in the Dutch colonial era had many teaching and learning systems built by the Netherlands based on social groups such as schools for pribumi (natives peoples), Dutch/European, and Foreign East. The politics that is run by the Dutch, namely Ethical Politics is the spearhead of the creation of modern education in Indonesia. The research method used is library research methods. The result of Dutch colonial education is the emergence of learning with modern education that fosters nationalism and soft skill-based teaching in meeting the needs of skilled workers. Thus, the development and implementation of education in the Dutch colonial era in Indonesia had the aim of enhancing the nation's dignity and educating the nation's life.
MENJAGA MAKNA DARI NILAI ADAT COKAIBA DI TENGAH-TENGAH ARUS MODERENITAS MASYARAKAT PATANI Agus Hi Jamal; Amrulla Umar
Jurnal Artefak Vol 7, No 2 (2020): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.519 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i2.3868

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik masyarakatnya dan perkembangan desa terutama dalam hal pemanfaatan budaya Cokaiba serta menjaga kelestariannya dari pengaruh zaman sehingga budaya coka iba bisa di modifikasi, dengan baik. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan Deskriptif, yaitu dengan cara mengambil data-data pengamatan langsung terhadap lingkungan masyarakat ketika Hajatan Cokaiba itu dilakukan masyarakat, wawancara, dan dokumentasi. Teknik Analisi dengan cara data yang diperoleh kemudian diklasifikasikan berdasarkan aspek-aspek yang diteliti sesuai dengan kebutuhan penelitian kemudian menganalisis data penelitian sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa di tengah-tengah pengaruh mederenitas dan perkembanagn zaman seperti sekarang ini, Cokaiba, merupakan adat dan kebudayaan, masyarakat Patani yang di laksanakan ketika kelahiran Nabi Muhammad SAW, Lalu sampai saat ini masi tetap ada, pada malam Maulid Nabi itu. sehingga harus dapat mempertahankan nilai yang terkandung didalamnya, karena warisan leluhur ini memiliki makna filosofi yang mendalam sehingga menjadi kekuatan sosial dan eksistensi, roh dari peradaaban masyarakat Patani, budaya unik ini dibawakan oleh sawdagar Arab yang menyiarkan agam Islam di Zazirah, Al-Moluk Ternate dan Tidore, secara pendekatan Historiografis patani berdekat lagsung dengan Tidore sahingga istilah Cokaiba pun berasal dari bahasa Tidore yang artinya bermuka setan. Lalu kemudian budaya ini memiliki makna nilai budaya seni, yang mendalam, di tengah-tengah masyarakat itu, namun seiring dengan perkembangan zaman budaya ini mulai pupus nilainya.The purpose of this study is to determine the characteristics of the community and the development of the village, especially in terms of utilizing the Cokaiba culture and preserving it from the influence of the times so that the culture of compassion can be modified properly. The method in this research is qualitative with a descriptive approach, namely by taking direct observation data on the community environment when the Cokaiba celebration is carried out by the community, interviews, and documentation. Analysis technique by means of the data obtained is then classified based on the aspects studied according to the needs of the research then analyzes the research data according to the actual situation. The results of this study indicate that in the midst of the influence of modernity and the development of times like today, Cokaiba, is a custom and culture, the Patani community which was carried out at the birth of the Prophet Muhammad SAW. so that it must be able to maintain the value contained therein, because this ancestral heritage has a deep philosophical meaning so that it becomes a social force and existence, the spirit of the civilization of the Patani people, this unique culture was brought by the Arab sawdagar who broadcast Islam in the Zazirah, Al-Moluk Ternate and Tidore, in the historiographical approach, patani is closely related to Tidore, so that the term Cokaiba also comes from the Tidore language which means devil-faced. Then then this culture has a profound meaning of artistic cultural value in the midst of that society, but along with the development of this cultural age its value begins to disappear.
RANCANG BANGUN DOKUMENTASI BUDAYA TENTANG SITUS BUMI ALIT KABUYUTAN DALAM BENTUK BOOKLET DESIGN OF CULTURE DOCUMENTATION ABOUT “SITUS BUMI ALIT KABUYUTAN” IN THE FORM OF A BOOKLET Yunus Winoto
Jurnal Artefak Vol 7, No 2 (2020): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.985 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i2.3525

Abstract

Konteks pelestarian budaya salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dalam bentuk cultural experience yakni dengan terjun ke dalam sebuah pengalaman kultural. Bentuk kegiatan yang dilakukan dalam penelitian adalah dengan membuat rancangan dokumentasi budaya dalam bentuk booklet. Metode yang digunakan adalah metode action riset atau penelitian tindakan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara, observasi serta melalui studi kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa situs bumi alit kabuyutan mejadi ikon dari situs budaya yang ada di Desa Lebakwangi-Batukarut karena menjadi tempat dilaksanakannya upacara ngarumat pusaka yang dilaksanakan setiap acara maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam rancangan dokumentasi budaya tentang situs bumi yang dianggap cocok yaitu dalam bentuk booklet hal ini dikarenakan selain bentuknya kecil praktis dibawa oleh pengunjung, juga penyajiannya sudah menggunakan bahasa Indonesia mudah dipahami masyarakat yang tidak mengerti Bahasa Sunda. Selain itu juga booklet ini dibuat dalam bentuk tercetak dan dalam sofccopy yang telah diupload dalam internet sehingga bisa dengan mudah diakses oleh masyarakat yang membutuhkan informasi yang terkait dengan situs bumi alit kabuyutan serta upacara ngarumat pusaka.The context of cultural preservation is one way that can be done is in the form of cultural experience, namely by plunging into a cultural experience. The form of activities carried out in the research is to design cultural documentation in the form of a booklet. The method used is the method of action research or action research. Data collection techniques in this study were carried out through interviews, observation and through literature study. Based on the results of the research, it is known that the alit Kabuyutan earth site has become an icon of the cultural sites in Lebakwangi-Batukarut Village because it is the place for the heirloom ngarumat ceremony which is carried out every Prophet Muhammad SAW's birthday. In the design of cultural documentation about earth sites that are considered suitable, namely in the form of a booklet, this is because in addition to being small, practically carried by visitors, the presentation is also in Indonesian which is easily understood by people who do not understand Sundanese. In addition, this booklet is also made in printed form and in soft copy which has been uploaded on the internet so that it can be easily accessed by people who need information related to the Alit Kabuyutan Earth site and the heirloom ngarumat ceremony.
GERAK LAJU SEJARAH DALAM PANDANGAN FILSAFAT KARL MARX Suparman Arif; Rinaldo Adi Pratama; Yusuf Perdana
Jurnal Artefak Vol 7, No 2 (2020): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.081 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i2.3203

Abstract

In Karl Marx’s view, the economic activity of society is the basis as a driving factor for historical movement. Marx revealed that the historical movement occurred because of the conflict of social classes in society. The social class is a pattern of historical movement. The method used is a historical method that includes heuristics, critics, interpretation and historiography. This article addressed three main problems, the movement of human activity as a pattern of historical movement, the basic foundation of philosophy as a driving force, and the ultimate goal of historical movement.
PENGARUH PENETRASI BARAT DALAM PEREDARAN KOMODITAS CANDU DI INDONESIA ABAD KE-17 HINGGA KE-20 Arafah Pramasto; Baroqah Meyrynaldy
Jurnal Artefak Vol 7, No 2 (2020): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.996 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i2.3805

Abstract

Candu / opium merupakan salah satu tanaman utama dalam pembuatan narkoba yang memiliki nama Latin Papaver Somniferum yang dapat menyebabkan ketergantungan dengan memberi efek relaksasi pada tingkat tertentu hingga penggunanya tidak sadarkan diri. Metode sejarah yang dipakai dalam penelitian ini. Penelitian ini membuktikan bahwa candu telah menjadi barang dagangan monopoli Verenigde Oost-Indische Compagnie sejak 1650-an, dan bahkan kongsi dagang ini membentuk ‘Societeyt van den Amphioen’ atau dikenal sebagai Yayasan Amphioen untuk menangani penjualan candu ilegal. East Indian Company dibawah Inggris yang menguasai Bengkulu juga membentuk Bencoolen Opium Society pada 1760 menyerupai yayasan bentukan Belanda. Yayasan Amphioen dibubarkan pada tahun 1794 yang diganti dengan pacht opium dengan sistem lelang hak dagang yang berakibat pada kemunculan bandar-bandar tol di bawah para pedagang Tionghoa selama dasawarsa 1820-an. Perusahaan Nederlandsche Handels Maatschappij milik Kerajaan Belanda lalu mengambil alih semua pacht opium serta memperoleh semua keuntungan perdagangan besar maupun kecil sejak 1827. Pemerintah kolonial kemudian menerapkan opium regie pada 1902 sehingga perdagangan opium berada di bawah pengawasan langsung Departemen Keuangan Pemerintah Hindia Belanda. Dinamika sejarah candu dalam periode ini menunjukkan bahwa hampir semua sistem yang diterapkan oleh bangsa-bangsa Barat bersifat monopolistik, berorientasi pada keuntungan, dan tidak bertujuan mengurangi konsumsi candu.Opium / opium is one of the main plants in the manufacture of drugs which has the Latin name Papaver Somniferum which can cause dependence by giving a relaxing effect to a certain level until the user is unconscious. The historical method used in this research. This research proves that opium has been a monopoly merchandise of the Verenigde Oost-Indische Compagnie since the 1650s, and even this trading partnership formed the 'Societeyt van den Amphioen' or known as the Amphioen Foundation to handle the illegal opium sales. The East Indian Company under the British which controlled Bengkulu also formed the Bencoolen Opium Society in 1760 resembling a Dutch-formed foundation. The Amphioen Foundation was dissolved in 1794 which was replaced by an opium pacht with a system of trade rights auction which resulted in the emergence of toll booths under Chinese traders during the 1820s decade. The Nederlandsche Handels Maatschappij company belonging to the Kingdom of the Netherlands then took over all the opium ships and obtained all the profits from large and small trade since 1827. The colonial government then implemented the opium regie in 1902 so that the opium trade was under the direct supervision of the Ministry of Finance of the Dutch East Indies Government. The historical dynamics of opium in this period show that almost all systems implemented by Western nations are monopolistic, profit-oriented, and do not aim to reduce the consumption of opium.

Page 1 of 1 | Total Record : 9