cover
Contact Name
Jurnal Living Islam
Contact Email
living.islam@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
living.islam@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Living Hadis
ISSN : 25287567     EISSN : 25484761     DOI : -
Jurnal Living Hadis (ISSN: 2528-7567) (e_ISSN: 2548-4761) is a yearly dual published journal issued by Department of Hadith Studies, Faculty of Ushuluddin and Islamic Thought, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in cooperation with ASILHA (Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia, Association of Hadith Studies in Indonesia). Jurnal Living Hadis circulates research from lecturers, researchers, as well as intellectual who focus on the study on hadith; including takhrij al hadith, ma’anil hadith, mukhtalif-musykil hadith, contemporary hadith studies, hermeneutics, methodology and syarah hadith (interpretation of hadith) up to social phenomenon of hadith, worldly known as living hadith.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "VOL 3, NO 1 (2018)" : 8 Documents clear
Memahami Hadis Larangan Bid'ah dengan Melihat Fungsinya terhadap Konteks Sosial Masyarakat anshari, zaidan
Jurnal Living Hadis VOL 3, NO 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.922 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2018.1404

Abstract

The problem of bid’ah, though a classic problem, remains a polemic. The division of bid’ah into sayyi'ah and hasanah seems to have no intersection between the supporters and the repellents. The problem can be observed through a variety of perspectives, one of which is the sociology perspective with the assumption that the bid'ah's prohibition is related to the social condition of the society when the hadith is revealed. This is evidenced by the different receptions of some shahabah after the death of the Prophet Muhammad, who decided to do some things previously never done by the Prophet Muhammad during his lifetime. This paper will attempt to disclose it. Where the social conditions of society at the time of prophethood have differences with the conditions after the death of the Prophet Muhammad, so some shahabah dare to decide a case that had never been done by the Prophet Muhammad. Persoalan bid’ah, meskipun merupakan masalah yang klasik, namun hingga kini tetap menyisakan polemik. Pembagian bid’ah kepada sayyi’ah dan hasanah seakan belum memiliki titik temu antara pendukung dan penolaknya. Persoalan tersebut sejatinya dapat diteropong melalui beragam perspektif, salah satunya adalah perspektif sosiologi dengan asumsi bahwa keputusan larangan bid’ah berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat pada saat hadis tersebut diturunkan. Hal ini dibuktikan dengan perbedaan resepsi dari beberapa sahabat sepeninggal Nabi Muhammad, yang memutuskan untuk melakukan beberapa perkara yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad semasa hidupnya. Tulisan ini akan berupaya mengungkap hal tersebut. Di mana kondisi sosial masyarakat pada masa kenabian memiliki perbedaan dengan kondisi setelah wafatnya Nabi Muhammad, sehingga beberapa orang sahabat berani memutuskan sebuah perkara yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad.
Living Hadis dalam Kegiatan Peringatan Maulid Nabi di Pesantren Sunan Ampel Jombang Faiqatul Khosyiah
Jurnal Living Hadis VOL 3, NO 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.063 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2017.1363

Abstract

AbstrakPerayaan maulid nabi adalah salah satu tradisi yang banyak dilestarikan oleh masyarakat kita, utamanya di banyak pesantren di Jawa. Tradisi ini memiliki banyak corak cara pelaksanaan yang masing- masing memiliki ciri khas tersendiri. Jika ditinjau dari sejarah pengadaannya, pada dasarnya memang tidak ada suatu tanggal khusus pengadaan maulid nabi, sehingga jika menarik busur sejarah, akan didapati pelaksanaaan maulid digelar pada tanggal yang berbeda- beda di bulan Rabiul Awal. Kenyataan ini ditemukan pula dalam kegiatan pelaksanaan maulid di pondok pesantren Sunan Ampel Jombang yang diadakan selama sepuluh hari lamanya dan dengan berbagai kekhasan di dalamnya. Melalui pendekatan fenomenologi dengan teori fungsional, tulisan ini mencoba memaparkan fenomena di dalam maulid ini dengan hasil bahwa, maulid di tempat tersebut adalah fenomena living hadits. Di samping itu, makna penting dari adanya majelis tersebut, adalah praktek ibadah spiritual yang tidak bisa dihilangkan dari kehidupan masyarakat yang berpartisipasi di dalamnya. AbstractProphet Mohammed birthday’s celebration is one of much tradition sustained by our people, exactly in many boarding schools in Java, Indonesia. This tradition has many implementation variant ways which each way has its specific thing. From historical side, there is no specific date for Prophet Mohammed birthday’s celebration, with result that since for the time being, it took place in various date at Rabiul Awal month. This fact also found in Prophet Mohammed birthday’s celebration at Sunan Ampel Jombang boarding school which happens in ten days with many specific things there. Using phenomenological approach one combined with functionalism theory, this research will explain phenomenon happens in this celebration with the result that celebration is one of living hadith phenomenon. Besides, the important significance by the existence of this tradition is that spiritual aspect which cannot be lost from people tradition. 
Kesejarahan Hadis dalam Tinjauan Teori Common Link Rahmadi Wibowo Suwarno
Jurnal Living Hadis VOL 3, NO 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.926 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2018.1436

Abstract

This study entitled Kesejarahan Hadis Tinjauan Teori Common Link. The background of the study is study of authenticity, origin, and history of hadith has become an interesting topic and even a debate from the beginning of Islam until now. Interesting and a debate because it concerns the authenticity of Islamic teachings. Among the new theories and worldviews in contemporary criticism of contemporary hadith are the common link theory. For it is formulated the purpose of this study is to find out how to work and understand the implications of the theory of common links to the historic Hadith of the Prophet. The results of this study indicate that the common link theory impacts on the source or origin of hadith based on whom. Differences in interpreting common links determine which hadith comes from whom. Penelitian ini berjudul "Kesejarahan Hadis Hadiah Teori Common Link". Latar belakang penelitian untuk mengetahui keaslian, asal, dan sejarah hadis telah menjadi topik yang menarik dan bahkan menjadi perdebatan sejak awal Islam hingga sekarang. Menarik dan menjadi perdebatan karena menyangkut keaslian ajaran Islam. Di antara teori-teori baru dan pandangan dunia dalam kritik kontemporer hadis  adalah teori common link. Oleh karena itu dirumuskan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara kerja dan memahami implikasi dari teori common link dengan historisitas hadis Nabi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teori common link berdampak pada sumber atau asal-usul hadis yang didasarkan pada siapa (rawi atau nabi). Perbedaan dalam menafsirkan common link menentukan sebuah hadis berasal dari siapa. 
Yahudi di Madinah: Kontribusinya terhadap Nabi Muhammad SAW Fina Fatmah
Jurnal Living Hadis VOL 3, NO 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.971 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2018.1377

Abstract

Tulisan ini berusaha memaparkan mengenai hubungan antara Yahudi di Madinah dengan Nabi Muhammad sehingga mempengaruhi terhadap perkembangan politik yang dijalankan Nabi. Relasi antara orang-orang Yahudi dan Nabi Muhammad mengalami perbedaan dalam hal kepentingan politik masing-masing yang membuat keadaan di antara mereka menjadi disharmoni. Dalam tulisan ini akan dibahas pula mengenai kontribusi Yahudi di Mekkah terhadap ajaran agama Islam yang diadopsi dari mereka. Hal itu tidak lepas dari peran orang yang mengasuh Nabi sejak kecil, Abdul Muthalib dan Abu Thalib sebagai penerus cita-cita besar nenek moyang bangsa Quraish untuk menguasai daulat Quraish.
Pernikahan Dini Menurut Hadis dan Dampaknya Fauziatu Shufiyah
Jurnal Living Hadis VOL 3, NO 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.591 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2017.1362

Abstract

AbstractRampant early marriage in modern this raises many problems and questions that arise in every discussion among the general public.From the side of women and men sometimes make the problem of early marriage. They do not know the risks behind the action when they have a marriage.Many factors they must think about from the health of women, mental readiness of both parties, social community also in terms of religion.AbstrakMaraknya pernikahan dini dalam modern ini menimbulkan banyak permasalahn dan pertanyaan yang muncul dalam setiap pembahasan di kalangan masyarakat umum. Dari pihak perempuan dan laki-lakipun kadang menggampangkan masalah pernikahan dini. Mereka tidak mengetahui resiko dibalik tindakan ketika mereka telah melangsungkan sebuah pernikahan. Banyak faktor yang harus mereka fikirkan mulai dari kesehatan perempuan, kesiapan mental kedua belah pihak, sosial masyarakat juga dalam hal agama
Poligami Nabi Muhammad Menjadi Alasan Legitimasi Bagi Umatnya serta Tanggapan Kaum Orientalis Rike Luluk Khoiriah
Jurnal Living Hadis VOL 3, NO 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.373 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2017.1374

Abstract

Persoalan poligami masih ramai diperbincangkan oleh masyarakat yang tak akan pernah ada habisnya. Sejatinya tidak ada perempuan yang ingin untuk dimadu. Melihat sebagian dari sisi sejarah Nabi Muhammad tanpa melihat latar belakang mengapa Nabi melakukan hal demikian menjadi alasan mereka menjadikan hal tersebut sebagai legimitasi poligami. Padahal bila ditelisik lebih jauh lagi terdapat tujuan mulia di dalamnya. Pada masa sahabat, Nabi membatasi memiliki istri hanya berjumlah empat, bisa jadi pada masa sahabat tidak lagi marak adanya peperangan akan tetapi Nabi juga mengisyaratkan mampu berlaku adil terhadap para istri. Kemudian adanya tanggapan kaum orientalis mengenai konsep poligami Nabi telah menuai banyak kritikan, ada yang pro dan kontra. Pada masa dewasa ini, bila ingin mengikuti pernikahan Nabi maka yang ideal menuju keluarga sakinah bersama Khadijah dengan penuh perjuangan. Pun dilakukan, hal itu ditunjukkan kepada para duda untuk mengentaskan janda dan yatim sebagai problem sosial. Nabi muhammad sebenarnya lebih mengarahkan kepada konsep monogami, karena beliau tidak ingin menyakiti hati perempuan. Dengan melihat sisi sejarah penulis mencoba mengeksplor konsep Nabi berpoligami yang dilandasi antar dasar tujuan tertentu kemudian bagaimana tanggapan orientalis terhadap poligami serta peran istri terhadap suami yang dianggap sebagai kelompok yang lemah.
Analisis Ungkapan Ikhtilafu Ummati Rahmah: Originalitas dan Validitas Muhammad Muhammad Anshori
Jurnal Living Hadis VOL 3, NO 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.196 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2017.1300

Abstract

AbstrakTulisan berusaha mengeksplorasi ungkapan iktilāfu ummatī raḥmah dari segi originalitas dan validitasnya. Tetapi apakah benar ungkapan tersebut hadis Nabi? Perbedaan pendapat merupakan fenomena yang telah terjadi sejak Nabi masih hidup, dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti sosial, budaya, ekonomi, politik, bacaan dan intelektualitas seseorang. Sebenarnya iktilāfu ummatī raḥmah bukan hadis karena tidak memiliki sanad yang jelas, ia dinilai lemah oleh ulama kritikus hadis. Ungkapan tersebut masuk dalam kategori “hadis-hadis bermasalah”. Karena itu, seharusnya seseorang harus berhati-hati dalam menisbatkan sebuah ungkapan kepada Nabi.Kata Kunci: Iktilāfu Ummatī Raḥmah, Originalitas, Validitas, dan Hadis-Hadis Bermasalah. 
Ragam Makna Kesahihan Hadis ainul azhari azhari; A. Hasan Asy’ari ‘Ulama`i; Ahmad Musyafiq Musyafiq
Jurnal Living Hadis VOL 3, NO 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1396.562 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2018.1437

Abstract

The scholars of hadith have standards and criteria for determining the validity of the hadith. Therefore, their standards vary and through the different criteria are different in interpreting the authentic hadith. This difference of meaning must be explained in relation to the practice of hadith and its use as an argument. The true meaning according to Muhammad Haqqi al-Nāzilī is a continuous hadith, not narrated through the siqah narrator, in spite of syaż and 'illat and his traditions conveying the privileges of the sunna practices that can motivate someone to carry out the practices of the sunna. So someone who performs these deeds based on authentic hadith and get a reward that doubled because it already knows the virtue of the hadith.The validity of the traditions contained in the book of Khazīnat al-Asrār Jalīlat al-Ażkār based on the criteria of the jumhur ulama of hadith states that these traditions do not reach the valid degree. But the traditions in it are dominated by hadith hasan and ḍa'īf. From a number of hadiths sampled in this study proves that there are 14 Hadiths, Hadiths that have ḍa'if degree of hadith 24 hadith, and hadith reaching degree ṣaḥīḥ only 8 hadith. However, according to al-Nāzili hadith in the book of Khazīnat al-Asrār are authentic hadiths based on the standard of criteria that he possesses.  Para ulama hadis mempunyai standar dan kriteria untuk menentukan kesahihan hadis. Maka dari itu, standar mereka berbeda-beda dan melalui perbedaan kriteria tersebut maka berbeda pula dalam memaknai hadis sahih. Perbedaan makna ini harus dijelaskan terkait dengan pengamalan hadis dan penggunaannya sebagai hujah. Makna sahih menurut Muhammad Haqqi al-Nāzilī adalah hadis yang sanadnya bersambung,  tidak diriwayatkan melalui perawi yang ṡiqah, tidak terhindar dari syaż dan ‘illat dan hadis-hadisnya menyampaikan keistimewaan dari amalan-amalan sunah yang dapat memotivasi seseorang untuk melaksanakan amalan-amalan sunah. Sehingga seseorang yang melaksanakan amalan-amalan tersebut berdasarkan hadis sahih dan mendapatkan pahala yang berlipat ganda karena sudah mengetahui keutamaannya dari hadis tersebut. Kesahihan hadis yang terdapat dalam kitab Khazīnat al-Asrār Jalīlat al-Ażkār berdasarkan standar kriteria jumhur ulama hadis menyatakan bahwa hadis-hadis tersebut tidak mencapai derajat sahih. Melainkan hadis-hadis di dalamnya didominasi oleh hadis hasan dan ḍa’īf. Dari sejumlah hadis yang dijadikan sampel dalam penelitian ini membuktikan bahwa hadis yang berderajat hasan ada 14 hadis, hadis yang berderajat ḍa’if ada hadis 24 hadis, dan hadis yang mencapai derajat ṣaḥīḥ hanya 8 hadis. Tetapi, menurut al-Nāzili hadis dalam kitab Khazīnat al-Asrār merupakan hadis-hadis sahih berdasarkan standar kriteria yang ia miliki.  

Page 1 of 1 | Total Record : 8