cover
Contact Name
Jurnal Living Islam
Contact Email
living.islam@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
living.islam@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Living Hadis
ISSN : 25287567     EISSN : 25484761     DOI : -
Jurnal Living Hadis (ISSN: 2528-7567) (e_ISSN: 2548-4761) is a yearly dual published journal issued by Department of Hadith Studies, Faculty of Ushuluddin and Islamic Thought, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in cooperation with ASILHA (Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia, Association of Hadith Studies in Indonesia). Jurnal Living Hadis circulates research from lecturers, researchers, as well as intellectual who focus on the study on hadith; including takhrij al hadith, ma’anil hadith, mukhtalif-musykil hadith, contemporary hadith studies, hermeneutics, methodology and syarah hadith (interpretation of hadith) up to social phenomenon of hadith, worldly known as living hadith.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2019)" : 8 Documents clear
REINTERPRETASI HADIS PEREMPUAN TERCIPTA DARI TULANG RUSUK Nilna Fadlillah
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.761 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.2017

Abstract

Pemahaman secara tekstual terhadap hadis penciptaan perempuan dari tulang rusuk mengarah pada pemahamanbahwa perempuan berada di bawah dominasi lelaki. Posisi ini menyebabkan gerak dan hak-hak perempuan menjadi sempit dan terbatas. Hal ini tentu bertentangan dengan nilai-nilai keadilan sebagai prinsip dasar agama Islam. Oleh karenanya, pengkajian ulang terhadap hadis ini perlu dilakukan secara lebih komprehensif. Melalui pengkajian ulang, didapatkan kesimpulan bahwa hadis ini perlu dipahami secara metafor. Hadis penciptaan perempuan dari tulang rusuk sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan derajat dan martabat kaum perempuan, diposisikansebagai partner hidup. Sehinggarelasi laki-laki dan perempuan dapat tercipta secara harmoni dengan saling melindungi, menghargai dan saling menghormati.
MEMAHAMI HIJRAH DALAM REALITAS ALQURAN DAN HADIS NABI MUHAMMAD Syarif El Abbas; Saifuddin Zuhri Qudsy
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.394 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.2021

Abstract

Tulisan ini akan menjelaskan hijrah sebagai tren istilah ditinjau dari aspek normativitas Islam. Akar historis peristiwa hijrah hingga menjadi fenomena masa kini berawal dari keterangan hijrah yang diabadikan dalam Alquran. Selain itu, Hadis Nabi saw. berkedudukan menjelaskan peristiwa bersejarah tersebut secara komprehensif akan menjadi sumber informasi kedua. Dengan pendekatan deskriptif analisis yang datanya dikumpulkan dari literatur tafsir dan hadis, tulisan ini akan berturut-turut mengupas mulai dari uraian terminologi hijrah berdasarkan sudut pandang linguistik, dilanjutkan dengan keterangan para ulama dalam bentuk uraian tafsir dan syarah. Penulis berkesimpulan secara umum tidak ada makna dan praktik hijrah dengan argumen “transformasi pola hidup dari arah negatif menuju ke arah positif tanpa disertai dengan migrasi secara fisik lalu melakukan labeling individu atau komunitas sebagai kaum Muhājirīn”.Akan tetapi sebagian ulama memberikan penjelasan bahwa hijrah tidak hanya dimaknai migrasi teritorial tetapi juga dapat bermakna metafor yakni hijrah batin dan lahir. Tokoh yang paling getol menegaskan dengan terminologi tersebut adalah Sayyid Qutub pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin. Atas pembacaannya terhadap makna hijrah dalam Alquran, kemudian muncul berbagai gerakan dan kampanye “islamis” mengenai hijrah ini.
HADIS “KEUTAMAAN MENYAMPAIKAN SABDA NABI”: TINJAUAN TEORI COMMON LINK G.H.A. JUYNBOLL Dzurrotul Arifah
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.343 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.1928

Abstract

Para orientalis –termasuk G.H.A. Juynboll- memiliki pandangan berbeda dengan ulama muslim mengenai asal-usul dan otentisitas hadis. Ulama muslim berpendapat bahwa hadis yang terdapat dalam kitab kanonik merupakan otentik dari Nabi, terlebih jika berstatus mutawattir. Sedangkan Juynboll berpendapat bahwa tidak semua hadis dalam kitab kanonik merupakan otentik dari Nabi, dan ke-mutawattir-an sebuah hadis tidak menjamin bahwa hadis tersebut benar-benar berasal dari Nabi. Penelitian ini menguji hadis “Keutamaan Menyampaikan Sabda Nabi” yang dinilai mutawattir dan otentik dari Nabi oleh mayoritas ulama muslim sertamerupakan salah satu sumber legitimasi umat Islam bahwa penyebaran hadis sudah digalakkan sejak masa Nabi. Kegelisahan penulis adalah, apakah hadis ini akan bernilai sama jika diteliti menggunakan teori common link G.H.A. Juynboll atau tidak. Dari hasil penelitian, penulis menemukan common link tertua (the real common link) dari hadis “Keutamaan Menyampaikan Sabda Nabi” yaitu ‘Abd al-Rahman ibn ‘Abd Allah ibn Mas‘ud (w. 79 H), seorang tabi’in senior yang berasal dari Kufah. Dengan demikian, penelitian hadis “Keutamaan Menyampaikan Sabda Nabi” menggunakan teori common link menghasilkan kesimpulan berbeda dengan pendapat ulama muslim dari segi otentisitasnya. Selain itu, penelitian ini juga ditujukan untuk memberi gambaran langkah-langkah aplikasi teori common link G.H.A. Juynboll terhadap sebuah hadis.
STUDI KITAB HADIS NUSANTARA: KITAB JAWAHIR AL-AHADIS KARYA BUYA MAWARDI MUHAMMAD Muhammad Alan Juhri
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.821 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.1636

Abstract

Buya Mawardi Muhammad merupakan seorang ulama yang cukup tersohor di Indonesia pada abad ke-20 M, terutama di ranah asalnya, Minangkabau. Beliau sangat disegani karena pengetahuannya yang meliputi berbagai bidang keilmuan. Mulai dari ilmu bahasa, seperti nahwu, sharaf, balaghah, dan ‘arudh, serta ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti hadis, ilmu hadis, fiqh mawaris, ilmu tafsir, dan lain sebagainya. Ini terbukti dari karya-karya yang beliau hasilkan di berbagai bidang tersebut. Tulisan ini akan membahas satu di antara karyanya yang cukup monumental di bidang hadis yang berjudul Jawāhir al-Aḥādīṡ  al-Nabawiyyah. Kitab ini hanya berisi hadis-hadis shahih dan hasan yang beliau pilih dari kitab-kitab hadis dan sunan-sunan para imam yang mu’tabarah. Adapun karakteristik dari kitab ini di antaranya ialah bahwa kitab tersebut disusun berdasarkan tema-tema yang beragam berdasarkan hadis-hadis yang lebih menekankan pada masalah akhlak dalam perkara sosial dan muamalah, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Kitab ini terdiri dari 147 halaman yang di dalamnya termuat lebih dari 500 hadis. Dengan demikian, karya Buya Mawardi ini dapat menjadi salah satu bukti kekayaan intelektual ulama Nusantara, sehingga menarik untuk diteliti sebagai khazanah tambahan bagi para generasi penerus, terutama bagi para pengkaji hadis.
PEMAKNAAN HADIS OLEH HANAN ATTAKI DALAM DAKWAHNYA DI YOUTUBE Syamsiyani Syams
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.964 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.1850

Abstract

Hanan Attaki merupakan sosok penceramah muda yang tengah mendapatkan popularitasnya. Hanan memiliki majelis bernama Gerakan Pemuda Hijrah yang rutin mengadakan kajian setiap hari Rabu di Kota Bandung. Kekhasan Hanan Attaki dalam memilih tema kajian yang bersifat up to date serta gaya penyampaian materi ceramah yang kekinian, menjadikan jamaahnya didominasi kaum muda. Setidaknya, sekitar 4000 orang rutin menghadiri kajian Gerakan Pemuda Hijrah tersebut. Selain ceramah secara langsung, Hanan juga memanfaatkan media sosial sebagai media dakwahnya. Akun youtube Hanan telah diikuti jutaan orang. Melihat besarnya potensi pengaruh yang ditimbulkan dari dakwah melalui media Youtube ini, peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai pemaknaan hadis oleh Hanan Attaki dalam dakwahnya di Youtube.
TELAAH HADIS TUNTUNAN MENGAZANI DAN MENGISTIAZAHI BAYI (ANALISIS TA'ARUD AL ADILLAH) Nurdhin Baroroh; Mhd Abyan Fauzi
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.922 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.1946

Abstract

Menyambut kelahiran bayi merupakan kegiatan yang dilakukan sebagai wujud syukur kepada Allah SWT. Diantara ritual yang dilakukan adalah mengumandangkan azan pada telinga kanan dan ikamah pada telinga kiri jabang bayi. Dasar ritual tersebut adalah hadis Muhammad SAW riwayat Abū Dāwūd, at-Tirmῑżi dan Ahmad yang bersumber dari Ibn Abi Rafi’.Tuntunan lain adalah dengan mengistiazahi bayi atau meminta perlindungan kepada Allah Swt untuk keselamatan si bayi, berlandaskan Q.S. Ali Imrān (3) ayat 36 dan hadis nabi yang bersumber dari Abū Hurairah danIbnu ‘Abbās yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri. Ada nuansa keberbedaan di balik kedua tuntunan tersebut, meski sama-sama bersumber dari hadis nabi, maka pembahasan dalam tulisan ini akan menelaah keduanya baik dari sisi Rijal Sanad dan sisi hukumnya. Penelaahan sisi Rijal Sanad dengan menggunakan ‘Ilmu al-Jarḥ wa at-Ta’dῑl sedangkan aspek hukumnya akan didekati dengan menggunakan teori Ta’āruḍ al-Adillāh, disebabkan munculnya keberbedaan diantara keduanya.
PEMAKNAAN HADIS TENTANG KHILAFAH DALAM PERSPEKTIF HERMENEUTIKA Yusron Yusron
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.137 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.1929

Abstract

Bentuk pemerintahan khilafah dan ormas tertentu yang memaksakan ideloginya dalam kontkes NKRI menjadikan urgensi penelitian khilafah menjadi sangat penting. Hal ini sebagaimana dilakukan dalam perspektif hadis dan pemaknaannya dalam konteks sekarang. Dalam hadis-hadis yang diriwayatkan oleh beberapa periwayat, hadis yang menunjukkan bahwa satu-satunya khilafah sebagai bentuk negara adalah dalam tatanan masa pemerintahan khulafah al-rasidun. Bentuk pemerintahan disesuaikan dengan kepentingan masing-masing negara. Selain khilafah, terdapat beragam bentuk pemerintahan yang disebut dalam hadis yaitu mulkan ‘adhdhan (kerajaan yang menggigit) dan mulkan jabriyyah (kerajaan diktator). Hal yang membedakan dengan pemerintahan khilafah pada masa khulafa a-rasyidun adalah mereka dipilih dengan musyawarah dan bukan turun-termurun. Dalam perspektif hermeneutika, pemahaman atas hadis tentang khilafah harus dikembalikan kepada pembacaan secara utuh dalam perspektif historisnya dan dipahami pula dalam konteks kekinian. Sehingga, pola pemerintahan saat ini adalah mengikuti pola berdasarkan kepentingan bersama dalam sebuah negara dengan merujuk pada kenyataan historis.
KHABARUL WAHID DALAM PANDANGAN ASY-SYAFI'I DALAM KITAB AR-RISALAH Sholahuddin Zamzabela; Indal Abror
Jurnal Living Hadis Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.765 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2019.1936

Abstract

Pada akhir abad kedua hijriah, ketika dunia Islam diramaikan dengan golongan yang menolak sunnah, baik keseluruhan ataupun yang wahid saja, Imam Syafi’i tampil sebagai seorang yang membela dan mempertahankan khabar al-wahid. Adapun yang dimaksud dengan khabar al-wahid dalam kitab al-Risalah adalah khabar yang berasal dari seseorang kepada seseorang yang lain hingga berakhir kepada Nabi saw atau berakhir kepada selain Nabi saw. Meski memiliki istilah yang hampir sama, khabar al-wahid memiliki titik perbedaan dengan khabar al- ahad atau dalam kajian `ulumul hadis lebih dikenal dengan istilah hadis ahad. Titik perbedaan tersebut terletak pada jumlah periwayat yang dimaksud pada masing-masing istilah. Ahad diartikan dengan jumlah yang lebih dari tiga tetapi tidak sampai derajat mutawattir, sementara Imam Syafi`i mengartikan wahid hanya diriwayatkan oleh satu orang perawi. Walaupun demikian, keduanya mempunyai kesamaan bahwasanya khabarul wahid dan khabarul ahad tidaklah mencapai derajat mutawatir. Dalam kaitannya dengan penetapan khabar al-wahid sebagai hujjah, kriteria kehujjahan yang ditetapkan al-Syafi’ merupakan kriteria yang cukup ketat dan lengkap. Para ulama fikih dan hadis sebelumnya, hanya mensyaratkan perawi yang tsiqah dalam penerimaan khabar al-wahid tanpa ada syarat yang lain, sementara syarat yang ditetapkan oleh sl-Syafi’i ini tampaknya merupakan syarat digunakan oleh para ahli hadis dewasa ini dengan berbagai pengembangan.

Page 1 of 1 | Total Record : 8