cover
Contact Name
Doni Septian
Contact Email
doni.septian@stainkepri.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
doni.septian@stainkepri.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bintan,
Kepulauan riau
INDONESIA
Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu
ISSN : 26567202     EISSN : 26556626     DOI : -
Jurnal Perada fokus pada kajian keislaman di kawasan Melayu. Kajian utama jurnal Perada meliputi: Studi Islam di Melayu: meliputi kajian Alquran dan tafsir, hadis, syariah, tarbiyah, dakwah, sosiologi agama, sejarah serta disiplin ilmu lain yang terkait kajian kawasan Melayu. Pemikiran Islam: meliputi kajian tentang pemikiran tokoh-tokoh Islam di Melayu. Kajian Kemelayuan: meliputi adat istiadat, sejarah, khazanah dan lainnya yang berkembang di Melayu.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 2 (2021)" : 8 Documents clear
GENEALOGIS MELAYU BUGIS: KAJIAN HISTORIOGRAFI TERHADAP ASAL USUL UPU DAENG LIMA BERSAUDARA DALAM SUMBER-SUMBER MELAYU SYAHRUL RAHMAT
PERADA Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i2.383

Abstract

ABSTRAK Upu Daeng lima Bersaudara berikut keturunannya tercatat memiliki pengaruh luar biasa di Kerajaan Riau Lingga. Mereka adalah anak Daeng Rilakka yang merupakan keturunan dari La Maddusila, seorang Raja Luwu di tanah Bugis. Silsilah atau ranji keturunan mereka disebut dalam sejumlah sumber, termasuk sumber-sumber Melayu. Setidaknya terdapat dua sumber Melayu yang bercerita tentang asal usul mereka, yaitu naskah Tuhfat Al-Nafis dan Silsilah Melayu Bugis yang ditulis pada abad ke-19 oleh Raja Ali Haji. Pada artikel ini terdapat dua isu penting, pertama adalah menganalisa silsilah Upu Daeng Lima Bersaudara dari kedua sumber, serta kedua menganalisa penulisan silsilah tersebut dari sudut pandang historiografi. Rangkaian penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang dimulai dari heuristik, verifikasi sumber, iintreprestasi dan historiografi. Secara umum, Tuhfat Al-Nafis dan Silsilah Melayu Bugis sudah mulai ditulis dengan menggunakan metode penulisan sejarah, hanya saja hal tersebut belum diterapkan secara konsisten untuk seluruh narasi, terutama terkait silsilah. Sekalipun demikian, perbedaan jumlah nama dalam silsilah pada kedua kitab itu mengindikasikan Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis mulai menerapkan verifikasi terhadap sumber yang digunakan. Kata Kunci: historiografi, Melayu-Bugis, Raja Ali Haji, silsilah, Tuhfat al-Nafis, ABSTRACT Upu Daeng Lima Bersaudara and their descendants were noted to have an extraordinary influence in the Riau Lingga Kingdom. They are the children of Daeng Rilakka who is a descendant of La Maddusila, a King of Luwu in the land of Bugis. Their genealogy is mentioned in some of Malay sources. There are at least two Malay sources telling about their origins that are the Tuhfat Al-Nafis and the Silsilah Melayu Bugis manuscripts written in the 19th century by Raja Ali Haji. In this article, there are two important issues. The first is to analyze the genealogy of Upu Daeng Lima Bersaudara from both sources and the second is to analyze the writing of the genealogy from a historiographical perspective. The historical research method was used in this research starting from heuristic, source verification, interpretation and historiography. In general, Tuhfat Al-Nafis and Silsilah Melayu Bugis have been written by using the historical writing method, but the method itself has not been applied consistently for all narration, especially those related to genealogy. However, the difference in the number of names in the genealogy of the two books indicated that Raja Ali Haji in Tuhfat al-Nafis began to verify to the sources used. Keywords: historiography, genealogy, Malay-Bugis, Raja Ali Haji, Tuhfat Al-Nafis
NALAR IRFANI DALAM PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASYARAKAT MELAYU NATUNA Muhammad Alfan Sidik
PERADA Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i2.394

Abstract

Tradisi keilmuan irfani yang berbasis pada tradisi pemikiran tasawuf merupakan salah satu corak keilmuan Islam di kalangan Arab-Islam menurut pandangan M. Abid al-Jabiri, selain tradisi keilmuan bayani –yang cenderung tekstual dan burhani –yang diskursif logikal. Tidak dapat dimungkiri bahwa nalar irfani yang berbasis tradisi keilmuan tasawuf sedikit banyak telah memberikan dampak positif dalam perkembangan karakteristik Islam di Indonesia, yakni Islam yang lebih moderat dan toleran. Begitu juga Islam di Melayu Natuna yang kental dengan tradisi keislamannya. Tulisan ini mencoba mengidentifikasi nalar irfani dalam perkembangan Islam di Natuna. Berdasarkan kajian ini dapat diidentifikasikan bahwa Nalar ‘irfani memiliki beberapa corak pemikiran yang berasal dari tradisi para sufi yang membawa Islam ke Nusantara. Faktor sufi, wali atau spiritualitas ini menjadi faktor yang penting dalam proses Islamisasi di Nusantara dan memberikan dampak pada karakteristik Islam di Nusantara yang moderat dan toleran. Corak nalar irfani ini juga muncul dalam indentifikasi perkembangan Islam di Natuna, yang dapat dilihat dalam beberapa poin, Pertama; Nalar irfani dalam Sejarah Islamisasi di Natuna. Kedua, Tokoh Ulama’ Natuna, Ketiga, Seni dan Tradisi Keagamaan di Natuna dan Keempat adalah dalam Perkembangan Tasawuf dan Tarekat di Natuna. Abid al-Jabiri stipulated that the Irfani practices originally rooted in the tradition of Sufism thought is one of the characteristics of Islamic scholarship in Muslim Arab communities in addition to the bayani scientific tradition – which tends to be textual and burhani – which is logically discursive. The framework of Irfani’s way of thinking based on the scientific tradition of Sufism has more or less shaped the characteristics of Islam in Indonesia leading to more moderate and tolerant Islam. Likewise, Islam in Malay Natuna is thick with Islamic traditions. This article aims to reveal Irfani’s thought in the development of Islam in Natuna. The findings indicate 'irfani’s thought has several patterns of thought originating from the traditions of the Sufis who brought Islam to the Indonesia. Some important factors in the process of Islamization in the archipelago are the Sufi, Wali or spirituality factor and those have had an impact on the moderate and tolerant characteristics of Islam in Indonesia. The Irfani’s thought is also identifiable in the development of Islam in Natuna, represented in several points: Irfani’s thought in the history of Islamization in Natuna; Natuna Ulama' Figures; art and religious traditions in Natuna; and the development of Sufism and Tarekat in Natuna.
TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN FOTO PREWEDDING Alex Saputra
PERADA Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i2.395

Abstract

Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui apa saja faktor yang membuat calon pengantin berkeinginan untuk melaksanakan pemotretatan foto prewedding pada Mandhan Photography (Fotografer Prewedding), dan bagaimana Syariat Islam memandang kegiatan pemotretan prewedding yang dilaksanakan sebelum akad nikah, pada kasus pemotretan yang dilakukan Mandhan Photography. Pada penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Sumber data primer berasal dari wawancara penulis dengan saudara Mandhan Photography selaku fotografer prewedding. Sumber data sekunder berasal dari buku-buku rujukan, Al-Qur’an dan Hadits, jurnal ilmiah yang berkaitan dengan judul skripsi ini. Kemudian teknik penulisan berdasarkan pedoman penulisan skripsi STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa proses pengambilan foto prewedding benar dilakukan oleh Mandhan Photography dan para calon pelanggan datang kepada Mandhan Photography untuk proses negosiasi kontrak sewa jasa fotografi. Dalam hal ini trend merupakan faktor utama yang menjadi alasan mengapa banyak calon suami dan isteri ingin melakukan sesi foto prewedding. Dan syariat Islam memandang bahwa kegiatan foto prewedding itu haram apabila berlebihan seperti berikhtilah, khalwat dan kasyaful aurat. Namun ulama juga berpendapat bahwa foto prewedding boleh saja asalkan tidak berlebihan seperti halnya dilarang dalam Al-Qur’an dan Hadits.
PEMIKIRAN ETIKA SUFISTIK MENURUT AL-GHAZALI DALAM KITAB MINHAJ AL-‘ABIDIN Aminudin Aminudin
PERADA Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i2.396

Abstract

Abstrak Tulisan ini membahas tentang konstruksi ataupun konsep tentang etika sufistik yang terdapat dalam salah satu karya al-Ghazali dalam kitab yang berjudul Minhaj al-‘Abidin. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dengan jelas bagaimana sebenarnya ajaran etika tasawuf (etika sufistik) al-Ghazali terutama yang terdapat dalam kitab Minhaj al-‘Abidin. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitis, yaitu penulis memberikan gambaran dan menganalisis nilai-nilai/dimensi-dimensi etika sufistik yang terkandung dalam kitab Minhaj al-‘Abidin. Penelitian ini berbasis pustaka (library research). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa konsep etika sufistik yang dikemukakan oleh al-Ghazali dalam kitab Minhaj al-‘Abidin tentang anjuran untuk mengendalikan hawa nafsu dan taubat sebagai jalan menuju Allah Swt. Kata kunci: Al-Ghazali, Minhaj al-'Abidin, Etika Sufistik Abstract This paper discusses the construction or concept of sufistic ethics contained in one of al-Ghazali's works in the book entitled Minhaj al-'Abidin. This research aims to express clearly how exactly the teachings of sufism (sufistic ethics) al-Ghazali are mainly found in minhaj al-'Abidin. The method used is an analytical descriptive method, i.e. the author provides an overview and analyzes the values/dimensions of sufistic ethics contained in the book Minhaj al- 'Abidin. This research is library research. The results of the study concluded that the concept of sufistic ethics expressed by al-Ghazali in minhaj al-'Abidin is about the advice to control lust and repentance as the way to Allah Almighty. Keywords: Al-Ghazali, Minhaj al-'Abidin, Sufistic Ethics
ANALISIS MASHLAHAH DALAM PRAKTIK PERNIKAHAN USIA MUDA DI RUBARU SUMENEP Ummi Kulsum
PERADA Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i2.430

Abstract

Penelitian ini menjelaskan tentang fenomena perkawinan di usia muda yang masih berulang dan terjadi di tengah-tengah masyarakat. Fenomena tersebut masih terjadi hingga saat ini, baik di pedesaan maupun perkotaan di berbagai daerah di Indonesia. Seperti yang terjadi di Desa Pakondang Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep. Pernikahan di usia muda seringkali menunjukkan sesuatu yang jauh dari harapan masyarakat. Berdasarkan hasil observasi peneliti bahwa banyak anak muda yang menikah di usia muda di Desa Pakondang berdasarkan beberapa faktor. Ada yang hanya dengan momen cinta. Ada juga pernikahan yang diatur oleh kedua belah pihak keluarga. Ada pula karena keadaan ekonomi. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena sosial sedalam mungkin melalui pengumpulan data. Oleh karena itu, yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah fenomena dan aktivitas sosial suatu kelompok yaitu kelompok masyarakat di Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep dengan judul Analisis Mashlahah Pada Praktik Pernikahan Dini. Adapun hasil penelitian ini adalah pertama, faktor-faktor yang melatarbelakangi pelaksanaan perkawinan usia muda, antara lain: 1) perjodohan, 2) tradisi, 3) rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua. Kedua, analisis mashlahah; Perkawinan di usia muda dapat menghambat pola pikir manusia (hifz al-'aql). Sedangkan secara psikologis, perkawinan pada usia muda berdampak pada ketidaksiapan mental untuk menata, membangun, dan memelihara keharmonisan rumah tangga, serta tidak mencapai tujuan kemaslahatan yaitu melindungi jiwa (hifz al-nafs). This reseach describes the phenomenon of marriage at a young age which is still repeated and occurs in the midst of society. This phenomenon still occurs today, both in rural and urban areas in various regions in Indonesia. As happened in Pakondang Village, Rubaru District, Sumenep Regency. Marriage at a young age often shows something that is far from society's expectations. Based on the results of researchers' observations that many young people marry at a young age in Pakondang Village based on several factors. Some are only with moments of love. There are also marriages arranged by both sides of the family. There is also the economic situation. This study uses qualitative research, namely research that aims to explain social phenomena as deeply as possible through data collection. Therefore, what will be studied in this study is the phenomenon and social activity of a group, namely community groups in Rubaru District, Sumenep Regency with the title Mashlahah Analysis in Early Marriage Practices. The results of this study are first, the factors behind the implementation of young marriage, among others: 1) matchmaking, 2) tradition, 3) low level of education and knowledge of parents. Second, mashlahah analysis; Marriage at a young age can inhibit the human mindset (hifz al-'aql). While psychologically, marriage at a young age has an impact on mental unpreparedness to organize, build, and maintain household harmony, and does not achieve the benefit goal of protecting the soul (hifz al-nafs). Kata Kunci : mashlahah, pernikahan usia muda
RADIKALISME BERAGAMA DALAM TINJAUAN AL-QURAN DAN REALITAS Nurzen, Kopri
PERADA Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i2.425

Abstract

The world is still preoccupied with issues of radicalism and terrorism. Islam is the religion that is most often the target of accusations of various acts of terrorism and radicalism that occur in the community. Referring to the Al-Quran as its main source, Islam is a religion that is actually far from the shadow of radicalism and terrorism. Islam teaches that there is no compulsion in religion and being religious people comfortably. However, according to the narration conveyed by the Prophet Muhammad, he once prophesied about the existence of a group of people who were appear from His people who were physically good in religion, but his extreme attitude made him able to bounce from religion quickly. Not only Islam, all religious people basically have the same opportunity to be exposed to the disease of religious radicalism.
PERKEMBANGAN KAJIAN TEORITIS DAN TIPOLOGI TAFSIR DI MESIR Muhammad Mudzakkir
PERADA Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i2.426

Abstract

The development of interpretation from time to time has a long history and different styles and has its own characteristics so that it reaches its shape as we can see today. Egypt is one of the countries that has become a reference in terms of scholarship, including the study of interpretation after the collapse of Baghdad. This paper uses library research using descriptive analysis methods to uncover and describe the formation of interpretations, the methods used in interpretation and to find a typology of interpretation. By preodic If we group the development of interpretation from the beginning of Islam to the modern era, especially in the area of ​​Egypt, we can divide it into three periodicals; compilation, classification, and updating. From these three stages of process, various interpretations emerge and develop over time; in the early phase of the study of interpretation, it was still oriented to the riwâyah aspect which was oriented to the interpretation of Abdullah bin Abbas; then in the next phase, namely the development stage of interpretation, it has begun to elaborate on the riwâyah aspect with dirâyah which makes language studies the main focus and in the third phase is the renewal of the study of interpretation so that perspectives emerge through more objective methods and become a reference for any social problems that plague the Ummah. Islam. This is where the development of the next interpretation begins.
SEJARAH DAN KARAKTERISTIK METODOLOGI TAFSIR AL-QUR'AN Muhamad Rezi
PERADA Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i2.427

Abstract

Artikel ini berutujuan untuk mengeksplorasi perkembangan metode tafsir dan penafsiran terhadap Al-Qur’an yang telah berkembang hingga saat ini. Metode penulisan tafsir yang selama ini berkembang ialah ijmali (umum), maudhui (tematik), tahlili (terperinci) dan muqoran (perbandingan). Dalam perkembangannya para mufasir juga banyak menghasilkan metode penafsiran dalam upaya mengunggap pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an. Sebagaimana yang dijelaskan dalam artikel ini, bahwa penafsiran terhadap al-Qur’an merupakan sebuah upaya untuk mengaktualisasikan kandungan dalam Al-Qur’an dalam realitas kehidupan saat ini. Oleh sebab itu, lahirnya teori-teori tafsir yang baru tidak lepas dari upaya menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan konteks dan realitas saat ini. Bahkan, variasi metode dan keberagaman corak menjadi bukti kemajuan dan fleksibilitas pemikiran umat Islam dalam merelevansikan ajaran Agama dengan tuntutan zaman dan kondisi masyarakat. Dengan realita semakin jauhnya umat dari pemahaman agama dan berkembangnya berbagai pengaruh ideologi luar, ulama dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menyampaikan syari’at Islam dengan tetap menjaga keaslian dan validitas sumber ajarannya. This article aims to explore the development of the method of interpretation and interpretation of the Qur'an that has developed to date. The methods of writing commentary that have been developed so far are ijmali (general), maudhui (thematic), tahlili (detailed) and muqoran (comparison). In its development, the commentators also produced many methods of interpretation in an effort to reveal the message contained in the Qur'an. As explained in this article, the interpretation of the Qur'an is an attempt to actualize the content in the Qur'an in the reality of today's life. Therefore, the birth of new interpretation theories cannot be separated from efforts to interpret the Qur'an in accordance with the current context and reality. In fact, the variety of methods and the variety of styles are evidence of the progress and flexibility of Muslim thought in relevating religious teachings to the demands of the times and conditions of society. With the reality that people are getting farther away from religious understanding and the development of various external ideological influences, scholars are required to be more creative and innovative in conveying Islamic law while maintaining the authenticity and validity of the source of their teachings.

Page 1 of 1 | Total Record : 8