cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan is a peer-reviewed and open-access journal published semiannually (June and December) by Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary), Malang City, East Java, Indonesia. The journal specializes in evangelical theology that focuses on the novelty in biblical studies, systematic theology, and practical theology, contributing to theological studies and ecclesial ministry. Manuscripts submitted for publication in this journal include quantitative or qualitative field research findings, conceptual and critical studies, exegesis or exposition material, case studies, and other forms of original thought in the broad scope of theological research, supported with academic references that are adequate, robust, and accurate.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 23 No 1 (2024)" : 11 Documents clear
The Covenant of Works: The Origins, Development, and Reception of the Doctrine Jeremiah, Wilson
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 23 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v23i1.500

Abstract

Ketakutan terhadap Kematian Sebagai Konstituen Spiritualitas Kristen yang Autentik Menurut Eksistensialisme Søren Kierkegaard Loupatty, Abe FFB
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 23 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v23i1.651

Abstract

Kematian dapat menimbulkan kengerian pada diri manusia kendati ia meyakini afterlife seperti dalam keyakinan Kristen. Kengerian terhadap kematian mendorong manusia untuk memperjuangkan kehidupan yang bersifat temporal. Ketakutan terhadap kematian (fear of death) juga menyadarkan manusia akan kefanaannya, sehingga memiliki kegentaran yang mendorongnya bertakzim dan bergantung kepada Tuhan. Makalah ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa fear of death merupakan konstituen dari spiritualitas Kristen yang autentik menurut Eksistensialisme Søren Kierkegaard. Untuk itu, makalah ini akan memaparkan paradoks relasi manusia dengan hal-hal finite dalam konsep Kierkegaard mengenai iman yang terdiri atas gerakan ganda resignation dan repetition. Dalam konsep iman menurut Kierkegaard, terdapat paradoks dalam relasi manusia dengan hal-hal yang bersifat finite, di mana ia melepas (resignation) sekaligus mengharapkan kembali (repetition) relasi tersebut secara bersamaan. Dalam paradoksikal ini, fear of death membentuk spiritualitas yang autentik, sebab kematian menjadi agen yang mengakhiri relasi tersebut. Dalam spiritualitas tersebut, fear of death hadir bersama rasa syukur kepada Tuhan atas relasi dalam kehidupan temporal yang rapuh. Fear of death menunjukkan ketulusan kasih kepada Tuhan yang diekspresikan dalam relasi manusia dengan hal-hal yang finite. Spiritualitas ini memampukan manusia untuk berbahagia dengan kerapuhan kehidupan temporal. Perasaan takut dan bahagia hadir dalam gerakan ganda terhadap hal-hal finite yang terjadi dalam iman, sehingga menghasilkan paradoks emosi pada sikap manusia terhadap kerapuhan relasi yang finite tersebut. Dengan demikian, sebagai pergumulan eksistensial, fear of death merupakan konstituen dari spiritualitas autentik yang dinyatakan dalam relasi dengan Tuhan, sesama, dan relasi lainnya di dalam kehidupan temporal.
Dari Kristopraksis ke Antropopraksis: Inkarnasi, Sejarah, dan Menjadi Manusia melalui Lensa Kaum Miskin dalam Teologi Ignacio Ellacuría, S.J. dan Daniel Lucas Lukito Sasongko, Nindyo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 23 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v23i1.683

Abstract

The purpose of this article is to relate the incarnation, the cross, and what it means to be human in the struggle for justice. Amid the suspicions of some U.S. theologians against the use of Marxist derivative theories, this article argues otherwise. Christian theology can be enriched by these theories, even if they seem to contradict certain Christian interpretations. This is due to the interdisciplinary nature of theology which is always in dialogue with different scientific disciplines. By focusing on the doctrines of the incarnation and the cross in the theology of Ignacio Ellacuría, S.J. and Daniel Lucas Lukito, this article shows that Christian theologians can use non-Christian concepts, including those of Marxist thinkers, to build contextual theology. Firstly, it will be shown how contemporary thinkers discuss the nexus between incarnation, the cross, and history especially in the thought of Slavoj Žižek, Jürgen Moltmann, and Eberhard Jüngel who were influenced by Hegel and the social theory of Marxism. Then, this article will expound how Ellacuría and Lukito take the Marxist vocabulary and intertwine it with the doctrine of the incarnation, the cross, and history. If the crucified Jesus in history unites with the poor then, in the last part, humanity is not only defined in Christ, but Christ is also defined in crucified humanity, which I call “anthropopraxis.”
Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Adiksi Internet pada Kaum Muda Kristen Utomo, Tabita Davinia; Utami, Asriningrum; Herawati
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 23 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v23i1.710

Abstract

Previous research has found Internet addiction to be negatively related to emotional intelligence. This study aims to examine the relationship between these two variables in young Christians during the COVID-19 pandemic, when the Internet is frequently used for a long duration. This study used a quantitative correlational method through the Emotional Intelligence Questionnaire instrument (α = 0.890) based on Goleman's emotional intelligence theory, and the Internet Addiction Test (α = 0.893) based on Young's Internet addiction theory. There were 223 respondents aged 15-24 years (Age = 19.91; SD = 2.929) obtained through convenience sampling, with 62.8% female and 37.2% male. There was no correlation between emotional intelligence and Internet addiction (r = -0.104; Sig. = 0.120), although there was a negative correlation between managing emotions and salience (r = -0.156; Sig. = 0.020), as well as motivating oneself and neglect of duty (r = -0.234; Sig. = 0.000). These findings reinforce the assumption that the increasingly prevalent use of the Internet during the COVID-19 pandemic has changed the phenomenon of human interaction with the Internet, because the Internet is not only a means of coping strategies for negative emotions, but also supports daily activities. The results provide a new perception of the Internet for researchers, parents and coaches in helping young Christians to recognize their emotions so that they do not rely on the Internet when they want to express or suppress them.
Spiritual Seeking dan Flourishing Mahasiswa Seminari di Indonesia: Kontribusi dari Managing Identity Aditya, Yonathan; Martoyo, Ihan
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 23 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v23i1.711

Abstract

Spiritual education and growth often involves a searching and struggling phase that can be disruptive to one’s well-being. However, if these questing phases are indeed a natural part of the spiritual journey, then strategies are needed to manage them. This article examines the relationship between the psychological phase of seeking (Quest) and well-being (Flourishing), as well as the contribution of the Managing Identity dimension of the concept of Self-Differentiation. Data were collected from 303 seminary students from 28 theological colleges in Indonesia. Multilevel regression analysis found that Quest did negatively predict seminary students’ well-being (β=-.13, p<.01), however Managing Identity of Self-Differentiation contributed more positively to well-being (β=.61, p<.01). The implications of these findings will be discussed. The Quest and Self-Differentiation dimensions were found to be closely related to Reformed theology, soteriology and ecclesiology, and the focus on the reality of the Trinity that models Christian life.
Pemahaman Pimpinan Sinode Gereja Kristus Tuhan Mengenai Eklesiologi Reformed Sebagai Dasar Kebijakan Pelayanan Digital Gereja Handoko
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 23 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v23i1.740

Abstract

Pandemi COVID-19 telah membuat perubahan bagi dunia. Perubahan yang memaksa Sinode Gereja Kristus Tuhan (GKT) untuk terjun dalam pelayanan digital. Bagi Sinode GKT, pelayanan digital merupakan model pelayanan yang baru dan belum terbiasa. Sebagai gereja yang menganut teologi Reformed, Sinode GKT perlu untuk merespons pelayanan digital ini dalam pemahaman eklesiologi Reformed. Karena itu, penelitian dalam artikel ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman pimpinan Sinode GKT mengenai eklesiologi Reformed sebagai dasar kebijakan pelayanan digital gereja. Untuk mencapai tujuan ini, metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dasar. Dalam penelitian ini ada dua belas pimpinan Sinode GKT yang diwawancara. Mereka terdiri dari pejabat sinode dan gembala sidang yang melayani di GKT dari berbagai lokasi. Penelitian ini menghasilkan empat temuan terkait kebijakan pelayanan digital yang ditinjau dari pemahaman eklesiologi Reformed. Kebijakan pelayanan digital yang ditinjau dari pemahaman eklesiologi Reformed yang ditemukan berkaitan dengan kegiatan ibadah Minggu, persekutuan, pelaksanaan sakramen Perjamuan Kudus, dan kebijakan misi penginjilan.
Dampak Gerakan Politik Tionghoa Pada Upaya Penyatuan Jemaat-Jemaat Tionghoa di Jawa Barat 1926-1940 Firdaus, Yogi Fitra
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 23 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v23i1.748

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dampak dari gerakan politik Tionghoa dalam upaya penyatuan jemaat-jemaat Tionghoa di Jawa Barat. Selama ini ada anggapan bahwa kemandirian jemaat-jemaat Tionghoa semata-mata pemberian zending Belanda, padahal sesungguhnya lahir dari kesadaran tokoh-tokoh Tionghoa Kristen akibat pengaruh dari nasionalisme Tiongkok. Gerakan politik di kalangan masyarakat Tionghoa di Jawa Barat sebagai respons atas kebijakan diskriminatif dari Pemerintah Hindia Belanda baik pada bidang sosial-ekonomi maupun pendidikan. Di masa ini, masyarakat Tionghoa sendiri terpecah di dalam faksi-faksi politik sesuai dengan orientasinya masing-masing. Ada yang berorientasi ke daratan Tiongkok, Pemerintah Hindia Belanda atau ikut dalam usaha kemerdekaan Indonesia. Situasi perpecahan tersebut terjadi juga terjadi di kalangan jemaat-jemaat Tionghoa di Jawa Barat yang bercorak Kalvinis dan Methodist. Hal ini mendorong tokoh-tokoh Kristen Tionghoa mengupayakan akan kemandirian serta kesatuan. Maka, penulis menggunakan metode sejarah dengan empat langkah yaitu heurestik, kritik, interpretasi dan historiografi untuk mendokumentasikan pengaruh nasionalisme Tiongkok terhadap upaya penyatuan jemaat Tionghoa di Jawa Barat pada tahun 1926-1940.
Akomodasi Kebutuhan Generasi Z Akan Penerimaan Tanpa Syarat Ditinjau dari Teori Client-Centered Therapy dan Pelayanan Yesus Winarsih, Winarsih
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 23 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v23i1.813

Abstract

Anggapan beberapa kalangan Protestan injili bahwa psikologi merupakan ancaman bagi umat Tuhan tidak terlihat jelas pada generasi Z Kristen. Mereka begitu terbuka terhadap konsep-konsep psikologi untuk kesehatan mental mereka. Salah satunya tentang kebutuhan penerimaan tanpa syarat. Perbedaan kedua anggapan tersebut melatarbelakangi dilakukannya penelitian pustaka terhadap kebutuhan generasi Z akan penerimaan tanpa syarat berdasarkan teori Client-Centered Therapy (CCT) dan pelayanan Yesus. Dalam artikel ini, penulis mengkaji kedua konsep tersebut guna menemukan titik temu sehingga para pembina rohani generasi Z dibekali konsep-konsep psikologi yang selaras dengan Alkitab dalam melayani generasi Z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan generasi Z tersebut layak diakomodasi karena dapat meningkatkan kesehatan mental dan dipakai sebagai sarana menerjemahkan injil kepada mereka. Proses akomodasi yang sejalan firman Tuhan dapat dilakukan dengan pendekatan integrasi psikologi-teologi “mengambil dari Mesir,” yang menghasilkan pedoman-pedoman bagaimana mengakomodasi kebutuhan tersebut, khususnya menurut prinsip-prinsip pelayanan Yesus. Dengan demikian, pembina rohani melayani generasi Z dengan pendekatan yang holistik yang memberikan rasa aman untuk mereka terus bertumbuh dan beraktualisasi. Diharapkan tinjauan literatur ini akan menjadi awal dari penelitian selanjutnya untuk mengembangkan pelayanan yang holistik bagi generasi Z khususnya dalam konteks kalangan Protestan injili.
Menjadi Manusia: Sebuah Proposal Injili Kristanto, Billy
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 23 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v23i1.814

Abstract

Artikel ini menyajikan sebuah proposal antropologi injili di tengah-tengah keanekaragaman pandangan antropologi teologis yang ada. Pertanyaan tentang prinsip-prinsip sentral apa yang terkandung dalam teologi injili dapat menimbulkan perdebatan yang panjang. Terlebih lagi mengembangkan prinsip-prinsip ini secara antropologis. Karena itu, artikel ini membatasi pada beberapa prinsip yang diambil dari soteriologi injili dan Kristologi Reformed. Pertama-tama, penulis membahas sejarah singkat yang menghadirkan berbagai alternatif antropologi, khususnya dalam kaitan dengan konsep gambar Allah, salah satu topik sentral dalam antropologi Kristen. Bagian kedua akan menampilkan antropologi Michael Welker sebagai salah satu wakil antropologi teologis kontemporer. Bagian terakhir menyajikan sebuah proposal antropologi injili yang diharapkan dapat dikembangkan dan diaplikasikan lebih lanjut dalam berbagai aspek. Penulis hanya memberikan contoh aplikasi dalam dua aspek saja, yaitu dalam dunia pendidikan dan tanggung jawab ekologis. Secara metodologis, artikel ini mencoba untuk menyajikan berbagai macam pandangan antropologi secara historis dalam dialog dengan teologi injili, sebelum kemudian mengakhiri dengan sebuah proposal injili yang menegaskan bahwa kunci menjadi manusia pada esensinya terletak pada menjadi semakin serupa Kristus.
Front Matter Volume 23 Issue 1 Alinurdin, David
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 23 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 1 of 2 | Total Record : 11