cover
Contact Name
Lukmanul Hakim
Contact Email
lukmanulhakim7419@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalmabasan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
MABASAN
ISSN : 20859554     EISSN : 26212005     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in MABASAN have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. MABASAN is published by Kantor Bahasa NTB twice times a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2009): Mabasan" : 9 Documents clear
Keragaman Sastra dan Keindonesiaan Sebuah Refleksi Melani Budianta
MABASAN Vol. 3 No. 2 (2009): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.04 KB) | DOI: 10.26499/mab.v3i2.111

Abstract

Kesusasteraan Indonesia berakar dan tumbuh dari keragaman, sejak masa prakolonial sampai saat ini. Berbagai pengaruh lintas budaya, keragaman bahasa, aliran dan orientasi budaya mewarnai kesusasteraan yang berkembang di Indonesia. Dalam keragaman itu keindonesiaan terus menerus didialogkan dan dibangun. Meskipun demikian keragaman itu tidak bisa tidak mengandungi relasi kuasa yang tidak seimbang. Kesusasteraan dalam bahasa Indonesia yang ditulis oleh masyarakat di wilayah Indonesia Timur kurang terekam dalam sejarah kesusasteraan, kesusasteraan daerah kurang mendapat ruang untuk mendapat perhatian dan dukungan. Dengan mengoptimalkan akses terhadap kesusasteraan yang ditulis dalam bahasa Indonesia maupun daerah, kita bukan saja membangun kesusasteraan yang lebih mendunia, melainkan juga membangun keindonesiaan yang lebih inklusif.
Sastra Suluk Jawa Pesisiran: Membaca Lokalitas dalam Keindonesiaan Toha Machsum
MABASAN Vol. 3 No. 2 (2009): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.747 KB) | DOI: 10.26499/mab.v3i2.118

Abstract

Sastra Suluk sebagai salah satu jenis karya sastra Jawa pesisiran mengandung ajaran kerohanian tasawuf atau bernuansa tasawuf yang berupa petunjuk tentang keyakinan, sikap, tata cara yang dilakukan seseorang untuk mengenal hidup kesejatian di hadapan Sang Maha Pencipta atau untuk mencapai posisi sedekat-dekatnya dengan Tuhan. Secara umum studi sastra suluk diarahkan untuk mengangkat salah satu warna kebudayaan kerohanian bangsa. Pengangkatan nilai-nilai budaya lama lewat studi karya sastra suluk akan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam rangka memepertahankan jati diri ketimuran. Dikatakan demikian, karena pada saat ini peradaban global yang sudah tidak lagi kenal batas-batas ruang waktu, tidak hanya menyajikan unsur-unsur positif bagi pemikiran dan kemajuan umat, tetapi juga menawarkan filsafat materialisme dan skularisme yang sangat membahayakan bagi kehidupan ketimuran yang menjunjung nilai-nilai agama dan filsafat ketuhanan. Globalisasi dalam hal ini tidak menawarkan kebudayaan, tetapi menawarkan sebuah peradaban. Lebih lanjut, pemahaman dan pengenalan terhadap nilai-nilai budaya masa lampau yang terdapat dalam naskah suluk bukan saja merupakan modal utama bagi pembangunan nasional yang diamanatkan oleh GBHN, melainkan juga memberikan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan masyarakat masa lampau, seperti sosial, politik, ekonomi, dan budaya.Corak keberagaman Islam tersebut lebih jauh akan memberikan inspirasi dan sekaligus menggerakkan kehidupan kebangsaan Indonesia. Dengan kata lain corak keberagamaan Islam tersebut mewarnai konsep berpikir masyarakat Indonesia.
Nilai Budaya dalam Cerita Rakyat Toraja NFN Ratnawati
MABASAN Vol. 3 No. 2 (2009): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.299 KB) | DOI: 10.26499/mab.v3i2.112

Abstract

Toraja adalah salah satu suku yang mendiami wilayah pegunungan di Sulawesi Selatan. Penduduknya yang berjumlah sekitar 450.000 jiwa masih tinggal di Kabupaten Toraja Induk dan Kabupaten Toraja Utara. Umumnya, penduduk ini menganut agama Kristen, sebagian lagi memeluk agama Islam, serta sebagiannya lagi masih ada yang menganut kepercayaan animisme yang dikenal dengan Aluk To Dolo. Kepercayaan Aluk To Dolo inilah yang mendasari pelaksanaan berbagai upacara yang memerlukan persembahan hewan kurban dalam jumlah nominal tinggi dalam kehidupan masyarakat Toraja.Tulisan ini memaparkan nilai budaya dalam Cerita Rakyat Toraja. Nilai budaya yang menonjol dalam Cerita Rakyat Toraja sebagian besar dipengaruhi oleh kepercayaan Auk To Dolo yang mencakupi hubungan manusia dengan Sang Pencipta, hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.Tulisan ini bertujuan menambah wawasan tentang kebudayaan Toraja yang selanjutnya dapat meningkatkan pemahaman terhadap salah satu kebudayaan yang ada dan berkembang di Sulawesi Selatan.
Nilai Budaya Masyarakat Suku Sasak yang Tercermin dalam Lelakaq Safoan Abdul Hamid
MABASAN Vol. 3 No. 2 (2009): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.576 KB) | DOI: 10.26499/mab.v3i2.113

Abstract

Masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dikenal kaya akan berbagai karya sastra daerah. Salah satu jenis karya sastra daerah yang berkembang dalam masyarakat suku Sasak ialah lelakaq atau pantun berbahasa Sasak. Lelakaq memiliki fungsi sosial yang cukup signifikan terutama sebagai media untuk menyampaikan pesan dan nilai-nilai etika dan budaya. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai-nilai budaya masyarakat suku Sasak yang tercermin dalam lelakaq yang terkait dengan hakikat hidup, hakikat hubungan manusia dengan sesama, dan hakikat karya.Tulisan ini disusun berdasarkan hasil penelitian lapangan di beberapa lokasi di Pulau Lombok yang diyakini masih berkembangnya lelakaq tersebut. Data kesastraan berupa lelakaq dan informasi terkait nilai budaya yang terkandung di dalamnya dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam. Data yang terkumpulkan kemudian dianalisis menggunakan metode deskrtiptif dan semiotik.Hasil analisis data menunjukkan bahwa sebagai salah satu jenis karya sastra sekaligus foklor yang dimiliki oleh masyarakat suku Sasak, lelakaq berisi berbagai muatan nilai budaya yang mencerminkan nilai budaya masyarakat pendukungnya. Nilai budaya tersebut terdiri atas hakikat hidup, hakikat hubungan manusia dengan sesama, dan hakikat karya. Berbagai mutan nilai budaya tersebut secara implisit dan ekplisit terkandung baik dalam sampiran dan isi lelakaq
Gegar Wacana dalam Komunikasi Lintas Bahasa Daerah Atikah Solihah
MABASAN Vol. 3 No. 2 (2009): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.012 KB) | DOI: 10.26499/mab.v3i2.109

Abstract

Kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi dan transportasi memberikan peluang dan ruang yang lebih besar bagi masyarakat pengguna bahasa daerah yang berbeda di Indonesia untuk saling berinteraksi. Sekalipun keberadaan bahasa Indonesia diakui secara sadar sebagai bahasa persatuan, dalam komunikasi antara pengguna bahasa daerah yang berbeda masih sering muncul ungkapan-ungkapan khas daerah masing-masing. Kemunculannya sering dilakukan secara alami dan spontan sebagai perwujudan dari skemata pengetahuannya yang masih banyak dipengaruhi oleh referensi bahasa daerah. Hal itu sering menimbulkan peristiwa yang aneh dan lucu bagi pendengar yang memahami konteks sebenarnya. Akan tetapi, bagi pelaku yang sedang berkomunikasi, hal itu tidak jarang menimbulkan gegar wacana, yaitu kegagalan membentuk wacana karena pemahaman konteks wacana dan referensi ungkapan yang berbeda dari mitra tutur. Akibatnya, reaksi yang muncul pun berbeda dari yang diharapkan mitra tuturnya. Reaksi itu sering menimbulkan kebingungan atau kemarahan bagi mitra tuturnya.Gegar wacana merupakan peristiwa bahasa yang sangat berkaitan dengan sosial budaya di masyarakat multietnis. Banyak faktor yang memengaruhi munculnya gegar wacana, di antaranya penguasaan yang kurang seimbang antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Gegar wacana dapat berawal dari peristiwa bahasa alih kode, campur kode, atau inferensi yang dilakukan seseorang tanpa kesepakatan dan kesadaran dari mitra tuturnya.Kemunculan peristiwa bahasa berupa gegar wacana dalam masyarakat multietnis dan multibahasa yang memiliki bahasa daerah sebanyak 742 buah seperti di Indonesia (SIL, 2006) peluangnya sangat besar. Bagaimana latar belakang, proses, keunikan, dan pengaruh gegar wacana dalam kehidupan masyarakat dan dalam dunia pendidikan sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut.
Peribahasa yang Menggunakan Kata Ayam Sudartomo Macaryus
MABASAN Vol. 3 No. 2 (2009): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.729 KB) | DOI: 10.26499/mab.v3i2.116

Abstract

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat, peribahasa adalah (1) ‘kelompok kata atau kalimat yg tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu (dulu peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, perumpamaan)’; (2) ‘ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku’ (2008: 1055). KBBI tersebut memuat 2.036 peribahasa. Dalam kamus peribahasa suntingan Heroe Kasida Brataatmadja (1995: 44-48) terdapat 47 peribahasa yang menggunakan kata ayam sedang yang disunting oleh Sarwono Puspasaputro (2003: 24-27) terdapat 49 peribahasa. Gejala tersebut menunjukkan bahwa ayam merupakan salah satu binatang piaraan yang populer di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, pemanfaatan peribahasa tersebut bermanfaat untuk (1) memperkenalkan aneka karakteristik ayam, (2) menginternalisasikan nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya, (3) memperhalus ungkapan, (4) memperkaya gaya ungkap dalam berbahasa, dan (5) sebagai dasar dalam bersikap dan bertindak. Ajakan untuk menolong yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan tertindas sudah disarankan dalam peribahasa (1) Ayam berinduk, sirih berujung. Orang tua yang seharusnya melindungi anaknya tetapi tega terhadap anaknya digambarkan dalam peribahasa (2) Seperti ayam patuk anaknya. Orang yang hidupnya berkelimpahan tampak dalam peribahasa (3) Ayam bertelur di atas padi. Kebiasaan penyamaran untuk mendapatkan keuntungan berupa informasi, materi, atau yang lain diformulasikan dalam peribahasa (4) Seperti musang berbulu ayam. Menghidupi nilai-nilai yang terkandung dalam peribahasa memiliki kemungkinan sebagai dasar pembentukan karakter bangsa. Hal tersebut diperkuat oleh semakin kokohnya bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
Distribusi dan Pemetaan Varian-Varian Bahasa Bajo di Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat NFN Kasman
MABASAN Vol. 3 No. 2 (2009): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.706 KB) | DOI: 10.26499/mab.v3i2.110

Abstract

Penelitian yang berjudul Distribusi dan Pemetaan Varian-Varian Bahasa Bajo di Kabupaten Sumbawa dan  Kabupaten Sumbawa Barat ini ditulis pada tahun 2005. Penelitian ini tergolong ke dalam penelitian dialektologi diakronis.Adapun hal-hal yang ingin dipecahkan dalam penelitian ini antara lain: 1) ada berapakah varian masing-masing isolek Bajo di Samawa; 2) bagaimanakah hubungan kekerabatan antara isolek Bajo yang satu dengan isolek Bajo lainnya; 3) berapakah jumlah penutur dari masing-masing varian isolek Bajo di Samawa; 4) bagaimanakah sebaran geografis isolek Bajo di Samawa.Dengan demikian, Metode Pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara/cakap dengan teknik pancing, teknik catat, dan teknik rekam dengan berpedoman pada instrumen penelitian dialektologi. Dalam rangka penetuan dialek atau subdialek BBj digunakan metode pemahaman timbal balik dan  berkas isoglos. Selain metode berkas isoglos tadi, penentuan dialek-dialek atau subdialek bahasa Bajo digunakan pula metode dialektometri dan metode inovasi bersama yang berupa korespondensi.Setelah beberapa metode dan teknik analisis data diterapkan, Bahasa Bajo Samawa dapat dikelompokan ke dalam dua subdialek, yakni: 1) bahasa Bajo Subdialek Mapin-Bungin (BjSDMBg) dan 2) bahasa Bajo Subdialek Kaung-Bajo-Tano (BBjSDKBjT).
Resistensi Perempuan Multikultural dalam Karya Sastra Indonesia (Kajian Berperspektif Feminis) Syukrina Rahmawati
MABASAN Vol. 3 No. 2 (2009): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.718 KB) | DOI: 10.26499/mab.v3i2.117

Abstract

Bentuk-bentuk resistensi perempuan multikultural di Indonesia mengarah kepada bentuk eksistensi perempuan tersebut dalam mempertahankan jati diri yang dimiliki meskipun terkekang oleh budaya dan tradisi. Berbagai macam cara dilakukan oleh mereka bertujuan hanya ingin mencapai titik kesempurnaan sebagai seorang perempuan yang dihargai kedudukan dan peranannya.
Kesepadanan antara Penggunaan Bahasa Sasak Halus dan Perilaku Sosial Masyarakat Penuturnya Toni Samsul Hidayat
MABASAN Vol. 3 No. 2 (2009): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.78 KB) | DOI: 10.26499/mab.v3i2.119

Abstract

Pulau Lombok sebagai lumbungnya orang Sasak terkenal sebagai salah satu wilayah yang rawan konflik horizontal. Tingkat dan kualitas konflik yang terjadi pada masyarakat Sasak, khususnya pada tiga daerah pengamatan dalam penelitian ini ditentukan oleh tingkat pemasyarakatan bahasa Sasak Halus. Lingkungan Kr. Genteng dan Dusun Tanak Song sebagai dua daerah yang sering berkonflik dan tiap konflik melibatkan banyak orang serta mengatasnamakan dusun terbukti tidak banyak mengenal, bahkan tidak memasyarakat bahasa Sasak Halus. Adapun Kediri sebagai sampel daerah yang tidak pernah berkonflik membuktikan bahwa pada daerah ini penggunaan dan pemasyarakatan bahasa Sasak halus masih tinggi.

Page 1 of 1 | Total Record : 9