cover
Contact Name
Langgeng Prima Anggradinata
Contact Email
langgeng@unpak.ac.id
Phone
+62251-8338650
Journal Mail Official
jurnalsalaka@unpak.ac.id
Editorial Address
Jalan Pakuan No. 1, Tegallega, Kota Bogor
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia
Published by Universitas Pakuan
ISSN : -     EISSN : 2684821X     DOI : https://doi.org/10.33751/jurnal%20salaka
Jurnal Salaka: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia adalah jurnal bahasa, sastra, dan budaya Indonesia yang memuat makalah, gagasan ilmiah, dan hasil penelitian bahasa, sastra, dan budaya dalam bentuk artikel ilmiah dari para peneliti, akademisi, seniman, budayawan, dan mahasiswa. Jurnal Salaka: Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia menerbitkan hasil penelitian dengan berbagai metode, baik kualitatif maupun kuantitatif, dan berbagai pendekatan dan teori bahasa, sastra, dan budaya dan berfokus pada kajian bahasa, sastra, dan budaya.
Articles 84 Documents
VALUES OF STRUGGLE IN THE NOVEL SISI TERGELAP SURGA BY BRIAN KHRISNA Setiawan, Jodi Ari
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jsalaka.v7i1.11974

Abstract

This study was conducted to describe the values of struggle contained in Brian Khrisna's novel Sisi Tergelap Surga (The Darkest Side of Heaven). The research method used in this study is a qualitative descriptive method. The data in this study consists of quotations in the form of words, phrases, or sentences that contain values of struggle. The source of data for this study is the novel Sisi Tergelap Surga by Brian Khrisna. The data collection techniques used are reading and note-taking techniques. The data validity technique used in this study is theoretical triangulation. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study on the novel Sisi Tergelap Surga reveal the value of self-sacrifice, as demonstrated by the characters Gofar, Sobirin, Juleha, and Rini. The value of mutual respect is shown by the characters Danang, Esih, Tomi, and Juleha. The value of unity is demonstrated by the characters Pulung, Karyo, the silver-painted boy, Kuncahyo, and the frame maker. The value of cooperation is shown by the characters Tomi, the three teenagers, Danang, and Mr. Syamsuar.
DEMYSTIFICATION OF BOGOR AS A CITY WITHOUT WORRIES Permana, Tenu; Yudhistira, Reza; Trisari, Agatha; Riandi, Muhammad Fadhilah
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jsalaka.v7i1.12625

Abstract

This study analyzes the history and sociocultural background that gave rise to the mystification of Bogor (Buitenzorg) as a city without worry, and then demystifies and deconstructs it. This research aims to deconstruct the mystification of Bogor as a city without fear by examining the history of collective action that led to resistance in the Bogor area. This study also describes the sociological factors and changes in natural conditions that have changed from the colonial period to the present day. This research employs a qualitative descriptive approach and draws on deconstruction theory to reconstruct the history that shapes the identity of the Bogoran. The results of this study show that Bogor, which is famous for being a city without worry, is a result of colonial power conditions. That inherent and maintained identity is the result of knowledge imposed by power. The deconstruction carried out in this study ultimately led to the dismantling of meaning, revealing that Bogor had a more complex history than just being a resting place. There is also a stage for various forms of collective action of resistance from the colonial era, independence, to post-independence.  
PANTANGAN SABTU PAHING SEBAGAI BUKTI PENGHORMATAN KEPADA LELUHUR YANG DIPERCAYA MASYARAKAT KARASIDENAN BANYUMAS Aulia1, Mei Diana; Ryolita, Widya Putri
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Vol 5, No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jsalaka.v5i2.11871

Abstract

Sabtu Pahing adalah hari Sabtu yang bertepatan dengan pasaran Jawa Pahing. Dalam kalender Jawa, terdapat lima pasaran, yaitu Wage, Kliwon, Legi/Manis, Pahing, dan Pon. Bagi masyarakat Karesidenan Banyumas, Sabtu Pahing merupakan hari yang dianggap pantang untuk melakukan perjalanan. Hal ini berkaitan dengan peristiwa wafatnya Adipati Warga Utama I, Adipati Wirasaba, yang dibunuh oleh prajurit utusan Sultan Hadiwijaya dari Kraton Pajang. Larangan bepergian pada Sabtu Pahing menjadi bentuk penghormatan terhadap leluhur, khususnya Adipati Warga Utama I. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, hari kematian leluhur merupakan hari sakral yang harus dihindari untuk melakukan hajat besar, seperti pernikahan, khitanan, bepergian, atau mendirikan rumah. Makna tersirat dari pantangan ini adalah sebagai pengingat akan kematian, perenungan terhadap Tuhan, dan wujud penghormatan terhadap leluhur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah Pantangan Sabtu Pahing yang ada di Karesidenan Banyumas serta berbagai larangan yang berlaku pada hari tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data dari berbagai jurnal dan artikel. Hasil penelitian ini mendeskripsikan sejarah pantangan Sabtu Pahing dan manfaat energi dari hari Sabtu Pahing bagi masyarakat Banyumas. Selain itu, dalam penelitian ini juga menunjukkan hubungan Sabtu Pahing dengan kearifan lokal.  
KOMPONEN MAKNA KATA PADA KATA SAPAAN BAHASA MELAYU DESA SEMBUBUK KABUPATEN MUARO JAMBI Maharani GM, Putri; Kusmana, Ade
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Vol 5, No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jsalaka.v5i2.11872

Abstract

Bahasa menjadi peranan penting untuk dapat berkomunikasi antarsesama, terlebih dalam memahami makna kata dalam suatu percakapan, salah satunya adalah bahasa Melayu. Bahasa Melayu memiliki perbandingan makna kata dengan bahasa Indonesia, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja komponen makna pada kata sapaan bahasa Melayu, terutama di Desa Sembubuk yang menggunakan perbandingan makna kata pada bahasa Indonesia. Kajian tentang makna tersebut terdapat dalam ilmu linguistik, yaitu semantik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Peneliti menganalisis deskripsi apa adanya secara fakta dan nyata. Hasil penelitian ini menunjukkan data-data berupa kata sapaan bahasa Melayu Desa Sembubuk kabupaten Muaro Jambi yang telah di bagi antara bahasa Desa Sembubuk dan bahasa Indonesia. Komponen makna pada kata sapaan Bahasa Melayu Jambi Desa Sembubuk pada situasi ataupun kondisi penggunaan kata akan mempengaruhi makna yang timbul. Hal ini terjadi akibat dari ciri dasar yang dimiliki oleh unsur internal bahasa. Selain dapat memiliki hubungan yang erat dengan kata lainnya, makna kata juga bisa tumpang tindih. Akibat adanya proses gramatikal. Dengan begitu, setiap daerah pasti memiliki makna kata tersendiri yang dapat diartikan berbeda-beda bagi setiap daerah.