cover
Contact Name
dentin
Contact Email
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentin
ISSN : 26140098     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Dentin [e-issn: 2614-0098] merupakan terbitan berkala ilmiah tugas akhir berbahasa Indonesia berisi artikel penelitian dan kajian literatur tentang kedokteran gigi. Kontributor Dentin adalah kalangan akademisi (dosen dan mahasiswa). Dikelola oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat dan terbit 3 (tiga) kali setahun setiap April, Agustus dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2017)" : 21 Documents clear
PERBANDINGAN EFEKTIFITAS JUS BUAH APEL (Malus Syvestris Mill) SEBAGAI PEMUTIH GIGI ALAMI EKSTERNAL BERDASARKAN VARIETAS Nor Azizatur Rosidah; Isyana Erlita; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACK  Background: Teeth discoloration is a vital aesthetic factor. Discoloration can be prevented by the usage of teeth whitening agents. A known natural teeth whitening agent are apples (Malus sylvestris Mill) which contains maleic acid, a compound with the capabilty of teeth whitening. High quality varieties of apples are widely cultivated at Kota Batu- East Java such as Anna, Romebeauty, and Manalagi. Purpose: This study is aimed to analyze teeth whitening using apple juice from different varieties. Methods: This study is a true experimental study with a pre and post test only with control group design on 32 upper jaw permanent incisor samples divided into 4 treatment groups: soaking in 75% Anna apple juice, 75% Rome beauty apple juice, 75% Manalagi apple juice, and the negative control group with aquadest for 6 hours/day and saline solution for 18 hours/day in an incubator. Treatment were carried on and repeated for 14 days. Discoloration is observed using Vitapan Classical Original shade guide. Results: One Way ANOVA test revealed a (p=0.000) with a p<0.05, proving a significant difference of teeth color between groups. Pos Hoc Benferoni test revealed a significant difference between 75% Anna apple juice and 75% Rome beauty apple juice with the  75% Manalagi apple juice  and aquadest groups. No difference between the 75% Anna apple juice and the 75% Rome beauty apple juice and between the 75% Manalagi and the negative control group with aquadest. The significant color change on Anna and Romebeauty because the maleic acid is higher than Manalagi. Conclusion: The concluded there is a difference of effictiveness teeth whithening between apple varieties Anna, Romebeauty and Manalagi Key words : Apple, Maleic Acid, Teeth Discoloration, Teeth Whitening.  ABSTRAK  Pendahuluan: Warna gigi merupakan salah satu faktor estetika penting pada seseorang. Perubahan warna pada gigi dapat diatasi dengan cara pemutihan gigi. Salah satu bahan alami yang dapat memutihkan gigi yaitu buah apel (Malus sylvestris Mill) yang mengandung asam malat, yaitu zat yang dapat memutihkan warna gigi. Varietas buah apel unggulan yang dibudidayakan di Kota Batu- Jawa Timur yaitu varietas Anna, Romebeauty, dan Manalagi.  Tujuan: Untuk menganalisis perbandingan pemutihan gigi dengan jus buah apel berdasarkan varietas. Metode: Yang digunakan adalah true eksperimental dengan rancangan pre and post test only with control group design dengan 32 sampel gigi permanen insisivus RA terdiri dari 4 perlakuan yaitu perendaman jus buah apel varietas Anna 75%, varietas Rome beauty 75%, varietas manalagi 75%, dan kontrol negatif aquadest selama 6 jam/hr dan larutan salin selama 18 jam/hr didalam inkubator dan dilakukan pengulangan sampai 14hari. Perubahan warna diamati menggunakan Vitapan Classical Original shade guide. Hasil: Uji One Way ANOVA p=0.000 (p<0.05), maka ada perbedaan tingkat perubahan warna gigi antar kelompok perlakuan. Uji lanjut Pos-Hoc Bonferoni menunjukkan ada perbedaan bermakna antara jus buah apel varietas Anna 75% dan varietas Romebeauty 75% dengan jus buah apel varietas Manalagi 75% dan kontrol aquadest. Tidak ada beda antara jus buah apel varietas Anna 75% dengan varietas Romebeauty 75% dan jus buah varietas Manalagi dengan kontrol aquadest. Peningkatan perubahan warna gigi tertinggi terdapat pada varietas Anna dan Romebeauty karena kandungan asam malat yang lebih tinggi dibandingkan varietas Manalagi. Kesimpulan: Terdapat perbedaan bermakna efektifitas pemutihan gigi antara buah apel varietas Anna, Romebeauty dan Manalagi.  Kata kunci : Apel, Asam Malat, Perubahan Warna Gigi, Pemutihan Gigi.
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT SOSIAL EKONOMI ORANG TUA DENGAN INDEKS KARIES GIGI PELAJAR SMPN DI KECAMATAN BANJARMASIN SELATAN. Tinjauan SMP Negeri 11 Banjarmasin Fatmasari, Meilita; Widodo, Widodo; Adhani, Rosihan
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Oral diseases are one of the top ten diseases in Indonesia that is frequently being complained by people. The 2013 National Basic Health Survey (RISKESDAS) states that the prevalence of active caries in Indonesia is 43.4%. Banjarmasin has 38.2% of population who have issues with oral health, and 28.6% out of it is 12-15 year-olds. The socioeconomic status can affect knowledge, lifestyle and access to health services. Someone who is at low socioeconomic level will experience a poor health status, including the oral health which makes it more vulnerable to caries because the lack of nutrition and the lack of knowledge in regard to oral health. Purpose: Identify relation between the socioeconomic status of parents with caries index of students from SMPN 11 Banjarmasin. Methods: This research uses the analytical method with cross sectional approach. The samples of this research are 256 students of SMPN 11 Banjarmasin. Results: The result of Spearman test shows p= 0.001 (p<0.05) which validates the meaningful relation between the socioeconomic status of parents with caries index of students, wherein caries index of students with a low socioeconomic level of parents have a higher caries index than the students with a high socioeconomic level. Conclusion: meaningful relation between the socioeconomic status of parents with caries index students of SMPN 11 Banjarmasin.  Key words: caries index, socioeconomic, caries.  ABSTRAK Latar Belakang: Penyakit gigi dan mulut berada pada urutan 10 besar dari daftar penyakit yang paling sering dikeluhkan oleh masyarakat Indonesia. Masalah utama dalam kesehatan gigi dan mulut adalah karies gigi. Riset Kesehatan Dasar Nasional 2013 menyatakan prevalensi karies aktif di Indonesia adalah 43,4%. Kota Banjarmasin memiliki prevalensi penduduk yang bermasalah dalam kesehatan gigi dan mulut sebanyak 38,2% dan pada usia 12-15 tahun sebanyak 28,6%. Seseorang yang berada pada tingkat sosial ekonomi rendah akan mengalami status kesehatan yang buruk termasuk kesehatan gigi dan mulut sehingga lebih beresiko mengalami karies dikarenakan kurangnya asupan nutrisi serta kurangnya tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut. Tujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat sosial ekonomi orang tua dengan  indeks karies gigi pelajar SMPN 11 Banjarmasin. Metode: Penelitian menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 256 pelajar SMPN 11 Banjarmasin. Hasil: Hasil uji Spearman menunjukkan nilai p= 0,001 (p<0,05) sehingga menunjukkan  adanya hubungan yang bermakna antara tingkat sosial ekonomi orang tua pelajar dengan indeks karies gigi pelajar dimana indeks karies gigi pelajar dengan tingkat sosial ekonomi orang tua rendah memiliki indeks karies lebih tinggi dibandingkan pelajar dengan tingkat sosial ekonomi yang tinggi. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat sosial ekonomi orang tua pelajar dengan indeks karies gigi pelajar SMP Negeri 11 Banjarmasin.  Kata-kata kunci: Indeks Karies, Sosial Ekonomi, Karies
PERBANDINGAN NILAI KEKASARAN PERMUKAAN RESIN KOMPOSIT TIPE BULK-FILL DENGAN UJI THERMOCYCLING Grina Adila Milawati; Dewi Puspitasari; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Composite resin is the tooth-colored restorative material that much in demand by most of people due to their aesthetic value. Bulk-fill composite resin is claiming that can be light-cured in up to 4 mm thickness at once and minimize the clinical application time. Thermocycling test are considered relevant conditions to simulate conditions in the oral cavity to test the durability of composite resin by extreme temperature fluctuations from 5°C to 55ºC, so it can degrade composite resin and increase the value of surface roughness. Purpose: This study is aimed to determine differences of the surface roughness value of bulk-fill composite resin performed by thermocycling test 1500 and 3000 cycles. Methods: This study was true experimental laboratory post test-only with control group design. This study used 27 bulk-fill composite resin samples were divided into 3 groups, which are control group didn’t tested thermocycling, treatment group B were tested thermocycling 1500 cycles and treatment group C were tested thermocycling 3000 cycles. Surface roughness was measured by Surface Roughness Tester. Results: Average the surface roughness values of bulkfill composite resin in control group 0,076±0,01 µm, group B 0,112±0,012 µm, and group C 0,128±0,014 µm. The data were tested using One Way ANOVA parametric analysis and obtained p=0.000 (p <0.05), which means that there are significant differences of the control group and the treatment group. Conclusion: There were differences in surface roughness values of bulk-fill composite resin between control group and treatment group. Keywords: composite resin, surface roughness, thermocycling  ABSTRAK Latar Belakang: Resin komposit merupakan bahan restorasi sewarna gigi karena memiliki nilai estetik yang baik. Penggunaan resin komposit tipe bulk-fill dapat menghemat waktu prosedur restorasi, karena dapat dilakukan proses curing sampai kedalaman 4 mm. Uji thermocycling merupakan kondisi yang relevan untuk mensimulasikan kondisi di dalam rongga mulut untuk menguji daya tahan resin komposit dengan memanfaatkan fluktuasi suhu yang ekstrem yaitu dari 5ºC ke 55ºC, sehingga dapat mendegradasi resin komposit dan menyebabkan peningkatan nilai kekasaran permukaan. Tujuan: Mengetahui perbandingan nilai kekasaran permukaan resin komposit tipe bulk-fill yang dilakukan uji thermocycling dengan siklus 1500 dan 3000 putaran. Metode: Jenis penelitian adalah eksperimental murni dengan rancangan post test-only with control group design. Penelitian ini menggunakan 27 sampel resin komposit tipe bulk-fill yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol yang tidak dilakukan uji thermocycling, kelompok B yang dilakukan uji thermocycling dengan siklus 1500 putaran dan kelompok C yang dilakukan uji thermocycling dengan siklus 3000 putaran. Kekasaran permukaan diukur dengan menggunakan alat Surface Roughness Tester. Hasil: Nilai rata-rata kekasaran permukaan resin komposit kelompok kontrol 0,076±0,01 µm, kelompok B 0,112±0,012 µm dan kelompok C 0,128±0,014 µm. Data diuji menggunakan analisis parametric One Way ANOVA dan didapatkan p=0,000 (p<0,05) yang berarti terdapat perbedaan bermakna pada kelompok kontrol dan kedua kelompok perlakuan. Kesimpulan: Terdapat perbandingan nilai kekasaran permukaan resin komposit tipe bulk-fill dengan uji thermocycling 1500 dan 3000 putaran. Kata-kata kunci: resin komposit, kekasaran permukaan, thermocyling.  
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN MENYIKAT GIGI DENGAN INDEKS GINGIVA SISWA MADRASAH TSANAWIYAH. Tinjauan Terhadap Siswa MTs di Kabupaten Barito Kuala Dana Chitra Maida; Widodo Widodo; Rosihan Adhani
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Low of knowledge about health can be a predisposing factor for the onset of a disease. The knowledge about health is very important, because knowledge as a cognitive domain will influence health attitudes and behavior of a person, especially preventive and healing of a disease as well as effect on health status. Epidemiological studies said that the oral hygiene and gingival health status of each severe are generally found in children and adolescents. Purpose: This study aims to find out the correlation of teeth brushing knowledge level with gingival index on Madrasah Tsanawiyah students in Barito Kuala. Methods: This research method is quantitative analytic using Cross Sectional approach at 100 students of Madrasah Tsanawiyah in Barito Kuala. Questionnaire instrument was used to measure students’ knowledge level of teeth brushing and gingival index to students’ gingival conditions. Results: The results is teeth brushing knowledge Madrasah Tsanawiyah students in Barito Kuala have a good category with ≥75% of knowledge score. Gingival index Madrasah Tsanawiyah Students in Barito Kuala on a score of 0.1-1.0 or have a gingival status sustained a mild inflammation. Conclusion: There is a meaningful connection between the knowledge of brushing teeth with gingival index of Madrasah Tsanawiyah students in Barito Kuala p=0.001 or (p<0.05). Keywords: Teeth brushing knowledge level, gingival index, behavior  ABSTRAKLatar Belakang: Rendahnya pengetahuan seseorang mengenai kesehatan dapat menjadi faktor predisposisi timbulnya suatu penyakit. Pengetahuan mengenai kesehatan merupakan hal yang sangat penting, karena pengetahuan sebagai domain kognitif akan mempengaruhi sikap dan perilaku kesehatan seseorang khususnya tindakan pencegahan dan penyembuhan terhadap penyakit serta berpengaruh terhadap status kesehatan. Studi epidemiologi menyebutkan bahwa kebersihan rongga mulut dan status kesehatan gingiva dari tiap tingkat keparahan pada umumnya didapatkan pada anak-anak dan remaja. Tujuan: Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan menyikat gigi dengan indeks gingiva siswa Madrasah Tsanawiyah di Kabupaten Barito Kuala. Metode: Penelitian yaitu kuantitatif analitik dengan pendekatan Cross Sectional pada 100 siswa Madrasah Tsanawiyah di Kabupaten Barito Kuala. Instrumen kuisioner digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan menyikat gigi siswa dan indeks gingiva untuk mengukur kondisi gingiva siswa. Hasil: Penelitian didapatkan pengetahuan menyikat gigi siswa Madrasah Tsanawiyah di Kabupaten Barito Kuala berada pada kategori baik dengan skor pengetahuan ≥75%. Indeks gingiva siswa Madrasah Tsanawiyah di Kabupaten Barito Kuala berada pada skor 0,1-1,0 atau status gingiva mengalami peradangan ringan. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan menyikat gigi dengan indeks gingiva siswa Madrasah Tsanawiyah di Kabupaten Barito Kuala p=0,001 atau (p<0,05).  Kata Kunci: Tingkat pengetahuan menyikat gigi, indeks gingiva, perilaku
PERBANDINGAN SKOR INDEKS PLAK SEBELUM DAN SESUDAH BERKUMUR DENGAN AIR REBUSAN DAUN SIRIH (Piper betle L) PADA IBU HAMIL. Tinjauan Pada Ibu Hamil di Puskesmas Sungai Jingah Kota Banjarmasin Siti Fatimah; Widodo Widodo; Rosihan Adhani
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: The most common disease of oral health that is experienced by Indonesians, including pregnant women, is caries and periodontal disease. The effect of hormonal changes on expectant mothers can affect oral health. Caries and periodontal disease are caused by the interaction between bacteria and plaque. Plaque can be controlled mechanically and chemically with mouthwash. A lot of mouthwashes made of herbs that have antibacterial efficacy with minimum side effects have been largely produced lately, one example is mouthwash made of betel leaves. Chemical component in a betel leaf is antiseptic because it contains essential oil. Purpose The objective of this research is to identify the differences of plaque index score of pregnant women before and after they gargle with stewed water of betel’s leaves in Sungai Jingah Health Center, Banjarmasin. Methods: This research is quasi experimental of cross-sectional with pre-posttest with control group design. The subject of this research consists of 70 pregnant women, in which 35 are included into treatment group and the other 35 are included into control group. Results: The result of the research shows a decrease in average of treatment group (the first average is 3.5 and the inal average is 2.0). The result of paired-sample T test gets significance (p)=0.001 shows a meaningful difference. Conclusion: Based on the research that has been conducted, it can be concluded that there is a difference of plaque index score before and after they gargle with stewed water of betel’s leaves. Keywords: Index plaque, stewed water of betel’s leaves, pregnant women.  ABSTRAKLatar Belakang: Penyakit gigi dan mulut yang paling banyak dialami penduduk Indonesia, termasuk ibu hamil adalah karies dan penyakit periodontal. Perubahan hormon pada ibu hamil dapat mengganggu keseimbangan komposisi mikroba didalam rongga mulut yang berpengaruh terhadap pembentukan plak. Karies dan penyakit periodontal disebabkan adanya interaksi antara bakteri dalam plak dengan jaringan rongga mulut. Plak dapat dikontrol secara mekanik dan kimiawi menggunakan obat kumur. Saat ini banyak dikembangkan obat kumur dengan bahan tanaman obat yang mempunyai khasiat antibakteri dengan efek samping yang minimal, yaitu obat kumur dari tumbuhan herbal seperti daun sirih. Daun sirih hijau bersifat antiseptik karena mengandung minyak atsiri. Tujuan: Mengetahui perbandingan skor indeks plak sebelum dan sesudah berkumur dengan air rebusan daun sirih pada ibu hamil di Puskesmas Sungai Jingah Banjarmasin. Metode: Quasi experimental secara cross-sectional dengan rancangan pre-posttest with control group design. Subjek penelitian terdiri dari 70 ibu hamil, yaitu 35 kelompok perlakuan dan 35 kelompok kontrol.Hasil:Hasil penelitian menunjukkan penurunan rerata pada kelompok perlakuan (rerata awal 3,5 dan rerata akhir 2,0. Hasil uji T berpasangan didapatkan signifikansi(p)=0,001 menunjukkan perbedaan bermakna.Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan skor indeks plak sebelum dan sesudah berkumur dengan air rebusan daun sirih pada ibu hamil.  Kata-kata kunci: Indeks plak, air rebusan daun sirih, ibu hamil
PENERAPAN MANDIBULAR CANINE INDEX METODE RAO DALAM PENENTUAN JENIS KELAMIN PADA SUKU DAYAK BUKIT. Analisa Tingkat Akurasi Elizabeth Rizky Setyorini; Irnamanda D.H; Iwan Aflanie
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Sex identification using dental on individual can be conducted by using morphometric characteristics which can be done by using Canine Index. Mandibular Canine Index value of every population is different, so that it should be done on Dayak Bukit tribe. Purpose: To find out that Mandibular Canine Index of Rao method can be applied to determine Dayak Bukit tribe’s sex. Method: Analytic observational study with cross sectional design, using study model of 70 samples of Dayak Bukit tribe which consist of 35 men and 35 women who then got the measurement of mesiodistal width of right mandibular canine and the distance between mandibular canines. Result: The mean size of  the mesiodistal width of mandibular canines in males is 7.127 mm, and 6.589 mm in women. The mean size of the distance between the mandibular canines is 27.595 mm in men and 26.127 in women. The mean size of Mandibular Canine Index in Dayak Bukit tribe is 0,260 mm in men and 0,253 mm in women. The standard  value of Mandibular Canine Index in Dayak Bukit tribe is 0,253 mm. The percentage of sex determination conformity is 91.4%. Result of the study were analysed using Chi Square test with p>0,05 indicates no significant differences sex based on Mandibular Canine Index and sex based on personal data. Conclusion: Based on this research, it can be concluded that the Mandibular Canine Indexof Rao method can be applied to determine Dayak Bukit tribe’s sex. Key words: Mandibular Canine Index, Sex Determination  ABSTRAKLatar Belakang: Identifikasi jenis kelamin menggunakan gigi pada individu salah satunya dilakukan dengan menggunakan metode karakteristik morfometrik  yang dilakukan dengan menggunakan Canine Index. Nilai Mandibular Canine Index setiap populasi berbeda, sehingga perlu dilakukan pada Suku Dayak Bukit. Tujuan: Untuk mengetahui bahwa Mandibular Canine Index  metode Rao dapat diterapkan untuk menentukan jenis kelamin Suku Dayak Bukit. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional, menggunakan model studi 70 sampel Suku Dayak Bukit yang terdiri dari 35 laki-laki dan 35 perempuan yang kemudian dilakukan pengukuran lebar mesiodistal gigi kaninus mandibula kanan dan jarak antar gigi kaninus mandibula. Hasil: Penelitian menunjukkan rerata ukuran lebar mesiodistal gigi kaninus mandibula pada lakilaki adalah 7,127 mm, dan pada perempuan adalah 6,589 mm. Rerata ukuran jarak antar gigi kaninus mandibula adalah 27,595 mm pada laki-laki dan 26,127 pada perempuan. Rerata ukuran Mandibular Canine Index Suku Dayak Bukit adalah 0,260 mm pada laki-laki dan 0,253 mm pada perempuan. Nilai Standard Mandibular Canine Index Suku Dayak Bukit adalah 0,253 mm. Persentase kesesuaian penentuan jenis kelamin pada populasi Suku Dayak Bukit sebesar 91,4%. Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji Chi Square dengan nilai p=1,00 (p>0,05) menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna penentuan jenis kelamin berdasarkan Mandibular Canine Index dan jenis kelamin berdasarkan data diri. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Mandibular Canine Index metode Rao dapat diterapkan untuk penentuan jenis kelamin Suku Dayak Bukit.  Kata-kata kunci: Mandibular Canine Index, penentuan jenis kelamin
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN BINJAI (Mangifera caesia) TERHADAP MORTALITAS LARVA Artemia salina Leach Syahdana, Nayeta Levi; Taufiqurrahman, Irham; Wydiamala, Erida
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: Binjai leaves (Mangifera caesia) is a plants of the Anacardiaceae family that contains several active compounds which potentialy as anticancer. Purpose: The objective of this research is to determine the effectiveness of the ethanol extraction of Binjai leaves (EEBL) to the mortality of Artemia salina Leach larvae with Brine Shrimp Lethality Test methods (BSLT).  Method: a true experimental research using Post-test Only with Control Group Design, consists of 8 treatment groups were obtained from preliminary test, with four times replication and Ten larvae were used in each group. Each group was consecutively given 156.25, 312.5, 6250, 1250, 2500, 5000, and 10,000 (mg / L) and 1 negative control (0 mg / L or artificial sea water).  Result: The result probit analysis indicated that LC50 value of leaves extraction of Binjai was 489.059 mg / L. KruskalWallis test obtained by value p = 0.000, EEBL had effect on mortality of Artemia salina Leach  larvae. ManWhitney test results obtained by value p = 0.019, there was a significant difference between the negative control with all treatment groups. Conclusion: It can be concluded that EEBL has efficacy against the mortality of Artemia salina Leach  larvae with Brine Shrimp Lethality Test methods (BSLT).Keywords: Effectiveness, Mangifera caesia, Binjai, Artemia salina Leach, BSLT, LC50.  ABSTRAKLatar Belakang: Daun binjai (Mangifera caesia) merupakan salah satu tumbuhan dari famili Anacardiaceae yang mengandung beberapa senyawa aktif sehingga memiliki potensi sebagai antikanker Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol daun binjai (EEDB) terhadap mortalitas larva Artemia salina Leach dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Metode: Penelitian bersifat eksperimental murni dengan metode Posttest Only with Control Group Design, terdiri dari 8 kelompok perlakuan yang diperoleh dari uji pendahuluan, dengan empat replikasi dan tiap konsentrasi berisi 10 ekor larva. Delapan kelompok terdiri dari 7 kelompok perlakuan, yaitu 156,25 , 312,5 , 6250 , 1250 , 2500 , 5000, dan 10.000 (mg/L) serta 1 kontrol negatif (0 mg/L atau air laut buatan). Hasil: Hasil uji probit didapatkan nilai LC50 sebesar 489,059 mg/L. Uji Kruskal-Wallis diperoleh nilai p=0,000, terdapat pengaruh EDB terhadap mortalitas larva Artemia salina Leach. Hasil uji Man-Whitney diperoleh nilai p=0,019, ada terdapat perbedaan signifikan antara kontrol negatif dengan semua kelompok perlakuan. Kesimpulan: Ekstrak etanol daun binjai mempunyai efektivitas terhadap mortalitas larva Artemia salina Leach dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Kata-kata kunci: Uji efektivitas, Mangifera caesia, Binjai, Artemia salina Leach,  BSLT, LC50
PERBANDINGAN SUHU 37OC DAN 45OC TERHADAP DAYA LENTING KAWAT ORTODONTI STAINLESS STEEL Nelma Yulita; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Diana Wibowo
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Resilience is the ability of a wire that returned to the intial position when it is moved or deflected in a certain direction. Orthodontic stainless steel wire resilience is affected by several factors, one of them is the temperature. The change of oral temperature significantly while eating or drinking at high temperature, will affect the change of orthodontic stainless steel wire resilience. Purpose: To analyze comparison temperature by 37oC and 45oC to orthodontic stainless steel wire resilience. Method: The method of research is true eksperimental with post-test only with control group design. The subjects of this research consist of two groups, control group and treatment group. Control group is at 37°C and treatment group is at 45°C. Each group consists of five samples of stainless steel wire that are immersed in the water for a minute and then get a deflection by 2 mm. Result: This research shows the average amount of power required by the stainless steel wire, which is done in the control group is 64.6 gram/mm, while the average amount of power required by the stainless steel wire, which is done in the treatment group is 70.6 gram/mm. Based on the Mann Whitney test, it can be known that p value is 0,006 (p<0,05) so that the data show that there is a significant difference between temperature 37oC and 45oC to orthodontic stainless steel wire resilience. Conclusion: There is comparison temperature to the orthodontic stainless steel wire resilience  by immersion  at 37°C greater than the resilience of the wire by immersion at 45oC.  Keywords: resilience, orthodontic stainless steel wire resilience  ABSTRAKLatar belakang: Daya lenting adalah kemampuan suatu kawat dapat kembali ke posisi semula  apabila digerakkan atau didefleksikan ke arah tertentu. Daya lenting kawat ortodonti stainless steel dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah suhu. Perubahan temperatur mulut secara signifikan saat makan maupun minum terutama pada suhu panas mempengaruhi perubahan daya lenting kawat ortodonti stainless steel. Tujuan: Untuk menganalisis perbandingan suhu 37oC dan suhu 45oC terhadap daya lenting kawat ortodonti stainless steel. Metode: Penelitian menggunakan true eksperimental dengan post-test only with control group design. Subjek penelitian ini terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kelompok kontrol pada suhu 37oC dan kelompok perlakuan pada suhu 45oC. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 sampel kawat stainless steel yang direndam dalam air selama 1 menit dan kemudian diberi defleksi sebesar 2 mm. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa rerata besarnya daya yang diperlukan kawat stainless steel yang dilakukan pada kelompok kontrol yaitu 64,6 gram/mm, sedangkan rerata besarnya daya yang diperlukan kawat stainless steel yang dilakukan pada kelompok perlakuan yaitu 70,6 gram/mm. Berdasarkan hasil uji mann whitney diketahui nilai p sebesar 0,006 (p<0,05) sehingga data tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara suhu 37oC dan suhu 45oC terhadap daya lenting kawat ortodonti stainless steel. Kesimpulan: Terdapat perbandingan suhu terhadap daya lenting kawat ortodonti berbahan dasar stainless steel dengan perendaman suhu 37oC lebih besar dibandingkan daya lenting kawat dengan perendaman suhu 45oC.  Kata-kata kunci: daya lenting, kawat ortodonti stainless steel
PERBEDAAN TOTAL FLAVONOID ANTARA METODE MASERASI DENGAN SOKLETASI PADA EKSTRAK DAUN BINJAI (Mangifera caesia) (Studi pendahuluan terhadap proses pembuatan sediaan obat penyembuhan luka) Johay Maulida Rosita; Irham Taufiqurrahman; Edyson Edyson
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Binjai is a plant that contains secondary metabolites such as flavonoids. Flavonoids have antioxidant effects that help in the healing process of wound. The isolation of flavonoid compound is influenced by many factors, one of which is the extraction method. The decision of the extraction method that can optimally extract flavonoids is significant to do. Purpose: To analyze the extraction method that can optimally entice the level of flavonoids in Binjai leaf extracts. Methods: True experimental research with posttest-only with control group design, using simple random sampling technique, consisting of 4 treatment groups which are the maceration of 95% ethanol, the soxhlet extraction of  95% ethanol, and the control group which are the maceration of 95% n-hexane, the soxhlet extraction of 95% n-hexane. The level of total flavonoids is calculated with UV-Vis Spectrophotometry. Results: The average total flavonoids are the soxhlet extraction of 77.41 µg/mg ethanol, the maceration of 30.298 µg/mg ethanol, the soxhlet extraction of 168.129 µg/mg n-hexane, and the maceration of 104.8 µg/mg n-hexane. The T-test shows differences between each group. Conclusion: The extraction method that can optimally extract the flavonoids in Binjai leaf is the soxhlet extraction method.  Key words: binjai, total flavonoids, maceration, soxhletation  ABSTRAKLatar Belakang: Binjai merupakan tanaman yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid. Flavonoid memiliki efek antioksidan yang membantu dalam proses penyembuhan luka. Isolasi senyawa flavonoid dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah metode ekstraksi. Penentuan metode ekstraksi yang dapat mengekstraksi flavonoid secara optimal penting untuk dilakukan. Tujuan: Untuk menganalisis metode ekstraksi yang dapat menarik kadar flavonoid dalam ekstrak daun binjai secara optimal. Metode: Penelitian eksperimental murni dengan posttest-only with control group design, menggunakan teknik simple random sampling, terdiri dari 4 kelompok perlakuan, yaitu maserasi etanol 95%, sokletasi etanol 95% dan kelompok control yaitu maserasi n-heksana 95%, sokletasi n-heksana 95%. Kadar total flavonoid dihitung menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Hasil: Rata-rata total flavonoid yaitu sokletasi etanol 77,41 µg/mg, maserasi etanol 30,298 µg/mg, sokletasi n-heksana 168,129 µg/mg dan maserasi n-heksana 104,8 µg/mg. Uji ttest menunjukkan ada perbedaan antar tiap kelompok. Kesimpulan: Metode ekstraksi yang dapat mengekstraksi flavonoid dalam daun binjai secara optimal adalah metode sokletasi.  Kata-kata kunci: binjai, total flavonoid, maserasi, sokletasi
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS JUS BUAH NANAS (Ananas Comosus) DENGAN JUS BUAH STROBERI (Fragaria xannanassea) SEBAGAI BAHAN ALAMI PEMUTIH GIGI EKSTERNAL Kevinda Januarizqi; Isyana Erlita; Sherli Diana
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Facial aesthetics can be influenced by several factors, one of them is teeth color. Teeth discoloration can be treated with teeth whitening using natural ingredient. The natural ingredient that can be used to whiten teeth are pineapple (Ananas Comosus) that contains bromelain, and strawberry (Fragaria x ananassea) that contains ellagic acid. Purpose: To determine the comparison of effectiveness between pineapple juice (Ananas Comosus) and strawberry juice (Fragaria x ananassea) as the natural ingredient for external teeth whitening. Methods: Is quasi experimental, using pre post-test only with control group design, with 30 samples of maxillary incisor post extraction consist of 3 groups; group 1 is the immersion of pineapple juice, group 2 is the immersion of strawberry juice, and group 3 is the immersion of negative control in sterile distilled water for 6 hours/day inside the incubator and is repeated until 14 days. Teeth discoloration is observed with Shade Guide Opalescence. Results: Group 1 normality test is p=0.030 (p<0.05) not normally distributed, and group 2 is p=0.243 (p>0.05) normally distributed. The homogeneity test results p=0.003 (p<0.05) which means that all data is heterogeneous. The Kruskal-Wallis test results p=0.000 (p<0.05) which shows differences of teeth color level between the treatment groups, continued with Mann-Whitney test results p=0.019 (p>0.05) shows not significantly difference between group 1 and 2, p=0.000 (p<0.05) shows a significant difference with group 3. It is because pineapple contains bromelain which can make your teeth whiter. Conclusion: The concluded that there is no difference between the effectiveness of teeth whitening pineapple juice (Ananas Comosus) with  strawberry juice (Fragaria x ananassea), color changes of pineapple juice is whiter.  Key words: Pineapple, Bromelain, Strawberry, Ellagic acid, Teeth discoloration, Teeth whitening.  ABSTRAKLatar Belakang: Estetika wajah dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah warna gigi. Warna gigi yang mengalami perubahan warna dapat dilakukan perawatan dengan cara pemutihan gigi menggunakan bahan alami. Bahan alami yang digunakan adalah Nanas (Ananas Comosus) yang mengandung bromelain dan Stroberi (Fragaria x annanassea) yang mengandung asam elegat. Tujuan: Untuk mengetahui perbandingan efektivitas jus buah nanas (Ananas Comosus) dengan jus buah stroberi (Fragaria x annanassea) sebagai bahan alami pemutih gigi. Metode: Adalah quasi experimental, menggunakan rancangan pre-post test only with control group design dengan 30 sampel gigi insisivus RA post ekstraksi terdiri dari 3 kelompok perlakuan, yaitu kelompok 1 perendaman jus buah nanas, kelompok 2 perendaman jus buah stroberi dan kelompok 3 perendaman kontrol negatif aquadest steril selama 6 jam/hari dalam inkubator dan dilakukan pengulangan sampai 14 hari. Perubahan warna diamati menggunakan Shade Guide Opalescence. Hasil: Uji normalitas kelompok 1 p=0.030 (p<0.05) tidak terdistribusi normal dan kelompok 2 p=0.243 (p>0.05) terdistribusi normal. Uji homogenitas didapatkan hasil p=0.003 (p<0.05) berarti semua data tidak homogen. Hasil uji Kruskal-Wallis didapatkan p=0.000 (p<0.05) maka terdapat perbedaan tingkat warna gigi antar kelompok perlakuan, dan dilanjutkan uji Mann-Whitney p=0.019 (p>0.05) menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok 1 dan 2, p=0.000 (p<0.05) menunjukkan ada perbedaan bermakna dengan kelompok 3. Hal ini disebabkan karena nanas mengandung bromelain yang dapat merubah warna gigi menjadi lebih putih. Kesimpulan: Penelitian tidak terdapat perbedaan bermakna efektivitas pemutihan gigi antara jus buah nanas (Ananas Comosus) dengan jus buah stroberi (Fragaria x annanassea), tetapi jus buah nanas menghasilkan perubahan tingkat warna gigi menjadi lebih putih. Kata kunci: Nanas, bromelain, stroberi, asam elegat, perubahan warna gigi, pemutihan gigi.

Page 1 of 3 | Total Record : 21