Kalangwan: Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra
Kalangwan, Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Agama Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar memiliki misi menghidupkan dan mengoptimalkan kesadaran keindahan ilmu pengetahuan yang ada dalam diri setiap orang. Maka dengan kesadaran tersebut akan membuat setiap insan tergerak untuk terus menimba menambah dan memperdalam pengetahuan demi kemajuan dan peningkatan kualitas SDM kampus. Keindahan ilmu pengetahuan akan membuka sisi estetika dan kelembutan menuju manusia yang ramah rendah hati jujur dan terbuka.
Articles
20 Documents
Search results for
, issue
"Vol 9, No 2 (2019)"
:
20 Documents
clear
STRUKTUR FONOLOGI DIALÉK BALI AGA DÉSA PAKRAMAN SELULUNG, KECAMATAN KINTAMANI, KABUPATÉN BANGLI
Ranem, I Nyoman
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1235
Basa Bali dialék Bali Aga Selulung pinaka basa Ibu etnis Selulung madué genah miwah kawigunan sané mabuat pisan. Pinaka piranti mabebaosan, basa Bali dialék Bali Aga Selulung madué sistem pelafalan sané kahanannyané prasida nyantenang pabinayan cihnan basa majeng ring basa-basa sané tiosan. Pabinayan basa punika jagi nyantenang identitas jadma, inggih punika sakéng napi wit jadmané punika. Interaksi verbal serahina-rahina (utamanyané ri sajeroning kulawarga) etnis Selulung didominasi olih kanggénnyané basa Bali dialék Bali Aga Selulung punika, bilih-bilih ngenénin indik bebaosan sané kahanannyané tradisional, minakadi ngawedarang indik kawéntenan adat, kabudayaan, miwah agama.
RASA BAHASA DALAM BAHASA BALI
Mastini, Gusti Nyoman
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1231
Rasa bahasa di dalam percakapan menggunakan Bahasa Bali sangatlah penting, karena ketika berbicara jika rasa bahasanya sudah sesuai dengan unggul-ungguling Bahasa Bali akan dapat menimbulkan rasa senang. Tetapi sebaliknya jika rasa bahasanya tidak sesuai dengan anggah-ungguhing, maka akan menimbulkan rasa tidak enak/ janggal.Bahasa Bali jika dilihat dari rasa bahasanya dapat dibagi menjadi 3 yakni (1) Rasa bahasa dalam bentuk kata meliputi : (a) kruna alus mider, (b) kruna alus madia, (c) kruna alus singgih, (d) kruna alus singgih, (e) kruna alus sor, (f) kruna mider, (g) kruna andap, dan (h) kruna kasar. (2) Rasa bahasa dan bentuk kalimat meliputi : (a) lengkara alus singgih, (b) lengkara alus madia, (c) lengkara alus sor, (d) lengkara andap, dan (e) lengkara kasar. (3) Selanjutnya Bahasa Bali dilihat dari rasa bahasanya dibagi menjadi (a) bahasa alus, (b) bahasa madia, (c) bahasa andap, dan (d) bahasa kasar.
UNSUR INTRINSIK DAN PERMASALAHAN SOSIAL DALAM CERPEN ULIAN LACUR KARYA NENGAH RUSMADI
Nuryana, I Wayan
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1236
Short story is one of literature in the form of prose. Short story is a work that is built through various intrinsic elements and extrinsic elements. Element element of the short story will build a short story in totality and is artistic. Short stories have intrinsic and extrinsic elements, intrinsic element is the element of the story builder that comes from within the short story itself. If likened to a building, then the intrinsic element is the components of the building. The intrinsic elements are themes, plot, figure, background, point of view and mandate. In addition to intrinsic elements also analyze the social value in this story which contains social problems such as poverty, faded empathy and so forth. As for the benefits of peeling a short story is very diverse, from the first did not know to know, who did not understand to understand, analyze / peel thoroughly a short story is very useful for writers and readers. Writers and readers will very easily understand the contents contained in a short story, especially for people who like to short stories.
HUBUNGAN GEGURITAN BRAYUT DENGAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT BALI
Indrayani, A.A. Diah
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1232
Literature and culture have the same object that is a human being which existed in a community as a social fact and as a cultural creature. They have a special place in a society due to their close relationship. The figure can be found on a various art creations in Bali such as painting, sculpture and traditional song. Meanwhile, the government promotes family planning as a program to the citizen. The problems discussed on this research is how the relation between geguritanBrayut and social and cultural of the Balinese.The methodology of this study is a qualitative research through non-interactive research by analyzing a textual research which is not related to the community on its organic environment. The research approach used in this study is thematic philosophy. The theory applied in this research are theory of deconstruction and semiotic.The result of this research shows that the relation between GeguritanBrayut with social and culture of Balinese community can be seen on their marriage concept according to Hindu belief, family prosperity, child nurture, the genetic system (matrilineal and patrilineal).
ANALISIS STRUKTUR YANG TERKANDUNG DALAM CERPEN UMAH
Rahayu, Ni Luh Putu Nitahapsari
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1237
Literary works are creations communicated expressively about the author`s intent for aesthetic purposes.. This study examines the intrinsic contained in the short story of Bali language entitled ?umah? generally have opinions and different interpretation of a short story. The intrinsic element is all the outside elements that underlies and creation of literary works. The method used in this research descriptive research using descriptive research method. Method is a methodthe status of a human group, an object, a set of conditions, a system ofthought, or a classof events in the present. In the analysis of the short stories in Bali language, the work of this I Dewa Ketut Raka Kusuma, contains many moral values and social value that can be taken and learned by the readers.
PENGINTEGRASIAN NILAI PERDAMAIAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAERAH SEBAGAI PERKUAT BUDAYA LOKAL
Sueca, I Nyoman
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1225
Kondisi masyarakat di masing-masing daerah di Indonesia dewasa ini diwarnai oleh berbagai bentuk tindak kekerasan yang dipicu oleh masalah sederhana sampai yang cukup pelik. Pelakunya meliputi golongan tidak berpendidikan dan golongan berpendidikan. Wilayah terjadinya di lingkungan desa adat di Bali dan kota-kota kecil, tidak terkecuali di kota metropolitan dan pusat pemerintahan. Berbagai konflik telah muncul dalam masyarakat Indonesia yang berbeda suku, agama, atau kepentingan telah menimbulkan kerusuhan massal, yang banyak menimbulkan korban jiwa dan harta. Tawuran antarpelajar sering terjadi di berbagai tempat. Budaya kekerasan telah merusak jalinan persatuan sesama warga negara, yang tentu saja menurunkan kualitas budaya. Mengatasi hal tersebut, lembaga pendidikan merupakan wahana penting untuk membangun kekuatan intlektual generasi bangsa. Semua lembaga pendidikan mempunyai tujuan untuk mengembangkan nilai teoretis, meskipun kadar dan kebutuhannya bervarisai antara lembaga pendidikan yang satu dengan yang lainnya, sesuai dengan jenis dan tingkat pendidikkannya. Oleh karena itu lembaga pendidikan merupakan wahana untuk mengembangkan budaya progresif. Budaya progresif tercermin dalam kemauan untuk maju dan berkembang, didukung oleh penemuan ilmiah serta pemenuhan kebutuhan secara efisien berdasarkan pemikiran secara rasional dan logis. Mengingat masing-masing daerah di Nusantara telah memiliki budaya tradisional yang disebut kearifan lokal (lokal wisdom), kebertahana ini didasari atas pentingnya pembelajaran bahasa daerah di masing-masing wilayah dimana mereka hidup untuk membangun kebudayaan. Sehingga pengintegrasian nilai perdamaian dalam mewujudkan keharmonisan dalam suatu wilayah dapat dilakukan melalui belajar bahasa terutama belajar bahasa daerah. Mengingat daerah di Indonesia terdiri banyak suku, etnis, agama, sehingga kita kaya dengan bahasa daerah. Bahasa daerah akan dapat memperkuat budaya pada masing-masing daerah sebagai sebuah lokal wisdom.
INTERPRETASI BHATARA KALA SEBAGAI PEMBATAS ETIKA BUDAYA BALI DALAM LONTAR KALA-PURANA
Mandra, I Wayan
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1233
Lontar Kala-Purana merupakan sebuah geguat atau dasar yang jelas (indik-indik) yang dipergunakan masyarakat Bali untuk melakukan panglukatan pada setiap orang yang terlahir pada saniscara (sabtu) wara Wayang. Ini merupakan satu bentuk refleksi yang secara nyata merupakan perpaduan antara tattwa, etika, upacara secara simultan dan dibungkus dengan budaya Bali. Jika berbicara masalah tattwa, maka narasi Kala-Tattwa sudah memberikan penjabaran bagaimana Bhatara Kala, yang merupakan personifikasi dari sebuah kekuatan (energi) penghancur merupakan sebuah hal yang badai. Bahkan dalam beberapa kitab mantra samhita, Upanisad, maka ?Kala? merupakan menghancur yang agung. Sebab waktu, adalah kekal dan yang menghancurkan. Kitab Bhagavadgita sendiri menyatakan bahwa diantara yang menghancurkan, tidak ada yang lebih baik selain ?Kala? (waktu) itu sendiri
ESENSI ETIKA DAN MORALITAS DALAM KITAB NITI SATAKA
Jayendra, Putu Sabda;
Semadi, Gusti Ngurah Yoga
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1228
Kitab Niti Sataka berisi tentang 100 buah sloka yang ditulis oleh Raja Bhartrihari sekitar dua ribu silam. Beliau adalah raja yang sangat pandai memimpin dan disayangi rakyatnya, disamping itu beliau juga ahli dalam filsafat dan bahasa Sansekerta. Kitab Niti Sataka mengandung ajaran tentang nilai-nilai etika dan moralitas yang sangat bermanfaat di dalam kehidupan, terlebih di zaman modern ini. Namun esensi etika dan moralitas dalam kitab Niti Sataka belum dikenal secara umum oleh umat Hindu. Ajaran yang terkandung di dalamnya sesungguhnya merupakan ajaran-ajaran susila (etika dan moralitas) dengan ungkapan-ungkapan bahasa kekinian yang mudah dicerna oleh masyarakat umum, serta dapat diaplikasikan dalam upaya pembentukan karakter sejak dini.
“MANTRA ABU†DALAM TEKS BHŪWANA KOSHA
Putra, I Gde Agus Darma
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1234
Bhasma Mantra was delivered by Bhatara to Bhatari. This narrative seems very different from the early part of the text of Bh?wana Kosha. Bhasma Mantra is chapter VII of the XI chapter contained in Bh?wana Kosha. Chapter VII consists of 30 slokas. Bhasma Mantra is one part of the text of Bh?wana Kosha which explains the subject of bhasma [ashes]. The intended ash is Ongkara as a result of burning Brahma mantra into the Fire of Dampati. The Dampati fire is composed of two pairs namely the Ongkara [Purusha] and Ukara [Pradhana]. Bhasma Mantra itself is the body of Shiva. This teaching was delivered by Shiva to Uma. The practice can be found in worship rituals performed by Pandhita or sadhaka. The notion of bhasma does not only stop at ashes. Bhasma in the next stage is divided into two senses, namely sakala bhasma and niskala bhasma. Bhasma Sakala is the body, while bhasma niskala is jñ?na.
ESENSI KEHIDUPAN MANUSIA DALAM TEKS GEGURITAN AJI SESANA
Widiantana, I Kadek
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1230
Lack of knowledge of the nature of life, especially being human, impacts many experiencing stress symptoms, even at the rise of suicides cases. Therefore, it is important to understand the essence of being born human, so that you can live your life as well as possible. One of the Geguritan texts that contains the essence of life being human is the Geguritan Aji Sesana which is considered to be lacking in attention. Therefore, the author uses this Geguritan as a study material, because in the Geguritan summarized the teachings of Hinduism, mainly related to the essence of being born into a human, so that there is no regret to be human. Based on the explanation above, in this paper will discuss about:1) Structure of the Geguritan Aji Sesana; and 2) The essence of human life in the Geguritan Aji Sesana. In analyzing the Geguritan Aji Sesana text, the author uses structural and semiotic theories.The Geguritan Aji Sesana is a text that contains the essence of being born human, how humans must always cling to the teachings of Dharma, with the essence of being born the main human being. Humans are reminded to always be vigilant with enemies that are in themselves because the enemy is actually inside. Humans are required to always improve themselves by diligently studying literature. But in studying the literature, it must be gradual and begin from the basic level.