Claim Missing Document
Check
Articles

KONSTRUKSI LEVEL PENGETAHUAN METAKOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN AGAMA HINDU Jayendra, Putu Sabda
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2327.059 KB) | DOI: 10.25078/gw.v5i2.638

Abstract

Pengetahuan metakognitif merupakan aspek pencapain kecakapan level abstraksi tertinggi dalam dimensi pengetahuan. pengetahuan metakognitif merupakan tingkat teratas dalam susunan Taksonomi Bloom Revisi. Konstruksi pengetahuan level metakognitif merupakan kemampuan untuk mengetahui dan menyadari diri sendiri, dan mencakup pula kecakapan strategi kognitif melalui berpikir multiperspektif, serta multidimensional. Konstruksi pengetahuan metakognitif dalam pembelajaran agama Hindu memiliki urgensi untuk dilakukan untuk menciptakan karakter individu peserta didik yang tidak terjebak pada pemahaman dogmatis, bijaksana, serta mampu mewujudkan tatanan religi dan sosio-kultural masyarakat yang harmonis.Kata Kunci: pengetahuan metakognitif, pembelajaran, agama Hindu.
ESENSI ETIKA DAN MORALITAS DALAM KITAB NITI SATAKA Jayendra, Putu Sabda; Semadi, Gusti Ngurah Yoga
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1228

Abstract

Kitab Niti Sataka berisi tentang 100 buah sloka yang ditulis oleh Raja Bhartrihari sekitar dua ribu silam. Beliau adalah raja yang sangat pandai memimpin dan disayangi rakyatnya, disamping itu beliau juga ahli dalam filsafat dan bahasa Sansekerta. Kitab Niti Sataka mengandung ajaran tentang nilai-nilai etika dan moralitas yang sangat bermanfaat di dalam kehidupan, terlebih di zaman modern ini. Namun esensi etika dan moralitas dalam kitab Niti Sataka belum dikenal secara umum oleh umat Hindu. Ajaran yang terkandung di dalamnya sesungguhnya  merupakan ajaran-ajaran susila (etika dan moralitas) dengan ungkapan-ungkapan bahasa kekinian yang mudah dicerna oleh masyarakat umum, serta dapat diaplikasikan dalam upaya pembentukan karakter sejak dini.
KONSEP LANANG DAN WADON SEBAGAI SIMBOL KESETARAAN GENDER DALAM KEHIDUPAN RELIGI DAN SOSIO-KULTURAL MASYARAKAT HINDU DI DESA TRUNYAN, BANGLI Sabda Jayendra, Putu
PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU Vol 21, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.92 KB)

Abstract

Hinduism and Balinese culture have become an integral whole. The identity of Hinduism with Balinese culture brings consequences, namely the negative stigma given by many people about gender equality. The Balinese Hindu community in their socio-cultural life generally adopts a patri- archal system that positions women to be subordinate of the men, which is in fact contradictory to Hindu teachings that teach equality, rights and duties. But specifically for the Hindu community in Trunyan Village, Kintamani has the concept of Lanang and Wadon as a reflection of equality of male and female aspects deeply rooted from the religious system to the foundation of the socio-cultural life. The Trunyan Village community’s understanding of the teachings of equality in Hinduism adapt- ed through the local terminology of Lanang and Wadon can be an answer to how Hindu religion teaches flexibly the principle of gender equality of men and women.
PRAKTIK RAJA YOGA DALAM RANGKAIAN PEMENTASAN BARONG BRUTUK DI DESA TERUNYAN, KINTAMANI, BANGLI: STUDI TEOLOGI HINDU DALAM TERMINOLOGI KEARIFAN LOKAL Sabda Jayendra, Putu
PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU Vol 21, No 2 (2018)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.844 KB)

Abstract

Raja Yoga is a method to connect one?s self to the almighty God (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) through the means of tapa, brata, yoga, semadhi. This method is conceptualized in Astangga Yoga passed down by Rsi Patanjali. Terminologically, the practice of Raja Yoga is covered in local genius existed in Terunyan village, Bangli regency. It is done by the so called Teruna (a group of teenagers) as a part of sacred procession of Barong Brutuk dance. Essentially, Raja yoga can be seen in the Makemit process for 42 days with a set of rules, prohibition, and ritu- al they call Tirtha Kayan Teruna. The success of the Raja Yoga according to local condition is when the teruna achieves niyasa, or a condition where the body and soul become one with God in its system, not overtaking the trance as other sacred dances do in Bali.
PRAKTIK RAJA YOGA DALAM RANGKAIAN PEMENTASAN BARONG BRUTUK DI DESA TERUNYAN, KINTAMANI, BANGLI: STUDI TEOLOGI HINDU DALAM TERMINOLOGI KEARIFAN LOKAL Jayendra, Putu Sabda
JURNAL YOGA DAN KESEHATAN Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/jyk.v1i2.1576

Abstract

Raja Yoga is a method to connect one?s self to the almighty God (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) through the means of tapa, brata, yoga, semadhi. This method is conceptualized in Astangga Yoga passed down by Rsi Patanjali. Terminologically, the practice of Raja Yoga is covered in local genius existed in Terunyan village, Bangli regency. It is done by the so called Teruna (a group of teenagers) as a part of sacred procession of Barong Brutuk dance. Essentially, Raja yoga can be seen in the Makemit process for 42 days with a set of rules, prohibition, and ritual they call Tirtha Kayan Teruna. The success of the Raja Yoga according to local condition is when the teruna achieves niyasa, or a condition where the body and soul become one with God in its system, not overtaking the trance as other sacred dances do in Bali.
ESENSI ETIKA DAN MORALITAS DALAM KITAB NITI SATAKA Jayendra, Putu Sabda; Semadi, Gusti Ngurah Yoga
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1228

Abstract

Kitab Niti Sataka berisi tentang 100 buah sloka yang ditulis oleh Raja Bhartrihari sekitar dua ribu silam. Beliau adalah raja yang sangat pandai memimpin dan disayangi rakyatnya, disamping itu beliau juga ahli dalam filsafat dan bahasa Sansekerta. Kitab Niti Sataka mengandung ajaran tentang nilai-nilai etika dan moralitas yang sangat bermanfaat di dalam kehidupan, terlebih di zaman modern ini. Namun esensi etika dan moralitas dalam kitab Niti Sataka belum dikenal secara umum oleh umat Hindu. Ajaran yang terkandung di dalamnya sesungguhnya  merupakan ajaran-ajaran susila (etika dan moralitas) dengan ungkapan-ungkapan bahasa kekinian yang mudah dicerna oleh masyarakat umum, serta dapat diaplikasikan dalam upaya pembentukan karakter sejak dini.
KONSEP LANANG DAN WADON SEBAGAI SIMBOL KESETARAAN GENDER DALAM KEHIDUPAN RELIGI DAN SOSIO-KULTURAL MASYARAKAT HINDU DI DESA TRUNYAN, BANGLI Sabda Jayendra, Putu
PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU Vol 21, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pkj.v21i1.539

Abstract

Hinduism and Balinese culture have become an integral whole. The identity of Hinduism with Balinese culture brings consequences, namely the negative stigma given by many people about gender equality. The Balinese Hindu community in their socio-cultural life generally adopts a patri- archal system that positions women to be subordinate of the men, which is in fact contradictory to Hindu teachings that teach equality, rights and duties. But specifically for the Hindu community in Trunyan Village, Kintamani has the concept of Lanang and Wadon as a reflection of equality of male and female aspects deeply rooted from the religious system to the foundation of the socio-cultural life. The Trunyan Village community’s understanding of the teachings of equality in Hinduism adapt- ed through the local terminology of Lanang and Wadon can be an answer to how Hindu religion teaches flexibly the principle of gender equality of men and women.
Praktik Raja Yoga Dalam Rangkaian Pementasan Barong Brutuk Di Desa Terunyan, Kintamani, Bangli: Studi Teologi Hindu Dalam Terminologi Kearifan Lokal Sabda Jayendra, Putu
PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU Vol 21, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pkj.v21i2.741

Abstract

Raja Yoga is a method to connect one’s self to the almighty God (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) through the means of tapa, brata, yoga, semadhi. This method is conceptualized in Astangga Yoga passed down by Rsi Patanjali. Terminologically, the practice of Raja Yoga is covered in local genius existed in Terunyan village, Bangli regency. It is done by the so called Teruna (a group of teenagers) as a part of sacred procession of Barong Brutuk dance. Essentially, Raja yoga can be seen in the Makemit process for 42 days with a set of rules, prohibition, and ritu- al they call Tirtha Kayan Teruna. The success of the Raja Yoga according to local condition is when the teruna achieves niyasa, or a condition where the body and soul become one with God in its system, not overtaking the trance as other sacred dances do in Bali.
KONSTRUKSI LEVEL PENGETAHUAN METAKOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN AGAMA HINDU Putu Sabda Jayendra
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v5i2.638

Abstract

Pengetahuan metakognitif merupakan aspek pencapain kecakapan level abstraksi tertinggi dalam dimensi pengetahuan. pengetahuan metakognitif merupakan tingkat teratas dalam susunan Taksonomi Bloom Revisi. Konstruksi pengetahuan level metakognitif merupakan kemampuan untuk mengetahui dan menyadari diri sendiri, dan mencakup pula kecakapan strategi kognitif melalui berpikir multiperspektif, serta multidimensional. Konstruksi pengetahuan metakognitif dalam pembelajaran agama Hindu memiliki urgensi untuk dilakukan untuk menciptakan karakter individu peserta didik yang tidak terjebak pada pemahaman dogmatis, bijaksana, serta mampu mewujudkan tatanan religi dan sosio-kultural masyarakat yang harmonis.Kata Kunci: pengetahuan metakognitif, pembelajaran, agama Hindu.
PENGUATAN KETERAMPILAN BERBASIS INDUSTRI PERHOTELAN MELALUI PROGRAM HOLISTIC PADA MASYARAKAT LULUSAN SMA/SMK DI WILAYAH UBUD, LEGIAN, SEMINYAK, PROVINSI BALI Kadek Ayu Ekasani; Putu Sabda Jayendra; I Nyoman Sudiarta; Made Arya Astina; I Made Hadi Purnantara
WARTA LPM WARTA LPM, Vol. 24, No. 3, Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/warta.v24i3.12869

Abstract

Keterampilan (skill) dalam industri perhotelan sangat diperlukan bagi seseorang untuk memenuhi tuntutan kerja di dunia industri. Para lulusan SMA/K yang telah mengikuti pelatihan di LPK memerlukan suatu pendalaman keterampilan dunia industri perhotelan sebelum mereka benar-benar terjun langsung ke industri. Salah satu kegiatan untuk memperdalam keterampilan tersebut adalah melalui pelaksanaan on the job training. Namun adanya pandemi Covid-19 menyebabkan banyak hotel yang tidak membuka kesempatan bagi LPK untuk melaksanakan on the job training. Hal inilah yang membuat Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional bekerjasama dengan IHGMA membuat program HOLISTIC yang bertujuan untuk membantu para lulusan SMA/K mendapatkan pengalaman OJT di industri perhotelan. Para peserta pelatihan diambil dari 3 wilayah di Provinsi Bali yang memiliki daerah wisata favorit, yaitu Ubud, Legian, dan Seminyak. Dengan total pelaksanaan pelatihan adalah 13 hari, peserta pelatihan mendapat pengalaman teori dan praktik langsung dari para praktisi perhotelan baik dari departemen tata hidang (food and beverage service), tata boga (food production), bartender, dan tata graha (housekeeping). Hasil dari pelatihan ini, para peserta mendapatkan pengalaman langsung di industri, selain juga berbagai pengetahuan mengenai profesionalisme kerja di industri perhotelan, peluang karir di dunia industri perhotelan, serta motivasi dan dukungan dari praktisi hotel sehingga para peserta memiliki optimisme yang besar bahwa sektor pariwisata masih menjadi sektor yang menjanjikan kedepannya.
Co-Authors Aditya, I Wayan Putra Adnyana, I Gede Yogi Agung Istri Ari Parwati, Anak Agus Trimandala, Nyoman Amir, Firlie Lanovia Anggraeni, Ni Luh Putu Putri Anita Swantari, Anita Astina, Made Arya Astuti, Ni Luh Gde Sari Dewi Ayuningtyas , Dorothea Sekar Budiman , Yulius Bukian, Putu Agus Windu Yasa Candra, Kelvin Dewi, Ni Putu Intan Putri Saraswati Gede Yoga Kharisma Pradana Gusti Ngurah Yoga Semadi Gusti Ngurah Yoga Semadi Gusti Ngurah Yoga Semadi Semadi I Gede Ferry Restiawan I Gusti Ayu Eka Suwintari I Ketut Suda I Made Arsa Wiguna I Made Darsana I Made Hadi Purnantara I Nengah Artawan Artawan I Nyoman Sudiarta I Nyoman Sudiarta I Wayan Dauh I Wayan Kiki Sanjaya I Wayan Restu Suarmana I Wayan Sujana I Wayan Sujana I Wayan Wiwin Ida Ayu Putu Adrina Nareswari Ida Bagus Subrahmaniam Saitya Kadek Ayu Ekasani Kepakisan, Defyartha Kusuma, Gde Tiao Arya Made Wahyu Mahendra . Mayani , Ni Kadek Santi Dwi Muliadiasa , I Ketut Muliadiasa, I Ketut Muliadiasa, Ketut Nareswari , Ida Ayu Putu Adrina Ni Kadek Santi Dwi Mayani Ni Ketut Riska Dewi Prawita Ni Komang Nariani Ni Wayan Maryuni Erawati Noviyanti, Anak Agung Manik Nyoman Surya Wijaya Pratiwi, Ni Luh Putu Dita Putri , Maria Helena Prasetya Putu Agus Windu Yasa Bukian Putu Eka Wirawan Restiawan, I Gede Ferry Sanjaya, I Wayan Kiki Sari, Luh Citra Semadi, Gusti Ngurah Yoga Setiawan , Jeremy Natanael Sudarmawan, I Wayan Eka Suwintari, I Gusti Ayu Eka Utik Kuntariati Wardana, Miko Andi Wayan Nurita Wiartha, Nyoman Gede Mas Widhyandanta, I Gede Surya Arya