cover
Contact Name
Moh Shidqon
Contact Email
ajidshidqon@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ajid.shidqon@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
ISSN : 26858908     EISSN : 26862603     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI di terbitkan oleh PERHAPI dan terbit tahunan dan mempunya ISSN 2686-2603 (Online) & ISSN 2685-8908 (Cetak).
Arjuna Subject : -
Articles 85 Documents
Search results for , issue "2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI" : 85 Documents clear
IMPROVEMENT PRODUKSI CRUSHER DENGAN METODE DOUBLE DUMP CRUSHER FC01 DAN FC02 PT. MIFA BERSAUDARA Ali Ali; Mohd Prieska
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.48

Abstract

ABSTRAK PT. Mifa Bersaudara sesuai dengan rencana produksi pada tahun 2018 akan melakukan coal sales sebesar 5 Juta Ton. Dengan target sales yang besar tentunya di butuhkan support yang besar dari unit-unit produksi. Maka dari itu unit operasional coal getting yang menggunakan OHT pada tahun 2017 diganti menjadi 30T class dengan jumlah yang lebih banyak. Akibat peningkatan produksi pada tahun 2018, perlu dilakukan improvement pada crusher FC01 dan FC02. Crusher FC01 dengan kapasitas produksi 750 tph dengan actual average year to date pada tahun 2017 hanya sebesar 342 tph dan FC02 dengan kapasitas produksi 450 tph dengan actual year to date hanya sebesar 350 tph. Ada beberapa parameter yang mempengarui productivity crusher FC01 dan FC02 yang tidak tercapai, yaitu feeding batubara yang masih kurang dan jarak waktu dumping antar hauler yang masih besar. Untuk meningkatkan productivity crusher FC01 dan crusher FC02 perlu dilakukan re-engineering pada area hopper agar dapat menerima feeding yang lebih besar dan perbaikan area manuver agar dapat diterapkan metode double dump. Langkah yang diambil yaitu dengan penambahan wings pada area hopper crusher FC01 dan penambahan stopper pada hopper crusher FC02 agar dapat dilakukan teknik double dump untuk meningkatkan productivity masing-masing crusher. Hasil dari project ini yaitu adanya perubahan area manuver di area dumping hopper FC01 dan FC02 yang menghabiskan biaya sebesar Rp196.215.000,00 dan terdapat perbaikan pada area hopper FC01 dengan menambahkan wings pada sisi kiri dan kanan hopper serta penambahan stopper pada area hopper FC02 yang menghabiskan biaya sebesar Rp166.140.000,00 dengan total keseluruhan biaya sebesar Rp362.355.000,00. Setelah diterapkan metode double dump pada crusher FC01 dan FC02, productivity crusher FC01 meningkat menjadi 500 tph dan FC02 meningkat menjadi 354 tph dengan total proyeksi revenue yang didapat pada akhir tahun 2018 sebesar $36,672,864. Kata kunci : crusher, double dump, productivity, cost  ABSTRACT PT. Mifa Bersaudara in 2018 planned to conduct 5 million tons of coal sales. With a large sales target, a good support from the production units is a must. Therefore, the coal getting operation that used to utilize Off High Way Trucks (OHT) in 2017 replaced those units with 30T class trucks with more units. As a result of increased production plan in 2018, improvements for the FC01 and FC02 crushers need to be done. FC01 crusher has a production capacity of 750 tph with an actual year to date in 2017 averaged in 342 tph. FC02 with a production capacity of 450 tph with an actual year to date figure averaged in 350 tph. There are several parameters that affect the productivity of the FC01 and FC02 crushers. Some of the parameters have not been achieved, such as the lack of coal feeding and long-time dumping intervals between each hauler. In order to increase the productivity of FC01 crushers and FC02 crushers it is necessary to re-engineer the hopper area so that it can receive greater feeding and improve the maneuver area to apply double dump technique. The next step was to re-engineer the hopper with the addition of wings to the FC01 crusher's hopper area and addition of stopper to the FC02 crusher's hopper so that a double dump technique can be used to increase the productivity of each crusher. The results of maneuver area improvement are the wider maneuvering dumping area in the FC01 and FC02. This stage costs Rp196.215.000,00 . The second stage which is the addition of wings on the left and right sides of the hopper and adding stopper in the FC02 hopper area costs Rp166.140.000,00 and the total of costs Rp362.355.000,00 . After the double dump method was applied to the FC01 and FC02 crushers, the FC01 crusher productivity increased to 500 tph and FC02 increased to 354 tph with a total revenue projection obtained at the end of 2018 of $36,672,864. Keyword : crusher, double dump, productivity, cost
PEMANFAATAN DRONE UNTUK MONITORING AKURASI PERENCANAAN TAMBANG BATUBARA TERBUKA Jhony Jhony; Wildan Firdaus
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.61

Abstract

ABSTRAK Pertambangan batubara di Indonesia telah mengalami pasang surut harga yang sangat fluktuatif sejak 2012. Hal tersebut berdampak langsung kepada para pelaku usaha pertambangan batubara. Oleh karena itu, efisiensi dalam proses pertambangan harus ditingkatkan termasuk dalam sisi perencanaan. Perencanaan yang baik dan akurat dapat memberikan banyak manfaat yaitu, peningkatan kualitas eksekusi dengan nilai stripping ratio yang optimum, tambang terbentuk rapi sehingga keselamatan kerja meningkat karena lereng terbentuk sesuai dengan desain serta meningkatkan utilisasi dan produktifitas alat. PT Pamapersada Nusantara merupakan salah satu kontraktor pertambangan batubara di Indonesia yang telah melakukan pengukuran akurasi perencanaan tambang sejak 2017 yang dikenal dengan nama MDA (Mine Design Accuracy). Nilai rata-rata MDA untuk proyek-proyek penambangan yang dikerjakan PAMA sejak 2017 hingga 2018 masih berkisar 91%, artinya masih ada 9% dari operasional yang diluar perencanaan baik yang berupa overcut maupun yang undercut dari desain awal. Untuk meningkatkan nilai MDA tersebut, dilakukan terobosan sistem monitoring operasional dengan bantuan drone. Bahkan drone tidak hanya dimanfaatkan untuk monitoring secara visual melalui video saja, tetapi juga digunakan sebagai alat ukur akurasi desain dalam bentuk orthophoto yang di-overlay-kan dengan desain dan cross section dari situasi hasil pemetaan menggunakan drone. Hasil video dari drone dilihat oleh pengawas tambang setiap hari dari sudut pandang yang lebih luas (helicopter view) dengan tujuan pengawas akan lebih jelas dalam menemukan deviasi dan dapat segera melakukan tindakan perbaikan. Hasil orthophoto yang di-overlay-kan dengan desain, dievaluasi secara mingguan oleh mine engineer untuk melihat posisi dan kelurusan tambang yang sedang dikerjakan apakah telah sesuai dengan desain perencanaan. Dan juga sebagai mitigasi terhadap potential problem yang akan muncul karena orthophoto dapat memberikan citra yang lebih jelas (real) dibandingkan hanya melihat kontur tambang. Sedangkan untuk cross section dari hasil situasi drone juga dapat dilakukan secara mingguan agar mine engineer dapat dengan cepat menginformasikan kepada pengawas di lapangan area mana saja yang sudah mendekati desain dan area mana yang masih harus digali. Setelah metode monitoring dan pengukuran menggunakan drone, nilai Mine Desain Accuracy meningkat menjadi 95% di semester 1 tahun 2019. Hal ini berarti pemanfaatan teknologi drone dapat membuat operasional pertambangan yang lebih efektif karena baik pengawas maupun mine engineer sama-sama dapat melihat situasi tambang dengan lebih luas dalam kondisi real. Selain efektif, drone juga dapat meningkatkan efisiensi kerja karena waktu yang dibutuhkan untuk pengambilan situasi lapangan yang berupa video hingga berbentuk data situasi sangat singkat dibandingkan dengan pengambilan data dengan metode lainnya. Kata Kunci: Mine Desain Accuracy, Drone, Stripping Ratio, Orthophoto, Cross Section  ABSTRACT Coal mining in Indonesia has experienced ups and downs in prices that have fluctuated greatly since 2012. This has had a direct impact on coal mining businesses. Therefore, efficiency in the mining process must be increased including in the planning side. Good and accurate planning can provide many benefits, improving the quality of execution with an optimum stripping ratio, the mine is neatly formed so the safety is increased because the slope is formed in accordance with the design and increases the utilization and productivity of production unit. PT Pamapersada Nusantara is a coal mining contractor in Indonesia who has measured accuracy in mine planning since 2017, known as MDA (Mine Design Accuracy). The average MDA for mining projects undertaken by PAMA from 2017 to 2018 is still around 91%, meaning that there are still 9% of operations that are out of planning both in the form of overcuts and undercuts from the initial design. To increase the MDA value, a breakthrough in the operational monitoring system was carried out with the help of drones. Drones are not only used for visual monitoring via video, but are also used as a measurement of design accuracy in the form of orthophoto that is overlaid with the design and cross section of the situation using the drone mapping results. The video results of the drone are seen by the mine supervisor every day from a broader perspective (helicopter view) with the aim of the supervisor being more clear in finding deviations and can immediately take corrective action. The orthophoto results that are overlaid with the design, are evaluated weekly by the mine engineer to see the position and alignment of the mine being worked on whether it is in accordance with the design plan. And also as a mitigation of potential problems that will arise because orthophoto can provide a clearer image (real) than just seeing the contours of the mine. Cross section of the drone situation results can also be done every week so that the mine engineer can quickly inform the field supervisor which areas are close to the design and which areas still need to be excavated. After monitoring and measuring methods using drones, Mine Design Accuracy increased to 95% in semester 1 of 2019. This means that the use of drone technology can make mining operations more effective because both supervisors and mine engineers can see the mine situation more extensive in real conditions. Aside from being effective, drones can also improve work efficiency because the time needed to capture field situations in the form of video to form data is very short compared to data retrieval by other methods. Kata Kunci: Mine Desain Accuracy, Drone, Stripping Ratio, Orthophoto, Cross Section
ANALISIS PROBABILITAS KESTABILAN LERENG TAMBANG TIMAH PRIMER BLOK PEMALI, BANGKA, INDONESIA Teguh Nurhidayat; Edo Syawaludin; Muchtar Arifin; Iwan Oktariansyah
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.89

Abstract

ABSTRAK Studi geoteknik sangat penting pada tambang terbuka untuk menentukan geometri lereng dan kestabilan lereng tambang. Kestabilan lereng pada tambang terbuka sangat mempengaruhi kelangsungan produksi dan keselamatan pekerja pada tambang tersebut. Pada kasus tambang timah primer, material pembentuk lereng yang terdiri dari batuan induk berupa granit dan tanah dekomposisi dari granit. Hal ini dapat memberikan masalah dalam penentuan parameter kekuatan material dan analisis yang digunakan. Karena  parameter kekuatan yang berasal dari dekomposisi granit mempunyai variabilitas yang tinggi. Metode deterministik tidak cukup untuk memodelkan kestabilan lereng pada tambang timah primer. Sehingga dilakukan perpaduan antara penggunaan metode deterministik dan probabilistik dalam proses analisis kestabilan lereng. Pemboran geoteknik dilakukan dengan cara full coring. Parameter sifat fisik dan mekanik material lereng didapat dari hasil pengujian laboratorium. Nilai internal shear angle, unit weight dan cohesion diproses dengan simulasi Monte Carlo sebagai model variabel acak. Simulasi Monte Carlo melakukan evaluasi secara simultan dari kestabilan lereng. Simulasi juga dilakukan dengan variasi sudut lereng keseluruhan dan proses pengeringan air tanah. Hasil simulasi memperlihatkan lereng pada penampang 1 dengan sudut lereng keseluruhan sebesar 25o (pada keadaan dinamik, SF= 1.216, PF= 8.1%, RI= 1.419)  dengan proses pengeringan air tanah, penampang 2 pada sudut lereng keseluruhan 35 o(pada keadaan dinamik, SF= 1.44 , PF= 0% , RI= 3.535)  dan Penampang 3 pada sudut lereng keseluruhan 15o (pada keadaan dinamik, SF= 1.469 ,PF= 13.7%, RI= 1.079).   Kata kunci: kestabilan lereng, probabilitas, timah primer  ABSTRACT Geotechnical studies are very important in open pit mining to determine the slope geometry and stability of the mine slope. Slope stability at an open pit greatly influences the continuity of production and the safety of workers at the mine. In the case of primary tin mining, slope-forming material consisting of host rock in the form of granite and soil decomposition of granite. It can give problems in determining the strength parameters and the modeling used. Because the strength parameters derived from granite decomposition have high variability. The deterministic method is not enough to model slope stability in primary tin mines. So it is a combination of the use of deterministic and probabilistic methods in the process of modeling the slope stability. Geotechnical drilling is done by full coring. The parameters of physical and mechanical properties of slope material are obtained from laboratory test results. Internal shear angle, unit weight and cohesion values are processed by Monte Carlo simulation as a random variable model. Monte Carlo simulations carry out simultaneous evaluations of slope stability. Simulations are also carried out with overall slope angle variation and groundwater dewatering. Simulation results show that the slope at cross-section 1 at overall slope angle(OSA) 25o (under dynamic condition, SF = 1,216, PF = 8.1%, RI = 1,419) with groundwater dewatering process, cross-section 2 at with 35o(OSA) (SF = 1.44, PF = 0%, RI = 3,535) and Section 3 at 15o (SF = 1,469, PF = 13.7%, RI = 1,079). Key word: slope stability, probability, primary tin 
PENGUJIAN PROPERTIES LIMBAH TAILING KERING PADAT UNTUK PEMANFAATAN MATERIAL STABILISASI TANGGUL Rakhmad Aji Prakosa
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.105

Abstract

ABSTRAK Hasil ekstraksi ore menjadi emas pada kegiatan pengolahan emas PT.Antam Tbk. - UBPE Pongkor, menghasilkan limbah hasil olahan berupa tailing yang dibuang ke TSF dalam bentuk slurry (20%solid) kemudian diendapkan di beberapa kompartemen tampungan sebelum masuk ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Tailing yang mengendap kemudian dikeruk dengan alat berat menuju area penimbusan akhir dengan kondisi Tailing 60% solid. Semakin banyak tailing yang dihasilkan, maka semakin banyak juga upaya yang harus dilakukan untuk menyediakan tampungan tailing. Secara visual, tailing kering berbentuk seperti pasir, yang saat dalam kondisi padat memiliki daya dukung yang sangat baik untuk menahan beban diatasnya. Hal tersebut dibuktikan adanya dump truck dengan beban puluhan ton melintas diatas tailing kering padat sebagai pijakan tumpuannya tanpa mengalami failure. Dari kasus tersebut tailing kering dapat memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai material konstruksi tanggul, mengingat kemampuan daya dukungnya yang cukup baik saat dalam kondisi kering padat. Sehingga perlu dilakukan pengujian properties material tailing meliputi nilai kepadatan maksimumnya (ɣd), berat jenis (BJ), nilai sudut geser dalam (ϕ), dan nilai kohesi (c).Pengujian properties material tailing dilakukan dengan mengambil sampel terganggu (disturb) pada tailing dalam kondisi kering (±75%solid). Kemudian membuat sample remoulded dari tailing kering dan diperoleh nilai kepadatan tanah maksimumnya. Dari nilai kepadatan maksimum tersebut, dilakukan pengujian geser langsung untuk mengetahui nilai sudut geser dalam dan nilai kohesinya. Selain itu juga dilakukan uji piknometer untuk menghitung densitas tailing. Dari hasil parameter pengujian tersebut, kemudian dibandingkan dengan parameter timbunan tanah merah yang biasa digunakan sebagai material konstruksi tanggul dam dengan tujuan mensubstitusi material tanah merah dengan tailing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan maksimum tailing mencapai angka 1.65 gr/cm3, dengan kadar air optimum 15.2%, kohesi 10kPa, sudut geser internal 41o dan koefisien  permeabilitas 2.19x10-4cm/dt. Jika dibandingkan dengan properties material tanah merah yang biasa digunakan, memiliki kepadatan maksimum sebesar 1.68gr/cm3, Kohesi 11.5kPa, Sudut geser internal 29o, dan koefisien permeabilitas sebesar 7.7 x 10-6cm/dt yang berarti nilai properties material tailing dan tanah relatif tidak berbeda jauh sehingga dapat dilakukan rekayasa engineering untuk memanfaatkan material tailing sebagai material konstruksi atau sebagai material stabilitas tanggul yang ada di area TSF. Kata Kunci : Tailing, pemanfaatan limbah, material konstruksi ABSTRACT Ore extraction into gold at the gold processing activities of PT.Antam Tbk. - UBPE Pongkor, produces processed waste in the form of tailings which is discharged into TSF in the form of slurry (20% solid) and then deposited in several storage compartments before entering the WastewaterTreatment Plant (IPAL). The deposited tailings are dredged with heavy equipment to the final landfill area with the condition of the tailings 60% solid. The more tailing produced, the more effort must be made to provide tailings storage. Visually, the dry tailings are shaped like sand, when it dense conditions has a very good capacity to distributing load. This case proof by the existence of dump trucks with tens of tons of load passing over the solid dry tailings as a foothold without failure. From these cases, dry tailings can be used as material for embankment construction, given their relatively good carrying capacity when in dense dry conditions. So that it is necessary to test the material properties of the tailings including its maximum density value (ɣd), specific gravity (BJ), deep shear angle value (ϕ), and cohesion value (c). Testing the material properties of tailings is done by taking disturbed samples of the tailings in dry conditions (±75% solid). Then make a remoulded sample from dry tailings and get the maximum soil density value. From the maximum density value, then direct shear testing is performed to determine the value of the deep shear angle and its cohesion value. A pycnometer test was also conducted to calculate the tailing density. From the results of the test parameters, then compared with the parameters of the red soil heap which is commonly used as a dam construction material with the aim of substituting red soil material with tailings. The results showed that the maximum density of tailings reached 1.65 gr / cm3, with an optimum moisture content of 15.2%, cohesion of 10kPa, internal shear angle of 41o and permeability coefficient of 2.19x10-4cm / s. When compared with the properties of the commonly used red soil material, it has a maximum density of 1.68gr / cm3, Cohesion of 11.5kPa, an internal shear angle of 29o, and a permeability coefficient of 7.7 x 10-6cm / second which means the value of the material properties of the tailings and the soil is relatively not differ greatly so that engineering design can be carried out to utilize tailings as construction material or as a dike stability material in the TSF area. Keywords : Tailing, Tailing Utilization, Construction Material
STUDI DISTRIBUSI MINERAL IKUTAN TIMAH (MIT) UNTUK MENDUKUNG METODA PENANGANAN SAMPEL PADA KEGIATAN EKSPLORASI Syafrizal Syafrizal; Andika Satria Pradana; Ichwan Azwardi; Satyogroho Dian Amertho; Mohamad Nur Heriawan; Arie Naftali Hawu Hede
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.121

Abstract

ABSTRAK PT. Timah Tbk merupakan perusahaan yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) logam timah yang berencana menjadikan komoditas logam tanah jarang sebagai by-product dari ekstraksi logam timah sebagai komoditas utama. Telah diteliti bahwa Mineral Ikutan Timah (MIT) pembawa Rare Earth Elements (REEs) yang jumlahnya cukup dominan pada setiap sampel pemboran yang sudah dilakukan PT Timah Tbk diantaranya adalah ilmenite, rutile, zircon, monazite, xenotime, dan anatase. Eksplorasi terhadap logam timah terus dilakukan oleh PT Timah Tbk. Namun, eksplorasi khusus untuk setiap Mineral Ikutan Timah (MIT) pembawa Rare Earth Elements (REEs) hanya sebatas pada dokumentasi kadar mineral-mineral pembawa REEs pada sampel pemboran saja. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, peneliti bertujuan untuk melakukan studi dan analisis distribusi mineral pembawa REEs untuk mencari aspek-aspek penting yang harus diperhatikan oleh PT Timah Tbk dalam merancang SOP (Standar Operasi Prosedur) preparasi hasil sampling eksplorasi yang tepat untuk ekstraksi mineral cassiterite tanpa mengabaikan kehadiran mineral pembawa REEs yang prospek untuk ditambang. Data-data yang digunakan peneliti berasal dari sampel-sampel primer, aluvial, konsentrat, dan tailing yang ada pada setiap daerah yang kemudian dilakukan kuantifikasi kadar mineral-mineral pembawa REEs dengan metode grain counting. Tahap selanjutnya adalah rekapitulasi, pengolahan data, dan penyajian data menggunakan metode-metode statistik. Lalu, akan dilakukan pembahasan, analisis, serta penarikan kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data yang menjawab rumusan masalah dan tujuan dari penelitian ini. Kata kunci :   Mineral Ikutan Timah (MIT), Rare Earth Elements (REEs), Grain Counting, Standar Operasi Prosedur, Sampling Eksplorasi.  ABSTRACT PT Timah Tbk is a state-owned company that has tin metal Mining Business License or well known as Izin Usaha Pertambangan (IUP) which plans to make rare earth metal commodities as a by-product of tin metal extraction as the main commodity. Based on research,  REEs (Rare Earth Elements)-bearing minerals quite dominant in each drilling sample by PT Timah Tbk which are ilmenite, rutile, zircon, monazite, xenotime, dan anatase. Exploration of tin metal still continues by PT Timah Tbk. Nevertheless, the exploration of Rare Earth Metal (REM) is limited to the REEs-bearing minerals grade documentation in the drilling sample only. Therefore, on this occasion, writer aims to study and analyze the distribution of REEs-bearing minerals to look for important aspects that must be considered by PT Timah Tbk in designing the right SOP (Standard Operating Procedure) of exploration sample handling result for cassiterite mineral extraction without ignoring the presence of REEs-bearing minerals that are prospects to be mined. The data which used by the writer originated from primary, alluvial, concentrate, and tailing samples that exist in each region which then quantified the grade of  REEs-bearing minerals using grain counting method. The next step is recapitulation, processing data, and presenting data using statistical methods. Then, discussion, analysis, and conclusions will be conducted based on results of data processing that answer the problem formulation and the purpose of this study.  Keyword    : By-product of tin metal extraction, Rare Earth Elements (REEs), Grain Counting, Standard Operating Procedure, exploration sample handling. 
SISTEM VERTICAL DIGGING, BENCHES ATAU KOMBINASI? MANAKAH YANG DAPAT MEMBERIKAN TINGKAT KEBERHASILAN PALING TINGGI DALAM AKTIVITAS PENAMBANGAN KAPAL KERUK? Rizki Syafrullah; Gerry Giga Parulian; Gilang Gunawan
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.56

Abstract

ABSTRAK Metode penambangan dengan kapal keruk (dredging) termasuk ke dalam metode penambangan tambang terbuka aquaeous, karena mekanismenya yang mirip dengan penambangan pada tambang terbuka, hanya saja kegiatan penggaliannya dilakukan di bawah permukaan air dengan alat penggalian berupa ember (bucket). PT. Timah Tbk sebagai salah satu perusahaan tambang yang memiliki ratusan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi untuk komoditas timah dan sebagai satu-satunya perusahaan yang memiliki beberapa unit kapal keruk, menggunakan armadanya dalam kegiatan penambangan endapan timah alluvial lepas pantai (offshore) di perairan Pulau Bangka dan Kepulauan Riau. Terdapat tiga jenis sistem penggalian pada operasional kapal keruk, yaitu sistem vertical digging, sistem benches dan sistem kombinasi. Sistem penggalian yang digunakan  dapat mempengaruhi keberhasilan aktivitas penambangan pada kapal keruk yang dinilai berdasarkan  parameter yaitu nilai Laju Pemindahan Tanah (LPT) dan kemiringan lereng (slope) yang dibentuk oleh proses penggalian. Analisis sistem penggalian bertujuan untuk melihat sistem penggalian manakah yang paling tepat untuk diterapkan pada kapal keruk sesuai dengan lokasi kerjanya. Data yang digunakan dalam analisis sistem penggalian merupakan data yang diperoleh langsung selama proses penggalian Kapal Keruk 21 Singkep 1 pada lokasi kerja Bulan Mei 2019. Data tersebut terdiri dari: nilai penekanan ladder, kecepatan naik turun ladder dan kecepatan tarik kawat. Kemudian pengolahan data dilakukan sehingga didapat nilai Laju Pemindahan Tanah (LPT) dan kemiringan lereng (slope) yang terbentuk dari proses penggalian menggunakan ketiga sistem penggalian yang ada. Analisis data dilakukan sehingga didapat poin-poin yang berkenaan dengan  kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem penggalian. Berdasarkan perbandingan tersebut maka dapat ditentukan sistem penggalian yang paling tepat untuk diterapkan pada Kapal Keruk 21 Singkep 1 sesuai dengan lokasi kerjanya adalah sistem penggalian kombinasi yang memiliki tingkat keberhasilan aktivitas penambangan tertinggi dengan nilai Laju Pemindahan Tanah (LPT) ) yang dapat mancapai target senilai 592,78 m3/jam  dan kemiringan lereng (slope) akhir 45,83˚ yang sesuai dengan standar keamanan penambangan. Kata Kunci:  Kapal Keruk, Sistem Penggalian, Laju Pemindahan Tanah, Kemiringan Lereng,  ABSTRACT Mining using a dredger is an example of an aqueous open surface mining method. Due to its similarities of mining mechanism to a conventional open surface mining method, the difference being only the digging is carried out below the sea level (underwater) using a series of buckets. PT. Timah Tbk is a mining company that holds hundreds of mining concessions (Izin Usaha Pertambangan / IUP) for tin commodity and is the only company that owns several units of dredger, utilizing their fleet for mining operation of off-shore alluvial tin deposit in the waters of Bangka Island and Riau Archipelago. There are three known digging systems of dredger: vertical digging, benches and combination. These digging systems can affect the success of a dredger’s mining operation, which is assessed by following parameters: rate of material removal (Laju Pemindahan Tanah / LPT) and the inclination of slope formed by digging activities. The objective of this analysis on digging system is to find out which system should be applied depending on the dredger’s operational location. This analysis processes primary data obtained from digging activity of Kapal Keruk (dredger) 21 – Singkep 1 in May of 2019. The data consists of: ladder pressure, rate of ladder movement and pulling rate of wire. Thereafter, processing of data results in the value of rate of material removal and the slope inclination. Further analysis will disclose the benefits and also the shortcomings of each digging system. Based on acquired and processed data, the digging system that gives the highest rate of success of Kapal Keruk 21 – Singkep 1, which reflected on its rate of material removal of 592.78 m3/hour and final slope inclination of 45.83° (conform to the mining safety standard), is the combination system. Keywords: Dredger, Digging System, Rate of Material Removal, Slope Inclination
INTEGRASI RADIO FREQUENCY IDENTIFICATION (RFID) DAN HAULING TRACKING SYSTEM (HTS) DALAM OPTIMASI OPERASIONAL PENGANGKUTAN DAN PENCAMPURAN BATUBARA PT ADARO INDONESIA Arief Andarwan
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.72

Abstract

ABSTRAK Proses pengangkutan dan pencampuran batubara di PT Adaro Indonesia terbilang cukup unik, menggunakan sistem ‘blending berjalan”, proses pencampuran dilakukan dengan mengatur waktu kedatangan alat pengangkut batubara di terminal fasiltas pemrosesan batubara dan pengisian tongkang agar tiba sesuai dengan waktu yang direncanakan. Untuk menunjang proses optimasi agar menghasilkan kualitas pencampuran yang on spec dan on time dibutuhkan sistem monitoring material, method dan machine yang mumpuni. Teknologi Radio Frequency Identification (RFID) dipilih karena mampu menghasilkan komunikasi data yang cepat. Komponen utama RFID adalah alat pembaca (reader) dan alat penanda (tagger). Alat pembaca dirakit secara elektronik dan beroperasi dengan memanfaatkan sumber energi panas matahari konversi dari solar cell dan ditempatkan di setiap titik strategis di jalur pengangkutan. Alat tagger ditempatkan pada semua alat pengangkut batubara (trailer). Sistem software dan database dibuat secara lokal dan terintegrasi ke pusat database yang terhubung melalui topologi jaringan. Semua transaksi kegiatan pengangkutan mulai dari alat angkut dalam  posisi kosong, pengisian, penimbangan sampai penumpahan atau penumpukan diproses secara online dan real time. Sistem ini juga diintegrasikan dengan aplikasi tracking monitoring yang dibuat dan dikembangkan untuk pemantauan data secara real time oleh semua pihak yang terlibat dalam rantai pasok operasional pengangkutan dan pencampuran batubara.Implementasi integrasi teknologi yang disusun berdasarkan analisa kebutuhan bisnis proses ini memberikan dampak langsung dan tidak langsung. Secara biaya pengadaan dan perawatan, tools ini lebih murah dari produk pasaran yang ditawarkan. Dari segi kualitas menghasilkan peningkatan presisi pencampuran. Sisi operasional juga memberikan penghematan dari proses kerja yang efisien dengan peningkatan produktivitas alat angkut. Tindakan perbaikan yang berkelanjutan dan tepat sasaran dari aktivitas pengangkutan dan pencampuran juga dapat dilakukan karena data evaluasi yang dihasilkan dari integrasi teknologi ini valid dan dapat diandalkan. Kata Kunci : RFID, Coal Hauling, Coal Blending, Hauling Tracking System  ABSTRACT Coal hauling and mixing in PT Adaro Indonesia is fairly unique, using an “on the way mixing” system, the mixing process is operated by setting the arrival time of the coal truck at coal processing and barge loading terminal facility so that truck arrived according to planned time. In order to support the optimization process to produce optimum quality mixing that is on spec and on time, require capable monitoring system of material, method and machine. Radio Frequency Identification (RFID) technology was chosen because it is able to produce fast data communications. The main components of RFID are reader and tagger. The reader is electronically assembled and operated by using thermal energy conversion from solar cell which placed at each strategic point along hauling road. The tagger is placed on every coal truck (trailer). The software and database system is created locally and integrated into central database that connected through network topology. All transaction from hauling activity starting from the trucks at empty position, loading, passing, weighing until dumping are processed online and real time. This system also integrated with tracking monitoring application that is established and developed for real time monitoring by all parties involved in coal supply chain. The implementation of this technology integration that based on business needs analysis has direct and indirect impact. In terms of investment and maintenance costs, these tools are cheaper than commonly product offered in industrial market. From quality aspect results, it gives enhancement of mixing precision. The operational side also provides saving from efficient working process by increasing truck productivity. Continuous and accurate corrective action from coal hauling and blending operation can also be done because data evaluation that generated from this integrated technology are valid and reliable. Keyword: RFID, Coal Hauling, Coal Blending, Hauling Tracking System
ANALISIS GETARAN PELEDAKAN TERHADAP PABRIK PENGOLAHAN EMAS PT. AGINCOURT RESOURCES, TAPANULI SELATAN, SUMATERA UTARA Hartami, Pantjanita N; Purwiyono, Taat T; M, Handoyo; Rudolf, Rudolf; M, Yuga; Bagus, I Gusti
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.84

Abstract

ABSTRAK Getaran tanah merupakan salah satu efek peledakan yang harus diperhatikan terutama pada saat aktivitas penambangan berada di dekat bangunan penting dan masyarakat. Penambangan emas PT. Agincourt Resources di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Indonesia melakukan operasi penambangan di 2 pit yaitu pit Purnama dan pit Barani. Posisi pit Purnama berdekatan dengan processing plant yang digunakan sebagai tempat peleburan dan pemurnian emas dengan jarak sekitar ±30 m, sedangkan Pit Barani yang berjarak sekitar 1200 meter dari perumahan penduduk. Paper ini difokuskan pada penelitian untuk mengantisipasi pengaruh getaran peledakan di pit Purnama terhadap processing plant. Penelitian dilakukan dengan mengukur getaran hasil peledakan menggunakan dua alat ukur Blasmate dan Micromate yang diletakkan di depan freeface dan di belakang freeface. Pengukuran ini bertujuan memprediksi bahan peledak per delay agar getaran hasil peledakan tidak berpengaruh terhadap bangunan. Analisis dilakukan dengan menggunakan persamaan scale distance dan software Shotplus sehingga dapat ditentukan prediksi jumlah bahan peledak per delay di setiap jarak. Dengan mengacu standar perusahaan, dan SNI 7570:2010maka akan dilakukan standarisasi jumlah bahan peledak per delay yang diijinkan Kata Kunci:  getaran peledakan, pabrik pengolahan, scaled distance, shotplus, Standar Nasional Indonesia  ABSTRACT Ground vibration is blasting effect that must be considered especially when mining activities are located near important buildings and communities. The activities of gold mining of PT. Agincourt Resources in Tapanuli Selatan, North Sumatra, Indonesia conducts mining operations in two pits, namely Purnama Pit and Barani Pit. Purnama Pit which is adjacent to a processing plant which is used as a gold smelting and refining with a distance of about ± 30 m, and Barani Pit which is about 1200 meters from village. This paper focused to anticipate damage to the processing plant. The ground vibration measurements were carried out using 2 measuring instruments that placed in front of the freeface and behind the freeface. This measurement aims to predict charged per delay on each distance so that the ground vibration have no effect on the processing plant. The analysis was carried out by using the scaled distance and Shotplus software. Based on the analysis and referred to Indonesian National Standard for ground vibration, then charge per delay was determined Keyword : ground vibration, processing plant, scaled distance, shotplus, Indonesian National Standard
KEBERHASILAN TEKNIK HYDROSEEDING UNTUK KONTROL EROSI PADA LAHAN MARGINAL SITE LATI PT BERAU COAL KABUPATEN BERAU PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Kirmi, Hifzil; Masyhuri, Muhammad
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.100

Abstract

ABSTRAK Kegiatan penambangan batu bara PT Berau Coal site Lati menggunakan teknik open pit mining yang mana salah satu pengaruh negatif dari kegiatan operasional yakni potensi terjadinya pencemaran lingkungan meliputi pencemaran air karena terjadi erosi dan sedimentasi sungai dan juga terbentuknya areal revegetasi dengan tingkat kesuburan yang rendah. Untuk mengurangi dampak negatif salah satunya dengan penanaman mengguankan teknologi hydroseeding. Metode yang digunakan adalah penilaian keberhasilan covering covercrop hydroseeding dengan ground cover assassment, pendugaan laju erosi dengan USLE dan analisa kesuburan tanah kandungan pH dan C/N rasio. Hasil penelitian menunjukan areal revegetasi yang belum ditumbuhi covercrop mempunyai laju erosi sangat tinggi dan kesuburan tanah yang rendah, sedangkan pada areal yang sudah ditanamai covercrop dengan teknologi hydroseeding mempunyai tingkat laju erosi rendah dan kesuburan tanah yang senderung meningkat serta keberhasilan penutupan covercrop yang tinggi pada lahan marginal. Kata kunci : hydroseeding, lahan marginal, erosi, tanah  ABSTRACT PT Berau Coal site Lati coal mining activities use open pit mining technique, which is one of the negative effects of operational activities, namely the potential for environmental pollution including water pollution due to erosion and sedimentation of the river and also the formation of revegetation areas with low fertility. To reduce the negative impacts, one of them is by planting using hydroseeding technology. The method used is an assessment of the success of covering cover crop hydroseeding with ground cover assassment, estimating the rate of erosion with USLE and analyzing soil fertility with pH and C / N ratio. The results showed revegetation areas that have not been covered with covercrop have very high erosion rates and low soil fertility, whereas in areas that have been planted with covercrop with hydroseeding technology have low erosion rates and soil fertility which is inclined to increase and the success of covercrop cover is high on land marginal. Keywords: hydroseeding, marginal land, erosion, soil
PENGELOLAAN AIR DALAM MENUNJANG KEGIATAN PENCUCIAN PADA PROSES PENAMBANGAN BAUKSIT Kusmanto, Kusmanto; Fauzi, Ahmad Fauzi; Wibowo, Gembong S; Aji, Bayu
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.116

Abstract

ABSTRAK Dalam melaksanakan kegiatan ekspor bauksit, sesuai Permen ESDM nomor 25 tahun 2018, perusahaan tambang diwajibkan untuk melakukan peningkatan kadar bauksit yang akan dijual melalui proses pencucian. Untuk mendukung hal tersebut, dibangun washing plant, sebagai sarana proses pencucian, dan sedimen pond, sebagai sarana sumber air serta pengelolaan limbah. Secara umum, proses pengelolaan air berawal dari run off pada bukaan tambang, yang dikelola dengan membuat kolam pengendapan di area tambang. kemudian untuk mendukung proses pencucian, dibangun sedimen pond sebagai sarana tempat penampungan limbah hasil pencucian dan pengelolaan air limbah sehingga dapat digunakan kembali untuk proses pencucian bauksit di washing plant. Alur proses pencucian berawal dari air pada kolam dipompakan ke washing plant, limbah hasil pencucian dialirkan ke kolam sedimen, kemudian dilakukan proses daur ulang melalui sirkulasi tertutup dengan dialirkannya kembali air tersebut ke kolam pompa untuk digunakan pada proses pencucian. Pada musim hujan, apabila terdapat penambahan air dari run off, sebagian air dialirkan ke badan air atau lingkungan untuk menjaga kapasitas tampung dari kolam sedimen. Dikarenakan adanya aliran air ke lingkungan, maka Tambang Bauksit Tayan wajib memenuhi persyaratan pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup nomor 34 tahun 2009 tentang Baku Mutu Limbah Air Kegiatan Pertambangan Bauksit. Berdasarkan peraturan tersebut, Tambang Bauksit Tayan wajib memenuhi kadar baku mutu pH di rentang 6-9 dan maksimum kadar Total Suspended Solid (TSS) 200 mg/l.  Maka dari itu, sebelum dialirkan ke kolam pompa, dilakukan penambahan flokulan untuk menjaga kadar TSS air tidak melebihi baku mutu sehingga diperbolehkan untuk dialirkan ke lingkungan dan mengondisikan air tetap jernih untuk menunjang proses pencucian. Untuk mengetahui flokulan dengan kinerja paling optimal, dilakukan jar test dengan beberapa jenis flokulan untuk mengetahui perbandingan biaya terhadap efektivitas proses yang dihasilkan. Dari percobaan yang dilakukan, seluruh flokulan efektif dan diperoleh efisiensi proses tertinggi dari flokulan sebesar 99% untuk konsentrasi flokulan uji 5 ppm. Kemudian flokulan tersebut digunakan sebagai bahan penjernih air pada water treatment plant untuk mengelola air limbah pencucian bauksit agar sesuai dengan standar parameter yang tertera pada regulasi yang ada. Dengan dilaksanakannya proses pengelolaan run off pada bukaan tambang, pengelolaan sedimen pond, dan pemenuhan aspek kepatuhan regulasi, kegiatan penambangan bauksit, khususnya pada tahapan pencucian di washing plant dapat dilaksanakan secara optimal sehingga dapat mendukung proses produksi untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Kata Kunci : Run Off, Pencucian Bauksit, Sedimen Pond, Total Suspended Solid, Flokulan  ABSTRACT In carrying out bauxite export activities, according to Minister of Energy and Mineral Resources Regulation No. 25  2018, mining companies are required to increase the level of bauxite which will be sold through the washing process. To support this, a washing plant was built, as a means of the washing process, and a sediment pond, as an air source and waste management. In general, the process of water management starts from runoff at mine openings, which is managed by creating a settling pond in the mine area. then to support the washing process, build a sediment pond as a waste disposal place for washing and waste water management can be used again for the process of washing bauxite in the washing plant. The flow of the washing process starts from the water in the pond being pumped to the washing plant, the washing wastes are channeled into the sediment pond, then the recycling process is carried out through closed circulation by being channeled back into the pump pond for use in the washing process. In the rainy season, it needs air assistance from runoff, most of it is channeled to the air bodies or the environment for the reserve capacity of the sediment ponds. Due to the flow of water into the environment, the Tayan Bauxite Mine is required to meet the requirements of the Minister of Environment Regulation No. 34/2009 concerning Quality Standards for Wastewater in Bauxite Mining Activities. Based on these regulations, the Tayan Bauxite Mine is required to meet pH quality standards in the range of 6-9 and a maximum level of Total Suspended Solid (TSS) of 200 mg / l. Therefore, before flowing into the pump pond, do flocculant to get TSS levels of air not exceeding the quality standard so that it is diverted to the environment and condition the air to remain clear to support the washing process. To find out the flocculant with the most optimal performance, do a jar test with several types of flocculant to find out the costs for the resulting process. From the experiments, all the effective flocculants and the highest process efficiency obtained from flocculants was 99% for the 5 ppm flocculant concentration test. Then this flocculant is used as an air purifier in water treatment plants to manage bauxite washing wastewater to comply with the standard parameters stated in the existing arrangements. By carrying out runoff management processes at mine openings, pond sediment management, and compliance with regulatory aspects, bauxite mining activities, particularly at the washing stage at the washing plant can be carried out optimally, can support the production process to achieve the targets. Keywords: Run Off, Bauxite Washing, Sediment Pond, Total Suspended Solid, Flocculant