cover
Contact Name
Moh Shidqon
Contact Email
ajidshidqon@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ajid.shidqon@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
ISSN : 26858908     EISSN : 26862603     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI di terbitkan oleh PERHAPI dan terbit tahunan dan mempunya ISSN 2686-2603 (Online) & ISSN 2685-8908 (Cetak).
Arjuna Subject : -
Articles 85 Documents
Search results for , issue "2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI" : 85 Documents clear
KARAKTERISASI MINERAL IKUTAN TIMAH PADA ENDAPAN PRIMER, SEKUNDER, DAN TAILING DI BANGKA SELATAN DAN BELITUNG Syafrizal, Syafrizal; Amerthozi, Ahmad FauSatyogroho Dian; Azward, Ichwan; Indriati, Teti; Nabilla, Amrita Oza; Suharjo, Enrico Gilrandy Wahyu; Hede, Arie Naftali Hawu
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.122

Abstract

ABSTRAK Daerah Bangka Belitung termasuk dalam sabuk timah yang merupakan intrusi pluton granit. Selain merupakan pembawa logam timah, diketahui bahwa pada batuan granit juga merupakan batuan beku pembawa mineral-mineral Rare Earth Elements (REE) seperti monasit, dan xenotim. REE memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan peran penting dalam perkembangan teknologi baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan kadar, mineralogi dan ukuran butir Mineral Ikutan Timah (MIT) pada endapan primer, sekunder, dan tailing di Bangka Selatan dan Belitung. Pengambilan sampel dilakukan secara acak (grab sampling) untuk sampel endapan aluvial, koluvial, tailing, serta konsentrat dan chip sampling untuk sampel endapan primer berbentuk batuan. Sampel dikeringkan menggunakan oven, kemudian direduksi menggunakan splitter hingga memperoleh volume sampel yang sesuai. Pengayakan sampel dilakukan menggunakan 5 (lima) fraksi yaitu #+48, #+65, #+100, #+150, dan #-150 untuk memperoleh keseragaman butir sampel. Metoda analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa radioaktif menggunakan scintillometer, mineral butir menggunakan metode grain counting, analisa mineragrafi dengan sayatan poles, serta analisa X-Ray Diffraction (XRD) berupa sampel bubuk. Kata kunci : Mineral Ikutan Timah,  Rare Earth Elements, Grain Counting, Monasit, Xenotim.   ABSTRACT The Bangka Belitung area is included in a tin belt which is an intrusion of granite pluton. Besides being a tin metal carrier, it is known that in granite rocks is also igneous rock carrying minerals Rare Earth Elements (REE) such as monasite, and xenotime. REE has high economic value and an important role in the development of new technologies. This study aims to determine the radioactive value, abundance of levels, mineralogy and size of associated tin minerals in primary, secondary and tailings deposits in South Bangka and Belitung. Sampling was carried out by grab sampling for alluvial, colluvial, tailing sediment samples, as well as concentrates and sampling chips for rock sediments. Sampling method by Random Sampling. The samples were dried using an oven, then reduced using a splitter to obtain the appropriate sample volume. Sifting the sample was carried out using 5 fractions namely #+48, #+65, #+100, #+150, and #-150 to obtain uniformity of sample items. Radioactive analysis using scintillometers, grain minerals using the grain counting method, mineragraphy analysis with polish incisions, and X-Ray Diffraction (XRD) analysis in the form of powder samples.  Kata kunci : Mineral Ikutan Timah,  Rare Earth Elements, Grain Counting, Monasit, Xenotim.
IMPLEMENTASI METODOLOGI PERANCANGAN PERKERASAN COAL HAULING ROAD DI STA KM 37+000 – 37+300 BERDASARKAN MANUAL DESAIN PERKERASAN JALAN 2017 MENGGUNAKAN UKURAN AGREGAT TERTENTU ST IPM, Geniusman Sidabutar; ST, Desyandi Putraldi
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.57

Abstract

ABSTRAK Coal hauling road merupakan jalan utama yang dipergunakan untuk mengangkut batubara dari Pit ke Stockpile Port dengan jarak 48 Km menggunakan unit dump truck bermuatan 26 ton hingga 34 ton dengan target produksi 1.000.000 ton pertahun. Unit dump truck yang digunakan masuk ke dalam kategori truck 3 sumbu – sedang, dengan nilai faktor ekivalen beban atau Vehicle Damage Factor (VDF) sesuai dengan tabel dari Manual Perkerasan Jalan 2017. Jumlah lintas harian rata-rata (LHR) semua unit dump truck yang melintas dalam sehari mencapai 270 lintasan sehingga jumlah kumulatif beban gandar standar (CESA) dalam hal ini CESA pangkat 4 sebesar 12.86 x 106 dan CESA pangkat 5 sebesar 17.69 x 106.Secara visual dan kondisi yang ada california bearing ratio (CBR) tanah dasar coal hauling road lebih besar dari 6% maka tidak tidak diperlukan perbaikan tanah dasar. Struktur pengerasan berdasarkan ESA5 masuk ke dalam kategori Bagan Desain 3 dimana berdasarkan Bagan Desain 3, desain perkerasan jalan dilakukan dengan menggunakan pondasi agregat kelas A hingga menggunakan asphaltic concrete wearing course (AC WC). Secara aktual Bagan Desain 3 tidak dapat terpenuhi, sebagai alternatif adalah menggunakan Bagan Desain 5 dimana perkerasan jalan menggunakan 3 lapisan, yaitu lapis pondasi agregat kelas A, kelas B dan Burda (lapis penutup berupa laburan dengan ukuran 20 mm).Penerapan perkerasan jalan dengan mengunakan Bagan Desain 5, khususnya penggunaan agregat A di coal hauling road dipilih menggunakan ukuran 10 mm - 20 mm, 20 mm – 30 mm dan 30 mm – 50 mm sedangkan lapisan burda tidak digunakan. Penggunaan agregat modifikasi ini telah dilakukan di STA KM 37 dengan panjang jalan mencapai 300 meter. Tujuan dari penggunaan agregat modifikasi ini yaitu untuk menjaga traksi roda kendaraan dengan permukaan jalan, mempercepat slippery, mengurangi potensi jalan berdebu dan mengurangi perawatan jalan khususnya penggunaan unit grader. Kata kunci: Coal hauling Road, VDF, LHR, ESA, Manual Desain Perkerasan Jalan, Bagan Desain, Agregat  ABSTRACT Coal hauling road is the main road used to transport coal from the Pit to Stockpile Port with a distance of 48 Km using dump trucks capacity 26 - 34 tons with a production target of 1,000,000 tons per year. The dump truck units used fall into the 3 axes - medium truck category, with the value of the Vehicle Damage Factor (VDF) in accordance with the table from the Road Pavement Manual 2017. The average daily traffic count (LHR) of all dump truck units passing in a day reaches 270 passes so that the cumulative number of standard axle loads (CESA) in this case CESA 4 is 12.86 x 106 and CESA 5 is 17.69 x 106.Visually and the existing condition of California bearing ratio (CBR) of subgrade coal hauling road is greater than 6%, there is no need for subgrade improvement. Based on ESA5 the hardening structure will use Design Chart 3 category. Based on Design Chart 3 the pavement design is carried out using aggregate foundation class A to using asphaltic concrete wearing course (AC WC). Actually Design Chart 3 cannot be fulfilled, as an alternative is to use Design Chart 5 where the pavement uses 3 layers, namely the aggregate foundation layers of class A, class B and Burda (the covering layer is a 20 mm diameter).The application of pavement using Design Chart 5, specifically the use of aggregate A in coal hauling road is chosen using sizes 10 mm - 20 mm, 20 mm - 30 mm and 30 mm - 50 mm while the burda layer is not used. The use of this modified aggregate has been carried out at STA KM 37 with a road length of up to 300 meters. The purpose of using this modified aggregate is to maintain vehicle wheel traction with the road surface, accelerate slippery, reduce the potential for dusty roads and reduce road maintenance, especially the use of grader units. Keywords: Coal hauling Road, VDF, LHR, ESA, Road Pavement Design Manual, Design Chart, Aggregate
INVESTIGASI SEDIMEN BAWAH LAUT MENGGUNAKAN SURVEY SEISMIK REFLEKSI DANGKAL: STUDI PENGEMBANGAN LAPANGAN ENDAPAN TIMAH PLASER Pratama, Wahyu Vian; Marbun, Nomensen Ricardo
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.74

Abstract

ABSTRAK Sejak 200 tahun yang lalu timah plaser telah dieksplorasi dan diproduksi di Indonesia. Studi pengembangan lapangan pada endapan timah plaser perlu dilakukan untuk mengetahui apakah masih ada potensi keterdapatan bijih timah pada lapangan-lapangan yang sudah berproduksi. Adanya lubang bor eksplorasi yang tidak menyentuh kong dan proses penambangan yang tidak mencapai batas bawah kaksa semakin memperkuat alasan studi ini dilakukan. Daerah penelitian berada di Perairan Tempilang, Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa 34 lintasan seismik 2D refleksi dangkal dan 9 lubang bor. Lintasan seismik dan data lubang bor diolah, dianalisis serta diinterpretasi menggunakan perangkat lunak, yang menghasilkan Sekuen A, Sekuen B, dan Sekuen C. Sekuen C diinterpretasikan sebagai geometri lembah purba yang terendapkan secara tidak selaras di atas kong, Sekuen B merupakan endapan sedimen yang terendapkan pada lingkungan transisi, dan Sekuen A menggambarkan batimetri dan kondisi dasar laut terkini. Mineral kasiterit (mineral pembawa bijih timah) terakumulasi pada Sekuen C dengan karakteristik material berupa kerikil, pasir kasar hingga pasir halus. Berdasarkan data lubang bor, urutan pengendapan sedimen secara vertikal menunjukkan karakter menghalus ke atas sebagai indikasi pendalaman lingkungan pengendapan. Berdasarkan hasil interpretasi seismik dan data lubang bor diketahui bahwa terdapat lembah berupa alur sungai purba pada bagian timur Blok B di daerah penelitian yang diduga masih berpotensi menghasilkan bijih timah dan belum diproduksi sampai saat ini. Alur sungai tersebut memiliki orientasi relatif baratdaya-timurlaut yang merupakan kemenerusan percabangan sungai purba utama. Ketebalan sedimen plaser di Perairan Tempilang yang berpotensi menghasilkan bijih timah berkisar antara 5-20 milidetik. Kata Kunci: timah, plaser, seismik, tempilang dan sungai purba.   ABSTRACT Since 200 years ago tin placer had been explored and produced in Indonesia. The field development studies on tin placer deposits need to be carried out to determine whether the area still have potential or not. The two reasons why this study conducted are the existence of some exploration drill hole that does not reach basement (kong) and the mining process that does not reach the bottom limit of ore (kaksa). The research area is located in Tempilang Waters, West Bangka, Bangka Islands. Data that used in this study are 34 two dimension (2D) shallow reflection seismic and 9 drill holes. Seismic lines and drill hole data were processed geophisically, analyzed and interpreted geologically. Those produce three main horizons consisting of Sequence A, Sequence B, and Sequence C. Sequence C is interpreted as ancient valley geometry, Sequence B is the sediment layer that deposited in transitional zone and Sequence A describes as bathymetry. Cassiterite mineral (tin-bearing mineral) are accumulated at Sequence C with ore characteristics consist of gravel, coarse to fine sand sediment. Furthermore, from the bore hole data it can be seen that vertical succession shows deepening upward and fining upward. Based on seismic interpretation and borehole data it has been known that there are valley in the form of ancient channel path which are potentially contain tin ore and have not been produced untill now. The channel orientation has relatively northeast-southwest which is the continuity of branching of main ancient channel. Finally, the thickness of the potentially tin placer sediment in the Tempilang Waters ranges from 5-10 milliseconds. Keywords: tin, placer, seismic, tempilang, and ancient channelABSTRAK Sejak 200 tahun yang lalu timah plaser telah dieksplorasi dan diproduksi di Indonesia. Studi pengembangan lapangan pada endapan timah plaser perlu dilakukan untuk mengetahui apakah masih ada potensi keterdapatan bijih timah pada lapangan-lapangan yang sudah berproduksi. Adanya lubang bor eksplorasi yang tidak menyentuh kong dan proses penambangan yang tidak mencapai batas bawah kaksa semakin memperkuat alasan studi ini dilakukan. Daerah penelitian berada di Perairan Tempilang, Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa 34 lintasan seismik 2D refleksi dangkal dan 9 lubang bor.Lintasan seismik dan data lubang bor diolah, dianalisis serta diinterpretasi menggunakan perangkat lunak, yang menghasilkan Sekuen A, Sekuen B, dan Sekuen C. Sekuen C diinterpretasikan sebagai geometri lembah purba yang terendapkan secara tidak selaras di atas kong, Sekuen B merupakan endapan sedimen yang terendapkan pada lingkungan transisi, dan Sekuen A menggambarkan batimetri dan kondisi dasar laut terkini. Mineral kasiterit (mineral pembawa bijih timah) terakumulasi pada Sekuen C dengan karakteristik material berupa kerikil, pasir kasar hingga pasir halus. Berdasarkan data lubang bor, urutan pengendapan sedimen secara vertikal menunjukkan karakter menghalus ke atas sebagai indikasi pendalaman lingkungan pengendapan.Berdasarkan hasil interpretasi seismik dan data lubang bor diketahui bahwa terdapat lembah berupa alur sungai purba pada bagian timur Blok B di daerah penelitian yang diduga masih berpotensi menghasilkan bijih timah dan belum diproduksi sampai saat ini. Alur sungai tersebut memiliki orientasi relatif baratdaya-timurlaut yang merupakan kemenerusan percabangan sungai purba utama. Ketebalan sedimen plaser di Perairan Tempilang yang berpotensi menghasilkan bijih timah berkisar antara 5-20 milidetik. Kata Kunci: timah, plaser, seismik, tempilang dan sungai purba.    ABSTRACT Since 200 years ago tin placer had been explored and produced in Indonesia. The field development studies on tin placer deposits need to be carried out to determine whether the area still have potential or not. The two reasons why this study conducted are the existence of some exploration drill hole that does not reach basement (kong) and the mining process that does not reach the bottom limit of ore (kaksa). The research area is located in Tempilang Waters, West Bangka, Bangka Islands. Data that used in this study are 34 two dimension (2D) shallow reflection seismic and 9 drill holes.Seismic lines and drill hole data were processed geophisically, analyzed and interpreted geologically. Those produce three main horizons consisting of Sequence A, Sequence B, and Sequence C. Sequence C is interpreted as ancient valley geometry, Sequence B is the sediment layer that deposited in transitional zone and Sequence A describes as bathymetry. Cassiterite mineral(tin-bearing mineral)are accumulated at Sequence C with ore characteristics consist of gravel, coarse to fine sand sediment. Furthermore, from the bore hole data it can be seen that vertical succession shows deepening upward and fining upward. Based on seismic interpretation and borehole data it has been known that there are valley in the form of ancient channel path which are potentially contain tin ore and have not been produced untill now. The channel orientation has relatively northeast-southwest which is the continuity of branching of main ancient channel. Finally, the thickness of the potentially tin placer sediment in the Tempilang Waters ranges from 5-10 milliseconds. Keywords: tin, placer, seismic, tempilang, and ancient channel
PENDEKATAN PENDIDIKAN VOKASI SEBAGAI SALAH SATU METODE LINK AND MATCH SUMBER DAYA MASYARAKAT LINGKAR TAMBANG DENGAN DUNIA INDUSTRI Mauldya, Rifka Singgih; Dwijaputra, Junialdi; Andrianto, Cahyo; Djali, Febriwiadi
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.85

Abstract

ABSTRAK PT Berau Coal merupakan perusahaan batubara yang terletak di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Sebagai perusahaan yang mempunyai visi menunjang perwujudan cemerlang melalui peran aktifnya sebagai pengalihragam energi yang eksponensial, PT Berau Coal komit terhadap program Corporate Social Responsibility (CSR). Dalam CSR Policy perihal Pengembangan Masyarakat, PT Berau Coal mempunyai tujuan untuk mendorong komunitas sekitar tambang untuk berperan secara aktif dalam pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan sumberdaya manusia, penguatan pranata sosial budaya dan pengembangan sumber daya ekonomi menuju masyarakat yang berdaya sejahtera dan mandiri secara bekelanjutan. Pada tahun 2018, penyerapan tenaga lokal di Kabupaten Berau menurut data Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertans) Berau hanya 30 % dimana permohonan kerja sektor tambang masih mendominasi di masyarakat. Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Berau nomor 8 tahun 2018 tentang Perlindungan Tenaga Kerja Lokal, pemerintah daerah memberikan aturan kepada pengusaha untuk wajib mengupayakan pengisian lowongan pekerjaan di dengan tenaga kerja lokal paling sedikit 80% sesuai dengan syarat kualifikasi yang dibutuhkan. Untuk menutupi kesenjangan tersebut, PT. Berau Coal melalui CSR-Yayasan Dharma Bakti Berau Coal memberikan pelatihan kerja (vokasional) berupa sistem pemagangan kepada pemuda lingkar tambang sebagai bentuk komitmen dan kepatuhan perusahaan terhadap regulasi daerah. Sesuai dengan pilar CSR, program vokasi memiliki tujuan untuk mengembangkan masyarakat lingkar tambang dan juga menjadi asset yang dibentuk oleh organisasi sehingga kemampuan ataupun hasil dari pendidikan vokasinya dapat diserap oleh perusahaan di area operasional PT Berau Coal. Salah satu pilot program tersebut adalah melalui Program Pendidikan Pengawas Pertambangan, dengan mengacu kepada kompetensi POP dan kompetensi teknis. Metodologi pengembangan masyarakat yang didesain oleh PT Berau Coal menggunakan pendekatan vokasional, dimana metode tersebut  menggunakan beberapa tahapan : (1) Konsep link and match diterapkan dari mulai link dengan kebutuhan industri pada saat program akan dilaksanakan dan match dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia industri dengan menyisipkan kompetensi izin kerja di operasional PT Berau Coal disesuaikan dengan kurikulum dari peserta pendidikan vokasi. (2)  Membuat dan mengadopsi skema kompetensi untuk internal sesuai dengan kebutuhan industri. (3) Pelatihan dengan komposisi 70% on-job-training dan 30% In-Class. (4) Melaksanakan sertifikasi uji kompetensi sebagai persyaratan lulus program dan bagian dari working permit. Target dari pada program tersebut adalah bagaimana peserta didik tersebut dapat siap bekerja dengan budaya organisasi yang ada di operasional PT Berau Coal sebagaimana layaknya karyawan bekerja. Dengan model pengembangan masyarakat tersebut, program dapat memberikan dampak positif secara langsung untuk organisasi, diantaranya dengan menyiapkan tenaga kerja yang siap kerja melalui talent pool. Selain itu, perusahaan juga dapat menutupi kesenjangan komposisi tenaga kerja lokal yang ada di PT. Berau Coal dengan cepat sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan. Ketiga, program tersebut memberikan dampak secara langsung terhadap blockade/isu-isu lokal mengenai serapan tenaga kerja lokal yang erat terjadi di perusahaan tambang yang dapat berdampak terhadap kegiatan operasional. Kata Kunci : Corporate social responsibility, pendidikan vokasi, pengembangan masyarakat lokal ABSTRACT PT Berau Coal is a coal company that is located at Berau Regency, East Kalimantan Province. As a company which has vision to enable a brighter future through becoming an exponential energy transformer, PT Berau Coal commits to have a Corporate Social Responsibility (CSR) programme. In CSR Policy regarding people development,  PT Berau Coal has an objective to enforce communities around mining activity to actively contribute in community empowerment through developing human resources, strengthening social and cultural institutions and developing economic resources towards a sustainable and prosperous community. According to Department of Manpower and Transmigration, local employees who work in the mining sector within Berau Regency only around 30% in 2018, where the job demand in mining sector is still dominated. Referring to Berau Regency Local Regulation no 8 year 2018 about Protection of Local Workers, it is stated that local government provides rules for employers that should fill the job occupancy with at least 80% local workers with required qualification requirements. To cover the gap ,  PT Berau Coal through  CSR-Yayasan Dharma Bakti Berau Coal is giving vocational training in the form of an apprenticeship system for fresh graduates around mining company as company’s commitment form and company’s compliance to local regulation. According to CSR’s pillar, vocational program has a vision to develop community around mining area and become a meaningful asset which is formed by organization so the result of vocational education can be absorbed by companies within PT Berau Coal operational area. One of the pilot programs is Mining Supervisor Development Program which is referring to POP competencies and technical competencies. Methodology of society development by using vocational approach is designed by PT Berau Coal. This method is using several steps (1) Link and Match concept which start to apply from link with industrial needs when the program starts and match it with competencies that are needed with industry, adding operational work permit competencies at PT Berau Coal, adjusted with curriculum from vocation education participants. (2) Creating and adopting scheme of competencies for internal in accordance with the industrial needs. (3) Training program with composition 70% on-job-training and 30% In-Class. (4) Implementing competencies test as requirement to pass the program and part of work permit. The target for this program is how program participants are ready to work with organization culture at PT Berau Coal. Through this society development model, the  program can give positive impact directly for the organization by preparing workers who are ready to work through the talent pool. In addition, the company can also covered the gap in the composition of the local workforce in PT. Berau Coal quickly according to the operational needs of the company. Lastly, this program give direct impact to blockade and local issues regarding local worker absoprtion  in mining companies that can have an impact on operational activities. Keyword: Corporate social responsibility, vocational educational, local society development 
PEMANFAATAN ABU BATUBARA SEBAGAI MATERIAL TANAH DASAR DI TAMBANG BATU HIJAU, SUMBAWA BARAT Maswahenu, Mara; Firmansyah, Firmansyah; Salsabila, Aulya
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.101

Abstract

ABSTRAK Pemanfaatan abu batubara (Fly Ash B409 dan Bottom Ash B410) yang sebelumnya dimanfaatkan oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PTAMNT) di tambang Batu Hijau sebagai substitusi semen dalam pembuatan beton hanya menyerap 1,7% dari total abu batubara yang dihasilkan. PLTU PTAMNT dapat menghasilkan ± 1.000 ton abu batubara per bulan. Tujuan pemanfaatan abu batubara sebagai material campuran lapisan tanah dasar adalah meningkatkan penerapan prinsip 3R limbah B3 secara internal (sampai dengan 100%) dan mengurangi biaya perawatan dan perbaikan jalan dengan meningkatnya kualitas lapisan tanah dasar. Pada awal tahun 2018, PTAMNT telah memulai kajian pemanfaatan abu batubara sebagai bahan lapisan tanah dasar (road base) dan telah memperoleh izin pemanfataan abu batubara sebagai substitusi bahan baku tanah lapisan dasar (subgrade) sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.337/Menlhk/Setjen/PLB.3/5/2019   tanggal 13 Mei 2019. Beberapa pengujian telah dilakukan sesuai persyaratan yang telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 dan dalam izin pemanfaatan,  termasuk diantaranya uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP), Loss on Ignition (LoI), Total Oksida Logam,  uji California Bearing Ratio (CBR) laboratorium dengan berbagai komposisi pencampuran tanah dan abu batubara, serta uji aktivitas radionuklida.  Hasil uji sampel campuran abu batubara menunjukan bahwa (1) semua hasil analisis TCLP berada di bawah baku mutu pada Lampiran III dan IV PP101 Tahun 2014, (2) nilai LoI sebesar 8,4%, (3) nilai total oksida logam (penjumlahan SiO2, Al2O3, dan Fe2O3) sebesar 66,1% (kelas C menurut ASTM C618012a dan SNI 2460:2014),  (4) pencampuran tanah dengan abu batubara dapat menaikkan nilai CBR (4-18%), dan (5) aktivitas radionuklida setiap parameter kurang dari 1Bq/gram.  Dinyatakan bahwa pencampuran abu batubara pada lapisan tanah dasar (road base) secara teknis dapat memberikan peningkatan kekuatan daya dukung tanah dasar dengan menaikkan hydraulic conductivity dan menurunkan permeabilitas tanah. Pemanfaatan ini (yang mana telah mendapatkan izin sesuai peraturan perundangan yang berlaku) dapat diaplikasikan pada jalan akses di area reklamasi timbunan batuan penutup dengan ketebalan 2.00 meter atau jalan umum di area sekitar Batu Hijau dengan ketebalan 0.50 meter. Komposisi abu batubara yang dicampurkan maksimal 50% dari berat total campuran tanah dasar Keywords: Abu batubara, Limbah B3, pemanfaatan, 3R  ABSTRACT Coal ash utilization (Fly Ash B409 dan Bottom Ash B410) that has been conducted by PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PTAMNT) in Batu Hijau Mine as cement substitute for concrete production was only be able to absorb 1.7% of the total coal ash produced. PTAMNT’s Coal Power Plant can produce ±1,000 m3 coal ash each month. The purposes of utilizing coal ash as road base material blend are to increase the principal application of hazardous waste 3R internally (up to 100%) and to reduce road maintenance and repair cost by increasing the road base quality. In the early 2018, PTAMNT has started the study to utilize coal ash as a road base material blend and acquired the permit based on The Decree of Minister of Environmental Affairs and Forestry Number SK.337/Menlhk/Setjen/PLB.3/5/2019 dated 13 May 2019. Several tests had been run according to the regulated requirements on Government Regulations Number 101 Year 2014, in which include Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) test, Loss on Ignition (LoI), Total Metal Oxide, California Bearing Ratio (CBR) laboratory test with several composition of blend between soil and coal ash, and radionuclide activity test. The result of the given test showed that (1) all TCLP analysis were below the quality standards written on Attachment III and IV PP101 Year 2014, (2) LoI value of 8.4%, (3) total metal oxide (addition of SiO2, Al2O3, dan Fe2O3) value of 66.1% (class C according to ASTM C618012a and SNI 2460:2014), (4) increased CBR value (4-18%) as a result of soil-coal ash blend, (5) radionuclide activity for each parameter is less than 1 Bq/gram. It is stated that coal ash blending on road base material can increase the strength capacity technically by increasing the hydraulic conductivity and reducing soil permeability. This utilization (which already obtained the permit pursuant to prevailing laws and regulations) can be applied on the access road of waste rock dump reclamation with 2,00 meter thickness or primary access road around Batu Hijau with 0.50 meter thickness. The maximum total composition of coal ash is 50% of the total weight of the road base. Keywords: Coal Ash, Hazardous Waste, Utilization, 3R
KAJIAN HIDROLOGI DAN SISTEM PENANGGULANGAN AIR HUJAN PADA PENAMBANGAN BIJIH NIKEL (STUDI KASUS PT. BHAKTI PERTIWI NUSANTARA DI SITE SEPO KECAMATAN WEDA UTARA KABUPATEN HALMAHERA TENGAH PROVINSI MALUKU UTARA) Karim, Razak; Azizi, Masagus Ahmad; Umar, Ruslan M; Nurany, Nurany
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.117

Abstract

ABSTRAK Hidrologi dilakukan penyelidikan dengan cara pengumpulan data untuk dianalisis terhadap data sekunder meteorologi (curah hujan, hari hujan, suhu udara, kelembaban, tata guna lahan, dan lain-lain) dari lokasi penyelidikan Pit 1 dan Pit 2 PT.Bhakti Pertiwi Nusantara. Dengan data Hidrologi merupakan informasi yang palin penting bagi dalam pengelolaan sistem penanggulangan air hujan, dikarenakan jumlah hujan dan hari hujan sangat berpengaruh terhadap sistem penambangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui data hidrologi guna dalam sistem penanggulangan air hujan untuk pemanfaatan pada perancangan tambang terbuka  khususnya di kemantapan lereng tambang. Penelitian ini dilakukan dengan cara pengumpalan data sekunder seperti data sebelumnya dan tersedia data, untuk data primer dilakukan secara langsung seperti pengamatan dan pengukuran lasngsung dilapangan. Analisis yang digunakan dengan Intensitas Curah Hujan, Debit Limpasan, dimensi saluran pengalihan air limpasan untuk mendapatkan hasil intensitas curah hujan di area pit. untuk debit limpasan diperoleh dari air berasal dari catchment area  periode ulang 5 tahunan, dengan mempertimbangkan umur tambang yang diperkirakan 10 tahun. Kata kunci: Hidrologi, Curah Hujan, Debit impasan   ABSTRACT Hydrology investigations are carried out by collecting data to be analyzed for secondary meteorological data (rainfall, rainy days, air temperature, humidity, land use, etc.) from the location of the Pit 1 and Pit 2 PT.Bhakti Pertiwi Nusantara investigations. Hydrological data is the most important information for managing rainwater management systems, because the amount of rain and rainy days is very influential on the mining system. This study aims to determine the hydrological data used in the rainwater control system for utilization in the design of open mines, especially in the stability of the mine slope. This research was conducted by secondary data coagulation such as previous data and available data, for primary data conducted directly such as observations and measurements in the field directly. The analysis used is the Rainfall Intensity, Runoff Discharge, runoff channel divert dimensions to get the results of rainfall intensity in the pit area. for runoff discharge obtained from water originating from the catchment area for the 5 year return period, taking into account the estimated mine life of 10 years. Keywords: Hydrology, Rainfall, Break Even Discharge
OPTIMASI BATUBARA TIPIS (THIN COAL SEAM) DI PIT A SITE SENAKIN PT ARUTMIN INDONESIA Pratama, Yogie Reza; Kahar, Abdul; Ridwan, Arif
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.52

Abstract

ABSTRAK Konservasi cadangan batubara adalah upaya dalam rangka optimalisasi pengelolaan, pemanfaatan, dan pendataan batubara secara terukur, efisien, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Pengelolaan ini dilaksanakan dengan cara melakukan proses penambangan sesuai dengan perencanaan untuk memperoleh recovery penambangan yang optimal serta mengendalikan dilusi dan kehilangan (losses) batubara. Di dalam KEPMEN ESDM No. 1827 K/30/MM/2018 lampiran VII disebutkan bahwa cut off thickness minimum batubara adalah 30 cm. Batas minimum ini diterapkan dalam rangka mengoptimalkan recovery penambangan dan meminimalisir adanya dilusi yang diperoleh selama proses penambangan. Risiko dari penggalian batubara dengan ketebalan kecil dari 30 cm adalah semakin besarnya potensi terjadinya dilusi. Hal ini dikarenakan semakin banyak luasan permukaan batubara yang bersentuhan langsung dengan material pengotor di bagian roof dan floor dibandingkan dengan penggalian batubara. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya losses saat menggunakan alat gali yang berukuran besar. Dilusi dan losses ini akan berdampak kepada menurunnya kuantitas, kualitas dan recovery pengolahan batubara. Dalam paper ini akan dibahas mengenai upaya konservasi batubara dari PT. Arutmin Indonesia Site Senakin di Pit A dengan melakukan kajian tentang optimasi penambangan lapisan batubara tipis (thin coal seam) dengan tebal minimum 20 cm. Batas ketebalan minimum ini merupakan batas optimal dari kemampuan peralatan yang digunakan di Senakin. Karakteristik Pit A yang memiliki beberapa sisipan di dalam batubara juga menjadi faktor kunci apakah batubara tipis tersebut layak untuk ditambang. Semakin tebal material sisipan maka kadar abu akan semakin tinggi dan ini akan menjadi acuan terkait keekonomisan batubara tersebut. Secara operasional penentuan ketebalan batubara ini dilakukan oleh Geologist secara aktual di lapangan. Selanjutnya dilakukan analisa sampel batubara tersebut dan jika secara kualitas layak untuk ditambang maka akan dilanjutkan ke dalam tahap operasional penambangan dengan menggunakan alat kelas 20 ton dan 30 ton serta dengan pengawasan khusus selama proses pembersihan, pengumpulan, pemuatan sampai dengan pengangkutan. Batubara tipis tersebut kemudian diolah oleh Washplant yang ada di Senakin dengan recovery pengolahan sekitar 79,3%. Dengan optimasi ini maka akan didapatkan tambahan batubara dengan range 20 – 30 cm sekitar 1,49% dari jumlah cadangan sebelumnya. Berdasarkan hasil dari metode penambangan dan pengolahan tersebut, batubara tipis di Pit A dapat dioptimalkan dalam rangka memenuhi konservasi batubara serta meningkatkan revenue perusahaan dan pemerintah. Kata Kunci :  Batubara tipis, Recovery penambangan, Recovery pengolahan, Konservasi batubara, Kadar Abu  ABSTRACT Coal reserve conservation is an effort to optimize the management, utilization and data collection of coal in a measured, efficient, responsible and sustainable manner. This Management is applied by carrying out the mining process in accordance with the plan to obtain optimal mining recovery with controlled coal dilution and losses.According to Ministerial Decree No. 1827 K / 30 / MM / 2018 in appendix VII stated that the minimum coal cut-off thickness is 30 cm. Coal thickness minimum limit is applied in order to optimize mining recovery and minimize dilution during the mining process. The risk of coal extraction with thickness less than 30 cm has extra potency for dilution because more of coal surface area directly contact with impurity materials on the roof and floor rather than coal excavation. That condition is exacerbated by the lost when using a large digging tool. Dilution and loss will have an impact to the decline of   the quantity, quality and recovery of coal processing. This paper will discussed about coal conservation efforts from PT. Arutmin Indonesia Site Senakin at Pit A. PT. Arutmin Indonesia conducting a study on optimizing  thin coal seam mining with a minimum thickness of 20 cm. Regarding to the  coal thickness minimum limit is the optimal limit of the equipment capabilities used at Senakin. The characteristic of Pit A which has several parting material in coal is also a key factor whether the thin coal is feasible to be mined or not. Parting material thickness will be impacted to the ash content and related to the coal economical. Coal thickness is measured by geologist in the field. Furthermore, the coal sample is analyzed and if it is qualified to be mined it will be proceed to the mining operation stage using 20 tons and 30 tons grade tools also with special supervision during the cleaning, collecting loading and hauling processes. Thin coal is processed using Washplant in Senakin with processing recovery around 79.3%. This optimization method will be resulted an additional coal with a range about 20-30cm around 1.49% of the amount of reserves. The result is thin coal in Pit A can be optimized in order to achieve coal conservation and increase company and government revenue. Keywords: Thin coal, mining recovery, recovery processing, coal conservation, ash content
TELEGRAM MESSENGER BOT FOR REALTIME MINE OPERATION REPORTS Ardhianto, Reza
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.68

Abstract

ABSTRAKInformasi realtime sangat penting untuk mendukung kegiatan operasional di tambang Batu Hijau PT. Amman Mineral Nusa tenggara. Selama ini salah satu metode yang digunakan dalam pendistribusian informasi realtime adalah dengan menggunakan MORS SMS Broadcaster yang telah dikembangkan oleh seksi Fleet Management System Data Analyst yang memanfaatkan layanan GSM Short Message Service (SMS) dari operator seluler. Namun seiring dengan bertambahnya informasi yang harus diberikan dan semakin banyak jumlah pengguna layanan tersebut menjadikan pendistribusian informasi menggunakan SMS semakin tidak efektif dari sisi biaya. Keterbatasan dari sisi format pesan jumlah karakter yang dapat dikirimkan menggunakan layanan SMS juga semakin menurunkan kualitas informasi yang dapat diberikan. Untuk mengatasi kekurangan yang ada di sistem sebelumnya, perlu dikembangkan sistem/layanan baru dalam pendistribusian informasi realtime yang lebih efisien dari sisi biaya dan dapat meningkatkan kualitasi informasi yang disampaikan. Dari perbandingan terhadap beberapa alternatif aplikasi yang sejenis, Telegram dipilih untuk digunakan dalam pengembangan sistem baru karena lebih unggul dalam beberapa parameter perbandingan yang telah ditetapkan. Penggunaan fitur Telegram Bot juga telah memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi biaya dan kualitas informasi laporan yang diberikan untuk mendukung kegiatan operasional dalam menjaga dan meningkatkan produktivitas tambang. Kata Kunci : informasi realtime, Short Message Service, Telegram, Bot, produktivitas tambang   ABSTRACT Realtime information is very important to support operational activities at PT. Amman Mineral Nusa Tenggara’s Batu Hijau mine. One of the methods used in the distribution of realtime information is to use MORS SMS Broadcaster which has been developed by the Fleet Management System Data Analyst section that utilizes GSM Short Message Service (SMS) services from cellular operators. But along with the increase in information that need to be provided and the increasing number of users of these service makes the distribution of information using SMS increasingly ineffective in terms of cost. Limitations in message format and the number of characters that can be sent in a single SMS also further degrades the quality of information that can be provided. To overcome the weaknesses that exist in the previous system, new systems / services need to be developed to distribute realtime information that is more efficient in terms of cost and can improve the quality of information delivered. From a comparison of several similar application alternatives, Telegram was chosen for use in the development of a new system because it was superior in a number of predetermined comparison parameters. The use of the Telegram Bot feature has also had a significant impact on the cost efficiency and quality of report information delivery to support operational activities in maintaining and increasing mine productivity.  Keywords : realtime information, Short Message Service, Telegram, Bot, mine productivity 
REKAYASA BAHAN PELEDAK PADA STRUKTUR KOMPLEKS DI LITOLOGI LIMESTONE UNTUK OPTIMALISASI PERFORMANCE DALAM UPAYA MENURUNKAN BIAYA PENAMBANGAN Sukmara, Teja; Putra, Thomas Adi; Surya, Muhammad
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.80

Abstract

ABSTRAK Limestone sebagai bahan utama pembuat semen adalah salah satu batuan sedimenter yang memiliki karakter struktur kompleks, berpori, dan fractury serta kadang dibeberapa tempat membentuk gua atau rongga yang cukup lebar. Sehingga dalam proses pemberaian batuan dengan menggunakan metode peledakan sering menjadi masalah dimana hasil dari fragmen peledakan masih terdapat boulder yang besar atau bahkan tidak bisa digali sama sekali oleh excavator karena adanya loose energy peledakan yang menyebabkan performance tidak optimal. Energetic Material Centre (EMC) di PT. Dahana (Persero) sebagai salah satu pusat pengembangan teknologi baik produk maupun aplikasi dalam kegiatan peledakan, telah merancang suatu jenis produk baru yang sesuai di kondisi struktur batuan limestone. Dengan density bahan peledak antara 0,7-0,8 gr/cc, komposisi jumlah kandungan Ammonium Nitrate yang lebih kecil sedangkan VOD yang dihasilkan yaitu antara 3.800 m/s – 4.250 m/s (Sumber: Data Lab Rekayasa EMC PT. Dahana Persero) lebih besar dari VOD ANFO yaitu 3.000 – 3.500 m/s dalam diameter 4,5 inch (Sumber: ISEE Blaster’s Handbook 17th Edition). Produk baru dengan brand Dawagel ini merupakan bahan peledak curah berbentuk gel yang sangat fleksibel terhadap rongga ataupun pori dalam lubang, sehingga mampu mengurangi effect decoupling dan setelah reaksi sempurna ikatan gel antar unsur sangat kuat sehingga akan tetap mempertahankan formasi dalam lubang atau tidak melebur kedalam rongga maupun celah seperti yang sering terjadi dengan bahan peledak cair lainnya.  Hasil peledakan dengan menggunakan produk Dawagel di kuari PT. Semen Tonasa telah membuktikan performance hasil peledakan yang memuaskan. Fragmentasi yang dihasilkan adalah kurang dari 30 cm sebanyak 89,15%, VOD produk hingga mencapai 4.128 m/s pada diameter 4,5 inch. Secara keekonomisan telah berhasil mengurangi biaya peledakan sebesar IDR 114.000.000, - dalam 15 kali peledakan selama periode percobaan. Kata Kunci: struktur kompleks, loose energy; Dawagel, ekonomis  ABSTRACT Limestone as the main material for making cement is one of the sedimentary rocks which has complex structures, porous, and fractur structural characteristics and sometimes in several places forms caves or cavities that are quite wide. So that in the process of rock dispersion using the blasting method is often raise a problem where the results of the blasting fragments are still large boulder or even cannot be excavated at all by the excavator because loose energy of explosives which causes the performance is not optimal. Energetic Material Centre (EMC) at PT. Dahana (Persero) as one of the technology developments canters both products and applications in blasting activities, has designed a new type of product that is suitable in limestone rock structure conditions. With explosive density between 0.7-0.8 gr / cc, the composition of the amount of Ammonium Nitrate content is smaller while the VOD produced is between 3,800 m / s - 4,250 m / s (Source: EMC Engineering Lab Data of PT. Dahana Persero ) is greater than VOD ANFO, which is 3,000 - 3,500 m / s in 4.5 inch diameter (Source: ISEE Blaster's Handbook 17th Edition). This new product with the brand is Dawagel, it is a bulk gel explosive which is very flexible to cavities or pores in the hole, so it can reduce the decoupling effect and after perfect reaction of the gel bond between the elements is very strong so that it will maintain formation in the hole or not melted into the cavity or fissures as is often the case with other liquid explosives. The results of blasting using Dawagel products at PT. Semen Tonasa has proven satisfactory blasting performance. The resulting fragmentation was less than 30 cm as much as 89.15%, the product VOD reached 4,128 m / s at a diameter of 4.5 inches. Economically it has succeeded in reducing blasting costs by IDR 114,000,000 in 15 blasting times during the trial period. Keyword : struktur kompleks, loose energy; Dawagel, ekonomis
PERENCANAAN IN PIT DUMP (IPD) PIT D2 UNTUK OPPORTUNITY REDUCE DISTANCE DAN MITIGASI DARI BAHAYA GEOTEKNIK BLOK 1-4, BINUNGAN MINE OPERATION 1 – PT. BERAU COAL Endriantho, Muhammad; Ardiansyah, Pandu Zea; Prabudi, Alex
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.96

Abstract

ABSTRAK Pit D2 merupakan salah satu Pit dengan metode tambang terbuka di PT. Berau Coal yang berlokasi di Binungan Mine Operation-1. Pit D2 di kerjakan oleh PT. Sapta Indra Sejati (PT. SIS) sebagai mitra kerja dari PT Berau Coal. Target  produksi tahun 2019 Pit D2 yaitu overburden 16.117.353 BCM, Coal 1.473.686 MT dengan SR 9,59. Pit D2 berada disisi selatan sungai Kelay dan merupakan akses utama jalan hauling coal BMO1 dan transportasi karyawan dari Rumah / mess ke site Tambang BMO1 dan BMO2.Secara LOM, Plan Disposal terdapat pada Out Pit Dump (OPD) D2 dengan kapasitas disposal 30 MBCM pada jarak 2,6 Km dan In Pit Dump K dengan kapasitas disposal 6 MBCM pada jarak 3,2 Km. In Pit Dump K harus dilakukan karena merupakan disposal material rawa Pit D2 tahun 2019 sebanyak 6 MBCM. Salah satu opportunity untuk menurunkan angka distance adalah dengan melakukan In Pit Dump Pit D2 dengan percepatan finishing pit sehingga didapatkan distance 1,8 Km dengan kapasitas 5 MBCM. Kapasitas volume In Pit Dump terbatas dikarenakan perlu kajian geoteknik sehingga disposal In Pit Dump aman dikerjakan. Adapun overall distance 2019 adalah 2,4 km.Secara geoteknik, Pit D2 terdapat struktur geologi kompleks membentuk lembah lipatan (syncline) dan punggung lipatan (anticline) dengan batuan yang bersifat low strength. Adapun seam utama (main seam) batubara yaitu D-2, litologi area Pit D2 memiliki kemiringan perlapisan (dip) 6-10o. Hasil cross section pada desain rencana Pit dengan litologi batuan memperlihatkan adanya potensi bedding undercut di sisi side wall utara. Historical longsor di side wall telah terjadi sebanyak 2 kali dalam waktu 1 Tahun, hasil analisis geoteknik secara LOM desain terjadinya longsoran dikarenakan desain yang membentuk bedding undercut dengan bidang gelincir dibawah seam D-2 yang menyebabkan terjadinya longsoran bidang, ditambah banyaknya joint vertical yang membuat terjadinya longoran toppling. PT. Berau Coal tidak memperbolehkan adanya pemotongan bedding undercut dan masuk dalam 11 Golden Rules PT Berau Coal. Untuk melakukan bedding under cut diperlukan kajian geoteknik untuk analisisnya.Adanya opportunity short distance dan perencanaan mitigasi bahaya geoteknik maka Mine Planner dan Geotechnic Engineer membuat perencanaan  In Pit Dump Pit D2 secara paralel dengan kemajuan tambang, sehingga dari segi perencanaan dibutuhkan timing dan sequence yang tepat untuk mengeksekusi area sidewall utara.