cover
Contact Name
Richa Mardianingrum
Contact Email
j.pharmacosript@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
j.pharmacosript@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pembela Tanah Air No.177, Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46115
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Pharmacoscript
ISSN : 26224941     EISSN : 26851121     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Pharmacoscript merupakan jurnal penelitian yang dikelola oleh Prodi Farmasi dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Perjuangan Tasikmalaya (P-ISSN: 2622-4941 E-ISSN: 2685-1121) Jurnal ini merupakan media publikasi penelitian dan review artikel pada semua aspek ilmu farmasi yang bersifat inovatif, kreatif, original dan didasarkan pada scientific yang diterbitkan 2 kali dalam 1 tahun yakni pada bulan Agustus dan Februari. Jurnal ini memuat bidang khusus di farmasi seperti kimia farmasi, teknologi farmasi, farmakologi, biologi farmasi, farmasi klinik, dan bioteknologi farmasi.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "vol. 9 no. 2 (2026): pharmacoscript" : 15 Documents clear
COST-UTILITY ANALYSIS OF METFORMIN AND GLIQUIDONE IN PATIENTS WITH TYPE 2 DIABETES MELLITUS AT A REGIONAL HOSPITAL IN INDONESIA Yusransyah Yusransyah; Nurfadila Siti; Nabillah Deya Adiby; Udin Baha
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2655

Abstract

ABSTRACT Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic disease requiring lifelong treatment and imposing a considerable economic burden on healthcare systems. This study aimed to evaluate the cost–utility of metformin and gliquidone therapy among patients with T2DM treated at a regional hospital in Indonesia. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted among 60 outpatients with T2DM between May and June 2025, including 40 patients receiving metformin and 20 receiving gliquidone. Direct medical costs were obtained from medical records, while health utility was assessed using the EQ-5D-5L questionnaire and converted into utility scores using the Indonesian EQ-5D-5L value set. Cost–utility analysis was performed using the Average Cost–Utility Ratio (ACUR) and Incremental Cost–Utility Ratio (ICUR), with health utility scores as the effectiveness outcome. Metformin therapy demonstrated lower direct medical costs than gliquidone (IDR 140,225 vs IDR 183,687). Mean utility scores were 0.776 and 0.749, respectively. Metformin produced the lowest ACUR (IDR 180,703 per utility score), whereas gliquidone showed an ACUR of IDR 245,243 per utility score. Incremental analysis indicated that gliquidone incurred higher treatment costs while providing lower health utility than metformin, indicating that gliquidone was economically dominated by metformin. Overall, metformin demonstrated the most favorable cost–utility profile and remains the preferred first-line therapy for patients with T2DM, while gliquidone may be considered in selected clinical conditions.
FORMULASI TABLET HISAP EKSTRAK ETANOL UMBI WORTEL DENGAN VARIASI PULVIS GUMMI ARABICI DAN MANITOL SEBAGAI KANDIDAT ANTIJAMUR ORAL Nurulhuda Siti Salwa; Rantika Nopi; Sriarumtias Framesti Frisma; Hamidah Mida; Sujana Dani
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2657

Abstract

Kandidiasis oral merupakan infeksi jamur pada rongga mulut yang umumnya disebabkan oleh proliferasi Candida albicans. Umbi wortel (Daucus carota L.) berpotensi sebagai antijamur alami karena mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin. Penelitian ini bertujuan memformulasikan ekstrak etanol umbi wortel menjadi sediaan tablet hisap dengan variasi konsentrasi Pulvis Gummi Arabici (PGA) sebagai bahan pengikat dan manitol sebagai bahan pemanis, serta mengevaluasi karakteristik fisik dan tingkat kesukaan responden. Tablet hisap dibuat menggunakan metode granulasi basah dalam lima formula, yaitu Formula I (PGA 2,5% : manitol 17,5%), Formula II (5% : 15%), Formula III (10% : 10%), Formula IV (15% : 5%), dan Formula V (17,5% : 2,5%). Data dianalisis menggunakan uji Shapiro–Wilk, dilanjutkan dengan One Way ANOVA atau uji Kruskal–Wallis sesuai distribusi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi PGA dan manitol tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar air, sudut diam, waktu alir, dan indeks kompresibilitas granul (p>0,05), tetapi berpengaruh signifikan terhadap bobot jenis nyata, bobot jenis mampat, kekerasan tablet, waktu hancur, kerapuhan, dan keseragaman ukuran tablet (p<0,05). Formula IV (PGA 15% dan manitol 5%) menghasilkan karakteristik fisik paling optimal serta tingkat kesukaan responden tertinggi (78%), sehingga berpotensi dikembangkan sebagai kandidat tablet hisap antijamur oral.
FORMULASI LIKUISOLID TABLET ASAM MEFENAMAT DENGAN VARIASI PROPILEN GLIKOL DAN AVICEL PH 102 TERHADAP PENINGKATAN LAJU DISOLUSI Putri Yola Desnera; Anugrah Muhammad Rifqie Satria; Rahmi Kamilia; Andriyannto Adit
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2756

Abstract

Asam mefenamat merupakan obat antiinflamasi dan analgesik yang termasuk dalam Biopharmaceutical Classification System (BCS) kelas II, sehingga memerlukan upaya peningkatan kelarutan untuk memperoleh absorpsi yang optimal. Likuisolid merupakan salah satu teknologi formulasi baru yang dapat digunakan untuk meningkatkan laju disolusi obat yang sukar larut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi perbandingan propilen glikol dan Avicel PH 102 terhadap sifat fisik tablet likuisolid asam mefenamat. Metode penelitian meliputi pengumpulan bahan baku, pencampuran dengan teknik likuisolid, evaluasi massa cetak asam mefenamat, pembuatan tablet dengan metode kempa langsung, evaluasi tablet, serta analisis data menggunakan uji ANOVA satu arah. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan mutu fisik massa cetak yang ditetapkan. Pada evaluasi tablet, terdapat perbedaan bermakna antar formula, sedangkan uji disolusi menunjukkan bahwa F1 dan F2 mencapai nilai Q >80% pada menit ke-20, F3 pada menit ke-30, dan tablet pembanding (asam mefenamat film-coated) pada menit ke-30, (asam mefenamat non film-coated)  pada menit ke-35. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa formula F2 dengan perbandingan 1:11 merupakan formula terbaik.
FORMULASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF DARI EKSTRAK DAUN GEDI (Abelmoschus manihot L.) DENGAN VARIASI HUMEKTAN Timburas Mitra Wynne; Tatuh Heru; Buloglabna Markus
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2810

Abstract

Penyakit inflamasi kulit atau jerawat, utamanya dipicu oleh hiperaktivitas kelenjar sebaceous yang terinfeksi bakteri Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes. Daun gedi (Abelmoschus manihot L.) diketahui mengandung metabolit sekunder berupa flavonoid, alkaloid, saponin, serta tanin yang memiliki khasiat antibakteri terhadap kedua bakteri tersebut. Studi eksperimental ini dilakukan untuk menganalisis dampak penggunaan variasi humektan—yakni propilen glikol, gliserin, dan sorbitol—pada konsentrasi 15% terhadap kualitas fisik sediaan masker gel peel off berbahan dasar ekstrak etanol daun gedi. Pengujian fisik mencakup evaluasi organoleptis, homogenitas, nilai pH, daya lekat, daya sebar, viskositas, durasi pengeringan, serta uji stabilitas (cycling test). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa seluruh formula memiliki karakteristik visual berupa warna coklat yang seragam, homogen, serta nilai pH 5 yang masuk dalam standar sediaan topikal. Secara rinci, Formula III (sorbitol) menunjukkan daya lekat optimal (8,25 ± 0,18 detik), Formula I (propilen glikol) memberikan daya sebar terluas (5,57-6,43 ± 0,43cm) dengan waktu kering tercepat (24,66±0,42menit), dan Formula II (gliserin) menghasilkan viskositas terbaik (3,1186 ± 385 cPs) yang paling sesuai dengan standar. Selain itu, seluruh formula terbukti stabil melalui uji cycling test. Sebagai simpulan, perbedaan jenis humektan memberikan pengaruh signifikan terhadap sifat fisik sediaan, di mana Formula II (gliserin) terpilih sebagai formula yang paling unggul berdasarkan parameter viskositasnya.
POTENSI FITOKIMIA DAN AKTIVITAS FARMAKOLOGIS KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) DAN ARABICA (Coffea arabica) SEBAGAI AGEN ANTI-INFLAMASI: TINJAUAN SISTEMATIS DAN ANALISIS BIBLIOMETRIK Lesmana Citra; Susetyarini Rr. Eko; Iffan Mochamad
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2823

Abstract

Peradangan kronis merupakan pemicu utama berbagai penyakit degeneratif yang memerlukan intervensi nutrisi strategis. Kopi diyakini memiliki potensi farmakologis sebagai agen anti-inflamasi, namun perbandingan efikasi antar spesies dan mekanisme molekulernya perlu dipetakan secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi anti-inflamasi kopi melalui desain metode campuran yang mengintegrasikan Systematic Literature Review (SLR) dan analisis bibliometrik. Mengacu pada protokol PRISMA 2020, pencarian literatur dilakukan pada basis data Scopus (periode 2016–2026), yang kemudian diekstraksi menjadi 11 artikel eksperimental utama  mencakup studi spesies-spesifik maupun studi pendukung mekanistik pada senyawa bioaktif kunci dan divisualisasikan menggunakan perangkat lunak VOSviewer. Hasil pemetaan bibliometrik menunjukkan pergeseran tren riset menuju pembuktian mekanistik tingkat molekuler. Sintesis kualitatif mengindikasikan bahwa kopi Robusta (Coffea canephora) berpotensi memiliki efikasi terapeutik yang lebih unggul dibandingkan Arabika (Coffea arabica) berkat densitas asam klorogenat (CGA) yang lebih tinggi, meskipun bukti bioaktivitas langsung pada Robusta masih terbatas dibandingkan Arabika. Secara mekanistik, matriks senyawa kopi bekerja sinergis dengan menekan aktivasi kompleks TLR4/MyD88 dan menghambat jalur persinyalan Nuclear Factor-kappa B (NF-κB), sekaligus mengaktivasi pertahanan antioksidan Nrf2. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa ekstrak kopi utuh, khususnya dari spesies Robusta, berprospek tinggi sebagai terapi anti-inflamasi alami, meskipun uji klinis lanjutan pada manusia dan studi bioaktivitas Robusta yang lebih banyak mutlak diperlukan untuk standarisasi dosis dan penguatan generalisasi.Mengacu pada protokol PRISMA 2020, pencarian literatur dilakukan pada basis data Scopus (periode 2016–2026), yang kemudian diekstraksi menjadi 11 artikel eksperimental utama dan divisualisasikan menggunakan perangkat lunak VOSviewer. Hasil pemetaan bibliometrik menunjukkan pergeseran tren riset menuju pembuktian mekanistik tingkat molekuler. Sintesis kualitatif mengonfirmasi bahwa kopi Robusta (Coffea canephora) memiliki efikasi terapeutik yang lebih unggul dibandingkan Arabika (Coffea arabica) berkat densitas asam klorogenat (CGA) yang lebih tinggi. Secara mekanistik, matriks senyawa kopi bekerja sinergis dengan menekan aktivasi kompleks TLR4/MyD88 dan menghambat jalur persinyalan Nuclear Factor-kappa B (NF-κB), sekaligus mengaktivasi pertahanan antioksidan Nrf2. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa ekstrak kopi utuh, khususnya dari spesies Robusta, berprospek tinggi sebagai terapi anti-inflamasi alami, meskipun uji klinis lanjutan pada manusia mutlak diperlukan untuk standarisasi dosis.
EFFECTS OF THE ETHANOL EXTRACT OF Coleus scutellarioides ON BODY WEIGHT GAIN, ABDOMINAL CIRCUMFERENCE, AND LIVER INDEX IN HIGH-FAT DIET-FED MICE Ligarsari Dwi Lista; Halimah Eli; Sumiwi Sri Adi; Levita Jutti
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2834

Abstract

Insulin resistance (IR) is characterized by a reduced responsiveness of insulin-sensitive tissues to endogenous insulin. Excessive caloric intake promotes the accumulation of free fatty acids in skeletal muscle and the liver, resulting in the formation of lipotoxic metabolites that impair insulin signaling and glucose uptake. Although Coleus scutellarioides has demonstrated antihyperglycemic activity, its potential to ameliorate obesity-associated metabolic disturbances, particularly high-fat diet-induced insulin resistance, remains largely unexplored. IR is also associated with visceral fat accumulation, which is strongly correlated with increased body weight. Flavonoids such as quercetin have been reported to ameliorate IR in high-fat diet-fed mice. This study aimed to evaluate the effects of ethanolic extract of C. scutellarioides on body weight gain, abdominal circumference, and liver index in high-fat diet-induced mice. Twenty-five male Swiss Webster mice were randomly divided into five groups (n = 5/group), including normal control, negative control, metformin-treated, EECS 250 mg/kg, and EECS 500 mg/kg. Data were analyzed using one-way ANOVA followed by the LSD post hoc test. EECS at doses of 250 mg/kg and 500 mg/kg significantly attenuated body weight gain by 15.06% and 13.34%, respectively, while also reducing abdominal circumference and liver index compared with the negative control group (p < 0.05). These findings suggest that EECS possesses anti-obesity activity and may ameliorate metabolic alterations associated with high-fat diet feeding.
ANALISIS UTILITAS BIAYA REGIMEN CHOP DIBANDINGKAN RCHOP PADA PASIEN LIMFOMA NON-HODGKIN DI RSUP DR. SARDJITO MENGGUNAKAN EQ-5D-5L: STUDI KOHORT Ma&#039;rifah Ma&#039;rifah; Supadmi Woro; Irham Lalu Muhammad; Muliawati Retno; Gustinanda Rizky; Khair Riat El
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2842

Abstract

Secara global Limfoma Non-Hodgkin (LNH) merupakan salah satu keganasan hematologi dengan angka kejadian tertinggi dan menempati urutan ke-13 di dunia. Prevalensi di Asia selama lima tahun terakhir mencapai 710.721 kasus (40,9%) dengan 235.442 kasus baru (42,5%). Regimen Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vinkristine, dan Prednisone (CHOP) merupakan kemoterapi konvensional, sedangkan RCHOP (Rituximab Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vinkristine, dan Prednisone) merupakan imunokemoterapi dengan penambahan rituximab sebagai antibodi monoklonal anti-CD20 yang telah terbukti meningkatkan luaran klinis namun juga meningkatkan biaya terapi, sehingga diperlukan evaluasi farmakoekonomi. Penelitian ini bertujuan menganalisis biaya terapi medis langsung, kualitas hidup, dan utilitas biaya regimen CHOP dan RCHOP pada pasien LNH di RSUP Dr. Sardjito. Penelitian observasional kohort prospektif ini dilakukan dari perspektif rumah sakit dengan periode pengamatan selama satu siklus kemoterapi. Biaya medis langsung diperoleh dari rekam medis dan sistem pembiayaan rumah sakit. Kualitas hidup diukur menggunakan EQ-5D-5L dan dikonversi menjadi nilai utilitas menggunakan Indonesian EQ-5D-5L Value Set, kemudian dihitung Quality-Adjusted Life Years (QALYs) dan Incremental Cost-Utility Ratio (ICUR). Efektivitas biaya dinilai berdasarkan ambang batas cost-effectiveness sebesar satu kali Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia, tanpa dilakukan analisis sensitivitas. Sebanyak 60 pasien dianalisis, masing-masing 30 pasien pada kelompok CHOP dan RCHOP. Kelompok RCHOP memiliki kualitas hidup yang lebih baik (p<0,05), dengan nilai utilitas 0,97 dibandingkan 0,71 pada CHOP. Rata-rata biaya medis langsung terapi CHOP sebesar Rp 1.794.838 dan RCHOP sebesar Rp 7.930.518. Nilai ICUR sebesar Rp 316.762/QALY menunjukkan bahwa penambahan rituximab pada regimen CHOP memiliki cost-utility yang baik meskipun meningkatkan biaya terapi.
ANALISIS PERBANDINGAN KADAR AKRILAMIDA PADA PRODUK OLAHAN AYAM BERBUMBU DAN TIDAK BERBUMBU HASIL PEMBAKARAN MENGGUNAKAN METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT) Azahra Risma; Tuslinah Lilis; Fathurrohman Mochamad
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2848

Abstract

Senyawa akrilamida diketahui dapat muncul pada pangan yang diproses pada temperatur tinggi akibat terjadinya reaksi Maillard, yang melibatkan interaksi antara asam amino asparagin dengan gula pereduksi. Senyawa ini menjadi perhatian karena bersifat neurotoksik, genotoksik, dan berpotensi karsinogenik. Penelitian ini bertujuan membandingkan kadar akrilamida pada ayam bakar berbumbu dan tanpa bumbu menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Sampel yang digunakan berupa tiga bagian dada ayam dengan tiga kali ulangan analisis. Ayam bakar berbumbu dimarinasi menggunakan bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, garam, dan kecap, sedangkan sampel tanpa bumbu dibakar tanpa marinasi. Metode analisis divalidasi melalui uji linearitas, presisi, akurasi, batas deteksi (LOD), dan batas kuantifikasi (LOQ). Hasil validasi menunjukkan metode memenuhi kriteria dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,9996, presisi (%RSD) 0,370%, akurasi (% recovery) 85,63–108,34%, LOD 0,121 ppm, dan LOQ 0,367 ppm. Hasil analisis menunjukkan kadar akrilamida pada ayam bakar tanpa bumbu sebesar 7,12 ppm dan ayam bakar berbumbu sebesar 15,80 ppm. Kadar yang lebih tinggi pada ayam bakar berbumbu diduga berkaitan dengan penambahan kecap yang mengandung gula pereduksi sehingga berpotensi meningkatkan pembentukan akrilamida selama pembakaran. Secara deskriptif, penggunaan bumbu marinasi yang disertai kecap tidak menunjukkan penurunan kadar akrilamida pada ayam bakar. Kadar akrilamida pada kedua sampel melebihi batas acuan FDA sebesar 2 ppm sehingga menjadi perhatian dalam aspek keamanan pangan.
THE ETHANOL EXTRACT OF Piper sarmentosum Roxb. IMPROVES METABOLIC PARAMETERS IN HIGH-FAT DIET-INDUCED MICE Khoiroh Itsna Rofiidatul; Levita Jutti; Sumiwi Sri Adi
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2851

Abstract

A high-fat diet (HFD) is a major risk factor for insulin resistance (IR), obesity, and metabolic disorders. Flavonoids have been reported to attenuate IR and obesity-related metabolic alterations in experimental animal models. As Piper sarmentosum Roxb. leaves are rich in flavonoids and phenolic compounds, this study aimed to evaluate the effects of the ethanol extract of P. sarmentosum leaves (EEPS) on body weight, abdominal circumference, and liver index in HFD-fed mice. Mice were fed an HFD to induce IR and treated with EEPS at different doses. EEPS at 250 mg/kg significantly attenuated HFD-induced increases in body weight gain (12.80%), abdominal circumference (8.44%), and liver index (6.87%) compared with the negative control group (p < 0.05). These findings suggest that EEPS attenuates HFD-induced increases in body weight, abdominal adiposity, and liver index in mice.
PENGGUNAAN MEROPENEM PADA PASIEN RAWAT INAP: RASIONALITAS BERDASARKAN METODE GYSSENS DAN BIAYA MEDIS LANGSUNG Saputra Erwin Yuliana; Sukmawati Ika Kurnia; Fatin Mia Nisrina Anbar
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2886

Abstract

Penggunaan meropenem sebagai antibiotik golongan karbapenem perlu dilakukan secara rasional untuk menekan resistensi antimikroba dan mengoptimalkan penggunaan antibiotik di rumah sakit. Namun, bukti mengenai ketepatan penggunaan meropenem serta hubungannya dengan biaya medis langsung pada pasien yang menjalani perawatan inap masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi rasionalitas penggunaan meropenem menggunakan metode Gyssens serta menganalisis hubungannya dengan biaya medis langsung. Penelitian observasional analitik dengan desain retrospektif melibatkan 297 pasien dewasa dengan berbagai diagnosis klinis yang mendapatkan terapi meropenem selama menjalani perawatan di rumah sakit. Rasionalitas penggunaan antibiotik dievaluasi menggunakan metode Gyssens, sedangkan biaya medis langsung dihitung dari perspektif rumah sakit. Perbedaan biaya antara kelompok rasional dan tidak rasional dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney, sedangkan faktor-faktor yang berkaitan dengan total biaya medis langsung dianalisis menggunakan regresi linear multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 226 pasien (76,1%) menerima terapi meropenem secara rasional, sedangkan 71 pasien (23,9%) tergolong tidak rasional, terutama akibat ketidaktepatan pemilihan antibiotik, durasi terapi yang melebihi rekomendasi, dan ketidaktepatan dosis. Pada analisis bivariat, kelompok rasional memiliki median biaya antibiotik yang lebih rendah (Rp378.000 [IQR:331.154] vs Rp590.292 [IQR:615.390]), tetapi median total biaya medis langsung lebih tinggi (Rp12.719.782 [IQR:20.364.548] vs Rp8.608.013 [IQR:13.705.190]). Namun, setelah penyesuaian terhadap faktor perancu, rasionalitas penggunaan meropenem tidak berhubungan secara independen dengan total biaya medis langsung (p=0,446). Penggunaan meropenem yang rasional berkaitan dengan biaya antibiotik yang lebih rendah, tetapi tidak berhubungan secara independen dengan total biaya medis langsung, yang lebih dipengaruhi oleh tingkat keparahan penyakit, kebutuhan tindakan medis, dan kompleksitas pelayanan.

Page 1 of 2 | Total Record : 15