cover
Contact Name
Misriyani
Contact Email
misriyani85@gmail.com
Phone
+6281334845085
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Diponegoro No.39 Palu
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Medika Alkhairaat : Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan
Published by Universitas Alkhairaat
ISSN : 2657179X     EISSN : 26567822     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan aims to provide both national and international forums to encourage interdisciplinary discussions and contribute to the advancement of medicine, benefiting readers and authors by accelerating the dissemination of research information and providing maximum access to scientific communication.
Articles 222 Documents
IMPENDING RESPIRATORY FAILURE, BRONKOPNEUMONIA DAN PERTUSIS MALIGNANT PADA BAYI USIA 1 BULAN 16 HARI: SEBUAH LAPORAN KASUS Thomas Preldho Sabono; Ria R. Sukur; Rifah Z. Soumena; Sri W. Djoko; Rahmi M. Ambon; Zubaidah Hehanusa
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.361

Abstract

ABSTRAK Infeksi saluran napas bawah masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak, terutama bayi. Kombinasi bronkopneumonia dengan pertusis malignant dapat memperberat kondisi dan menyebabkan impending respiratory failure yang berpotensi mengancam nyawa. Tujuan: Melaporkan kasus impending respiratory failure, bronkopneumonia dan pertusis malignant pada bayi usia 1 bulan 16 hari yang dirawat di RS Tk II dr. J.A. Latumeten, Ambon. Kasus: Seorang bayi laki-laki 1 bulan 16 hari datang dengan keluhan sesak napas, batuk berdahak, dan demam sejak satu minggu sebelum masuk rumah sakit. Pemeriksaan fisik menunjukkan takipnea (RR 69x/menit), nadi 190x/menit, serta saturasi oksigen 90% dengan udara ruangan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukositosis berat (WBC 98.000 µL), trombositosis (PLT 922.000/µL), anemia (Hb 9,7 g/dL), serta peningkatan neutrofil (79,9%). Diagnosis ditegakkan sebagai impending respiratory failure, bronkopneumonia dan pertusis malignant. Pasien mendapatkan terapi suportif berupa pemberian oksigenasi, cairan intravena, antipiretik, antibiotik, mukolitik, serta terapi tambahan sesuai kondisi klinis. Pada follow-up hari ke-2, demam menghilang tetapi sesak dan batuk berdahak masih menetap, serta status vital tidak stabil. Kesimpulan: impending respiratory, bronkopneumonia dan pertusis malignant memerlukan perhatian yang serius, diagnosis dan penatalaksanaan dini, termasuk pemberian antibiotik serta dukungan ventilasi, sangat penting untuk mencegah perburukan menuju gagal napas sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pada bayi. ABSTRACT Lower respiratory tract infections remain the leading cause of morbidity and mortality in children, especially infants. The combination of bronchopneumonia and malignant pertussis can worsen the condition and cause impending respiratory failure, which can be life-threatening. Objective: To report a case of impending respiratory failure, bronchopneumonia, and malignant pertussis in a 1-month-old infant who was treated at Dr. J.A. Latumeten Hospital, Ambon. Case: A 1-month-old male infant presented with complaints of shortness of breath, cough with phlegm, and fever since one week before admission to the hospital. Physical examination showed tachypnea (RR 69x/minute), pulse 190x/minute, and oxygen saturation of 90% with room air. Laboratory tests showed severe leukocytosis (WBC 98,000 µL), thrombocytosis (PLT 922,000/µL), anemia (Hb 9.7 g/dL), and increased neutrophils (79.9%). The diagnosis was impending respiratory failure, bronchopneumonia, and malignant pertussis. The patient received supportive therapy in the form of oxygenation, intravenous fluids, antipyretics, antibiotics, mucolytics, and additional therapy according to clinical condition. On the second day of follow-up, the fever disappeared but shortness of breath and cough with phlegm persisted, and vital signs remained unstable. Conclusion: Impending respiratory failure, bronchopneumonia, and malignant pertussis require serious attention. Early diagnosis and management, including antibiotic administration and ventilatory support, are crucial to prevent deterioration into respiratory failure, thereby reducing morbidity and mortality rates in infants.
PENGARUH HIGIENE LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT KECACINGAN PADA ANAK USIA SEKOLAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARUWISI Muhammad Fajar Qusyairi; Nurfachanti Fattah; Dhian Karina Aprilani Hattah; Santriani Hadi; Windy Nurul Aisyah; Ayu Puspitasari; Nungki Mahesarani
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.443

Abstract

ABSTRAK Penyakit kecacingan merupakan masalah kesehatan lingkungan yang prevalensinya masih tinggi pada anak sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aspek higiene lingkungan terhadap kejadian kecacingan di wilayah kerja Puskesmas Karuwisi. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional terhadap 70 responden anak usia 6-12 tahun. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, observasi lingkungan, dan pemeriksaan laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian kecacingan sebesar 34,3%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara ketersediaan air bersih (p=0,024), pengelolaan air limbah (p=0,018), sarana pembuangan kotoran (p<0,001), dan pengelolaan sampah (p=0,016) dengan kejadian kecacingan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah keempat aspek higiene lingkungan berpengaruh signifikan terhadap infeksi cacing pada anak, dengan sarana pembuangan kotoran sebagai faktor risiko yang paling dominan. Diperlukan upaya peningkatan sanitasi dasar dan edukasi berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah tersebut. ABSTRACT Helminthiasis is an environmental health problem with a high prevalence among school-aged children. This study aims to analyze the influence of environmental hygiene aspects on the incidence of helminthiasis in the Karuwisi Health Center working area. This research is an analytical observational study with a cross-sectional design involving 70 respondents aged 6-12 years. Data collection was conducted through questionnaires, environmental observations, and laboratory examinations. The results showed that the incidence rate of helminthiasis was 34.3%. Bivariate analysis indicated a significant relationship between clean water availability (p=0.024), wastewater management (p=0.018), excreta disposal facilities (p<0.001), and waste management (p=0.016) with the incidence of helminthiasis. The conclusion of this study is that all four aspects of environmental hygiene significantly influence worm infections in children, with excreta disposal facilities being the most dominant risk factor. Efforts to improve basic sanitation and continuous education for the community in the area are highly necessary.