cover
Contact Name
Misriyani
Contact Email
misriyani85@gmail.com
Phone
+6281334845085
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Diponegoro No.39 Palu
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Medika Alkhairaat : Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan
Published by Universitas Alkhairaat
ISSN : 2657179X     EISSN : 26567822     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan aims to provide both national and international forums to encourage interdisciplinary discussions and contribute to the advancement of medicine, benefiting readers and authors by accelerating the dissemination of research information and providing maximum access to scientific communication.
Articles 240 Documents
IMPENDING RESPIRATORY FAILURE, BRONKOPNEUMONIA DAN PERTUSIS MALIGNANT PADA BAYI USIA 1 BULAN 16 HARI: SEBUAH LAPORAN KASUS Thomas Preldho Sabono; Ria R. Sukur; Rifah Z. Soumena; Sri W. Djoko; Rahmi M. Ambon; Zubaidah Hehanusa
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.361

Abstract

ABSTRAK Infeksi saluran napas bawah masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak, terutama bayi. Kombinasi bronkopneumonia dengan pertusis malignant dapat memperberat kondisi dan menyebabkan impending respiratory failure yang berpotensi mengancam nyawa. Tujuan: Melaporkan kasus impending respiratory failure, bronkopneumonia dan pertusis malignant pada bayi usia 1 bulan 16 hari yang dirawat di RS Tk II dr. J.A. Latumeten, Ambon. Kasus: Seorang bayi laki-laki 1 bulan 16 hari datang dengan keluhan sesak napas, batuk berdahak, dan demam sejak satu minggu sebelum masuk rumah sakit. Pemeriksaan fisik menunjukkan takipnea (RR 69x/menit), nadi 190x/menit, serta saturasi oksigen 90% dengan udara ruangan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukositosis berat (WBC 98.000 µL), trombositosis (PLT 922.000/µL), anemia (Hb 9,7 g/dL), serta peningkatan neutrofil (79,9%). Diagnosis ditegakkan sebagai impending respiratory failure, bronkopneumonia dan pertusis malignant. Pasien mendapatkan terapi suportif berupa pemberian oksigenasi, cairan intravena, antipiretik, antibiotik, mukolitik, serta terapi tambahan sesuai kondisi klinis. Pada follow-up hari ke-2, demam menghilang tetapi sesak dan batuk berdahak masih menetap, serta status vital tidak stabil. Kesimpulan: impending respiratory, bronkopneumonia dan pertusis malignant memerlukan perhatian yang serius, diagnosis dan penatalaksanaan dini, termasuk pemberian antibiotik serta dukungan ventilasi, sangat penting untuk mencegah perburukan menuju gagal napas sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pada bayi. ABSTRACT Lower respiratory tract infections remain the leading cause of morbidity and mortality in children, especially infants. The combination of bronchopneumonia and malignant pertussis can worsen the condition and cause impending respiratory failure, which can be life-threatening. Objective: To report a case of impending respiratory failure, bronchopneumonia, and malignant pertussis in a 1-month-old infant who was treated at Dr. J.A. Latumeten Hospital, Ambon. Case: A 1-month-old male infant presented with complaints of shortness of breath, cough with phlegm, and fever since one week before admission to the hospital. Physical examination showed tachypnea (RR 69x/minute), pulse 190x/minute, and oxygen saturation of 90% with room air. Laboratory tests showed severe leukocytosis (WBC 98,000 µL), thrombocytosis (PLT 922,000/µL), anemia (Hb 9.7 g/dL), and increased neutrophils (79.9%). The diagnosis was impending respiratory failure, bronchopneumonia, and malignant pertussis. The patient received supportive therapy in the form of oxygenation, intravenous fluids, antipyretics, antibiotics, mucolytics, and additional therapy according to clinical condition. On the second day of follow-up, the fever disappeared but shortness of breath and cough with phlegm persisted, and vital signs remained unstable. Conclusion: Impending respiratory failure, bronchopneumonia, and malignant pertussis require serious attention. Early diagnosis and management, including antibiotic administration and ventilatory support, are crucial to prevent deterioration into respiratory failure, thereby reducing morbidity and mortality rates in infants.
PENGARUH HIGIENE LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT KECACINGAN PADA ANAK USIA SEKOLAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARUWISI Muhammad Fajar Qusyairi; Nurfachanti Fattah; Dhian Karina Aprilani Hattah; Santriani Hadi; Windy Nurul Aisyah; Ayu Puspitasari; Nungki Mahesarani
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.443

Abstract

ABSTRAK Penyakit kecacingan merupakan masalah kesehatan lingkungan yang prevalensinya masih tinggi pada anak sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aspek higiene lingkungan terhadap kejadian kecacingan di wilayah kerja Puskesmas Karuwisi. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional terhadap 70 responden anak usia 6-12 tahun. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, observasi lingkungan, dan pemeriksaan laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian kecacingan sebesar 34,3%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara ketersediaan air bersih (p=0,024), pengelolaan air limbah (p=0,018), sarana pembuangan kotoran (p<0,001), dan pengelolaan sampah (p=0,016) dengan kejadian kecacingan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah keempat aspek higiene lingkungan berpengaruh signifikan terhadap infeksi cacing pada anak, dengan sarana pembuangan kotoran sebagai faktor risiko yang paling dominan. Diperlukan upaya peningkatan sanitasi dasar dan edukasi berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah tersebut. ABSTRACT Helminthiasis is an environmental health problem with a high prevalence among school-aged children. This study aims to analyze the influence of environmental hygiene aspects on the incidence of helminthiasis in the Karuwisi Health Center working area. This research is an analytical observational study with a cross-sectional design involving 70 respondents aged 6-12 years. Data collection was conducted through questionnaires, environmental observations, and laboratory examinations. The results showed that the incidence rate of helminthiasis was 34.3%. Bivariate analysis indicated a significant relationship between clean water availability (p=0.024), wastewater management (p=0.018), excreta disposal facilities (p<0.001), and waste management (p=0.016) with the incidence of helminthiasis. The conclusion of this study is that all four aspects of environmental hygiene significantly influence worm infections in children, with excreta disposal facilities being the most dominant risk factor. Efforts to improve basic sanitation and continuous education for the community in the area are highly necessary.
EFEKTIVITAS PENDAFTARAN PASIEN RAWAT JALAN BERBASIS TEKNOLOGI DI RUMAH SAKIT IBNU SINA YW-UMI DALAM PERSPEKTIF MASLAHAH Syafirah Abu Bakar Yamani; Suliati P. Amir; Iin Widya Ningsih; Nasrudin Andi Mappaware; Rezky Putri Indrawati; Syamsiah Muhsin Al-Qanus
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.383

Abstract

ABSTRAK Studi ini bertujuan menelaah keberhasilan penerapan sistem registrasi atau pendftaran pasien rawat jalan di Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI. Fokus utama adalah menganalisis kinerja mesin antrian dan pendaftaran daring (online) melalui Mobile JKN, kemudian mengaitkannya dengan prinsip maslahah 'ammah (kesejahteraan sosial) dalam ajaran Islam. Sistem pendaftaran konvensional, yang kerap memicu antrian panjang, waktu tunggu di atas batas standar (lebih dari 60 menit), dan penurunan tingkat kepuasan pasien, menjadi pendorong utama dilakukannya inovasi digital ini. Penerapan teknologi, seperti mesin antrian yang memerlukan verifikasi sidik jari dan pendaftaran daring, merupakan langkah strategis untuk mengatrol efisiensi operasional dan mempererat loyalitas pengguna layanan. Tujuan inti riset ini mencakup tiga hal: (1) Mengukur seberapa efektif kedua metode pendaftaran tersebut dalam praktiknya, (2) Mendeteksi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kelancaran implementasinya, dan (3) Menjelaskan bagaimana sistem tersebut selaras dengan konsep maslahah 'ammah. Secara khusus, penelitian ini juga mengintegrasikan perspektif kode bioetika, yaitu memastikan bahwa sistem baru ini memenuhi prinsip keadilan (justice) dalam akses layanan dan prinsip non-malefisien (tidak merugikan) dengan menghindari dampak negatif (kemudaratan) baru—terutama bagi kelompok seperti lansia atau yang gagap teknologi—serta berlandaskan kriteria syariah untuk kepentingan umum. Luaran yang diharapkan dari penelitian ini meliputi: (1) Wawasan mendalam mengenai kontribusi sistem terhadap pemangkasan durasi tunggu, peningkatan efisiensi administratif, dan kenaikan indeks kepuasan pasien; (2) Data empiris perihal kelebihan dan tantangan teknologi registrasi; serta (3) Bukti yang menjelaskan bahwa sistem ini berkontribusi pada maslahah 'ammahdengan mengurangi harms dan mewujudkan pelayanan yang lebih cepat, adil, dan mudah. Penelitian ini diharapkan dapat menyajikan rekomendasi strategis bagi manajemen Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI guna mengoptimalkan sistem pelayanan agar adil, efisien, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan etika pelayanan kesehatan. ABSTRACT This study aims to investigate the success of the outpatient registration system implementation at Ibnu Sina YW-UMI Hospital. The main focus is on analyzing the performance of both queuing machines and online registration via Mobile JKN, subsequently connecting the findings to the principle of maslahah 'ammah (public welfare) within Islamic teachings. The conventional registration method, which frequently caused extensive queues, waiting times exceeding standard limits (over 60 minutes), and a decline in patient satisfaction, served as the primary catalyst for this digital innovation. The adoption of technology, such as fingerprint-verified queuing machines and online registration, is a strategic move to boost operational efficiency and solidify user loyalty. The core objectives of this research encompass three areas: (1) Quantifying the practical effectiveness of these two registration methods, (2) Identifying the factors that facilitate or impede their smooth operation, and (3) Explaining how the system aligns with the maslahah 'ammah concept. Specifically, the research integrates the perspective of bioethical codes, ensuring that the new system adheres to the principles of justice in service access and non-maleficence (do no harm) by preventing new adverse effects (kemudaratan)—especially for vulnerable groups like the elderly or those with low tech literacy—and is based on sharia criteria for the common good.The anticipated outcomes of this study include: (1) Comprehensive insight into the system's contribution to shortening waiting periods, enhancing administrative efficiency, and increasing patient satisfaction rates; (2) Empirical data regarding the strengths and difficulties of the registration technology; and (3) Evidence demonstrating that the system contributes to maslahah 'ammah by mitigating harms and realizing a faster, fairer, and more accessible service. This research is expected to present strategic recommendations to the management of Ibnu Sina YW-UMI Hospital to optimize the service system to be equitable, efficient, and consistent with Islamic values and healthcare ethics.
EVALUASI PSIKOMETRI SKALA PERSEPSI RISIKO ONLINE Indahriyati Priskilla Joni; Mariana Dinah Ch. Lerik; Marleny P. Panis
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.391

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi properti psikometris skala Persepsi Risiko Online yang dikemukakan oleh Tomoyuki Kanetsuna, Akihiko Ieshima, da Yuichi Toda. Data dikumpulkan menggunakan survey pada 258 siswa SMA Kristen Mercusuar di Kota Kupang. Properti psikometri yang digunakan meliputi properti psikometris tingkat butir dan properti psikometris tingkat skala. Properti psikometri level butir meliputi daya diskriminasi butir, tingkat kesulitan butir, dan standar deviasi butir. Pada properti psikometris tingkat skala yaitu uji reliabilitas tes-retes dan validitas konstruk dengan menggunakan Confirmatory Factor Analisys dengan aplikasi JASP 0.18.0.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skala Risiko Online memiliki daya diskriminasi, rerata, dan standar deviasi butir yang memuaskan. Pada properti psikometris tingkat skala menunjukkan nilai reliabilitas tes-retest yang baik (p=0.723) dan uji validitas konstrak menunjukkan hasil yang memuaskan dengan hasil Chi-square (x2) = 0.190, RMSEA =0.026, CFI = 0.978, SRMR = 0,046. Jadi dapat disimpulkan skala Persepsi Risiko Online terbukti valid dan reliabel sehingga dapat digunakan ABSTRACT This study aims to evaluate the psychometric properties of the Online Risk Perception scale proposed by Tomoyuki Kanetsuna, Akihiko Ieshima, and Yuichi Toda. Data were collected using a survey of 258 students from the Christian Mercusuar High School in Kupang City. The psychometric properties examined include item-level psychometric properties and scale-level psychometric properties. Item-level psychometric properties include item discrimination, difficulty, and standard deviation. At the scale level, psychometric properties include test-retest reliability and construct validity using Confirmatory Factor Analysis with the JASP 0.18.0.0 application. The results indicate that the Online Risk scale has satisfactory item discrimination, mean, and item standard deviation. The scale-level psychometric properties show good test-retest reliability (p=0.723), and the construct validity test yielded satisfactory results with a Chi-square (x²) = 0.190, RMSEA = 0.026, CFI = 0.978, and SRMR = 0.046. Therefore, it can be concluded that the Online Risk Perception scale is valid and reliable, making it suitable for use.
UJI DAYA HAMBAT TANAMAN HERBAL UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS Cahaya Indah; Zulfitriani Murfat; Yani Sodiqah; Amrizal Muchtar; Andi Sitti Fahirah Arsal
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.392

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aktivitas antibakteri ekstrak tanaman herbal ubi jalar ungu (Ipomoea batatas ) terhadap Staphylococcus aureus melalui metode broth dilution dilusi cair. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penelitian UP3M Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Makassar dengan desain true experimental post-test. Sampel ekstrak diuji pada lima konsentrasi (5%, 20%, 40%, 60%, dan 80%) untuk menentukan Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM). Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada seluruh konsentrasi, media uji tampak jernih dan tidak menunjukkan pertumbuhan bakteri, menandakan kemampuan penghambatan pertumbuhan Staphylococcus aureus bahkan pada konsentrasi terendah (5%). Sementara itu, KBM diperoleh pada konsentrasi 60%, yang ditunjukkan dengan tidak adanya pertumbuhan koloni bakteri pada media Nutrient Agar (NA). Hasil ini mengindikasikan bahwa ekstrak ubi jalar ungu memiliki efektivitas antibakteri yang signifikan dengan aktivitas bakteriostatik pada konsentrasi rendah dan bakterisidal pada konsentrasi tinggi. Kandungan senyawa aktif seperti antosianin, flavonoid, tanin, dan fenolik berperan penting dalam mekanisme penghambatan melalui kerusakan membran sel, gangguan metabolisme, serta inaktivasi enzim bakteri. Dengan demikian, ekstrak ubi jalar ungu berpotensi dikembangkan sebagai agen antibakteri alami untuk terapi infeksi akibat Staphylococcus aureus. ABSTRACT This study aims to identify the antibacterial activity of purple sweet potato (Ipomoea batatas L.) extract against Staphylococcus aureus using the broth dilution method. The experiment was conducted at the UP3M Research Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Muslim Indonesia, Makassar, using a true experimental post-test design. The extract samples were tested at five concentrations (5%, 20%, 40%, 60%, and 80%) to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC). The results revealed that all concentrations inhibited bacterial growth, as indicated by clear media after 24-hour incubation at 37°C, demonstrating inhibitory effects even at the lowest concentration (5%). The MBC was observed at 60%, where no bacterial colonies grew on Nutrient Agar (NA). These findings indicate that purple sweet potato extract exhibits strong antibacterial activity, with bacteriostatic effects at low concentrations and bactericidal effects at higher concentrations. The bioactive compounds—anthocyanins, flavonoids, tannins, and phenolics—play crucial roles in disrupting bacterial membranes, interfering with metabolism, and inactivating enzymes. Therefore, purple sweet potato extract has promising potential as a natural antibacterial agent for treating infections caused by Staphylococcus aureus.
THE COMPARISON OF DEPRESSION LEVELS IN CATARACT PATIENTS WITH AND WITHOUT UNCORRECTED PRESBYOPIA IN SURABAYA BASED ON PHQ-9 SCREENING Katharina Merry Apriliani Angkawidjaja; Sawitri Boengas; Jose Elliora Roosy Tirto Putri; Ardyan Wardhana
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.394

Abstract

ABSTRAK Katarak merupakan penyebab utama gangguan penglihatan pada populasi lansia dengan prevalensi yang tinggi di Indonesia, terutama di Jawa Timur. Selain katarak, pada lansia juga sering ditemukan penurunan daya akomodasi yang mengikuti yaitu presbyopia. Kedua hal tersebut diduga dapat meningkatkan risiko kejadian depresi atau gangguan suasana hati yang berdampak negatif pada kualitas hidup seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat depresi pada penderita katarak dengan dan tanpa presbyopia yang belum terkoreksi di Surabaya berdasarkan screening PHQ-9. Penelitian ini menggunakan rancangan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder dari kegiatan “Bakti Sosial Pembagian Satu Juta Kacamata.” Data pada penelitian ini terdiri dari 107 data responden penderita katarak yang diperoleh dengan total population sampling dan metode purposive sampling. Data kemudian terbagi ke dalam dua kelompok berdasarkan adanya presbyopia yang belum terkoreksi dan diolah untuk membandingkan derajat depresi yang dialami berdasarkan screening PHQ-9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65% penderita mengalami depresi. Namun, tidak terdapat perbedaan tingkat depresi yang signifikan antara kelompok katarak dengan presbyopia yang belum terkoreksi dan tanpa presbyopia yang belum terkoreksi berdasarkan skor screening PHQ-9 (p=0.76). Analisis pengaruh faktor risiko seperti usia, jenis kelamin, riwayat penyakit kronis, riwayat penggunaan NAPZA, alkohol, dan rokok juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian depresi. ABSTRACT Background: Cataracts are a leading cause of visual impairment in the elderly, with high prevalence in Indonesia, particularly East Java. Presbyopia, a common accommodation disorder in older adults, often accompanies cataracts and may increase depression risk, negatively impacting quality of life. Methods: This analytical observational cross-sectional study used secondary data from the “One Million Glasses Community Service” event in Surabaya on September 24, 2023. A total of 107 cataract patients were sampled using total population and purposive sampling methods, divided into groups with and without uncorrected presbyopia. Depression levels were assessed using the Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9). Data were analyzed using the Mann-Whitney test for PHQ-9 scores and chi-square test for proportions, with a significance threshold of p ≤ 0.05. Results: Overall, 65% of patients experienced depression (PHQ-9 score ≥ 5). No significant difference in depression levels was found between cataract patients with uncorrected presbyopia (median PHQ-9 score: 5, range: 0–9) and without uncorrected presbyopia (median: 5, range: 0–9; p = 0.764). Risk factors (age, gender, chronic diseases, substance use, alcohol, smoking) showed no significant association with depression (p ≥ 0.05). Conclusion: Depression levels were similar in cataract patients with and without uncorrected presbyopia, with both groups exhibiting mild depression. Routine mental health screening is recommended in cataract management programs
PREVALENSI DRY EYE PADA IBU HAMIL DI RUMAH SAKIT SITTI KHADIJAH 1 MUHAMMADIYAH MAKASSAR Muhammad Fuad Abdullah; Marlyanti Nur Rahma; Mona Nulanda; Ratih Natasha Maharani; Zulfikri Khalil Novriansyah
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.396

Abstract

ABSTRAK Dry eye merupakan kelainan multifaktorial pada lapisan air mata yang menyebabkan ketidaknyamanan dan gangguan penglihatan. Perubahan hormon estrogen, progesteron, dan androgen selama kehamilan dapat memengaruhi fisiologi air mata dan memicu dry eye. Penelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi dry eye pada ibu hamil dan faktor faktor yang berhubungan dengan kejadiannya di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sitti Khadijah 1 Muhammadiyah Makassar.Desain yang digunakan adalah deskriptif cross-sectional. Penelitian ini menggunakan 91 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dari 118 populasi dengan metode pemilihan random sampling. Pengambilan data dilakukan melalui Ocular Surface Disease Index (OSDI) dan rekam medis, kemudian dilakukan analisis data menggunakan aplikasi SPSS. Hasil yang di dapatkan sebagian besar responden berada pada trimester ketiga (60%) dan kelompok usia 20–25 tahun (40%). Prevalensi dry eye dengan derajat sedang mencapai 34%, diikuti derajat ringan 30%, normal 22%, dan berat 14%. Terdapat hubungan signifikan antara usia kehamilan (0,030), usia ibu hamil (0,022), serta kondisi lingkungan berangin (0,005), kering (<0,001), dan ber-AC (<0,001) dengan derajat dry eye. Prevalensi dry eye pada ibu hamil cukup tinggi, terutama pada trimester akhir kehamilan. Faktor usia ibu, usia kehamilan, dan kondisi lingkungan berpengaruh terhadap kejadian dry eye. ABSTRACT Dry eye is a multifactorial disorder of the tear film that causes discomfort and visual disturbances. Hormonal changes in estrogen, progesterone, and androgen during pregnancy can affect tear film physiology and trigger dry eye. This study aimed to determine the prevalence of dry eye among pregnant women and the factors associated with its occurrence at Sitti Khadijah 1 Muhammadiyah Mother and Child Hospital, Makassar. A descriptive cross-sectional design was applied involving 91 pregnant women selected randomly from a population of 118 who met the inclusion criteria. Data were collected using the Ocular Surface Disease Index (OSDI) questionnaire and medical records, then analyzed using SPSS. Most respondents were in the third trimester (60%) and aged 20–25 years (40%). The prevalence of moderate dry eye was 34%, followed by mild (30%), normal (22%), and severe (14%). Significant associations were found between dry eye severity and gestational age (0,030), maternal age (0,022), and environmental factors wind exposure (0,005), dry air(<0,001), and air conditioning (<0,001). The prevalence of dry eye among pregnant women is relatively high, particularly in the late trimester. Maternal age, gestational age, and environmental conditions influence the occurrence of dry eye
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DENGAN KEJADIAN DERMATOFITOSIS PADA SISWA SEKOLAH BERBASIS ASRAMA Amirul Mukmin Irawan; Dian Amelia Abdi; Irmayanti HB; Nurelly Noro Waspodo; Andi Sitti Fahirah Arsal
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.398

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian dermatofitosis pada siswa sekolah berbasis asrama. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan desain cross sectional, dilaksanakan di Pondok Pesantren Insan Cendekia Madani, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Populasi penelitian mencakup seluruh santri yang tinggal di asrama dengan jumlah sampel 50 responden menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah memiliki PHBS baik, seperti mandi teratur (78%), menjaga kebersihan rambut (92%), dan tidak berbagi barang pribadi (90%). Namun, sebanyak 36% responden masih mengalami gejala dermatofitosis. Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara kebiasaan mandi (p=0,010) dan kebersihan rambut (p=0,013) dengan kejadian dermatofitosis. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa PHBS berperan penting dalam pencegahan dermatofitosis pada siswa asrama. Peningkatan edukasi dan pengawasan kebersihan diri di lingkungan pesantren diperlukan untuk menekan angka kejadian infeksi jamur kulit. ABSTRACT This study aims to analyze the relationship between Clean and Healthy Living Behavior (CHLB) and the incidence of dermatophytosis among students in boarding schools. The research employed an analytic observational method with a cross-sectional design, conducted at Insan Cendekia Madani Islamic Boarding School, Pangkajene Kepulauan Regency, South Sulawesi. The study population consisted of all students living in the dormitory, with a total of 50 respondents selected through total sampling. Data were collected using questionnaires and direct observations, then analyzed using the Chi-square test. The results showed that most respondents practiced good CHLB, such as bathing regularly (78%), maintaining hair hygiene (92%), and avoiding sharing personal items (90%). However, 36% of respondents still exhibited symptoms of dermatophytosis. Statistical analysis revealed a significant relationship between bathing habits (p=0.010) and hair cleanliness (p=0.013) with dermatophytosis incidence. The study concludes that Clean and Healthy Living Behavior plays a crucial role in preventing dermatophytosis among boarding school students. Strengthening health education and monitoring personal hygiene in dormitory environments is essential to reduce the prevalence of fungal skin infections.
HUBUNGAN RIWAYAT HIPEREMESIS GRAVIDARUM DENGAN BERAT BADAN LAHIR BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MAMBORO TAHUN 2024- 2025 Putri Maharani; Sumarni; Elli Yane Bangkele; Rahma
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.400

Abstract

ABSTRAK Hiperemesis gravidarum (HG) merupakan mual muntah berlebihan pada awal kehamilan yang dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan metabolisme, dan penurunan berat badan ibu. Kondisi ini berpotensi mengganggu asupan nutrisi dan pertumbuhan janin, sehingga meningkatkan risiko bayi berat badan lahir rendah. Di Indonesia, BBLR masih menjadi salah satu penyebab utama kematian neonatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan riwayat hiperemesis gravidarum dengan berat badan lahir bayi di wilayah kerja Puskesmas Mamboro tahun 2024–2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 80 dan dipilih melalui purposive sampling. Data diperoleh dari data sekunder rekam medis dan wawancara responden menggunakan kuesioner yang berisi definisi Windsor dan skor Pregnancy Unique Quantification of Emesis and Nausea (PUQE). Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Dari 35 (43,75%) responden yang memiliki riwayat HG terdapat 15 (42,9%) responden yang melahirkan bayi BBLR. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,000 < 0,05, yang berarti terdapat hubungan signifikan antara riwayat HG dengan berat badan lahir bayi. Ibu yang mengalami HG memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan BBLR dibandingkan ibu tanpa riwayat HG. Kesimpulan terdapat hubungan riwayat HG dengan berat badan lahir bayi di wilayah kerja Puskesmas Mamboro tahun 2024- 2025. ABSTRACT Hyperemesis gravidarum (HG) is excessive nausea and vomiting in early pregnancy that can lead to dehydration, metabolic disorders, and maternal weight loss. This condition has the potential to interfere with nutrient intake and fetal growth, thereby increasing the risk of babies born with low at birth. In Indonesia, LBW is still one of the leading causes of neonatal deaths. This study aims to determine the relationship between the history of hyperemesis gravidarum and the birth weight of babies in the working area of the Mamboro Health Center in 2024–2025. This study uses an analytical observational design with a cross sectional approach. The sample totaled 80 and was selected through purposive sampling. Data were obtained from secondary data from medical records and respondents' interviews using questionnaires containing the Windsor definition and the Pregnancy Unique Quantification of Emesis and Nausea (PUQE) score. Data analysis using the Chi-Square test. Of the 35 (43.75%) respondents who had a history of HG, there were 15 (42.9%) respondents who gave birth to LBW babies. The results of the Chi-Square test showed a value of p = 0.000 < 0.05, which means that there is a significant relationship between the history of HG and the birth weight of the baby. Mothers who experience HG have a higher risk of giving birth to babies with LBW than mothers without a history of HG. In conclusion, there is a relationship between HG history and the birth weight of the baby in the working area of the Mamboro Health Center in 2024-2025.
HUBUNGAN SIKAP DAN KEPERCAYAAN DIRI TERHADAP PERILAKU MEROKOK REMAJA DI KELURAHAN TEUNBAUN Yuliana Emma Nawu Nggorong; Marni; Eryc Z. Haba Bunga; Christina R. Nayoan
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 01 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v8i01.402

Abstract

ABSTRAK Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2021 di Indonesia, prevalensi merokok pada remaja usia 15–24 tahun menunjukkan bahwa 53,6% laki-laki dan 1,6% perempuan adalah perokok. Data Dinas Kesehatan Provinsi NTT tahun 2022 juga mencatat prevalensi merokok pada remaja sebesar 18,3% (105.597 orang), dan pada periode Januari–Oktober 2023 sebesar 16,9% (107.167 orang) dari total 661.040 remaja yang diskrining. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap dan kepercayaan diri dengan perilaku merokok pada remaja di Kelurahan Teunbaun. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dan melibatkan 65 responden yang dipilih melalui teknik simple random sampling dengan perhitungan rumus Lemeshow. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara sikap (p-value = 0,002) dan kepercayaan diri (p-value = 0,000) dengan perilaku merokok. Remaja dengan sikap yang kurang baik cenderung merokok karena dipengaruhi lingkungan dan persepsi pribadi, sedangkan remaja dengan sikap baik lebih termotivasi untuk tidak merokok. Kepercayaan diri yang tinggi saat merokok juga membuat remaja terdorong mempertahankan kebiasaan tersebut. Berdasarkan wawancara, kemudahan akses rokok, lingkungan yang permisif, dan kurangnya himbauan menjadi faktor utama remaja merokok. Pemerintah diharapkan dapat menjalin kerja sama lintas sektor, termasuk puskesmas dan sekolah, untuk mengadakan kampanye bahaya merokok yang melibatkan remaja secara aktif. ABSTRACT Based on the 2021 Global Adult Tobacco Survey (GATS) in Indonesia, the prevalence of smoking among adolescents aged 15–24 years shows that 53.6% of males and 1.6% of females are smokers. Data from the NTT Provincial Health Office in 2022 also recorded a smoking prevalence among adolescents of 18.3% (105,597 people), and in the period January–October 2023, 16.9% (107,167 people) of a total of 661,040 adolescents screened. This study aims to determine the relationship between attitudes and self-confidence and smoking behavior among adolescents in Teunbaun Village. The study used a quantitative method with a cross-sectional design and involved 65 respondents selected through simple random sampling using the Lemeshow formula. The results showed a significant relationship between attitude (p-value = 0.002) and self-confidence (p-value = 0.000) and smoking behavior. Adolescents with poor attitudes tended to smoke because they were influenced by their environment and personal perceptions, while adolescents with good attitudes were more motivated not to smoke. High self-confidence when smoking also encourages adolescents to maintain this habit. Based on interviews, easy access to cigarettes, a permissive environment, and a lack of warnings are the main factors that cause adolescents to smoke. The government is expected to establish cross-sectoral cooperation, including community health centers and schools, to conduct campaigns on the dangers of smoking that actively involve adolescents.