cover
Contact Name
Misriyani
Contact Email
misriyani85@gmail.com
Phone
+6281334845085
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Diponegoro No.39 Palu
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Medika Alkhairaat : Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan
Published by Universitas Alkhairaat
ISSN : 2657179X     EISSN : 26567822     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan aims to provide both national and international forums to encourage interdisciplinary discussions and contribute to the advancement of medicine, benefiting readers and authors by accelerating the dissemination of research information and providing maximum access to scientific communication.
Articles 220 Documents
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU POST PARTUM DENGAN PERILAKU KUNJUNGAN PEMERIKSAAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS SIKUMANA Bora'a, Grace Yuniarti Naomi
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 03 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i03.351

Abstract

ABSTRAK Antenatal care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan berkala oleh tenaga medis untuk meningkatkan kondisi ibu hamil dan mendeteksi risiko serta komplikasi. Faktor yang mempengaruhi kunjungan ANC meliputi predisposisi, pemungkin, dan penguat, dengan pengetahuan ibu hamil sebagai faktor utama yang mendorong motivasi untuk rutin melakukan pemeriksaan. Pengetahuan ibu menjadi dasar dalam mengambil keputusan untuk pemeriksaan kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu post partum dengan perilaku kunjungan pemeriksaan antenatal care di Puskesmas Sikumana. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik observasional dengan pendekatan case control. Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 60 orang. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji pearson product moment. Pengetahuan memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku kunjungan pemeriksaan antenatal care di Puskesmas Sikumana dengan nilai p=0,029 dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan perilaku kunjungan pemeriksaan antenatal care di Puskesmas Sikumana dengan nilai p=0,514. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku kunjungan pemeriksaan antenatal care di Puskesmas Sikumana dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan perilaku kunjungan pemeriksaan antenatal care di Puskesmas Sikumana. ABSTRACT Antenatal care (ANC) refers to regular pregnancy check-ups by healthcare professionals to improve the physical and mental well-being of pregnant women and detect risks and complications. Factors influencing ANC visits include predispositional, enabling, and reinforcing factors, with the knowledge of the pregnant woman being the key factor driving motivation for regular check-ups. The knowledge of the mother serves as a basis for decision-making in seeking routine pregnancy examinations. This study aims to examine the relationship between maternal knowledge and attitude with ANC visit behavior among postpartum mothers at Puskesmas Sikumana. This research employed an observational analytic design with a case-control approach. A purposive sampling technique was used to select 60 samples. Data analysis was conducted using the Pearson product-moment test. Knowledge was found to have a significant relationship with ANC visit behavior at Puskesmas Sikumana with a p-value of 0.029, while no significant relationship was found between attitude and ANC visit behavior, with a p-value of 0.514. There is a significant relationship between maternal knowledge and ANC visit behavior at Puskesmas Sikumana, while no significant relationship exists between maternal attitude and ANC visit behavior at the same healthcare center.
KARAKTERISTIK PENDERITA ANEMIA DALAM KEHAMILAN DI PUSKESMAS SOMBA OPU Muh. Nurfadli Sahar; Mona Nulanda; Windy Nurul Aisyah; M. Hamsah; Hermiaty Nasruddin
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 03 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i03.352

Abstract

ABSTRAK Anemia dalam kehamilan masih menjadi masalah kesehatan serius yang berdampak pada ibu dan janin, seperti risiko kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, hingga kematian perinatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik penderita anemia dalam kehamilan di Puskesmas Somba Opu. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan pada bulan Juni–Juli 2025 dengan total sampel sebanyak 80 ibu hamil yang mengalami anemia, diperoleh melalui total sampling. Data diperoleh dari rekam medis pasien dan dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu hamil yang mengalami anemia berada pada kelompok usia 26–31 tahun (42,5%), tingkat pendidikan terakhir SMA (68,8%), serta mayoritas tidak bekerja di sektor formal (ibu rumah tangga 75%). Berdasarkan usia kehamilan, anemia paling banyak terjadi pada trimester kedua (85%), dengan dominasi multipara (72,5%) dan suku Makassar (75%). Tingkat anemia yang terbanyak adalah kategori ringan (40%), diikuti sedang (23,8%), dan tidak ditemukan kasus anemia berat. Hasil ini menegaskan bahwa anemia ringan masih mendominasi, namun tetap memerlukan perhatian serius. Penatalaksanaan anemia pada ibu hamil perlu dilakukan melalui intervensi komprehensif yang memperhatikan faktor sosial, budaya, dan fisiologis, serta peningkatan edukasi gizi dan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah. ABSTRACT Anemia in pregnancy remains a significant public health concern associated with adverse maternal and perinatal outcomes such as preterm birth, low birth weight, and even perinatal mortality. This study aimed to describe the characteristics of pregnant women with anemia at Somba Opu Health Center. A descriptive study with a cross-sectional approach was conducted in June–July 2025 involving a total sample of 80 anemic pregnant women, selected using total sampling. Data were collected from medical records and analyzed descriptively using frequency distribution and percentage. The results showed that most anemic pregnant women were aged 26–31 years (42.5%), had senior high school education (68.8%), and were predominantly housewives (75%). Based on gestational age, the majority of anemia cases occurred in the second trimester (85%), with multiparous women (72.5%) and Makassar ethnicity (75%) being the dominant groups. The highest proportion of anemia severity was mild anemia (40%), followed by moderate anemia (23.8%), with no severe anemia cases identified. These findings indicate that although mild anemia predominates, it still requires serious attention. Comprehensive management should consider social, cultural, and physiological factors, accompanied by nutritional education and compliance with iron and folic acid supplementation.
STUDI ASUPAN GIZI ENERGI DAN PROTEIN SERTA RIWAYAT SAKIT TERHADAP STATUS GIZI ANAK BATITA PADA MASYARAKAT LAMALERA Katarina Melania lelaona; Lewi Jutomo; Marselinus Laga Nur; Intje Picauly
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 03 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i03.353

Abstract

ABSTRAK Status gizi anak batita merupakan indikator penting dalam menentukan kualitas kesehatan dan perkembangan anak dimasa awal kehidupan. Di Desa Lamalera, keterbatasan akses terhadap pangan nabati serta tingginya konsumsi pangan hewani dari hasil laut, seperti daging ikan dan ikan paus, menjadi ciri khas pola makan masyarakat. Tingginya kejadian penyakit infeksi ringan seperti demam dan flu juga turut menurunkan asupan serta penyerapan gizi anak. Kondisi ini mendorong pentingnya kajian terhadap asupan energi, protein dan riwayat sakit dalam hubungannya dengan status gizi anak batita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan studi asupan energi dan protein serta riwayat sakit terhadap status gizi anak batita pada masyarakat Lamalera. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Besar sampel penelitian sebanyak 60 anak batita dan di pilih secara cluster random sampling. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan analisis data menggunakan uji chi-square. Asupan energi dan protein yang tidak mencukupi serta riwayat sakit dalam sebulan terakhir terbukti berpengaruh terhadap status gizi anak batita di Desa Lamalera. Anak dengan asupan energi dan protein yang kurang serta riwayat sakit memiliki risiko lebih tinggi mengalami status gizi kurang. Hasil ini menekan pentingnya intervensi gizi serta pengendalian penyakit infeksi pada anak usia dini untuk mencegah masalah gizi diwilayah pesisir dengan keterbatasan akses pangan. ABSTRACT The nutritional status of toddlers is an important indicator in determining the quality of their health and development in early life. In Lamalera Village, limited access to plant-based foods and high consumption of seafood, such as fish and whale meat, characterize the community's dietary patterns. The high incidence of mild infectious diseases such as fever and flu also reduces children's nutrient intake and absorption. This condition emphasizes the importance of studying energy and protein intake, and medical history in relation to the nutritional status of toddlers. This study aims to determine the relationship between energy and protein intake and medical history and the nutritional status of toddlers in the Lamalera community. This study was quantitative with a cross-sectional design. The sample size of 60 toddlers was selected using cluster random sampling. Data processing was carried out computerized with data analysis using the chi-square test. Insufficient energy and protein intake and a history of illness in the past month have been shown to influence the nutritional status of toddlers in Lamalera Village. Children with insufficient energy and protein intake and a history of illness are at higher risk of malnutrition. These results emphasize the importance of nutritional interventions and control of infectious diseases in early childhood to prevent nutritional problems in coastal areas with limited access to food.
TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA KELAS XI SMA NEGERI 9 KOTA BEKASI TENTANG PELANGGARAN KESUSILAAN PADA TAHUN 2024 Devina Astari Putri; Wikan Basworo; Hendro Widagdo; Martiana Suciningtyas Tri Artanti; Idha Arfianti Wiraagni
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 03 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i03.357

Abstract

ABSTRAK Kasus pelanggaran kesusilaan di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Tindak pelanggaran kesusilaan dapat terjadi di dalam rumah maupun di luar rumah seperti sekolah, tempat kerja, bahkan di fasilitas umum, serta dapa terjadi pada berbagai usia dan status sosial di masyarakat tanpa terkecuali pada remaja. Pelanggaran kesusilaan adalah tindakan yang tidak pantas dalam hal tatanan masyarakat yang beradab, serta merugikan dan merendahkan harkat dan martabat manusia. Pengetahuan remaja yang kurang akan pengertian dan bentuk dari pelanggaran kesusilaan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya pelanggaran kesusilaan pada remaja. Yaitu mengetahui karakteristik dan tingkat pengetahuan remaja siswa kelas XI di SMA Negeri 9 Kota Bekasi, serta mengetahui tingkat pengetahuan sesuai karakteristik remaja siswa kelas XI SMA Negeri 9 Kota Bekasi pada tahun 2024. Penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang menggunakan data primer berupa kuesioner yang dianalisis secara deskriptif. Sampel pada penelitian ini adalah 193 siswa kelas XI di SMA Negeri 9 Kota Bekasi. Mayoritas (73,6%) siswa kelas XI di SMA Negeri 9 pada tahun 2024 memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang pelanggaran kesusilaan. Karakteristik remaja siswa kelas XI di SMA Negeri 9 Kota Bekasi pada tahun 2024 yaitu sebagian besar siswa berusia 16 tahun (57%), berjenis kelamin perempuan (63,7%), sebagian besar ilmu yang diminati adalah ilmu pengetahuan sosial (64,8%), sebagian besar pernah mendapat informasi tentang pelanggaran kesusilaan (91,7%), dan sebagian besar menggunakan media sosial sebagai sumber informasi (70,5%). Terdapat perbedaan tingkat pengetahuan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan responden yang pernah menerima informasi tentang pelanggaran kesusilaan. ABSTRACT The increasing incidence of indecency violations in Indonesia has become alarming, as such acts may occur in various settings, including homes, schools, workplaces, and public facilities, affecting individuals across all ages and social backgrounds, particularly adolescents. These violations represent inappropriate behaviors within a civilized society that undermine human dignity, while adolescents’ lack of knowledge regarding the definition and forms of indecency is a factor that may contribute to their occurrence. This study aimed to identify the characteristics and knowledge level of eleventh-grade students at SMA Negeri 9 Bekasi City in 2024, as well as to examine differences in knowledge according to respondents’ characteristics. A descriptive observational design with a cross-sectional approach was employed using a questionnaire as the primary instrument, involving 193 students as the study sample. The results showed that the majority of students (73.6%) demonstrated good knowledge about indecency violations. Most respondents were 16 years old (57%), female (63.7%), preferred social sciences (64.8%), had received information about indecency (91.7%), and used social media as the main source of information (70.5%). The study concludes that knowledge levels differ significantly by age, gender, and prior exposure to information regarding indecency violations.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN MINYAK ZAITUN DAN AIR REBUSAN KAYU MANIS TERHADAP MENCIT HIPERGLIKEMIK Aqilah Muharrati Bausat; Mochammad Erwin Rachman; Nur Aulia; Sri Juliyani; Marzelina Karim
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 03 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i03.358

Abstract

ABSTRAK Diabetes melitus merupakan penyakit kronis dengan prevalensi tinggi di Indonesia dan dunia, ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat gangguan produksi maupun penggunaan insulin. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan kadar glukosa darah, termasuk pemanfaatan bahan alami seperti minyak zaitun (Olea europaea oil) dan kayu manis (Cinnamomum burmannii) yang diketahui memiliki kandungan bioaktif dengan efek hipoglikemik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas pemberian minyak zaitun, air rebusan kayu manis, serta kombinasi keduanya terhadap penurunan kadar glukosa darah mencit (Mus musculus) yang diinduksi aloksan. Desain penelitian menggunakan metode eksperimental dengan rancangan pretest–posttest control group design pada 24 ekor mencit jantan yang dibagi dalam empat kelompok, masing-masing terdiri dari enam ekor. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian minyak zaitun, air rebusan kayu manis, maupun kombinasi keduanya berpengaruh signifikan terhadap penurunan kadar glukosa darah mencit hiperglikemik (p<0,001). Kelompok kombinasi menunjukkan kecenderungan memberikan penurunan yang lebih besar dibandingkan terapi tunggal, meskipun perbedaan antarperlakuan tidak bermakna. Dengan demikian, minyak zaitun dan kayu manis, baik secara tunggal maupun kombinasi, berpotensi menjadi alternatif terapi alami untuk menurunkan kadar glukosa darah, meskipun penelitian lanjutan pada manusia diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanan penggunaannya. ABSTRACT Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease with a high prevalence worldwide and in Indonesia, characterized by elevated blood glucose levels due to impaired insulin secretion or utilization. Various therapeutic approaches have been developed to reduce blood glucose levels, including the use of natural products such as olive oil (Olea europaea oil) and cinnamon (Cinnamomum burmannii), which contain bioactive compounds with hypoglycemic effects. This study aimed to compare the effectiveness of olive oil, cinnamon decoction, and their combination in reducing blood glucose levels in alloxan-induced hyperglycemic mice (Mus musculus). An experimental study with a pretest–posttest control group design was conducted using 24 male mice divided into four groups, each consisting of six subjects. Blood glucose levels were measured before and after treatment, and data were analyzed using One-Way ANOVA followed by Post Hoc Tukey HSD test. The results showed that olive oil, cinnamon decoction, and their combination significantly reduced blood glucose levels in hyperglycemic mice (p<0.001). The combination group demonstrated a greater tendency to reduce glucose levels compared to single treatments, although the difference was not statistically significant. In conclusion, olive oil and cinnamon, either alone or in combination, have potential as natural alternatives for reducing blood glucose levels, but further studies in humans are required to confirm their effectiveness and safety.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN IBU DALAM PARTISIPASI PROGRAM PENDAMPINGAN BALITA STUNTING USIA 0-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BREBES Isna Nur Amalia; Ernawati; Muhammad Riza Setiawan; Hema Dewi Anggraheny
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 03 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i03.359

Abstract

ABSTRAK Partisipasi pendampingan balita stunting usia 0-59 bulan di wilayah kerja puskesmas Brebes. Penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini yaitu ibu yang mengikuti program penampingan balita stunting. Teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner pengetahuan dan sikap Ibu, data sekunder, dan wawancara. Data diuji menggunakan uji chisquare dengan bantuan software komputer. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 60 responden. Mayoritasresponden berusia <30 tahun yaitu sebanyak 49 orang (81,7%), dan yang >30 tahun sebanyak 11 orang (18,3%). Hasil uji statistic menggunakan chisquare dengan p = <0,05 diketahui yang memiliki hubungan bermakna dengan partisipasi program pendampingan balita stunting antara lain pengetahuan (p=0,000), sikap (p=0,005), dan akses komunikasi (p=0,001). Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap, dan akses komunikasi ibu dengan partisipasi program pendampingan balita stunting usia 0-59 bulan di wilayah kerja puskesmas Brebes ABSTRACT This research was conducted to determine the factors related to mothers' participation in mentoring toddlers.stunting aged 0-59 months in the Brebes health center working area. Analytical observational research approachcross sectional. The sample for this research was mothers who participated in the toddler mentoring programstunting. Sampling technique withconsecutive sampling. This research instrument uses a mother's knowledge and attitude questionnaire, secondary data, and interviews. Data is tested using a testchisquare with the help ofsoftware computer. The total sample for this research was 60 respondents. The majority of respondents were <30 years old, namely 49 people (81.7%), and those >30 years old were 11 people (18.3%). Statistical test results usingchisquare with p = <0.05, it is known that there is a significant relationship with participation in the stunting toddler mentoring program, including knowledge (p=0.000), attitude (p=0.005), and access to communication (p=0.001). There is a relationship between mother's knowledge, attitudes and access to communication and participation in the toddler mentoring programstunting aged 0-59 months in the Brebes health center working area.
HUBUNGAN SWEET BEVERAGE, UNHEALTHY FOOD, DAN ZERO VEGETABLE OR FRUIT CONSUMPTION DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK RIWAYAT UNDERNUTRITION USIA 6-23 BULAN Tarisya Diyah Pitaloka; Hema Dewi Anggraheny; Chamim Faizin
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 03 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i03.362

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sweet beverage, unhealthy food, dan zero vegetable or fruit consumption dengan status gizi pada anak undernutrition usia 6-23 bulan. Studi ini kuantitatif analitik observasional memanfaatkan desain cross sectional. Subjek penelitian yakni ibu dan anak usia 6-23 bulan dengan undernutrition di Puskesmas Bandarharjo dan Tambak aji Kota Semarang pada bulan Januari 2024 dengan populasi sebanyak 55 orang. Teknik yang dipakai untuk mengambil sampel non-random cluster sampling. Uji statistik yang digunakan adalah uji pearson correlation dan uji chi- square. Hasil penelitian ditemukan terdapat hubungan UFC dengan status gizi BB/TB ( p=0,002 dan r=-0,410), BB/U (p=0,000 dan r=-0,509), dan TB/U (p=0,001 dan r=-0,431), akan tetapi tidak berhubungan SwB dengan BB/PB (p=4,048), BB/U (p=1,618), dan PB/U (p=1,930). Dan tidak berhubungan ZVF dengan BB/PB (p=0,587), BB/U (p=3,632), dan PB/U (p=1,105). Hasilnya memperlihatkan tidak ditemukan hubungan zero vegetable or fruit consumption dengan BB/U (p=0,0551), BB/U (p=0,912), dan PB/U (p=0,598). Konsumsi unhealthy food berlebihan akan menyebabkan asupakan makanan tidak adekuat dan akan mempengaruhi status gizi balita. ABSTRACT This study aims to analyze the relationship between sweet beverages, unhealthy food, and zero vegetable or fruit consumption with nutritional status in undernourished children aged 6-23 months. This quantitative analytical observational study utilized a cross sectional design. The research subjects were mothers and children aged 6-23 months with undernutrition at the Bandarharjo Health Center and Tambak Aji, Semarang City in January 2024 with a population of 55 people. The technique used to take non- random cluster sampling samples. The statistical tests used are the Pearson correlation test and the chi-square test. The results of the study found that there was a relationship between UFC and nutritional status of BW/TB (p=0.002 and r=-0.410), BW/U (p=0.000 and r=-0.509), and TB/U (p=0.001 and r= -0.431), but there is no correlation between SwB and BB/PB (p=4.048), BB/U (p=1.618), and PB/U (p=1.930). And there was no correlation between ZVF and BB/PB (p=0.587), BB/U (p=3.632), and PB/U (p=1.105). The results showed that there was no relationship between zero vegetable or fruit consumption and BB/U (p=0.0551), BB/U (p=0.912), and PB/U (p=0.598). Excessive consumption of unhealthy food will cause inadequate food intake and will affect the nutritional status of toddlers.
TYPHOID FEVER PADA ANAK USIA 2 TAHUN 9 BULAN: SEBUAH LAPORAN KASUS Revi Rumbawa; Rifah Z. Soumena
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 03 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i03.363

Abstract

ABSTRAK Demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di negara berkembang, termasuk Indonesia. Penyakit ini sering menyerang anak-anak akibat faktor risiko seperti kebersihan yang buruk dan kebiasaan jajan sembarangan. Kasus: Seorang anak perempuan berusia 2 tahun 9 bulan datang dengan demam sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, disertai diare cair, muntah, dan nyeri perut. Riwayat kebiasaan jajan sembarangan ditemukan. Pemeriksaan fisik menunjukkan lidah kotor dan faring hiperemis. Status gizi pasien tergolong gizi kurang. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia ringan, penurunan hematokrit, dan hasil Widal S. Typhi O 1/320. Pasien didiagnosis sebagai typhoid fever dan mendapat terapi ceftriaxone intravena, antipiretik, antiemetik, suplementasi zinc, probiotik, serta cairan intravena. Kondisi pasien membaik dan dipulangkan dalam keadaan stabil. Diskusi: Diagnosis tifoid pada anak perlu mempertimbangkan gejala klinis yang sering tidak khas. Pemeriksaan Widal dapat menunjang diagnosis pada daerah endemis, namun kultur darah tetap gold standard. Tatalaksana dengan antibiotik sefalosporin generasi ketiga terbukti efektif pada pasien anak yang membutuhkan rawat inap. Kesimpulan: Deteksi dini dan terapi yang tepat dapat memperbaiki prognosis demam tifoid pada anak. Edukasi mengenai kebersihan makanan dan pencegahan melalui imunisasi tifoid merupakan strategi penting untuk menurunkan angka kejadian penyakit ini. ABSTRACT Typhoid fever remains a major public health problem in developing countries, including Indonesia. This disease often affects children due to risk factors such as poor hygiene and the habit of eating street food. Case: A 2-year-9-month-old girl was admitted to the hospital with a fever that had started 3 days prior, accompanied by watery diarrhea, vomiting, and abdominal pain. A history of eating street food was found. Physical examination revealed a coated tongue and hyperemic pharynx. The patient's nutritional status was classified as malnourished. Laboratory tests showed mild anemia, decreased hematocrit, and a Widal test result of S. Typhi O 1/320. The patient was diagnosed with typhoid fever and received intravenous ceftriaxone, antipyretics, antiemetics, zinc supplementation, probiotics, and intravenous fluids. The patient's condition improved and he was discharged in stable condition. Discussion: The diagnosis of typhoid in children needs to consider clinical symptoms that are often non-specific. Widal testing can support diagnosis in endemic areas, but blood culture remains the gold standard. Treatment with third-generation cephalosporin antibiotics has been proven effective in pediatric patients requiring hospitalization. Conclusion: Early detection and appropriate therapy can improve the prognosis of typhoid fever in children. Education on food hygiene and prevention through typhoid immunization are important strategies to reduce the incidence of this disease.
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PENGETAHUAN AYAH PEROKOK AKTIF TENTANG PNEUMONIA PADA BALITA DI PUSKESMAS SINGGANI TAHUN 2025 Kurnia Hayat; Rahma; Sumarni; Ary Anggara
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 03 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i03.365

Abstract

ABSTRAK Balita merupakan kelompok paling rentan terhadap pneumonia karena sistem pernapasan yang belum matang sepenuhnya. Paparan asap rokok, baik secara langsung maupun tidak langsung, terbukti menjadi faktor risiko utama yang meningkatkan insidensi pneumonia, dan infeksi saluran pernapasan lainnya pada balita 3-9 kali lipat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keterkaitan antara tingkat pendidikan ayah yang aktif merokok dengan tingkat pemahaman mereka tentang penyakit pneumonia pada anak balita. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah responden sebanyak 100 orang ayah yang dilakukan dengan purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian penunjukkan bahwa mayoritas ayah perokok aktif memiliki latar pendidikan menengah (72,3%), diikuti oleh pendidikan tinggi (45,8%), dan hanya sedikit yang berpendidikan dasar (3%), 74% responden memiliki pengetahuan yang cukup tentang pneumonia pada balita, dengan 22,9% memiliki pengetahuan baik dan hanya 3% yang pengetahuannya kurang. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan ayah perokok aktif mengenai pneumonia pada balita dengan p-value <0,001 (p <0,05). Disarankan intervensi kesehatan masyarakat yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan, terutama untuk kelompok berpendidikan rendah, guna mengurangi risiko pneumonia pada balita akibat paparan asap rokok. ABSTRACT Background: Toddlers are the most vulnerable group to pneumonia because their respiratory systems are not yet fully developed. Exposure to cigarette smoke, both directly and indirectly, has been proven to be a major risk factor that increases the incidence of pneumonia and other respiratory tract infections in toddlers by 3-9 times. This study aims to evaluate the relationship between the educational level of fathers who actively smoke and their level of understanding of pneumonia in toddlers. Methods: The quantitative analytical design used in this study is a cross-sectional approach. A total of 100 fathers surveyed through purposive sampling met the inclusion and exclusion criteria. Results: The results of the study indicate that the majority of active smokers have a secondary education (72.3%), followed by higher education (45.8%), and only a few have a primary education (3%). Seventy-four percent of respondents have sufficient knowledge about pneumonia in toddlers, with 22.9% having a good understanding, and 3% having insufficient knowledge. There was a significant relationship between education level and the knowledge of active smoking fathers about pneumonia in infants with a p-value <0.001 (p <0.05). It is recommended that public health interventions be tailored to education levels, especially for low-educated groups, to reduce the risk of pneumonia in infants due to exposure to cigarette smoke.
KORELASI USIA DENGAN SKOR KEPARAHAN DERMATITIS ATOPIK PADA PASIEN DI RUMAH SAKIT IBNU SINA MAKASSAR TAHUN 2022-2024 Dian Febriyanti Nur; Berry Erida Hasbi; Sri Vitayani; Dian Amelia Abdi; Dahliah
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 03 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i03.377

Abstract

ABSTRAK Dermatitis atopik merupakan penyakit kulit inflamasi kronis yang prevalensinya terus meningkat dan berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi usia dengan skor keparahan dermatitis atopik pada pasien di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar periode 2022–2024. Penelitian dilakukan dengan desain observasional analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah seluruh pasien dengan diagnosis dermatitis atopik yang tercatat dalam rekam medis, dengan penilaian tingkat keparahan menggunakan skor SCORAD. Data dianalisis secara univariat untuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact Test karena ukuran sampel kecil. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi dermatitis atopik sebesar 4,05% dari total kunjungan, dengan mayoritas penderita berada pada kelompok usia dewasa 17 sampel (81%) dan berjenis kelamin perempuan 13 sampel (61,9%). Tingkat keparahan sebagian besar berada pada kategori sedang 13 sampel (61,9%). Uji statistik menghasilkan p-value 0,253 sehingga tidak ditemukan hubungan signifikan antara usia dengan skor keparahan dermatitis atopik. Simpulan penelitian ini adalah bahwa usia bukan merupakan faktor yang berhubungan langsung dengan tingkat keparahan dermatitis atopik pada populasi penelitian, meskipun distribusi kasus lebih banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa. ABSTRACT Atopic dermatitis is a chronic inflammatory skin disease with increasing prevalence that significantly impacts patients’ quality of life. This study aimed to determine the correlation between age and the severity score of atopic dermatitis among patients at Ibnu Sina Hospital Makassar during 2022–2024. The research employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. The study population consisted of all patients diagnosed with atopic dermatitis recorded in medical records, while disease severity was assessed using the SCORAD index. Data were analyzed univariately for frequency distribution and bivariately using Fisher’s Exact Test due to the small sample size. The results showed that the prevalence of atopic dermatitis was 4.05% of total outpatient visits, with the majority of patients being adults (81%) and females (61.9%). Most patients had moderate severity (61.9%). Statistical analysis revealed a p-value of 0.253, indicating no significant correlation between age and the severity score of atopic dermatitis. In conclusion, age was not directly associated with disease severity in this study population, although the majority of cases were found in adults.